Disclimer : Bleach hanya milik Tite Kubo seorang
―bukan punya Yuuka―
.
.
.
Warning : Typo (yang selalu nongol), AU, contains fantasy terms, curse words, semi-canon, Gaje (Yuuka serahkan pada Readers semua), DLDR
.
' To achieve peace, something must be sacrificed.'
.
Enjoy and happy reading !
...
The Half-Blood
Akimoto Yuuka
"Malam ini tidurlah denganku."
"...Ya?"
Rukia mengerjap dua kali, bingung. Apa maksudnya dengan 'tidur denganku'? Yah, sebelumnya mereka memang sudah sering tidur bersama, tapi Ichigo tak pernah meminta ijin untuk itu. Di sini ruangan mereka hanya terpisah oleh dinding tipis yang menghubungkan ke pintu shoji. Padahal sebelumnya Ichigo juga tidak masalah dengan semua itu. T-Tunggu, jangan-jangan... mereka akan melakukan'nya'?!
"Um... I-Ichigo, kurasa aku..."
"Huh? Apa kau tidak mau?"
GLEK!
Tekanan ini... ada apa dengan suasana hatinya sekarang? Buruk sekali.
Akhirnya, karena tak bisa mengatakan apa-apa, gadis itu hanya menurut. Makan malam mereka benar-benar tenang, biasanya Ichigo akan bertanya "Apa yang kaulakukan hari ini?" atau "Kau tidak berbuat yang macam-macam, kan? Kau menjadi gadis baik, kan?" Meskipun terkadang itu menjengkelkan, dia juga tak bisa bilang kalau dia pergi menemui Kaien jadi jawabannya mungkin seperti: "Aku tidak pergi jauh-jauh. Cuacanya hari ini sedang cerah, jadi aku ingin jalan-jalan."
Dengan begitu, dia tidak berbohong, kan?
Tapi dengan Ichigo yang pendiam, rasanya ini tidak benar. Rukia mengenakan piyamanya dengan jantung berdebar-debar. Dia menarik napas, melirik keluar pintu kamar mandi saat Ichigo sedang menutup lembut kain tipis piyama di dadanya. Rukia menelan ludah.
Bagaimana ini? Yang pasti, Ichigo hanya ingin melampiaskan depresinya saja, kan? Ugh... kami bahkan belum pernah berciuman... dan dia belum pernah bilang dia menyukaiku. Umurnya memang sudah ratusan tahun, apa karena itu dia pikir melakukan 'itu' adalah hal yang wajar walaupun tak ada kepastian dari kedua belah pihak? Tapi dilihat dari manapun aku ini masih murid kelas dua SMA!
Rukia menggigit bibirnya, menggeleng keras-keras.
Apa aku akan mengabaikannya begitu saja? Meski dia sudah terlihat begitu lezat di luar sana dengan piyama itu? Gyaahhhh! Apa yang harus kulakukan?!
"Rukia, kau sudah selesai?"
"Y-Ya."
Dia membuka pintu kamar mandi, melirik Ichigo yang sedang duduk di atas futon. Futonnya hanya satu, itu berarti mereka benar-benar akan tidur bersama!
Melihat Rukia yang terdiam dengan wajah pucat membuat Ichigo menaikkan alis, "Ada apa? Kau sakit? Kau makan sangat sedikit tadi."
"B-Bukan apa-apa."
Ichigo mengkerutkan kening, membuat isyarat di tangannya, "Kemari."
Dengan perlahan Rukia mendekat ke sana, ragu saat meraih tangan Ichigo yang bingung. Dia mendudukkan Rukia di pangkuannya, mengamati dengan penuh perhatian. Apa dia demam? Tangannya menyentuh pipi Rukia, dia memerah tapi suhunya normal. Ichigo berhenti. Melihatnya yang menutup mata rapat-rapat membuat pria itu semakin ingin menyentuhnya.
