Disclimer : Bleach hanya milik Tite Kubo seorang

―bukan punya Yuuka―

.

.

.

Warning : Typo (yang selalu nongol), AU, contains fantasy terms, curse words, semi-canon, Gaje (Yuuka serahkan pada Readers semua), DLDR

.

' The reason behind that power is... memory'

.

Enjoy and happy reading !

...


The Half-Blood

Akimoto Yuuka

"Ada apa? Kau tampaknya tak mau maju duluan."

Di tengah atap istana Seireitei yang luas, Genryuusai melempar haorinya ke samping, menunggu Yhwach yang sedang bicara padanya dengan nada santai. Pemimpin ras Sternritter itu bisa melihat bekas luka melintang yang ada di dada Genryuusai, luka yang dia berikan di pertarungan terakhir mereka.

"Ternyata kau masih menyimpannya, luka itu. Ini membuatku bernostalgia," dia tersenyum.

Jugram menatap Genryuusai yang bergeming dengan datar, tatapannya lalu berpindah ke pria di belakangnya. Wakil Komandan pasukan militer Seireitei, Choujirou Sasakibe yang dari tadi mengawasinya. Teliti sekali, dia pasti tak akan ragu saat Jugram berbuat sesuatu. Dulu, mereka pernah bertemu. Tapi waktu itu mereka sama-sama masih muda, saat perang terjadi dan kedua pemimpin ras bertarung, Sasakibe hampir saja mati.

Sejak dulu, Jugram tidak pernah berubah. Kejam―dan jenius.

Penghalang sihir Yhwach aktif seketika saat api berwarna kemerahan dari Ryuujin Jakka menjilat ke arahnya. Sekali lagi Jugram melihat pemandangan itu, dimana serangan yang hampir sama dengan seribu api burung Phoenix menghancurkan apapun yang dilewatinya. Atap Seireitei terbakar, membuat arena melingkar yang mengurung kedua pemimpin ras seakan tak mengijinkan seorangpun untuk menginterupsi. Itu karena Yhwach yang sedang bersenang-senang.

"Sama sekali tak berubah, kawan lamaku. Tak suka basa-basi."

"Itu karena dari dulu kau selalu banyak bicara," jawab Genryuusai. "Tapi biar kuluruskan sesuatu. Apapun sihir hitam yang kau ciptakan tak akan mempan pada Ryuujin Jakka, karena tak seperti dulu, aku sudah bertambah kuat."

Yhwach menilai, dari sini apinya seperti mengikis pertahanan reishi miliknya. Itu berarti kekuatannya meningkat atau karena dia sudah menguasai teknik baru. Pria itu menyeringai.

"Bukan hanya kau yang bertambah kuat," katanya. "Sudah seribu tahun, mana mungkin aku tak sempat menganalisa kemampuan zanpakuto-mu dan membuat sesuatu yang berlawanan?"

Mata Genryuusai menyipit saat aura hitam keluar dari tubuh Yhwach, menyebabkan partikel reishi memadat dan membuat udara semakin sulit untuk bernapas. Sasakibe terbelalak, merasakan hal aneh yang menguar di sana. Kegelapan itu meracuni udara dan mengubah api dari Ryuujin Jakka menjadi berwarna kehitaman.

"Bakudou #39 : Enkosen!"

Sasakibe melompat mundur setelah membuat kekkai di depan Genryuusai. Sebuah perisai bundar menepis kegelapan yang merayap ke arahnya, juga melindunginya dari api hitam yang sudah terkontaminasi. Arena itu seperti menjadi milik Yhwach.

Bisa gawat kalau menyentuh api itu sekarang, karena tubuh Yamamoto-sama hanya kebal terhadap api miliknya sendiri. Apalagi udara di dalam arena itu sudah dalam tahap meracuni tubuh.

Sasakibe menegakkan tubuhnya, mengatur intensitas kekkai supaya bisa bertahan selama mungkin.

"Wakilmu itu cukup mengesankan. Dia punya intuisi yang kuat," puji Yhwach.

"Asal kau tahu saja, dia adalah pengguna Kidou terbaik yang ada di seluruh pasukan militer Seireitei."

Mendengar jawaban Genryuusai, senyuman Yhwach semakin melebar. "Menarik. Tapi kita lihat dulu, jika tak kehabisan waktu, mungkin daya tahannya akan berkurang."

