Disclimer : Bleach hanya milik Tite Kubo seorang
―bukan punya Yuuka―
.
.
.
Warning : Typo (yang selalu nongol), AU, contains fantasy terms, curse words, semi-canon, Gaje (Yuuka serahkan pada Readers semua, DLDR
.
'With those blood of yours. Some makes a life, some makes a war.'
.
Enjoy and happy reading !
...
The Half-Blood
Akimoto Yuuka
Baru saja Rukia yakin dirinya hampir di ambang pelarian diri, pria jeruk yang mengaku dirinya sebagai seorang 'Shinigami' menggagalkan dan bahkan membuat apa yang telah terjadi pada gadis itu semakin buruk. Di sini, di Albinia Mese. Seorang pria menyambut mereka di dalam bar. Mengenakan kimono dan topi bergaris seperti sedang duduk di antara para Geisha yang bergelayut manja padanya. Siapa yang menyangka Ichigo yang serius dan tempramen punya seorang teman dengan aura seperti itu? Terlalu tenang dan mengikuti arus. Meski Rukia yakin Ichigo sering terlibat masalah berkat pria itu, terlihat dari caranya menghela napas sebelum masuk bar. Dia jelas sudah paham kalau nanti akan jadi merepotkan. Tapi yang Rukia lihat, pria bertopi yang mengaku bernama Urahara Kisuke itu memiliki sesuatu yang lain, selain gaya bicaranya yang terlalu santai.
"Urahara Kisuke?" alis Rukia naik sebelah, berbisik ke arah Ichigo di sebelahnya. "Siapa orang yang mencurigakan ini?"
Kau yang lebih mencurigakan, bodoh. Coba lihat penampilanmu.
Ichigo menghela napas dan balas berbisik, "Diam saja dan perhatikan. Nanti dia sendiri yang akan menjawab semua pertanyaanmu."
Jawaban macam apa itu? Sebelum Rukia sempat memprotes, Ichigo menariknya untuk duduk dan dengan tenang dia meminta dua gelas cocktail.
"Aku tidak minum yang berwarna," celetuk Rukia.
"Baiklah, tolong buatkan susu untuknya."
"Hei!" gadis itu menghadap Ichigo kesal. "Apa kau pernah sekali saja mendengarkanku?"
"Apa kau pernah sekali saja mendengarkanku, Rukia? Kurasa tidak, benar begitu?" balasnya sarkastik. Ekspresinya sedikit jengkel karena Rukia tak pernah mau menurut padanya.
Melihat perdebatan panjang mungkin akan terjadi, Rukia memilih untuk membuang muka ke samping. Masih dengan gerutuannya yang tertahan di tenggorokan. Alisnya menukik hampir sama dalamnya dengan milik Ichigo.
"Kelihatannya hubungan kalian kurang baik. Aku tahu sifatmu memang seperti itu sejak dulu, tapi paling tidak bersikaplah sedikit ramah pada wanita, Ichigo," kata Urahara. Duduk berseberangan dengan mereka, terlihat geli yang ditutupi kipas kertas berwarna putih.
"Percayalah, kau tidak tahu apa saja yang telah kualami sebelum tiba di sini," balas Ichigo, yang langsung mendapatkan lirikan tajam dari Rukia. "Tapi yang terpenting bukan itu. Kau tahu kemarin aku menemukan Sternritter yang kaumaksud bukan, Urahara-san?"
Pria itu tersenyum lebar, menunjuk-nunjuk dokumen di atas meja dengan kipasnya, "Ya, dua orang mata-mata Sternritter. Hmm... sulit sekali mengetahui identitas mereka, jadi aku banyak membuang waktu untuk mencarinya. Pantas mereka dijuluki setara dengan Kelas A, tingkat kemampuan mereka juga tidak main-main."
"Apa tipenya?" tanya Ichigo, mulai tertarik dengan perkembangan informasi terbaru.
"Belum bisa kupastikan. Tapi jika mereka bisa menyusup sampai sejauh itu kurasa seorang diantara mereka memiliki semacam kemampuan khusus yang membuat kehadiran mereka tidak disadari sehingga sulit membedakan mana yang asli. Mungkin Enchanter... atau sejenisnya."
Rukia mengambil susunya begitu pelayan datang, masih dengan telinga panas karena mendengarkan dua orang itu bicara. Mata-mata Sternritter, yang itu Ichigo pernah mengungkitnya. Dia adalah wanita penyihir berambut blonde yang kemarin menyerangnya, dan diluar dugaan, mereka ada dua orang. Kalau itu, Rukia sama sekali tidak tahu. Satu orang saja sudah sangat merepotkan dan sekarang mereka harus menghadapi dua?
