Disclimer : Bleach hanya milik Tite Kubo seorang

―bukan punya Yuuka―

.

.

.

Warning : Typo (yang selalu nongol), AU, contains fantasy terms, curse words, semi-canon, Gaje (Yuuka serahkan pada Readers semua, DLDR

.

'Things you don't know. I bet now you know.'

.

Enjoy and happy reading !

...


The Half-Blood

Akimoto Yuuka

"Yang Mulia memanggilku?"

Seorang wanita membungkuk dalam di depan sebuah singgasana tinggi yang diduduki pria paruh baya berambut panjang hitam. Pria itu tinggi dan besar, tulang pipinya menonjol di balik kulit, dengan kumis panjang yang terawat, rahang lebar dan iris cokelat kemerahan. Di balik jubah hitamnya terdapat mantel putih berkancing ganda dengan manset besar, memiliki simbol Wandenreich di dadanya.

"Bambietta," panggilnya. "Anakku, sudah lama aku tidak melihatmu. Kudengar para penjaga melihat kau terluka saat kembali ke Silbern."

"Itu karena kita telah kehilangan satu mata-mata yang harusnya menjalankan misi itu bersamanya, Yang Mulia," jawab Jugram Haschwalth yang muncul di sebelahnya. Dia merupakan tangan kanan pimpinan kerajaan Silbern, pria berkulit putih dengan rambut panjang lurus berwarna pirang.

Bambietta menatapnya, menyindir, "Candice mati karena dia bertindak gegabah. Pengendalian dirinya itu sangat buruk."

"Begitukah? Kau pasti tahu banyak tentangnya."

Siapapun tahu Bambietta tidak menyukai Jugram. Dia selalu menganggap pria itu sebagai anjing peliharaan Yhwach yang selalu berlindung di balik jubahnya. Hanya karena menjadi tangan kanan penguasa tertinggi di Silbern bukan berarti dia bisa seenaknya mengirim Candice yang sangat hiper jika tahu dia akan mati. Meski satu tingkat di atasnya, Bambietta tak pernah menganggapnya seorang pemimpin.

"Hmm, satu orang lagi terlibat dalam pertikaian. Kulihat kau membawa sebuah berita baik setelah Jugram mengirimmu ke Karakura tiga hari yang lalu. Bisakah kau beritahu apa itu?"

"Dengan senang hati, Yang Mulia," jawab Bambietta. Wanita itu menegakkan tubuhnya, tersenyum dengan penuh percaya diri. "Kurosaki Ichigo..."

Yhwach yang duduk di singgasana memperhatikan dengan seksama. Mendengar nama itu langsung membuatnya tertarik.

"...Shinigami yang membunuh Candice, seorang Knight Kelas A sekaligus menjadi pengawas Kuchiki Rukia, pemilik darah kutukan yang kita cari, telah memberiku sebuah informasi penting."

"Jadi dia orang terdekatnya," Jugram menyipitkan mata.

"Selain itu, tubuh Candice mungkin sudah diotopsi untuk mencari tahu informasi lebih jauh."

"Itu tidak akan terjadi," Jugram menjawab kalimat Bambietta, yang langsung melirik dirinya tak suka. "Aku telah memasang peledak di otaknya."

Wanita itu terkejut, begitu santainya Jugram mengatakan hal itu. Selalu memperlakukan orang-orang dengan rendah tanpa perasaan, dia bahkan tak tahu seberapa jauh pria itu bisa melangkah.

"Sejak kapan?"

Yhwach yang melihat kemarahan di mata Bambietta hanya terdiam, melirik Jugram yang langsung mengerti apa yang harus dia lakukan.

"Sudah cukup, anakku. Kalian tahu aku sangat tidak suka pertikaian sementara bicara lebih mudah untuk dilakukan," Yhwach angkat bicara, membuat Bambietta menunduk seketika.

"Maafkan aku, Yang Mulia."

Dia tahu kebenciannya tak akan berguna di depan Yhwach, karena itu Bambietta menahan diri. Dia menarik napas panjang, melanjutkan laporannya.

"Aku mendapatkan informasi dalam pertarunganku dengan Kurosaki Ichigo. Saat aku masuk ke dalam memorinya, aku melihat ada seseorang mengatakan sesuatu tentang memindahkan Kuchiki Rukia."

"Memindahkan?" tanya Yhwach.

Bambietta mengangguk, "Benar, Yang Mulia. Klan Kuchiki berunding dan berniat untuk menyerahkan gadis itu pada organisasi Shinigami. Mereka membawanya ke Soul Society."

"Hmm... Soul Society, huh?"

"Naif sekali."

"Karena itulah kita tak memiliki pilihan lain," Yhwach menjawab sindiran Jugram.

Di balik kumis panjangnya, dia tersenyum. Menyambut berita gembira itu dengan antusias karena sebentar lagi, dia akan bertemu dengan sang kawan lama.

"Aku akan mengunjungimu, kawanku Genryuusai."

―Yuuka desu―

Tidak seperti yang Rukia duga, masuk ke Senkaimon tidak melalui perjalanan yang panjang, karena mereka sudah sampai begitu menginjakkan kaki ke dalamnya. Dari sini, semua yang bisa dia katakan hanya―

"Ramai."

Banyak orang berlalu lalang di kawasan yang mirip dengan kompleks pertokoan di Kyoto. Ya, ini mirip di Kyoto. Semua bangunan tradisional yang rata, jalan-jalan setapak dengan banyak orang mengenakan yukata dan mantel karena cuaca berbeda jauh dengan di Karakura. Di sini lebih dingin. Sepertinya dunia roh memiliki kemiripan dengan dunia yang ditempatinya selama ini.

