Disclimer : Bleach hanya milik Tite Kubo seorang
―bukan punya Yuuka―
.
.
.
Warning : Typo (yang selalu nongol), AU, contains fantasy terms, curse words, semi-canon, Gaje (Yuuka serahkan pada Readers semua, DLDR
.
' When was the last time you thought the world was fair to you?'
.
Enjoy and happy reading !
...
The Half-Blood
Akimoto Yuuka
Eh?
Tunggu sebentar. Rasanya dia pernah melihat kejadian ini sebelumnya?
Tepat setelah Rukia bersuara lantang, tak ada seorang pun yang bergerak di tempatnya. Di belakang, Ichigo memijit pangkal hidung, berpikir kenapa dia muncul sekarang di antara banyak waktu. Kawasan bangsawan ada di gerbang barat, urusan apa yang membawanya kemari? Memang, banyak yang bilang mereka mirip. Karena itulah dia tidak suka. Sebenarnya, siapa yang sedang dibicarakan di sini?
Tentu saja, Shiba Kaien!
Rukia yang matanya membelalak langsung menutup mulutnya cepat-cepat. Sikap apa barusan itu? Sangat tidak sopan! Seenaknya menunjuk orang begitu benar-benar―
"Apa kau baik-baik saja? Bisa berdiri?"
"Ah, ya...," gadis itu terkejut, menerima uluran tangan pria di depannya dengan ragu. "Terima kasih."
Pria itu tersenyum, "Sama-sama."
Tapi, kalau dilihat-lihat, mereka memang mirip. Bedanya, mata Ichigo lebih tajam, rambutnya oranye dan ada kerutan permanen di pertengahan dahinya, sedangkan pria ini... sama sekali berkebalikan.
"Aku belum pernah melihatmu sebelumnya, apa kau orang baru?"
Rukia bergumam, mengkerutkan kening saat pria itu memiringkan kepalanya. Ya, itu bukan oranye tapi hitam, dengan mata yang tampak ramah, iris kelabu dan bibir yang sedang tersenyum. Dia lebih seperti Ichigo versi baik. Rukia membuka mulut.
"Aku―hmph!"
"Ah, maaf. Aku lupa memberitahumu untuk tidak bicara pada orang asing."
Tiba-tiba saja Ichigo sudah muncul di belakangnya, menutup mulut Rukia dengan sebelah tangan. Dia menatap super tak suka pada Kaien yang hanya berkedip polos―baru sadar kalau ada Ichigo di sana.
"Hei, lepaskan ta―bmph!"
"Rukia, diamlah."
Tidak bisa bernapas, bodoh!
"Jangan menggigitku!"
"Ah, misi dari Komandan ternyata membawamu lebih lama dari yang kukira. Kau juga masih menggunakan gigai-mu, hmm... sepertinya kau masih berhubungan dengan geta-boshi itu, ya?" Kaien berkomentar saat melihat mereka berdua berkelahi, tapi sesaat kemudian senyumnya muncul. "Nah, lupakan soal itu, apa kalian ini saling kenal?"
Ichigo yang sedang memelototi Rukia langsung menoleh dengan kesal, "Huh?!"
"Namamu Rukia, kan?" Kaien membungkukkan tubuhnya. "Kurasa kau memang bukan dari Seireitei. Tapi melihat Ichigo bisa akrab dengan seorang gadis lebih mengejutkan dari yang itu. Apa ini? Pacarmu, ya?"
Wha―?! Pa... Pacar?!
Tepat sasaran. Rukia tak bisa berkata-kata lagi.
"Geez. Jangan terlalu menempel pada masalah orang lain. Kuperingatkan kau, Kaien," Ichigo menarik gadis itu lebih dekat. Terkadang bicaranya mirip seperti Urahara, bedanya Kaien lebih suka terlibat dalam masalah―terutama jika itu tentang dirinya―bukan hanya melihat dari luar seperti yang biasa Urahara lakukan.
Mendengar itu, alis Kaien naik sebelah, "Aku tidak bisa menahan rasa penasaranku, karena baru kali ini kau terlihat bersama dengan seorang gadis."
