Disclimer : Bleach hanya milik Tite Kubo seorang
―bukan punya Yuuka―
.
.
.
Warning : Typo (yang selalu nongol), AU, contains fantasy terms, curse words, semi-canon, Gaje (Yuuka serahkan pada Readers semua, DLDR
.
'Do you know? Love doesn't stand in a real world.'
.
Enjoy and happy reading !
...
The Half-Blood
Akimoto Yuuka
Rukia berdiri di depan cermin setengah badan sepanjang satu meter. Matanya memelototi refleksi dirinya, berkedip, lalu mendesah. Tangannya memutar keran, membasuh wajahnya keras-keras lalu kembali bercermin. Di sana dia berdiri dengan handuk berwarna putih dan rambut yang dikuncir ekor kuda dengan poni panjang yang basah. Matanya berkedip untuk menyingkirkan air keran yang mengaburkan pandangannya, turun melewati pipi seperti sedang menangis dan berakhir di dagu. Rukia melipat bibirnya ke dalam, menghela napas.
Lingkaran hitam di bawah matanya terlihat lebih hitam dari sebelumnya.
Sudah enam hari sejak Rukia pergi dari Karakura. Dia buta dunia luar. Tak tahu apa yang sedang terjadi sementara dirinya berada di sini, bersembunyi. Dia tak boleh mencari tahu kecuali ingin Ichigo pergi menjemputnya paksa meski harus dengan cara paling buruk, menyeretnya. Rukia mendengus. Ya, dia pernah merasakannya.
"Bagaimana caranya keluar dari tempat ini tanpa ketahuan?"
Rukia berpikir keras sembari berjalan ke bath tub, melepas handuk dan berendam di dalamnya. Kulit pucat itu sedikit memerah setelah terkena air hangat, merona. Rukia menurunkan tubuhnya hingga di atas hidung, mencoba rileks. Hanya ini ketenangan yang bisa dia dapatkan di Albinia Mese. Berendam di kamar mandi hingga kulitnya merah seperti kepiting.
Kelopak mata Rukia membuka. Uap dari air hangatnya membumbung ke langit-langit, membuat cermin kamar mandinya buram. Rukia menekuk lututnya dan melingkarkan kedua lengannya di sana. Pagi itu Ichigo...
"Selanjutnya, serahkan saja padaku."
Suaranya begitu menenangkan, rendah dan pelan. Rukia masih bisa merasakan kehangatan Ichigo di tubuhnya. Pria itu memiliki tubuh yang sempurna, hasil latihan kerasnya selama menjadi Shinigami, dan seorang A. Seperti apa dirinya saat sedang bertarung? Berapa banyak nyawa yang telah hilang berkat tebasan pedangnya? Seberapa besar penderitaannya selama ini? Rukia tidak tahu.
"Aku tak ingin tahu."
Gelembung-gelembung kecil terbentuk ketika Rukia membuang napasnya di dalam air. Dia tak ingin tahu, lagipula dia juga tak tahu apa-apa tentang pria itu.
Kurosaki Ichigo, umur seratus sembilan puluh tujuh tahun, rambut oranye, mata cokelat, seorang Knight dari organisasi Shinigami, dengan markas di Seireitei, Soul Society (entah dimana itu). Pekerjaan sampingan: murid kelas dua SMA Karakura.
Tawa kecil keluar dari bibir Rukia. Yah, setidaknya dia tahu yang perlu dia ketahui. Rukia menangkup air di telapak tangannya, melihat permukaannya bergoyang.
"Apa kalian sedang mencariku sekarang, Renji, Rangiku?"
―Yuuka desu―
Aku mencium bau daging sapi panggang dengan saus salsa verde.
Rukia berhenti di dekat tangga, melihat Ichigo meletakkan piring berwarna putih beserta isinya di atas meja konter. Dia menyadari kehadiran Rukia dan melirik gadis itu lewat ujung matanya. Seketika itu juga Rukia mendengus.
"Yoruichi-san, tolong katakan padanya aku butuh asupan selain daging," celetuknya, melirik Yoruichi yang sedang duduk nyaman di sofa dengan segelas birnya.
"Dia cukup keras kepala kalau soal makanan, jadi kurasa kau harus menurutinya sesekali, Rukia," balas wanita itu santai.
"Tapi ini sudah tiga hari!"
"Jangan terlalu pilih-pilih. Kau butuh daging agar kulitmu menjadi sedikit berwarna," kali ini Ichigo yang menjawab. Masih dengan kaus panjangnya yang dilipat hingga siku dan celana panjang. Dia menjilat jarinya yang terkena saus daging. Menggoda gadis itu. "Kau harus mencobanya, ini lezat."
Rukia merucutkan bibir.
Dari dulu kulitku memang sudah seperti ini.
Dengan malas dia berjalan ke meja konter, mengambil duduk di depan seporsi daging panggang buatan Ichigo. Beberapa hari yang lalu dia terkejut karena mengira pria itu tidak bisa memasak. Tapi semua karya dari tangan Kurosaki Ichigo sama sekali tidak ada yang gagal. Itu yang membuat Rukia takjub. Meski seenak apapun tapi jika makan daging selama tiga hari nonstop, lidahnya bisa terasa hambar.
