Disclimer : Bleach hanya milik Tite Kubo seorang
―bukan punya Yuuka―
.
.
.
Warning : Typo (yang selalu nongol), AU, contains fantasy terms, curse words, semi-canon, Gaje (Yuuka serahkan pada Readers semua, DLDR
.
'The chain above your heart. Let me keep it.'
.
Enjoy and happy reading !
...
The Half-Blood
Akimoto Yuuka
Ichigo tiba di Shibuya dengan shunpo kecepatan tinggi, lebih cepat dari sebelumnya. Kakinya menapaki udara di dekat sebuah gedung pertokoan untuk melihat situasi. Hollow-nya banyak sekali. Mereka merajalela seperti wabah penyakit. Orang-orang di bawahnya sama sekali tidak sadar bahwa ada pelahap maut di atas kepala mereka, kemungkinan ada seseorang yang memiliki indra keenam di kota itu hanya satu banding seratus ribu. Tentu saja itu sangat kecil jadi setidaknya Ichigo bisa tenang karenanya. Tapi meski begitu...
Tujuh plus baru saja kehilangan hawa keberadaannya.
Ichigo menyipitkan mata. Beberapa Hollow telah memakan mereka. Dengan keadaan seperti ini hanya satu hal yang harus dia lakukan. Ichigo menarik pedang dari punggungnya, mengambil ancang-ancang. Sebelum langkah kilatnya mulai mengalahkan angin dan membelah tiga kepala Gillian di depannya dengan sekali tebas. Mereka menggeram dan mengaum, menjeritan kesakitan. Ichigo melompat mundur saat darah berwarna hitam menyembur ke arahnya, sementara para Gillian berubah menjadi kumpulan partikel yang menyebar ke langit. Karena hal itu, beberapa ekor yang lain mulai mengambil sikap menyerang, menyadari bahwa ada reiatsu yang sangat kuat di sana dan itu membuat mereka lapar.
Oh, Ichigo suka itu. Akan lebih mudah menebas mereka jika kepala-kepala itu bergerombol. Kakinya mulai berlari kembali, melompat. Berpindah dari satu kepala ke kepala yang lain, memotong mereka menjadi dua hanya dengan tebasan pedangnya. Sekelompok Gillian dan Menos tak bisa melakukan apapun dengan kelambatan respon dan berat tubuh mereka, membuat mereka terlihat seperti kawanan makhluk bodoh. Tapi tiba-tiba seekor Menos membuka mulutnya. Ichigo menyadari hal itu dan berhenti di atap gedung. Itu cero.
Ketika partikel-partikel hitam mulai berkumpul di mulutnya, Ichigo tahu apa yang harus dia lakukan. Sebuah sinar hitam ditembakkan keluar, bertenaga penuh. Ichigo menyipitkan matanya, mengayunkan pedang, menebas cero menjadi dua sehingga serangan itu tidak mengenai dirinya. Tapi seekor Gillian yang lain tiba-tiba muncul dari samping dan menampiknya ke dinding.
"Ughh...!"
Ichigo mengernyit ketika merasa dinding di belakangnya retak. Dia mendengus.
"Itu tadi curang."
Ichigo mendorong tubuhnya ke depan, menggunakan shunpo untuk membalas serangan tadi. Tak ada yang bisa mengalahkannya soal kecepatan. Kalau bicara soal siapa yang lebih kuat, tentu Kelas A bukanlah gelar semata.
Setiap kepala Menos tumbang berkat tebasan pedang Ichigo, menyisakan beberapa di kota yang tadinya dipenuhi oleh makhluk-makhluk pemakan jiwa itu. Tapi semuanya baru dimulai. Ichigo berhenti saat merasakan tekanan reiatsu yang kuat dari arah barat. Dia menoleh, dan saat itu juga melihat enam Menos Grande turun dari sebuah lubang di atas langit. Dengan kepala runcingnya dan gerakan pelan, mereka menggeram ke arahnya. Makhluk-makhluk dengan kemampuan intelektual rendah itu berjalan dengan ekspresi yang menjijikkan.