"Dari kemarin kalian selalu menyebut tentang Kelas A. Aku tidak mengerti, apa maksudnya?" tanya Rukia.
"Pertanyaan bagus. Biar kujelaskan padamu," Urahara berdeham, penuh dengan suasana hati yang gembira. "Dulu, dalam sejarah pernah disebutkan bahwa nenek moyang ras pendekar atau yang biasa disebut Shinigami, memiliki tingkatan dari kemampuan atau darah yang mengalir atas keturunan mereka. Kami memiliki seorang pemimpin yang masih hidup bahkan setelah perang lama berakhir, karena baik Shinigami maupun Sternritter, kami jelas berbeda dengan manusia. Bisa dibilang, kami ini roh. Orang biasa tidak bisa melihat kami, dan rata-rata umur serta kemampuan berkembang Shinigami juga lebih lama dari manusia. Contohnya aku, apa kau bisa menebak umurku?"
Rukia menelengkan kepalanya ke samping, mengira-ngira, "Hmm, mungkin tiga puluh?"
"Salah besar," Urahara terlihat puas, "untuk perawakan manusia mungkin aku terlihat seperti usia tiga puluhan atau empat puluh, tapi sebenarnya umurku sudah menginjak tiga ratus lima puluh tiga," dia menggaruk kepalanya malu sementara Rukia tersedak.
"T-tiga ratus?! Kau bercanda!"
"Aku sudah pernah bilang sebelumnya kalau manusia berkembang lebih cepat daripada ras yang lain," tambah Ichigo. "Kalau umur manusia mencapai tujuh belas tahun mereka baru dikatakan sebagai remaja, tapi bagi Shinigami, itu tiba saat kami di usia seratus tujuh puluh tahun."
Rukia menelan ketidakpercayaannya. Untuk ukuran manusia, tujuh belas tahun adalah waktu yang sangat lama untuk diakui sebagai remaja. Tapi bagaimana bisa seseorang menunggu masa itu selama lebih dari seratus tahun? Itu adalah sesuatu yang mustahil.
"Berarti, Ichigo, kau..."
"Ah, usiaku sekarang seratus sembilan puluh tujuh," jawabnya sambil minum cocktail.
Pria yang digilai gadis-gadis sekolah ternyata adalah kakek-kakek berusia hampir dua ratus tahun?!
Rukia menutup mulutnya, merasa turut berduka.
"Hei, ini bukan salahku. Dan jangan lihat aku dengan wajah menyesal begitu!" protes Ichigo, tahu apa yang sedang gadis itu pikirkan. Dia merebahkan punggungnya ke sofa, "Asal kau tahu saja, aku ini masih muda jika dibandingkan dengan si geta-boshi ini," dia menunjuk Urahara.
"Yah, karena kita juga berbeda generasi. Tentu pengalaman seseorang juga berbeda tergantung berapa lama mereka hidup," jelas Urahara.
Rukia mengusap dagunya, "Tadi kau bilang manusia biasa tidak bisa melihat kalian, tapi kenapa tidak denganku? Murid-murid di sekolah juga bisa melihat Ichigo."
"Ichigo menggunakan gigai, tubuh buatan yang kuciptakan. Roh tanpa wadah pasti tidak akan bisa dilihat dengan mata telanjang, kecuali kau memiliki tekanan reiatsu yang tinggi. Seperti manusia yang punya indera keenam."
"Lalu, bagaimana dengan penyihir yang menyerangku kemarin? Dia juga roh, bukan?"
"Ada sedikit perbedaan antara Shinigami dan Sternritter," Urahara memasukkan kedua tangan ke dalam lengan kimononya. "Misalnya begini, kami ini roh tanpa wadah. Sejak awal garis keturunan kami berbeda dengan mereka meski sama-sama memiliki darah biru. Tapi Sternritter menggunakan sihir, mereka bisa berubah menjadi orang lain, menyamar, mengikat seseorang, atau bahkan memperpanjang kehidupan. Karena itulah banyak diantara mereka adalah pengguna sihir hitam. Mereka bisa saja datang ke Dunia Manusia tanpa perlengkapan apapun karena para penyihir bisa bersembunyi dengan mudah di antara para manusia dengan menjadi salah satu dari mereka."