"Kau tidak mau makan, bunny?" Ichigo bertanya, memajukan tubuhnya ke depan dengan senyum miring. "Yang ini resep baru, kau bisa merasakan perbedaannya."
Ragu-ragu Rukia mengambil garpunya. Melirik Ichigo sebentar, dia mengambil sedikit salsa verde di ujung garpu lalu membawa ke mulutnya.
"Tidak enak."
"Oh ya? Ekspresimu berkata lain."
Rukia membuang muka ke samping, menyembunyikan rona merah di pipinya karena malu.
Aku benci Kurosaki Ichigo karena dia begitu sempurna!
Puas melihat reaksi Rukia, pria itu tersenyum lebar.
"Habiskan, setelah itu bersiaplah."
"Untuk apa?" tanya Rukia, masih merasa kesal.
"Kau akan tahu."
Tak menjawab pertanyaan Rukia, pria itu berjalan menjauhi konter, bertatapan mata dengan Yoruichi sebentar sebelum masuk ke ruang penyimpanan―ruangan Urahara. Meski tak mengatakan apapun, Yoruichi bisa tahu apa yang sedang pria itu pikirkan. Saat mengetahui hal itu dia hanya bisa menghela napas.
―Yuuka desu―
Ichigo masuk ke ruangan Urahara, melihat si geta-boshi sedang mengetik―seperti biasanya―di atas keyboard panjang. Dia berjalan ke lemari dan membuka rak secara acak. Suara yang ditimbulkan Ichigo membuat Urahara mengernyitkan kening.
"Apa yang sedang kaucari?"
"Pil penekan reiatsu. Waktu itu kau meletakkannya di sini, kan? Aku butuh itu."
Urahara membalikkan tubuh dengan raut bertanya, "Untuk siapa? Rukia? Kau mau ke Karakura?"
Ichigo menghentikan gerakannya di laci ke tiga, menegakkan badan.
"Tidak bisa," ujar Urahara serius.
"Hanya ini yang bisa kulakukan."
"Kau bisa sampai sejauh ini, apa kau mulai menyukainya?"
Pria itu terdiam, mulai menunduk dan membuka laci-laci lainnya sementara Urahara tidak lagi mengatakan apapun. Ketika Ichigo menemukan sekotak pil bulat berwarna putih, baru dia menghadap Urahara. Sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya.
"Siapa tahu?"
Baru kali ini dia melihat Ichigo bersikap seperti itu. Tebakannya berada di tengah-tengah, antara benar dan salah memiliki berat yang sama. Urahara mendesah, berurusan dengan seorang pria dengan hormon yang sedang meledak-ledak seperti itu tidak cocok dengannya yang selalu dalam tahap stabil.
"Aku pergi dulu."
"Ichigo."
Urahara menahan Ichigo yang sudah sampai di pintu, menoleh tanya padanya.
"Dimanapun kau berada, ingatlah posisimu sebagai Kelas A. Kau sendiri yang diberikan misi oleh Ketua, artinya kau yang harus menyelesaikannya, semua tergantung bagaimana keputusanmu."
Mendengar nasehat dari mulut kritis Urahara membuat Ichigo menaikkan alis, heran. Dia jadi terdengar melankolis kalau tidak bicara kata-kata yang pedas. Ichigo menarik bibirnya ke satu sisi.
"Iya, iya, aku tahu. Berhenti bicara dengan nada seperti itu, kau jadi terdengar seperti orang baik."
Memangnya kau pikir aku ini apa?
Si geta-boshi hanya mendesah saat Ichigo dengan langkah panjang berlalu dari ruangannya. Dalam kegelapan ruangan dan kesunyian yang ditinggalkan Ichigo, tersimpan begitu banyak pertanyaan. Dengan jari dingin ditelusurinya jejak informasi yang tadi tertunda. Matanya menemukan sebuah data tentang seorang wanita berpakaian serba putih dengan jubah lebar dan seragam bermanik, topinya berlambang Wandenreich, berambut lurus panjang. Urahara mengusap dagunya.
Jadi, ini giliran si sadis Bambietta Basterbine.
―Yuuka desu―
"Kau sudah bersiap? Seragam dan barang-barangmu?"
"Kita mau kemana?"
Ranjang kamar berukuran Queen itu berderit saat Rukia duduk, memandangi Ichigo yang membuka lemari, mengeluarkan kemeja lengan tiga per empat berwarna putih persediaannya yang sengaja ditinggal di Albinia Mese jika sewaktu-waktu diperlukan, sementara yang lainnya dibawa ke apartemen. Gadis itu mengkerutkan kening dalam-dalam. Ichigo sedang bermain tebak-tebakan dengannya, dan itu menyebalkan. Pria itu membuka kaus tipis yang dia kenakan. Dalam sekejap mengekspos lekukan punggung nyaris tanpa cacat dengan ototnya yang kencang, berakhir di pinggang sempitnya di atas celana panjang hitam yang dia pakai. Rukia melongo disertai pipi merona hebat. Apa pria ini gila?!