Lubang yang tercipta di langit adalah Garganta, gerbang penghubung ke Hueco Mundo, padang pasir yang selalu berada di malam hari dan merupakan tempat dimana Hollow hidup. Jika gerbang itu masih terbuka, Hollow bisa masuk dan keluar seenaknya. Seseorang yang bisa membukanya hanyalah Summoner, tapi Ichigo tidak bisa melacak keberadaannya sekarang. Orang itu pasti bersembunyi di suatu tempat, mengamati, sementara pion-pionnya berkeliaran di tengah kota. Dia sudah tahu kalau Gillian dan Menos biasa tidak mempan pada Ichigo karena itu dia memanggil yang lebih kuat. Menos Grande, evolusi kedua dari Menos.
"Tch. Ini tidak ada habisnya. Jangan seenaknya memanggil mereka di tengah-tengah kota begini, apa dia tidak punya otak?"
Ichigo mengarahkan pedang besarnya ke depan, memasang kuda-kuda saat mulutnya menggerutu. Sejumlah reiatsu berwarna biru mulai berkumpul di bilah pedangnya dan perlahan membentuk kilatan yang lebih besar. Para Menos Grande mulai mendekat ke arahnya, melolongkan perasaan senang karena menghirup kekuatan besar yang berasal dari pedang pria itu. Zangetsu. Mereka membuka mulutnya lebar-lebar, kembali membentuk cero tapi kali ini lebih besar, lebih kuat.
Enam bola cero berwarna hitam kemerahan tercipta di setiap mulut, semakin membesar dan menjadi bulat sempurna. Dengan tekanan yang berasal dari otot perut, mereka melepas bola-bola itu keluar sekaligus. Meluncur bersamaan membelah udara dengan kecepatan tinggi. Dan itu hanya menuju ke satu titik. Tempat dimana Kurosaki Ichigo berdiri.
Ichigo meletakkan kaki kanannya ke belakang sedangkan konsenterasi penuh dikerahkan untuk menghadapi enam cero ganas yang ditembakkan untuk membunuhnya. Reiatsu yang kuat membentuk garis lurus melingkar yang mengarah ke langit, membelah awan, dan Ichigo menarik pedangnya ke atas.
"Getsuga... Tenshou...!"
Dia melepas serangan berbentuk sabit dengan kekuatan merusak luar biasa dari ayunan pedangnya. Keenam cero bertubrukan dengan serangan milik Ichigo di langit, membentuk ledakan besar dan asap. Efek yang dihasilkan membuat tanah bergetar serta debu-debu beterbangan, angin meniup puing-puing bangunan sehingga Ichigo menghalangi matanya dengan sebelah tangan. Menghadapi enam cero sekaligus dengan satu serangan membuatnya lelah. Dia melirik ke bawah saat teriakan orang-orang memenuhi telinganya dalam sekejap, menyangka bahwa ada badai. Berbondong-bondong mereka mulai saling berlarian tapi ada satu masalah di sini. Itu bukan badai, tapi sesuatu yang lebih buruk.
"Ichigo!"
Seorang wanita berkulit cokelat meloncat dari atap gedung lain secara tiba-tiba, membuat Ichigo menoleh, tapi wanita itu lebih dulu bershunpo dengan cepat dan muncul di sebelahnya.
"Yoruichi-san."
"Tadi Urahara menghubungiku, tapi aku sedang berdebat," wanita itu memasang wajah sebal. "Haahh aku lelah sekali, dasar para tetua bodoh. Mereka mempersulit segalanya. Dari dulu aku paling benci jika berurusan dengan orang-orang bertampang datar seperti itu. Aku jadi tidak bisa berubah menjadi kucing dan kabur."
Ichigo tersenyum gagu, memaksakan diri agar dahinya tidak mengkerut tapi malah membuat satu alisnya berkedut.
"Yoruichi-san, bagaimana jika kau simpan itu untuk nanti? Kita sedang di tengah-tengah para Menos Grande sekarang."
"Hmm, sejak dulu kau tidak berubah," Yoruichi tersenyum, "kau masih naif dan terlalu serius, tidak beda jauh dengan si kecil Hitsugaya."
"Jangan samakan aku dengannya! Dan bisakah kau berhenti mengkritik orang lain setiap melihat mereka?"
"Baiklah, baik. Aku kan hanya bercanda," dia tertawa, berjalan dan melompat terjun dari atap gedung sembari berteriak, "kau cari saja Sternritter itu, biar aku yang menghadapi sisanya."
Satu-satunya yang tidak berubah adalah kau, tahu.
