Disclimer : Bleach hanya milik Tite Kubo seorang
―bukan punya Yuuka―
.
.
.
Warning : Typo (yang selalu nongol), AU, contains fantasy terms, curse words, semi-canon, Gaje (Yuuka serahkan pada Readers semua), DLDR
.
'Actually, he's full of weakness. He is a child and lonely.'
.
Enjoy and happy reading !
...
The Half-Blood
Akimoto Yuuka
[Warning : Alur dari sini akan cepat dan berpindah-pindah hingga batas yang sudah ditandai.]
"Oiii, Ichigo!"
"Hm? Ah, Hisagi."
Seorang lelaki dengan tato 69 di wajahnya berlari dengan wajah gembira, menghampiri Ichigo yang baru keluar dari Akademi tempat mereka akan menempuh pendidikan dasar sebagai seorang prajurit.
"Kudengar kau lulus tes, ya?" tanyanya.
"Begitulah, tapi ujian tertulisnya benar-benar tak masuk akal."
"Mau bagaimana lagi, kau memang bodoh kalau soal teori."
"Jangan menyanjung lalu menjatuhkanku begitu saja! Dasar, kau juga lulus tes, kan, jangan berlagak tidak tahu begitu, membuatku kesal saja!"
"Hahaha! Aduh, hentikan, Ichigo!"
"Wah, wah... lagi-lagi kalian memulai semua tanpaku."
Tawa Ichigo dan Shuuhei terhenti saat mendengar suara lelaki seumuran mereka. Hanya dengan melihat kepala botak dan nada bicara yang mengesalkan itu mereka sudah tahu siapa yang datang.
"Ikkaku!"
Shuuhei menunjuk lembaran kertas yang sengaja dibawa lelaki itu untuk pamer, "Surat itu! Jangan-jangan kau juga..."
"Aah! Aku hebat, kan? Ujian seperti ini sama sekali tidak ada apa-apanya!" jawab Ikkaku bangga.
"Kukira, kau akan mendaftar tahun depan," komentar Ichigo.
Lelaki botak itu tersenyum, "Yah, lagipula umurku sudah seratus dua belas tahun. Kalau aku menunggu satu tahun lagi aku akan tertinggal dari kalian."
"Sial, kau hanya ingin pamer saja, kan?"
"Hahahaha!"
"Eh, itu..."
Ichigo menghentikan tawanya saat tatapan Shuuhei mengarah pada seorang anak laki-laki yang juga baru keluar dari Akademi. Anak itu dijemput oleh beberapa orang dewasa berpakaian rapi. Dilihat dari ekspresinya yang lesu, Ichigo bisa langsung menyimpulkan satu hal.
Tahun ini pun gagal, ya?
"Ichigo, bukankah dia saudara―"
"Rasanya aku melihat kedai kue dango di sana."
"Ah? Hei, jangan melarikan diri!"
Shuuhei yang melihat Ichigo berlari, mulai mengejarnya disusul oleh Ikkaku yang sejak tadi tak berkomentar. Meski begitu, dia yang terlihat selalu mengawasi reaksi Ichigo saat bertemu anak laki-laki yang kelak akan menjadi penerus salah satu klan terkuat di Seireitei itu. Anak jenius yang gagal. Shiba Kaien.
Semenjak Ichigo resmi menjadi murid di Akademi, para pengajar telah melihat bakatnya yang semakin berkembang. Dengan rutinitas latihan baik di dalam maupun di luar Akademi, Ichigo telah memiliki refleks, intuisi dan ketahanan tubuh melebihi murid-murid lain seusianya. Seakan-akan tubuhnya memang dibuat untuk tujuan itu. Kemampuan berpedang yang diasahnya setiap hari tanpa lelah merupakan hasil tekadnya yang kuat untuk menjadi seorang Shinigami. Meskipun―
"Cih, lagi-lagi E."
Bertolak belakang dengan prestasi di bidang atletik, nilai akademiknya benar-benar yang paling buruk. Di ujian masuk Akademi pun sebenarnya dia hanya diselamatkan oleh nilai atletik yang mendekati sempurna. Karena untuk menutupi kekurangannya, Ichigo telah berusaha lebih dari yang pernah dilakukan orang lain.
"Dilihat dari manapun kau ini hanya beruntung."
"Tch, Hisagi, urusee!"
Berusaha lebih dari yang lain, berjuang keras untuk satu tujuan. Selama ini, tak ada kata menyerah di kamusnya dan dia tak pernah merasa puas dengan itu. Ichigo sering kali bertarung melawan orang-orang yang jauh lebih tua darinya, jauh lebih kuat. Meski terluka dan kalah, entah kenapa hatinya selalu memberontak. Matanya yang setajam burung elang tak pernah menunjukkan rasa segan pada siapapun yang mengacungkan pedang ke arahnya. Dengan mata yang tak pernah puas itu dia mencapai puncak lebih cepat dari yang lain.
"Shinigami... Kelas C?"
Gurunya yang mengajar di kelas sejarah tersenyum, "Selamat, ya."
Mata Ichigo berbinar seketika. Saat dia pulang dengan surat kelulusan tes Shinigami Kelas C di tangannya, dia melihat sesuatu―yang harusnya tak pernah dia lihat. Di lorong milik klan utama siang itu berdiri seorang anak laki-laki seumurannya sendirian. Shiba Kaien. Anak itu menunduk, tampak mendengarkan sesuatu yang sangat krusial di depan bilik ruang pertemuan. Melihat itu tanpa sadar Ichigo ikut bersembunyi, meski dia tidak bermaksud demikian. Dan apa yang didengarnya benar-benar membuatnya terkejut.
"Sudah waktunya bagi Kaien untuk menjalani pendidikan sebagai calon pewaris."
