Disclimer : Bleach hanya milik Tite Kubo seorang

―bukan punya Yuuka―

.

.

.

Warning : Typo (yang selalu nongol), AU, contains fantasy terms, curse words, semi-canon, Gaje (Yuuka serahkan pada Readers semua), DLDR

.

'In the end, he lost it.'

.

Enjoy and happy reading !

...


The Half-Blood

Akimoto Yuuka

Perasaan apa... ini?

Jantungku tak mau diam. Aku tak bisa menggerakkan tubuhku.

"Dia datang! Yhwach datang!"

Kenapa ribut sekali? Apa yang terjadi?

"Minggir dari situ, Kurosaki!"

Ah... benar. Kami sedang bertarung dengan mereka, Sternritter. Jumlah mereka banyak sekali, kami sempat kewalahan. Itulah kenapa Ukitake-san dan Toushirou ada di depan I.P.P.S, untuk... melindungi sesuatu.

Melindungi apa?

"Oi, kau dengar tidak, Kurosaki? Berhenti melamun dan pergi dari situ!"

Hm? Rasanya aku melupakan sesuatu yang sangat penting. Sesuatu itu begitu pentingnya bagiku... aku harus buru-buru mendapatkannya. Tapi sesuatu itu apa?

"OI, KUROSAKI KAU BRENGSEK. KUBUNUH KAU!"

"Tenanglah, Hitsugaya-kun."

"S-Shiro-chan kumohon..."

Huh...? Kenapa aku sangat kesal? Aku ingin sekali menghajar seseorang. Dia... yang sedang berjalan di atas langit menuju I.P.P.S. Orang yang berjubah hitam itu... aku ingin sekali menghajarnya. Ya... kenapa tidak dicoba saja?

BATS-!

"...Huh?"

Jangan menghalangiku, Ukitake-san.

"Percayalah pada kami, Ichigo."

Ha?

Kenapa aku harus percaya pada kalian, yang bahkan tak bisa bertarung untuk melindungi orang lain. Kalau kalian tidak ingin melakukannya, maka jangan halangi aku. Seseorang sedang membutuhkanku sekarang. Seseorang...

Rukia.

―Yuuka desu―

"Dia di sana, Kurosaki Ichigo."

Yhwach hanya melirik lewat celah pepohonan sebelum kakinya melangkah kembali. "Abaikan saja. Nanti juga dia yang datang sendiri. Orang yang mudah panas seperti dirinya terpancing dengan hal-hal yang paling sepele, karena itu sekarang bukan waktu yang tepat."

"Jangan-jangan, anda tidak lagi tertarik, Yang Mulia?"

"Jugram," panggil Yhwach pelan. "Kita selesaikan yang ini dulu."

Terdiam sebentar, Jugram membalas dengan patuh, "Baik."

Setelah percakapan kecil itu pandangan mereka kembali jatuh pada atap I.P.P.S yang bergeming, seakan-akan tak merasakan tekanan yang sejak tadi memenuhi langit. Tak ada penjaga, tapi bukan berarti tempat itu benar-benar mudah.

"Ada kekkai," kata Jugram yang merasakan dinding tak kasat mata dengan telapaknya. "Dan ini kuat."

"Benarkah?"

Yhwach maju selangkah lebih dekat untuk meraba udara. Wajahnya berubah serius.

"Ya, ini memang kuat."

PRANGG!

"Tapi cukup menekannya sedikit lebih saja."

Penghalang itu hancur berkeping-keping dengan mudahnya, begitu saja. Meninggalkan wajah orang-orang di sana terpaku pada kejadian di hadapan mereka. Itu hanya sedikit dari kekuatan yang dia miliki, tapi seberapa sedikitkah itu untuk menghancurkan penghalang tingkat satu yang begitu tebal?

"Ini giliranmu, Jugram."

"Baik."

Jugram melangkah ke depan, mengeluarkan pedang yang tersemat di pinggangnya. Sejumlah reishi berkumpul di sana dan dengan cepat membentuk garis putih yang tampak begitu suci. Kecuali apa yang ditimbulkannya. Mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, Jugram menebas dengan kuat ke depan tepat melintang lurus searah diameter gedung yang atapnya berbentuk kubah itu. Dalam sekejap terdengar reruntuhan, bersamaan dengan hancurnya atap I.P.P.S yang tadinya berdiri dengan kokoh. Di dalam sana, orang-orang berteriak dan menatap ngeri pada makhluk berjubah hitam yang memandang mereka dari atas.

"D-Dia... sudah masuk."

"Sial, secepat inikah?"

"Pa-panggil Profesor segera!"

BRAAKKKK!