"T-Tawake! Bisakah kau lakukan itu di kamar mandi?!
"Kita tak punya waktu, Rukia. Sebentar lagi jam pelajaran kedua dimulai."
"Apa maksudmu?"
Dengan berat Rukia menyingkirkan sedikit tangannya yang menutupi mata, mendesah lega karena Ichigo sudah kembali berpakaian. Astaga, dia pikir gadis itu apa, seenaknya berganti pakaian seolah-olah tak ada gadis normal di sana.
Selesai dengan kancing bagian bawah, Ichigo berbalik dengan dua kancing atasnya yang masih terbuka. Dia tak sadar, dada bidang dan leher tan itu membuat gadis di hadapannya tersiksa. Rukia menelan ludah diam-diam, mengalami perdebatan di dalam kepalanya untuk tetap menatap atau membuang muka. Tapi karena dia adalah seorang Kuchiki, tentu dia memilih pilihan kedua. Harga dirinya terlalu besar.
"Kita sudah terlambat jika ingin masuk seperti biasa. SMA Karakura sangat ketat, kan? Aku bisa mengatur agar kita lewat pintu samping. Dengan begitu kita bisa menyusul setidaknya―"
"Tu-Tunggu sebentar," Rukia melebarkan mata. "Kau bilang SMA Karakura? Maksudmu kita akan―"
Kata-kata Rukia tak bisa mencapai tenggorokan saat tahu keinginannya akan jadi kenyataan. Dengan violet yang berseri-seri dia menatap Ichigo tidak percaya. Pria itu merendahkan tubuh, menanggapi pertanyaan Rukia dengan respon positif, terkekeh pelan.
"Kau serius?"
Ichigo menghentikan tawa kecilnya, menyukai ekspresi Rukia yang tak bisa membendung kebahagiaan. Setidaknya untuk sekarang, itulah yang terpenting.
"Apa aku terlihat bercanda?" tanyanya balik. "Kau merindukan teman-temanmu, setidaknya katakan pada mereka bahwa kau baik-baik saja. Aku yakin mereka sangat khawatir selama kau pergi."
"Ya...," Rukia ragu-ragu. "Tapi bagaimana dengan Seireitei?"
"Masih ada sedikit waktu untuk pergi ke Seireitei, kita bisa pergi besok."
Itu berarti hanya ada kurang dari satu hari.
Pikiran Rukia kembali pada malam dimana pertarungan para Sternritter dan Ichigo berlangsung. Setelah apa yang terjadi pria itu masih akan melakukan hal ini. Entah berapa banyak resiko yang diambilnya.
Mungkin karena ini adalah perpisahan.
Menyadari itu, sinar di mata Rukia tiba-tiba menghilang. Ah, benar juga, setelah ini dia tidak akan bertemu dengan teman-temannya, hingga semuanya selesai. Perlindungan dirinya adalah mutlak, itu yang dikatakan Urahara. Ichigo bisa membacanya meski dia tak mengatakan apapun. Lagipula, tujuannya memang itu. Setidaknya, dia bisa memberikan apa yang gadis itu inginkan sebelum pergi.
"Hei, lihat aku," Ichigo meraih dagu Rukia untuk menatap matanya. "Ini bukanlah perpisahan, ingat itu."
Rukia hanya terdiam, mengangguk dengan senyum kecil.
"Terima kasih, Ichigo."
―Yuuka desu―
Seperti yang dikatakan Ichigo, mereka tiba di SMA Karakura tepat sebelum jam pelajaran kedua dimulai. Gerbang depan telah tertutup, ada penjaga di sana jadi mereka melompat melewati pagar dinding setinggi dua meter yang terletak di samping sekolah, langsung mengarah ke taman kecil di belakang kelasnya. Rukia menahan rasa pusing di kepala, bershunpo empat kali pagi itu seperti membakar seluruh kalori yang dia serap saat sarapan.
"Tapi ini kemajuan," itu yang dikatakan Ichigo saat mengetahui Rukia bisa bertahan dengan shunpo empat kali berturut-turut. Sebelumnya dia hanya bisa dua kali.
Ichigo dan Rukia melewati lorong yang sepi setelah mengganti sepatu mereka di genkan. Tiba-tiba saja Rukia menjadi gugup. Ichigo tersenyum kecil melihat respon gadis itu ketika dia akan mengeser pintu. Terlalu gelisah seperti kelinci yang tersesat. Dia meletakkan tangan kiri di gagang pintu, menggesernya perlahan.
Keadaan kelas yang tadi sedikit ramai, tiba-tiba menjadi hening. Ichigo menatap semua mata yang memandangnya, meringis konyol.
"Ah, pagi, semuanya. Kurasa kita terlambat, iya kan, Rukia?"
"Rukia?!"