Ichigo terdiam, matanya menatap Kaien tidak suka, "Berhenti mencampuri urusan orang lain. Kita pergi, Rukia."
Rukia tidak mengerti. Kenapa hubungan mereka rasanya tidak akur begitu? Bukan berarti Ichigo ramah pada semua orang, tapi ini berbeda. Selain itu... namanya Kaien? Mereka seperti punya ikatan yang lebih dari sekedar teman. Kalau dia bilang begitu, Ichigo mungkin tidak akan mengakuinya. Bahkan saat dia menoleh ke belakang, dia masih bisa melihat senyuman di wajah pria itu.
―Yuuka desu―
"Kau tidak pernah bilang kalau kau punya saudara."
Sebenarnya, Rukia tak ingin mengatakan apa-apa, tapi melihat sikap Ichigo yang masih tak mau bicara membuatnya kesal. Jelas-jelas tadi itu ada yang aneh. Well, meskipun ini tak ada hubungannya dengan gadis itu, tapi mulutnya gatal ingin bertanya. Ichigo yang sedang mencari sesuatu di rak sore itu tidak menoleh, dia hanya bergumam samar.
"Sepertinya kemarin masih ada di sini... dimana aku meletakkannya...?"
Baiklah, itu menjengkelkan.
CTAK!
"Tch! Sakit, Rukia!" Ichigo menoleh dengan kesal, mendapati sebuah kerikil dilempar ke kepalanya. Di beranda, dia bisa melihat Rukia menyipitkan mata dengan aura mematikan. "Bisakah kau tidak melakukan itu?"
"Aku tak punya pilihan, kau membuatku kesal."
Ichigo mendesah, bangkit dari tempatnya dia berjalan pelan untuk duduk di sana, bergabung dengan Rukia yang masih merucutkan bibir. Langit yang kemerahan menandakan sore yang cerah di Soul Society hari itu.
"Sudah kuduga itu mengganggumu."
Rukia melirik ke samping.
"Aku tidak menyukainya, jadi jangan dekat-dekat dengannya, mengerti?"
"Mengerti apanya? Bagian mana yang membuatmu tidak su―mm!"
Sadar bahwa Ichigo memasukkan sesuatu ke mulutnya, Rukia refleks mundur ke belakang, menutup mulutnya dengan dua tangan. Tch, apa masalahnya? Entah sudah berapa kali dia menyela saat Rukia sedang bicara hari ini.
Hm? Tapi itu... seperti permen?
"Perutmu sakit, kan, karena tadi aku banyak melakukan shunpo. Itu obat ringan yang kudapat dari Hanatarou saat aku sakit perut beberapa waktu yang lalu," jelas Ichigo, mengusap sudut bibir Rukia dengan ibu jari.
Bahkan di saat seperti ini masih bisa khawatir tentang itu. Tapi, permen ini rasanya seperti buah jeruk. Rukia memalingkan wajahnya ke samping, ke arah bonsai yang ditanam di pot sebelah kolam ikan koi sambil menggumamkan terima kasih.
"Katakan, Ichigo," Rukia membuka mulut. "Apa yang dilakukan pria bernama Kaien itu yang membuatmu sampai membencinya?"
"Dasar keras kepala," komentar Ichigo membuatnya merucutkan bibir sekali lagi. Pria itu menatap langit, "Yah, bukan berarti aku benci atau hal semacam itu, hanya saja... kami selalu seperti ini, sejak dulu. Kami tidak pernah akrab dan aku tidak merasa harus akrab dengannya. Terkadang saat kau tidak menyukai seseorang, kau hanya perlu mengabaikannya, kan, mengerti maksudku?"
"Mengabaikannya... kau bilang," Rukia menggumam sambil melipat tangannya. "Kau sudah lama mengenalnya, kan?"
Ichigo hanya menyipitkan mata, mendengus seakan benar-benar sangat tidak ingin membahas topik itu sekarang. Yang bisa Rukia lakukan hanya menghela napas. Dia mengibaskan satu tangannya.