Ichigo mengusap pipi Rukia lembut, ibu jarinya membuat gerakan memutar. Kira-kira berapa banyak yang dia rindukan dari wajah itu? Terlalu lama mengurung diri di barak Kelas B bersama dengan dokumen-dokumen membuatnya depresi tak terhitung. Tapi, semua tak pernah seringan ini. Apa karena itu Rukia, makanya dia merasa begitu tak terkendali? Hidung Ichigo berada di dekat bahunya, menyesap aroma lavender yang begitu dia kenal. Manis dan pekat. Selain kebebasan, dia tak keberatan dikurung semalaman asal ada Rukia di sampingnya. Itu keinginan yang egois dan dia sadar itu. Alam bawah sadarnya begitu egois. Ingin memiliki Rukia seutuhnya, untuk dirinya sendiri.
Baiklah, pikirannya jadi terganggu. Napas Ichigo berpindah tempat ke suatu tempat di leher Rukia, berpikir. Apakah suatu kesalahan untuk terikat dengan seseorang? Persetan dengan kata-kata Shinji, dia jadi tak bisa berkonsenterasi. Kenapa pria berponi miring itu tiba-tiba jadi sangat menjengkelkan? Rukia merasakan Ichigo sedikit kasar, menyelipkan rambutnya ke belakang, napas pria itu terdengar mendengus. Keningnya mengkerut, tangan besar berada di pinggangnya, satu tangan di pipi. Secara konstan ritmenya berantakan. Rukia menahan napas. Diperlakukan seperti itu sama sekali tidak membuat gadis itu merasa lebih baik. Seperti dugaannya, dia sangat gugup sampai tidak berani bergerak!
"I-Ichigo, aku... kurasa... ini terlalu cepat."
"Hm?" Ichigo bergumam, belum keluar dari pikirannya.
"Maksudku, jika kau sedang dalam masalah aku akan membantumu jadi... kau harus menjernihkan pikiranmu dulu, karena aku... belum... siap."
Huh?
Kegiatan Ichigo berhenti, menatap Rukia yang takut bertatapan mata dengannya.
"Menjernihkan pikiran? Belum siap? Apa yang kaubicarakan?"
"...Eh?"
Rukia mengerjapkan mata, sama-sama bingung, lalu dengan polosnya dia menjawab, "Maksudmu, kau tidak akan melakukan 'itu'?"
"'Itu'?"
Sadar dengan apa yang di pikirkannya, Rukia langsung menutup mulut tak percaya. T-Tunggu dulu, barusan apa dia salah paham? Ichigo sama sekali tidak berpikir seperti yang dia pikirkan? Dengan kata lain, mereka memang hanya akan tidur saja, kan?
Kerutan di dahi Ichigo semakin dalam, dia memperhatikan Rukia yang memalingkan wajah, sibuk merutuki dirinya sendiri dengan pipi memerah malu. Ah, jangan-jangan...
Ichigo menyeringai, berbisik di telinganya, "Hei, apa kau sedang berpikir... aku akan melakukan hal yang aneh-aneh padamu?"
Rukia terkesiap, "A-Apa? Aku sama sekali... tidak... ugh."
"Apa ini? Kau punya pemikiran semacam itu, ya? Dasar mesum."
"Me―apa? Tidak, aku hanya...," dia menggigit bibir saat Ichigo tak melepas pandangan darinya. Sialan.
Rukia tersentak saat tiba-tiba Ichigo mendorongnya ke futon, dia bisa melihat piyama Ichigo sedikit terbuka, memperlihatkan kulit tannya yang terhalang cahaya. Poni dan rambutnya turun ke bawah, baru Rukia sadar itu sudah lebih memanjang. Bibir Ichigo terkatup, mata tegas dan tajam. Mengorek dirinya di sana. Berjaga-jaga saja tak cukup. Dia tahu dia hampir mati tak sadarkan diri berkat tatapan Ichigo yang menyihirnya. Tapi... ada apa dengan ekspresinya itu?
"Apa yang mau kaulakukan?" tanya Rukia pelan.