Ichigo mengganti wajah bosannya dengan ekspresi serius. Melihat Yoruichi juga sedang bersenang-senang dengan para Menos, dia mulai berpikir untuk mengambil waktunya juga. Ichigo memejamkan mata, berkonsenterasi. Dia sedang melacak si Summoner dengan mengikuti arus reishi-nya. Melewati jalan raya, masuk ke dalam celah gedung, dan di sana berkumpul reishi dalam jumlah besar sedang bersembunyi di balik jendela.
Ketemu.
Ichigo segera melompat pergi. Ke tempat target selanjutnya sedang mengawasi tanpa tahu bahwa mangsanya akan balik menyerang. Ichigo sudah mencapai setengah jalan, saat tiba-tiba sekelebat kuku-kuku panjang menggores lengan atas dan membuat bajunya sobek ternoda cairan merah. Ichigo berhenti, mengamati lengannya yang berdarah.
"Aku tidak menyangka kalau darah Kelas A berkualitas tinggi," kata seorang wanita, menjilat bekas darah Ichigo di kukunya. "Manis."
Mata Ichigo memicing, melihat wanita yang baru dua hari yang lalu ditemuinya. Wanita berambut ikal blonde dengan kaki panjang itu tersenyum senang. Dia senang karena tujuannya saat ini akan segera terpenuhi. Sternritter tidak mudah melupakan dendam sebelum dendam itu terbalaskan. Hal itu tidak akan berubah.
"Candice Catnipp," Ichigo menghela napas. "Mata-mata Sternritter yang melanggar batas wilayahnya sendiri. Tipe Enchanter."
"Kau juga melanggar batas wilayah, kan?"
"Itu karena aku harus menyelesaikan apa yang telah kalian mulai. Apa kalian para penyihir sengaja melakukan hal ini? Peperangan akan kembali terjadi."
Candice tertawa kecil, menganggap kata-kata Ichigo hanya sebuah lelucon. Demi kekuatan terbesar, siapa yang akan peduli soal melanggar batas sekarang?
"Shinigami selalu penuh dengan aturan, itulah hal yang tidak kusukai dari kalian."
Melalui kalimat Candice, suasana menjadi serius seketika. Dia wanita yang jarang menyesal, jadi demi kesenangannya saat ini apapun pasti akan dia lakukan. Sedangkan di tempatnya berdiri, Ichigo menarik senyum. Menyambut pertarungan yang menantangnya.
―Yuuka desu―
Mata Rukia perlahan terbuka. Gelas minuman di atas nakas bergetar ringan saat dirinya mengerjap. Ini pukul 1.34 pagi. Dia bangun dengan perasaan was-was. Barusan, tanahnya bergetar. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri tanpa menemukan tubuh Ichigo di sana. Dimana pria itu? Apa yang sedang terjadi?
Rukia menyingkap selimut dan turun dari ranjang. Pergi ke atas untuk mencari seseorang, tapi dia tidak bisa menemukan Urahara. Rukia terdiam di dekat dinding, bingung. Dia menggigit bibir saat perasaannya tidak enak.
Kemana Ichigo pergi?
Tanpa pikir panjang Rukia menaiki tangga yang dia temukan di sebelah dinding. Setidaknya dia harus mencari tahu. Dia tahu Ichigo tidak akan pergi meninggalkannya jika tidak ada sesuatu. Rukia berjalan pelan, menapaki 15 anak tangga yang menuntunnya menuju sebuah pintu. Tepat di ujung. Tapi anehnya, pintu itu terbuka. Berarti barusan ada orang yang memasukinya. Tangan Rukia bertumpu di ambang pintu, mengintip. Entah kenapa langit terlihat berwarna aneh.
Rukia memajukan tubuhnya ke depan, lalu terlonjak karena terkejut setengah mati. Dia melihat tubuh Ichigo tergeletak seperti tak bernyawa di atas atap. Segera dia berlari ke sana, berlutut di samping tubuh itu dengan panik.
"Ichigo! Hei, Ichigo!"
Dia mengangkat pergelangan tangan kanan Ichigo dengan gemetar. Mengecek nadinya. Tapi dia tak merasakan apapun. Mulut Rukia kaku. Matanya melebar tak percaya. Ichigo... mati? Keringat dingin membasahi tengkuknya seketika saat pikiran itu melintas di otaknya. Tiba-tiba dia menggeleng.