"Baiklah, tidak cerita juga tidak apa-apa."
"Yang terpenting, malam ini aku ada urusan jadi aku akan pergi sebentar. Dan untukmu," Ichigo menunjuk-nunjuk hidung Rukia dengan jarinya, "kau dilarang meninggalkan tempat ini sampai aku kembali."
"Memangnya kau mau kemana?" Rukia menyingkirkan jari Ichigo dengan kesal dan seketika itu wajah pria itu menjadi serius.
"Masih ada hal yang harus kulakukan."
Selama tiba di Soul Society, Rukia sadar masih banyak hal yang belum dia ketahui. Dia berjalan di taman barak Shinigami Kelas A malam itu, kakinya yang terbalut geta lembut menginjak rerumputan yang basah. Dia merekatkan mantel yukatanya. Ini... tidak berbeda jauh dengan Karakura, tapi kenapa dia merasa begitu asing? Langit, bintang, aroma, semua yang bisa dia rasakan hanyalah ketidakpastian. Jika dia bilang ini hanya masalah waktu, apakah suatu hari nanti perasaannya juga akan berubah?
Rukia mendesah, melewati ruang pertemuan yang pintunya tertutup rapat. Saat berjalan di lorongnya, dia bisa mendengar suara orang-orang dari dalam.
"Bahkan seseorang seperti Kurosaki-sama melindunginya dengan hati-hati, kira-kira dia itu orang yang seperti apa?"
"Dia hanya gadis lemah yang memiliki darah penyihir."
"Tapi jelas-jelas dia diperlakukan secara istimewa begitu."
"Tidak perlu iri pada orang seperti itu, klan yang menerima kutukan dari Yhwach adalah pertanda kehancuran dunia."
"Hei, jangan menyebut namanya!"
"Ah, shimatta!"
Rukia berhenti di sisi gelap lorong, menunduk. Jadi karena ini Ichigo melarangnya untuk pergi keluar? Dia sudah tahu dari awal, bagaimana pandangan orang-orang saat dirinya masuk ke gerbang Seireitei. Mereka membencinya. Lebih dari itu, dia sadar kenapa Ichigo tidak membiarkan dia mengatakan nama lengkapnya. Saat mereka mendengar nama Kuchiki, reaksinya mungkin akan sama dengan yang diperlihatkan Akon, atau bahkan lebih buruk dari itu.
Aku juga tidak menginginkannya, tapi apa yang bisa kulakukan?
Sembari mengetukkan kakinya kesal, Rukia berjalan maju sehingga hampir menabrak seseorang.
"Maaf―"
Matanya melebar saat melihat siapa yang sedang berdiri dan membungkam mulutnya dari depan. Sambil menaruh telunjuknya di depan bibir, dia berbisik.
"Ssshhh... ikut denganku sebentar?"
Rukia tak bisa berkata-kata, tanpa sadar dirinya sudah berada di gendongan lengan yang tegas, membawanya melewati angin ke atas sebuah bukit menjorok yang dia ingat berada di seberang gedung I.P.P.S, gerbang timur tepat di sebelah hutan. Bukit Sokyoku.
"Kenapa kau membawaku kemari?"
Angin sedikit kencang di atas sini, Rukia menyandarkan punggung ke batang pohon saat bertanya. Dia bisa melihat perbedaan yang besar ketika memandang punggung orang yang telah menculiknya itu. Sementara angin memainkan rambutnya yang berwarna kelam, iris kelabu itu memandangnya tersenyum.
"Bukit Sokyoku," dia berkata. "Kau lihat tiang besar yang di sana itu? Itu adalah tempat untuk melaksanakan eksekusi mati."
"Huh?"
Dia tak mengerti, tapi orang itu terus bicara.
"Di depan semua pasukan elit Soul Society dan petinggi kekaisaran, tak peduli seberapa tinggi pangkat mereka, orang-orang yang dianggap bersalah selalu dipertontonkan untuk menunjukkan betapa memalukannya mereka. Tiang yang menjadi kuburan bagi mereka yang tidak menaati aturan, hanya untuk itu semua ini dibuat." Orang itu berbalik, "Ichigo... pernah hampir dipasung di sana."