Mata tajam Genryuusai sempat menangkap sebuah serangan mendadak dari samping. Dia bershunpo, menapaki udara dan mendapati Yhwach telah menunggunya di atas. Genryuusai memutar badan ke belakang agar kekkai dapat menahan kegelapan yang mengikutinya dari bawah, lengannya dengan cepat menebas ke belakang.

"Belum, kawanku."

Yhwach menggeser tubuhnya dari tebasan itu, melompat ke samping dan melempar lima pilar runcing dengan kecepatan tinggi. Tapi Genryuusai yang dapat membacanya hanya perlu menghindar, satu di antaranya ditangkap oleh tangannya. Saat empat buah yang lain terlempar jauh dan menyentuh tanah, mereka bisa mendengar suara ledakan yang besar.

"Ini, kukembalikan padamu."

Genryuusai mengambil ancang-ancang, sebelum melempar pilar itu tak kalah cepatnya dengan sihir milik Yhwach. Tepat ke kepalanya, tapi dia tak membiarkan hal itu terjadi karena hanya dengan memiringkan lehernya sedikit, pilar itu meleset dan meledak dengan keras di belakang.

Sereitei bergetar, nyaris menghancurkan gerbang yang lain beserta orang-orang di dalamnya, tapi Genryuusai tahu tak ada yang terluka. Selain harga diri dan luapan emosi Shinigami jika mereka kalah dalam peperangan ini. Ya, ini adalah perang, karena itu Genryuusai tak main-main.

"Menjauhlah, Sasakibe," ujarnya saat Yhwach memilih untuk diam di tempat. "Badai akan segera datang."

Badai? Jangan-jangan...

Sasakibe bershunpo agak jauh, mendapati gemuruh reiatsu di sekitar tempat itu menjadi tak karuan. Lagi-lagi Seireitei kembali berguncang. Kecepatan angin berubah dengan drastis dan membumbung tinggi ke langit, tapi baik Genryuusai maupun Yhwach sama-sama tak ada yang bergerak. Api hitam yang menjadi arena pertarungan mereka beberapa saat yang lalu pun ikut naik bersama angin, kobarannya semakin besar. Yhwach menyipitkan mata.

"Saat kubilang sihir hitammu tidak akan mempan, yang kumaksud adalah ini."

Genryuusai mengambil kuda-kuda, baik di pelipis maupun kaki dan tangannya, urat-urat mulai menonjol keluar.

"GRRYYAAAAAAHHHHHHHH!"

Sungguh tekanan spiritual yang begitu besar! Api dari Ryuujin Jakka mulai membentuk badai spiral dengan dahsyat. Kobarannya membungkus api hitam yang berada di antaranya, membuat racunnya ikut terbakar dan hangus seperti terlahap genangan lava panas.

Genryuusai sedang membakar apinya sendiri.

Melihat itu, Sasakibe terkejut. Segala yang tampak dari luar hanyalah badai api yang ganas menyala-nyala, dia hampir tak bisa melihat apapun di dalamnya. Tapi saat Genryuusai sudah memulai, tak akan ada lagi jalan untuk kembali. Begitu dia kembali terkurung di dalam sangkar api Ryuujin Jakka, ekspresi Yhwach mengeras.

"Sepertinya kau mulai bersemangat, kawanku."

―Yuuka desu―

"Apa itu?!"

Soifon yang berada di gerbang selatan bersama pasukan Onmitsukido-nya berhenti mendadak di atas atap saat merasakan tanah bergetar. Para Sorcerer yang berjumlah ratusan mulai bergerombol masuk ke dalam, tapi bukan itu yang membuatnya terkejut. Karena ada tekanan reiatsu yang sedang meledak-ledak di suatu tempat, dan rasanya tidak asing.

"Kapten, ada apa?" salah satu bawahannya mengikut di belakang dan bertanya.

Menyadari koordinasi yang sudah terencana bisa saja berantakan, Soifon menyingkirkan pikiran itu sejenak dan memberikan perintah.

"Jangan biarkan mereka bergerak lebih jauh lagi dari sini! Tetap jalankan rencana yang sebelumnya. Kita harus meminimalisir serangan dan memperbanyak pertahanan."

