Disclimer : Bleach hanya milik Tite Kubo seorang

―bukan punya Yuuka―

.

.

.

Warning : Typo (yang selalu nongol), AU, contains fantasy terms, curse words, semi-canon, Gaje (Yuuka serahkan pada Readers semua, DLDR

.

'We see what we couldn't see. We live in ignorance.'

.

Enjoy and happy reading !

...


The Half-Blood

Akimoto Yuuka

Dunia tempat manusia tinggal adalah dunia yang berbeda dari dua jalur tapal batas yang konon ditempati makhluk-makhluk mitos. Tanah yang ditumbuhi pohon dan tanaman merupakan padatan reishi, sumber kekuatan yang harusnya menjadi penyeimbang antara ketiga dunia. Sementara di udara, selain angin dan debu, sebagian lainnya merupakan sekumpulan partikel reiatsu yang menyebar seperti gas alam. Reiatsu dan reishi hidup berdampingan. Untuk menjaga keseimbangan, dibentuklah dunia netral yang tak mengenal kekuatan. Dalam dunia itu hanya ada kekuasaan dan kedamaian, orang-orang di dalamnya stereotip dan beberapa yang lain masih memiliki sesuatu yang disebut dengan hati.

Heh... itu tak sepenuhnya benar. Jadi apa yang benar?

Jalur penyeberangan Shibuya ramai seperti biasanya. Orang-orang berlalu-lalang dengan terburu, tanpa memperdulikan apapun selain diri mereka sendiri. Tentu, dia juga begitu. 'Siapa peduli? itu yang selalu dikatakannya. Berdiri di antara dua dunia yang hampir bertabrakan, itu ironi.

Di sebuah apartemen yang telah disewa beberapa hari yang lalu itu Ichigo terdiam, tidak menikmati jalanan ramai di bawah kakinya namun lebih pada mengawasi. Anehnya, kebiasaan itu tak membuatnya tenang. Dia beranjak dari sana menuju king size bed yang terabaikan di tengah ruangan, duduk di pinggirnya. Memandangi sang putri tidur yang masih terlelap dengan wajah sepucat saus bechamèl.

Sejak kejadian di sekolah kemarin, luka di tubuh Rukia tak bisa dikatakan ringan. Perut, pergelangan kaki bagian kiri, semua lebam. Di pipinya terdapat luka gores yang melintang pendek ke arah telinga, lalu ruam hitam dan bengkak di matanya juga. Tentu Ichigo menyadarinya saat pertama kali mereka bertemu. Rukia baru keluar dari kamar mandi, lalu pria itu sengaja mengambil waktu agar bisa berpapasan dengannya. Dia membuat semua itu terlihat seperti kebetulan. Tapi bayangannya terhadap gadis itu jauh melenceng dari aslinya. Dia seorang gadis pendek beriris violet dengan kulit pucat dan bibir semerah cherry. Matanya besar dan bengkak, dan caranya menatap begitu intens. Ichigo pikir gadis itu sedang mengagumi tubuhnya, tapi apa yang dikatakannya saat itu?

"Rambutmu... mereka aneh."

Bagus sekali, dia benar-benar gadis yang mengejutkan. Bahkan bertahun-tahun lamanya menjadi seorang A, dia belum pernah mendengar seseorang mengkritik rambutnya seperti itu. Dan tidak ada yang berani melakukannya. Sungguh, Ichigo tidak habis pikir. Setelah gadis itu tak melihat, Ichigo hanya tak bisa berhenti tersenyum.

Dia gadis yang menarik, begitu pikirnya.

Telunjuk panjang Ichigo menyentuh pipi Rukia pelan. Sejak kemarin dia tak bisa berhenti mengutuk wanita penyihir yang merusak kulit mulus itu. Terlalu indah, terlalu berharga. Gadis mungil itu tak pantas mendapatkan semua ini.

"Rukia," Ichigo bergumam. Lidahnya seperti mengenal nama itu, seperti telah akrab dengannya. "Rukia..."

"Hnn."

Ichigo tersentak mendengar Rukia menggumam samar, seperti menjawab panggilannya. Kelopak besar itu perlahan terbuka.

"Kau sudah bangun?" Ichigo berusaha agar suaranya terdengar biasa.

Mata Rukia terasa jauh lebih baik dari kemarin sehingga dia hanya mengerjap sebentar untuk menghilangkan bayangan kabur yang memusingkan. Bola mata Rukia bergerak ke kanan dan kiri, merasa asing dengan segala yang dilihatnya. Itu lampu temaram, jendela besar yang menyentuh lantai sampai langit-langit serta beberapa lemari kayu bercat tembaga bermacam ukuran dan ranjang yang empuk. Jelas ini bukan kamarnya.

"Dimana ini?"

"Apartemenku. Kau ingat apa yang terjadi?"