Tak ada luka. Ichigo tidak mungkin mati. Pasti ada yang telah terjadi.
Dia menoleh ke kanan dan kiri, berniat untuk mencari bantuan sebelum otaknya tiba-tiba menemukan sebuah kenyataan yang seperti menampar pipinya.
"Ichigo menggunakan gigai, tubuh buatan yang kuciptakan. Roh tanpa wadah pasti tidak akan bisa dilihat dengan mata telanjang, kecuali kau memiliki tekanan reiatsu yang tinggi. Seperti manusia yang punya indera keenam."
Dia membuang napas panjang begitu mengingat kata-kata Urahara. Gadis itu menunduk, mengatur detak jantungnya yang tadi berdentum sangat kencang. Astaga, dia hampir gila.
Rukia memandang wajah gigai Ichigo yang tampak sedang tertidur, tak ada roh. Meski hanya tubuh buatan, dia terlihat begitu sempurna. Lalu jika gigai-nya di sini, dimana Ichigo yang asli? Rukia menengok ke kanan dan kiri sekali lagi, tapi dia tak menemukan petunjuk. Dia berjalan ke pinggir atap, melihat ke atas. Langitnya masih gelap, tapi seperti ada kabut tipis yang menutupinya. Seperti kaca mobil yang buram setelah terkena air hujan.
Dia memandang lebih jauh, matanya menyipit saat menemukan sebuah cahaya yang berkedip-kedip di ujung. Kalau tidak salah itu Shibuya. Rukia hanya bisa mengira-ngira karena matanya tak dapat melihat dengan jelas dari sana. Rukia menunduk. Benar dugaannya bahwa tempat itu telah ditutupi oleh sesuatu. Di dekat rerumputan terdapat garis yang membatasi antara area dalam dan luar, seperti penghalang.
Rukia merasakan angin yang dingin datang membelai rambutnya, dia mendongak lalu muncul sesuatu yang bercahaya. Sebuah jalur berwarna hitam kemerahan melaju cepat ke arahnya, membelah angin. Mata Rukia melebar. Cahaya itu terasa panas di udara, semakin panas saat mendekat ke kulitnya. Tapi Rukia tak sempat menghindar. Dia menunduk, melindungi wajahnya dengan kedua tangan di depan dan tiba-tiba terdengar suara ledakan yang besar.
Tanah kembali berguncang hebat, membuat retakan yang lumayan besar di bawahnya. Rukia bergetar panik. Apa itu tadi? Meriam? Kenapa ada meriam? Apa yang telah terjadi?! Gadis itu membuka mata perlahan dan menurunkan tangannya. Dadanya naik turun dengan cepat, hampir menyakitkan. Asap masih membumbung di sekitarnya sehingga Rukia tak sempat mengetahui apa yang sedang terjadi. Tapi dia baik-baik saja. Itu yang aneh. Seharusnya tadi dia mati terkena ledakan itu.
Jadi penghalang ini melindungi Albinia Mese.
Otak Rukia mulai bisa menganalisa situasi. Di ujung sana, tempat cahaya yang berkelap-kelip, pasti tempat dimana Ichigo berada sekarang. Ada pertarungan di sana. Rukia menelan ludah, mencoba berdiri saat asap mulai memudar. Ichigo sedang bertarung dengan siapa? Apakah para Sternritter itu? Pikiran Rukia kalut.
Baru beberapa detik setelah Rukia hendak mundur ke belakang, muncul seseorang berpakaian serba putih menempel di penghalang yang melindunginya dari balik asap. Memelototinya.
"Gyaahh!"
Rukia berteriak kaget. Melihat wajah pucat itu menyeringai keji dengan darah mengucur dari kepala hingga dagu, lalu mulut berdarah dan kaki yang tergores dalam. Membentuk pola serta bekas cipratan darah yang tidak sedikit di bajunya. Rukia mengenalnya, terutama rambut blonde itu. Dia adalah penyihir yang menyerangnya di sekolah. Tatapan kebenciannya sama seperti waktu itu. Begitu menginginkan dirinya. Tapi pemandangan yang mengerikan itu tidak berhenti di sana. Wanita bernama Candice itu menyusupkan kuku panjangnya ke dalam penghalang yang dibuat Urahara, mengerahkan kekuatan sihirnya. Perlahan dinding tembus pandang yang kuat menjadi sedikit tergores. Kekuatannya pasti berkurang setelah menerima ledakan itu.