Rukia terdiam, informasi ini sama dengan yang dia dapatkan dari Ichigo, jadi jelas pria itu tidak berbohong. Tapi dilihat dari manapun, tetap saja ini sulit dipercaya. Tiba-tiba dihadapkan dengan situasi seperti ini dan Rukia dipaksa untuk menelan kenyataan yang berasal dari cerita dongeng kuno. Makhluk-makhluk dihadapannya ini dulunya hanya mitos dan sekarang dia sedang bercakap-cakap dengan mereka layaknya teman acara minum teh. Rasanya itu mustahil.
"Katakan," ucapnya sambil memegang pelipis, "pemimpin kalian sudah hidup selama lebih dari seribu tahun, jadi dia pasti berada di tingkat yang paling tinggi, bukan?"
"Ya, bisa dibilang dia adalah leluhur kami," jawab Urahara. "Kelas SS, dia adalah Paladin terkuat di antara Shinigami dan belum ada yang bisa mencapai tingkat itu setelahnya. Sedangkan satu tingkat di bawah merupakan kelas S, A, B dan C. Para prajurit penjaga atau biasa disebut Soldier setara dengan C sedangkan ninja lebih tinggi satu tingkat di atasnya."
Rukia melirik Ichigo yang sedang menggoyang gelas minuman, masih dengan pertanyaan besar di kepalanya.
"Apa tipemu, Ichigo?"
"Aku?" pria itu tersenyum tipis yang sulit dilihat sehingga Rukia tidak yakin apakah dia benar-benar tersenyum. "Menurutmu disebut apa itu seseorang yang menunggang kuda dan mengacungkan pedang?"
Mata Rukia melebar, tidak percaya, "Knight?! Bohong!"
"Yah, tapi aku tidak menunggang kuda. Shinigami tidak suka menunggang kuda sementara shunpo lebih praktis untuk dilakukan," jawab Ichigo sambil minum tegukan terakhir.
"Aku tidak percaya ini," gumam gadis itu, menoleh pada Urahara. "Aku yakin Anda juga Kelas A."
"Wow, darimana kau tahu itu?" Urahara terkejut.
"Firasat," celetuk Rukia. Sebenarnya dia punya alasan yang lebih logis. Yah, kenapa mereka bisa bicara sangat akrab kalau tidak berada dalam tingkat yang setara? Lagipula, Ichigo sangat hebat kalau bisa menyaingi Urahara di umurnya yang jauh lebih muda.
"Hmm... kuanggap kau memiliki intuisi yang tinggi, Kuchiki-san. Kalau dilihat dari klanmu, Kuchiki pastinya lebih dari sekedar bangsawan terkuat dan salah satu yang paling bermartabat di Jepang," ujarnya. "Aku kenal Kuchiki Ginrei, dia kepala keluarga ke-27 yang salah satu anaknya merupakan ayah dari kakak iparmu, Kuchiki Byakuya yang sekarang tinggal dengan kakak perempuanmu di Ikebukuro―"
"Tunggu sebentar!" potong Rukia, terlihat tersinggung sesaat setelah Urahara menghentikan kalimatnya. "Dari mana kau tahu semua itu? Apa itu juga merupakan pekerjaan mata-mata Shinigami dengan mengorek informasi pribadi korbannya?"
"Tentu saja kami harus, Kuchiki-san. Kami tahu seluk beluk klan Kuchiki, tentang siapa saja pemimpin keluarga dan keturunan perempuan di sana. Salah satunya adalah kau. Menurutmu kenapa kami bisa menyuruh Ichigo bersekolah di SMA Karakura jika bukan untuk mengawasimu? Kalau tidak, mungkin sekarang ini kau sedang berada di suatu tempat di Silbern dengan borgol besar di pergelangan tangan dan kaki, menyuruhmu untuk diam sementara mereka melakukan sesuatu yang sangat mengerikan padamu."
Rukia kehabisan kata-kata. Dia tidak pernah tahu hal itu sampai Urahara mengatakannya terus terang. Karena kalau tidak, Rukia bisa saja kembali melarikan diri. Dia tahu jika keberadaan Rukia sangat berpengaruh bagi keseimbangan tiga dunia di dalam tapal batas mereka masing-masing. Dia tak memiliki pilihan selain untuk menakutinya dengan segala cerita tentang para penyihir. Dan dia tahu bahwa Ichigo tidak menyukai caranya.
"Kenapa kalian memperebutkanku? Apa yang kalian inginkan?" Rukia bertanya setelah mendapatkan suaranya kembali sementara Urahara terdiam.