"Ya, dengan kemampuan seperti itu tidak seharusnya kita memasukkannya ke Akademi dari awal. Karena dia tidak punya bakat untuk menjadi prajurit."
"Justru yang mencengangkan datang dari klan Kurosaki. Ada kemungkinan dia bisa menjadi prajurit elit dalam waktu singkat mengalahkan teman-teman seangkatannya."
"Ah, Kurosaki Ichigo itu? Tapi akademiknya buruk sekali."
"Itu tidak terlalu penting asalkan dia memiliki kemampuan fisik yang bagus."
"Jika ini memang sesuai yang kita harapkan maka klan Shiba akan memiliki dua pewaris jenius mulai sekarang."
Mata Ichigo melebar, suara-suara yang saling bersahutan kemudian rasanya seperti lenyap di udara. Berada di lingkungan klan elit sama saja dengan ajang pembuktian bagi orang-orang seperti dirinya. Seperti ancaman, takdir yang menyedihkan akan jatuh pada mereka yang tidak berguna. Kepalan tangan Ichigo menguat, tapi kemudian dia sadar bahwa bukan hanya dia yang mendengar semua percakapan itu. Tatapan Ichigo beralih pada Kaien yang sekarang sudah berjalan menjauh dengan kepala tertunduk.
Sejak hari itu, Ichigo tak pernah lagi melihat Kaien melakukan latihan rutin di dojo pribadi klan Shiba, atau mencoba ujian masuk Akademi di tahun berikutnya. Sepulang dari pelatihan, buku-buku di perpustakaan selalu tampak berantakan. Tapi rasanya Ichigo tahu siapa yang melakukan hal itu setiap hari hingga muak. Itulah saat Ichigo menemukan Kaien berada di depan pohon sakura taman keluarganya― sedang menangis sendirian.
Meski tak mengatakan apapun, Ichigo bisa merasakan apa yang dirasakannya saat ini. Kesedihan, penyesalan dan rasa kesal. Semua itu terlukis di punggung Kaien. Sungguh, Ichigo ingin menyapanya waktu itu.
"Hei."
Kaien terlonjak di tempat, buru-buru menghapus air matanya dengan lengan baju yang sedikit lusuh. Ragu-ragu, Ichigo kembali bicara,
"Kau... baik-baik saj―"
"Menyingkir dari hadapanku!"
Teriakan Kaien waktu itu benar-benar membuat Ichigo terkejut. Matanya menyala-nyala penuh kebencian yang hanya tertuju padanya sehingga Ichigo bahkan tak bisa mengatakan apapun sebagai balasan.
"Kau hanya seseorang dari klan cabang yang tidak ada apa-apanya dibandingkan klan Shiba, jangan berlagak hebat! Bukankah kau senang karena para tetua menyanjungmu setiap saat, huh?!"
"A... Apa maks―"
"Tch!"
Kaien mengeratkan giginya, membuat Ichigo terkejut sekali lagi. Tapi tak lama setelah itu, sepertinya Kaien mulai sadar bahwa apa yang diucapkannya barusan adalah hal yang mengerikan. Menarik napas pelan, dia berbalik hanya untuk menjauh dari Ichigo yang masih mematung di tempat. Bertanya-tanya.
Dia hanya ingin menyapanya.
Takdir yang telah ditetapkan pada dua pewaris klan Shiba telah menciptakan garis tak kasat mata di antara mereka. Sebagai seorang prajurit, Ichigo tahu bahwa prestasinya harus membawa kebanggaan pada klan utama. Berulang kali pergi menjalankan misi-misi ranking atas, akhirnya Ichigo kembali ke kediaman Shiba sebagai seorang Shinigami Kelas B. Tepat di peresmian calon pewaris utama keluarga.
"Mulai sekarang, kau akan mengabdikan dirimu sepenuhnya pada klan Shiba, Kaien. Ingatlah selalu alasan kenapa kau ada di tempat ini. Kesalahan fatal tidak akan ditolerir, apa kau mengerti?"
Kaien yang telah cukup dewasa atas pertanyaan itu tersenyum. "Tentu saja, Jii-sama."
Saat acara setengah berlangsung, Kaien bisa melihat kehadiran Ichigo di pojok ruangan yang tak melakukan apapun selain menatapnya. Berbeda dari berpuluh-puluh tahun silam, dirinya yang sekarang tidak lagi tampak menyedihkan. Dengan kata lain, dia telah membuang―dirinya yang dulu. Tatapan yang diarahkan pada Ichigo waktu itu merupakan kekosongan yang tertutupi harga diri tinggi. Kaien tersenyum miring padanya.
"Kurosaki Ichigo, menurut peraturan Shinigami no. 13, kau akan dihukum eksekusi mati atas tuduhan pelanggaran batas wilayah milik klan Shimizu di distrik 56 Rukongai Barat dan pembunuhan enam warga desa di sana. Hukuman ini akan dilaksanakan lusa di Bukit Sokyoku dan disaksikan oleh seluruh rakyat Seireitei. Apa kau punya kata-kata terakhir? Aku akan menulisnya di buku ini untuk pertimbangan Dewan 46."
Ya, hari itu akhirnya datang juga. Ruang pengadilan yang dingin, bau hambar besi, pergelangan tangan yang diborgol serta tatapan para jaksa di atasnya, semua itu sudah sering dia alami. Lagipula, ini bukan pertama kalinya dia masuk ke ruang persidangan. Di umurnya yang telah mencapai seratus tujuh puluh empat dan memegang pangkat Shinigami Kelas A―baru ditetapkan beberapa bulan lalu―pelanggaran Ichigo semakin tak bisa ditolerir lagi. Di bawah tekanan para jaksa yang memilih untuk bersikap dingin, Ichigo menyeringai.
"Kalian tidak ada bedanya."