"Selamat datang di Soul Society."

Ichigo memasukkan tangannya ke saku celana, memperhatikan Rukia yang masih sibuk melihat-lihat. Ini adalah salah satu cabang dari jalan utama di Soul Society. Tiap-tiap cabang selalu berawal dari empat jalan utama yang membelah pusat kota, menuju ke satu titik, Komando pemerintahan Soul Society. Kesanalah mereka akan menuju. Ichigo menggandengnya.

"Apakah mereka semua roh?" tanya Rukia.

"Ya, mereka dulunya adalah plus, roh orang yang baru saja meninggal. Jika dia mati dengan tenang maka rohnya akan segera pergi ke sini."

"Kalau mati dengan tenang? Kalau tidak?"

Ichigo menyeringai, "Kurasa kau sudah tahu jawabannya, bunny." Dia tertawa saat wajah Rukia berubah menjadi pucat, tanpa pikir panjang mengangkat gadis itu ke lengannya.

"H-Hei, Ichigo!"

"Aku lelah berjalan. Pegang yang erat."

Tak sempat memprotes, Rukia refleks mencengkeram kemeja Ichigo ketika pria itu bershunpo. Selalu saja begini, padahal dia belum sempat melihat-lihat. Rukia menahan kekesalannya saat mereka melompat di antara atap-atap. Soul Society adalah kota yang besar, tiap bangunan memiliki ciri khas, yaitu jarang memiliki jendela dan bercat gabungan antara putih dan oranye. Sementara itu, dari kejauhan Rukia bisa melihat dinding tinggi yang menutupi bagian kota lainnya. Tempat itu memiliki bukit mirip tebing yang sisinya menjorok ke samping, dengan pohon-pohon di bawahnya. Di antara bangunan yang lain, terdapat menara yang tingginya hampir mencapai bukit itu. Seperti menunjukkan bahwa itu adalah bagian kota yang penting.

Itu adalah Seireitei.

Mereka melompat turun ke depan gerbang yang dijaga oleh dua orang berbadan besar, mengenakan seragam dengan tombak di tangannya. Setelah menginjak lantai, Rukia tak tahan untuk menutup mulut.

"Kurosaki-sama! Anda sudah pulang dari misi?" salah satu penjaga berkata dengan terkejut. Tak salah lagi, Kurosaki Ichigo benar-benar orang yang berada di level tinggi. "Ah, apa dia baik-baik saja?"

Rukia menahan Ichigo yang ingin melihat wajah pucatnya―wajah ingin muntahnya.

"Aku baik-baik saja," Rukia menatap Ichigo super kesal. Tidak lucu menggabungkan shunpo dengan lompatan ekstrem di saat yang bersamaan setelah sarapan!

"Lain kali akan kuingat," Ichigo meringis, lalu menyuruh penjaga untuk membukakan gerbang.

Mereka masuk ke dalam pusat istana Soul Society, pusat pemerintahan kota yang besar itu. Ichigo meregangkan satu tangannya ke atas, dia lega bisa kembali pulang. Selain itu, di sini semuanya akan baik-baik saja. Dia melihat Rukia yang terdiam, violetnya melebar takjub. Itu adalah kerajaan, kastil besar dengan tangga yang lebar. Di kanan kirinya adalah sebuah lapangan luas yang menuju ke kastil. Orang-orang berseragam shihakuso dan bangsawan ada di sana, sambil berjalan mereka melihat dengan penasaran siapa yang baru saja masuk gerbang.

"Itu Kuchiki!"

Semua orang berhenti di tempat, memandang ke satu arah―Rukia. Tiba-tiba saja berkelebat puluhan pasukan berbaju hitam mengepung dua orang yang tanpa rasa bersalah berdiri santai di tengahnya. Dua orang, kecuali satu. Rukia membelalak terkejut. Ada apa ini?!

"Kurosaki Ichigo!"

Ichigo menoleh saat namanya dipanggil. Seorang wanita melompat ke arahnya dan berdiri tegak. Wanita itu bermata sipit, rambutnya pendek dengan shihakuso tanpa lengan dan punggung terbuka. Dia mengenakan obi warna kuning di perutnya, berbeda dengan Shinigami yang lain. Selain itu, dua buah pita menjulur panjang di belakang kepalanya. Ichigo tahu siapa itu.

"Ah... Soifon," Ichigo bergumam, menatap wanita yang masih berwajah kesal itu.

"Begitu caramu menghindariku, sengaja langsung pergi saat diberi misi rahasia ke Dunia Manusia. Kau pasti mencegahku untuk bertemu dengan Yoruichi-sama."

Ichigo terdiam, menatap wanita itu dengan datar sebelum menelengkan kepalanya ke samping seperti anak kecil polos.

"Huh?"

"Jangan membuatku kesal dengan tampang bodohmu itu!"

Yoruichi? Dia mengenal Yoruichi-san?

Pikiran Rukia kembali ke malam saat Shibuya diserang. Waktu itu dia melihat Yoruichi memakai seragam yang mirip dengan yang dipakai Soifon. Apa mungkin dia rekannya atau yang lain? Baru saja Rukia sedang memikirkannya, wanita itu menoleh. Menatapnya dengan pandangan meneliti.

