Disclimer : Bleach hanya milik Tite Kubo seorang
―bukan punya Yuuka―
.
.
.
Warning : Typo (yang selalu nongol), AU, contains fantasy terms, curse words, semi-canon, Gaje (Yuuka serahkan pada Readers semua, DLDR
.
'Welcome to the new world.'
.
Enjoy and happy reading !
...
The Half-Blood
Akimoto Yuuka
Rasanya ramalan cuaca yang tadi iseng dilihatnya sebelum berangkat tidak akan akurat hari ini. Nanti sore akan hujan, karena angin sedang meniup kawanan awan kelabu ke arah Karakura. Dia bisa merasakannya. Di dunia manusia semua harus memakai perkiraan, berbeda dengan di Soul Society. Dia bisa membuat hujan dan salju sesukanya, sesering yang dia inginkan.
Ichigo menyandarkan tubuhnya di sebelah jendela, mengawasi dua orang yang sedang duduk di rerumputan belakang kelas mereka. Yang satu sedang bicara panjang lebar dan yang satunya lagi sedang bersandar di batang pohon, tertidur. Ichigo terkekeh. Apa dia selalu seperti ini saat di sekolah? Mungkin dia adalah tipe yang tidak terlalu memperhatikan lingkungan sekitar. Benar dugaan Ichigo, karena tak lama kemudian temannya yang tadi sedang bicara langsung berwajah kesal, lalu memanggil namanya berkali-kali hingga dia terbangun karena terkejut.
Dia mungkin tertekan, dan baru bisa beristirahat dengan benar di sini. Yah, Ichigo bisa memaklumi itu.
"Oh ya, Ran."
Ichigo menggeser tubuhnya ke samping saat gadis itu bicara. Suaranya terdengar seperti kesedihan. Dia tahu apa yang akan gadis itu katakan.
"Terima kasih."
Meski tak melihat, dia yakin gadis itu sedang tersenyum. Tanpa sadar helaan napas keluar dari mulutnya. Bukannya tak tahu kalau selama ini gadis itu begitu menginginkan kehidupan lamanya kembali, tapi dia juga tak bisa melakukan apapun. Karena keinginan yang besar juga harus mengorbankan hal yang besar. Ponselnya berdering.
"Ya."
"Bagaimana posisimu?"
"Ya... bukan masalah. Kurasa aku akan bisa beradaptasi lebih cepat."
"Jangan gegabah, kau yang bilang akan menyelesaikannya sendiri. Jangan buat aku menyesali keputusanku. Jika dugaanku benar maka dia kelas A sama sepertimu."
Ichigo menghela napas, "Aku tahu." Matanya melihat suasana kelas yang lumayan ramai. "Beri tahu aku lokasinya."
"Hmm...," sesaat terdengar suara ketikan cepat yang berisik. Ichigo bisa menebak apa itu tapi dia hanya menunggu. "Ah, ini dia. Gedung sebelah barat,tiga puluh meter dari lapangan. Lantai tiga."
"Baiklah," Ichigo menengok ke luar jendela, mendapati dua gadis yang tadi duduk di sana sudah pergi.
"Aku akan memeriksanya."
Sambungan terputus dan dengan langkah cepat Ichigo pergi dari ruangan itu. Menuju tempat-tempat ramai yang lain.
―Yuuka desu―
Dengan shunpo kecepatan tinggi kertas-kertas pola buatan Urahara sudah tertempel hampir di seisi sekolah. Setiap sudut, setiap lorong, ruang kelas, ruang guru, setiap pagar bergerigi yang ada serta gymnasium. Pukul satu lebih lima belas, Ichigo melihat jam tangannya. Masih ada beberapa jam yang bisa diselamatkan. Ichigo menekan reiatsu-nya sekeras mungkin, berusaha untuk tak meninggalkan jejak. Dan dia memulai.
"Musnahkan."
Salah satu kertas yang berada di gymnasium sedikit demi sedikit mulai terbakar. Partikelnya yang menjadi abu menyebar ke seluruh ruangan, terhirup orang-orang yang ada di dalamnya tanpa sadar dan terbawa ke otak. 'Menghapus memori', itu yang Urahara katakan saat memberikan kertas itu padanya. Ichigo sedang mengembalikan ingatan seluruh penghuni sekolah di hari kedua dirinya berada di SMA Karakura.
Mulai dari gymnasium, lalu lorong dan tempat lain yang ditempelinya juga melakukan hal yang sama. Sebelum ini dia sudah menggunakannya untuk kelas 2-C, dan guru mata pelajaran yang mengajar selama sisa jam sebelum istirahat. Kecuali, ya, kecuali dua teman baik Rukia. Dia tak akan melakukannya pada mereka. Kening Ichigo mengkerut. Ada satu orang yang kebal dengan trik kecil Urahara ini.