Keributan yang terjadi di tempat itu dipotong oleh gerakan tiba-tiba dari sang Penguasa Wandenreich yang menghancurkan lantai dan sekarang berdiri tepat di depan mereka, diikuti bawahannya yang setia. Semua gerakan terhenti bahkan di tempat yang mustahil seperti I.P.P.S. Namun bukan itu masalahnya. Karena kedua orang ini adalah bom yang akan segera meledak.

"Sebaiknya kalian minggir jika tidak ingin terluka," Yhwach tersenyum, "aku hanya ingin cepat-cepat menjemput putri kecil kami dan membawanya pulang."

Melihat wajah-wajah ketakutan dari orang-orang di sana, pria itu mendengus pelan. "Baiklah, cara cepat saja."

"Mana bisa begitu, sialan!"

Langkah Yhwach yang mendekati pintu ruang bawah tanah terhenti. Dia melirik seorang pria bertanduk yang meneriakinya barusan, di jas putihnya terdapat noda darah yang tak sengaja terciprat saat tangannya menjadi sasaran reruntuhan atap I.P.P.S.

"A... Akon-san?"

Mengabaikan panggilan dari salah satu rekannya, Akon dengan wajah kesal kembali bicara.

"Tempat ini... sudah menjadi pondasi dari Sereitei sejak beratus-ratus tahun yang lalu. Tapi kalian dengan mudahnya datang dan menghancurkannya, dasar kurang ajar!"

"Bukankah itu salah kalian sendiri yang membawa gadis itu kemari―"

"Jangan bercanda!"

Akon memotong perkataan Jugram, menutup matanya rapat-rapat.

"Sudah cukup, aku sudah muak dengan orang-orang seperti kalian," gumamnya. "Jangan pernah... jangan pernah meremehkan Shinigami, kau brengsek! Hadou #33: Soukatsui!"

Sembari berteriak dalam keadaan terdesak, Akon mengarahkan kedua tangannya yang berlumuran darah ke depan sebelum lajur berwarna putih muncul di kedua telapak tangannya mengarah pada Yhwach. Jugram yang melihat itu maju tepat waktu untuk menepisnya, sehingga kantor komunikasi yang menjadi tempat bertarung mereka kembali hancur.

"Yang Mulia, haruskah kubunuh dia?" bisik Jugram dengan nada tajam.

"Oi, kalian semua! Apa cuma ini kekuatan I.P.P.S, hah?! Pada akhirnya, apa kalian akan membiarkan bedebah ini masuk dan mengambil semua kerja keras kalian begitu saja, sialan!" teriak Akon, seperti menampar seluruh rekannya yang ada di ruangan itu. "Aku tidak ingin... membebankan semuanya pada Profesor, karena itu..."

"Yah, akhirnya kau mengatakan sesuatu yang benar, ya?"

Akon mengangkat wajahnya dengan terkejut, melihat Hiyosu yang juga terluka keluar dari puing-puing bangunan dan berdiri di sebelahnya.

"H-Hiyosu."

"Kau tampak lebih keren dari sebelumnya," ujar pria berkepala hijau itu sembari tersenyum. "Tapi tetap saja, aku tidak akan mau kalau setelah ini harus mendapat omelan dari Profesor karena ruang kerjanya jadi berantakan. Karena kalau dia melakukannya, itu benar-benar menakutkan."

Sementara Akon terpana pada kata-kata pria itu, beberapa rekannya yang ikut membayangkan kemarahan sang Profesor mulai bergidik dan bergerak maju. Perlahan, satu per satu, semua membentuk sebuah aliansi di sisi Akon.

"Prosefor yang marah..."

"Aku tidak mau lihat!"

"Ugh, aku juga."

Akon memandang mereka tak berkedip, "K-Kalian..."

"Hmm...," Yhwach yang semenjak tadi diam kini mulai menampakkan sedikit senyuman. "Tidak buruk sama sekali."

"Sekarang! Ayo kita tunjukkan pada mereka, kekuatan I.P.P.S yang sebenarnya!"

"YOSHHAAA!"

"Serang bersama-sama!" Akon memberi komando, lalu secara serentak mereka mengambil kuda-kuda.

"HADOU #33: SOUKATSUI!"

Sebuah lintasan cahaya super cepat bersamaan melaju dari berbagai titik membentuk serangan merusak dengan kekuatan berlipat-lipat ganda. Ledakan yang terjadi begitu besar sampai-sampai beberapa orang terpental olehnya, berusaha untuk berlindung dari partikel-partikel yang ikut terbang. Akon dan Hiyosu melindungi wajah mereka dengan satu tangan, tapi tetap berusaha keras untuk melihat ke depan dimana musuh mereka berada.

"Apakah berhasil?" tanya Hiyosu.

"Aah, kurasa... seperti yang kuduga," Akon bergumam, mengeratkan giginya saat keringat dingin membuatnya sedikit bergidik. "Heh, dia sialan kuat sekali."