"Percuma saja bertanya padamu," dia mendesah. "Lagipula, kau ini bodoh atau apa, berkeliaran dengan gadis ini di Seireitei? Cepat bawa dia ke dalam, Komandan memanggil kalian."

"Namanya Kuchiki Rukia," ucap Ichigo, membuat Soifon tak kembali bicara.

Dia memperhatikan Rukia lagi, gadis pendek dengan iris violet dan rambut hitam di sebelah pria itu. Ichigo terlihat begitu melindunginya. Huh, dia tidak suka gadis lemah. Tanpa menjawab sarkasme Ichigo, Soifon mundur ke belakang, memberi kode bagi pasukannya untuk pergi.

"Terserah saja, aku tidak peduli," ujarnya. "Dia tetap punya darah penyihir."

Setelah mengatakan hal itu, dia melompat ke belakang. Pergi begitu saja beserta para pasukannya, meninggalkan keheningan yang tiba-tiba. Semua orang di sekitar mereka bertanya-tanya, berbisik, sembari perlahan kembali pada kegiatan mereka.

Apa maksud kalimatnya tadi?

Rukia melirik Ichigo yang menariknya untuk kembali berjalan. Tanpa mau melihatnya, pria itu berjalan dengan santai, meski Rukia tahu di balik sikap santainya itu dia sedang berpikir keras. Tapi dia bahkan tak mau mengatakan apapun. Rukia mendesah, mereka sampai di depan kastil, kemudian pintu kayu yang mirip mahoni itu terbuka dengan nyaring.

Suasana di dalam terlihat berbeda. Itu lebih seperti aula pertemuan yang besar, dengan lantai kayu, atap tinggi dan lampu kristal yang menggantung di atasnya. Tak ada orang di dalam, sebelum Rukia mendengar Ichigo bicara pada seseorang.

"Tak seperti biasanya, dimana semua penjaga? Apa kau meliburkan mereka?"

Rukia menoleh, mendapati seorang pria tua botak dengan kumis panjang yang beruban dan memakai tongkat masuk dari pintu berikutnya dengan pria yang terlihat lebih muda, meski rambutnya juga sudah beruban. Melihat dari cara Ichigo bicara sepertinya dia memang tidak pernah segan bahkan pada orang yang lebih tua darinya.

"Selalu tak suka basa-basi, apa kau sudah puas melihat-lihat Dunia Manusia?" pria yang paling tua angkat bicara setelah pintu di belakangnya tertutup.

"Bukan melihat-lihat, tapi mengawasi. Kalau kuceritakan nanti laporannya jadi tidak berguna."

"Tak masalah, untuk kali ini anggap saja ini laporan lisan. Tapi sebelum itu," dia melirik Rukia. "Apa kau adalah Kuchiki Rukia?"

Awalnya Rukia diam, tapi saat Ichigo mengisyaratkan bahwa semua baik-baik saja, dia baru mengangguk pelan.

"Ah, y-ya, aku Kuchiki Rukia."

"Mungkin ini terlambat untuk dikatakan, tapi selamat datang di Soul Society. Kuharap kau akan senang berada di sini."

Alis Rukia terangkat sebelah, melirik Ichigo lewat ujung matanya. Bertanya lewat tatapan kira-kira seperti ini:

"Itu Komandan yang dimaksud tadi? Dia jauh lebih tua dari yang kubayangkan, walaupun gaya bicaranya memang berkelas, sih."

"Urahara-san pernah bilang kan, umurnya sudah lebih dari seribu tahun. Lagipula, pertanyaanmu itu sangat terlambat."

"Benar juga, tapi dia tidak mengatakan apa-apa soal ini."

"Anda mungkin masih belum tahu, kalau begitu biar kuperkenalkan," pria yang mengekor di belakang kini bicara. "Beliau ini adalah pemimpin organisasi Shinigami, sekaligus menjadi Komandan tertinggi yang ada di semua pasukan militer Soul Society, Genryuusai Shigekuni Yamamoto-sama."

Ichigo mengedikkan bahu saat Rukia ber"ah". Ya, dia sudah tahu semua itu, tapi bayangannya terhadap leluhur para Shinigami sangat berbeda. Dia masih seorang pria tua yang sehat meski sudah memakai tongkat. Umurnya lebih dari seribu tahun, memikirkan hal itu membuat Rukia gugup. Sekarang dia sedang berdiri di depan seorang tokoh dalam buku yang pernah dibacakan Ichigo di apartemennya. Bagian yang mengejutkan adalah bahwa dia nyata.

"Namaku sendiri adalah Choujirou Sasakibe, wakilnya," lanjut pria di belakang Genryuusai sambil tersenyum kecil. "Kuucapkan selamat datang, semoga kau bisa menikmati waktumu di sini."

"Sayangnya, aku kesini bukan untuk liburan," jawab Rukia. "Tak ada waktu bagiku untuk melakukannya. Anda pun tahu cepat atau lambat perang akan terjadi meski aku disembunyikan di tempat yang paling aman sekalipun. Ini hanya masalah waktu saja."

Dia melirik ke arah Genryuusai.

"Oh," Genryuusai tersenyum. "Tak kusangka kau mewarisi sifat dari para Kuchiki, kepercayaan diri dan pemikiran jangka panjang itu. Tapi bahkan aku sendiri pun tak bisa menghentikan jika perang sudah terjadi. Jika Yhwach mendapatkanmu, maka semuanya selesai. Itu kuncinya."