Ichigo menuruni tangga dengan langkah lebar. Dugaan sementara Urahara, orang itu menyamar menjadi orang lain. Dia sulit membedakan auranya diantara murid-murid yang ada di sekolah. Kelebihan ras penyihir. Selalu bisa mengelabui mata dan pikiran manusia. Yah, sebenarnya tak hanya manusia.
"Ah, i-itu... um... bagaimana, ya? Tidak ada murid baru di kelas ini," jawab seorang murid perempuan yang ditemuinya di lorong lantai tiga gedung A. Dia murid kelas satu.
"Begitukah? Mungkin kau ingat ada murid baru di kelas lain? Dia sepantaran denganmu," Ichigo menoleh ke kanan dan kiri. Mengabaikan tatapan para murid lain yang mencuri-curi pandang padanya.
"Uhm... seingatku...," wajah gadis itu gugup, tak berani menatapnya. Saat salah satu temannya membisikkan sesuatu, matanya membulat dan dia mulai bisa bicara lancar. "Ah, benar juga! Kudengar ada anak baru di kelas 1-B. Dia baru masuk seminggu yang lalu, tapi aku belum pernah melihatnya."
Itu pasti dia. Ichigo menyipitkan mata, pasti begitu jika dia ingin menghemat tenaga dengan tak menyihir semua orang. Ichigo tersenyum.
"Terima kasih. Maaf merepotkanmu."
"Uh, y-ya! Maksudku, sama sekali tak merepotkan, Kurosaki-senpai," gadis itu memerah begitu menyebut namanya. Tapi Ichigo sudah mendapatkan yang dia inginkan, dia pergi dengan pandangan orang-orang di punggungnya.
Kelas 1-B, semoga saja itu dia.
"Tidak ada anak baru di sini."
Alis Ichigo naik sebelah, "Tidak ada? Kudengar dia baru masuk seminggu yang lalu."
"Senpai, hanya orang bodoh yang mau mendaftar di akhir semester dua tahun ini, benar, kan? Tentu saja mereka tidak menerima orang bodoh seperti itu," gadis di depannya menjawab agak kesal. Penampilannya memang tomboy, dengan rambut pendek yang dikuncir ekor kuda dan pakaian olah raga.
Mendengar itu kening Ichigo mengkerut. Entah kenapa dia teringat pada seseorang.
"Baiklah kalau begitu. Maaf karena mengganggumu."
"Ya, baiklah. Selamat tinggal."
Gadis itu menjawab sambil berlari membelakanginya. Apa-apaan dengan sikapnya itu? Dia, kan, kakak kelas. Dimana rasa hormatnya pada kakak kelas?! Ichigo mendengus sebal. Mengabaikan kerutan di pertengahan kedua alisnya yang semakin dalam, dia masih harus memikirkan hal lain.
Aneh sekali, kenapa penyihir itu mempengaruhi orang secara acak? Murid kelas 1-D bilang dia berada di kelas 1-B, tapi salah satu murid kelas itu bahkan tidak mengetahuinya. Jika apa yang dia pikirkan memang benar, maka kemungkinannya hanya satu.
Penyihir itu sengaja membuatnya bingung.
"Merepotkan sekali."
Helaan napas keluar dari mulut Ichigo. Sambil berjalan dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mungkin sebaiknya dia kembali saja karena dia sudah terlambat untuk pelajaran selanjutnya.
―Yuuka desu―
Setelah jam kegiatan sekolah selesai, sebenarnya Ichigo dan Rukia sudah harus kembali ke Albinia Mese, tapi Rukia memiliki rencana menghadiri latihan di klub kendonya untuk terakhir kali. Sementara mereka berjalan dalam keheningan di lorong yang sepi itu, Rukia berbicara.
"Ichigo."
"Hm?"
"Aku mau ke klub kendo, mungkin agak lama. Kau bisa menungguku di kelas?"
"Tentu," dia menjawab seadanya.
Pikiran Ichigo masih melayang pada penelusurannya tadi siang. Urahara hanya bilang satu orang, dia tak mengatakan hal yang lain. Tapi kenapa hanya satu? Apa Sternritter tahu mereka akan pergi ke Karakura? Seharusnya begitu tapi mungkin mereka hanya masih menduga, karena mereka tak bisa melacak reiatsu-nya.
Tanpa sadar mereka sudah sampai di genkan saat Ichigo memperhatikan Rukia yang sedang mengeluarkan sepatunya. Pria itu tersenyum kecil. Sejak pagi tadi gadis itu begitu senang karena bisa kembali ke sana. Itu membuatnya lega. Tangan Ichigo membuka pintu loker untuk melakukan hal yang sama sebelum matanya menemukan sesuatu di dalam.
Surat? Dari siapa?