Berhenti sebentar, Ichigo memutar otak saat yang tersisa di wajahnya hanya garis datar dan tatapan kosong. Dia kehilangan fokus.
"Apa yang akan kulakukan?"
Dia tampak tak sehat. Ichigo ada di sana, tapi Rukia tahu pikirannya sedang berada di tempat lain. Membaca ekspresinya selalu sulit, tapi juga mudah. Ichigo tak pernah menyembunyikan sesuatu darinya, jadi saat dia berbohong itu terlihat dengan sangat jelas seperti melihat gambar di majalah. Kening Ichigo mengkerut lagi, mendesah. Dan tiba-tiba pikiran Rukia terganggu.
"Katakan saja jika kau ingin mengatakannya, jangan memasang ekspresi tertekan seperti itu."
Ichigo tampak terkejut, tapi dia cepat menutupinya.
"Tertekan, itukah yang kaulihat?" jari-jarinya terasa kaku.
"Ya... dan masih banyak lagi," suara Rukia berubah kelam. "Aku hanya bisa merasakannya."
Violet Rukia berkedip, menangkup rahang pria itu di telapaknya. Rahang yang indah, tegas dan indah. Ichigo balas menatap, tak bisa bicara. Sayangnya Rukia tak tahu apa itu. Tentu saja dia tidak bisa membaca pikiran seseorang, kalau bisa sudah dari dulu dia menganggap enteng berurusan dengan Kurosaki Ichigo. Kenyataannya, tidak semudah itu.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi kau tidak perlu mengatakannya sekarang," dia tersenyum lembut, jemarinya mengusap pipi Ichigo. "Saat kau siap, saat kau berpikir bahwa itu waktu yang tepat, aku akan selalu di sana untuk mendengarkanmu."
"Rukia," Ichigo berbisik.
Dia mengambil tangan Rukia, menciumnya dengan perasaan lega. Dia bisa merasakan nadi Rukia yang berdetak cepat di sana. Penghubung kehidupan, kehidupan bukan miliknya yang dia syukuri. Pipi Rukia kemerahan seperti apel, tapi dia berusaha dengan kuat menyembunyikan hal itu dari cahaya, saat bibir Ichigo turun ke dahinya dan mengecup lama.
"Terima kasih."
Rukia tersenyum, merengkuh punggung lebar itu dengan kedua tangannya dan mengusapnya.
Ya, semua akan baik-baik saja.
―Yuuka desu―
Saat pagi berikutnya datang, Ichigo bangun terlambat. Akhir-akhir ini Rukia sering melihatnya pergi pagi-pagi sekali, mungkin ini satu-satunya waktu dimana dia bisa beristirahat dengan benar. Rukia mendongakkan wajah, merasakan rahang Ichigo di jemarinya. Kerutan permanen itu akhirnya menghilang tanpa bekas, yah, mungkin hanya bertahan beberapa menit lagi. Sebelum dia bangun dan kembali menjadi Kurosaki Ichigo yang seperti biasa.
Tapi, Ichigo yang sedang tertidur terlihat begitu tampan, begitu damai. Bulu matanya lurus dan tidak terlalu panjang, hidungnya mancung runcing dan sejak tadi terus menggelitik kepalanya. Lekukan bibir itu sedikit terbuka, memikat dan tampak penuh dosa. Bibir itu nantinya akan jadi sangat merepotkan. Rukia menahan napas saat di kepalanya muncul sebuah ide usil. Dia begitu antusias. Ibu jarinya bergerak ke sudut bibir Ichigo, mengusap di sepanjang lekukan bawahnya. Ya, itu tindakan iseng yang sangat bodoh, tapi entah kenapa Rukia jadi bisa membayangkan bagaimana rasa bibir itu di mulutnya.
Mungkin gabungan antara manis dan sedikit tak terkontrol. Rukia menggeleng saat pipinya kembali bersemu. Enyahlah, semua bayang-bayang semu!
"Ngh..."
