Disclimer : Bleach hanya milik Tite Kubo seorang

―bukan punya Yuuka―

.

.

.

Warning : Typo (yang selalu nongol), AU, contains fantasy terms, curse words, semi-canon, Gaje (Yuuka serahkan pada Readers semua, DLDR

.

'This is what man do when he mad. This is what girls do when she sad.'

.

Enjoy and happy reading !

...


The Half-Blood

Akimoto Yuuka

Awalnya tidak seperti ini, kan?

Bagaimana mungkin jadi begini?

Dia memang orang luar yang harusnya tidak melihat semua itu, hal yang selama ini disimpannya sendirian, tapi dia tak cukup bodoh untuk menganggapnya drama picisan. Dia tahu itu nyata. Yah, kenyataan memang selalu sulit untuk diterima, bukan?

Tapi tujuannya bukan ini. Karena dia benci ikut campur.

"Sebelumnya dia juga mengucapkan terima kasih padaku. Apa maksudnya? Dia tidak pernah berterima kasih meski aku selalu membawakan bekal untuknya."

"Ah, itu sebabnya kau selalu bawa bekal ekstra meski porsi makanmu tidak sampai sebanyak itu."

"Tentu saja, kalau bukan karena aku, mungkin badannya sudah jadi semakin kurus," terdengar dengusan dari seberang. "Apa kau tidak berpikir ada yang aneh? Apalagi dengan Kurosaki Ichigo."

"Kau ini selalu saja curiga dengan orang-orang, bukan salahnya jika dia datang dengan orang itu. Mungkin mereka bertemu di minimarket."

"Ternyata kau sama saja dengan Rukia, ya? Dasar."

Ini hampir satu jam sejak sekolah selesai pada jam lima. Seharusnya kegiatan klubnya juga hampir selesai. Masih tersisa lima belas menit lagi. Bersandar pada dinding lorong, lengan bertato itu terangkat memegangi ponsel di telinga ketika suara Rangiku terdengar cemas. Wajah datarnya memandang langit yang mendung, hujan. Sesuatu sedang terpikir olehnya.

"Hei, Renji, kau ada dimana?"

Pria itu menatap sepatunya, satu tangan berada di saku.

"Aku di kedai ramen."

"Lagi-lagi kau bolos kegiatan klub. Sudah kaupastikan Rukia pulang ke rumahnya?"

Ketukan sepatu yang berat menggema di lorong sepi itu. Renji menunggu, tak bergerak karena tahu seseorang akan datang untuk menemuinya. Setelah langkah ke lima belas, seseorang muncul dengan napas berat, kemeja berantakan dengan satu kancing atas yang hilang entah kemana. Orang itu menatapnya marah dan gelisah.

"Dimana dia?"

"Nanti kuhubungi lagi."

Setelah menutup panggilan, Renji tak langsung menoleh. Bibirnya menyeringai.

"Wow, lama sekali. Pantas kau kehabisan napas begitu," komentarnya tak digubris lawan bicaranya karena dia langsung memukul tembok.

"Aku tanya dimana Rukia!"

Renji terdiam, bibirnya tergaris datar dengan tatapan jengah, setengah bosan. Dia menjauhkan punggungnya yang sudah nyaman dari dinding untuk menghadap pria berambut oranye di depannya.

"Setidaknya bicaralah baik-baik. Di situasi seperti ini seharusnya kau tidak perlu cemas kalau bisa melacaknya dimanapun dia berada."

Pria itu terkejut, tapi bisa mengendalikan ekspresinya dengan cepat, "Huh, jadi kau sudah tahu, ya."

"Jangan khawatir, aku belum mengatakannya pada siapapun sebelum mendengar kebenarannya dari mulutmu sendiri. Tapi rasanya meski kupaksa kau tidak akan mengatakan apapun."

Pria berambut oranye itu terdiam, napasnya masih berat. Dia menunggu kalimat Renji selanjutnya.

"Aku tidak tahu siapa kau dan apa masalahmu dengan Rukia. Tapi percuma saja kau repot-repot mencariku. Aku tidak tahu dimana dia sekarang. Yah, meski aku juga tidak akan mengatakannya kalau aku tahu," Renji berkata. "Apa aku mengecewakanmu, Kurosaki Ichigo?"

Ichigo mengepalkan tangannya, mendesah. Rambutnya yang berantakan menandakan dia sudah berkeliling kesana-kemari tanpa hasil. Semuanya karena pil itu. Dia tak bisa melacak Rukia kecuali bertanya langsung pada Renji. Tapi pria itu tak memberinya petunjuk.

"Bukan salahnya kalau dia pergi," ujar Renji. "Jujur saja, aku juga akan melakukan itu kalau aku jadi dia."

"Diamlah," Ichigo membalas, kepalanya menengadah ke atas mencoba untuk tenang, tapi bibirnya terus mengumpat.

Renji mengangkat bahu dengan santai, senyum kecilnya muncul.

"Kenapa baru sekarang kau panik? Tadi sepertinya moodmu bagus saat sedang bersenang-senang dengan wanita itu. Kuakui, dia tidak buruk."