Rukia tak langsung menjawab, karena dinginnya udara malam telah mengambil sebagian kerja otaknya yang kelelahan. Tapi violet yang melebar itu telah menyampaikannya dengan sangat baik.
"...Apa maksudmu, Kaien-san?"
―Yuuka desu―
"Lupakan soal itu, Hisagi, periksa saja semuanya."
Bersandar pada sofa, Hisagi Shuuhei mendesah, "Apa kau yakin? I.P.P.S mungkin menyadari sesuatu kali ini karena tak ada hal yang bisa disembunyikan dari mereka."
"Aku tak yakin mereka akan tahu kalau tak ada diantara kalian yang mengadukannya," Ichigo membalas dengan sarkasme, membuat semua yang ada di ruangan itu memandangnya kesal.
"Hoi, berhentilah meremehkan kami, sikapmu yang biasanya sudah sangat menyebalkan dari pada yang sekarang," protes Madarame Ikkaku. Pria berkepala botak itu menunjuknya berulang-ulang. "Padahal sudah susah-susah aku mencari data itu."
"Dia benar, Ichigo, sudah lima hari, apa yang akan kaulakukan? Central 46 juga sudah menyetujui rencana I.P.P.S. Melihat perkembangan dari Dunia Manusia, rasanya akhir-akhir ini aku merasakan tekanan yang kuat sedang menuju kemari."
"Itu mungkin hanya Raja Jerman Barat yang membawa pasukan berjumlah besar, jangan khawatir."
Hirako Shinji yang baru datang dari jendela samping tiba-tiba masuk begitu saja dalam percakapan, menanggapi kata-kata Shuuhei. Seketika semuanya menoleh.
"Hirako?! Kau menguping, ya?" tuduh Ikkaku, alisnya menukik terlalu dalam.
Pria berwajah santai dengan potongan poni miring itu tersenyum lebar, "Ah, itu hanya perasaanmu saja, kok. Aku hanya kebetulan lewat sini, ngomong-ngomong geser sedikit, aku bisa melihat matahari kedua terpantul di kepalamu."
"Jangan mengejekku!"
"Datang tanpa permisi memang sudah jadi kebiasaanmu, ya? Jadi, apa maksud ucapanmu tadi itu, Shinji?"
Ichigo yang pertama melerai pertengkaran mereka siang itu. Entah keperluan apa yang sampai membawa Ketua Vizard kemari, tapi jika itu berhubungan dengan masalahnya sekarang, sepertinya itu bukan hal baik. Sementara Shinji memandangnya serius, kata-katanya keluar begitu saja tanpa perasaan.
"Yang kubicarakan di sini adalah Yhwach, dia sedang membawa orang-orangnya kemari dalam waktu dekat, untuk menjemput gadis itu."
"A-Apa? Orang itu?!"
"Oi, Oi, yang benar saja..."
Semua yang ada di ruangan itu terkejut, kecuali Ichigo―yang ekspresinya semakin berubah suram. Dia menghela napas berat, duduk di meja dengan lembar copy-an data Hiyosu yang sengaja diincarnya beberapa hari yang lalu―saat dia pergi ke gedung I.P.P.S untuk bicara dengan Urahara. Sejak melihatnya dia semakin yakin bahwa ada yang sedang direncanakan oleh para peneliti itu... dan juga Central 46.
Menyadari keganjalan ini, Ichigo langsung pergi menemui dua ajudannya―Shuuhei dan Ikkaku―dan langsung memberikan perintah. Itu adalah malam dimana dia meninggalkan Rukia di barak Kelas A. Data yang dibawa Ikkaku adalah salinan data asli, yang diambilnya secara diam-diam dari ruangan Hiyosu. Melihat ada kemungkinan ketidakhadiran Kurotsuchi Mayuri waktu itu ada kaitannya dengan rencana bom bunuh diri yang akan ditanamkan pada tubuh Rukia, Ichigo langsung mengambil tindakan. Dia tak akan terkejut jika Central 46 menyetujui hal ini, tapi yang tidak sampai di pikirannya adalah, kenapa Komandan Yamamoto juga ikut terlibat?