"Aku akan mencabikmu... aku akan mencongkel matamu... aku akan mencabut setiap rambut di kepalamu... aku akan... aku akan... hhh, membunuh..."
Mata Rukia membulat ngeri saat Candice mulai memasuki penghalang dengan paksa. Tubuhnya kembali tergores celah dinding yang tajam, tapi dia tak peduli. Perasaannya sedang senang. Dia gila. Kaki Rukia gemetaran dan tak bisa bergerak. Dari jarak 50 meter, perlahan tubuh Candice masuk mendekatinya. Rukia memaksakan diri untuk mundur, lari ke belakang, tapi satu langkahpun dia tak bisa bergeser. Ketakutan yang nyata mulai merayapi tubuhnya dari bawah, mengais semua keberaniannya ketika dengan tangan ke depan, Candice berusaha keras meraih dirinya.
"Yang Mulia, Ywach," dia bergumam samar. "Yang Mulia... aku akan menyimpannya dalam tubuhku jadi, ijinkan aku...!"
CRASSHH!
Kata-kata Candice tak pernah selesai. Matanya yang melotot senang menjadi sebuah tatapan kosong yang mengerikan. Semua seperti sebuah hitungan lambat. Rukia mematung melihat mulut Candice terbatuk darah segar yang langsung mengotori baju dan sebagian wajahnya. Saat dia melirik ke bawah, dia menemukan ujung pedang berwarna hitam dan bernoda darah di perutnya. Rukia berhenti bernapas. Mendapati rambut oranye mencuat di sela-sela bahu Candice. Mulutnya terbuka.
"Ichi...go...?"
Candice menoleh ke belakang dengan lemah, mengeratkan gigi.
"Aku sudah pernah bilang aku akan membunuhmu jika kau berani mendekatinya," Ichigo berkata dingin. "Kau tahu sendiri kan bahwa jika dua orang yang setara bertarung, salah satunya pasti akan mati."
Matanya melihat ke arah Rukia di depan.
"Kau yang memilih jalanmu sendiri."
ZRASSHH!
Candice memekik saat tubuhnya terbelah menjadi dua oleh pedang tipis Ichigo yang sudah memasuki mode Bankai. Tubuh bawahnya jatuh lebih dulu ke tanah, diikuti tubuh bagian atasnya yang sudah mengeluarkan banyak cairan merah. Rukia tidak ingin tahu apa-apa saja yang keluar dari perut yang terkoyak itu. Dia menutup mata, menarik udara dengan tersendat.
Paru-parunya bahkan sulit untuk bernapas. Kedua lututnya bergetar, memaksa tubuh mungil itu untuk terus berdiri. Melihat adegan pembunuhan untuk pertama kali, dan sayangnya itu begitu mirip seperti dalam film bergenre thriller. Ichigo muncul di depannya, menyimpan pedang yang telah ternoda darah itu kembali pada sarungnya sementara dirinya mulai khawatir.
"Bernapas, Rukia."
Gadis itu menarik napas perlahan melewati hidung, tersedat berulang-ulang, tapi kemudian dia mulai bisa melakukannya dengan baik.
"Bagus," ujar Ichigo, menghela napas. Dia merasa bersalah. Tapi tak ada yang bisa dia lakukan soal Rukia yang melihat pertarungan mereka.
Ichigo belum berani mendekat, dia tidak ingin Rukia semakin ketakutan setelah melihat bercak-bercak darah yang cukup banyak di tubuhnya.
"Jika dua orang yang setara bertarung, maka salah satu dari mereka akan mati," Rukia mengulang kata-kata Ichigo. "Jika tadi dia tidak memikirkan dendamnya dan pergi ke sini, apa yang kira-kira akan terjadi? Kau mungkin berada dalam situasi yang berbahaya―"
"Itu tidak akan terjadi. Hasilnya sudah ditetapkan sejak awal, bukan masalah jika dia tidak fokus atau karena hal lain."
"Kita tidak akan tahu sebelum hal itu terjadi."
"Jangan membuatku marah, Rukia," tatapan Ichigo berubah tajam.
"Dia Kelas A sama sepertimu, haruskah aku mengatakannya seandainya yang terjadi justru sebaliknya?!"