Kening Ichigo mengkerut lelah. Ah, berapa banyak yang dia ketahui? Selain fakta bahwa dia bukan manusia, hubungannya dengan Rukia, apa lagi sekarang? Dia begitu lelah, frustasi, marah, tangannya gatal ingin memukul sesuatu saat tahu Rukia menghilang tanpa jejak.

"Kubilang diamlah. Ini bukan urusanmu."

"Heh, bukan urusanku tapi kau mencariku hanya untuk menanyakan keberadaan Rukia, begitu? Itu namanya curang."

Kerah seragam Renji tertarik begitu saja saat kalimatnya selesai. Dalam sekejap wajah mereka berhadapan. Kilatan marah terlihat jelas di mata Ichigo, menandakan bahwa kesabarannya hampir mendekati batas. Tubuh Renji tertahan di tempat, dia sengaja memancing Ichigo yang justru seperti dugaannya sangat berkepala panas.

"Apa kau pikir aku menginginkan hal ini?" suara Ichigo sangat berat. Dia mengeratkan gigi hingga rahangnya tampak menonjol. "Bastard."

Renji hanya diam memperhatikan cengkeraman Ichigo yang kuat di bajunya. Pria itu hampir gila, dari atas hingga bawah penampilannya begitu kacau. Tapi Renji tak bisa melupakan bagaimana keadaan Rukia yang dia lihat beberapa waktu yang lalu, dia tahu hanya ada satu orang yang akan melakukannya, dan itu adalah pria di depannya sekarang. Sudah lama sejak dia melihat Rukia begitu terpukul, mengingatnya saja sudah membuatnya kesal.

"Apa yang kau tahu tentang Rukia?" Renji menahan kekesalan dalam nadanya. "Heh, kau bahkan tak tahu apapun tentangnya. Apa kau pikir dia akan diam mendengar alasanmu saat dia telah melihat dengan matanya sendiri?"

"Berhenti bicara berbelit-belit," jawab Ichigo tidak mengerti.

Renji menampik tangan Ichigo hingga terlepas dari kerahnya. Yang benar saja, dia tidak tahu? Dalam hati Renji tak bisa berhenti tertawa, tertawa sangat keras. Tapi dia tak bisa menyuarakannya. Dia tidak tahan lagi. Tangannya terangkat untuk balas menarik kemeja Ichigo sampai pria itu bisa melihat betapa kesal dirinya sekarang.

"Dammit! Rukia melihatmu dengan wanita itu bersenang-senang di kelas. Dia melihatnya. Kau puas sekarang, asshole!?"

Mata Ichigo melebar, tubuhnya kaku mendadak saat mengerti maksud ucapan Renji yang sebenarnya. Mulutnya membuka pelan, merasakan udara yang menumpuk di paru-paru perlahan keluar dalam bentuk ketidakpercayaan.

"...Apa?"

―Yuuka desu―

Dentingan piano mengalun lembut di sebuah panggung bundar mini di atas meja. Sepasang kaki panjang dengan sepatu flat putih berdiri menyilang, kepala menoleh ke satu sisi, tersenyum. Ketika kedua tangannya terangkat ke atas, tubuh kecil itu mulai berputar pelan. Gaun mungilnya terpasang anggun dengan renda putih di sepanjang dada dan berakhir di bawah panggul, melebar hingga tampak seperti bunga yang baru saja mekar, sementara di kepalanya sebuah tiara sederhana menghias rambut cokelat yang dicepol.

Itu adalah lagu nina bobok.

Rukia, dengan punggung bersandar di kursi, melihat pertunjukan mini itu dengan wajah datar. Telinganya terus mendengarkan hujan. Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia berharap hujan tidak akan berhenti. Dulu, dia benci hujan.

Lagunya berakhir.

Sekali lagi jemarinya memutar kunci di bagian kiri panggung. Saat dia melepasnya, lagu kembali berputar dengan seorang ballerina cantik yang menemaninya. Membuat harmoni. Ballerina music box itu adalah hadiah ulang tahun ke tiga belas dari kakaknya. Rukia mendesah ringan, bangkit dari kursi dan menjatuhkan dirinya di ranjang. Matanya terpejam. Tak bisa tidur.

Yah, setidaknya dia punya privasi. Beberapa jam yang lalu kakak perempuannya panik menemukan tubuh Rukia basah kuyup di balik pintu. Wajah dan kulitnya pucat, menggigil. Ini hampir musim dingin, jadi suhu menurun ditambah hujan yang lebat membuat udara berada di angka minus. Kakaknya, Hisana, langsung memberinya handuk dan menyuruhnya duduk di ruang tamu. Saat dia bertanya apa yang terjadi, Rukia tidak menjawab dan malah balik bertanya.

"Dimana Nii-sama?"tanyanya waktu itu.

Seperti biasa, dia selalu menanyakannya setiap berkunjung ke Ikebukuro. Hisana bilang kakak iparnya masing berada di kantor dan untuk pertama kalinya sore itu, Rukia menghela napas lega. Entah apa yang akan dikatakan kakak iparnya jika melihat dirinya dalam keadaan seperti itu. Tapi Hisana mengerti, dia tidak akan bertanya hingga Byakuya datang dan adiknya sendiri yang bercerita.