Setelah asap sedikit berkurang, Akon bisa melihat dengan jelas ketakutannya terwujud di sana. Serangan yang dilakukan tadi... tak membuat banyak perubahan. Mereka masih bisa melihat tubuh Yhwach dan Jugram berdiri tegak di pusat lantai yang retak. Tapi―

"Yang Mulia," panggil Jugram yang melihat goresan di pipi Yhwach.

Menyentuh darahnya sendiri dengan jarinya, sang Penguasa Wandenreich bergumam, "Mengagumkan, kalian bisa menciptakan luka di wajahku," tatapannya beralih ke depan. "Tapi, apa kalian yakin bisa mengalahkanku hanya dengan menggunakan perasaan, tekad yang kuat?"

Semua anggota I.P.P.S menampakkan ekspresi tak percaya. Tak ada banyak hal yang bisa dilakukan di ruangan terbatas seperti ini, dan para anggota I.P.P.S tak dibekali kemampuan betarung sama seperti Divisi Penyembuhan.

"Sebenarnya, kalian memiliki pertahanan yang baik di sebagian tempat, tentu saja sedikit aneh mendapatkan Institut Penelitian dan Pengembangan Shinigami termasuk ke dalamnya," Yhwach mengambil beberapa langkah ke depan sambil berbicara. "Bukankah wajar bila aku mempunyai pemikiran seperti itu? Ini bukan kebetulan bahwa kalian mengambil resiko besar untuk mengurung putri kami di tempat ini. Jadi, ada apa kira-kira..."

BLARRRRR!

Serangan cepat yang tak diduga-duga datang dari aura hitam yang mengelilingi Yhwach. Tak ada persiapan apapun dari Akon dan yang lainnya bahwa akan ada kejutan seperti itu, tapi anehnya mereka tak merasakan apapun. Serangan itu sama sekali tak mengenai mereka. Meleset? Yang benar saja, mungkin itu memang bukan untuk mereka. Saat pandangan Akon sedikit ke samping, dia bisa melihat dengan jelas siapa yang sedang berdiri di sana dengan pedang di tangannya itu.

"...Profesor Kurotsuchi?" lanjut Yhwach.

"Heh, kau ini...," balas Mayuri yang di dahinya terbentuk urat-urat kekesalan akibat serangan tiba-tiba Yhwach padanya. "Kau tahu, ya, sialan? Maaf, Akon, aku pinjam gaya bicaramu sebentar."

"Huh? P-Profesor, Anda... kenapa Anda di sini?!"

"Anak buahku mati di laboratoriumku sendiri tentu bukan hal yang menyenangkan untuk didengar, kan? Sial, yang tadi itu hampir saja, lho. Kau hampir memotongku jadi dua, apa kau sengaja, ya?" pria nyentrik itu mengomel dengan jari telunjuk mengarah pada Yhwach. "Dan lagi, apa maksudmu dengan I.P.P.S bukan termasuk tempat dengan pertahanan yang baik?"

Mayuri mendesah pelan, "Dengar, kau mungkin tidak tahu berapa banyak ranjau yang kupasang di sini. Bukankah mendengar namanya saja sudah memberimu banyak petunjuk? Tempat ini adalah pusat penelitiannya Seireitei, kau juga sebaiknya hati-hati karena aku mulai tertarik dengan kekuatanmu itu."

"Kalau begitu, silakan kau periksa. Aku tidak keberatan," Yhwach tersenyum. "Itu juga kalau kau bisa."

Mendengar itu, seringai di bibir Mayuri bertambah lebar sehingga memperlihatkan deretan giginya yang terlampau rapi.

"Heh, boleh juga kau."

―Yuuka desu―

"Pusat komando tidak merespon panggilan, jadi memang pemimpin Sternritter sudah berada di sana."

"Apa yang terjadi? Bukankah tadi dia bertarung dengan Komandan?"

Kyouraku yang mendengar keluhan Soifon di perjalanan mereka menuju I.P.P.S masih bergeming. Kakinya dengan lincah melompat dari satu dahan ke dahan pohon yang lain, berusaha secepat mungkin sampai di sana setelah meninggalkan barikade pasukan di gerbang selatan.

"Kudengar Ichigo sudah berada di sana," gumam Kyouraku. "Kuharap dia tidak melakukan hal ceroboh."

"Apa kau yakin? Saat ini yang ada di kepalanya pasti menerobos masuk ke I.P.P.S meski nyawanya sampai terbunuh. Orang yang bekerja menggunakan insting seperti dia tak bisa diceramahi soal aturan."

Sarkasme Soifon terhenti tepat saat mereka tiba di tepi hutan. Alangkah terkejutnya mereka melihat tempat itu telah rata dengan tanah, hancur berkeping-keping dan sangat berantakan. Mata Kyouraku langsung berpindah ke berbagai arah, mencari reiatsu rekan-rekannya di antara angin, tubuhnya bershunpo begitu saja setelah menemukannya.