Rukia terkesiap, membeku saat Ichigo hanya menggeliat ringan dan kembali mendengkur halus. Apa yang akan dikatakannya kalau Ichigo sampai tahu? Dia akan berpikir Rukia adalah gadis yang menyerangnya sewaktu tidur. Ah, tidak. Dia hanya penasaran, hanya iseng, tak lebih.
Sebaiknya pergi cuci muka.
Menghela napas, Rukia menatap Ichigo sekali lagi. Mencoba untuk tak membangunkannya, dia menyingkirkan lengan kokoh yang bertengger nyaman di pinggangnya. Sebelum mengendap-endap ke kamar mandi untuk melakukan ritual pagi.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan saat Rukia selesai berpakaian, dia menggantung piyama di kamarnya, menggeser pintu shoji sedikit untuk melihat Ichigo yang masih tertidur pulas, sebelum keluar lewat pintu kamarnya sendiri.
"Eh, Rukia?"
Gadis itu menoleh, melihat Kaien telah berada di depan pintu kamar Ichigo dengan posisi tangan hendak mengetuk. Mereka saling bertatapan dengan bingung.
"K-Kaien-san?! Apa yang kau lakukan di sini?"
Astaga, beruntung dia tidak keluar lewat pintu kamar Ichigo.
"Ah, tidak. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengan Ichigo. Apa dia di dalam?" tanya Kaien.
"Kurasa begitu," Rukia menggaruk kepalanya.
"Hmm, begitukah? Baiklah, kau tidak sedang sibuk, kan? Bagaimana kalau ikut denganku berkeliling? Aku akan mengajakmu ke suatu tempat."
"Tapi, bukankah kau ada perlu dengan Ichigo?"
Kaien mengibaskan tangannya dan tersenyum lebar, "Itu bisa diurus nanti. Nah, ayo kita pergi."
Seenaknya saja memutuskan, padahal aku belum bilang mau ikut, kan?
"Terserah kau saja," balas Rukia malas.
Kira-kira saat pertama kali bertemu dengan Kaien dan dibawa ke bukit Sokyoku, pria itu juga tak pernah menghiraukan pendapatnya dan langsung membawanya pergi. Rukia bertanya-tanya apakah itu memang sudah sifatnya dari dulu.
"Jadi," Rukia melirik Kaien yang berjalan di sebelahnya, "kita mau kemana?"
Mereka sedang berjalan di salah satu cabang jalan utama Soul Society, pusat pertokoan yang menawarkan makanan dan kedai-kedai tradisional. Mata Kaien berbinar-binar.
"Ke sini, tentu saja, kan?" pria itu melihat kedai kue dango dan berjalan ke sana. Rukia melipat tangan, tidak heran lagi melihat tingkah laku seorang anggota salah satu klan terkuat di Seireitei itu.
Tapi rasanya tetap aneh tiba-tiba dia mengajakku jalan-jalan begini.
"Maaf menunggu, kau mau satu? Ini enak sekali."
Rukia tersenyum kecil, menerima satu tusuk kue dango isi tiga pemberian dari Kaien sebelum mereka kembali berjalan. Kaien yang memakai kimono bergaris hitam benar-benar terlihat santai. Tidak mencolok, meski dia merupakan bangsawan yang sangat berpengaruh di Seireitei. Yah, dia tidak pernah tahu bagaimana pandangan orang-orang mengenai itu. Seperti dirinya yang tidak pernah tahu apa yang orang lain pikirkan di luar pagar kediaman Kuchiki.
Ternyata, di sini tidak jauh berbeda. Jika Ichigo tidak membawa gadis itu kemari dan melihat segalanya dari dekat, dia mungkin akan tetap menjadi seseorang yang punya pikiran sempit―yang menganggap dirinya adalah orang yang paling menderita di seluruh dunia. Benar-benar sulit dipercaya.
"Ngomong-ngomong, para penjaga terlihat sangat sibuk hari ini," katanya sementara dia menangkap dua orang Soldier berlari tak jauh dari mereka. "Apa ada sesuatu yang terjadi?"