"Baik!"

Setelah bawahannya pergi, Soifon berbalik. Mencari-cari punggung bermotif bunga yang sangat mencolok di keramaian. Saat menemukannya, tubuh itu ternyata sudah kaku dan sama terkejutnya dengan dirinya.

"Komandan... ternyata serius, ya?" ujarnya. Pria bercaping itu melihat badai api merah yang menjalar ke langit. Sesuatu yang jarang sekali terjadi.

"Kyouraku!"

"Ya, aku tahu," dia menjawab panggilan Soifon. Membenahi capingnya yang sedikit miring dan menyeringai. "Kita juga jangan main-main di sini."

Di sektor lain pun, tepatnya di gerbang timur, baik Toushirou maupun Ukitake sama-sama terbelalak di udara. Tak ada yang tak bisa melihat pertarungan dahsyat yang sedang terjadi di atas istana kekaisaran. Di sana, pertarungan yang sebenarnya baru akan dimulai.

"Komandan..."

"Situasinya sedang kritis sekali. Tapi apa cuma perasaanku atau dari tadi aku memang tidak melihat Ichigo?"

Toushirou mulai khawatir, kepalanya menoleh saat Ukitake bicara. "Ya, aku juga tidak melihatnya. Ini bisa gawat."

Jika mengingat kekeraskepalaan pria yang satu itu, rasanya apapun bisa jadi mungkin. Dia tidak bisa membiarkan rencana gagal hanya karena kecerobohannya berpikir bahwa membawa kabur Rukia adalah pilihan terbaik. Yang pasti ada yang harus mencarinya, dan ada yang harus menghentikannya.

"Aku akan pergi."

"Eh? Mencari Ichigo?" Ukitake menoleh saat Toushirou sedang menghela napas.

"Kalau tidak ada yang bergerak bisa saja dia nekat pergi ke I.P.P.S dan mengacaukan semuanya," gerutunya. "Dia itu benar-benar merepotkan."

Ukitake menaikkan alis, berpikir bahwa Toushirou hanya terlalu baik. Paladin Kelas S itu mengangkat bahunya sembari tersenyum.

"Pergilah, serahkan yang di sini padaku."

"Baiklah."

Setelah Toushirou pergi, Ukitake kembali bergabung dengan dua ajudannya yang sedang kewalahan juga beberapa Shinigami yang ikut membantu. Hollow di luar gerbang sudah menghilang entah kemana, padahal tadi ada banyak sekali. Tak berapa lama kemudian muncul Hinamori Momo yang berlari ke sana dengan terburu-buru.

"Shiro-chan... tidak ada?" dia menoleh ke kanan dan kiri dengan khawatir, lalu menemukan tubuh Ukitake yang berdiri tak jauh dari sana. "Ukitake-san!"

Yang dipanggil membalikkan badan, terkejut saat melihat Momo sendirian menuju ke gerbang timur. "Hinamori? Kenapa kau di sini?"

"Shiro―maksudku, Hitsugaya-san, apa Anda melihatnya?"

"Ah, dia baru saja pergi untuk mencari Ichigo, tapi kenapa kau cemas begitu?"

Mendengar itu, kaki Momo mengetuk-ngetuk tanah dengan tidak sabar. Dia membalikkan badan dan berteriak, "Kalau begitu aku pergi dulu!"

"H-Hei, tunggu! Ah... ada apa dengan orang-orang, semua saling mencari sekarang," Ukitake bergumam, tapi tiba-tiba dia teringat sesuatu. "Tadi... dia tidak datang dari gerbang barat, kan?"

Sesuatu seperti menyadarkannya, dengan cepat Ukitake bershunpo ke atas gerbang, melihat bahwa Hollow yang tadi berkeliaran di sana sama sekali tak tersisa. Tak ada tanda-tanda Summoner, meski mereka biasa bertarung sambil bersembunyi tapi pasti keberadaannya bisa dilacak. Sekilas, tadi dia sempat melihat tiga orang Sternritter sedang berkumpul di atas bangunan dekat gerbang barat yang dikerumuni Hollow.

Ukitake tersentak, benar juga! Kalau Momo melihat mereka menuju ke dalam...