Itu adalah pelanggaran Ichigo yang terakhir, dan paling berat. Saat tiba hari dimana eksekusi dilaksanakan, seluruh dunia seakan-akan melihat dirinya di puncak tiang kematian Bukit Sokyoku. Tapi Ichigo tak memiliki penyesalan. Dia masihlah seorang Shinigami brutal yang memandang rendah pada para bangsawan di bawahnya. Berapi-api dan kosong, itulah dia. Bahkan di bawah tekanan Komandan tertinggi pasukan militer Soul Society, Genryuusai Shigekuni Yamamoto, dan seribu api burung phoenix miliknya, mata Ichigo tak menujukkan sedikitpun rasa takut.
"Kau benar-benar tak memiliki kata-kata terakhir sebelum apiku melumatmu, Kurosaki Ichigo?" tanya Genryuusai waktu itu.
Sebagai seorang Shinigami Kelas A, itu adalah penghinaan terburuk. Dia yang selama ini diakui oleh semua orang karena bakatnya yang luar biasa hanya akan berakhir di atas tiang eksekusi Bukit Sokyoku, dan mati di tangan pemimpinnya sendiri. Namun sembari membawa itu semua, Ichigo tersenyum kecil.
"Yah, kurasa sampai di sini saja."
Genryuusai terdiam, sebelum mengangkat pedangnya ke depan sebagai permulaan, "Baiklah."
"Tunggu! Kumohon tunggu sebentar!"
Semua orang dikejutkan oleh kedatangan salah seorang Shinigami bertato 69 di pipinya yang berlari seperti orang kesurupan. Pria itu menunjukkan sebuah surat yang sudah hampir tak berbentuk di tangannya yang gemetar hebat.
"Hisagi Shuuhei, apa-apaan sikapmu itu!"
"Maafkan aku! Tapi ada hal sangat penting yang harus kukatakan pada kalian, karena ini menyangkut pelaksanaan eksekusi mati Kurosaki Ichigo," jawab pria itu pada perkataan Sasakibe. "Di dalam surat ini, terdapat bukti pembelian beberapa tanah baru oleh klan Shimizu. Tepatnya di distrik 56 Rukongai Barat yang menjadi tempat dijalankannya misi ranking B Kurosaki Ichigo, minggu lalu. Seperti yang tertulis di sini, klan Shimizu telah mengajukan perjanjian yang kejam kepada para warga, secara sepihak, karena itu..."
Sasakibe terkejut, tatapannya jatuh pada klan Shimizu yang bergerombol di dekat para bangsawan lain, tampak lebih pucat dari kertas putih. Bahkan tak ada satupun di antara mereka yang berani menyangkal. Mata Sasakibe melirik ke samping, tempat Genryuusai berdiri dengan ekspresi setenang air.
"Lanjutkan," ujar pria itu pada akhirnya.
Shuuhei mengangguk dan menatap para bangsawan yang berdiri di bawahnya.
"Maksud dari perjanjian itu tidak lain adalah―agar klan Shimizu bisa memantau jumlah angka kelahiran dan kebutuhan pasar gelap, untuk menjual bayi-bayi yang sudah dewasa sebagai budak!"
Seluruh pandangan kini telah beralih ke titik lain. Tapi tampaknya klan Shimizu tak memiliki celah untuk lari dari seluruh cemooh para bangsawan yang ditujukan pada mereka.
"Benar, mereka jugalah yang membunuh keenam warga distrik 56 karena kecurigaan bahwa ada komplotan yang sedang berkembang untuk menentang mereka," lanjut Shuuhei. "Hari itu, Ichigo―Kurosaki Ichigo―bukan hanya menjalankan misi yang telah diberikan padanya, namun juga memeriksa apakah dugaannya selama ini benar. Bahwa warga distrik 56 Rukongai Barat sedang diancam untuk tidak membocorkan aktifitas ini pada publik. Itulah kenyataannya!"
"Benarkah itu?"
"Sayang sekali, padahal mereka termasuk klan besar."
"Ya, sangat disayangkan."
"Tunggu, bukankah itu jahat sekali?"
Sekali lagi Sasakibe bertatapan muka dengan Genryuusai yang tampaknya telah mengetahui setitik kenyataan dari berita besar itu. Matanya yang masih curiga menatap Shuuhei, lalu klan Shimizu yang berada di bawah tebing. Keputusan yang tepat harus segera diambil saat itu juga, karena itulah Sasakibe memutuskan―untuk membawa kebenaran itu sebagai pertimbangan Dewan 46.
Di tempatnya berada, Ichigo hanya memandang ke satu orang yang sejak tadi berdiri di dekat pohon sakura dan tak melakukan apapun selain menatapnya. Sang penerus keluarga, Shiba Kaien. Hazelnya berubah dingin.
"Kenapa surat itu bisa ada di tanganmu?"
"Yah, itu sih memang sudah jadi keahliannya Ikkaku. Sepertinya kepala klan Shimizu cukup ceroboh untuk membawa surat itu kemanapun dia pergi, setelah kejadian itu mungkin dia baru menyadari bahwa di kantung celananya hanya ada secarik kertas kosong."
Ichigo menghela napas, di taman belakang barak Shinigami Kelas B sore itu akhirnya dia bisa memandang langit dengan lega. Kasusnya yang lalu telah ditangani berkat kedatangan Shuuhei waktu itu, ternyata dia tak perlu mengalami pengalaman terburuk sepanjang sejarah, dengan mati di tempat yang paling tidak dia inginkan. Ichigo tersenyum kecil.
"Bukankah harusnya dia tes ninja Onmitsukido saja kalau begitu?" ujarnya, "Tapi tetap saja, terima kasih."
Shuuhei yang duduk di sebelahnya ikut tersenyum, "Pastikan kau mengatakan itu dengan ekspresi yang lebih meyakinkan pada Ikkaku besok. Sekarang ini dia pasti sedang disibukkan oleh tes kenaikan pangkat."