Karena itulah dia berada di sini, di kamar lamanya. Dulu, dia tinggal bersama Hisana, sampai suatu ketika para tetua memberi perintah untuk membawa Rukia ke kediaman Kuchiki di Karakura. Itu terjadi beberapa lama setelah usianya menginjak dua belas tahun. Siapa sangka cerita itu ada kaitannya dengan situasinya sekarang?

"Rukia."

Hisana muncul di ambang pintu, menatap adiknya yang langsung duduk di ranjang. Senyum lembutnya terbentuk.

"Turunlah, Byakuya-sama sudah menunggu di bawah. Kita akan makan malam bersama."

Rukia mengangguk, bertanya-tanya apakah dia akan tetap meneruskan rencananya dari awal. Seperti yang dia duga, Byakuya duduk masih dengan kemeja kantornya, tanpa jas. Pria itu mengawasi Rukia yang turun dari tangga dan tak berani menatapnya.

"Okaerinasai, Nii-sama."

"Tadaima. Duduklah, Rukia."

Gadis itu menurut. Duduk dengan rapi di hadapannya, sedangkan Hisana memilih untuk pergi ke dapur, membiarkan kedua orang itu bicara.

"Seharusnya kau menelponku, Hisana bilang kau datang sendirian dan basah kuyup. Setidaknya aku bisa mengambil waktu dan menjemputmu di stasiun," ujar Byakuya.

"Maaf, aku hanya tidak ingin mengganggu pekerjaan Nii-sama."

"Hmm," pria itu menghela napas, mendengar kalimat datar Rukia yang asing. Dia tidak pernah bicara dengan nada seperti itu padanya.

"Jadi... apa kau sudah tahu tentang kutukan Kuchiki?"

Rukia tersentak, menatap Byakuya yang terlalu tenang. Ah, bahkan dia tak perlu bicara apapun.

"Jadi itu benar kutukan."

"Siapa yang memberitahumu? Kurasa Kuchiki tidak akan buka mulut tentang rahasia klan mereka."

Rukia sudah ingin menjawab, tapi kemudian mengurungkannya. Dia menghindar dari tatapan Byakuya yang dingin.

"Seseorang memberitahuku, dia mengatakan tentang keturunan perempuan klan Kuchiki yang dikutuk sejak ratusan tahun yang lalu."

"Jadi begitu."

"Aku... perlu tahu yang sebenarnya," kata Rukia. "Aku bukan Kuchiki."

"Ya, kau tidak memiliki garis keturunan Kuchiki karena kau adalah adik iparku."

"Lalu?" Rukia meremas bajunya. "Bagaimana bisa hal ini terjadi padaku, dan bukan pada keturunan yang asli?"

Hisana memperhatikan mereka dari dapur dengan was-was. Terkadang Byakuya bisa sedikit keras, tapi bukan berarti dia tak peduli. Dia sengaja melakukan itu agar Rukia terbiasa dengan lingkungan baru yang akan menjadi tempat tumbuhnya saat remaja, kediaman Kuchiki. Tapi mengingat sikapnya sekarang, dia tampak lebih seperti membuang semua etikanya di hadapan Byakuya.

Kelopak mata Byakuya terpejam sesaat, mencoba merangkai kata-kata.

"Darah yang mengalir di tubuhmu saat ini adalah milik adikku."

"...Apa?"

Rukia tak bisa menahan keterkejutannnya. Adik? Kakak iparnya memiliki seorang adik?

Di balik dinding, Hisana menghela napas. Dia tidak bisa melakukan apapun soal Byakuya yang memutuskan untuk menceritakan hal itu. Rukia telah cukup dewasa untuk mengetahuinya. Kemudian dari perkataan Byakuya, kalimat selanjutnya mengalir begitu saja.

"Aku punya seorang adik perempuan," pria itu berkata. "Satu-satunya keturunan perempuan klan Kuchiki yang terakhir. Dia adalah Kuchiki Kazui, adik kandungku."

Wajah Byakuya perlahan melembut.

"Saat aku bertemu dengan Hisana, aku tahu kalau dia juga punya adik perempuan. Itu adalah kau yang masih bayi. Orang tua kalian pergi di masa-masa sulit. Waktu itu Hisana berumur sepuluh tahun, dan aku empat belas. Aku menolak pertunangan yang telah disepakati oleh tetua dan memilih Hisana karena aku jatuh cinta padanya. Lalu, aku membawa Hisana dan kau ke kediaman Kuchiki, aku tidak memiliki pilihan lain.

"Sebagai ganti atas keputusan egoisku, aku harus memenuhi setiap perintah dari tetua. Bekerja keras, hingga pada akhirnya aku bisa membuktikan bahwa aku masih 'berguna' untuk mereka. Kemudian suatu hari," Rukia menangkap tatapan Byakuya yang terarah padanya, "seorang Dokter mengatakan kau sakit. Awalnya kau baik-baik saja, tapi dia bilang kau terjangkit virus yang kemungkinan datang dari lingkungan lama kalian. Virus itu menggerogoti sel-sel dalam tubuhmu yang masih baru, dan begitu cepat menyebar setelah satu tahun."

Tengkuk Rukia perlahan menjadi dingin, jantungnya berdebar seakan sedang menunggu bagian paling menyedihkan dari cerita itu. Masa lalunya.