"Hmm...," Rukia menyentuh pipinya. "Ya, ada wanita gila yang ingin membunuhku. Dan sekarang aku berada di tempat yang tidak kuketahui bersama pria yang tidak kukenal."

Ichigo menghela napas, bersyukur dalam hati bahwa gadis itu bukan tipe yang cepat panik. "Paling tidak kau masih hidup."

"Berapa lama aku pingsan?"

"17 jam 24 menit," Ichigo mengecek arloji.

"Apa aku bisa bergerak?"

"Tidak, untuk beberapa hari ini. Luka di perutmu menjadi penyebab utamanya. Mungkin besok atau lusa, entahlah."

Rukia mendesah, mencoba menggeser pinggangnya tapi dia tahu Ichigo tidak berbohong. Tubuhnya berdenyut nyeri seketika.

"Kuperingatkan kau," komentar Ichigo, terlihat geli. Dia berbalik untuk mengambil segelas air di dapur.

Gadis itu mendengus, hanya memandang punggung tegap itu waspada. Berpikir. Kira-kira apa pekerjaannya jika dia bisa menyewa apartemen semewah ini? Atau lebih tepatnya, siapa dia? Orang penting? Teroris? Mata-mata?

"Apa kau seorang mata-mata?" pertanyaan Rukia terlempar begitu saja dari otaknya, meluncur dengan licin sehingga Rukia berharap dirinya kembali pingsan.

"Mata-mata? Kenapa itu menjadi hal pertama yang bisa kausimpulkan?" tanya Ichigo, berjalan singkat dan duduk kembali di ranjang. Segelas air putih diletakkan di nakas.

"Itu... bukan hal pertama yang kupikirkan," Rukia memalingkan wajah. Mencurigai seorang pria asing yang baru saja menolongnya rasanya tidak adil untuk Ichigo, meski dia yakin pria itu melakukannya bukan tanpa alasan. Tapi Rukia akan mulai dari pertanyaan ini: "Yang benar-benar ingin kutanyakan adalah siapa wanita itu, atau apa sebenarnya dia?"

Ichigo tahu dia akan menghadapi pertanyaan itu cepat atau lambat. Dia mengambil sebuah buku tebal dari rak kecil. Terlihat tua, sampulnya dari beludru berwarna merah bata, terdapat noda kopi di bagian bawah judul tapi Rukia tak sempat tahu buku apa itu sebelum Ichigo mengatakannya.

"Mata-mata Sternritter, organisasi yang sedang mencari dan akan membawamu ke Silbern, segera, setelah mereka tahu sebab munculnya mata bengkakmu adalah awal perpecahan ketiga dunia."

"A-apa? Tunggu sebentar, aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau katakan," Rukia mengeryit, berpikir bahwa pria di depannya ini gila. Tapi di luar dugaan, Ichigo balas menatapnya heran.

"Apa? Maksudku, tidak ada yang mengatakan apapun padamu? Tidak satupun?"

"Apa yang sedang coba kau katakan, jeruk? Aku sama sekali tidak mengerti!"

"...Jeruk?" Alis Ichigo berkedut. Baiklah, ini kedua kalinya gadis itu mengkritik rambutnya. Dan dia sudah memberinya julukan? Ichigo menarik napas, meyakinkan dirinya bahwa itu terakhir kali dia akan mendengar hal itu.

"Yang terpenting," katanya, "ini mengejutkan, klan Kuchiki tutup mulut padahal umurmu sudah menginjak pertengahan 17 tahun."

Rukia memutar mata, sama sekali tidak mengerti. Bicara apa jeruk bodoh ini? Sejak tadi dia tidak mengatakan maksud ucapannya. Rukia berusaha bangkit dari ranjang.

"Apa yang kaulakukan?"

"Aku mau pulang."

Jawaban Rukia membuat Ichigo menghela napas. "Tidak. Kau tidak bisa."

"Oh, benarkah?" dia mengernyit sakit di perut tapi tetap memaksakan untuk duduk, "kau bukan siapa-siapa bagiku, ingat? Menyelamatkanku bukan berarti kau boleh mengatur kehidupanku. Kau bahkan menolak untuk menjelaskan apapun."

"Baiklah, anggap saja seperti ini," jawab Ichigo ketika Rukia merintih, "kuberitahu apa yang terjadi," Rukia berhenti bergerak dan mendengarkan, "tapi ini kesepakatan, oke? Jangan bergerak dari kasurmu dan tetap diam."

"Tapi, ini kasurmu."

"Terserah saja, aku tidak peduli, mengerti?"

Rukia tahu pria itu frustasi. Dia berpikir sejenak, "Baiklah."

Ichigo menghela napas lega begitu Rukia kembali membaringkan tubuh. Dia keras kepala, lebih keras kepala darinya, atau sebenarnya mereka sama? Ichigo menyangkal dalam hati. Jelas Rukia yang lebih keras kepala.