"Juushirou! Syukurlah, kau di sini."

Ukitake yang masih menunggu di atas pohon tersentak melihat kedatangan Kyouraku dan Soifon ke arah mereka.

"S-Shunsui?! Kalian berdua kenapa malah kemari?"

"Kami khawatir karena sambungan I.P.P.S tiba-tiba terputus," jawab Soifon, melirik Toushirou yang berada tak jauh dari mereka bersama Hinamori. "Ada apa ini?"

Kyouraku juga menyadarinya, ada yang tak beres dengan atmosfer di tempat itu. Mungkinkah tadi sempat ada pertarungan? Tapi siapa? Pandangan Kyouraku beralih pada Ichigo yang memilih untuk berada di dahan terjauh, merenung di sana.

"Sebaiknya kau tidak bertanya apa-apa saat ini, Shunsui," ujar Ukitake seakan membaca pikiran Kyouraku dengan sekali pandang. "Kami telah berhasil membuatnya tenang sekarang, tapi entah apa yang akan terjadi nanti. Hitsugaya-kun juga sudah mencapai batasnya, kau tahu, kan, dia paling tidak sabar menghadapi Ichigo."

"Ya, tapi dilihat dari manapun ini mengejutkan."

"Benar, kan, apa yang kubilang?" timpal Soifon.

"Yang terpenting sekarang kita lihat situasinya dulu. Saat ini Yhwach sudah berada di dalam, mungkin sebentar lagi dia akan keluar membawa Kuchiki bersamanya. Ini hanya tinggal masalah waktu," Ukitake melirik Ichigo sekali lagi dan mendesah. "Aku cukup lega karena dia masih mau mendengarkanku."

Kyouraku terdiam untuk beberapa saat, tapi tak lama kemudian dia dikejutkan oleh dinding bagian luar I.P.P.S yang tiba-tiba saja hancur dengan suara keras. Mata mereka beralih ke pusat komando seketika.

"Apa yang terjadi?" tanya Soifon. "Dindingnya... hei, Kyouraku, apa kita benar-benar hanya akan duduk di sini? Ayo kita pergi."

"Tunggu dulu, Soifon, jangan gegabah," Kyouraku menahan sebelah tangan wanita itu.

"Tapi!"

"Saat mengetahui Yhwach sudah melangkah ke I.P.P.S yang ada di pikiranku dia pasti tak melakukan pertarungan yang serius dengan Komandan. Sudah pasti Komandan tidak akan mudah dikalahkan secepat itu, tapi dia sengaja melepaskannya. Kau tahu apa arti semua ini, kan?" Kyouraku melepaskan tangannya dari Soifon. "Kita hanya harus percaya pada Rukia-chan," lanjutnya serius.

Ekspresi Soifon sedikit masam, dia tidak menyukai gadis itu dari awal tapi jika Kyouraku sudah bicara, dia tidak lagi memiliki alasan untuk menyanggah.

"Terserah kau saja," jawabnya, membuang muka ke samping.

Sementara itu di dalam kantor komunikasi I.P.P.S, hasil pertarungan sudah bisa terlihat. Mayuri dengan luka yang lumayan parah di perutnya telah tumbang di dekat reruntuhan dinding. Terbatuk darah, dirinya mencoba bangkit saat rasa sakit akibat tusukan aura Yhwach yang setajam pedang masih terasa di sekujur tubuhnya. Padahal dia tahu Yhwach belum mengeluarkan kemampuan yang sesungguhnya, betapa mengerikannya jika itu sampai terjadi.

"Profesor!"

"Mayuri-sama!"

Mendengar panggilan dari para anak buahnya, Mayuri hanya bisa menghela napas. Ternyata memang tidak bisa. Ah, rasanya sudah lama sekali dia tidak merasakan sakit. Rasa itu seperti membangunkannya.

"Apa kau sudah puas? Tidak ada bedanya jika diteruskan, maka aku akan menyelesaikannya cukup sampai di sini," ujar Yhwach dingin. Matanya berkilat di bawah kegelapan. "Tenang saja, aku tidak akan membunuhmu. Kau masih bisa hidup setelah semua yang sudah kaulakukan, harusnya kau bersyukur atas itu."

Baru saja Yhwach berbalik untuk mengambil beberapa langkah, sebuah pedang milik Mayuri melesat ke arah punggungnya tanpa disangka-sangka. Tapi seakan memiliki mata di belakang kepalanya, Yhwach melompat ke atas dan dengan mata menyala melempar sihir perusak untuk terakhir kalinya ke arah orang-orang yang telah sekarat itu tanpa ampun.

"GYAAAAHHHH!"