Suara paling keras keluar dari mulut wanita terseksi di kelas, Matsumoto Rangiku. Menggebrak meja, dirinya berlari ke depan. Lalu muncul tubuh mungil Rukia di balik punggung Ichigo.
"Rukia! Astaga, Rukia! Ini benar-benar kau?!"
Tubuh Rukia tertarik ke depan, masuk ke dalam dua aset milik Rangiku yang merupakan tempat mati paling diharapkan dari semua laki-laki di sekolah. Kecuali, ya, kecuali untuk beberapa orang. Ichigo tak bisa berkata apapun soal itu.
"Sesak! Kau mau membunuhku?!"
Rangiku melepas pelukannya, matanya berkaca-kaca. Tapi tiba-tiba dia memukul kepala Rukia.
"Oww! Ran, astaga―"
"Kau bodoh! Kemana saja kau selama ini, huh? Aku hampir mati mencarimu, tahu! Semua orang tidak tahu keberadaanmu, bahkan keluargamu juga. Renji menemukan tasmu dan kupikir kau diculik, tapi mereka melarangku untuk memanggil polisi, aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Aku mencoba menghubungi kakakmu, tapi aku tidak tahu nomor telepon atau alamatnya. Aku... aku... dan sekarang kau datang dengan wajah polosmu itu bersama Kurosaki Ichigo..."
Rangiku berpindah menatap Ichigo dengan ekspresi marah.
"Sudah kuduga kau mengincar Rukia sejak awal. Apa kau yang melakukan semua ini?"
"A-Apa? Ichigo tidak..."
"Ran, tenanglah."
Sebuah suara datang dari kursi paling belakang. Semua orang melihat Abarai Renji berjalan ke depan dengan santai. Bahkan, tak ada satupun murid yang berani bersuara, hanya melihat pertikaian di depan kelas mereka seperti sepotong adegan di dalam film.
"Tapi, Renji―"
"Tenanglah, baca situasinya. Sekarang ini kita sedang menjadi tontonan," pria berambut merah itu menatap Ichigo yang balik menatapnya dari belakang Rukia. "Terima kasih kau sudah menjaganya. Rangiku hanya khawatir, dia jadi menyalahkanmu, tolong maafkan dia."
"Tidak masalah," jawab Ichigo. Sedikit terganggu dengan sikap Renji yang terlihat dibuat-buat. Dia melirik Rukia yang menghela napas panjang. Sepertinya dia tahu kalau akan jadi seperti ini.
"Ran, kumohon, kita bicarakan hal itu nanti, oke?"
Mendengar permohonan dari Rukia, wanita itu hanya bisa mengalah. Dia masih curiga dengan Ichigo, tapi jika Renji sudah bicara seperti itu dia tak memiliki pilihan selain percaya padanya. Sementara keadaan mulai bisa terkendali, baik Rukia maupun yang lainnya duduk di tempatnya masing-masing. Berpikir. Rangiku masih terganggu dengan kata-kata Renji, Renji memikirkan hal diluar semua pikiran Rangiku, Rukia berterima kasih pada Renji dalam hati, sedangkan Ichigo, pria itu terdiam di tempat duduknya mengawasi dua orang yang sedang berbincang-bincang. Renji dan Rukia.
―Yuuka desu―
"Kau keterlaluan, Ran, bukankah kau sudah senang aku kembali? Tak perlu menyalahkan Ichigo hanya karena kau melihatku datang bersamanya."
"Apalagi yang bisa kupikirkan? Kau menghilang, dia juga menghilang, lalu kau datang bersamanya. Sejak awal aku tahu pria itu tidak biasa, dia melihatmu dengan tatapan yang aneh."
Rukia menyandarkan tubuhnya ke batang pohon, bibirnya merucut kesal. Rasanya kekhawatiran Rangiku sedikit berlebihan, tapi dia tahu tipikalnya memang seperti itu. Saat dipikir kembali, apa yang akan dia lakukan jika yang terjadi justru sebaliknya? Rangiku menghilang seperti ditelan bumi, dengan tasnya tergeletak begitu saja di sekolah. Semua orang pasti mengira dia diculik. Lalu setelah enam hari, tiba-tiba dia muncul bersama seorang pria mencurigakan yang selama ini sudah menjadi dugaan tersangka. Karena sebagai murid baru, dia ikut menghilang bersamanya. Responnya pasti akan sama seperti yang dilakukan wanita itu, atau bahkan lebih buruk. Rukia mendesah. Bekal makanan Rangiku di hadapannya sudah kosong, mereka menghabiskannya berdua di taman belakang kelas mereka.
"Apa yang terjadi, Rukia? Sejak kapan kau akrab dengannya?"
"Yah, terjadi begitu saja. Aku juga tidak tahu. Tapi aku senang bisa kembali ke sini."
"Jangan katakan hal yang mengambang begitu, kau tahu aku sangat khawatir padamu. Kemana saja kau pergi sampai keluargamu saja tidak tahu keberadaanmu?"