"Aku yang masih muda tidak bisa melakukan apapun saat itu. Setiap malam aku melihat Hisana menangis, tapi dia tak pernah menunjukkannya padaku. Aku tahu dia mengalami tekanan yang begitu keras, baik dari klan Kuchiki maupun kondisimu. Tapi di sisi lain, kami juga lemah, memaksakan keadaan yang malah berakhir seperti itu. Hanya ada satu orang yang tahu semuanya, itu adalah Kazui.

"Kazui memutuskan untuk memberikan nyawanya secara sepihak, semua demi kesembuhanmu. Darah yang mengalir di tubuhnya memiliki sel yang jauh lebih kuat dari darah manusia biasa. Itulah sebabnya, kau memiliki darah itu dalam tubuhmu."

"Jadi, ini adalah darah adikmu?" tanya Rukia.

"Benar," jawab Byakuya. "Kazui, dengan senang hati mengorbankan dirinya agar kau bisa tetap hidup. Kalian bertukar darah melalui sebuah upacara ritual. Darah yang telah terjangkit virus berpindah ke tubuhnya, membuatnya sakit-sakitan selama hampir dua tahun. Sebelum pada akhirnya, dia meninggal."

Rukia menutup mulutnya rapat-rapat, terkejut.

"Yang dilakukan tetua Kuchiki setelah mengetahui itu, aku yakin kau sudah bisa memahaminya. Karena itu adalah keputusan Kazui, mereka tak punya pilihan lain. Aku sudah mencoba menghentikannya berkali-kali, tapi aku tidak berhasil," Byakuya mengkerutkan kening. "Sebagai kakak, aku adalah orang yang gagal."

Baru kali ini Rukia mendengar Byakuya merendahkan dirinya. Pria itu dingin dan bermartabat, merendah sama sekali bukan etikanya. Tapi untuk pertama kali malam itu, Rukia bisa melihat penyesalan dalam iris kelabunya.

Hisana memandangi sebuah piring yang dia pegang, melamun. Memorinya kembali ke beberapa tahun silam saat dunia terasa sangat tidak adil. Menukar kehidupan berarti mengorbankan kehidupan yang lain. Dengan beban sebesar itu, Kazui tak memiliki sedikitpun rasa takut.

"Kuchiki Kazui," Rukia bergumam, meletakkan tangannya di dada.

Detak jantung ini... harusnya jadi miliknya.

Dia menarik napas perlahan saat Byakuya memperhatikan. Tidak tahu harus berekspresi seperti apa, Rukia hanya menunduk. Menggigit bibirnya. Sebagai pengganti Kazui, dia harus menerima kehidupan yang bukan miliknya ini. Dia telah menerima pengorbanan Kazui dan terlepas dari kematian. Ini adalah harga yang harus dia bayar.

"Nii-sama, aku...," Rukia tidak bisa menatap mata Byakuya setelah mendengar kenyataan bahwa dialah penyebab kematian adik kandungnya. "Aku..."

Melihat itu, Byakuya tersentuh. Dia tidak pernah membenci Rukia. Tapi dia tahu bagaimana perasaan kehilangan seseorang yang dia sayangi. Rukia mengerti itu.

"Jangan pernah sesali itu, Rukia," ucap Byakuya, membuat Rukia mendongak. "Kazui tak pernah menyesal. Jadi gunakan hidup yang telah dia berikan tanpa rasa dendam. Hidup mungkin tidak adil padamu, tapi dengan kau yang sekarang kurasa kau bisa menjalaninya."

Pria itu berdiri, berjalan memunggungi Rukia, langkahnya berhenti di tengah jalan. Menatap sekali lagi iris violet adik iparnya yang bingung. Bibirnya tersenyum samar.

"Suatu saat kau akan berada dalam situasi yang memaksamu untuk memilih diantara pilihan yang sulit. Entah itu kedamaian atau kehancuran," katanya, "orang-orang dibelakangmu akan membantumu menemukan jawabannya."

Rukia hanya bisa tertegun, jarang sekali dia mendengar kakak iparnya bicara panjang lebar seperti itu. Dia tahu Byakuya bukan tipe yang suka memberi nasihat, atau mengkhawatirkannya secara terang-terangan. Tapi rasanya semua itu sudah cukup.

"Terima kasih, Byakuya-sama," Hisana berkata setelah dia tiba di kamar mereka. "Tadi keadaanya buruk sekali. Aku ingin membantunya, tapi aku tidak bisa berbuat banyak."

Byakuya menghela napas, mengelus pipi wanita itu dengan punggung tangannya.

"Sejak dulu kau tidak pernah berhenti mengkhawatirkannya."

"Apa ini ada hubungannya dengan pembicaraan dengan para tetua beberapa hari yang lalu?"

Byakuya terdiam, matanya melirik ke samping.

"Mereka bilang akan membawa Rukia ke Seireitei. Aku marah dan pergi begitu saja. Kurasa keputusannya memang sudah ditetapkan sejak awal. Tidak ada lagi yang bisa kita lakukan."

"Seireitei? Aku pernah mendengarnya."

"Ya...," Byakuya mendesah. "Osaka, ya?"