Setelah menginjak lantai, hal pertama yang dilakukan Yhwach adalah melempar pedang itu kembali pada pemiliknya, sebelum menekan tombol pintu bawah tanah. Sebuah tangga terbuka di bawahnya dan dengan itu dia bergumam,

"Sungguh keras kepala. Kenapa kalian dengan keras berusaha untuk hal yang sia-sia?"

Kakinya melangkah turun melalui tangga, meninggalkan seluruh anggota I.P.P.S tergeletak di atas lantai dengan darah terkucur dimana-mana. Bahkan Profesor mereka, Kurotsuchi Mayuri, tampak tak sadarkan diri dengan pedangnya sendiri tertancap di dadanya.

"Ayo, Jugram. Kita tak bisa membuat putri kecil kita menunggu."

"Baik, Yang Mulia."

Bersamaan dengan Jugram yang menyusul ke ruang bawah tanah, pintu di atas mereka kembali menutup, digantikan dengan kegelapan labirin yang menjadi awal kemenangan mereka. Kekuatan menuju sebuah keabadian yang tersembunyi di dalam bola kecil Hogyoku sebentar lagi akan menjadi kenyataan. Yhwach dengan langkah lebar berjalan ke depan, menghancurkan setiap kekkai yang ada dengan tangannya sendiri, tak repot-repot untuk menyuruh Jugram karena dirinya sedang dipenuhi rasa senang.

"Tujuanmu semata-mata bukan untuk alasan yang klise seperti menghancurkan dunia, kan?"

Dia masih bisa mencium aroma pertarungannya yang lalu dengan pemimpin kekaisaran Seireitei, setelah dia memotong lengan kiri pria tua itu dengan seluruh yang dia miliki.

"Kau sungguh mengenalku, Genryuusai," jawabnya waktu itu. "Dunia kita yang sebenarnya bukan terbagi menjadi tiga, tapi merupakan satu kesatuan utuh yang membuat kita kuat. Ras penyihir, pendekar maupun manusia berkumpul dan bekerja sama satu dan yang lainnya. Menurutmu kenapa kita sampai membuat tapal batas yang seakan menjadi sekat di antara kita?"

"Kaulah yang memulai semua itu, brengsek."

"Sekarang ini, Dunia Manusia menjadi satu-satunya tempat terbesar setelah Soul Society dan Wandenreich. Kita bahkan hanya bisa bersembunyi dari mereka, para kelompok suci. Karena merupakan kelompok mayoritas, bukan berarti mereka bisa melindungi kita yang memiliki kekuatan lebih sebagai gift. Tidakkah kau pikir itu aneh?" Yhwach menatapnya lurus-lurus, kilatan matanya menyambar bagai petir. "Harusnya, kitalah yang melindungi mereka."

"Dengan kata lain, kau hanya ingin mengulangi kesalahanmu yang dulu, begitu, ya? Kau tak pernah belajar dari kesalahan," timpal Genryuusai.

Mendengar itu, Yhwach hanya terdiam.

"Tidak," ujarnya kemudian. "Justru sebaliknya, kawanku. Aku akan mengembalikan kejayaan kita dulu bersama dengan para kelompok suci di dalam dunia yang sama." Untuk sesaat ekspresi Genryuusai mengeras dan Yhwach tahu itulah yang selama ini dia pikirkan. "Wajahmu tak menunjukkan penyangkalan apapun saat ini, Genryuusai."

Genryuusai menegakkan tubuhnya sekali lagi, dengan tatapan serius yang terarah pada lawannya. "Apa yang membuatmu berpikir itu adalah cara terbaik?"

"Tentu saja," senyum Yhwach perlahan muncul di bibirnya, "itu karena kitalah yang akan memimpin mereka."

Mata Sasakibe melebar, ingatannya pergi pada seribu tahun lalu dimana ras penyihir di bawah pimpinan Yhwach melakukan kudeta besar-besaran yang menyebabkan terlahirnya perjanjian antar ketiga ras. Orang itu sedang mencoba untuk melanjutkan apa yang dia tinggalkan dulu dan bila dibiarkan, dia akan benar-benar memegang kendali atas seluruh ras.

Senyuman Yhwach berubah menjadi sebuah seringai.

"Dengan kata lain, evolusi."

Yhwach telah tiba di pintu terakhir, dengan sedikit dorongan memecah kekkai yang melingkupi pintu kayu itu. Wajahnya benar-benar pengertian yang tepat untuk sebuah keberhasilan. Pintu yang mulai terbuka mengingatkan Rukia untuk menghapus keragu-raguannya yang terakhir. Hampir tak berekspresi, topeng yang sudah lama sekali tak dipakainya semenjak tiba di Soul Society kembali dipasang. Itu adalah salah satu cara termudah untuk membedakan seorang Kuchiki di antara kerumunan orang. Dengan violet yang berkilat di bawah cahaya, dia menyambut dua orang yang kini berdiri tegak di hadapannya.