Sikap Ichigo juga aneh kemarin, jangan-jangan memang terjadi sesuatu.
"Mereka hanya menambah pasukan di gerbang utama, bukan masalah besar," entah kenapa kata-kata Kaien terdengar mengambang saat ikut melirik ke belakang. "Rukia, bagaimana kalau kita makan ramen di sana? Kau belum sarapan, kan?"
"Apa? Kau kan sudah makan tiga tusuk kue dango dan seporsi yakisoba―hoi, Kaien-san! Astaga..."
Entah apa maksudnya tiba-tiba mengajak gadis itu berkeliling seperti ini. Dia memang punya kepribadian yang aneh, tapi tidak pernah Rukia sangka akan jadi seaneh ini. Gadis itu berlari menyusul Kaien yang sudah lebih dulu sampai di kedai. Tanpa mengiraukan kata-katanya, pria itu memesan dua ramen porsi besar dengan sangat bersemangat.
Ada apa dengan semua orang hari ini?
"Tadi itu menyenangkan," Kaien yang sedang duduk di kursi taman siang itu tertawa lebar, mengelus perutnya yang sama sekali tidak membesar meski seharian telah memakan banyak jajanan. "Kau tahu, lain kali kita harus pergi minum junmai ginjoshu itu lagi, sake tanpa alkohol itu tipemu, kan?"
Dia menoleh ke arah Rukia yang sejak tadi diam menahan muntah karena makan terlalu banyak. Ugh, dia masih bisa merasakan bau katsuoboshi dan fermentasi sake yang diminumnya tadi. Diliriknya Kaien dengan sebal.
"Aku benar-benar tidak tahu apa yang sedang coba kau lakukan padaku hari ini, Kaien-san. Kau harus tahu batas tampung perut seseorang―hukk―aku bahkan tidak bisa menghitung berapa karbohidrat yang masuk ke perutku."
Kaien tersenyum kecil, "Kalau kuperhatikan, kau ini kurus sekali, Rukia. Ichigo mungkin terlalu pilih-pilih, tapi kau juga harus memperhatikan asupan yang baik untuk tubuhmu."
"Aku tidak tahu itu," gerutu Rukia.
Dia melihat ke belakang saat mendengar gemencing tombak milik para Soldier yang berlarian kesana kemari. Soul Society sedang menyiapkan sesuatu. Apa yang akan datang kali ini? Mereka kelihatannya ribut sekali. Dia sempat mendengar para Kelas B mengatakan sesuatu tentang kepekatan reishi yang meningkat pesat di luar tapal batas. Dia tidak berpengalaman, tapi karena selalu berada di samping Ichigo yang memiliki reiatsu berjumlah besar, dia jadi belajar mengenali kekuatan seseorang.
Tapi, kalau dilihat-lihat, dari tadi sikap Kaien aneh sekali. Apa ada alasan kenapa pria itu terlihat begitu mengawasinya hari ini? Dia tampak menghindari para Soldier dan bergumul di keramaian. Lagipula, Rukia merasa bahwa dari tadi mata pria itu tajam memperhatikan jalanan.
"Kaien-san―"
"Rukia, sebaiknya kita pergi," tiba-tiba Kaien menarik tangannya.
"A-Apa? Kenapa?"
Gadis itu melirik ke belakang, dimana ada seorang penjaga sedang mengawasinya dari kejauhan dan sedang berusaha memanggil seserang. Rukia mencoba menahan langkahnya, tapi melihat punggung Kaien yang begitu tegang dia mulai merasa ada yang tidak beres. Tadi pria itu tidak seperti ini.
"Apa yang terjadi?"
Tarikan napas terdengar samar dari bibir Kaien, "Maaf, kau harus bersembunyi, aku tidak bisa mengatakan alasannya tapi kalau tidak mereka akan―"
"Itu dia! Astaga, Shiba-dono, jangan membuat kami kerepotan begini. Dari tadi kami berkeliling mencarimu."