Ichigo terdiam melirik gadis di sebelahnya. Dia yakin firasat Rukia benar, karena mereka juga sudah membuktikannya. Para penyihir akan terus berdatangan mencari gadis itu dan sebelum menemukannya, mereka tidak akan menyerah. Tapi dia terkejut Rukia bisa setenang ini. Ichigo membuang napas perlahan. Dia belum lupa pembicaraannya tadi dengan Rukia. Gadis itu sudah mempersiapkan segala situasi sampai yang paling buruk, tak perlu mengatakan apapun dia juga tahu kalau Rukia memang keras kepala.

"Yhwach tidak akan mendapatkannya," Ichigo berkata serius. "Karena itu, kita harus mengambil tindakan sebelum mereka kembali menyerang atau baik Karakura maupun Dunia Manusia akan musnah."

"Tidak semudah itu, Kurosaki-san," jawab Sasakibe. "Kita hampir tak memiliki informasi apapun mengenai apa dan bagaimana mereka akan menyerang. Sekarang ini, kita juga tidak bisa melakukan apa-apa selain menunggu."

Semuanya terdiam setelah kalimat itu selesai. Tapi Ichigo yang sudah naik darah yang pertama mengakhirinya.

"Aku... telah membunuh seorang dari tiga mata-mata Sternritter yang dikirim dari Silbern untuk menangkap Rukia. Urahara-san saat ini, sedang melakukan sesuatu agar mendapatkan informasi darinya, jadi dengan itu masalah akan selesai, bukan?"

Sasakibe terkejut, "Mata-mata Sternritter?"

Genryuusai membuka satu matanya yang sejak tadi tertutup oleh kerutan. Dia benar-benar bisa melihat keinginan yang meluap-luap dari pria itu. Tapi dia kenal Urahara. Pendiri Institut Penelitian dan Pengembangan Shinigami yang diasingkan ke Dunia Manusia dan menjadi mata-mata aliansinya sejak seratus tahun yang lalu. Seperti yang dia duga, Urahara tidak akan berdiam diri dengan masalah ini meski sekarang posisinya juga dalam kesulitan. Lagipula, pria itu terlalu santai untuk memikirkan dirinya sendiri.

"Jadi, kau mendapat bantuan darinya? Hmm... Yhwach sepertinya sudah tidak sabar untuk segera menemukan wadah Hogyoku, karena itu dia mengirimkan orang-orangnya ke Dunia Manusia. Sejak dulu dia memang sudah mengincar klan Kuchiki. Perjanjian itu mungkin sudah tidak berarti baginya tepat saat dia bersumpah."

"Itulah kenapa kita―"

"Ichigo," Rukia memotong kalimat Ichigo yang langsung menoleh padanya. "Aku yakin Komandan Soul Society tahu apa yang harus dia lakukan. Percayalah sedikit padanya."

Itu karena kalian memiliki pemikiran yang sama.

Decakan ringan keluar dari mulut Ichigo, tapi dia tidak bisa membantahnya. Apa mereka berniat untuk menunggu saja sampai para Sternritter datang kesana? Apa yang mereka pikirkan? Dia menghela napas.

"Biasanya kau tidak seperti ini. Kenapa kau sangat terburu-buru?" tanya Genryuusai melihat gelagat Ichigo.

"Tentu saja, karena ini tentang penyihir. Perang itu sudah berakhir, dan aku tidak akan membiarkannya kembali terjadi."

Ichigo menatap pria tua itu dengan sungguh-sungguh, sebelum tangannya menarik Rukia untuk keluar dari ruangan sementara gadis itu hanya menurut. Dia tahu bicara dengan Ichigo yang sedang berkepala panas tidak akan membuahkan apapun.

"Oh, dan satu hal lagi," Ichigo berhenti saat pintu terbuka. "Biarkan aku menjaganya sampai semua kembali normal."

Tentu saja Genryuusai tahu dia sedang bicara mengenai Rukia. Dia mengedikkan bahu, menjawab dengan tenang.

"Lakukan yang ingin kau lakukan."

Dengan itu, pintu kembali tertutup menyisakan kekosongan.

―Yuuka desu―

Berapa lama lagi pria itu akan terus kekanakan seperti ini?

Di sepanjang jalan menuju gerbang barat Seireitei merupakan markas pasukan elit Soul Society. Mereka berjalan dalam keheningan, menyusuri barak Shinigami Kelas B yang orang-orangnya langsung menunduk begitu melihat Ichigo di halaman depan. Itu membuat Rukia berpikir, bahwa gelar Kelas A bukanlah main-main. Mendesah pelan, gadis itu mencoba untuk bicara.

"Kau tidak serius berpikir bahwa kita seharusnya balik menyerang, kan?"

"Apa aku terlihat bercanda?" sahut Ichigo, menoleh. Rukia kembali mendesah.

"Kau bilang kau tidak akan membiarkan perang terjadi."

"Ya, karena itu seharusnya Sternritter disingkirkan sebelum mendapatkan wadah Hogyoku, jika tidak maka mereka akan tetap mencarimu. Perang akan terjadi begitu mereka mendapatkannya."

"Kita hanya harus menunggu sampai usiaku delapan belas tahun, apa susahnya? Aku sudah berada di tempat yang paling aman di sini, bersamamu."

Ichigo berhenti begitu tiba di barak Kelas A. Dia menghela napas, menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Dia mungkin bisa dengan percaya diri mengatakan kata-kata yang menenangkan, tapi Rukia tahu sebenarnya dia sedang frustasi dari caranya bicara begitu berhadapan dengan Genryuusai, mungkin dia merasa terdesak. Rukia menarik tangan Ichigo agar pria itu bisa melihatnya.