"Putriku, Kuchiki Rukia," sapa Yhwach puas, mendekat ke sana perlahan untuk menangkup wajah Rukia di tangannya. "Mari kita pulang."

Rukia tak menjawab, matanya beralih pada seorang pria tinggi berambut pirang yang berdiri di dekat pintu sebelum kedua mata Yhwach memenuhi pandangannya sekali lagi.

"Kita akan pulang, ke Silbern."

Pandangan Rukia mengabur hanya dengan sentuhan lembut Yhwach di kepalanya. Sebelum kesadarannya benar-benar menghilang, dia bertekad dalam hati untuk berjuang meski tak ada garansi untuk kembali dalam keadaan utuh ke tanah tempatnya berpijak sekarang.

Ichigo.

―Yuuka desu―

"Berubah tenang."

"Setelah ledakan tadi rasanya itu adalah pertarungan yang terakhir," Ukitake menimpali perkataan Kyouraku, sebelum mengangguk pada isyaratnya. "Kalian akan bersiap di posisi masing-masing setelah melihat kode yang kuberikan. Ini mungkin serangan terakhir yang bisa kita lakukan sebelum mereka pergi."

Semua orang di tempat itu mengangguk kecuali Ichigo yang masih berada di dahan terjauh namun masih bisa mendengar percakapan mereka. Entah sejak kapan dia larut dalam pikirannya sendiri. Semenjak Ichigo banyak diam, Toushirou malah semakin kesal. Dia tahu pria itu hanya ingin melakukan sesuatu yang dianggapnya benar tapi setidaknya jika memang begitu lakukan dengan berpikir. Sekarang ini, dia bukanlah apa-apa kecuali pengganggu.

Ichigo memandang telapak tangannya sambil melamun. Ini bukan aksi pemberontakannya yang pertama tapi baru kali ini dia merasa ragu untuk beberapa alasan. Apakah ini sebanding? Dia sudah berkata bahwa Rukia lebih penting dari Soul Society, itu memang yang sedang dia rasakan saat ini tapi... apakah ini akan sebanding?

Pada akhirnya, dia bisa memahami perasaan Rukia. Sejak kecil dia menderita karena menanggung hidup orang lain. Apa yang dilakukannya tak lain adalah tuntutan dari para tetua Kuchiki yang mengharuskannya bersikap seperti seorang bangsawan yang bermartabat. Takdir keturunan perempuan klan Kuchiki tak pernah mudah, tapi dia tetap membawa semua itu di bahu kecilnya seakan-akan itu bukan hal besar.

"Semua Kuchiki itu sama saja!"

Hazelya meredup. Dia sadar, tapi tak sepenuhnya berada dalam kenyataan. Ingatan itu benar-benar menyakitkan, entah kenapa dia baru menyesalinya sekarang. Untuk pertama kalinya, Ichigo ingin menarik apa yang telah keluar dari mulutnya waktu itu. Rukia berbeda, gadis itu tidak lemah. Dia selalu cepat menerima semua hal seakan tak pernah memiliki harapan untuk masa depan. Mungkin dia mengira bahwa masa depan akan selalu buruk untuknya, karena itu dia menyerah dan membatasi harapannya sendiri.

Itu memang selalu terjadi, sejak dulu. Tapi... dia tak pernah terlihat begitu bahagia sebelum bertemu dengan Ichigo. Pria itu mengeratkan giginya. Dia tidak tahu Rukia yang dulu, tapi dia bisa merasakannya hanya dengan sekali tatap. Kenyataan itu seperti membunuhnya. Berulang kali dipaksa untuk menyerah saat merasa begitu yakin atas sesuatu, benar-benar membunuhnya.

"K-Kurosaki-kun, tandanya. Kita harus berpencar," kata-kata Hinamori membangunkannya seketika. Ichigo menyadari Ukitake dan yang lain telah menghilang dari sana kecuali mereka berdua dan orang yang tadi sempat meneriakinya.

"Kalau kau masih ragu-ragu, sebaiknya kau mundur dan duduk saja di sana seperti orang bodoh," timpal Toushirou dengan kekesalan yang masih sama.

Ichigo bangkit tanpa menatapnya.

"Aah, mungkin aku memang bodoh."

Begitu Ichigo bershunpo pergi, Toushirou mengeratkan kepalan tangannya dan menghadap Hinamori, "Ayo, Momo, kita juga."

Hinamori mengangguk, memutuskan untuk tak mengatakan apapun setelah apa yang terjadi sebelumnya. Belum pernah dia melihat Toushirou semarah dan sekesal itu semenjak mereka saling mengenal dan hidup bersama sebagai teman masa kecil sekaligus partner dalam misi.

Begitu Ichigo tiba di posisinya, yang perlu dia lakukan hanyalah menunggu aba-aba dari Ukitake yang memegang komando dari rencana mereka. Pria itu menarik napas, memusatkan konsentrasi yang beberapa saat lalu terpecah-belah. Untuk inilah dia datang kemari. Untuk Rukia. Dia hanya harus mengerahkan semuanya di kesempatan ini karena kalau tidak―

"Dia keluar!"