Tangannya mengambil amplop berwarna merah muda itu dan mengeluarkan isinya. Itu adalah tulisan tangan yang rapi, berisi beberapa kalimat yang berbunyi seperti ini:
Untuk: Kurosaki Ichigo-senpai
Aku sudah lama memperhatikanmu sejak kau masuk ke sekolah ini. Kau sangat tinggi dan tampan, entah kenapa aku jadi selalu ingin melihatmu. Kudengar kau sudah kembali setelah pergi selama satu minggu, kali ini aku benar-benar ingin menyatakan perasaanku dengan benar.
Kalau kau tak keberatan, temui aku jam 5 di taman belakang sekolah. Aku benar-benar berharap kau akan datang.
Kening Ichigo mengkerut. Pandangannya tertuju pada kalimat 'Kudengar kau sudah kembali setelah pergi selama satu minggu'. Tunggu dulu, what the―
"Apa itu?" tanya Rukia.
Ichigo tersadar, melihat gadis itu sejenak sebelum kembali pada benda di tangannya. Dia memasukkan surat itu ke amplopnya.
"Bukan hal penting," Ichigo berkata. "Tadi kau bilang mau ke klub kendo?"
Rukia mengangguk ragu sementara pikiran Ichigo masih berputar-putar. Surat itu jelas ditujukan padanya, tapi dari siapa? Tak ada nama, tak ada inisial.
"Aku pergi sekarang."
Ichigo memperhatikan gadis itu berjalan menjauh. Sekali lagi dia menatap amplop di tangannya. Firasatnya memburuk. Masalah ini harus selesai hari ini, atau...
Target selanjutnya bisa jadi Rukia.
Ichigo memejamkan mata, memfokuskan pikiran. Kakinya melangkah ke arah sebaliknya saat Rukia sudah menghilang dari pandangan. Menuju ke tempat yang telah ditentukan. Ketika tiba di sana, jam sudah menunjukkan pukul lima lebih, dia terlambat, dan di balik pohon seseorang sudah menunggu kehadirannya.
"Ah."
Orang itu tersenyum saat Ichigo berhenti dua meter darinya. Dia adalah wanita tinggi berambut cokelat sebahu, wajahnya cantik dan tampak ramah.
"Akhirnya kau datang. Tak baik, kan, membuat seorang gadis menunggu?"
"Maaf, kurasa jam tanganku sedikit terlambat," Ichigo berdalih sambil mengangkat bahu.
"Tolong jangan meminta maaf padaku, Kurosaki-senpai, karena aku yang mengundangmu kemari. Aku tahu kau adalah orang yang sibuk, harusnya aku mengucapkan terima kasih karena kau sudah menyempatkan diri untuk datang."
Wanita itu menggaruk pipinya yang bersemu dengan malu, tapi kemudian dia tersadar.
"Ah, benar juga, aku belum memperkenalkan diri. Namaku Hiromi Sakuya dari kelas 1-F. Uhm... kurasa kau sudah tahu apa yang akan kukatakan," dia menatap Ichigo yang hanya diam, bibirnya tersenyum.
"Kurosaki-senpai, aku... sangat menyukaimu. Aku telah memperhatikanmu selama ini, pertama kali kupikir mungkin aku hanya kagum, tapi setiap hari perasaanku menjadi semakin besar."
Kaki jenjangnya perlahan maju ke depan. Matanya berkedip sensual, berusaha menggoda Ichigo yang tak bereaksi apa-apa. Wanita itu jadi semakin tertarik.
"Melihatmu yang diam dengan ekspresi datar seperti itu, membuatku sangat ingin mengubahnya... senpai," tangannya berjalan di lengan Ichigo, naik ke bahu. Dia berbisik di telinganya. "Aku akan memberikan apapun untukmu, semuanya, bahkan diriku sendiri. Tapi... jadilah milikku."
Dia menarik dasi Ichigo, berjinjit untuk meraih bibirnya. Dia benar-benar serius, melihat dengan tampilan seperti itu tak akan ada pria yang tidak terpesona olehnya. Tapi saat wajah mereka semakin dekat, Ichigo berhenti.
"Hm?"
Wanita itu ikut berhenti, dahinya tertekuk. Dia menatap Ichigo tanpa bertanya saat pria itu tersenyum miring.
"Aku terkejut mengetahui ternyata kau sangat pintar dalam hal ini. Hmm... atau mungkin tidak," Ichigo menatapnya tajam, "Bambietta Basterbine."
Wanita di depannya terkejut, melepaskan pegangannya di bahu Ichigo dengan cepat. Untuk beberapa saat raut wajahnya menjadi penuh tidak suka, di bawah hazel tajam pria itu dia merasa nyaris tersudut. Bibirnya tertarik ke samping, seperti yang dia duga, pria itu sangat menarik.
"Senpai... kenapa kau mengatakan itu? Sudah kubilang, kan, namaku Hiromi Sakuya. Siapa itu Bambietta?"
Pembicaraan ini tidak ada gunanya.
Ichigo menghela napas, "Sudah kuduga ini tidak akan mudah." Dia mengeluarkan sebuah surat warna putih dari saku celananya. "Ini. Kau meninggalkan sebuah kesalahan di surat ini."