"Apa kau meragukan Soul Society atau dirimu sendiri?" tanyanya saat Ichigo hanya terdiam. "Saat aku ikut denganmu ke sini, aku telah mempercayakan diriku padamu. Apa kau tidak yakin sekarang?"

Entahlah, Ichigo juga tidak tahu. Kenapa dia begitu takut? Dia menyembunyikan perasaan itu selama ini tapi bahkan Rukia dan Genryuusai bisa membacanya. Kata-kata yang pernah dia ucapkan pada Rukia tidak lain adalah penenang untuk dirinya sendiri. Dia menghela napas.

"Rukia..."

"Aku tidak ingin melihat ekspresi itu di wajahmu," ujar Rukia serius. "Ichigo yang kukenal tidak akan bicara dengan penuh keraguan, meski yang dikatakannya adalah hal yang kekanakan."

Ichigo tertegun saat Rukia tersenyum.

"Meski begitu aku yakin kau tidak akan menarik kata-katamu."

"Aku akan melindungimu."

Ah, benar juga. Dia yang mengatakan itu. Ichigo membuang napas pelan, coba lihat betapa lemahnya dia sekarang, berbeda dengan Rukia. Gadis itu tidak takut pada apapun, kuat dan tegar. Keraguan itu menghilang saat Ichigo menatap violetnya yang membara.

"Yah, kau benar," Ichigo berkata, kali ini dengan penuh keyakinan sementara Rukia tersenyum sekali lagi.

"Kurosaki-san!"

Mendengar namanya dipanggil tiba-tiba, Ichigo menoleh, mendapati seorang anak laki-laki berlari ke arahnya dengan panik. Kakinya tersandung kerikil beberapa kali sampai akhirnya dia sampai di depannya dengan terengah-engah. Padahal Ichigo yakin dia bisa menggunakan shunpo tanpa harus bersusah payah, kan?

"Hanatarou," panggil Ichigo. Rukia menaikkan alis.

Siapa anak ini?"

"Ah, m-maaf... sebelumnya kuucapkan selamat datang kembali ke Seireitei. Ah, bukan itu! Maksudku, aku sudah mendengar tentang seseorang dari Dunia Manusia yang datang kemari... karena itu..."

"Tarik napasmu pelan-pelan, aku tidak mengerti apa yang kaukatakan."

"Dia ini siapa?" tanya Rukia.

"Ah, dia Shinigami bagian penyembuhan, salah satu murid kepala penyembuhan di Seireitei, Yamada Hanatarou," jawab Ichigo.

Hanatarou membungkukkan badan seketika, "Salam kenal, namaku Yamada Hanatarou. U-umm... Anda..."

"Aku Kuchiki Rukia, salam kenal," Rukia tersenyum, membuat pipi Hanatarou bersemu merah dan dia menggaruk belakang kepala dengan kikuk.

"Jadi, apa ada masalah? Kenapa kau buru-buru begitu?"

Rukia menoleh saat nada Ichigo terdengar kesal. Ada apa dengannya?

"Ah! Benar! I-itu... saat aku sedang mengantar resep obat pada salah satu ninja Onmitsukido yang terluka, orang dari I.P.P.S memanggilku. Dia bilang "Carilah Kurosaki Ichigo sialan dan bawa dia kemari dalam dua menit agar aku bisa menghajarnya karena menghilangkan denreishinki miliknya" itu yang dia katakan―eh, K-Kurosaki-san?"

Hanatarou panik saat melihat wajah Ichigo berubah menjadi pucat. Pria itu meraba saku celananya sambil berkeringat dingin, menelan ludah, dia berkata,

"D-Denreishinki-ku... jangan-jangan terjatuh?"

"Ponselmu?"

"Di sini itu disebut denreishinki. Alat komunikasi antar-dimensi yang memungkinkan untuk melacak keberadaan Hollow dan menerima panggilan dari Soul Society," jelas Hanatarou, menjawab pertanyaan Rukia.

Mendengar itu, wajah Rukia berubah datar. "Bagaimana kau bisa menghilangkannya, dasar bodoh."

"Ini gawat," ucap Ichigo. "Rukia, kita harus pergi."

"Huh? Kenapa aku juga?"

"Kau ikut denganku."

Rukia menelan ludah saat wajah Ichigo berubah menyeramkan.

"B-Baiklah."

"Sampai nanti, Hanatarou."

Hanatarou belum sempat membalas ucapan Ichigo saat mereka sudah bershunpo pergi. Dari dulu, Ichigo memang tidak suka berjalan kaki, semua orang tahu itu. Di tempatnya berdiri, lelaki berambut sebahu itu tersentak, lalu berjalan cepat ke arah yang tadi dilaluinya saat sadar tadi dia tidak jadi pergi ke barak ninja Onmitsukido untuk memberikan obat.

Sesampainya di depan gedung penelitian I.P.P.S, Ichigo dan Rukia mengintip ke dalam. Sambil berpikir kenapa dia juga terlibat dalam masalah pria itu, Rukia mengerutu begitu Ichigo membawanya masuk ke dalam. Gedung itu minim penerangan. Banyak sekali selang dan pipa yang bergelantungan di langit-langit. Lantainya lembab, dan itu membuat Rukia tidak nyaman.

"Sebenarnya apa yang terjadi, Ichigo? Apa ponselmu itu sangat penting?" bisiknya.

"Ah..."