Seperti tertampar sesuatu yang keras, jantung Ichigo kembali memburu. Di kejauhan tampak Yhwach beserta bawahannya yang setia keluar dari puing-puing bangunan I.P.P.S dan beranjak menjauh dari sana. Rahang Ichigo menonjol di balik kulitnya karena sekali lagi―dia benci perasaan ini. Instingnya mengatakan bahwa dia akan gagal. Kenapa dia jadi begitu pengecut?

Sebenarnya apa tujuanmu? Apa yang ingin kaulakukan? Bangkitlah... bangkitlah sekali lagi. Apa kau akan diam saja melihat mereka membawanya?

Inikah yang kauinginkan?

"Sekarang!"

Semua orang yang tergabung dalam operasi itu keluar dari persembunyian mereka secara bersamaan. Dengan serangan kombinasi, Toushirou dan Ukitake bisa membukakan jalan untuk yang lain. Tapi seakan bisa membaca mereka, Jugram segera menghalang di belakang tubuh Yhwach menggunakan pedangnya.

TRAANGG!

"Kusso! Kyouraku!"

"Wakatta yo, tch."

Mendengar panggilan Soifon, Kyouraku bergantian menyerang dari jarak dekat dibantu oleh Ukitake yang berusaha menjangkau Yhwach. Tapi meski dikepung oleh empat prajurit elit, Jugram tak menunjukkan sedikitpun rasa ragu. Tak berperasaan, begitulah dirinya. Saat menyadari celah terkecil, dia mengeluarkan sihir penghalang yang dalam sekejap menahan semua serangan mereka.

Apa yang kaulakukan? Berdiri. Kau bisa melihatnya di sana, kau belum terlambat.

Di saat yang lain melakukan pertarungannya sendiri, Ichigo tertahan di tempatnya melihat gadis mungil berambut pendek tak sadarkan diri di lengan Yhwach. Jantungnya berisik sekali di rongga dadanya hingga terasa sakit. Tubuhnya kaku, keringat mengalir menuju dagunya meninggalkan keragu-raguan yang membunuh secara perlahan. Pegangan Ichigo di pedangnya mengerat hingga gemetar.

"Apa kau meragukan Soul Society atau dirimu sendiri?"

Ichigo tersentak saat mendengar suara itu di kepalanya, begitu cepat seperti hembusan angin. Telapaknya mulai mengingat bagaimana rasa sentuhan yang seakan memberi kekuatan padanya itu. Juga wajah Rukia yang tersenyum saat dirinya begitu putus asa.

"Meski begitu aku yakin kau tidak akan menarik kata-katamu."

Ah...

Hazel Ichigo berkilat, menggeser posisi pedangnya sedikit menyamping kini dia benar-benar bersiap untuk menyerang. Ichigo mengambil ancang-ancang, lalu dengan dorongan dari kedua kakinya dia melompat tinggi melawan angin. Tujuannya hanya satu, tempat dimana Yhwach berada. Di saat dirinya terdesak oleh berbagai argumen di kepalanya, Ichigo masih mengangkat pedangnya di atas kepala.

"RUKIAAAA!"

Mendengar teriakan itu, Kyouraku beserta yang lainnya menoleh. Terbelalak saat tebasan Ichigo mengarah pada Yhwach.

"Jangan, Ichigo!" teriak Ukitake panik.

Yhwach yang berhenti di udara tepat setelah Ichigo akan menebas hanya menatapnya datar. Dia bisa melihat keragu-raguan yang begitu jelas di hazelnya, bahkan tak hanya itu―ketakutan. Ketakutan akan kehilangan seseorang terpancar jelas di matanya. Tatapan itu jelas tak akan pernah menghentikan Yhwach, tak akan pernah.

"Jugram."

Yhwach berbisik dan dalam sepersekian detik Jugram telah meninggalkan posisinya dan muncul di hadapan Ichigo, tepat saat pedang pria itu akan mengenai kepala Yhwach.

TRAANGGG!

Dua pedang yang sama-sama kuat saling beradu. Ichigo mendecih, dengan sekuat tenaga mendorong pedangnya yang lebih besar ke depan.

"Rukia!"

"Percuma saja, dia tak akan mendengarmu. Saat ini dia sedang dalam kondisi yang kalian sebut... 'mati'."

Ucapan Jugram memberikan sengatan di tubuh Ichigo. Dia hanya bisa melihat―dengan sekilas―wajah pucat Rukia yang tertutup sebagian rambutnya. Ketika pandangannya beralih pada Jugram, pria itu telah mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya. Memanfaatkan kondisi Ichigo saat itu, Jugram mengubah tumpuan pedangnya dan dengan sekali dorongan Zangetsu telah terpental dari pemiliknya.