"Aku tahu," Ichigo menjawab agak kesal. "Mungkin nanti aku akan memilih kalian berdua sebagai ajudanku. Tentu saja setelah Ikkaku lulus dan menjadi Shinigami Kelas B."
Mendengar itu, mata Shuuhei melebar. Itu adalah hal terbaik yang Ichigo katakan padanya semenjak mereka berteman. Sebuah kepercayaan, itu mungkin hal kecil bagi orang lain namun Shuuhei sangat menghargainya. Karena Ichigo yang mengatakannya sendiri.
"Kau ini benar-benar sulit ditebak."
Perlahan, nama baik Kurosaki Ichigo sebagai pewaris jenius kedua di klan Shiba kembali. Bersamaaan dengan itu, Kaien telah bertanggung jawab sepenuhnya dalam menjadi penerus kepala keluarga. Mereka saling tak bicara, tapi ada kalanya hari-hari itu, sikap Kaien tak seacuh yang biasanya.
"Selamat, ya, akhirnya kau gagal untuk kembali mengotori nama baik keluarga."
Yah, meski apa yang dikatakannya benar-benar bukan hal yang enak didengar.
Ichigo melirik Kaien yang tersenyum dengan tatapan jengah, "Begitulah, ini cukup membuatku frustasi."
"Saat kebenaran telah diungkapkan, semua orang mungkin mulai melupakan kesalahanmu yang lalu seakan itu tak pernah ada," katanya dengan nada santai. "Aku penasaran apa kau memang sengaja melakukan semua ini―berpura-pura tak peduli, menarik perhatian, berbuat onar. Sifat membangkang milikmu itu benar-benar sudah di luar batas, apa kau pikir karena statusmu sebagai pewaris kedua kau bisa semena-mena pada nama belakangmu?"
"Kalau mau ceramah nanti di rumah saja. Lagipula, aku tidak pernah peduli pada pewaris atau apalah itu. Aku hanya melakukan hal yang kuanggap benar."
"Egois, seperti biasa. Yah, aku tidak mengharapkan kata-kata yang bagus keluar dari mulutmu, tapi usaha untuk kabur dari apa yang sudah ditakdirkan itu hanya tenaga yang sia-sia," Kaien melipat tangannya, melanjutkan, "kau tidak bisa menipu klan Shiba seperti caramu menipu orang-orang lain, jika alasanmu yang sebenarnya adalah untuk lepas dari tanggung jawab sebagai pewaris kedua klan Shiba."
Ichigo terkejut, tatapan Kaien saat itu seakan menembus ke tengkorak kepalanya. Dia memang sudah menduga bahwa cepat atau lambat Kaien akan tahu, tapi perkiraannya tak pernah secepat ini. Memiliki kecerdasan yang tak diragukan lagi itu benar-benar mengerikan. Sebagai ganti fisiknya yang lemah, Kaien telah dianugerahi pemberian ini. Meski dia tak pernah berhenti mengutuk buku-buku setiap hari.
"Heh, apa Shiba Kaien sedang mengancamku?"
"Perasaanmu saja, kan?" Kaien tersenyum lebar, melangkah lebih dekat untuk berbisik di telinganya. "Jangan lupakan itu, sepupuku yang manis."
Ichigo terdiam di tempatnya berdiri, setelah Kaien meninggalkan ruang perjamuan minum teh yang rutin diadakan sebulan sekali. Tradisi klan Shiba. Di sekian banyak orang di seluruh dunia, mungkin Kaien adalah satu-satunya yang paling bisa mengerti jalan pikirannya. Tahu apa yang akan dilakukan dan alasan di balik itu. Dia adalah orang yang menakutkan. Ichigo mengepalkan tangan, kerutan di pertengahan dahinya bertambah satu lipatan. Orang yang paling tidak dia sukai di dunia ini adalah yang paling mengerti dirinya―ironis.
Waktu berlalu begitu cepat, tapi di dalam sangkar bernama kediaman Klan Shiba, itu adalah penantian tiada akhir. Hari itu, akhirnya Ichigo berhasil menyamakan derajatnya dengan para prajurit elit Kelas A dan mendapat dua ajudan seperti yang dia janjikan. Hisagi Shuuhei dan Madarame Ikkaku. Itu adalah pencapaian yang luar biasa di usianya yang masih menginjak seratus delapan puluh dua. Apa yang diinginkannya selama ini akhirnya terkabul juga―untuk meninggalkan sangkar dan terbang bebas di langit. Dunia.
Semua kekangan, aturan, tuntutan itu... rasanya hilang seperti tertelan musim. Meski borgol tak kasat mata yang mengikatnya seumur hidup tak akan pernah lenyap, tapi setidaknya untuk saat ini―itu sudah cukup. Kurosaki Ichigo seperti kembali ke masa-masa kecilnya, ketika dia tak mengenal kekuasaan dan takdir yang membelenggu dirinya seperti kawanan domba. Dari jauh, untuk setiap detiknya terkadang dia masih bisa merasakan tatapan para tetua dan sepupunya yang jenius, mengawasi. Lalu, apa dia peduli?
Dalam hatinya yang hampa, dia selalu meyakini bahwa hidup sendirian akan selalu lebih baik dari pada menjadi sekawanan domba di padang yang luas dan dikelilingi rerumputan segar. Ini hanya soal harga diri. Dia telah mendapatkan apa yang dia inginkan, tapi kenapa... lubang di hatinya masih begitu dalam? Kenapa dia tak pernah puas?
"Kurosaki Ichigo, kau akan dibebastugaskan sebagai prajurit Kelas A di Soul Society untuk sementara."