Tiba-tiba saja perut Ichigo terasa mual. Gadis itu tidak tahu seberapa sering dia sengaja menghindari gerbang timur agar tidak berpapasan dengan para anggota I.P.P.S dan ditangkap untuk dijadikan bahan percobaan. Dia tahu mereka sangat penasaran dengan kekuatannya tapi tak pernah punya kesempatan untuk sekedar melakukan riset, karena Ichigo langsung kabur begitu melihat wajah aneh mereka.

"Kalau Urahara-san tidak bisa menghubungiku hanya ada satu tempat yang akan dia tuju," jawabnya. "I.P.P.S menerima semua informasi yang disalurkan melalui denreishinki. Saat mereka tahu dia menghubungi I.P.P.S, aku tidak bisa membayangkan betapa kerepotannya mereka untuk menghindarkan hal itu dari satu orang."

"Satu orang?"

"Yah... Kurotsuchi Mayuri, Profesor gila yang sangat terobsesi pada Urahara-san..."

Saat kalimat Ichigo baru setengah jalan, mereka telah sampai di ujung lorong yang menghubungkan langsung ke ruang komunikasi berlangit-langit tinggi. Mereka berdiri di belakang pagar, melihat kekacauan yang terjadi di bawah mereka dengan wajah penuh masalah. Kertas-kertas beterbangan di udara, orang-orang berlarian, sibuk mengetik atau saling berteriak. Saat seorang pria berjas putih yang sedang sibuk mengatur rekannya yang bertubuh besar dengan kepala bulat berwarna hijau, dia melihat ke atas dan berteriak dengan geram.

"Kurosaki Ichigo!"

Semua kegiatan berhenti dalam sekejap.

"...atau mungkin tidak," Ichigo melanjutkan kalimatnya.

"Wow, daripada itu, mereka lebih terobsesi padamu."

Mengabaikan komentar Rukia, pria berjas yang memiliki tiga tanduk di dahinya itu menaiki tangga dengan terburu-buru, sebelum sampai di atas dan menunjuk Ichigo super marah.

"Dasar sialan kau! Untung saja Profesor sedang tidak ada di dalam. Kalau dia melihat wajah si geta-boshi itu di layar monitor yang disabotasenya maka aku akan membunuhmu!"

"Ah...," Rukia bergumam, sweatdrop.

Ichigo mengangkat dua tangannya, "Iya iya, maaf. Aku tidak tahu kalau denreishinki-ku menghilang dari saku celana―"

"Dari dulu alasanmu masih sama saja. Cepatlah ke bawah dan urus si geta-boshi itu!"

"Urusee, aku juga akan ke sana," kata Ichigo kesal saat dia menaiki pagar. "Rukia, kau di sini saja. Makhluk-makhluk itu bisa saja memakanmu."

"Jangan menakutinya dengan kata-kata seperti itu!"

Ichigo melompat turun ke bawah dimana para anggota lain sedang menahan diri untuk tidak menangkapnya dari belakang. Ini adalah kesempatan langka dimana Kurosaki Ichigo datang ke I.P.P.S tanpa perlengkapan apapun. Apa yang akan dilakukan Kurotsuchi Mayuri jika melihat Ichigo berada di lembaganya?

"Dasar si sialan itu, selalu saja membuatku repot. Hm?"

Pria itu menoleh saat Rukia menatapnya penuh tanya.

"Ngomong-ngomong, kau ini siapa? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya."

"Aku Kuchiki Rukia."

Dia terbatuk begitu mendengar hal itu. Matanya membelalak kaget, menatap Rukia tak percaya.

"K-Kuchiki? Kau seorang Kuchiki?" dia terbengong begitu Rukia mengangguk, saat tersadar dia berdeham. "Maaf, aku benar-benar terkejut. Aku adalah wakil pimpinan Institut Penelitian dan Pengembangan Shinigami, Akon."

Kenapa si sialan itu bisa membawa Kuchiki kemari?

"Sepertinya orang-orang selalu terkejut mendengar nama Kuchiki," Rukia berkata setelah jeda yang panjang.

"Yah, itu...," Akon melihat ke bawah saat rekannya yang berkulit hijau mengarahkan Ichigo untuk bicara melalui mikrofon. "Kuchiki adalah klan yang akan menentukan perdamaian dunia. Organisasi Shinigami selalu melindungi mereka secara turun-temurun, sampai ke pemimpin generasi klan ke-28 untuk mencegah peperangan, karena itu..."

Rukia tersenyum, "Ah, aku mengerti."

Dari atas, Rukia bisa melihat Ichigo yang sedang berdebat dengan seseorang yang tampil di layar. Dia mengerjap, itu adalah Urahara.

"Kau memang selalu ceroboh, ya?"

"Iya, itu kesalahanku. Bicaralah yang cepat, sekarang ini nyawaku sedang dipertaruhkan hanya untuk bicara denganmu, tahu."

Urahara yang ada di layar sedang duduk di kursi dengan ruang penelitiannya yang hancur berantakan. Kerah kimononya terdapat noda hangus di beberapa bagian, kotor seperti terkena asap.

"Apa yang terjadi? Kenapa kau dan ruanganmu kacau begitu?" tanya Ichigo.

"Seperti yang kau lihat, aku tidak bisa mendapatkan informasi apapun dari mayat Sternritter yang kau bawa."

Ichigo terkejut, "Apa yang terjadi?"

"Aku lengah. Di dalam otaknya telah terpasang peledak yang aktif saat aku sedang membedahnya. Aku sama sekali tidak berpikir mereka akan bertindak sejauh ini."