Ichigo yang masih terkejut tak bisa membaca serangan lanjutan Jugram, tapi entah kenapa dia tahu. Apa yang akan terjadi.

ZRASSHHH!

Semua seperti diperlambat. Pedang Ichigo berputar dan menancap di tanah, meninggalkan pemiliknya yang tumbang dengan luka sayatan di dada. Tangan Ichigo berusaha menjangkau sesuatu, tapi terlalu jauh sekarang. Kekuatannya seakan hilang entah kemana. Dengan tatapan Jugram yang dingin, Ichigo terjun dari langit, semakin menjauh sementara kakinya tak lagi bisa memijak udara. Baru setelah terdengar suara bedebum yang keras, rekan-rekannya yang lain saling berteriak memanggil namanya.

"Ichigo!"

"Kurosaki-kun!"

"Kurosaki!"

Di atas tanah yang terasa lembab, Ichigo merasa tuli. Pandangannya yang sayu perlahan kembali ke langit, saat Yhwach dan Jugram mulai menghilang dari penglihatannya. Mata Ichigo menggelap.

Sudah... berakhir. Jadi, pada akhirnya dia tak bisa melindungi sesuatu yang sangat berharga. Begini saja, ya? Sejak kapan dia jadi selemah ini?

Tes...

Ichigo mendapati tanah mencipratkan sedikit air ke wajahnya. Selain mereka yang sedang berkabung dalam duka, langit ternyata cukup pengertian untuk mengabarkan pada kota. Awan mendung akhirnya membawa hujan ke Seireitei. Perlahan, pipi Ichigo basah, bajunya basah terkena hujan. Dalam waktu singkat hujan telah jadi selebat ini. Ichigo hanya bisa melihat langit yang muram dengan sisa tenaganya.

Hatinya terasa sakit.

"Tch..."

Ichigo menggigit bibirnya kuat-kuat, menahan senggukan dari tenggorokan yang membawa gemetar ke seluruh tubuhnya. Air matanya melebur bersama air hujan, tapi dia masih bisa merasakan kehangatan dari sana meskipun sedikit. Saat ini, dia tak lebih dari seorang anak kecil yang tersesat. Ichigo menutup matanya erat-erat.

Sementara itu, rekan-rekannya yang hanya bisa melihat dari kejauhan saling memandang. Mereka memutuskan untuk tak mendekat, hanya ikut merasakan kepedihan yang terpancar jelas dari pria berambut oranye yang tergeletak di bawah guyuran hujan. Bahkan Toushirou bisa merasakannya. Keputusasaan yang perlahan menyayat kulitnya. Lelaki itu hanya bisa membuang muka.

Di langit yang muram, para Sternritter berbondong-bondong memasuki Garganta seperti sekawanan burung merpati. Pakaian putih mereka yang melambangkan perdamaian sungguh merupakan kutukan bagi siapapun yang berurusan dengannya. Seluruh Shinigami di berbagai sektor hanya bisa memandang ke atas, tempat burung-burung itu kembali ke sarang mereka setelah meninggalkan luka yang mendalam. Bukti kemenangan mereka. Untuk saat ini, setidaknya masih ada satu yang tersisa, yaitu―

Harga diri.

.

To be Continued

.


Author's note :

Chapter 14 is done. Holaa semoga aja pada belum bosen ya sama fic ini, apa terlalu banyak action? Romance nya kurang? Yuuka harap bisa memenuhi harapan para pembaca setiap minggunya. Tapi memang, untuk hasil yang baik dibutuhkan suasana yang baik juga. Itu artinya, liburan! *ditabok. Haha bercanda kok. Oke nggak usah panjang-panjang deh kali ini. Yuuka ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dari dukungan kalian baik yang sudah membaca, mereview, memfollow atau memfav cerita ini. Kritik dan saran sangat diterima! Terakhir tapi bukan terakhir, tell me what you're thinking?

Balasan bagi yang tidak log in:

Kurosaki2241 : Woaaaa makasih sudah mereview ^^ akhirnya ya haha battle nya seru? Waaa arigatou *-* masih unggul di action untuk chapter ini, kita akan lihat seberapa sadis Bambietta nanti wahahahahaha! Sudah update, semoga kamu suka! Terima kasih semangatnya ^^

kazukiito : Kazukiito-san hisashiburi ^^ waaaah permintaan yang sulit, hmm super saiyan jin? Yuuka malah baru tau kalo namanya itu. Mungkin bisa jadi pertimbangan, Yuuka pikir-pikir dulu ya *nahloh(?) Huwaaaa Kazukiito-san memang yang paling mengerti aku! Harusnya aku berusaha lebih kuat, yosh! Makasih reviewnya, sudah update nih semoga kamu suka *-*