Itu surat palsunya. "Kesalahan?"
"Ya. Ada kalimat 'Kudengar kau sudah kembali setelah pergi selama satu minggu'. Aku sudah mengembalikan ingatan semua orang di tempat ini di hari terakhir sebelum aku pergi. Dan hanya ada satu orang yang tidak terpengaruh olehnya," jelas Ichigo, "jika kau benar-benar bukan orang itu, jelaskan padaku bagaimana kau bisa tahu aku pergi selama seminggu?"
Kerutan samar terbentuk di dahi wanita itu. Bibirnya berkedut, menunggu kata-kata Ichigo selanjutnya.
"Buktinya ada padaku. Apa kau masih mau mengelak?"
Angin sore bertiup agak kencang saat mereka hanya saling menatap, berusaha untuk membaca pikiran masing-masing. Jika salah langkah sedikit saja, akibatnya bisa sangat besar karena mereka sedang berada di tengah-tengah kota. Lagipula dia tahu siapa itu Bambietta Basterbine. Dia sering mendengar nama itu sebagai salah satu pembunuh berantai paling sadis di daftar buronan Shinigami. Seseorang yang punya hobi menyiksa anak buahnya sendiri sampai mati saat sedang kesal.
Seringai muncul di sela-sela bibir wanita di depannya. Dalam sekejap iris matanya berubah menjadi hitam pekat dan sedikit mengecil.
"Ah, kau merusak kesenanganku. Bagaimana mungkin aku bisa seceroboh itu, ya?" Ujarnya sambil tertawa pelan. Sebelah tangannya mengusap pelipis, "Sekarang aku paham kenapa Candice mati di tanganmu."
"Apa kau mengakuinya?" balas Ichigo.
"Hmm... tak ada gunanya lagi berpura-pura, kan? Sia-sia saja aku menunggumu selama tiga hari di sini."
Sikapnya jadi berubah drastis. Dia bukan wanita anggun yang bicara dengan bahasa sopan seperti tadi, gaya bicaranya juga berubah. Lebih kasar. Jika dilihat dari penelusurannya tadi siang, tipenya mungkin sama dengan Candice Catnipp-Enchanter. Karena dia memakai sihir untuk mempengaruhi ingatan dan pikiran seseorang. Nah, sekarang Ichigo tahu apa yang harus dia lakukan. Dia tersenyum miring.
"Kita pindah ke tempat lain. Di sini terlalu ramai."
"Jangan bilang kau takut aku bermain curang," kata Bambietta sedikit bosan. "Yang benar saja, aku benci manusia. Aku tak akan menyentuh mereka."
"Aku bisa memberikanmu tempat yang lebih bagus."
Bambietta mendengus, sementara Ichigo membalikkan badannya dan memberikan sedikit tekanan di kaki untuk melakukan shunpo, diikuti olehnya. Ini negosiasi yang sangat menguntungkan, beruntung wanita itu tidak seperti Sternritter yang terakhir kali dia kalahkan. Padahal sama-sama kelas A, tapi dilihat dari manapun Bambietta jauh lebih pintar. Dia tetap harus berhati-hati.
Dalam sekejap mereka telah sampai di ruang kelas 2-C. Tak ada orang di sana selain mereka berdua. Bambietta memicingkan mata dan menggerutu.
"Hei, kenapa malah ke dalam ruangan, sih? Harusnya kita ke atap atau langit."
Ichigo mengambil duduk di salah satu kursi, "Yah, ini lebih praktis. Kau juga sangat ahli membunuh orang di dalam ruangan sempit tanpa ketahuan, kau tidak butuh tempat yang lebih besar."
"Hmm... kau tahu banyak, ya?" Bambietta yang masih dalam wujud seorang wanita berambut cokelat perlahan mendekatinya. "Kau ingin tahu bagaimana aku bisa melakukan semua itu?"
Dia membuang napas dengan bibir tersenyum nakal. Matanya tak pernah lepas dari tatapan Ichigo yang begitu intens. Dia menyukai tatapan itu.
"Pertama, aku akan mempengaruhi pikiran mereka dan menyiksa mereka dari dalam. Itu bagian yang paling menyenangkan. Mereka akan berteriak atau memanggil-manggil seseorang yang muncul dalam keping kenangan yang kubuka," dia menjilat bibirnya. "Setelah itu..."
Ichigo diam di tempat dengan waspada. Ketika Bambietta sudah cukup dekat untuk menyentuh pipinya, Ichigo hanya bisa melihat satu warna.
Hitam.
"Seseorang yang penting bagimu sekarang...," jemarinya menelusuri rahang Ichigo, hanya berkonsentrasi di sana tapi Ichigo tahu dia sedang mencari. "Kuchiki Rukia."
Dia bisa membaca memori seseorang.