Sadar apa yang sedang dipikirkan Ichigo, Shinji hanya bisa mengangkat bahu. "Lupakan soal gadis itu dan berhentilah melakukan hal ini. Aku tidak mengerti, Ichigo, apa yang membuatnya begitu istimewa di matamu? Kau sudah tahu sejak dulu keberadaan Kuchiki adalah untuk dihancurkan, satu-satunya hal yang bisa kau selamatkan sekarang hanyalah Soul Society."
Ichigo hanya terdiam, dia tahu ini tidak berguna. Alasan sebenarnya kenapa Rukia dibawa ke Soul Society, yang tidak diketahui selain oleh para Shinigami... bahkan klan Kuchiki sendiri pun tak tahu mengenai ini, adalah kematian.
"Aku tidak akan mengorbankan Rukia hanya untuk alasan bodoh semacam itu," dia mengeratkan kepalannya. "Itu hanya cara yang dilakukan oleh sekelompok orang-orang pengecut, dengan mengambil cara termudah dengan mengorbankan seseorang."
"Jangan sok suci begitu di hadapanku," Shinji menatapnya tajam. "Apa kau sadar, kau juga salah satu dari sekelompok pengecut itu. Sebelum bertemu dengan gadis itu, bahkan sebelum dia lahir, kau menganggap semua Kuchiki sama dan tidak peduli bagaimana mereka kau juga setuju dengan pandangan itu."
Ichigo sedikit terkejut, reaksi itu sudah diperkirakan Shinji sebelumnya. Saat tak satupun di antara Shuuhei atau Ikkaku yang berani menyela, pria berponi miring itu melanjutkan.
"Kuchiki harus dihancurkan, itu pelajaran dasar yang didapatkan saat masuk ke Akademi dan semua Shinigami menanamkannya dalam pikiran mereka hingga mati. Apa kau juga akan melanggar aturan ini? Dia Kuchiki terakhir yang memiliki darah kutukan, berpikir untuk menyelamatkannya dari awal saja sudah mustahil, apalagi kami semua tahu darah itu berasal dari orang lain," ujarnya. "Takdirnya adalah untuk mati."
"Hirako, sudah cukup, tekanan ini jika dilanjutkan akan―"
"Aku tahu."
Kata-kata Shuuhei terpotong di tengah jalan, Ichigo dengan mata menyala terang menatap Shinji yang masih menantangnya dengan tatapan tajam.
"Aku tahu... tapi aku hanya tak bisa meninggalkannya sendirian."
Dengan itu, Ichigo pergi dengan membanting pintu. Menyalurkan kekesalan dan rasa frustasinya yang bisa dengan jelas dirasakan semua orang yang ada di barak Shinigami Kelas B, yang langsung bergidik begitu tahu reiatsu milik siapa yang sedang berkobar-kobar itu. Di dalam ruangan yang ditinggalkannya, Shinji hanya bisa menghela napas.
―Yuuka desu―
"Kau baik-baik saja, Rukia?"
"Hmm..."
Rukia yang sedang melamun di atas rerumputan bukit Sokyoku siang itu berkedip pelan, mendapati Kaien duduk di sebelahnya setelah berlama-lama memandang langit. Sejak kejadian malam itu, Kaien jadi sering mempergokinya, sering membawanya ke sini, karena dia tahu inilah satu-satunya tempat yang bisa membuat Rukia tenang.
Di sisi lain, Rukia tak menolak. Dia sering sendirian di barak Kelas A sekarang, semenjak Ichigo terlalu sibuk dengan 'urusan'nya itu. Menatap wajah Kaien, dia ingat apa yang mereka bicarakan lima hari yang lalu di sini.
"Apa maksudmu... Kaien-san?"