"Kurasa sudah?" komentar Ichigo saat Rukia menaikkan selimutnya hingga bawah dagu, mengangguk polos padanya. "Bagus. Cerita ini akan sangat panjang jadi jangan tertidur karnanya."

"Akan kucoba."

Ichigo menyamankan diri di sebelahnya, mulai membuka buku, bercerita. Suaranya rendah dan menenangkan, meski apa yang dibacakannya adalah sebuah dongeng paling buruk yang pernah Rukia dengar. Karena dalam cerita itu, sebagian besar adalah kenyataan.

―Yuuka desu―

Seribu tahun yang lalu, dunia berakhir menjadi peperangan terpanjang dan paling mengerikan di akhir abad ke 10. Karena tak ada aturan yang menjadi dewa, ras manusia hidup bersama dengan ras penyihir serta pendekar―Sternritter dan Shinigami. Mereka yang tak memiliki gift atau pemberian, sering disebut para kelompok suci, bersikap damai, hampir menjadi kelompok terkuat karena jumlah mereka yang sangat banyak. Mengalahkan para Sternritter dan Shinigami yang berkembang lebih dalam jangka waktu yang lama.

Dalam politik yang ketat dan kritis waktu itu, hampir tidak mungkin meluncurkan perdamaian. Jadi, ras penyihir mengambil kesempatan ini dan melakukan kudeta. Tapi semuanya tak berjalan sesuai yang diharapkan. Perpecahan, pembantaian, eksekusi, banyak manusia yang menjadi korban. Tapi pikiran manusia yang lebih maju mengusulkan sesuatu yang tak mungkin terjadi. Perdamaian. Sesuatu yang mustahil bagi kedua ras yang sedang bersaing. Baik Sternritter maupun Shinigami, tidak ada yang ingin mengalah.

Ywach, pemimpin para Sternritter di daratan kerajaan Silbern, menginginkan kekuasaan, tahta, mengingat sihir adalah gift yang paling dibanggakan dan dipuja. Tapi di sisi lain, Genryuusai Shigekuni Yamamoto, pemimpin para Shinigami, menginginkan para kelompok suci yang adil, di atas keputusan sepihak Ywach.

Tidak ada yang bisa menghentikan perpecahan yang telah disulut, selain korban, ketiga ras telah kehilangan sesuatu yang lebih berarti. Kebahagiaan.

Lalu, perang besar terjadi.

Tak ada yang tahu jumlah pastinya, tapi hampir dua ratus ribu pengguna pedang, tiga ratus dua puluh ribu perapal mantra dan puluhan ribu manusia, tewas. Namun perang tak kunjung berakhir. Pedang dan kekuatan magis bergesekan di atas tanah-tanah yang kering, retak. Tak ada lagi makanan, semua yang tersisa di balik pasir hanya sumpah serapah, kutukan, sisanya potongan logam dan tongkat yang patah.

Dunia sudah berakhir. Menyisakan duka dan lubang dalam yang hanya akan terisi oleh ribuan mayat tak bernyawa. Tapi Genryuusai tahu, Ywach tak akan mundur.

Para kelompok suci yang merasa terhina, memutuskan untuk pergi, kabur dari penyiksaan yang tak ada ujungnya. Karena ras manusia telah diperbudak dan direndahkan selama masa perang. Para kelompok suci sepertinya bukan lagi nama yang layak untuk disandang oleh mereka. Kemudian di tengah desakan oleh persekutuan penyihir, manusia memilih untuk meninggalkan dua kelompok yang tamak ini dan membuat dunia baru. Itu adalah saat dimana mereka menemukan bumi. Dengan tanah yang subur dan air bersih yang mengalir. Mereka meninggalkan dunia gelap di atas kepala mereka dan membangun rumah di sana.

Karena keputusan terbaik adalah perpecahan. Setelah ras manusia, penyihir dan pendekar mulai mengadakan perjanjian.

"Tidak ada yang boleh menginjak tanah ini (maksudnya bumi) jika diantara kalian memiliki darah biru (sihir dan pengguna pedang). Dunia manusia adalah tempat terlarang yang tidak boleh diinjak selain oleh penghuni dunia itu sendiri. Selamanya."

Keputusan telah dibuat, perjanjian antara kedua belah pihak yang mutlak dan mempertaruhkan nyawa bagi yang berniat melanggar. Bahkan yang hanya berpikir tentang itu. Selama hampir seribu tahun perjanjian itu dijaga sebagai warisan perang yang menyedihkan. Yang mengingatkan mereka akan perang besar yang dulu terjadi, juga sebagai pengingat rasa sakit.

Yang dijuluki sebagai Yang Mulia Ywach pergi bersama sisa pasukannya ke Silbern, membangun kembali kerajaan mereka yang runtuh. Mereka memindah jalur tapal batas jauh ke barat, hidup di atas para manusia yang semakin berkembang dan berpindah-pindah. Sementara Genryuusai beserta anak buahnya tetap berjaga di kekaisaran mereka, Seireitei. Tidak peduli apa yang akan terjadi, tanah perang akan tetap menjadi sejarah. Dan siapa yang akan tahu jika salah satu dari pemegang perjanjian akan berkhianat? Genryuusai tetap tidak percaya pada Ywach.