Bibir Ichigo tertutup rapat. Tubuhnya mulai mati rasa, tak mau mengikuti perintah otak saat Bambietta mendudukkan diri di pangkuannya. Ini lebih seperti melihat adegan yang sedang diperankan seseorang dalam film. Wanita itu mengambil alih tubuhnya.
"Jadi, gadis Kuchiki itu? Dia kecil dan manis, tapi sulit diatur," Bambietta mengangkat bahu. "Kau ternyata menyukai yang seperti itu, ya? Hmm... terserah saja, sekarang jangan bergerak."
Wajahnya maju lebih dekat hingga hidung mereka hampir bersentuhan. Iris Bambietta berubah menjadi lebih gelap dan berpola. Ada sebuah lingkaran kecil di luar pupil beserta tiga titik yang berada di sepanjang garisnya, untuk beberapa saat lingkaran itu berputar. Ichigo tak sempat memasang penghalang, matanya seperti dipaksa untuk terus melihat saat semuanya selain mata Bambietta berubah menjadi hitam. Hazel Ichigo melebar.
Itu bukan wujud gadis berambut cokelat yang sedang dilihatnya sekarang. Tapi gadis mungil berkulit pucat dengan mata bening yang besar, berwarna violet, itu adalah-
"Rukia?"
Gadis di depannya berkedip, "Ichigo?"
Bahkan suaranya juga.
Ilusi. Ini hanya ilusi. Tapi dia bahkan tak bisa memalingkan wajah dari sosok itu. Tubuhnya memanas, naluri yang bukan dari dirinya kini mendorongnya untuk mendekat. Menarik gadis itu hingga dia bisa merasakannya di atas kulitnya.
"Kemarilah, Ichigo. Kau menginginkannya, ambillah."
Sebelah tangan pria itu bertengger di pinggangnya sekarang. Dia tahu itu bukan Rukia, tapi sihir Bambietta sangat menyiksa. Perasaan lapar itu bukanlah ilusi.
"Mmm..."
Bibir Ichigo mulai berjalan di bahunya, menggigit. Bahkan aroma tubuhnya sama dengan Rukia. Wanita itu ahli dalam pekerjaan ini. Dia dengan sengaja menarik memori seseorang untuk dijadikan sebagai umpan. Kali ini apa rencananya? Menyiksa dari dalam? Karena dia benar-benar harus bersabar.
"Jangan berpikir, Ichigo."
Yang bisa Bambietta lihat hanyalah kekosongan dalam mata pria itu. Dia menyeringai. Jarang sekali dia bisa mendapatkan seseorang seperti Ichigo. Tampan dan memikat. Meskipun mereka musuh, siapa yang tahu sebosan apa dirinya dengan pria-pria kulit putih yang sok berkuasa di Wandenreich? Tak ada yang seperti Ichigo di sana.
"Hnn... Ichi..."
Bambietta melolongkan kepuasannya. Jas seragamnya menjadi miring karena Ichigo bergerak sedikit kasar. Ya, dia suka yang sedikit kasar. Dia meraih rahang Ichigo, menggigit kecil di sepanjang garis itu hingga menuju leher. Seperti yang pria itu lakukan padanya.
Damn, aku tidak bisa mengendalikan tubuhku.
Itu adalah ilusi Rukia, tapi dia hampir merasa seperti sedang menatap Rukia yang asli seperti biasanya. Dia terus menahan diri sejak awal, hampir mustahil tapi sebagian dari tubuhnya masih berada di tangan Bambietta.
Berapa lama lagi?
Ichigo mengosongkan pikiran. Berusaha mendeteksi tekanan reishi Bambietta yang sedikit tidak stabil. Sedikit demi sedikit, sihirnya mulai mencapai limit waktu. Saat dia bisa membawa wanita itu sejenak untuk melupakan konsentrasi reishi-nya, dia bisa saja terlepas. Ichigo menatap ilusi Rukia yang terbenam di lehernya, sedang sibuk, sementara reiatsu-nya perlahan menyebar ke ujung-ujung jari. Mengalahkan konsentrasi reishi yang mematikan syarafnya. Mulai terasa hangat. Mati rasa terasa seperti mencelupkan tanganmu ke dalam kolam es. Dingin dan beku, membuatmu kesemutan.
Reiatsu Ichigo mulai menjalar ke tubuh bagian atas, lengan, dada, bahu, leher dan tepat di bagian itu Bambietta terlonjak.
"Kejutan?"
Iris Ichigo kembali berubah ke warna semula, menatap ilusi Rukia yang melebur menjadi wujud Bambietta dalam seorang gadis berambut cokelat sebahu. Mata wanita itu membelalak, lingkaran di luar pupilnya telah menghilang.
"K-Kau...," Bambietta menggeram, merutuk dalam hati karena kecerobohannya.
Ichigo hendak bershunpo, tapi wanita itu membacanya dan menarik kerah Ichigo dengan cepat. Saat Ichigo muncul di sisi ruangan yang lain, kancing putih miliknya telah terlempar ke lantai.