―Yuuka desu―

Suara tapak kaki berirama memenuhi lorong gelap yang hanya diterangi oleh redup lilin. Berbeda jauh dengan situasi di luar, hampir tak ada apapun di sini kecuali kelebat bayangan seseorang yang sedang berlari. Sambil mengisi pikirannya dengan hal-hal buruk, napas orang itu semakin memburu. Jantungnya berdetak kencang hingga terasa sakit, keringat meluncur di dagunya, tapi tatapan tajam itu masih sama seperti beberapa saat yang lalu, saat pertama kalinya dia bertekad untuk melindungi seseorang.

Rukia.

Kepalan tangannya untuk berlari menguat.

Rukia.

Cahaya yang samar-samar terlihat di ujung lorong, menuju jalan buntu. Orang itu mengerem tiba-tiba begitu sampai di sana, langsung melompat ke atas dimana cahaya dari lima lubang kecil penutup saluran rembesan air berada. Dia menggeser logam itu, bertumpu di kedua lengannya untuk keluar. Orang itu terengah, sama sekali tak bisa bershunpo di bawah, dari dulu dia memang tidak suka dengan yang namanya berlari. Tapi tidak apa-apa, karena tak lama lagi, dia akan sampai.

Ini tengah-tengah ruang terbuka menuju gedung I.P.P.S, terlalu kelihatan. Tapi seakan tak peduli dengan itu, dia langsung berlari begitu saja, secepat mungkin. Pikirannya sudah kosong sekarang jadi dia akan menyerahkan semuanya pada insting. Baru saja setengah perjalanan, sebuah kunai milik pasukan Onmitsukido melesat dengan bebas ke arahnya sehingga dia harus menghindar, melompat ke samping dan berhenti untuk melihat bukan ninja Onmitsukido yang menyerangnya tapi―

"Toushirou."

Orang itu mendesis, tangannya masih berjaga-jaga di belakang tubuhnya jika mendadak harus ada pertempuran. Tapi pria pendek berambut putih yang berdiri tenang itu sepertinya sudah mengerti jalan pikirannya.

"Minggir."

"Atau apa?" Toushirou menantang. "Jalur bawah tanah memang tempat yang tepat untuk bersembunyi. Tapi mau tidak mau kau harus kemari juga."

"Aku tidak akan mengulangnya."

Mendengar itu, Toushirou terdiam. Pria itu pasti akan serius menyerangnya jika dia bersikeras. Tapi memang itu yang sudah dia persiapkan.

"Sudah cukup, Kurosaki. Hentikan ini," ujarnya serius. "Semua orang sedang berusaha untuk melindungi Soul Society dan Dunia Manusia. Apa kau mulai tak peduli pada semua itu?"

Mata Ichigo memicing, giginya menggertak dibalik rahang yang tampak menonjol itu. Tak menerima penolakan, pria itu sedang buru-buru.

"Aku harus menyelamatkan Rukia," gertaknya lagi. Tapi helaan napas Toushirou menunjukkan kalau ini tak akan berlangsung singkat.

"Bukannya menyelamatkan gadis itu, tapi kau malah akan membuat dunia tempat tinggalnya hancur. Seharusnya kau sudah paham, Kurosaki. Sekarang bukan saatnya untuk bersikap kekanakan dan egois."

Satu tangan Ichigo menarik pedangnya keluar, memberikan tatapan yang lebih dominan dari sebelumnya. Hazel yang terang itu berkilat di bawah sinar matahari.

"Aku tidak peduli."

"Kurosaki!"

Ichigo yang pertama maju, seperti kehilangan kontrol dia tak bisa membedakan mana yang teman dan mana yang lawan. Baginya, semua orang yang menghalanginya saat ini adalah musuh. Bahkan jika itu rekannya sekalipun. Toushirou tak punya pilihan selain mengeluarkan pedangnya, Hyourinmaru, yang langsung beradu dengan milik Ichigo. Percikan api muncul di sekitarnya akibat gesekan dari dua Zanpakuto.