Jika api akan disulut kembali, itu hanya akan terjadi karena satu hal: Kutukan Ywach terhadap salah satu dari para kelompok suci.

―Yuuka desu―

Ichigo sudah sering mendengar legenda itu, dia sudah terbiasa, tapi bagaimana dengan Rukia? Dia menurunkan bukunya, masih terbuka di halaman tengah tapi dia tidak ingin Rukia benar-benar tertidur jadi dia meringkasnya. Baguslah gadis itu masih terjaga. Dia tidak bicara selama Ichigo membaca dan hal itu membuat Ichigo sedikit khawatir.

"Bagaimana menurutmu?"

"Tidak masuk akal."

Pria itu mendesah, "Ya, awalnya aku juga berpikir begitu. Tapi percayalah, itu yang sebenarnya terjadi. Kurasa kau sudah mengerti sebagian besar yang kukatakan, Rukia?"

Rukia mengangguk samar, "Kau Shinigami, dan wanita gila kemarin adalah Sternritter," tapi kemudian dia berpikir. "Buktikan padaku."

"Aku tidak bisa, di sini terlalu berbahaya. Mengeluarkan reiatsuku adalah tanda keberadaanmu karena kau sedang bersamaku sekarang."

"Kalau begitu aku tidak bisa bilang kalau aku mempercayaimu," dia mengangkat bahu. "Kau pilih saja, lagipula dari awal aku memang tidak percaya padamu."

"Hmm...," Ichigo bergumam. Pintar sekali. Gadis itu tidak akan membiarkan dirinya begitu saja, benar-benar tipikal seorang Kuchiki. Waspada, penuh curiga, namun sangat cerdik. "Kau mungkin penasaran bagaimana caraku membawamu kemari tanpa ketahuan. Baiklah, akan kutunjukkan sedikit padamu."

Rukia menelan ludah begitu Ichigo bangkit dari ranjang, berdiri tak jauh dari situ sambil mengawasi dirinya. Apa yang akan dia lakukan?

Beberapa detik berlalu tapi Ichigo masih tidak bergerak. Diam di sana dengan tubuh tegak dan mata terpejam. Sepertinya dia sedang berkonsenterasi. Bajunya masih sama, tak ada perubahan kostum seperti yang Rukia bayangkan sebelumnya. Tentu, dia masih Ichigo yang mengenakan kaus hitam berantakan dan celana panjang, apa lagi yang bisa dia harapkan?

Sampai tiba-tiba... dia tidak merasakan hawa keberadaan Ichigo sama sekali. Terkejut saja tidak cukup untuk menunjukkan betapa kagetnya Rukia sekarang. Gadis itu terkesiap, mengerjapkan matanya beberapa kali untuk meyakinkan bahwa itu bukan ilusi. Berani sumpah, tadi Ichigo berdiri dua meter darinya dan sekarang, dia tidak ada. Dengan mata terbelalak dia menyapu seisi ruangan, sama sekali tak menemukan tubuh tegak itu di sana. Rukia menelan ludah. Dia sendirian di tengah kamar yang luas ini dan kenyataan itu entah kenapa membuatnya merinding.

"I-Ichigo..."

Well, baiklah dia mulai takut sekarang. Rukia meringkuk di dalam selimut, masih dengan mata bengkak yang berkedip polos terhadap ruangan, berharap muncul sesuatu yang melegakan di sana.

"Bagaimana? Kau percaya sekarang?"

"Ah!"

Suara rendah itu mengejutkannya. Membuat Rukia terlonjak dan hampir mendapatkan rasa sakit kembali di perutnya sebelum Ichigo melingkarkan lengannya di tubuh gadis itu. Menahannya. Dia bisa melihat telinga Rukia memerah, sangat merah. Dan juga pipinya, apa karena suara Ichigo atau hal lain?

"K-Kau mengagetkanku!"

"Seharusnya kau lebih mendramatisir," komentar Ichigo, tersenyum menggodanya. "Apa karena aku atau shunpo-ku? Pilih salah satu."

Rukia merucutkan bibir. Apa maksudnya itu? Dia memilih untuk tak menjawab keduanya.

"Shunpo? Itu nama efek menghilangnya?"

"Itu langkah kilat. Aku menumpukan berat tubuh di kedua kakiku dan bergerak dengan kecepatan tinggi sehingga tampak seperti menghilang," jelasnya. "Itu teknik dasar yang harus kami pelajari di akademi."

Rukia menahan napas saat Ichigo bicara. Oh Tuhan, jarak mereka masih terlalu dekat. Dia berada di lengan pria itu, satu ranjang dengannya dan astaga, aroma apa yang sedang dia cium sekarang? Citrus? Bergamot?