"Peledak?" Ichigo mengulang. "Dilihat dari manapun itu sudah kelewatan. Apa mereka benar-benar bisa melakukan semua itu?"

Urahara mendesah, "Mereka sangat hati-hati. Jika aku bisa menemukan peledak di otak Candice Catnipp, maka kemungkinan besar itu sudah terpasang di setiap kepala anggota pasukan Sternritter. Aku ragu mereka bisa menyerang dengan agresif jika mengetahuinya."

"Maksudmu, mereka tidak tahu?"

"Bisa saja. Kau tahu sendiri bagaimana sifat para petinggi kerajaan di Silbern. Dan kurasa yang melakukan ini adalah―"

"Jugram Haschwalth."

Ichigo menyipitkan mata, mendesah kasar setelah menyebut nama itu. Di antara para Sternritter ada yang lebih sadis dari si pembunuh berantai Bambietta Basterbine. Orang yang menanamkan peledak di kepala anak buahnya sendiri, tangan kanan pemimpin kerajaan Silbern dan orang yang selalu berwajah datar, Jugram Haschwalth. Ichigo menoleh ke belakang.

"Hiyosu, kau masih punya data para Sternritter yang pernah diotopsi, kan? Apa sebelum ini juga pernah ditemukan peledak di otak mereka?"

Pria berkulit hijau dan berkepala botak bulat itu bergumam, "Sepertinya... tidak."

"Kalau I.P.P.S menemukan sesuatu, aku pasti sudah mengetahuinya."

Ichigo menyetujui kata-kata Urahara dalam hati, "Jadi mereka menanamkannya baru-baru ini."

Di seberang sana, Urahara mengusap dagu, menatap langit-langit ruangannya yang hangus berwarna kehitaman.

"Sebaiknya kita lebih berhati-hati."

Mendengar itu, Ichigo hanya bisa menghela napas. Siapa yang akan menyangka semuanya bisa jadi sesulit ini? Jika dia pikir Sternritter tidak secerdik itu sudah sejak kemarin dia merasa tenang. Nyatanya mereka tak mendapatkan apapun.

"Bagaimana dengan Kuchiki-san?"

"Dia baik-baik saja," Ichigo melirik ke atas dimana Rukia dan Akon sedang mengawasinya.

"Kuharap begitu. Pemilik setengah darah penyihir sepertinya sangat dikagumi di sana."

"Jangan katakan itu meski hanya bercanda," Ichigo mendesah. "Aku hanya berharap orang-orang tidak mengatakan hal buruk padanya hanya karena dia memiliki darah penyihir."

"Baguslah kalau kau bisa mengatasinya. Yang di sini serahkan saja padaku. Jika ada perkembangan lebih lanjut aku akan langsung menghubungimu."

Ichigo mengangguk, "Terima kasih."

Dengan begitu, layar menjadi sedikit buram, sebelum menampakkan warna hitam seperti sedia kala. Ichigo menoleh ke arah Hiyosu yang masih sibuk mencatat hal-hal penting di kertasnya sementara para peneliti lain yang sejak tadi menunggu memperhatikan Ichigo dengan cermat.

"Aku tertolong berkat bantuanmu, Hiyosu."

"Ah, tidak masalah."

Untung saja pria itu tidak ganas seperti para peneliti lainnya. Ichigo melompat ke atas pagar di depan Rukia dalam sekejap.

"Sudah selesai dengan urusan sialanmu?"

"Kalau tidak dalam mode bekerja, rasanya mulutmu menyebalkan, ya, Akon," komentar Ichigo.

Dia menatap Rukia yang menghampirinya. "Apa ada yang terjadi?"

"Berita buruk. Mayat Candice yang diotopsi Urahara-san ternyata menyimpan peledak di otaknya. Dia bilang mungkin semua pasukan sudah ditanamkan peledak agar tak ada informasi yang bocor."

Mata Rukia melebar, "Kejam sekali."

"Aku akan langsung menyampaikan hal ini pada Profesor, jadi serahkan saja padaku."

"Ya, aku mengandalkanmu, Akon."

Setelah mengatakan itu, Ichigo menarik tangan Rukia begitu saja ke arah lorong menuju pintu keluar. Sebenarnya Ichigo masih kesal karena dia pikir bisa mendapatkan sesuatu dari mayat Candice yang dibunuhnya beberapa waktu lalu. Kesabaran juga penting, karena menghadapi para psikopat begitu tidak bisa tanpa menggunakan otak. Mereka berjalan kembali melewati jalan utama gerbang timur yang sisi kirinya ditumbuhi pepohonan lebat menuju barak Shinigami Kelas A ketika Rukia tak bisa menahan diri untuk bertanya.

"Sejak tadi ada yang kupikirkan."

Ichigo menoleh, "Apa?"

"Aku sedang bersiap jika kau akan bershunpo lagi, tapi kau malah tidak melakukannya."

"Serius sedikit, apa kau mau aku melakukannya sekarang?" balas Ichigo, sweatdrop saat gadis itu bicara dengan polos.

"Sebenarnya aku penasaran, kenapa kau baru panik beberapa saat yang lalu dan bersikeras untuk menyerang para Sternritter?" Rukia mendongak saat bertanya.

Ichigo berdeham, mengalihkan pandangannya ke samping, "Itu karena..."

"Karena? Karena apa?"