"Jangan katakan apapun tentang ini, keluargamu mungkin sudah tahu, tapi mereka merahasiakannya dari dunia luar selama beratus-ratus tahun lamanya. Jika orang luar sampai terlibat, mereka mungkin akan berada dalam bahaya, karena itu..."
Rukia mengingat percakapannya dengan Ichigo di Albinia Mese. Ya, dia tidak boleh melibatkan siapapun.
"Aku kabur dari rumah," ujarnya setelah jeda panjang. Rangiku menaikkan alis terlalu tinggi. Seperti menyatakan 'Kau gila, ya?'
"Aku sengaja meninggalkan barang-barangku agar tak ada yang menghubungiku."
Rangiku tertawa mengejek, "Jangan diteruskan, kebohonganmu sangat jelas terlihat, Rukia. Kau tak bisa mengelabuiku dengan kata-kata semacam itu. Itu konyol."
Semakin Rangiku mendesaknya, semakin Rukia tak bisa menghindar. Jadi gadis itu memalingkan wajah, tak ingin melihat ekspresi menuntut temannya.
"Katakan yang sebenarnya."
"Kumohon, Ran...," ucapnya, "aku baik-baik saja sekarang. Tidakkah itu cukup?"
Wanita itu terdiam, bertanya-tanya, juga kesal. Memangnya apa? Seberat apa masalah yang sedang dihadapi Rukia sehingga dia tidak bisa bicara sekalipun pada dirinya? Dia menghela napas, tak punya pilihan, "Baiklah, Rukia, jika itu yang kauinginkan."
Rukia berterima kasih lewat tatapannya. Matanya mengarah ke atas, menyingkap daun-daun pohon yang lebat untuk melihat langit. Entah sejak kapan dia merindukan suasana ini.
"Berjanjilah padaku, Rukia."
Dia menutup matanya, merasakan angin.
"Berjanjilah untuk tidak melakukan hal yang ceroboh, seperti mencoba melarikan diri tanpa rencana. Jangan pernah berani memikirkannya lagi. Hanya tetap di sisiku, mengerti?"
Sapuan lembut Ichigo di lehernya masih bisa dia rasakan. Dia berbisik, menuntut, dan suaranya begitu jelas terdengar di telinganya. Hangat tubuh yang semu, hanya sebuah bentuk dari tubuh buatan yang sempurna, tapi itu terasa nyaris seperti nyata. Seakan-akan dia melupakan hal terpenting bahwa pria itu bukanlah manusia, melainkan roh.
Napas mereka beradu lembut, saling bersahutan. Ichigo tak ingin melihat Rukia menderita, itu terasa seperti lebih dari sekedar mengemban tugas baginya.
"Jawab aku."
Rukia menarik napas, jari-jari panjang Ichigo berjalan menyusuri rambutnya, di pipinya, memaksanya terus bangun. Rahang tegasnya begitu mengagumkan. Tanpa sadar tangannya menarik pelan kemeja Ichigo ketika pria itu tak berhenti menatap tajam dirinya, meminta jawaban.
"Mungkin."
"Rukia."
Gadis itu terkekeh mendengar dengusan Ichigo.
"Lagipula, kemana lagi aku harus pergi?"
Dia bergumam pelan, tersenyum miris. Hanya Ichigo tempatnya kembali sekarang. Dia tak memiliki yang lain. Mendengar itu, Ichigo sedikit menjauh, mengambil sesuatu berbentuk kotak dari sakunya. Rukia mengernyitkan kening saat pria itu mengeluarkan satu pil bulat berwarna putih.
"Apa itu?"
"Sudah kubilang percayakan semua padaku. Aku tidak suka kau mengatakan hal yang pesimis, karena biasanya kau selalu keras kepala terhadap sesuatu."
"Pesimis apanya? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya."
Bibir Ichigo tertarik ke samping, hampir tersenyum. Ibu jarinya mengusap bibir bawah Rukia, membukanya, sebelum mendorong pil itu ke mulutnya. Rukia terkejut, menutup mulutnya rapat-rapat dengan pipi bersemu merah.
"Pil penekan reiatsu. Agar mereka tak bisa melacakmu. Telan itu, efeknya paling tidak bisa bertahan sampai nanti malam."
"Kau sendiri?"
"Usaha yang bagus tapi apa kau lupa siapa aku ini?"
Ah, tentu saja. Rukia memutar mata. Kelas A benar-benar mengagumkan.
"Sekali lagi kupikir... kau jeruk yang menyebalkan."
"Rukia!"
Gadis itu terlonjak, menatap ngeri Rangiku yang bersedekap di depannya.
"Astaga, kau ketiduran? Kantung matamu masih mengerikan, sebaiknya kau pergi ke ruang kesehatan."
"Tidak, aku baik-baik saja."