"...Kami sudah menemukan mereka, segera siapkan semuanya. Jangan sampai menyentuh kotak biru atau Akon-san akan mencincang kalian."
Kata-kata Kaien terpotong oleh dua orang anggota I.P.P.S yang berlari ke arah mereka. Yang satu memakai kaca mata tebal dan yang satu lagi memiliki empat tentakel yang bergelantungan, menggantikan kedua tangannya yang sibuk untuk memegangi denreishinki di telinga dan mengatur dokumen. Astaga, makhluk apa itu? Gadis itu mengkerutkan kening, menatap Kaien yang berhenti.
"Aku sudah bilang untuk menunda prosesnya. Siapa yang menyuruh kalian kemari?"
"Itu aku."
Seorang lagi muncul di belakang mereka. Bibirnya menyeringai dengan gigi-gigi kuning yang terlalu rata dan mata melotot, hampir ke arah yang menyeramkan. Dia bahkan tidak terlihat seperti seorang manusia tapi entah kenapa kedatangannya membawa aura yang berbeda. Orang itu mencolok sekali. Di belakangnya berdiri seorang wanita berkulit putih dengan kimono pendek yang ketat, memperlihatkan kakinya yang jenjang. Dia terlihat begitu patuh dan tak berperasaan dengan hanya menunggu tuannya sambil memasang wajah datar.
Rukia tidak mengerti melirik Kaien yang menatap orang itu tajam. Ada apa ini?
"Kurotsuchi Mayuri," Kaien mendesis. "Kita sudah sepakat perjanjiannya besok pagi."
"Perjanjian?" Rukia bergumam samar. Apa maksudnya ini?
Kalau tidak salah dia ini Profesor yang pernah disebut-sebut oleh Akon dan Ichigo. Dia yang waktu itu tidak ada di lembaga, orang yang membenci Urahara-san dan merupakan pemimpin I.P.P.S sekarang.
Mayuri mengintip lewat bahu Kaien ketika Rukia bersuara, saat ini wajahnya tampak sangat senang. Dia membuka kedua tangannya dengan bersemangat.
"Ah, astaga, Kuchiki Rukia-san! Sudah lama sekali sejak aku melihat seorang manusia kecuali pada tabung pengawet mayat yang kukoleksi beberapa tahun yang lalu," dia menggeleng kebosanan. "Kau pasti memiliki rahasia dibalik tubuh mungilmu itu. Tenang saja, aku akan mengungkapkannya untukmu. Jika kau tidak keberatan, mari ikut ke kantorku, kita bisa bicara baik-baik sambil minum teh. Ah, ada manisan dan kue yang baru keluar dari pemanggangan jika kau ma―"
"Dia tidak akan kemana-mana," potong Kaien. "Apa kau sudah lupa, Profesor, Central 46 juga sudah memutuskan untuk melakukannya besok pagi."
Mayuri menggeleng, "Shiba-dono, kau belum mendengarnya atau pura-pura tidak tahu? Prosesnya diajukan hari ini karena ada sesuatu yang mendesak. Aku sudah menduga kalau kau akan bertindak, tapi tak kusangka kau lebih memilih kabur dengan Kuchiki-san daripada bicara dengan Kurosaki Ichigo."
Yang dibicarakan Mayuri pasti kejadian tadi pagi. Tapi ada hubungan apa antara mereka dan Kaien? Rukia sama sekali tidak mengerti.
"Apa yang kalian bicarakan? Perjanjian apa? Kaien-san, tolong katakan sesuatu."
Rukia bicara padanya, tapi Kaien hanya bergeming dan tak menjawab apapun. Sorot matanya berada di tempat lain, seolah sedang mengabaikannya. Melihat itu, Rukia menarik napas kesal, menatap satu-satunya orang yang akan dengan senang hati menjawab pertanyaan itu untuknya.
"Profesor, Anda pasti tahu apa yang terjadi di sini."
Mayuri tersenyum lebar, "Kita akan bicara di kantorku, jika kau tidak keberatan."