Kening Ichigo mengkerut dalam ketika Rukia berjinjit menuntut untuk melihat wajahnya. Sekelebat warna merah tampak di pipi pria itu yang berusaha dia tutupi dengan sebelah tangan.

"Kenapa? Cepat katakan padaku," Rukia menarik-narik kemeja Ichigo.

"H-Hei, hentikan, Rukia! Kenapa tiba-tiba kau begitu penasaran, sih? Jangan menatapku seperti itu!"

"Wajahmu memerah, hoho manis sekali."

"Apa kau sedang mengejekku sekarang?"

"Aww! Sakit!"

Kedua tangan Ichigo mencubit pipi Rukia gemas saat gadis itu menyeringai geli. Hampir menertawakannya karena telah memerah di hadapan seorang gadis. Menurut Rukia itu tadi sisi manis yang jarang dilihatnya dari Ichigo.

"Berhenti mencubitku!"

"Tadi itu..."

Rukia terdiam begitu Ichigo bicara. Wajahnya melar karena tangan pria itu masih berada di pipinya.

"...Aku hanya sedang memikirkanmu. Membayangkan kau pergi karena kami terlambat bertindak adalah hal yang menakutkan. Karena itu aku ingin kau mendapatkan apa yang seharusnya kau dapatkan, yaitu penjagaan yang layak."

Mendengar itu, Rukia tertegun. Hazel Ichigo hanya menatapnya, tapi itu terasa sangat hangat. Pria itu memikirkannya? Rasanya itu sedikit...

"Kau mengerti, kan? Aku hanya khawatir."

Pipi Rukia sedikit memerah saat Ichigo melepas tangannya. Kening pria itu mengkerut, bermuka masam, sementara Rukia tak bisa melakukan apapun selain membalikkan tubuh darinya. Penjagaan yang layak? Dia bahkan sudah tak memikirkan itu saat Ichigo ada bersamanya.

"Dasar kekanakan."

"Apa? Hei, apa yang kau katakan barusan? Kembali ke sini, Rukia!"

Rukia yang berlari menjauh menoleh padanya hanya untuk menjulurkan lidah, mengejek Ichigo yang sudah di ambang batas dan hampir berlari agar bisa membalasnya. Tepat saat Ichigo mulai mengambil langkah, Rukia mendapati sebuah bayangan di atasnya. Dia terkejut, tak bisa menghindar saat tubuhnya bertabrakan dengan seseorang dengan keras.

"Aww!"

"Rukia!"

Keduanya sama-sama terjatuh. Rukia mengusap pantatnya yang perih karena menubruk paving sambil mengernyit sakit ketika Ichigo berteriak di belakangnya.

"Maafkan aku, apa kau terluka?"

Rukia membuka sebelah mata, melihat sebuah tangan besar terulur untuk membantunya. Saat melihat ke atas, dia menemukan rambut mencuat yang berwarna hitam. Ada bibir yang sedang tersenyum lembut padanya. Aneh, wajah itu rasanya sangat tidak asing. Rukia memiringkan kepalanya, berpikir keras sebelum membelalak dan menunjuk hidung orang itu tanpa pikir panjang.

"I-Ichigo berambut hitam?!"

.

To be Continued

.


Author's note :

Yayy! Chapter 8 is done! Ada beberapa tokoh yang muncul di sini, tapi belum semuanya karena tau-tau udah lebih dari 4000 kata hehehe untuk sisanya akan Yuuka serahkan di chapter berikutnya! Sebenarnya karakter Bambietta agak beda dari manganya. Sadis-sadis gitu dia sebenernya peduli sama temannya lho. Lembaga I.P.P.S muncul di sini! Yuuka mengangkat tokoh Akon menjadi seseorang yang karakternya suka membubuhkan kata 'sialan' seperti yang udah ada di atas (kecuali kalo lagi bekerja serius), tapi buat Hiyosu, dia orang yang lebih nggak peduli sekitar gitu. Bisa dibilang ini chapter selingan dari jalan utama ceritanya, biar nggak terlalu serius. Ups, siapa yang ditabrak Rukia di bagian akhir ya? Ada yang bisa menebak? *ketawa misterius* Yuuka ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dari dukungan kalian baik yang sudah membaca, mereview, memfollow atau memfav cerita ini. Kritik dan saran sangat diterima! Terakhir tapi bukan terakhir, tell me what you're thinking?

Balasan bagi yang tidak log in:

BLEACHvers : wah, terima kasih karena udah ngikutin ceritanya dan mereview *-* benar sekali! Latar untuk chapter ini (dan mungkin juga chapter depan) bakal ada di Soul Society. Makasih semangatnya yaa

Kurosaki2241 : makasih reviewnyaa ^^ IchiRuki udah kelihatan kok suka-sukanya hehe ini udah update. Makasih semangatnya yaa

uki : makasih atas reviewnya! :3 iya cerita ini kelanjutannya masih panjang, semoga kamu suka ya ^^ ini sudah update

BLEACHvers : wow, apa ini guest yang berbeda? Kenapa ada dua BLEACHvers di sini? Haha pokoknya makasih karena udah mereview *-* chapter ini tokohnya masih sebagian, yang lain akan muncul di chapter depan. Ikutin terus ceritanya ya!

Ina : waaaa Ina-san ketemu lagi! Makasih reviewnya yaa ^^ aduh aku ini masih newbie yang nekat nyoba multichap hehe. Ini udah update. Wah kalo itu sih... ehm... *tersenyum misterius. Haha pokoknya lihat aja deh di chapter depan ha ha ha *ditabok