"Ini bukan masalah bahwa itu adalah 'kau'," jawabnya, "kenyataannya adalah bahwa kau seorang perempuan berumur tujuh belas tahun yang memiliki darah Kuchiki."
"Aku tidak mengerti."
Urahara menunduk sebentar, mulai menjelaskan, "Klan Kuchiki sudah ada sejak beratus-ratus tahun yang lalu. Beberapa menyebutkan bahwa mereka bahkan sudah ada ketika perang besar terjadi, tapi kurasa itu tidak mungkin. Dulu, ada klan besar yang menjadi pemimpin para kelompok suci, tapi setelah perang besar terjadi, klan itu terpecah belah dan masing-masing mendirikan klan baru―keluarga cabang. Setelah banyak yang saling terpecah dan terpecah, muncul satu klan baru bernama Kuchiki, tepat di akhir perang berlangsung, ketika kedua ras mengadakan perjanjian.
"Pada saat itu, Ywach, pemimpin para Sternritter mengutuk salah satu keluarga cabang dari klan terbesar. Dan sayangnya kutukan itu datang pada klan Kuchiki. Untuk setiap garis keturunan perempuan yang lahir di klan itu, pada usia pertengahan tujuh belas tahun hingga akhir delapan belas, mereka ada dalam situasi yang rawan. Dimana anak-anak perempuan melalui serangkaian upacara saat pertama kali mereka lahir. Itu adalah upacara penyegelan. Ywach mengutuk klan Kuchiki untuk melahirkan anak perempuan yang memiliki darah penyihir. Kami menyebutnya Elementalist. Selama turun-temurun klan Kuchiki selalu menjaga rahasia ini dari anak-anak mereka dan sayangnya keturunan selanjutnya yang memiliki darah Elementalist adalah kau, Kuchiki-san."
Rukia sama sekali tidak bergerak. Mendengarkan cerita Urahara sama seperti dongeng sebelum tidur yang berisikan perang serta sihir yang dulu disukainya. Tapi dia tidak menyangka kalau dirinyalah yang akan mengalaminya sendiri sekarang. Rukia merasa begitu apatis. Kenapa dia sama sekali tidak tahu mengenai hal ini? Mungkin jika Ichigo yang mengatakannya, dia akan bilang kalau pria itu membual dan segera pergi melarikan diri. Tapi kemana lagi dia harus berlari sekarang? Dia sudah tak memiliki tempat untuk pulang. Rumahnya bukan lagi tempat yang nyaman dimana setiap kepala yang ada di dalamnya menyimpan rahasia ini darinya. Bahkan kakaknya sendiri.
Di saat Rukia terlihat begitu terpukul, Ichigo menahan dengusan marah dan balik menatap Urahara tajam. Setiap penjelasan dari pria itu terlalu terus terang. Dia tahu Urahara tidak bermaksud kasar, tapi terkadang bicaranya sedikit sarkastik dan blak-blakan. Mungkin itu yang membuatnya mudah dibenci selain tipikalnya yang selalu ingin tahu urusan orang tapi menyuruh orang lain untuk menyelesaikan masalah itu untuknya.
Sementara Ichigo menatapnya seperti itu, Urahara hanya bisa mengangkat bahu. Ichigo menghela napas, tidak ada yang bisa disalahkan di sini. Baik dia maupun Urahara tidak bisa membawa gadis itu ke tempat lain selain Albinia Mese, dimana Rukia akan aman selama berada di Dunia Manusia. Ichigo bangkit dari kursi, mengangkat Rukia dan menggendongnya di pundak seperti membawa karung beras. Membuat gadis itu memekik kaget dengan kaki bergelantungan di punggungnya. Menendang karena hampir terjatuh.
"H-Hei! I... Ichigo baka, apa yang kaulakukan, mikan no baka! Turunkan aku!"
"Urusee, jangan banyak bergerak atau kau akan jatuh," jawabnya santai, menutup salah satu telinganya. "Urahara-san aku pinjam kamar untuk dua orang malam ini. Oh, dan tolong jangan ganggu kami, ya."
"Huh? Oh, baiklah."
Urahara terbengong melihat dua orang itu berjalan menuju tangga bawah tanah. Dengan Rukia menjambak rambutnya dan Ichigo yang berteriak. Mereka terlihat begitu kekanakan. Tapi Urahara tersenyum. Mungkin ini adalah rencana yang sengaja dibuat Ichigo untuk Rukia. Tugasnya hanyalah untuk mengamati, dan menyaksikannya sendiri dari luar.
―Yuuka desu―
"Turunkan aku!"