Dengan ekspresi penuh curiga, gadis itu bertanya. Baru kali itu mereka bisa bicara dengan benar, karena terakhir kali adalah waktu Ichigo kesal dan membawanya kabur begitu saja.
"Jangan termakan oleh penampilannya, dia itu Shinigami yang suka sekali membuat onar," Kaien tertawa. "Entah berapa aturan yang sudah dilanggarnya. Yang terakhir adalah yang paling buruk, karena dia hampir saja membunuh salah satu kepala klan terkuat di Seireitei."
"Membunuh?!"
"Itu karena dia keras kepala. Yah, aku juga tak bisa menyalahkannya, karena suatu alasan dia tak bisa menerima perbudakan rakyat Rukongai yang semakin terpuruk. Dimanfaatkan oleh orang yang berkuasa, diperjualbelikan, seperti itulah."
"Aku benar-benar tidak bisa membayangkannya."
"Melanggar perintah memang sudah sifatnya, entah apa yang ada di kepalanya itu."
Aku hampir tak tahu apa-apa tentang Ichigo, pikir Rukia waktu itu, terkejut. Dia menatap Kaien dengan tajam.
"Apa hubunganmu dengan Ichigo?"
Awalnya Kaien diam, berpikir, sebelum melihat kesungguhan dalam mata gadis itu dan menjawabnya.
"Dulu, kami keluarga."
Setelah itu... dia tidak berkata apa-apa lagi. Ugh, jawabannya benar-benar berbeda dari Ichigo. Jadi itu sebabnya mereka mirip, tapi apa maksudnya dengan keluarga? Dari buku yang dia temukan di rak kecil Ichigo, Kaien adalah salah satu anggota inti klan Shiba yang sangat berpengaruh di Seireitei. Dia seorang bangsawan. Tidak mengejutkan jika dia akrab dengan seorang Kelas A, tapi... keluarga? Otaknya tak menyimpulkan sampai sejauh itu. Ada apa dengan hubungan yang rumit ini?
Sekarang, mereka duduk di bukit Sokyoku, tanpa sepengetahuan Ichigo. Sudah lima hari ini Rukia mengabaikan perintah pria itu untuk tinggal di barak. Dia suka memandang langit di bukit itu, dan sampai saat ini Kaien selalu menemaninya.
"Apa? Kenapa kau memandangku seperti itu?" Kaien menyentil dahi Rukia dengan telunjuknya, membuat gadis itu mengaduh. "Berpikir yang aneh-aneh, ya?"
"Huh? Aneh-aneh apanya?"
Sikapnya yang berlawanan dengan Ichigo itu yang membuatnya sedikit tak terbiasa. Kaien begitu periang, berbeda sekali dengan Ichigo yang selalu memasang wajah kesal atau datar tanpa ekspresi. Saat pertama kali bertemu, pria itu bahkan tidak membantu dan malah mengatainya dengan kata-kata pedas, kejadian yang sama terulang saat Rukia bertemu dengan Kaien. Meski Rukia menunjuknya dengan tidak bertanggung jawab, pria itu masih tersenyum dan mengulurkan tangan padanya. Kalau mengingatnya, Rukia tak habis pikir.
"Kau sangat berbeda darinya."
"Ya, kalian bisa bilang kalau kami mirip, tapi sifat kami berbeda seratus delapan puluh derajat," jawab Kaien. "Kau selalu terganggu dengan itu."
"Tentu saja," Rukia mengkerutkan kening mendengar kata-kata Kaien. "Kau sangat baik, ramah dan selalu mengerti perasaan orang lain, kalau Ichigo justru sebaliknya. Dia selalu marah-marah, melarangku ini dan itu, tak pernah peduli pada yang orang-orang pikirkan dan bertindak semaunya sendiri. Menyebalkan."
Kaien tertawa, "Benarkah? Baru kali ini ada orang yang mengatakannya terus terang padaku," dia menggaruk kepalanya. "Tapi... entah kenapa aku merasa iri dengan Ichigo."
"Iri?"