"Rukia? Kau mendengarkanku atau tidak?"

"Ah, ya, kurasa...," jawabnya asal. Tapi kemudian pikirannya berhasil teralihkan. "Tapi kau lama sekali."

"Itu karena aku minum di dapur," bibir Ichigo tertarik ke samping. "Kau percaya sekarang?" dia mengulang pertanyaannya.

Rukia berdeham, tak bisa berpikir, "Ya."

Setelah jawaban itu, Ichigo menarik tangannya kembali. Merasa puas. Lebih dari itu, dia senang Rukia menyebut namanya untuk pertama kali, bahkan mungkin tanpa gadis itu sadari sebelumnya.

Setelah Rukia bisa kembali berpikir lurus, dia memperbaiki posisinya dan menatap Ichigo, "Tapi, ada satu hal yang menggangguku."

"Apa itu?"

Dia terdiam sejenak, serius. "Aku sudah mengetahui siapa wanita yang menyerangku, tapi tidak denganmu. Sebenarnya siapa dirimu? Maksudku, siapa kau ini bagiku?"

Ichigo terdiam sejenak. Dia ingat belum menceritakan tentang dirinya kecuali kenyataan bahwa dia adalah seorang pendekar. Setelah semua yang dia katakan, Ichigo sama sekali melupakan yang satu itu. Dia memandang Rukia di mata, ekspresinya datar, tapi tidak menyeramkan. Hazelnya yang tajam mengalahkan violetnya sehingga Rukia tanpa sadar menahan napas. Tidak menghiraukan ruangan yang mendadak menjadi dingin, dua orang yang saling membaca pikiran ini membisu. Angin sejuk menerpa helai-helai gorden yang membelai jendela, sibuk mendengarkan suara daun. Tapi meski Ichigo bisa mendengarnya juga, telinganya masih penuh oleh pertanyaan Rukia yang membuatnya berpikir.

Apa yang sebaiknya dia katakan? Apa yang harus dia berikan sebagai jawaban? Siapa... sebenarnya dirinya ini bagi Rukia?

Ichigo menekan garis keras di bibirnya, menjawab:

"Aku adalah orang yang berada di pihakmu, tapi sebenarnya juga bukan."

―Yuuka desu―

Rukia baru bangun setelah merasa tidur lumayan lama. Sepertinya Ichigo memberikan obat tidur di segelas susu yang dia minum sehabis makan siang.

Dia benar-benar waspada, pikir Rukia.

Gadis itu mengerang, merasakan matanya bergoyang dan membuat kepalanya sakit. Dia terdiam sesaat. Tidur seharian menyebabkan punggungnya pegal-pegal. Sedikit menyakitkan di pinggang seperti tersengat listrik ubur-ubur. Rukia melirik sebelah dimana dia melihat Ichigo tertidur di sebuah sofa panjang. Lengkap dengan majalah otomotif yang telungkup di bagian tengah di atas perutnya.

Siapa sangka orang sepertinya bisa kelelahan?

Dia mendengus. Bangkit dari ranjang dengan gerakan pelan. Terima kasih berkat obat tidurnya, sekarang dia sudah cukup istirahat dan luka di tubuhnya sudah membaik. Gadis itu menyingkap selimut, turun dari ranjang tanpa suara. Dengan cepat dia berlari kecil ke arah sofa dan merogoh saku celana panjang Ichigo.

Rukia menahan napas, menarik benda kecil berwarna perak dari sana. Sumber pelariannya. Dia sudah tahu kalau kunci apartemen Ichigo tidak ditaruh di laci, atau di tempat yang lazim untuk menyimpan sesuatu. Sebaliknya, benda itu ada di tempat yang begitu dekat, hanya sedikit sulit untuk diraih. Kecuali kalau pria itu sedang tidur. Satu-satunya waktu yang tepat untuk melarikan diri.

Diam-diam Rukia mendekat ke pintu, memasukkan kunci dan memutarnya. Terbuka. Dia menoleh ke belakang, sedikit ragu, tapi tak masalah, dia sudah sejauh ini. Dia sudah merencanakannya. Jika dia pikir kedamaian dunia sedang dipertaruhkan sekarang, maka dia sama gilanya dengan pria itu. Apa dia sedang berada di dunia fiksi yang penuh dengan peperangan dan politik sekarang? Bicara soal kedamaian... tentu saja tidak.

Rukia menggelengkan kepala, membuka pintu dan pergi dari kehidupan Kurosaki Ichigo, selamanya.

Setibanya di luar, hari sudah malam. Lampu-lampu kota menyala terang di pinggir-pinggir jalan raya. Toko-toko dan klub malam serta restoran-restoran keluarga mulai ramai. Begitu juga dengan penyeberangan Shibuya. Shibuya! Setidaknya Rukia tahu dimana dirinya berada. Dia berjalan melewati sebuah toko barang antik dan melihat penampilannya di kaca tembus pandang.