Kalimat itu seperti sengatan listrik di tubuh Ichigo. Matanya melebar menatap satu orang yang menguasai tanah kekaisaran Seireitei dan tak ada satupun yang bisa menggantikan posisinya selama lebih dari seribu tahun―Genryuusai Shigekuni Yamamoto. Di dalam ruang pertemuan istana Seireitei siang itu, Ichigo terdiam, bertanya-tanya.
"...Kenapa?"
"Kau bisa menyebut ini kesempatan, atau hukuman, itu terserah padamu. Tapi sebagai seorang Shinigami yang tidak hanya melindungi Soul Society, banyak keputusan sulit yang harus diambil. Aku memiliki beberapa kandidat kali ini tapi sepertinya yang kubutuhkan hanya kau."
"Apa maksudmu, Pak tua? Kau baru saja bilang kalau aku diberhentikan sebagai prajurit Soul Society," timpal Ichigo kesal. "Apa ini lelucon atau semacamnya?"
"Jaga bicaramu, Kurosaki-san," ucap Sasakibe yang berdiri di belakang Genryuusai, memandang tajam ke arahnya.
Mata Ichigo menyipit, sebelum memilih untuk memalingkan wajah ke dinding. Untuk sedetik, dia hampir saja mendecih di depan Komandan tertinggi pasukan militer Soul Society dan wakilnya yang seorang pengguna Kidou kelas atas. Menelan sebentar keangkuhannya, Ichigo kembali bicara.
"Jadi, apa maksud kata-katamu barusan?"
Genryuusai tersenyum kecil, "Sejak dulu, kau memang selalu direpotkan oleh harga dirimu yang tidak berguna itu, bahkan kau sama sekali tidak belajar."Alis Ichigo berkedut karena tak bisa membalas dan dengan itu Genryuusai menarik napas puas. "Yah, aku tak pernah bilang kalau kau akan menjalankan misi ini sebagai seorang prajurit di Soul Society, tapi jika ini lelucon maka ini adalah yang terbaik yang pernah keluar dari mulutku."
"Kurosaki Ichigo," dia melanjutkan dengan tatapan lurus ke depan, "mulai hari ini aku memerintahkanmu untuk menjadi pengawas keturunan perempuan terakhir klan Kuchiki dan membawanya kemari dari Dunia Manusia."
Ichigo terkejut, mulutnya terbuka perlahan untuk menyebut nama klan yang terasa mengganggu di lidahnya, "K-Kuchiki?"
"Benar. Ini adalah misi rahasia yang sudah kurencanakan sejak lama, jadi pastikan untuk lakukan sesuai perintah."
"...Huh? Kenapa aku harus melakukan semua itu? Aku menolak," jawabnya langsung, terlampau kesal untuk sebuah guyonan dari seorang Komandan.
"Kau pikir kau punya hak untuk melawanku sekarang, setelah apa yang kau lakukan di distrik 56? Itu tindakan heroik tapi sayangnya sudah berlalu," Genryuusai berkata santai, "Seorang bayi perempuan menderita penyakit serius yang mengancam nyawanya enam belas tahun yang lalu di sebuah pemukiman kumuh, dan dipungut oleh klan terkuat saat ini, klan Kuchiki. Bahkan sebelum bisa bicara dia sudah membawa beban yang berat sebagai pengganti keturunan perempuan pemilik darah kutukan―yang terakhir. Usianya saat ini tujuh belas tahun enam bulan dan kau tahu apa artinya itu?"
"Kebangkitan darah kutukan," gumam Ichigo.
"Benar. Dia adalah harapan terakhir para penyihir sekaligus ancaman bagi dunia. Tugas yang lumayan berat, bukan?"
"Huh, apa kau yakin memberikan misi seperti ini pada berandal sepertiku? Tidak seperti dirimu saja."
"Justru karena itulah beliau memberikannya padamu, Kurosaki-san," Sasakibe angkat bicara, membuat Ichigo melirik ke arahnya. "Hanya kau yang cocok untuk misi ini."
Untuk sejenak Ichigo terdiam. Hazelnya menunjukkan beberapa kesinisan karena dia yakin sebagian dari rencana itu disebabkan karena Genryuusai tahu sebuah kenyataan yang jelas. Tentang betapa nama itu sangat mengganggunya, bahkan saat dia duduk di bangku Akademi. Saat itu, Ichigo benar-benar ingin menolak.
"Kalau tidak salah, berarti ini akan jadi misi ranking S pertamaku, ya? Sayang sekali, tapi aku tidak tertarik. Kau boleh memberiku misi apapun tapi tidak untuk kali ini, saat berurusan dengan Kuchiki."
"Kurosaki-san..."
"Aku paling benci dengan sekelompok orang yang semena-mena hanya karena mereka punya kekuasaan. Dan Kuchiki adalah salah satunya," ujar Ichigo dengan nada tajam. "Semua Kuchiki itu sama saja!"
Lagi-lagi dia mengatakan kalimat itu. Kalimat yang sama yang dikatakannya di kelas sejarah Akademi bertahun-tahun silam. Tapi begitu mulai, Genryuusai tak punya alasan untuk menarik kata-katanya. Tanpa peduli pada tatapan Ichigo yang menantang dirinya terang-terangan, pria tua itu memukul tongkatnya dengan keras ke lantai. Membuat dua orang lain di ruangan itu tersentak karena suaranya yang menggema di udara. Ichigo pikir Genyuusai akan berteriak memakinya tapi yang terjadi justru―
"Sasakibe."
"Ya, Yamamoto-sama."
"Bawa dia keluar dari ruanganku, aku tak mau melihat wajahnya."
"Baik."
"Apa?" Ichigo menaikkan satu alis, hanya bisa memperhatikan Sasakibe berjalan ke arahnya dengan patuh. "Hei, tunggu, aku belum selesai!"
"Apapun yang kau katakan, keputusanku tidak berubah dan aku hanya akan kesal jika pembicaraan ini dilanjutkan," kata Genryuusai, menghela napas.