"Tidak sama sekali."
Rukia melirik Kaien yang seakan memberikan tatapan untuk tidak pergi. Tapi pria itu tahu dia tak memiliki hak untuk itu.
"Keputusan yang bagus," Mayuri berkata, tampak puas. "Shiba-dono dengan begini tugas Anda telah selesai. Bukan bermaksud untuk tidak sopan tapi sebaiknya Anda tidak melakukan sesuatu yang akan merugikan diri Anda dan orang lain. Kami undur diri dulu. Nemu."
Wanita berkaki jejang di belakangnya membungkuk, memberikan jalan untuk Rukia.
"Lewat sini."
"Aku tahu letak gedung I.P.P.S," jawab Rukia ketus.
Sebelum jauh dia sempat menoleh ke belakang untuk melihat tubuh tegap Kaien yang hanya bisa diam memandangnya dari kejauhan, dengan perasaan bersalah. Dia bahkan tak mencoba untuk menjelaskan apapun. Rukia menarik napas, berusaha untuk menghiraukan pria bertentakel yang menggeliat di sampingnya.
Begitu sampai di I.P.P.S, keadaan di dalam bahkan lebih buruk dari terakhir Rukia mengunjunginya. Tapi di luar dugaan, semua tenang begitu Mayuri muncul di belakang pagar, mengawasi kinerja anak buahnya yang terlalu takut untuk bersuara. Diantara yang lain, Rukia bisa melihat dua orang yang tampak mencolok, Akon dan Hiyosu yang sedang melihat ke arahnya. Mereka tak tampak terkejut.
"Mari kita langsung menuju ke kantorku. Nemu, siapkan yang kita butuhkan. Akan ada kejutan menantimu, Kuchiki Rukia-san."
"Baik, Mayuri-sama."
Ucapan Mayuri sama sekali tidak membuatnya tenang. Rukia menggigit bibirnya. Dia sudah berada di sarang singa, sekarang tinggal menunggu apakah dia akan dicabik-cabik atau diberi daging segar.
―Yuuka desu―
"Yamamoto-sama."
Seorang pria memanggilnya yang sedang termenung di atap terbuka istana kekaisaran Seireitei, seperti sedang menunggu hujan. Atau sesuatu yang lebih dari itu. Langit Soul Society kelihatannya tidak sesuram ini beberapa jam yang lalu tapi awan seperti sedang membawakan kabar buruk. Bahkan angin pun dapat merasakannya, selain debu dan tanaman. Tekanan ini masih sama seperti seribu tahun yang lalu, karena setiap dia datang, langit akan turut berduka.
"Ya, Sasakibe, ada yang sedang menuju kemari. Sepertinya dia begitu bersemangat," matanya awas ke depan. "Sudah lama sekali, ya, Yhwach."
Informasi dari pusat telah menyebar dengan sangat cepat. Seluruh pasukan dari berbagai divisi keluar menuju masing-masing bagian, menyebar seperti wabah. Bahkan para ninja Onmitsukidou sudah menunggu dengan sangat antusias di gerbang utama dengan pemimpin mereka yang sejak tadi sangat tidak sabar.
"Aku akan membunuh kalian semua," gumamnya. Duduk di antara dedaunan pohon yang merupakan tempat bersembunyi paling strategis.
"Bicaramu itu sedikit kelewatan, Soifon, kita hanya akan memberi mereka sambutan hangat. Jangan terlalu kasar," seorang pria berkimono motif bunga berdiri di bawahnya dengan santai. Sebotol sake menggantung di pinggangnya, sesuatu yang tidak pernah dia lupakan, selain caping jerami tua yang tampak sudah kusam. Penampilan sehari-hari Kyouraku Shunsui.
Soifon mendengus, "Daripada mengomentari omongan seseorang, dimana si tukang sakit-sakitan itu berada? Kalian terlihat selalu bersama akhir-akhir ini."