Satu set seragam musim dingin SMA Karakura, rambut berantakan, tanpa ponsel, tanpa alas kaki. Oh, bagus. Sekarang apa?

Rukia mendengus lemas. Tasnya pasti tertinggal di sekolah sejak kemarin dan di sana ada dompet dan ponselnya. Dia tak sempat mengambil apapun selain kunci apartemen Ichigo tadi. Dan dia tidak mungkin kembali. Dipegangnya pelipisnya yang berdenyut.

"Baiklah, yang terpenting sekarang, cari taksi," gumamnya pelan.

Jarak antara Shibuya dan Karakura tidak terlalu jauh. Dia mungkin bisa pergi ke sana dan membayar ongkos taksi setiba di rumah. Tch, persetan dengan uang! Yang terpenting pulang-ke-Karakura-sekarang. Beberapa orang menatap ketika Rukia menemukan sebuah taksi di depan hotel kecil. Itu dia! Gadis itu mendekat, mengetuk-ngetuk kaca pintu mobil. Seorang pria paruh baya melihat dirinya dan terjungkal ke belakang, terkejut. Mungkin dia pikir Rukia orang gila, berkeliaran di kota dengan penampilan seperti itu. Dengan raut kesal Rukia kembali mengetuk, kali ini lebih keras. Membuat pria paruh baya itu terpaksa membukakan kaca pintu mobilnya.

"...Ada yang bisa kubantu?" tanyanya ragu.

"Antar aku ke Karakura, kediaman Kuchiki."

"Maaf, Nona. Kurasa kau salah mengambil jalan. Biar kuantar kau ke kantor polisi."

"Hah?! Kau pikir aku gila? Jangan banyak bicara dan cepat buka pintunya!" teriak Rukia kesal, lalu pria itu mundur dengan wajah ketakutan.

"M-Mungkin kau bisa mencari taksi yang lain saja..."

Kaca mobil mulai naik perlahan, jelas pria itu ingin segera pergi dari sana tapi Rukia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Dengan kesal sebelah tangannya menahan kaca mobil ke bawah, memaksanya turun sedangkan pria itu mulai kewalahan.

"Jangan main-main denganku," kata Rukia. "Biarkan aku masuk. Aku akan membayarmu dua kali lipat setibanya di Karakura."

Tapi pria itu terlalu ketakutan untuk tertarik dengan tawarannya. Dia menggeleng, menyebabkan alis Rukia bertaut kesal.

"Hahh? Kau tidak mau? Baiklah, penawaran terakhir, tiga kali lipat. Biarkan saja aku masuk."

"P-Polisi! Polisi! Jauhkan gadis ini dariku!"

Apa?

Rukia menoleh ke belakang, melihat dua pria berseragam mulai mendekat dari kejauhan. Dia berdecak, melirik pria paruh baya di dalam mobil dan melepaskan tangannya. Dia berlari menjauh sebelum polisi sempat melihat wajahnya, tapi tenaganya terkuras sebelum dia mencapai tempat persembunyian yang layak sehingga Rukia hanya menunduk di balik dinding di sisi yang tak terkena sinar lampu. Terengah di sana.

Sial, seandainya ada sesuatu yang bisa membawaku pulang.

Rukia menempelkan punggungnya ke dinding yang dingin, kepalanya mendongak menatap langit. Sama sekali tidak ada bintang. Ah, seandainya dia mengambil dompet Ichigo atau kartu kreditnya...

Mulutnya merucut kesal. Tidak berguna! Sekarang apa yang akan dia lakukan?

Dia memang tidak percaya dengan Ichigo sejak awal. Pria itu gila, itu yang selalu dipikirkannya. Lagipula semua yang dia katakan itu sama sekali tidak masuk akal. Siapa itu Ywach, atau Genryuusai? Khayalan macam apa itu? Langkah kilatnya mungkin hanya sebuah tipuan untuk matanya yang terlalu antusias terhadap seni sulap. Ya, itu mungkin sulap. Rekayasa. Dan wanita yang menyerangnya juga. Semua itu tipuan. Rukia mendesah, memasukkan tangan ke saku jas sekolahnya karena kedinginan sebelum menemukan sesuatu di sana. Alisnya mengernyit. Itu adalah beberapa lembar uang kertas.

Mata Rukia melebar kaget. Bohong! Kenapa ada keberuntungan di saat seperti ini? Dengan mata berbinar penuh harap dia menghitung uangnya. Yah, setidaknya cukup untuk membeli sesuatu untuk dimakan karena dia sangat lapar! Syukurlah waktu itu dia berniat pulang dan membeli wortel berkat saran Rangiku, itu sebabnya dia menyisakan uang di sakunya karena malas membuka dompet. Seingatnya itu yang dia pikirkan sebelum akhirnya malah diserang wanita blonde gila sepulang sekolah.