―Yuuka desu―

Pada akhirnya, mereka tidak jadi makan malam. Rukia mendesah saat berjalan ke balkon, melihat langit. Sejak kapan hujan berhenti? Matanya terpejam untuk merasakan angin beku.

Kuchiki Kazui.

Rukia menunduk pada telapak tangan kanannya. Ini adalah kehidupan Kazui, bukan kehidupannya, semua yang dia terima juga bukan miliknya. Telapaknya mengepal. Kenyataan itu sama sekali tak membuatnya lega. Meski bukan kehidupannya, siapa lagi yang akan menjalani kalau bukan dia?

Jika Kazui masih hidup, itu artinya...

"Dia yang akan bertemu dengan Ichigo."

Rukia menyandarkan tubuhnya di pagar. Jika itu terjadi, apakah dia akan jatuh cinta pada pria itu... sama sepertinya?

"Ya... mungkin saja."

Sekarang, dia baru sadar bahwa sikapnya sangat tidak rasional. Bagaimana bisa dia begitu serius menganggap semua yang dilakukan pria itu istimewa? Kenyataannya tidak begitu, karena dia terlalu naif.

Rukia menyentuh lehernya dengan sebelah tangan. Menghela napas, sebelum bunyi dedaunan tertangkap oleh telinganya yang tajam. Gadis itu tersentak, menjauhkan tangannya begitu saja dari pagar. Tunggu, jangan bilang dia dikejar?

Menelan ludah, tubuhnya mundur perlahan, menyentuh pintu balkon. Tapi pandangannya masih menuju ke bawah pada semak-semak di sebelah pohon sakura milik Byakuya. Matanya menyipit, sulit untuk melihat sesuatu dari sana, tapi entah kenapa instingnya tidak mengirim sebuah tanda bahaya. Rukia mengkerutkan kening, memajukan tubuhnya beberapa langkah sambil menghitung dalam hati dari satu sampai lima. Tak ada apapun di sana. Rukia mulai bisa bernapas normal, tubuhnya kembali mundur saat tiba-tiba―

"Ah! A-aww!"

Punggungnya perih menabrak gagang pintu yang keras. Dia tak bisa bergerak, terhimpit begitu saja oleh tubuh tinggi yang mencengkeram kedua tangannya. Rukia baru akan berteriak, tapi bibirnya terkunci tepat ketika mengenali tubuh siapa yang ada di hadapannya sekarang. Baju berantakan, rambut berantakan, napas terburu serta tatapan tajam dari hazel itu dan satu hal lagi, tentu dia sudah tahu hanya dengan melihat warna rambutnya.

"I-Ichigo, bagaimana bisa―"

"Jangan katakan apapun."

Ichigo yang masih mengenakan seragam sekolah, dengan kemeja dan celana panjang, masih terengah-engah dengan napas terputus. Dia pasti bershunpo untuk bisa sampai ke tempat itu. Tapi bagaimana bisa? Bagaimana dia tahu?

"Renji," Rukia mendesis, seketika membuat kening Ichigo mengkerut lebih dalam.

"Jangan pernah menyebut namanya di depanku."

Apa? Apa Renji bicara sesuatu padanya?

"Astaga," Ichigo mengambil napas panjang, tak bisa lagi membendung kemarahannya. "Apa yang kau pikirkan, Rukia, apa kau gila?! Kau benar-benar kelinci kecil yang lincah, huh? Tidakkah kau sadar Sternritter sedang mengincarmu sekarang? Kau yang menginginkan kita pergi ke Karakura tapi kau malah melarikan diri dariku. Demi dewa kematian."

Ichigo menunduk untuk mendinginkan kepalanya yang hampir meledak. Adrenalin masih membawanya yang diambang kelelahan. Hampir mencari di setiap sudut kota hanya untuk menemukan keberadaan gadis itu. Satu-satunya yang ada di pikirannya hanyalah Ikebukuro. Tapi setelah Ikebukuro, masih ada begitu banyak jalan yang harus ditelusurinya. Satu per satu. Bayangkan saja betapa frustasinya pria itu sekarang.

"Dammit," Ichigo mengumpat, menyadari Rukia hanya terdiam. "Apa kau tidak akan menyangkalku? Katakan sesuatu, Rukia."

"Kau ingin aku mengatakan apa?" Rukia balas bertanya, kesal. "Tidak perlu repot-repot mencariku, jika itu yang kauinginkan aku akan tiba di Albinia Mese besok pagi. Tapi untuk sekarang, tolong tinggalkan aku sendiri."

Ichigo tertawa pelan, "Oh, begitu? Sekarang kau ingin aku pergi? Aku hampir gila mencarimu dan sekarang kau menyuruhku pergi?"

"Aku tidak ingin berdebat denganmu," tanpa sadar kepalan tangan Rukia menguat. Pandangannya jatuh pada kancing atas Ichigo yang hilang. Ah...

Aku tidak ingin kau melihatku sekarang.

Ichigo mendapati Rukia mengalihkan pandangan darinya. Tiba-tiba saja kekesalannya kembali. "You're the bold one, aren't you?" Dia menurunkan wajahnya tepat di telinga kanan Rukia, berbisik. "Kurasa aku benar-benar harus mendisiplinkanmu."