"Hei, berhenti menarik rambutku, Rukia!"
"Karena itu cepat lepaskan tanganmu dan biarkan aku turun, jeruk."
"Kau akan menyesal jika berani mengatakannya lagi."
"Baiklah, aku akan mengatakannya. Jeruk, jeruk, kepalamu seperti jeruk, oranye seperti jeruk, jeruk bodoh, jeruk payah, kau jeruk yang payah!"
Alis Ichigo tertekuk dalam dan berkedut mendengar Rukia berteriak di telinga kirinya. Oh, baiklah, dia mulai kehabisan kesabaran. Ichigo menyambar kunci di dinding setelah tiba di anak tangga terakhir. Berjalan cepat menuju salah satu pintu dan memutar kunci. Dia menjatuhkan Rukia di ranjang hingga gadis itu memekik sekali lagi. Lalu setelah mengunci pintu dan menyalakan lampu temaram, Ichigo mulai melotot marah padanya.
"Sudah kubilang kau akan menyesal, Rukia."
Gadis itu menelan ludah, meraba bantal dan meraihnya untuk melindungi diri. Mode bertahan.
"Kau mengunci pintunya."
"Ya, awalnya tidak ingin, tapi kau memaksaku."
Ichigo menunduk rendah, kedua tangan menyangga di sisi tubuh Rukia agar kelinci yang sangat lincah itu tidak lari. Rukia tidak bisa melakukan apapun selain mundur, memperhatikan setiap gerakan pria itu dengan waspada sementara Ichigo mulai merangkak naik.
"Apa yang akan kaulakukan?"
"Hmm, coba kupikir," Ichigo menarik napas, lalu membuangnya dramatis. "Kau sangat membuatku marah hari ini, Rukia. Pertama, kau menipuku dan melarikan diri dari apartemenku. Kau pikir itu bagus membiarkanmu berkeliaran di luar sementara kau di sini tak memiliki perlindungan apapun? Itulah kenapa mereka bisa melacak kita sekarang, kaupikir itu hal bagus? Kedua, kau memanggilku jeruk, oh, lupakan saja hal itu, kau benar-benar membuatku kesal. Dan jangan menjambak rambutku lagi, itu sakit."
"Itu karena kau menculikku! Ini semua salahmu!"
"Salahku? Kau ingin aku melakukan apa? Membiarkanmu pulang agar Sternritter bisa membawamu ke Silbern? Karena kalau itu terjadi, semuanya selesai."
Rukia membuka mulut, tak bisa membalas. Kata-katanya seperti terserap dinding yang dingin. Jemari mungilnya yang meremas seprai mulai lemas karena baik fisik dan mentalnya telah terkuras habis. Menghadapi kenyataan yang seperti paku besi, memaksanya untuk menelan perihnya sekaligus. Dia dituntut untuk percaya, tapi meskipun dia tidak, dia akan tetap dikurung di tempat ini. Itulah yang akan terjadi. Rukia menekan garis keras di bibirnya.
"Biarkan saja mereka membawaku," dia mengeratkan gigi, terlampau kesal. "Aku tidak peduli, Ichigo! Aku bahkan tidak tahu selama ini aku hidup berkat darah kutukan. Jadi kenapa aku harus meneruskannya?"
Ichigo menunduk, hampir mengacak-acak rambutnya.
Kau bodoh, Ichigo. Kata-kata apa itu? Kau membuat segalanya semakin buruk sekarang.
"Jangan pernah menyebutnya darah kutukan," ujarnya serius, "itu bukan darah kutukan, Rukia."
Tawa kecil keluar dari bibir gadis itu, "Benarkah? Bukankah kalian yang menyebutnya begitu? Sejak awal kalian menganggap klan Kuchiki adalah klan yang terkutuk, kan? Aku juga akan menyebutnya seperti itu sekarang."
Ichigo terdiam. Gadis itu terluka, dia tahu hal itu. Sebagai korban, Rukia harus menjalani banyak hal. Kehidupan sedang menaruhnya ke tengah laut bersama kapal yang terombang-ambing dan sendirian. Gadis itu hanya tak tahu harus bagaimana.
"Tidak. Aku tidak akan menyebutnya seperti itu," Ichigo menurunkan bantal yang menutupi wajah Rukia, membuat gadis itu menatapnya. "Aku tidak akan membiarkan Sternritter menangkapmu. Kau bisa mempercayakannya padaku."