"Aku tidak suka kau menolak tawaranku," kata Bambietta sambil menatapnya tajam.
Ichigo menarik napas panjang, "Bukankah kau yang memaksa? Kau juga yang membuatku melakukannya."
"Kembali kemari!"
Bambietta mengaktifkan segel sihir berwarna merah di matanya. Dia adalah tipe orang yang tidak suka direpotkan, tapi yang lebih penting, dia tidak suka kegiatannya diganggu. Dan yang tadi itu adalah kesalahan Ichigo paling fatal baginya.
Kali ini sihir merusak.
Dengan cepat Ichigo menghindar di belakangnya, memukul tepat di tengkuk Bambietta hingga wanita itu terjatuh ke lantai.
"Jangan pernah mendekati wilayah ini jika kau tidak mau berakhir seperti rekanmu," desis Ichigo. "Ini bukan hanya masalah bagi para Sternritter atau Shinigami. Semua ini menyangkut keselamatan ketiga dunia. Tidak perlu kujelaskan panjang lebar kau juga sudah mengerti."
Mata Ichigo menatapnya dingin.
"Pergilah."
Bambietta menggeram, kukunya mengiris lantai kayu karena sebagian perasaan kesal dan sebagian lagi terisi dengan keinginan membunuh yang tinggi. Dalam sekejap dia melompat dan berteriak ke arah Ichigo yang sudah bersiap.
"Gaaahhhh!"
Ichigo menangkap salah satu tangannya, memutar tumpuan ke samping dan melempar wanita itu ke dinding. Sebagian cat beserta semen di dalamnya retak besar. Ichigo terengah, menatap wajah pingsan Bambietta yang bahkan tidak mau memperlihatkan wujud aslinya, wanita itu meluncur begitu saja ke atas lantai. Tak bergerak.
"Siapa yang mengira ini akan berakhir sama seperti Candice Cattnip?" gumamnya kelelahan.
Dia mendekati Bambietta yang sedang tersungkur dan berniat untuk membawanya ke Albinia Mese saat jari penyihir itu bergerak samar. Ichigo tersentak. Dalam beberapa detik saja Bambietta sudah bangkit, dan melompat ke jendela kelas yang menghadap ke taman. Dia berhenti di sana, menatap Ichigo dengan wajah datar setengah marah. Dia tentu belum puas jika keinginannya belum tercapai. Sebelum hal itu terjadi, semua penyihir tidak akan menyerah.
"Kita akan bertemu lagi," Bambietta tersenyum miring, menjilat darah yang keluar di sudut bibirnya.
Ichigo menatapnya tajam, "Itu tidak akan pernah terjadi."
Untuk beberapa saat Bambietta terdiam, rambutnya yang berantakan tertiup angin di balik jendela, dan setelah angin itu pergi, tubuhnya juga ikut menghilang. Terhambur begitu saja bersama beberapa dedaunan yang terbang. Tak berbekas. Ichigo menyisir rambutnya ke belakang dengan kedua tangan. Mendesah lega.
Wanita itu mengerikan. Dia telah dikuasai oleh naluri yang liar. Seandainya tadi dia membiarkan tubuhnya begitu saja, entah apa yang akan dia lakukan.
"Dammit."
Bahkan dia menggunakan Rukia. Ichigo tersentak begitu teringat pada gadis itu.
"Rukia..."
Tanpa mempedulikan kemejanya yang berantakan, pria itu melesat ke pintu. Jantungnya berdegup kencang. Dia butuh melihat Rukia yang baik-baik saja sekarang atau dia akan gila. Semoga saja Bambietta tidak membawa seorang teman.
―Yuuka desu―
Well, tadinya dia berpikir seperti itu. Dan lihat apa yang terjadi sekarang.
Ichigo berkedip malas, bermain-main dengan rambut pendek Rukia saat gadis itu tengah tertidur pulas. Kenyataannya, gadis itu menghilang bukan karena diculik oleh para Sternritter, namun karena melihat dirinya dengan wujud lain Bambietta bercumbu di kelas mereka. Ichigo tidak bohong saat dia bilang tidak melakukan apa-apa, karena Bambietta belum sempat mencapai puncak saat pengendalian sihirnya terlepas. Itu melegakan, benar-benar melegakan.
Senyum kecil terbentuk di bibir Ichigo. Ah, benar juga. Siapa sangka Rukia yang begitu keras kepala bisa cemburu melihat hal itu? Dia sangat manis.
"Ngh... sesak..."
Kening Ichigo mengkerut, dia tak secepat itu melepaskan Rukia yang dengan reflek mendorong dada bidangnya menjauh. Melihat wajah bangun tidur Rukia di pagi hari adalah sesuatu yang akhir-akhir ini menjadi hobinya. Sejak kapan? Dia juga tidak tahu.