"Memangnya siapa yang kaulihat sekarang? Hantu? Kau selalu saja meragukanku, Rukia, menurutmu aku sebodoh itu membiarkan diriku sendiri dikalahkan dengan orang semacam itu?"
Gadis itu terbungkam. Kepalanya sakit akibat berpikir terlalu banyak. Dia mendesah berat.
"Sekarang aku di sini," Ichigo yang pertama mengakhiri pertengkaran mereka pagi itu. Jemarinya yang bersih menyentuh pipi Rukia sementara tubuhnya sama sekali tak mendekat, memberinya ketenangan karena wajah Rukia terlihat begitu pucat sekarang. "Aku ada di sini, jadi berhenti berpikir yang tidak-tidak. Dia juga Kelas A, tapi kau sendiri tahu kalau aku lebih kuat darinya."
Ya, Rukia tahu itu. Dia memaksakan diri menatap Ichigo saat pria itu tak bergerak, khawatir.
"Aku baik-baik saja."
"Kau tahu aku tidak percaya pada kata-kata semacam itu."
"Tidak, lupakan saja. Sebelum mengkhawatirkan orang lain pikirkan dulu dirimu sendiri," ucapnya sedikit kesal. "Luka di tubuhmu itu, sebaiknya kita mulai mengobatinya."
Rukia baru menyadari bahwa yang diihatnya saat ini adalah roh Ichigo. Dia berpakaian serba hitam dengan jubah lengan panjang yang sobek dan hakama berwarna hitam. Lengkap dengan pedang panjang tipisnya dan geta. Jadi inilah seragam para Shinigami, pikir Rukia. Mereka berbeda jauh dari Sternritter yang memakai kombinasi pakaian serba putih.
Luka di tubuh Ichigo tidak parah, hanya saja Rukia gelisah melihatnya. Dibandingkan dengan Candice yang saat itu sedang tidak fokus bertarung, Ichigo masih jauh lebih baik. Tapi pria itu lega karena Rukia cepat bertindak, gadis itu tidak lagi gemetaran seperti tadi. Pengendalian dirinya sangat mengagumkan. Tapi itu bukan berarti Ichigo tenang.
"Aku kedinginan. Ayo masuk ke dalam."
Rukia terdiam menurut, menyadari maksud Ichigo yang tidak ingin dirinya tetap berada di sana. Pagi itu, pukul tiga pagi, semuanya sudah berkumpul di bar. Penghalang di luar sudah dilepas karena menurut informasi dari Yoruichi, para Gillian dan Menos sudah dipanggil kembali oleh Summoner mereka yang berhasil kabur.
"Padahal aku hampir menangkapnya. Dia lincah, tidak seperti yang satunya," komentar Yoruichi sambil meminum birnya yang kedua.
"Bagaimana menurutmu, Urahara-san?" tanya Ichigo. Lengannya baru saja selesai diperban oleh Rukia.
"Yah, pertama-tama, otopsi. Mata-mata yang dikirim langsung oleh Wandenreich tidak mungkin tidak menyimpan informasi. Kita mungkin bisa mendapatkan sesuatu dari sana."
"Setelah itu kita bawa Rukia ke Seireitei."
Kata-kata Yoruichi membuat semuanya tergelak, tak terkecuali Rukia. Tapi seperti yang telah diduganya, Ichigo yang paling cepat naik darah.
"Apa? Tidak. Kaupikir apa yang akan mereka katakan saat melihat Rukia? Kau sudah tahu apa yang akan terjadi tapi tetap menyarankan hal ini, Yoruichi-san?"
Rukia mengernyit, kenapa Ichigo marah?
"Justru karena aku tahu apa yang sebenarnya terjadi. Di sini tidak aman, para penyihir itu tidak peduli soal batas. Mereka bisa saja kembali dalam jumlah yang lebih banyak. Pikirkan yang lain. Mungkin tidak Rukia, tapi bagaimana dengan warga kota? Apa kau bisa melindungi mereka?"
Ucapan kritis Yoruichi membuat Ichigo mengeratkan gigi, tetap tidak setuju tapi dia tahu wanita itu benar.
"Kita bisa memindah jalur tapal batas Shibuya."
"Jangan konyol, Ichigo. Kita tidak bisa memberatkan seluruh kota hanya karena satu orang," timpal Urahara, secara tidak langsung dia menyetujui saran Yoruichi. "Lagipula itu butuh banyak energi."