Pelan-pelan Rukia mengintip keluar. Dia berjalan merapat ke sebuah toko roti, karena sejak tadi baunya membuat perutnya keroncongan. Setelah masuk ke dalam, dia menelan ludah. Astaga, ada bagitu banyak jenis untuk dimakan...

"Selamat datang, ada yang bisa kuban...tu?" seorang pelayan wanita terkejut melihat penampilan Rukia, tapi sayang gadis itu sedang tidak peduli kecuali pada perutnya sekarang.

"Melonpan tiga," Rukia mengangkat ketiga jarinya sambil tersenyum manis.

Tak lama kemudian dia keluar dari toko dengan mulut penuh roti, sedangkan dua tangan yang lain memegang dua sisanya. Oh, ini rasa sirup maple. Betapa beruntungnya. Rukia bersenandung kecil ke arah kursi taman, duduk di sana. Ini malam yang melelahkan, dia ingin segera pulang ke Karakura. Bertemu Renji dan Rangiku lalu menceritakan semuanya. Jika itu terjadi kalimat pertamanya mungkin akan seperti ini: "Kurosaki Ichigo adalah pria gila yang menyeramkan, jangan dekat-dekat dengannya."

Rukia mendengus, kalau tidak salah pria itu pernah bilang kalau mata bengkaknya adalah tanda perpecahan ketiga dunia atau apalah itu. Yang benar saja? Dia pasti membual. Semua perkataannya adalah kebohongan. Tapi jika benar begitu kenapa dia bisa melakukannya sejauh ini? Gadis itu merenung, menggigit rotinya dan mengunyah dalam diam sementara otaknya berpikir.

Setidaknya dia tampan.

Rukia mengangkat tangan dan menampar wajahnya seketika. Gila, dia pasti sudah gila. Apanya yang tampan dari pria berambut jeruk itu? Apa tubuhnya yang proporsional? Garis wajahnya yang sempurna? Matanya yang tajam, aromanya, tatapannya yang seksi atau bibirnya yang memikat?

Rukia merasa tiba-tiba perutnya menolak untuk diberi makan. Dia menggeleng keras-keras. Tidak, jika dia pikir Ichigo semenarik itu dia pasti sudah tidak waras sama seperti gadis-gadis di sekolahnya. Hell, no!

"Ichigo benar-benar tidak bisa dipercaya."

"Memanggilku?"

Baik bahu Rukia dan bulu kuduknya tersentak berdiri mendengar suara itu. Dia berhenti bergerak, kaku seperti manekin sebelum menelan rotinya dengan sangat-susah-payah. Lehernya berputar ke samping, perlahan melihat warna oranye beserta alis tertekuk dan napas berat di belakangnya. Demi dewa kematian.

"I-I... Ichigo..?"

Pria itu marah, astaga, dia benar-benar marah. Rukia bisa melihat seberapa dalam lekukan di pertengahan dahinya itu. Bajunya masih sama dengan yang terakhir dilihatnya, dengan celana panjang yang tampak sangat berantakan. Napasnya memburu dan berat. Sekali dilihat saja Rukia sudah tahu kalau itu pertanda buruk.

"Bagus sekali, Rukia. Mencari kesempatan di saat seseorang sedang tertidur," Ichigo menunjukkan kunci apartemennya. "Jadi sejak awal kau sudah merencanakan ini? Meski aku percaya padamu."

Rukia berdiri dari kursi, "Itu karena..."

"Karena apa?"

"Karena kau gila!"

Alis Ichigo sekali lagi berkedut, dia sedang mencoba bersabar sekarang. "Hah..?"

"Kau membual semua cerita itu, Ichigo. Selama tujuhbelas tahun aku hidup, aku sama sekali tidak pernah mendengar hal seperti itu keluar dari mulut seseorang dan menyuruhku untuk percaya padanya. Apa itu masuk akal?"

"'Hal seperti itu', katamu? Menurutmu aku berbohong?"

"Benar. Karena aku tidak akan semudah itu tertipu olehmu! Mungkin langkah kilatmu juga adalah salah satu dari tipuan yang kaubuat."

Ichigo tertawa datar, "Kau benar-benar luar biasa, Rukia."

"Biarkan aku pulang, aku hanya ingin pulang ke rumahku."

"Tidak bisa, harus berapa kali kubilang padamu? Penyihir itu sekarang ada dimana-mana dan kau malah menyerahkan dirimu?"

"Cerita itu lagi," jawab Rukia jengah. "Sudah kubilang aku tidak percaya padamu. Kalau kau tidak mau mengantarku, tidak masalah. Aku bisa pulang sendiri."

Dengan jengkel Rukia mengambil langkah menjauh, berjalan tanpa alas kaki entah kemana. Dia hanya berjalan. Yang penting menjauh dari Ichigo, sekarang.

"Jangan bercanda denganku...," dengus Ichigo, kesal.