"Ichi..."
Rukia kembali meracau, sebelum membuka kedua matanya yang masih sangat mengantuk. Rasanya ada sesuatu yang menahan punggung belakangnya. Violet itu berkedip datar, memasang ekspresi kesal luar biasa.
"Sepertinya kau bersenang-senang."
Ichigo hanya menyeringai mendengar sindiran itu. Yah, lagipula tak ada yang bisa dia lakukan karena bangun lebih awal. Satu jam yang lalu.
"Memang. Aku sedang menikmati waktuku."
Helaan napas keluar dari bibir Rukia. Mencoba menganalisa posisinya sekarang, dia dengan Ichigo berada di balik selimut ranjang kamarnya di Ikebukuro. Ichigo masih mengenakan kemeja musim dingin sekolah mereka, tersenyum geli, sementara dia sedang berada di lengannya sambil berusaha untuk tidak melihat ke bawah. Demi dewa kematian, pria itu sengaja menggodanya.
"Kau yakin tidak mau melihat?"
"Like hell I would!"
Ichigo tertawa, memberikan pemandangan yang menyenangkan bagi Rukia meski dirinya sedang kesal. Yah, dia tahu abs Ichigo akan menjadi pemandangan menarik yang bisa dia dapatkan pagi ini. Ugh, bicara tentang pagi, jam berapa ini?
5.34.
Mata Rukia memicing tajam setelah melihat jam digital di nakas.
"Aku tak bisa tidur," pria itu berkata, membela diri.
"Kalau begitu jangan bawa aku dalam masalahmu! Aku masih mengantuk!" Rukia berteriak pelan, hampir mendesis. Dia ingat masih ada kakak perempuan dan kakak iparnya di rumah itu.
"Kau bisa kembali tidur, Rukia, aku hanya pinjam rambutmu sebentar."
Mendesah sekali lagi, dia memperhatikan Ichigo yang kembali bermain-main dengan rambutnya. Apakah semenyenangkan itu? Rukia menatap hazel Ichigo di atasnya, dia ingat tadi malam semuanya menjadi lepas kendali. Padahal harusnya tidak seperti ini, kan? Karena Ichigo yang pemaksa dan Rukia yang pemarah, segalanya menjadi tidak mudah bagi mereka. Bahkan masalah kecil sekalipun...
Rukia merucutkan bibir. Dia bersumpah tidak akan mengingat hal itu lagi!
"Hei, setelah ini masih ingin bertemu dengan teman-temanmu?" tanya Ichigo setelah beberapa saat. Di tangannya kini tercipta sebuah kepang rambut yang sedikit berantakan.
"Hmm... kurasa tidak perlu. Tidak ada lagi yang bisa kukatakan pada mereka. Lagipula, kita sudah terlambat."
Mendengar itu, kegiatan Ichigo terhenti.
"Apa kau sudah menerimanya, darah yang ada di dalam tubuhmu?"
Rukia tersenyum, "Itu darah orang lain. Semuanya juga sudah bergantung padaku, bahkan klan Kuchiki," dia memejamkan mata. "Jika perang terjadi aku akan siap, entah bagaimana caranya."
"Aku tidak akan membiarkan hal itu," wajah Ichigo mengeras, serius. "Aku sudah bilang aku akan melindungimu."
"Melakukan tidak semudah bicara."
"Oh, kau meragukanku, Rukia?"
Gadis itu terdiam, menghela napas, "Tidak, aku tahu kau kuat, Ichigo. Tapi akan tiba saat dimana aku harus menggunakan darah ini, aku memiliki firasat tentang itu."
Ichigo terdiam, berguling ke satu sisi sehingga membuat posisinya tengkurap. Dia menghela napas di dalam bantal.
"Kau tidak akan menurut meski aku menolaknya, kan?"
"Sekarang kau yang pesimis."
Ichigo menoleh ke kanan, dia bisa melihat keseriusan di violet itu, juga keberanian yang memang sudah dimilikinya sejak dulu. Dia tak pernah ragu dan bisa mengekspresikan segalanya tanpa memikirkan apapun. Sebelah tangan Ichigo mengelus pipinya.
"Perang bukanlah sebuah mainan, itu adalah penderitaan yang panjang. Kau harus bertarung dengan mengandalkan dirimu sendiri. Kekuatan bukanlah segalanya. Pengalaman, intuisi, insting, kau harus mempelajarinya melalui banyak pertarungan. Dan kau juga bisa terluka," jelasnya. "Tapi lebih dari itu, tak ada yang lebih penting bagiku selain keselamatanmu. Itulah kenapa aku melarangmu untuk bertarung."
Pria itu benar. Rukia menghela napas. Dia tahu itu benar tapi...
Untuk apa aku hidup?
Rukia terus mengulang pertanyaan itu dalam hati, terus-menerus hingga dia kembali tertidur dengan lengan Ichigo yang merengkuhnya seperti malam-malam sejak mereka bertemu. Ichigo tak pernah berubah. Aroma citrus itu memenuhinya, seperti pengantar tidur.