Rukia terdiam melihat Ichigo mendesah kasar.
Kenapa dia begitu marah?
"Pikirkan hal ini, Ichigo. Kita tidak punya banyak waktu untuk bermain-main," kata Yoruichi, menengahi. "Aku juga tidak ingin Rukia melihat hal mengerikan berulang-ulang seperti ini. Selain itu..."
Urahara menunggu dalam diam, mengerti maksud Yoruichi, dia menoleh ke arah Ichigo dan memberi kode bagi pria itu untuk menyerah.
"Pembicaraanku dengan para Kuchiki...," Yoruichi memulai dasar alasan keputusannya sementara Rukia terkejut.
Kuchiki...? ulangnya dalam hati.
Yoruichi menunjukkan ekspresi serius di wajahnya.
"Mereka sendiri yang menyuruh kita untuk membawa Rukia ke Seireitei."
Rukia membelalak tak percaya. Apa? Apa yang baru saja didengarnya?
"Kau... bertemu dengan tetua Kuchiki?" tanyanya pelan.
"Ya, sebelum aku kemari," jawab Yoruichi membenarkan. "Kami harus segera mengambil tindakan, tapi sebelum itu kami perlu membicarakannya dulu dengan mereka."
"Kalian membicarakannya dengan keluargaku, tapi tidak denganku?" Rukia meremas ujung bajunya. "Pendapatku pasti tidak penting bagi kalian kan, benar begitu?"
"Rukia, kau harus mengerti. Waktu kita sangat terbatas."
"Ya, lagipula pada akhirnya aku memang tak punya pilihan lain."
Rukia tak mengindahkan kata-kata Urahara. Beranjak dari kursinya, dia pergi ke lantai bawah. Ke kamarnya. Dia tak ingin tahu apapun, dia sudah tak peduli. Apa arti hidupnya sekarang? Dia hanya akan terkurung di tempat ini, tanpa teman, tanpa kehangatan. Dia menutup pintu, duduk di ranjang sambil memeluk dirinya sendiri.
"Kau juga tak mengatakan hal ini padaku," Ichigo berkata setelah jeda yang lumayan lama. "Jadi jangan salahkan dia, mungkin setelah ini kau bisa sedikit percaya padanya, Urahara-san?"
Baik Urahara maupun Yoruichi, terdiam di kursinya melihat Ichigo beranjak untuk menyusul Rukia. Yoruichi tersenyum.
"Kau dengar itu? Dia marah, kan?"
"Dia pria sehat dengan hormon yang normal. Tentu saja dia marah."
"Menurutmu karena gadis itu? Ah, kurasa memang karena gadis itu. Dia tempramen dan keras kepala, sama seperti Ichigo."
Urahara meminum birnya, menatap langit-langit.
"Mungkin kau benar."
―Yuuka desu―
"Rukia, buka pintunya."
Ichigo mengetuk pintu dua kali, tapi dari dalam tak ada sedikit pun suara. Tak ada gerakan. Mungkin dia tidur?
"Rukia...," panggilnya lagi.
Dia mendesah saat kembali tak mendengar jawaban, mengusap wajahnya.
"Kau mendengarku? Jika iya tolong buka pintunya. Kita tidak akan menyelesaikan apapun jika kita tidak bicara."
Ichigo mendengar langkah kaki dari dalam. Dia menunggu, lalu pintu terbuka memperlihatkan Rukia dengan wajah datarnya berjalan kembali lagi ke ranjang. Memunggunginya. Setidaknya dia membuka pintu, pikir Ichigo. Dia mendekat ke sana tanpa ikut duduk. Matanya mengawasi Rukia yang tetap tak mau bicara. Ichigo menghela napas.
"Kau tahu Urahara-san melakukan itu demi dirimu, dia tak punya maksud lain."
"Jika kau hanya ingin membicarakan itu sebaiknya kau pergi."
Rukia tak menoleh ketika bicara. Ichigo tahu gadis itu kecewa. Selain keluarganya sama sekali tak peduli, di sini dia tak memiliki siapapun selain dirinya sendiri. Di pihak siapa sebenarnya dia berada? Dia juga tidak tahu. Ichigo bisa merasakan dirinya berada di posisi yang sama. Pria itu mengambil duduk di belakangnya.
"Hei, putar badanmu. Aku tidak bisa bicara dengan posisi seperti ini."