Rukia tersentak ketika tanpa aba-aba bibir Ichigo bergerak menelusuri lehernya, menggigit agak kasar karena sedang kesal.

"Ah! H-hentikan, Ichigo!"

Kedua tangannya tak bisa bergerak dalam cengkeraman tangan besar pria itu. Telinga Ichigo seakan tuli, dia tidak peduli apapun dan masih melampiaskan kemarahannya pada leher putih Rukia. Sedikit kasar, bibirnya berpindah ke pertemuan antara leher dan bahunya, menghisap kulit tipis yang membungkus tulang selangka. Ichigo menggeram.

"Damn," dia tak bisa berhenti.

Tengkuk Rukia merinding seketika, tangannya terus mencoba untuk lepas tapi Ichigo hanya terlalu kuat. Napas beratnya begitu panas. Rukia menggigit bibirnya kuat-kuat, hatinya terasa sakit.

Apakah satu wanita saja tak cukup? Dia baru melakukannya dengan orang lain, bercumbu dengan orang lain dan sekarang...

Kenapa dia terus melakukan ini? Tidakkah dia sadar apa yang dia lakukan membuat gadis itu terluka? Rukia sudah cukup melihat, menelan kekecewaan yang berat, melihat harga dirinya terinjak. Tidakkah Ichigo sadar bahwa dialah yang membuat Rukia melakukan semua ini?

Rukia menutup matanya erat-erat, menendang pria itu tepat di tulang keringnya.

"Agh! Rukia, apa yang kau―"

Mata Ichigo melebar. Kata-katanya seperti hilang terbawa angin ketika melihat setetes air jatuh dari dagu gadis di depannya. Dia tak bisa bereaksi.

Rukia... menangis?

Gadis itu menunduk, mengepalkan kedua tangan saat cengkeraman Ichigo terlepas. Jantungnya terasa seperti diremas. Di depannya, Ichigo tak bisa berkata-kata. Rukia tak pernah menangis. Untuk pertama kalinya dia melihat Rukia menangis, dan itu karena dirinya?

"Rukia."

"...Kenapa? Aku sama sekali tidak mengerti."

Gadis itu mendongak. Air mata masih membasahi pipinya yang memerah. Bibirnya terkatup rapat, mengeratkan gigi. Sejak kapan dia jadi selemah ini? Ini bukan dirinya. Untuk apa dia menangis?

"Rukia...," Ichigo mengulurkan tangannya tapi dengan cepat gadis itu menghindar, membuat Ichigo mengurungkan niatnya kembali. Dia menghela napas.

"Jika urusanmu sudah selesai, lebih baik kau kembali," kata Rukia, "tenang saja, aku tidak akan kabur. Kali ini tidak lagi."

Sekali lagi Ichigo menghela napas, mengacak rambutnya yang memang sudah berantakan. Kata-kata Renji benar-benar terbukti. Tentu saja, kalau dia berbohong sudah dari tadi Ichigo membunuhnya.

"Aku sudah bilang, kan, aku akan kembali besok jadi pergilah."

Ichigo menahan lengan Rukia yang sedang membuka pintu balkon. Gadis itu menoleh dengan kesal karena Ichigo tak juga mengerti. Dia benci orang lain melihat kelemahannya. Dengan kasar Rukia menggosok matanya dengan punggung tangan.

"Lepaskan."

"Tidak, kita harus bicara."

"Lepaskan, Ichigo!"

"...Rukia, suara apa itu?"

Mereka berdua menoleh ke pintu yang tertutup dengan kaget. Itu Hisana. Jika dia melihat ada seorang pria asing yang mencurigakan di balkonnya sekarang... Rukia melirik Ichigo yang juga sedang meliriknya. Memikirkan hal yang sama.

Demi dewa kematian, kenapa harus di saat seperti ini?!

"Rukia, aku buka pintunya. Hm?"

Hisana yang mengenakan piyama dan membawa segelas air putih berdiri di ambang pintu dengan bingung. Lampu kamar sudah dimatikan, tak ada tanda-tanda suara yang tadi didengarnya. Matanya melirik ke kiri dimana Rukia sedang tidur dengan selimut tebal sedagu. Yah, hari ini memang dingin.

Alis Hisana terangkat sebelah ketika memperhatikan lebih detail ranjang adiknya. Kenapa ada gundukan? Dia memiringkan kepala.

Ah, Chappy, ya? Tidak pernah berubah, selalu saja tidur sambil memeluk boneka pemberian Byakuya-sama.

Dia tersenyum, menguap kecil. Sebelum menutup kembali kamar adiknya dengan bunyi 'klek' ringan.

Kamarnya kembali sunyi. Di hitungan ke lima Rukia membuka sebelah mata, melihat pintu yang tertutup. Desahan lega keluar dari bibirnya. Untung saja dia cepat bertindak. Dia tidak akan bisa membayangkan kalau sampai kakak iparnya ikut melihat, terkadang Byakuya bisa menjadi tipe yang dengan mudah mencincang siapapun yang tidak dia suka. Matanya memicing ke samping saat rambut Ichigo mencuat di balik selimut, dengan wajah datar ikut melihat keadaan.

"Tadi itu kakakmu?"