"Kau tidak bisa melakukan ini, Pak tua sialan!" Ichigo meronta saat Sasakibe menyeretnya ke pintu. "Lepaskan aku! Kubilang tunggu―whooaa!"
Begitu Sasakibe melemparnya keluar, pintu istana Seireitei langsung tertutup meninggalkan Ichigo yang hanya bisa melongo di atas tanah dengan pantat nyeri. Hah? Apa? Mata Ichigo mengerjap dua kali. Tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi, keningnya mulai dipenuhi urat kekesalan dan dirinya bangkit menendang-nendang pintu istana dengan seluruh tenaganya―seperti orang bodoh.
"Hoi, sial kau Pak tua! Apa maksudnya ini?! Kau baru saja menendang seseorang yang kau mintai tolong, apa kau sudah gila? Lalu kau ingin aku menerimanya, yang benar saja!"
"Jangan merusak pintuku dan pergilah," sahut Genryuusai dari dalam dengan kekesalan yang sama.
"Pergilah, pantatmu! Jelaskan ini dulu!"
"Namanya Kuchiki Rukia."
Seketika tendangan Ichigo berhenti. Waktu itu, untuk sesaat, Ichigo sempat berpikir bahwa itu nama yang bagus. Rukia... dengan kata lain, cahaya. Kenapa ada orang dengan nama seperti itu di antara kumpulan serigala Kuchiki? Ichigo tak bisa menemukan jawabannya dan hanya memandang langit. Lagi-lagi menyesali kebosanan yang akhir-akhir ini mengganggunya. Tapi, di SMA Karakura hari itu setelah menerima misi dari Komandan dengan terpaksa, Ichigo baru sadar―apa yang dikatakannya selama ini mungkin salah. Tidak semua Kuchiki itu sama. Ya... mungkin ini yang dimaksud Genryuusai.
Gadis bernama Rukia itu... mirip dengannya.
"Rambutmu, mereka aneh."
Apa lagi yang lebih membuatnya tersinggung dari pada ini? Kalimat pertama yang dikatakan gadis itu benar-benar di luar dugaan, luar biasa. Dan Ichigo memiliki firasat akan melihat hal mengejutkan lainnya pada gadis itu. Siapa tahu? Ichigo terus membatasi dirinya dengan bersikap seolah-olah tak peduli, menjadi marah dan tak menentu. Tapi saat menatap violet itu... Ichigo seakan berkaca pada dirinya sendiri. Seperti melihat masa lalu.
Gadis itu sama sepertinya.
"Biarkan saja mereka membawaku," Rukia mengeratkan gigi, terlampau kesal. "Aku tidak peduli, Ichigo! Aku bahkan tidak tahu selama ini aku hidup berkat darah kutukan. Jadi kenapa aku harus meneruskannya?"
Ichigo menunduk, hampir mengacak-acak rambutnya.
"Jangan pernah menyebutnya darah kutukan," ujarnya serius, "itu bukan darah kutukan, Rukia."
Tawa kecil keluar dari bibir gadis itu, "Benarkah? Bukankah kalian yang menyebutnya begitu? Sejak awal kalian menganggap klan Kuchiki adalah klan yang terkutuk, kan? Aku juga akan menyebutnya seperti itu sekarang."
"Tidak. Aku tidak akan menyebutnya seperti itu," Ichigo menurunkan bantal yang menutupi wajah Rukia, membuat gadis itu menatapnya. "Aku tidak akan membiarkan Sternritter menangkapmu. Kau bisa mempercayakannya padaku."
Ah, sungguh. Waktu itu, kenapa dia bisa bicara dengan begitu yakin? Kenapa melihat gadis itu terluka membawa rasa yang sama pada dirinya? Karena mereka sama, ya, mungkin karena itu. Ichigo pernah merasakannya dan sejujurnya dia tak mau melihat Rukia ikut mengalaminya juga. Dalam hati, Ichigo ingin memberinya kekuatan. Harga dirinya memberontak dengan kuat di kepala.
"I-Ichigo, bagaimana bisa―"
"Jangan katakan apapun."
Ichigo yang masih mengenakan seragam sekolah, dengan kemeja dan celana panjang, masih terengah-engah dengan napas terputus. Dia pasti bershunpo untuk bisa sampai ke tempat itu―kediaman kakak perempuan Rukia di Ikebukuro. Tapi bagaimana bisa? Bagaimana dia tahu?
"Renji."
Rukia mendesis, seketika membuat kening Ichigo mengkerut lebih dalam. "Jangan pernah menyebut namanya di depanku."
Pria itu hampir meledak.
"Astaga," Ichigo mengambil napas panjang, tak bisa lagi membendung kemarahannya. "Apa yang kau pikirkan, Rukia, apa kau gila?! Kau benar-benar kelinci kecil yang lincah, huh? Tidakkah kau sadar Sternritter sedang mengincarmu sekarang? Kau yang menginginkan kita pergi ke Karakura tapi kau malah melarikan diri dariku. Demi dewa kematian."
Tapi, jika itu hanya simpati, kenapa dia begitu marah? Ichigo begitu marah hingga hampir gila. Belum pernah dalam hidupnya dia merasa terombang-ambing di tengah laut seperti itu. Jantungnya berdebar kencang, berkeringat dan berantakan. Rukia membuatnya seperti itu―tanpa sadar bahkan sejak mereka bertemu. Memaksanya berlari dan terus berlari untuk mengejarnya tanpa belas kasihan. Gadis seperti itulah dia. Tapi, setelah melihat air mata itu untuk yang pertama kali, rasanya Ichigo bisa mengerti satu hal.
"...Kenapa? Aku sama sekali tidak mengerti."
Gadis itu mendongak. Air mata masih membasahi pipinya yang memerah. Bibirnya terkatup rapat, mengeratkan gigi.