"Tidak ada yang harus dibicarakan. Berhentilah merengek."
"Aku tidak merengek," protes Ichigo, mengkerutkan alis. "Baiklah, terserah saja. Lagipula kau juga tidak akan mendengarkanku."
"Aku... tidak tahu lagi," ucap Rukia pelan. "Siapa yang sebaiknya kupercaya? Dimana aku harus melangkah, atau siapa sebenarnya diriku? Aku tidak tahu."
Rukia mengepalkan tangan, tersenyum miris.
"Bahkan keluargaku sendiri tidak menginginkanku. Aku tak punya siapa-siapa lagi sekarang. Tak punya tempat untuk pulang, tak punya keluarga," senyumnya perlahan menghilang. "Siapa yang peduli soal menjadi wadah Hogyoku?"
"Jangan bicara lagi," Ichigo memejamkan matanya. "Sudah cukup, Rukia. Kau tidak perlu meneruskannya."
Rukia menekan bibirnya keras-keras, membiarkan buku-buku jarinya memutih akibat terlalu banyak menekan rasa sakit. Suhu tubuh Ichigo yang hangat melingkupi punggungnya yang beku, mencoba mencairkannya. Napas berat Rukia teredam di tenggorokan, terlalu lelah, otaknya terlalu lelah untuk berpikir. Jadi saat Ichigo membalikkan tubuh mungil itu dan menariknya mendekat, Rukia hanya terdiam. Dia tidak menangis, hanya napasnya terdengar berat. Ichigo membawa mata itu untuk balas menatapnya.
"Teruslah percaya padaku. Percayakan semuanya, dengan begitu kau tidak akan sendirian. Jangan pernah berpikir bahwa kau sendirian," dia berujar pelan. "Aku sudah bilang bahwa aku akan melindungimu. Aku tidak pernah menarik kata-kataku."
Teruslah percaya... dia bilang.
Rukia tak menjawab.
Lagipula, siapa lagi yang bisa kupercaya sekarang? Yang tersisa hanya Ichigo. Hanya seorang pria asing yang baru saja masuk dalam kehidupanku, dibandingkan dengan keluargaku sendiri.
Hal ini terulang lagi. Sebelumnya dia juga berada di posisi yang sama. Rukia sadar keadaan bukannya bertambah baik namun malah sebaliknya. Sejak dulu hidupnya tak pernah terasa lebih baik. Rukia menghela napas. Dia rindu Renji dan Rangiku. Dia ingin kembali ke sekolah, menjalani kehidupannya yang normal dan segera terlepas dari segala hal yang melelahkan ini. Begitu saja sudah cukup.
Tapi sekarang, itu mustahil untuk terwujud.
Rukia menjatuhkan kepalanya ke dada bidang Ichigo, meremas kausnya. Mendengar detak jantung pria itu yang seirama membuatnya tenang. Detak jantungnya tak pernah berbohong. Ichigo berbisik di telinganya, pelan dan menenangkan. Entah kenapa, Rukia merasa bisa percaya padanya untuk pertama kali.
"Selanjutnya, serahkan saja padaku."
.
To be Continued
.
Author's note :
One word for this chapter. Difficult! Nggak tau kenapa susah banget nuangin ke dalam kata-kata. Jadinya molor deh sampe dua minggu, dasar kalo udah WB bawaannya males nulis. Ya begitulah remaja. Yup! Sampe juga di chapter 4. Yuuka mohon maaf yang sebesar-besarnya karena keterlambatan ini, padahal semua udah ada di dalam kepala Yuuka, tinggal dituangin. Oh ya, di chapter ini sudah terungkap siapa 'si wanita gila' yang nyerang Rukia pertama kali. Yup, Candice Catnipp. Di sini Rukia ngerasa kecewa banget sama keluarganya yang malah seolah-olah nggak peduli dan menyerahkan semuanya ke organisasi Shinigami. Siap-siap minggu depan, FULL ICHIRUKI FANSERVICE! Ikutin terus ceritanya ya, minna! Well, tell me what you're thinking?
Balasan bagi yang tidak log in
Ina : Terimakasih karena terus ngikutin ceritanya dan mereview, Ina-san! Chapter kemarin memang khusus buat jelasin semuanya, hehe. Chapter depan bakal Full Ichiruki kok, jadi ikutin terus ceritanya ya! ^^