"Cepat keluar. Bisa gawat kalau dia melihatmu di sini," Rukia mengabaikan pertanyaan Ichigo. Dia masih kesal dengan kejadian sebelumnya.

Ichigo tidak bergerak, bahkan ketika Rukia sudah menyeret selimut tebal itu dari tubuhnya. Mengusirnya dengan cara sehalus mungkin. Tapi pria itu malah menyamankan diri, menggunakan lengannya untuk dijadikan bantal.

"Apa yang kaulakukan? Kubilang keluar."

"Hei, ada satu hal yang menggangguku sejak tadi."

Apa-apaan pria ini? Moodnya berubah sangat drastis.

Rukia bangun dari posisinya, mengabaikan perkataan Ichigo sekali lagi karena dia merasa risih. Ada apa dengan atmosfer yang menyebalkan ini?

"Apa tadi itu... kau cemburu?"

Tubuh Rukia membeku, duduk di samping ranjang membelakangi Ichigo yang sepertinya sangat penasaran. Sementara itu keringat dingin mulai turun di pelipis Rukia.

Aku benar-benar akan mengutukmu, Kurosaki Ichigo.

"Hei, Rukia," Ichigo memajukan tubuh hingga berada persis di belakang punggungnya. "Jangan mengabaikanku."

"Berisik sekali. Sudah kusuruh untuk pergi, kan? Sampai mati aku tidak akan memaafkanmu."

"Ah..."

Rukia menoleh saat Ichigo kembali ke posisinya semula. Tidur dengan lengan sebagai bantal. Pria itu tersenyum.

"Apa maksudmu dengan 'ah'?"

"Ternyata yang kupikirkan memang benar."

Apa?

Rukia menatapnya bingung sementara Ichigo mulai merasakan sesuatu yang hangat mengalir dalam dirinya.

"Kurasa sekarang aku sudah mengerti, alasan kenapa kita selalu bertengkar."

Rukia terdiam mendengarkan pria itu bicara. Terasa aneh saat dia tidak berteriak dan mengumpat, tapi sebenarnya Rukia juga mulai bisa meredam emosinya sekarang.

"Sejak awal kau tidak pernah menurutiku, kau selalu melarikan diri di saat aku lengah. Tapi aku juga selalu bisa menemukanmu. Selalu saja begitu. Hari ini juga... ada banyak hal yang terjadi, dan untuk pertama kalinya aku berpikir bahwa kita tidak akan bisa berubah."

Ichigo bangun dari posisi tidur, duduk dengan kepala menghadap ke depan.

"Surat itu," ujarnya, "itu bukan milik siswi sekolah. Itu hanya jebakan. Tapi aku harus memastikannya untuk membuktikan bahwa dugaanku memang benar. Gadis yang kaulihat waktu itu, dia bukan manusia."

"Bukan... manusia?" Rukia mengulang, mulai khawatir dengan tindakannya sendiri. Jangan-jangan dia salah mengira?

"Dia Sternritter yang menyamar sebagai salah satu murid sekolah," pria itu menjawab, kepalanya melihat langit-langit ketika mendesah. "Dia berusaha membunuhku."

Rukia tersentak.

"Yah, lagipula aku sudah membunuh temannya, Enchanter itu. Mata dibalas dengan mata. Sebelum aku menyadarinya, dia sudah melempar mantra padaku. Membuat koneksi agar bisa mengatur tubuhku sesuai yang dia inginkan," lanjut Ichigo. "Untuk beberapa saat mantranya melemah, dan aku menggunakan kesempatan itu untuk melepaskan diri. Dia menarik kemejaku, lalu... kau bisa lihat sendiri."

Dia sengaja menunjuk kancing atasnya yang hilang. Bibirnya mengulas senyum tipis saat Rukia memalingkan wajah. Yah, Ichigo menganggap itu manis, tapi Rukia menganggapnya tindakan paling bodoh yang pernah dia lakukan. Astaga, kubur dia sekarang!

"Aku senang mendengar bahwa kau marah tentang itu," goda Ichigo. "Itu sangat manis."

"Diamlah, jeruk."

"Oh, apa kau mau kita mulai dari awal lagi, Rukia?" tanyanya tersinggung. Dia masih suka tersinggung saat Rukia mengejek rambutnya. "Kurasa, kita bisa mulai dari awal."

"Apa maksud―ugh!"

Punggung Rukia menubruk ranjang yang empuk, menatap kesal pada wajah Ichigo di atasnya, juga lengan pria itu di pinggang mungilnya.

"Kenapa kau selalu melakukan itu?" protes Rukia sebal.

"Hmm, karena aku suka?" Ichigo menyeringai. "Dengan begini kau tidak akan bisa menyembunyikan wajahmu."

Pipi Rukia memerah, sekali lagi dia memilih untuk menatap nakas, sementara Ichigo mulai menikmati memandang garis wajah gadis itu.

"Setelah kupikir-pikir, kurasa kau tidak perlu lagi berjanji apapun padaku. Lagipula kau tidak akan mendengarkan saat seseorang bicara," Ichigo membuang napas ringan. "Saat kau melarikan diri lagi, aku akan menemukanmu dan membawamu kembali. Sesederhana itu."

"Heh, itu terdengar seperti kerja keras."