Sebelum mencapai tempat yang terang, tubuh Rukia yang berjalan di trotoar sudah menghilang. Berpindah begitu saja ke sebuah atap bangunan dengan Ichigo di depannya. Mencengkram kedua tangan Rukia dengan keras di tembok. Rukia masih terlalu terkejut, pikirannya belum terbiasa dengan perpindahan yang tiba-tiba. Tapi yang jelas, tadi itu shunpo Ichigo.

"Kau membuatku marah, Rukia," desisnya diantara angin malam.

"Apa-apaan ini, Ichigo? Lepaskan aku atau aku akan berteriak."

"Silakan saja, siapa yang akan mendengarmu? Aku memberimu obat tidur untuk memulihkan tubuhmu, bukan agar kau bisa menggunakannya untuk melarikan diri."

"Sejak awal bukannya kau yang bodoh karena percaya padaku?" tanya Rukia, menyiksa Ichigo dengan setiap ucapannya.

"Baiklah."

"Apanya?"

Ichigo menghela napas, menatap Rukia yang masih keras kepala. Dia tidak menyangka ini akan sangat menguras tenaga.

"Ikut denganku sekarang. Suka atau tidak," katanya, "mulai sekarang semua pendapatmu kutolak."

Apa? Apa maksudnya itu?

Tepat sebelum Rukia sempat membalas, tubuh mereka sudah berpindah lagi. Atap gedung yang tadi ditempatinya kembali kosong. Kini mereka berada di tempat yang benar-benar asing. Jauh dari hiruk pikuk kota. Tempat yang tenang dan sepi. Dia hanya tahu kalau mereka masih di dekat Shibuya. Kepala Rukia pusing, perpindahan tempat selalu membuatnya lemas seperti habis meluncur dari roller coaster setinggi 400 kaki dalam waktu 3,42 detik. Dia memegangi perutnya, jangan sampai melonpannya terbuang sia-sia di sini.

"Kita sudah sampai."

Suara Ichigo terdengar biasa. Meski masih marah, pria itu tetap memegangi Rukia di lengannya. Dia tahu Rukia belum beradaptasi, dan manusia biasa pasti akan langsung muntah begitu sekali diajak shunpo. Tapi Rukia tidak. Padahal dia baru selesai makan dan bershunpo dua kali. Dalam hati Ichigo memuji fisik gadis itu.

"Tempat apa ini?" tanya Rukia enggan.

Ichigo tersenyum miring, "Tempat pengakuan jati dirimu. Kita lihat apa kau masih tidak percaya setelah ini."

Rukia mengerjap, menelan ludah. Itu adalah bar kecil bernama Albinia Mese, dalam bahasa Italia menunjuk pada bulan purnama yang berwarna putih. Sedikit... aneh? Selera pemiliknya benar-benar terlihat jelas di sini. Rukia menelengkan kepala, bingung kenapa ada bar di tengah daerah yang jelas-jelas sepi pengunjung. Sementara itu, Ichigo menghela napas dan mengajaknya masuk ke dalam.

"Selamat datang di barku."

Seorang pria nyentrik yang mengenakan kimono dan topi garis hijau di balik konter tersenyum di balik kipas menyambut mereka. Senyum yang menunjukkan bahwa "Aku tahu kau akan datang."

Entah ini baik atau buruk, Rukia tidak bisa mundur. Dia melirik Ichigo yang setenang air dan mulai meyakinkan diri bahwa mereka tidak berbahaya. Kalau Ichigo, Rukia tahu pria itu tidak akan melukainya. Dengan gugup Rukia mencoba menatap pria berkimono yang masih dengan senyum ramahnya. Pria itu menurunkan kipasnya.

"Kuchiki Rukia, aku sudah lama menunggumu."

.

To be Continued

.


Author's note :

Oke, chapter dua. Banyak banget masalah waktu update chapter ini, banyak format yang udah dibenerin begitu klik save balik lagi ke awal. Gyaahhhh! *banting bantal karena nggak bisa banting laptop. Oke, lupakan curcol Yuuka tadi. Eh, gimana, gimana? Panjang banget ya, haha Yuuka baru sadar. Rukia kabur! Walaupun akhirnya ditemuin Ichigo lagi terus dibawa ke barnya Urahara. Yup, Urahara muncul di sini! Dia tau semuanya, jadi chapter depan biar dia aja deh yang jelasin ke Rukia. Oh ya, lupa, stereotip itu cara penilaian atau pandangan kepada seseorang dari latar belakang atau rata-rata orang itu digolongkan. Penjelasannya rumit ya, Yuuka copas dari blog sih hehe, awalnya Yuuka denger dari Ost-nya Mahou Sensou, judulnya Born to be. Oh ya, makasih banyak yaa untuk kalian yang udah mereview, memfav dan memfollow. Yuuka hargai setiap saran dan kritikan dari kalian! Well now, tell me what you're thinking?

Balasan bagi yang tidak log in

Ina : Makasih reviewnyaaa :D udah update kok, ikutin terus yaaa