Bahkan saat berhadapan langsung dengan Ichigo, Toushirou masih tercengang. Bagaimana bisa pria itu berubah sedrastis ini? Dulu dia tak pernah peduli pada apapun, hidupnya mengalir dengan tenang bahkan jika itu terjepit di antara dua klan yang saling mendominasi. Begitu juga saat di Akademi, yang dilihatnya hanyalah kesenangan. Karena Ichigo muda dengan wajah mencari masalah tak pernah lepas dari tantangan orang-orang kuat. Saat mereka belajar mengenai sejarah kutukan Kuchiki, dia menguap atau hanya melamun tanpa minat. Tapi ada apa dengan sekarang? Lupakan soal Kuchiki, intinya, apa karena gadis itu?

Toushirou mengayunkan pedangnya secara horizontal, menggunakan kesempatan itu untuk balik menyerang saat Ichigo masih terpental ke belakang. Tapi kecepatan yang dimiliki pria itu membuatnya bisa memindah segera tumpuan ke kaki kanan dan menahan beban pedangnya ke depan. Toushirou mengayun Hyourinmaru ke kanan dan kiri secara beruntun, tapi bukannya balas menyerang, sikap Ichigo hanya berupa mode bertahan.

"Katakan, Kurosaki, apa kau benar-benar Kurosaki yang kukenal?" bukti bahwa Toushirou menanyakan hal ini adalah karena dia terlampau kesal.

Ichigo berhenti, dahinya mengkerut saat lagi-lagi kedua pedang mereka beradu, dan dia harus menatap mata Toushirou untuk kesekian kalinya. Sejujurnya, dia juga merasa aneh. Ini bukan dirinya, itu jelas. Apakah dia pria yang suka melanggar perintah? Ya. Tapi apakah dia pernah mengkhianati Soul Society? Tidak!

Jadi apa intinya? Sejak kapan dia berubah menjadi orang yang begitu menjengkelkan bahkan bagi dirinya sendiri?

"Kau sudah jelas tahu jawabannya," jawab Ichigo, mengombang-ambingkan Toushirou yang masih tak mengerti.

Logikanya sedang tak berjalan. Mereka sama-sama Kelas A, tapi jika sudah menyangkut perasaan hal yang mudah pun bisa menjadi rumit. Kata-kata seperti itu tak ada dalam kamus Toushirou yang mengedepankan strategi dibanding peruntungan. Jawaban yang mengambang begitu benar-benar membuatnya kesal. Otaknya masih menolak untuk membenarkan tindakan memberontak Ichigo.

"Bicara apa kau? Kau mulai tak peduli pada perintah Komandan sekarang? Lihatlah di sekelilingmu! Orang-orang terluka karena pengabdian mereka pada kekaisaran, kau mau menjadi bodoh dan membiarkan keegoisanmu di atas kepentingan Soul Society?"

"Ya... kalau memang harus begitu...," gumaman Ichigo membuat Toushirou terkejut. "Aku akan menyelamatkan Rukia dengan kedua tanganku sendiri, apapun yang terjadi setelah itu aku tidak peduli."

TRANGG!

Bunyi dentingan pedang terlepas ketika keduanya mundur ke belakang. Saling memahami lewat mata, hanya saja Toushirou sudah tak bisa membacanya lagi. Tercengang, Ichigo bahkan sudah memutuskan akan meninggalkan kebanggaannya selama beratus-ratus tahun itu. Sebagai Kelas A? Itu hanya jabatan, tapi sebagai Shinigami? Melihat dari eskpresi Ichigo, sulit dipercaya bahwa pria itu sedang serius.

Toushirou mengeratkan giginya, menarik napas dirinya berusaha untuk tenang.

"Baiklah jika itu maumu. Kata-katamu barusan itu seperti kau sudah menjadi kriminal, tapi akan lebih pantas disebut begitu jika aku sudah mengurungmu di Muken."

Mendengar itu, Ichigo tak memiliki bantahan apapun. Mungkin benar kata Toushirou, dia adalah kriminal, yang mengabaikan keadaan dunia dan malah mengejar keegoisan. Cukup terakhir kali, biarkan dia menjadi egois dengan melindungi sesuatu yang berharga baginya, karena jika bukan sekarang tak akan ada kesempatan yang sama lagi.

Tepat saat keduanya hendak memulai pertarungan yang sempat tertunda, dari arah semak-semak muncul sesuatu yang mengejutkan. Dua orang wanita berbaju putih keluar dari sana, mengobrol dengan santai tanpa tahu ada medan perang baru di depan mereka.