"Rukia...," Ichigo mengulurkan tangannya tapi dengan cepat gadis itu menghindar, membuat Ichigo mengurungkan niatnya kembali. Dia menghela napas.
"Jika urusanmu sudah selesai, lebih baik kau kembali," kata Rukia, "tenang saja, aku tidak akan kabur. Kali ini tidak lagi."
Gadis itu... jatuh cinta padanya.
Apakah jatuh cinta selalu membawa kepedihan dan air mata? Apa jatuh cinta padanya sesakit itu? Wajah Rukia yang menangis dan terluka... Ichigo membencinya. Karena itu dia menghela napas, karena tak tahu harus melakukan apa. Tapi tanpa diduga, masalah itu bisa terselesaikan entah bagaimana dan hubungan mereka bertambah dekat. Ichigo juga tak tahu apakah ini permainan takdir yang lain untuknya.
"Kurasa sekarang aku sudah mengerti, alasan kenapa kita selalu bertengkar."
Rukia terdiam mendengarkan pria itu bicara. Terasa aneh saat dia tidak berteriak dan mengumpat, tapi sebenarnya Rukia juga mulai bisa meredam emosinya waktu itu.
"Sejak awal kau tidak pernah menurutiku, kau selalu melarikan diri di saat aku lengah. Tapi aku juga selalu bisa menemukanmu. Selalu saja begitu. Hari ini juga... ada banyak hal yang terjadi, dan untuk pertama kalinya aku berpikir bahwa kita tidak akan bisa berubah," ucap Ichigo. "Saat kau melarikan diri lagi, aku akan menemukanmu dan membawamu kembali. Sesederhana itu."
"Heh, itu terdengar seperti kerja keras."
"Itu seperti permainan."
Malam setelah pertengkaran mereka hari itu terasa begitu damai. Rasanya Ichigo melupakan hal yang begitu penting selama ini. Itulah kenapa dia tak pernah puas, selalu mencari tapi tak tahu apa yang dicari. Hal kecil seperti inilah... yang dia inginkan. Berada di sisi seseorang tak pernah semenyenangkan ini, terkadang itu memang merepotkan dan membuatnya kesal, tapi siapa yang tahu jika perlahan... bagian dari dirinya yang kosong mulai terisi.
"Kau bersamanya setiap waktu, menurutmu aku tidak tahu? Dia bahkan tak pernah mengatakan apapun. Kenapa dia melakukan itu...? Kutanya padamu, kenapa dia melakukan hal itu?"
Ah, benar juga. Dia bahkan bertengkar dengan Kaien. Suaranya naik satu oktaf karena begitu marah―hal yang tak pernah dia lakukan pada pewaris Klan Shiba, selain memukulnya dengan keras di pipi. Entahlah, dia kecewa dan merasa dikhianati waktu itu. Lagipula, kenapa dia bisa dengan mudah mempercayakan Rukia pada Kaien? Pria yang paling dihindarinya selama ini. Itu tindakan yang bodoh. Dia bisa menjaga Rukia dengan tangannya sendiri.
Tapi, benarkah itu?
"Katakan, Kurosaki, apa kau benar-benar Kurosaki yang kukenal?" bukti bahwa Toushirou menanyakan hal ini adalah karena dia terlampau kesal.
"Kau sudah jelas tahu jawabannya," jawab Ichigo, mengombang-ambingkan Toushirou yang masih tak mengerti.
"Bicara apa kau? Kau mulai tak peduli pada perintah Komandan sekarang? Lihatlah di sekelilingmu! Orang-orang terluka karena pengabdian mereka pada kekaisaran, kau mau menjadi bodoh dan membiarkan keegoisanmu di atas kepentingan Soul Society?"
"Ya... kalau memang harus begitu...," gumaman Ichigo membuat Toushirou terkejut. "Aku akan menyelamatkan Rukia dengan kedua tanganku sendiri, apapun yang terjadi setelah itu aku tidak peduli."
Berlari, seorang diri melawan rekan-rekannya yang berusaha menghalangi. Lagi-lagi, hanya ini yang bisa Ichigo lakukan. Berjuang untuk mendapatkan sesuatu, sejak dulu selalu saja begitu. Rukia kembali membuatnya berlari kencang. Tapi kali ini, segalanya berjalan di luar kendali. Dia menyadari arti kehilangan dan putus asa, hal yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. Selain berjuang dengan keras, Ichigo tak bisa melakukan apapun. Tapi berjuang pun ada batasnya, bukan? Kenyataannya, dia tak bisa melakukan semua seorang diri. Hal yang menyedihkan dari Kurosaki Ichigo adalah... sebenarnya, dia tak lebih dari seorang anak laki-laki kesepian yang menangis jika terjatuh.
"Rukia!"
"Percuma saja, dia tak akan mendengarmu. Saat ini dia sedang dalam kondisi yang kalian sebut... 'mati'."
Ichigo baru mengetahui rasa dari ketakutan yang sebenarnya, membuatnya gemetar. Dia begitu tak berdaya saat itu di dalam tatapan dingin Jugram Haschwalth―saat dirinya gagal merebut Rukia kembali. Kegagalan terasa begitu menyakitkan. Hujan yang turun hari itu juga... terasa begitu menyakitkan. Kenapa dia begitu lemah? Yang bisa dia lakukan hanya terbaring di atas tanah lembab yang bercampur bau darah―darahnya. Ah, dia tak bisa melupakan betapa lemah dirinya waktu itu. Ichigo yang tidak berdaya adalah dirinya yang belum pernah dia lihat.
Air mata yang keluar dari kedua hazelnya juga adalah yang pertama baginya.