"Bukankah itu artinya kau selalu memperhatikannya selama ini?" ujarnya. "Kau begitu mengerti dirinya."
Mendengar itu, pipi Rukia bersemu kemerahan, "B-Bukan begitu, karena sering bersamanya aku jadi..."
Kaien tersenyum, mengelus kepala Rukia dengan sebelah tangannya, "Itu... hal yang bagus, kan?"
Jantung Rukia berdegup kencang, Kaien terlihat sangat dewasa jika tersenyum seperti itu, mirip sekali dengan Ichigo. Tapi, Ichigo tidak pernah tersenyum dengan cara yang sama dengannya.
Sudah kuduga mereka memang berbeda.
"Dunia ini juga sangat berbeda... dari tempat yang selama ini kutinggali."
Mendengar itu, senyum Kaien memudar. "Rukia, kau adalah Kuchiki, kan? Kudengar, klan Kuchiki adalah klan yang keberadaannya sangat berpengaruh di sana."
"Ya, entahlah... di sini tidak seperti itu. Aku merasa seperti mengulang semuanya dari nol," kata Rukia, menyilangkan kakinya di bawah. "Memang tidak mudah untuk mengubah pandangan orang lain, tapi terus berusaha adalah satu-satunya yang bisa kulakukan. Aku sudah menetapkan keputusanku."
"Ho... manis sekali," goda Kaien. "Sepertinya kau akan membawa dampak yang besar untuk Ichigo."
"Apa maksudmu dampak yang besar?"
Kaien menatap wajah penasaran Rukia yang sangat polos, sebelah tangannya menepuk kepala gadis itu dua kali.
"Setiap pria punya alasan kenapa dia menyukai seorang gadis, bahkan jika itu orang yang pikirannya sangat sederhana seperti Ichigo."
"Huh?" dengan kesal Rukia menyingkirkan tangan Kaien dan melirik ke samping dengan pipi bersemu merah. "Lagi-lagi kau mengatakan sesuatu yang aneh, Kaien-san."
"Kaulah satu-satunya yang aneh karena tidak menyadari hal itu, Rukia."
Gadis itu mendongak, melihat Kaien tersenyum lembut padanya. Bicara dengan Kaien selalu mudah, dia begitu dewasa, baru kali ini Rukia bisa merasa akrab dengan seseorang di Soul Society. Satu-satunya yang tidak mencibir atau membicarakan dirinya di belakang, sementara yang lain terlalu sibuk untuk menghakimi dirinya yang merupakan keturunan Kuchiki. Tapi Kaien sama sekali tidak begitu, karena dia menghargai Rukia seperti dia menghargai orang-orang di sekitarnya.
Tapi, itu hanya pendapat Kaien-san. Bahkan Ichigo tak pernah bilang dia menyukaiku. Aku juga sama saja.
Setelah kembali ke barak, Rukia menemukan Ichigo duduk di beranda dengan kepala menunduk. Sejak sering keluar, mood Ichigo selalu buruk. Dia akan kembali dengan wajah penuh masalah dengan kerutan dalam dan aura mematikan, selain itu...
Ada apa dengan atmosfer yang berat ini?
"Kau terlambat."
"Ah, itu..."
Rukia tersenyum kaku, menggaruk sebelah pipinya saat Ichigo menatapnya seperti menuduh. Tak ada yang bisa pria itu lakukan selain menghela napas. Dia tahu Rukia tak akan menurut jika dia suruh gadis itu untuk diam. Benar-benar gadis yang keras kepala.
Tak biasanya Ichigo seperti ini. Rukia mendekatinya dengan langkah pelan, "Ichigo, ada apa?"
Ichigo hanya menggeleng, meremas rambutnya dengan sebelah tangan, masih menunduk sehingga Rukia tak tahu apa yang sedang dia pikirkan. Setelah cukup dekat dengannya, baru Ichigo mendongak, memperlihatkan tatapan yang sulit diartikan. Apa dia baru mendapatkan kabar buruk?
"Rukia."