Ruangan telah meninggalkan dua orang ini saling membisu, hanya memahami perasaan lewat tatapan. Tak ada di sana selain kejujuran. Di balik lampu nakas yang temaram dan gelapnya lantai, satu-satunya yang menuntunnya kepada cahaya hanyalah sinar hazel Ichigo yang hangat. Rukia selalu memakinya, tapi dia hanya tak sadar kalau yang akan tetap berada di sisinya adalah pria itu. Meskipun terombang-ambing, Rukia hanya perlu bersandar dan percaya bahwa kapalnya akan menuntunnya ke suatu tempat.
Tapi bisakah... dia percaya pada kata-kata itu?
Rukia membiarkan dirinya tenggelam pada tatapan Ichigo di atasnya. Membiarkan pria itu mengikis jarak. Berpikir bahwa hari ini adalah perjalanan yang begitu panjang dan berat, lelah sepertinya adalah kata yang tepat. Selain itu, Rukia kini bisa memastikan satu hal.
"Ichigo."
"Hm?"
Pria itu berhenti, sebelah tangannya masih berada di sela-sela rambut pendek Rukia. Tanpa sadar mengagumi kelembutannya. Jarak yang terkikis hanya menyisakan ruang kosong untuk bernapas. Sementara Ichigo mulai tersadar dan mencoba dengan keras untuk mengendalikan diri, gadis di bawahnya tersenyum.
"Itu bukan jeruk, tapi senja."
―Yuuka desu―
Awalnya gadis itu begitu kalut dan tertekan, tapi ketika jarum jam telah menunjukkan tengah malam Rukia sudah tertidur pulas. Dia hanya sempat makan sebungkus roti dan minum susu, dengan nutrisi yang jelas-jelas tidak cukup begitu sudah pasti tidak ada yang berubah dari warna wajahnya. Masih pucat seperti nasi.
Ichigo yang sejak tadi masih terjaga kini menumpukan kepalanya di sebelah tangan. Berpikir, sebaiknya untuk sarapan besok dia harus memberinya sepiring penuh daging. Matanya melirik sekali lagi ke arah Rukia. Mengusap pipi pucat itu dengan telunjuknya yang panjang.
"Itu bukan jeruk, tapi senja."
Gerakan Ichigo terhenti. Tiba-tiba bangkit dari posisinya dan duduk di pinggir ranjang dengan helaan napas panjang.
Tadi dia tersenyum.
Dahi Ichigo mengkerut dalam. Kenapa tiba-tiba dia memikirkan hal itu? Memandang Rukia sekali lagi dirinya berpikir. Begitu banyak beban yang ditanggungnya. Ichigo ingin meyakinkan gadis itu bahwa semuanya akan baik-baik saja, tapi dia tahu seberapa keras kepalanya Rukia.
Dia bangkit dari ranjang, menaikkan selimut agar gadis itu tidak kedinginan, baru dia keluar. Seperti yang dia duga, Urahara tidak ada di konter. Dengan dengusan ringan Ichigo berjalan menuju pintu ruang penyimpanan yang berada di samping kulkas, melihat bahan-bahan makanan yang tertata rapi di tiga buah lemari, juga persediaan berbagai jenis minuman dari yang beralkohol tinggi hingga yang paling rendah. Untuk ukuran bar yang sepi pengunjung, sepertinya Urahara tak pernah kekurangan kualitas menunya. Ichigo menemukan sebuah pintu besi yang terletak tak jauh dari ruang penyimpanan daging. Itu tidak dikunci, jadi Ichigo masuk ke dalam untuk menemukan si geta-boshi sedang duduk di antara kegelapan bersama dengan tumpukan buku dan kertas-kertas yang berantakan. Komputer-komputer berjumlah puluhan di depannya menyala terang, menunjukkan titik-titik pola, biner dan sejumlah radar yang hanya bisa dimengerti oleh seseorang yang jenius seperti dirinya. Sementara Urahara sedang serius menarikan sepuluh jarinya di keyboard dan panel-panel yang saling terhubung, Ichigo menyilangkan tangannya di pinggir ruangan. Tak punya minat untuk mendekat.
"Dimanapun kau berada sepertinya kau selalu setia dengan yang namanya teknologi," komentarnya.
"Ya, karena memang itu pekerjaanku," jawab Urahara, tidak menoleh tapi dia tahu dimana tepatnya Ichigo berdiri. "Setelah diusir dari Soul Society, apa lagi yang bisa kulakukan?"
Ichigo menoleh ke samping, menggaruk pipinya dengan agak canggung, "Benar juga. Kau jadi mata-mata bayaran sekarang. Tugas seorang Mercenary sejak dulu memang tidak mudah, ya?"