Rukia meletakkan tangannya di dada. Apa yang dimimpikannya tadi? Satu keping perbincangannya dengan Ichigo di Albinia Mese sebelum mereka pergi ke Karakura. Bisa-bisanya dia memimpikan itu. Rukia menggelengkan kepala. Ichigo benar-benar luar biasa. Sesaat, Rangiku menggelengkan kepala melihat kelakuan Rukia yang semakin hari semakin aneh. Mungkin berhubungan dengan hal yang sedang dirahasiakannya, tapi dia tidak akan bertanya lagi.
"Oh ya, Ran."
"Ada apa?"
Meski terlihat kejam, Rangiku sebenarnya sangat peduli padanya. Dia mencoba untuk mengerti, meski egonya terkadang lebih besar, tapi Rukia menghargai semua itu. Gadis itu tersenyum, sementara wanita di depannya terheran. Kalimat selanjutnya yang keluar benar-benar tulus.
"Terima kasih."
―Yuuka desu―
Selesai dengan kegiatan sekolah yang secara mengejutkan, berjalan dengan lancar, Rukia mengira Ichigo mungkin melakukan sesuatu terhadap ingatan para guru dan teman-temannya. Kecuali Rangiku dan Renji. Tadi Renji sudah mengembalikan tasnya, sepertinya dia yang menyimpannya selama ini. Terakhir kali sebelum dia pergi, dia ingat dia sedang menunggu Renji untuk mengantarnya pulang, tentu saja pria itu yang menemukan tasnya. Sembari memikirkan hal itu, Rukia melihat jam tangannya. Pukul lima sore, waktunya kegiatan klub. Dia melirik Ichigo yang berjalan di sebelahnya, sejak tadi pria itu terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Ichigo."
"Hm?"
"Aku mau ke klub kendo, mungkin agak lama. Kau bisa menungguku di kelas?"
"Tentu."
Rukia mengernyitkan kening. Tidak ada aturan, tidak ada syarat, Ichigo menyetujuinya begitu saja?
Sebelum Rukia sempat bertanya, mereka sudah sampai di loker sepatu. Gadis itu mengurungkan diri, membuka lokernya dan mengeluarkan sepatu cokelat miliknya. Dia mengembalikan uwabaki sekolah ke loker dan menghadap Ichigo. Pria itu mematung, loker sepatunya terbuka dan di tangannya terdapat amplop berwarna merah muda yang berisi kertas warna putih. Ichigo sedang membacanya.
Surat cinta? Dari siapa?
Rukia melirik ekspresi Ichigo. Sangat datar! Dia memang bukan tipe yang menyukai hal-hal seperti itu, tapi dia juga tidak membencinya. Alis Ichigo tertekuk, seperti membaca teka-teki yang memaksanya untuk berpikir keras. Dia melupakan kehadiran Rukia di sana.
"Apa itu?" tanya Rukia memastikan.
Ichigo tersadar, melihat gadis itu sejenak sebelum kembali pada benda di tangannya. Dia memasukkan surat itu ke amplopnya.
"Bukan hal penting," Ichigo berkata. "Tadi kau bilang mau ke klub kendo?"
Rukia mengangguk ragu, sepertinya Ichigo ingin dirinya pergi. Barangkali ingin menemui pemilik surat itu? Rukia menggigit bibirnya.
"Aku pergi sekarang."
Setelah mengatakan hal itu, Rukia menjauh. Masih dengan banyak pertanyaan di benaknya. Ya, Ichigo memang tampan dan populer, tentu hal seperti ini akan terjadi, tapi... apa yang akan dikatakannya? Mungkinkah dia akan menolak gadis itu, atau menerimanya? Rukia menggeleng.
Apa itu urusanmu, Rukia? Berhenti memikirkan urusan orang lain.
―Yuuka desu―
"Kau memutuskan untuk berlatih setelah sekian lama?" tanya Renji yang datang lebih dulu ke dojo saat mereka bersiap-siap. Dia sudah memakai pelindung di tubuhnya, mirip seperti baju zirah, bagian kepalanya masih dia pegang di tangannya.
"Ya, sudah lama aku tidak menggerakkan badanku," jawab Rukia yang sedang mengeluarkan baju pelindung dari tempatnya.
Lagipula, ini kegiatan klub terakhirku, sambung Rukia dalam hati.
Pria di depannya mengetuk-ngetukkan sepatu ke lantai dojo, gemas pada Rukia yang terus berakting seakan tak terjadi apa-apa. Ayolah, dia sudah lihat semuanya. Dia sudah tahu. Kalau begitu artinya, baik Ichigo maupun Rukia memang memutuskan untuk tidak mengatakannya pada siapapun. Dia juga belum mengatakannya pada siapa-siapa, termasuk Rangiku.
"Ah..."
Renji menoleh, "Ada apa?"
"Aku meninggalkan sesuatu di kelas," kata Rukia. "Bagaimana ini?"
"Kau jadi ceroboh, ya? Tak seperti dirimu saja."
"Berisik, Renji," dia merucutkan bibir. "Aku akan kembali, tunggu aku, ya."
"Jangan lama."