Tangan Ichigo meraihnya, menyembunyikan wajah yang tak berdaya itu di perutnya. Rukia terkejut, baru kali ini dia melihat Ichigo yang menunjukkan ekspresi seperti itu. Jemarinya yang dingin bergerak untuk mengelus rambut pria itu, merasakan kelembutan, juga kehangatan yang sepertinya sudah lama tidak disentuhnya.
"Apa yang terjadi, Ichigo?"
"Aku hanya lelah," jawabnya setelah jeda panjang. Lengannya memeluk pinggang Rukia semakin erat.
Rasanya ada sesuatu yang tidak benar. Kenapa pria itu tidak mau memberitahu apa-apa?
"Ichigo, sebenarnya―"
"Rukia."
"Y-Ya?"
Sesaat setelah jeda, Ichigo menghela napas pendek, "Malam ini tidurlah denganku."
"..."
"..."
"...Ya?"
.
To be Continued
.
Author's note :
Gwaaahhh! Lagi-lagi telat lagi ya, Yuuka... tee-hee, gomen ne, minna :3 chapter ini lebih pendek dari yang biasanya. Sepertinya udah ketebak ya? Kaien muncul juga, hehe walaupun masih sedikit, untuk beberapa chapter depan dia akan terus muncul ^^ Di sini bakal Yuuka jelasin sedikit tentang pembicaraan Hirako dll. Awalnya, di chapter sebelumnya Ichigo udah sempet curiga gara" Mayuri nggak ada di I.P.P.S karena biasanya dia nggak pernah absen, trus waktu dia minta Hiyosu buat ngecek siapa aja Sternritter yang pernah diotopsi, dia ngintip dokumen yang dia yakin sengaja disembunyikan dari dia. Yaitu, rencana penanaman bom bunuh diri di tubuh Rukia. Jadi Ichigo nggak bisa tenang dan dia minta tolong Ikkaku buat meng-copy dokumen itu. Ichigo yakin kalau Central 46 dan I.P.P.S memang sengaja berkomplot, tapi kalau soal Yamamoto, dia bener-bener kaget karena dia pikir Yamamoto ada di pihaknya. Karena kayaknya nggak ada yang setuju meski Ichigo menentang keputusan itu gara" dari awal udah ada aturan bahwa Kuchiki diciptakan untuk dihancurkan, demi keselamatan ketiga dunia. Kalau nggak ada Kuchiki, Hogyoku nggak akan bisa dibangkitkan. Yup, kira-kira seperti itulah, semoga semua bisa tersampaikan pada pembaca sekalian ya! Huhu Yuuka takut kalo tiba-tiba kena WB, padahal belum sampe perang. Yuuka ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dari dukungan kalian baik yang sudah membaca, mereview, memfollow atau memfav cerita ini. Dan minta maaf yang sebesar-besarnya dengan update yang tidak pada tempatnya ini. Kritik dan saran sangat diterima! Terakhir tapi bukan terakhir, tell me what you're thinking?
Balasan bagi yang tidak log in:
Kurosaki2241 : makasih udah mereview :) yup! Itu Kaien! Ini sudah Yuuka update, semoga kamu menikmatinya ya. Yuuka akan berjuang!
nayasant japaneze : waaa benar sekali! Kaien muncul di sini, setelah sekian lama akhirnya... TAT terima kasih reviewnya ^^ ini udah update, silakan dibaca ya~
BLEACHvers : makasih reviewnya ^^ sebenernya Yuuka udah kepikiran lama buat masukin karakter Kaien, dibandingkan yang lain Yuuka lebih cocok sama kembaran Ichigo satu ini hihi yosh, ganbarimasu!
je je : terima kasih sudah mereview je je-san :3 Yuuka suka Kaien, jadi Yuuka masukin jadi saingannya Ichigo di sini. Ini udah update, semoga je je-san suka ya
Ina : holaaaa Ina-san! Makasih reviewnya ^^ hoho ini belum keluar kok terus ikutin perkembangan selanjutnya ya hehe ini sudah update, terima kasih karena udah ikutin ceritanya dari awal semangat!