"Apa maksudmu?" Urahara menghentikan sepuluh jarinya seketika. Lalu dengan seringai bodoh menghadap Ichigo dan berkata, "Ini pekerjaan yang paling menyenangkan di seluruh dunia selain berada satu ruangan dengan profesor sok jenius beserta anak buahnya yang berwajah seperti sekelompok amazoness."
"Jangan menatapku dengan wajah begitu! Aku benar-benar menyesal sudah merasa bersalah padamu, tahu!"
Ichigo mendengus kesal, "Haahh... jangan lupa kalau kau sendiri yang dulu mendirikan tempat itu. I.P.P.S memang masih menerima sejenis makhluk aneh karena tradisinya berawal darimu. Sejak dulu kau tetap tidak berubah."
Selain itu, kau ini jauh lebih parah dari amazoness, dasar alien, pikirnya.
"Bukannya kau yang tidak berubah? Masih tetap berkepala panas dan naif," pria itu tersenyum kecil. "Tapi kalau menyangkut soal Kuchiki-san sepertinya kau jadi lebih sensitif."
"Huh?"
Urahara memutar kepalanya kembali ke depan untuk mengetik, "Aku tidak akan menarik kata-kataku."
Maksudnya pasti sarkasme yang tadi itu. Ichigo menghela napas, "Ya, aku tahu. Aku tidak menyukainya, tapi akan lebih baik seperti ini. Selain itu...," hazelnya berubah serius, "klan Kuchiki sudah mengambil tindakan, ya?"
"Sejak tahu putri bangsawan mereka menghilang di sekolah dua hari yang lalu. Kemungkinan terburuk, mereka mungkin akan melibatkan kepolisian, jadi sebelum hal itu terjadi kita harus mencegahnya," ujar Urahara. "Aku sudah mengirim Yoruichi untuk menangani masalah itu."
"Yoruichi-san?"
Ichigo menaikkan satu alisnya. Benar juga, sejak tadi dia tidak melihat wanita itu di bar. Bagaimana mungkin dia tidak menyadari hal sepenting itu? Seseorang yang selalu lengket dengan Urahara dan merupakan pendiri Organisasi Unit Pasukan Khusus Onmitsukido milik Soul Society, Shihouin Yoruichi.
Radar di salah satu komputer Urahara berbunyi keras seketika. Membuat baik Urahara maupun Ichigo mengambil sikap waspada. Satu titik merah di layar menyala terang dan berkedip. Diikuti beberapa titik lain di beberapa tempat dan banyak lagi. Titik-titik merah mulai memenuhi layar di antara garis gelombang berbentuk lingkaran. Ichigo melebarkan matanya.
"Hollow."
"Mereka menyebar di Shibuya dalam sekejap. Pasti karena merasakan reiatsu-mu," kata Urahara, "mereka mengambil tindakan secepat ini. Salah satu dari dua mata-mata itu adalah Summoner."
"Ini karena shunpo-ku. Padahal aku sudah menekan reiatsu-ku sekeras mungkin," Ichigo mengeratkan gigi. "Apa yang harus kita lakukan Urahara-san?"
"Aku akan mengaktifkan pelindungnya. Di sekitar sini jauh dari perkotaan jadi jaraknya bukan masalah. Aku akan menghubungi Yoruichi secepat mungkin."
Ichigo membuka pintu dengan gerakan cepat, berlari keluar.
"Aku mengerti."
Hollow tidak akan muncul jika tidak ada yang memanggil mereka. Bagus sekali, para Sternritter itu pasti akan melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Dalam hal ini, Rukia. Sembari memikirkan hal itu, Ichigo berbelok dan melompati dua anak tangga sekaligus, menuju atap. Dia tidak akan menyerahkan Rukia, tidak akan pernah. Ichigo sampai di atap tidak kurang dari lima detik. Tanpa terengah dirinya melihat ke bawah. Dimana Urahara sudah mengaktifkan bakudou dalam jarak lima puluh meter, mengelilingi barnya. Perlahan menuju ke atas hingga menutup langit dengan penghalang tembus pandang.
Bakudou #81: Dankū
Ichigo memfokuskan pandangannya ke depan, rahangnya terkatup kaku. Dia ingat kata-kata yang dulu pernah dikatakan Urahara saat pertama kali Ichigo tiba di Dunia Manusia.
"Jika salah satu dari kita ada yang melanggar perjanjian, tak ada lagi yang akan terjadi selain awal peperangan panjang. Dunia mungkin akan benar-benar berakhir saat itu tiba."