"Jadi karena menang dari Gisselle maka aku―"

"...Eh?"

"Huh? Meninas, kau dengar tidak?"

"Tunggu, bukankah itu..."

Menyadari rekannya sedang melihat ke arah lain, wanita itu menoleh ke depan. Tangannya lengsung menutup mulut karena terkejut, sebagian lainnya sengaja, karena tanpa terduga dia bisa berpapasan dengan dua orang Shinigami yang sedang saling bertegur sapa. Ini kesempatan yang langka sekali.

Baik Ichigo maupun Toushirou sama-sama terdiam kaku, dalam hati terusik karena tamu asing yang datang di wilayah mereka secara tiba-tiba. Terutama saat mengetahui bahwa dua tamu itu adalah Sternritter. Benar-benar waktu yang buruk. Tapi di antara mereka ada satu yang Ichigo kenal betul.

"Ah... sungguh kebetulan yang menyenangkan. Apa aku mengganggu? Kalian sepertinya sedang sibuk."

"Kau... Bambietta Basterbine," sinis Ichigo. Matanya melirik tajam pada wanita itu, berharap seringai menyebalkan di bibirnya menguap.

Mendengar Ichigo menyebut sebuah nama, pandangan Toushirou jadi curiga. "Sternritter. Tunggu, kau mengenalnya, Kurosaki?"

"Ya," Ichigo menjawab enggan. "Aku pernah melawannya sebelum ini, saat aku masih di Dunia Manusia."

Meninas yang berdiri di samping Bambietta tidak tinggal diam. Tangannya merengek meminta agar mereka segera pergi saja dari sana, atau setidaknya Bambietta, karena jika dibiarkan, dendam Sternritter bisa mengambil alih kesadarannya. Yang dia tahu, Bambietta sedang sangat senang. Dia baru menang dalam tantangannya beberapa saat yang lalu dan sekarang berdiri Kurosaki Ichigo di depannya dengan segar bugar. Siapa yang tidak akan senang?

"Oh, ayolah, santai saja. Aku hanya akan menonton, kalian lanjutkan saja yang ingin kalian lakukan," Bambietta tersenyum, membuat Toushirou merasa terganggu dengan sikapnya. Di sebelahnya, Meninas hanya bisa pasrah.

Ichigo menatapnya, mendesah kasar. Kerutan di dahinya bertambah seakan-akan muncul masalah baru dalam hidupnya. Ya, Bambietta adalah masalah. Wanita itu tidak datang secara cuma-cuma hanya untuk menontonnya saling adu pedang dengan Toushirou.

"Aku tak punya waktu untuk mengurusimu, kau saja yang atasi, Toushirou."

"Tunggu dulu, lagi-lagi memutuskan semuanya sendiri," protes pria pendek itu kesal. "Setidaknya jelaskan sesuatu, Kurosaki!"

"Bambietta, sebaiknya kita pergi saja," bujuk Meninas pada rekannya yang malah menyeringai.

"Sebentar saja, Meninas, kau tak perlu ikutan, cukup duduk yang manis saja di situ. Mana mungkin undangan dari Kurosaki Ichigo kubiarkan begitu saja? Gisselle si zombie itu benar, tempat ini sarangnya orang-orang kuat."

Kedua Shinigami di depannya hanya terdiam, bersiap pada interupsi yang datang di tengah-tengah pertarungan mereka. Kedatangan Bambietta dan Meninas. Tapi rasanya, Ichigo ingin hal ini selesai sesegera mungkin.

Tak jauh dari arena pertarungan baru itu, Hinamori Momo telah sampai dan melompat ke sebuah dahan pohon, menemukan tubuh Toushirou yang tertutup dedaunan di sekitar tempat itu. Bibirnya menghela napas lega, senang saat keadaan pria itu tampaknya baik-baik saja. Dia pun mengambil napas dalam-dalam.

"Shi―uhmmp!"

Entah datang dari mana, tiba-tiba saja tubuh Ukitake sudah berada di belakang dan membekap mulutnya. Momo menoleh, mendapati Ukitake mengisyaratkannya untuk tetap diam.

"Ukitake-san, kenapa Anda bisa di sini?" tanya Momo terkejut.