"Ah, kami tak seakrab itu, kok," Kyouraku mengibaskan tangannya. "Dia pasti ditugaskan di sektor lain bersama dua ajudannya dan si kecil Hitsugaya. Ngomong-ngomong, kemana perginya ajudanku?"
"Kyouraku-sama! Mohon untuk tidak pergi seenaknya begitu. Anda bisa menyusahkan yang lainnya! Dan berapa kali harus kubilang untuk tidak membawa botol sake?"
"Nanao-chan! Akhirnya kau datang. Jangan pernah tinggalkan aku―aww! A-Aww, sakit, sakit, Nanao-chan!"
"Tolong dengarkan saat seseorang sedang bicara."
Wanita berkaca mata yang baru datang itu tiba-tiba saja menarik telinganya dengan wajah menakutkan. Soifon mengernyitkan kening. Tak ada yang benar di sini.
Sementara itu, di barak Kelas A, Ikkaku dan Shuuhei datang mengunjungi ruangan yang pintunya sejak tadi tertutup rapat. Bahkan angin tak dapat masuk ke dalamnya. Di antara tempat lainnya, ruangan itu adalah tempat yang tampak paling tenang. Sesuatu yang mustahil terjadi.
"Oi, Ichigo, sampai kapan kau akan terus di dalam?"
Ikkaku yang pertama mengetuk. Terakhir kali pria itu pergi sambil membanting pintu, entah apa yang dipikirkannya. Tapi sekarang situasi darurat dan mereka membutuhkannya untuk membantu.
"Apa? Kenapa dia tidak membukanya?"
Seakan baru sadar, Shuuhei dengan ekspresi panik langsung menggeser pintu shoji yang ternyata sama sekali tidak dikunci. Seperti dugaannya, tidak ada orang di dalam.
"Sial!"
"Hisagi, kemana perginya si bodoh itu?"
"Mana kutahu! Aku sama sekali tidak bisa membaca pikirannya sekarang. Apakah dia sedang ke I.P.P.S, atau menemui Shiba Kaien," Shuuhei meremas rambutnya. "Ikkaku, kita berpencar."
"Baiklah."
Tekanan reiatsu yang biasanya berkobar-kobar dan melimpah itu sekarang benar-benar sama sekali tidak terasa. Sulit dipercaya. Tapi apapun itu, hal ini sama sekali bukan kebiasaannya, karena dia selalu menunjukkan dirinya dengan terang-terangan bahkan di tengah perang. Sama sekali tak mengenal rasa takut. Kalau begitu, bisa dibilang saat ini dia sedang ketakutan?
Kurosaki Ichigo... sedang ketakutan?
"Aku akan membunuhmu, Kaien."
.
To be Continued
.
Author's note :
Satu chapter selesai! No comment again, i wish i could make it. Kaien ada hubungannya sama operasi pemasangan bom bunuh diri di tubuh Rukia?! Kenapa? Sepertinya bakal ada yang marah-marah di chapter depan. Yuuka nggak akan komentar banyak kali ini, selain karena sudah malam *ups, pagi maksudnya, Yuuka nggak tau lagi harus bilang apa hahahaha. Yuuka ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dari dukungan kalian baik yang sudah membaca, mereview, memfollow atau memfav cerita ini. Kritik dan saran sangat diterima! Terakhir tapi bukan terakhir, tell me what you're thinking?
Balasan bagi yang tidak log in:
Kurosaki2241 : holaaaaa makasih karena sudah mereview *-* hoho, sepertinya pertanyaanmu sudah terjawab di chapter ini. Ini sudah lanjut, semoga kamu suka yaaa
Isshin : wow, wow mohon maaf sebesar-besarnya karena Yuuka selalu telat update TAT terima kasih review dan semangatnya yaa ini sudah update, silakan dibaca ^^
Guest : waaa sekali lagi Yuuka mohon maaf, memang kelamaan sih, harus berusaha untuk nggak WB! Perjuangan masih panjang! Btw makasih reviewnya yaa ini sudah update ^^