"Itu tidak akan terjadi."
Ichigo mengambil badge-nya. Mengeluarkan rohnya dari gigai sehingga tubuh manusianya tergeletak begitu saja di atas lantai, tanpa nyawa. Sedangkan Ichigo dengan shihakuso hitamnya mulai berlari, melompat dari atap, membiarkan tubuhnya melayang hingga menembus penghalang milik Urahara dan berlari cepat keluar. Sementara di tengah perkotaan Shibuya, makhluk-makhluk tinggi tanpa kecerdasan yang melahap jiwa baik yang masih hidup maupun yang sudah mati, mulai menginfasi seluruh kota. Berpuluh-puluh seperti kumpulan massa, berkelompok satu dengan yang lain sebagai bentuk dari penderitaan dan dendam yang tak berujung. Memaksa mereka untuk berpikir layaknya binatang yang tak pernah puas.
Menggambarkan jiwa orang-orang Sternritter yang sesungguhnya.
.
To be Continued
.
Author's note :
Sampai juga di chapter 3! Fiuh, setelah liburan sekolah ke pulau Bali, Yuuka sempet kepikiran kira-kira bisa nggak ya ngejar deadline di hari Jumat. Dan inilah hasilnya, mundur satu hari, yeaayyy! Di sini Urahara hampir sama dengan aslinya, yaitu pendiri I.P.P.S atau Institut Penelitian dan Pengembangan Shinigami, sebelum diambil alih sama Kurotsutchi Mayuri karena dia diusir dari Seireitei dan memutuskan untuk jadi mata-mata bayaran buat Institutnya di Dunia Manusia (tentu saja hanya dalam cerita ini). Yang dimaksud professor sok tau dan amazoness itu adalah Mayuri dan anggota I.P.P.S yang memang udah terbukti bentuknya bermacam-macam dan berisi orang-orang yang aneh. Haha ribet banget masa lalunya Urahara, kapan-kapan bakal Yuuka masukin dikit deh. Untuk Shinigami, mereka tidak bisa menggunakan sihir tapi (hanya dalam cerita ini) mereka bisa mengubah tekanan spiritual menjadi jurus kidou, bisa hadou atau bakudou. Untuk lebih jelas mengenai bakudou no.81 ini, dalam cerita aslinya Tessai dulu pernah menggunakannya waktu melawan Aizen. Oh ya, ada banyak istilah di sini, oke Yuuka akan jelaskan satu per satu ya.
Enchanter : tipe penyihir ini biasanya wanita, dan dia bisa memikat seseorang dengan mantranya atau menyamar menjadi seseorang. (Ini adalah tipe Sternritter yang menyerang Rukia di chapter 1)
Geta-boshi : kalau ini memang udah jadi julukan buat Urahara di manga atau animenya. Dari kata geta: sandal dan boshi: topi. (Karena Urahara memang selalu muncul dengan sosok seorang pria berkimono, bertopi garis-garis hijau tua dan sandal khas Jepang)
Knight : pendekar pedang. (Hanya saja dalam cerita ini tidak menunggang kuda)
Paladin : prajurit suci. Kalau Knight biasanya hanya menggunakan pedang, Paladin biasanya memakai perisai juga. (Dalam cerita ini tingkatnya lebih tinggi dari Knight, masuk dalam kelas S dan SS)
Soldier : prajurit bawahan Knight. (dalam cerita ini mereka adalah pasukan penjaga Seireitei)
Elementalist : tipe penyihir ini adalah menggunakan elemen untuk bertarung. Bisa sihir atau memanggil dan menggunakan roh elemen.
Mercenary : mereka adalah pasukan bayaran. (Sebenarnya agak nggak cocok buat Urahara tapi untuk cerita ini sedikit Yuuka modifikasi)
Summoner : pemanggil makhluk untuk dijadikan senjata atau teman bertarung (dalam cerita ini, Summoner biasanya memanggil pasukan Hollow untuk bertarung)
Kayaknya udah semua ya. Terakhir dan bukan yang paling terakhir, tell me what you're thinking?
Balasan bagi yang tidak log in:
Ina : makasih reviewnya ya :D di sini ras manusia memang sudah tinggal di bumi setelah perang seribu tahun dan meninggalkan dua ras yang lain. Untuk Renji belum bisa Yuuka ceritakan, tapi nanti ada saatnya kok ^^ haha Yuuka juga suka baget sama Rukia yang keras kepala. Ini sudah update, tetep ikutin ceritanya ya :D