Rukia berlari keluar dojo. Rasanya malas sekali, jarak dari dojo ke gedung kelasnya termasuk jauh. Harus menyeberangi lapangan baseball dan gedung A. Beruntung dia belum memakai baju pelindungnya. Dia jadi bertanya-tanya, Renji kelihatan tak sepanik Rangiku. Dia memang bukan tipe seperti itu, karena Renji cukup mengerti keadaan. Dia juga tidak bertanya apapun padanya, meski dari tatapannya Rukia yakin pria itu sama cemasnya dengan Rangiku. Dia mungkin penasaran, tapi tahu kalau Rukia tidak ingin membicarakannya.
Rukia sampai di gedung B, menaiki tangga untuk sampai ke lantai tiga. Gedung itu sudah sepi karena banyak murid yang beralih ke kegiatan klub, baik di dalam maupun di luar ruangan. Rukia melihat ke luar jendela, biasanya anak-anak perempuan lebih memilih menyatakan perasaan mereka di luar, tempat yang sepi seperti taman belakang sekolah atau atap. Rukia berhenti sejenak.
Apa yang kira-kira Ichigo katakan jika ada seorang gadis yang menyatakan cinta padanya?
Angin yang dingin mengikuti langkah Rukia saat dirinya menuju ke kelas, melihat pintunya sedikit terbuka, dia berhenti. Itu mungkin Ichigo. Dia baru saja akan menggeser pintunya saat telinganya mendengar suara aneh dari dalam.
"Hnn... Ichi..."
Tangan Rukia kaku tertahan di udara, tubuhnya tak bisa bergerak. Dari celah pintu dia bisa melihat Ichigo sedang duduk di sebuah kursi, ada seorang gadis di pangkuannya, punggung gadis itu menutupi pandangan Rukia. Tapi mereka sangat dekat, seolah-olah seperti sedang... berciuman?
Rukia menekan mulutnya rapat-rapat. Dia tak bisa mengalihkan pandangannya dari kedua tangan Ichigo yang menahan pinggang gadis di pangkuannya, kepalanya ikut bergerak mengikuti alur, lalu jas seragam musim dingin gadis itu yang sedikit terbuka ke samping, sehingga memperlihatkan kemeja putihnya di bagian bahu kiri. Dada Rukia menjadi sesak.
Jadi ini... gadis yang mengirim surat itu? Dan ternyata Ichigo menerimanya dengan senang hati. Begitu rupanya... jadi begitu...
Rukia menarik satu napas berat, dadanya sesak sekali. Bibirnya tak dapat mengatakan apapun, kaku, dingin, semuanya hanya tertuju pada dua orang yang sedang saling bercumbu itu. Ichigo yang dikenalnya ternyata... tidak, dia sama sekali tak mengenal Ichigo. Dia tetaplah seorang pria normal yang menyukai wanita cantik.
Dengan keras Rukia menggigit bibirnya, tersenyum miris. Ah, benar juga. Ichigo... mungkin hanya merasa kasihan padanya. Tak diinginkan oleh keluarga, dibuang, dilupakan, pria itu mengulurkan tangan hanya atas dasar rasa kasihan. Memikirkan semua itu tiba-tiba Rukia menjadi sulit untuk bernapas. Kekuatannya untuk kembali ke dojo hilang, dia tak bisa berpikir. Jadi dengan langkah mundur Rukia berusaha untuk tetap berdiri. Menjauh dari sana dengan langkah pelan.
Ha... Rukia, kau pikir dia menganggapmu berharga? Menyedihkan sekali, kau percaya pada orang semacam itu.
Langkah Rukia terhenti di tangga, menunduk. Baru kali ini dia merasa sakit seperti ini. Tak kasat mata, tapi seperti menusuk jantungnya kuat-kuat. Membuat perih menjalar ke seluruh tubuhnya. Tapi Rukia tak bisa menangis. Dia hanya terdiam di tangga teratas, merasakan angin musim dingin yang perlahan masuk melewati jendela.
Itu adalah dirinya yang terlalu berharap. Semua yang dilakukan Ichigo bukanlah tindakan spesial, dia bahkan melakukan hal yang lebih pada wanita lain. Mata Rukia melihat tangga dengan tatapan kosong. Ya, itu benar. Dia juga tak cantik jika dibandingkan dengan wanita tadi. Pria itu juga, mungkin telah melakukannya dengan banyak wanita. Untuk apa dia berharap? Ichigo hanya menjalankan tugas, hanya itu, dia tak punya waktu bermain dengan gadis polos sepertinya. Semuanya adalah one night stand.
Saat kaki Rukia akhirnya menginjak tanah di luar gedung kelasnya, dia tak berpikir untuk kembali lagi ke dojo, dia hanya ingin pergi ke tempat lain.
"Hei, Rukia, kau lama sekali. Kau sudah mendapatkan barangmu?"
Itu suara Renji. Pria itu menyusulnya. Ah, Rukia belum bisa menatapnya. Dia tidak berbalik meski Renji berada tepat di balik punggungnya, bertanya-tanya.