"Itu seperti permainan."

Untuk beberapa saat Rukia terdiam, berusaha keras untuk melupakan tindakan bodohnya. Setelah semua yang terjadi, ternyata itu hanyalah salah paham. Lucu sekali.

Dasar Rukia bodoh.

"Apa yang terjadi pada wanita itu?" tanyanya setelah menggeleng keras.

"Dia kabur setelah aku melempar tubuhnya ke dinding. Hm, begitulah para penyihir," Ichigo mengangkat bahu, tak terlalu peduli. "Saat dia melempar mantra itu, aku tidak bisa mengendalikan tubuhku. Tapi anehnya kesadaranku tidak sepenuhnya menghilang. Aku tahu aku tidak melakukan apapun padanya."

Ya, tentu saja. Itu hanya salah paham. Hanya salah paham. Dasar bodoh.

Rukia terus mengutuk dalam hati kebodohannya hari itu. Dia kesal setiap mengingatnya.

"Kenapa kau tak terus terang?" tuduhnya.

"Yah, aku suka melihat ekspresi panikmu. Kau sangat lucu."

"Itu tidak lucu sama sekali!"

Ichigo tertawa pelan, mengagumi violet besar gadis di bawahnya yang sedang menautkan kedua alis. Sejujurnya, dia masih merasa buruk atas tindakan brutalnya beberapa saat yang lalu. Tapi karena itu dia bisa memastikan satu hal.

"Kita tidak seperti yang lainnya. Kita tak bisa mengerti satu sama lain jika tidak bertengkar," ujar Ichigo. "Aku telah membuktikannya sejak pertama kali kita bertemu. Waktu itu kau memanggilku jeruk."

"Well, kau memang jeruk."

"Sepertinya aku mulai terbiasa dengan itu, bukan berarti aku menyukainya."

Senyum kecil Rukia terbentuk. Begitu hangat di sini, dia sadar perasaannya juga mulai tumbuh lebih kuat. Mungkin yang dikatakan Ichigo memang benar. Mereka tak bisa mengerti satu sama lain jika tidak bertengkar. Entah sejak kapan benang takdir menghubungkan dirinya dengan pria itu.

"Ichigo?"

Rukia terkejut saat Ichigo membawa dahinya ke dahi Rukia, memejamkan matanya yang berat. Dia terlalu lelah dan mengantuk.

"Biarkan aku tidur di sini. Aku sangat lelah."

Rambutnya menggelitik leher Rukia saat dia menyembunyikan wajah di pundaknya. Bernapas di sana. Aroma Rukia seperti bunga lavender, begitu menenangkan. Tanpa sadar lengannya merengkuh Rukia lebih erat.

Terlalu dekat!

Rukia menelan ludah. Oh, astaga, tidak sadarkah pria itu akibat perbuatannya ini? Dia menarik napas, mencoba tenang sementara napas Ichigo mulai teratur. Yah, mungkin pertanyaannya belum sepenuhnya terjawab. Tapi sudah terlambat, dia tak akan bisa mundur sekarang. Karena berhenti jatuh pada Kurosaki Ichigo adalah hal yang mustahil.

"Aku tidak akan mengakui itu di depannya."

.

To be Continued

.


Author's note :

Oke, fiuh... astaga, selesai juga. Haha, maaf untuk keterlambatan chapter ini. Untuk masalah update mungkin Yuuka belum bisa update kilat, tapi Yuuka usahain seminggu selalu keluarin satu chapter. Jujur akhir-akhir ini Yuuka ngerasa susah banget buat nulis. Mungkin karena gaya bahasanya belum konsisten, haha sudahlah. Yup, ada karakter baru di sini, yaitu adik perempuan Byakuya, Kuchiki Kazui. Akhirnya misteri darah kutukan Rukia terungkap! Karena Byakuya adalah Kuchiki, dia udah tau markasnya kelompok Shinigami, yaitu di Osaka. Di sini, Ichigo marah karna Rukia lagi-lagi pergi gitu aja, jadi dia harus keliling Ikebukuro buat nemuin rumahnya Byakuya. Kira-kira siapa Sternritter yang udah bikin mereka salah paham ya? Pasti ada yg bisa nebak haha. Oh! Yuuka ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dari dukungan kalian baik yang sudah membaca, mereview, memfollow atau memfav cerita ini. Kritik dan saran sangat diterima! Terakhir tapi bukan terakhir, tell me what you're thinking?

Balasan bagi yang tidak log in:

nayasant japaneze : terima kasih udah mereview :3 wahh seneng deh kalo tersampaikan haha untuk update kilat Yuuka masih belum bisa, masih terjebak bersama tumpukan tugas dan sebagainya TAT. Tapi Yuuka usahain bakal tepat waktu tiap minggunya. Terima kasih semangatnya yaa!

ruki chan : terima kasih reviewnya ruki chan ^^ ini udah update kok. Hehe wah, makasih udah ngikutin ceritanya! Belum bisa update kilat, maaf ya. Sekali lagi terima kasih ^^

Guest : terima kasih udah mereview ^^. Ini udah update kok

Minew : makasih reviewnyaa Minew-san :3 ini udah update. Ikutin terus ceritanya yaa