Waktu itu, Ichigo mengingat beberapa hal. Samar-samar dia merasakan sesuatu yang hangat di pipinya, itu mungkin hujan... atau air matanya. Tapi untuk sesaat dia teringat pada kata-kata terakhir Rukia sebelum dia terbangun di pagi itu, sendirian.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi kau tidak perlu mengatakannya sekarang," Rukia tersenyum lembut, jemarinya mengusap pipi Ichigo. "Saat kau siap, saat kau berpikir bahwa itu waktu yang tepat, aku akan selalu di sana untuk mendengarkanmu."
"Rukia," Ichigo berbisik.
Dia mengambil tangan Rukia, menciumnya dengan perasaan lega. Dia bisa merasakan nadi Rukia yang berdetak cepat di sana. Penghubung kehidupan, kehidupan bukan miliknya yang dia syukuri. Pipi Rukia kemerahan seperti apel, tapi dia berusaha dengan kuat menyembunyikan hal itu dari cahaya, saat bibir Ichigo turun ke dahinya dan mengecup lama.
"Terima kasih."
Rukia tersenyum, merengkuh punggung lebar itu dengan kedua tangannya dan mengusapnya.
Ya, semua akan baik-baik saja.
―Yuuka desu―
Langit-langit kayu adalah hal pertama yang dilihat Ichigo saat dia terbangun. Rasanya, tadi dia bermimpi panjang sekali. Melirik ke samping, dia bisa melihat jendela yang terbuka menampakkan langit kebiruan dan dipenuhi kicau burung. Ini kamarnya. Ichigo mengangkat satu tangannya dan melihat ada bekas suntikan di sana, tertutupi plester persegi. Perlahan dia mencoba untuk duduk.
Huh?
Tubuhnya terasa sakit, terutama bagian dada. Ichigo mencoba merabanya dan benar-benar menemukan perban melilit di sana. Kenapa? Apa dia habis bertarung?
Tiba-tiba, seperti tersambar petir, Ichigo bisa mengingat semua hal terakhir yang terjadi sebelum menemukan dirinya terbaring di kamar dengan luka-luka itu. Memorinya berkelebat seperti potongan adegan film, satu per satu, hingga membuat pria itu membelalak karena terkejut. Dadanya naik turun dengan cepat dengan napas memburu. Perlahan, bibir Ichigo terbuka.
Mimpi itu... adalah kenyataan. Itu potongan dari masa lalunya.
Jadi Rukia... Rukia benar-benar...
"Tch."
Ichigo menutup wajahnya dengan sebelah tangan. Ah, dia ingat semuanya sekarang. Itu benar, dia telah gagal. Apa yang selama ini dikatakannya adalah bohong, kenyataannya, dia tak bisa melindungi gadis itu. Sudah terlambat, kan? Sekarang pasti sudah terlambat. Perlahan, dadanya sesak oleh penyesalan. Ichigo meremas futon begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Lagi-lagi dia bangun tanpa gadis itu di sisinya.
"Rukia," bisiknya pelan dengan gemetar.
Pagi yang cerah datang setelah hari dimana Sternritter memporak-porandakan Seireitei. Banyak bangunan hancur, semua berantakan, sesuatu telah hilang. Tapi langit tampak baik-baik saja dengan itu. Ini begitu membuat frustasi. Ichigo mengeratkan giginya hingga rahang yang tegas itu tampak menonjol di kulit. Sekarang, dirinya dipenuhi kemarahan hingga hampir gila. Tangannya memukul lantai dengan keras. Membuat lubang di sana.
"Dammit!"
Hazelnya menggelap, jatuh pada Shihakuso yang tergantung rapi di dinding―telah dijahit dengan sempurna di bagian dada. Saat ini, hanya satu yang akan dia lakukan, dia akan mulai dari itu. Di kepalanya tak ada hal lain lagi. Kemarahan yang meluap-luap di dadanya begitu besar hingga Ichigo tak tahan untuk segera melampiaskannya. Tentu saja, orang pertama yang akan di temuinya pagi ini...
Genryuusai Shigekuni Yamamoto.
.
To be Continued
.
Author's note :
It's done, finally... itu tadi sebagian besar mimpinya Ichigo kok, dia bermimpi tentang masa lalunya sebelum jadi Shinigami, sampa bisa kenal Rukia. Yuuka pikir ini perlu untuk nunjukin betapa depresinya Ichigo sekarang hahahha #ketawadevil. Gimana? Kena nggak? Jujur di tengah-tengah itu lhoo bagian yang susah. Yuuka jadi lembur buat ngebut chapter ini. Fiuhh syukurlah bisa jadi, haha udah pagi ya. Kayaknya Yuuka bakal molor sampe siang nih, mendadak jadi nocturnal wkwk. Yuuka berharap semangat dari kalian nambah ya, karena Yuuka masih newbie yang perlu banyak koreksi. Gini aja deh, nggak usah banyak-banyak. Yuuka ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dari dukungan kalian baik yang sudah membaca, mereview, memfollow atau memfav cerita ini. Kritik dan saran sangat diterima! Terakhir tapi bukan terakhir, tell me what you're thinking?
Balasan bagi yang tidak log in:
kazukiito : makasih reviewnya ^^ waahh iya kalo nggak salah itu movie nya yang ke empat ya? Yuuka udah pernah lihat kok, Ichigo emang keren waktu itu! Hmm... masukin nggak yaa hahaha kita liat aja nanti ke depan, ups. Sudah update nih, silakan dibaca!
Allen Walker : Holaaa salam kenal *-* makasih udah mampir di kotak review. Yuuka emang ngambil dari moment itu kok, jadi sebisa mungkin feelnya dibuat mirip. Ini genrenya canon juga sih. Berkat semangat dari Allen-san Yuuka beneran bisa selesai bulan ini lhoo haha Yuuka juga berharap happy ending kok #authornyasiapa. Sudah update, semoga kamu suka.