"...Kurasa aku tidak jadi ikut, Renji. Tiba-tiba aku ada urusan," dalihnya memaksakan suara dari tenggorokannya yang kering.
"Huh? Apa maksudmu?" pria itu menaikkan alis. "Apa yang terjadi? Rukia, tatap aku," Renji mengulurkan tangannya pada bahu Rukia, dia terkejut saat merasakan tubuhnya bergetar.
"Ruki... apa yang terja―"
Rukia menjauhkan tubuhnya agar tangan Renji terlepas. Dia berbalik, dengan senyum permohonan yang tertahan di wajahnya.
"Biarkan aku sendiri."
Renji tak bisa berkata-kata. Itu adalah pertama kalinya dia melihat Rukia memasang ekspresi seperti itu di wajahnya. Dengan langkah pelan Rukia kembali berjalan pergi. Dia tak menyusul. Hanya diam memandang punggung rapuh itu berjalan menjauhinya. Gadis itu terluka, kan? Apa yang bisa membuat Kuchiki Rukia yang dikenalnya sangat kuat, sampai terluka? Kesedihan yang ada di matanya itu...
Tangan Renji mengepal kuat, melirik gedung B tempat Rukia tadi keluar dengan tajam.
"Kurosaki Ichigo."
―Yuuka desu―
Tanpa sadar, sepatu Rukia mengantarnya hingga ke jalan di tepi sebuah sungai. Tak jauh dari sekolahnya. Ini sungai Karakura. Rukia berhenti, memandang senja yang terpantul di sana, tapi dia sedang tak bisa menikmatinya.
Itu bukan jeruk... tapi senja.
Senja, ya? Rukia mengambil duduk di rerumputan, menunduk, menyesal. Kesedihan dan kekecewaan bertumpuk di matanya. Sekali lagi dia tak bisa menangis. Seberapa berartinya Ichigo bagi dirinya? Seberapa terlukanya dia? Rukia membuang napas panjang.
"Teruslah percaya padaku. Percayakan semuanya, dengan begitu kau tidak akan sendirian. Jangan pernah berpikir bahwa kau sendirian."
Nah, sekarang dia sendirian.
"Hanya tetap di sisiku, mengerti?"
Rukia menghela napas panjang. Melihat langit yang mendung. Senja yang mendung, pas sekali. Sekarang dia benar-benar tak memiliki tempat untuk pulang. Segalanya tanpa Ichigo seharusnya jauh lebih baik. Rukia merasakan angin menerbangkan helai rambutnya. Sejak kapan dirinya merasa seperti ini pada Ichigo? Konyol sekali, bukankah ini cinta? Dia menyukai pria yang salah.
Mungkin darah kutukan membuat hidupnya tak pernah sempurna sejak awal. Berkat darah ini. Dia bukan keturunan asli Kuchiki, jadi kenapa dia yang harus merasakannya? Dia hanya diangkat menjadi seorang Kuchiki karena kakak perempuannya menikah dengan seseorang dari keluarga Kuchiki. Seharusnya, sejak awal dia memang tak bertemu dengan Ichigo, kan? Mungkin pria itu salah orang.
Langit semakin mendung ketika senja mulai menghilang tertelan awan. Titik-titik hujan mulai berjatuhan, dingin mengoyak tubuh Rukia yang tanpa perlengkapan apapun. Jasnya basah, rambutnya basah. Dia ingin tahu siapa sebenarnya dirinya. Darimana awal darah kutukan ini bisa mengalir di tubuhnya. Rukia mengeluarkan ponselnya di sela-sela hujan. Menekan nomor.
"Nee-chan."
"Rukia, itukah kau? A-Aku mendengar suara hujan, kau sedang dimana?"
"Nee-chan," Rukia menggigit bibirnya kuat-kuat. Hatinya luluh mendengar suara lembut kakaknya.
"Ada apa, Rukia? Katakan, dimana kau sekarang? Kau di luar?"
Rukia terdiam, menunduk, sebelum memantapkan keputusannya dengan kuat.
"Aku akan pergi ke Ikebukuro."
.
To be Continued
.
Author's note :
Chapter 5! Haha bagi yang menunggu FULL ICHIRUKI FANSERVICE ini baru sebagian. Yuuka ngerasa belum puas sama chapter ini, soalnya mau ditambahin juga takut kepanjangan. Jadi Yuuka bagi dua. Semoga kalian menikmatinya ^^ oh ya, Ichigo dengan wanita lain... berciuman? Rukia sudah merasa suka sama Ichigo di sini, dan dia mengakui itu, sedangkan Ichigo... hmm bisa tebak sendiri *ditabok. Sedikit saran dengerin lagunya Maroon 5 "Lost Star" untuk adegan mellownya mungkin lebih bisa dapetin feelnya. Yuuka ucapkan terima kasih bagi yang sudah review, follow dan memfav cerita ini, Yuuka sangat menghargai itu. Kritik dan saran sangat diterima di sini. Terakhir tapi bukan terakhir, tell me what you're thinking?