Saat pagi berikutnya datang, Rukia sudah berdiri di depan pintu rumah Byakuya, memberi salam. Hisana memeluknya untuk terakhir kali, sementara Rukia mengintip di balik punggungnya ke atas pohon. Ichigo mengawasinya dari sana.
"Perlu kuantar?"
"Tidak, terima kasih," Rukia menjawab pertanyaan Byakuya. "Aku akan naik taksi untuk ke stasiun seperti sebelumnya."
"Jaga dirimu, Rukia," ujar Hisana.
"Baiklah. Sampai jumpa."
Itu adalah pertama kalinya dia berbohong pada kakaknya. Tentu dia tidak akan naik taksi atau pergi ke stasiun. Dia bisa pergi dengan sesuatu yang lebih cepat. Saat memikirkan ini, Rukia mendesah.
Harusnya tadi aku sarapan sedikit saja.
Ketika Rukia sudah berbalik ke arah jalan, Byakuya melihat dahan pohon yang tak jauh dari sana. Tadi dia merasakan kehadiran seseorang. Itu mungkin Shinigami, pikirnya sebelum memasuki rumah dengan Hisana.
Rukia tak sempat berpikir tentang selamat tinggal ketika apa yang menunggunya jauh lebih besar dari itu. Begitu sampai di beberapa blok dari rumah kakaknya, dia berhenti. Memperhatikan Ichigo yang muncul tiba-tiba di belakangnya seperti hantu. Mereka hanya bicara lewat tatapan mata. Albinia Mese menunggu, beserta sebuah pintu shoji yang sangat panjang di halaman depannya.
Gerbang senkaimon.
Setelah beberapa kali melakukan shunpo, Rukia menutup mulutnya yang hampir mengeluarkan sarapannya. Dia melihat Ichigo, lalu menurut saat pria itu menuntunnya ke arah dimana Urahara dan Yoruichi telah menunggu mereka.
"Dia terlihat semakin tahan banting setiap habis bershunpo," komentar Yoruichi.
"Aku tetap tidak suka itu," jawab Rukia, melirik Urahara.
"Harusnya kita ke Osaka untuk bisa masuk ke gerbang depan Soul Society. Tapi situasi sedang tidak mendukung, kami selalu memiliki senkaimon untuk saat-saat seperti ini. Untuk selanjutnya serahkan pada Ichigo, dia yang akan mengurus sisanya dan bertugas untuk menjagamu."
Tidak ada yang bisa Rukia katakan, gadis itu hanya mengangguk. Cemas ketika memandang gerbang besar yang tampak tua dan terawat itu. Pintu menuju dunia para Shinigami―dunia Ichigo. Rukia mengambil satu napas panjang, sebelum telapak tangan Ichigo menepuk kepalanya agak keras.
"Aww!"
"Aku akan mengingat ekspresi ketakutanmu barusan," goda pria itu.
"Aku tidak!" balas Rukia dengan wajah memerah. Ichigo tahu gadis itu berbohong.
"Kau akan menyukainya."
Itu adalah kata-kata terakhir Ichigo, sebelum pintu senkaimon terbuka dan memperlihatkan sebuah cahaya berwarna putih yang menyilaukan. Rukia menoleh ke arah Yoruichi dan Urahara yang berdiri di belakang, menunggu mereka. Sementara kakinya mulai meninggalkan dunia manusia, Ichigo menariknya masuk ke dalam.
Selamat datang di Soul Society.
.
To be Continued
.
Author's note :
No comment for this chapter. Nggak ada pengecekan ulang, jadi mungkin kalian akan menemukan beberapa typo. Di sini diceritakan flashback Ichigo waktu Rukia salah paham. Dan wanita itu udah ketebak siapa, kan? Hahaha yup, Bambietta Basterbine! Di akhir, Byakuya sama sekali nggak tau kalau semalaman Ichigo menginap di kamar Rukia, dia cuma bisa merasakan reiatsunya aja. Well, selamat datang di Soul Society! Akhirnya tiba juga di bagian ini, ikutin terus chapter selanjutnya ya! Oke, Yuuka ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dari dukungan kalian baik yang sudah membaca, mereview, memfollow atau memfav cerita ini. Kritik dan saran sangat diterima! Terakhir tapi bukan terakhir, tell me what you're thinking?
Balasan bagi yang tidak log in:
Kurosaki2241 : makasih reviewnya ^^ ini udah lanjut kok, ikutin terus ceritanya yaa
BLEACHvers : makasih reviewnya ^^ waaa seneng kalo kamu suka. Hmm mungkin bakal ada, tapi dengan siapa itu masih rahasia. Terima kasih sarannya yaa!
nayasant japaneze : makasih udah mereview ^^ ini udah update, terima kasih semangatnya *-*