"Aku mengikutimu, kurasa perkiraanku benar. Kau lihat di sebelah sana itu, ada dua orang Sternritter." Momo mengangguk dan Ukitake melanjutkan, "Itu yang kaulihat di depan gerbang barat, kan?"

"Ya, tapi... bagaimana Anda bisa tahu?"

"Aku hanya berpikir kau ingin memberitahukannya pada Hitsugaya, tapi tak sempat karena dia sedang menuju ke sini. Sekarang dua lawan dua, tapi dimana yang satunya?"

Ekspresi Momo kebingungan dan cemas, dia menoleh ke kanan dan kiri tapi ucapan Ukitake selanjutnya seperti menjawab pertanyaannya sendiri.

"Mereka mungkin berpencar, tapi melihat situasi sekarang bisa dipastikan akan terjadi pertarungan."

.

To be Continued

.


Author's note :

Yuuka kembali lagi! Chapter 12 finished! Cukup susah bikin adegan actionnya, semoga Readers suka yaa ^^ sebelumnya maaf, karena banyak hal yang dilakukan di dunia nyata *selain karena sudah mulai try out dan sebagainya* Yuuka bakal jarang update kilat. Mungkin nggak bisa seminggu sekali lagi, jadi mohon maaf yang sebesar-besarnya, Yuuka juga pasti berusaha buat nyelesein cerita ini karena masih banyak chapter menunggu di depan TAT Yuuka akan berusaha! Karena itu, Readers juga mohon bersabar yaa hehe. Oh ya, sekilas tentang Muken. Muken adalah penjara kelas kriminal paling bawah atau kelas kakap. Penjara terdiri dari delapan lantai, yang paling dasar adalah Muken, di komik aslinya Muken adalah tempat ditahannya Aizen. Yuuka lupa, udah jelasin belum ya tentang Ryuujin Jakka? *wah udah ngantuk nih ketauan haha. Ryuujin Jakka adalah shikai milik Genryuusai, bentuknya api membara yang bisa dikendalikan. Untuk lebih jelasnya bisa tengok di Google :D Yuuka ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dari dukungan kalian baik yang sudah membaca, mereview, memfollow atau memfav cerita ini. Kritik dan saran sangat diterima! Terakhir tapi bukan terakhir, tell me what you're thinking?

Balasan bagi yang tidak log in:

Kurosaki2241 : Sudah update iniii ^^ percayalah terus sama Ichigo, dia mungkin ngamuknya masih sampe chapter depan-depan tuh wkwk bt makasih reviewnya!

BLEACHvers : hiks, iya ya tapi kapan? *meratap* Yuuka cewek dong, haha Toushirou muncul di sini agak banyak kok, dia jadi terlibat pertarungan Ichigo sama Bambietta. Rukia masih sekaratt di I.P.P.S semoga aja dia bisa bertahan ya *authornya siapa sih?* sudah update, semoga kamu suka yaa ^^ makasih semangat dan reviewnyaaa

kon : holaaa salam kenal yaa makasih reviewnyaa *-* yup! Sternritter itu bisa dibilang pasukan elitnya Quincy, tapi dalam fic ini Yuuka nggak pake istilah Quincy, soalnya bakal panjang nanti. Yosh, ganbatte!

Kazukiito : makasih reviewnya ^^ Divisi 0 nggak keluar, karena ini konfliknya darah kutukan Rukia, bukan Raja Roh. Yuuka juga nggak pake istilah Divisi di sini, yang ada Kelas C, B, A, S dan SS ditambah Vizard. Wah iya ya, tapi reiatsu sama tekanan spiritual bukannya sama? *eh, apa bukan?

matsumoto : waaaa seneng deh kalo kamu suka ^^ makasih lho udah mampir di kotak review. Iya, Yuuka bakal buat mirip kayak di aslinya, cuma mungkin ada perubahan dikit-dikit. Kalo lihat yang lebih tua, mungkin Kaien ya? Karena pembawaannya udah dewasa gitu hahahaha

Guest : makasih reviewnya yaa ^^ wah, kelamaan ya, maaf Yuuka mulai nggak konsisten lagi nih karena masa-masa sekolah tinggal bentar lagi, harus ngurus ini itu dan lain-lain *kok curcol?* hehe ini sudah update. Semoga kamu suka *-*