Disclimer : Bleach hanya milik Tite Kubo seorang
―bukan punya Yuuka―
.
.
.
Warning : Typo (yang selalu nongol), AU, contains fantasy terms, curse words, semi-canon, Gaje (Yuuka serahkan pada Readers semua), DLDR
.
'Can I really keep that hope?'
.
Enjoy and happy reading !
...
The Half-Blood
Akimoto Yuuka
"Hngg..."
Mata Rukia berkunang-kunang saat terbangun. Kepalanya pusing dan semua tampak buram. Di ruangan gelap dan luas dimana tak ada seorang pun bisa mencium bau ketakutan selain dirinya. Saat segalanya mulai jelas, Rukia menyapu ruangan dengan pandangannya dan menyadari bahwa dirinya tidak sedang dalam posisi tidur atau duduk. Kedua pergelangan tangannya diborgol ke atas, menggantungkan kakinya yang lemas dengan sejulur rantai di sampingnya.
Rukia menggoyangkan tubuhnya untuk melihat borgol itu lebih jelas, suara gemerincing yang terdengar membuatnya berhenti. Di depannya, sebuah pintu terbuka.
"Tiga puluh enam jam sepuluh menit, aku hampir mengira kau mati," Bambietta tertawa, menutup pintu di belakangnya dengan satu kaki. "Pasti pegal, ya?"
"Ya, cara yang bagus untuk menahan seseorang," jawab Rukia parau meski agak terkejut dia tidur selama itu.
Bambietta maju lebih dekat, dua jarinya menggosok dagu dengan tampang menyelidik, "Aku ragu mereka memberikan cukup informasi padamu. Maksudku, apa kau tahu siapa aku dan dimana dirimu berada sekarang?"
"Kau Sternritter, dan aku berada di sebuah ruangan jelek berbau telur busuk."
Wanita itu tertawa nyaring, "Pintar sekali, jawabanmu benar kecuali satu," matanya berubah serius. "Itu bukan bau telur busuk, itu adalah bau mayat yang baru dipindahkan beberapa hari yang lalu. Kurasa aromanya masih tertinggal di sini, terlalu buruk."
Mendengar itu, Rukia membelalak. A-apa dia bilang? Kepala Rukia menoleh ke belakang perlahan, hanya untuk melihat noda darah yang samar-samar di dinding. Itu benar-benar darah seseorang. Tiba-tiba isi perutnya seperti mau keluar.
"Oh, tidak, jangan muntah di sini, kau akan merusak perjamuan pagi yang akan diadakan... dua puluh tiga menit lagi," Bambietta membuka arloji di tangannya. "Jadi karena mereka menunjukku untuk mengawasimu paling tidak kau harus tahu namaku. Aku Bambietta Basterbine."
Bambietta? Nama itu rasanya tidak asing.
"Apa jangan-jangan Kurosaki Ichigo tidak memberitahumu sesuatu, misalnya kami pernah berciuman saat kau tidak ada?" alisnya terangkat satu saat bicara dengan nada biasa, dan seketika Rukia tertohok. "Astaga, dia benar-benar pria yang pengertian. Yang mengejutkan, saat kami bertarung dia bahkan tahu itu aku meski kami tidak pernah bertemu dengan wujud ini. Harus kutanyakan padamu, Kuchiki Rukia, apa aku mencuri sesuatu darimu?"
Apa dia tak punya penyaring di mulutnya? Dia adalah wujud asli dari wanita yang dilihatnya di Dunia Manusia, di kelas waktu itu. Rukia bisa melihat dengan jelas bahwa ada kesenangan yang menari-nari di mata Bambietta ketika dirinya terkejut.
"Kau tidak pernah mencuri apapun dariku, karena kau tidak pernah melakukannya," jawab Rukia pelan setelah bisa mengontrol emosinya.
"Apa kau yakin dia tidak sedang menutupi ceritanya? Mungkin dia bohong padamu."
Rukia marah, tapi dia tak memiliki pilihan selain mempercayai kata-kata Ichigo. Dan sejujurnya, dia tak punya waktu untuk memikirkan hal yang sudah terjadi. Gadis itu membuka mulutnya.
"Mau dia bohong atau tidak, itu tidak ada hubungannya. Kondisiku sekarang lebih layak untuk dipikirkan dari pada sibuk bertanya-tanya mengenai hal kecil yang tak ada akhirnya seperti itu."
Bambietta mengerjap sebentar sebelum tertawa menutupi mulutnya. Itu benar-benar membuat Rukia berpikir bagian mana dari kalimatnya yang lucu―saat ini, di atmosfer ini.
"Kau tipe gadis yang suka mencuci otakmu sendiri dengan memaksa berpikir mengenai hal positif padahal sebenarnya kau juga khawatir tentang itu. Kebiasaan yang melelahkan sekali."
Apa orang ini sedang mempermainkannya?
"Apa yang sebenarnya kau rencanakan?"
"Aku tidak punya motif tertentu, sebenarnya."
Tiba-tiba saja wanita itu mengeluarkan kunci yang entah dari mana, melepas sengatan yang sejak tadi hampir merobek pergelangan tangan Rukia. Gadis itu memekik pelan, ambruk begitu saja di lantai yang dingin. Demi dewa kematian dia baru saja berniat untuk tak menyentuh lantai di ruangan itu tapi seseorang baru saja melempar pantatnya ke sana.
Melihat Rukia menatapnya tajam, Bambietta berkata, "Jangan mengharapkan uluran tangan dariku, kau punya dua kaki dan dua tangan yang masih bagus."
"Syukurlah," balas Rukia, hampir terbiasa dengan kalimat Bambietta yang terlalu arogan. Siapa yang bilang dia butuh uluran tangan? Dia sudah terbiasa untuk selalu bangkit dengan lututnya sendiri.
Begitu keluar dari kamar tahanan yang berbau busuk, Rukia hampir meraup udara serakus mungkin. Pergelangan tangannya lecet dan merah, Rukia tak mau menyentuhnya karena pasti akan berdarah. Dengan langkah bergema mereka menyusuri lorong gelap yang mirip ruang bawah tanah, dindingnya dari batu-batu yang di susun memanjang. Baru dia sadar, pakaiannya tidak berubah sejak terakhir dia ingat. Masih dengan kimono putih yang sekarang tampak lebih lusuh. Bambietta berhenti di depan pintu yang lebih besar untuk memutar kunci, masuk ke dalam dan bicara seperti Rukia telah menunggu lama sekali.
"Kau akan menghadiri perjamuan sarapan dengan Yang Mulia Yhwach, tak bisa disebut sarapan juga," gumamnya di akhir kalimat. "Bersiaplah, pilih baju yang kau suka di lemari ini, kau bisa gunakan kamar mandinya. Waktumu lima belas menit."
Oh, ya, dia butuh mandi. Rukia melirik Bambietta yang memilih untuk menunggu di kursi. Setidaknya ruangan ini lebih baik dari yang tadi. Ada kasur, cermin, lemari pakaian dan kamar mandi. Dan sejujurnya, baunya wangi.
Rukia tak punya cukup waktu untuk berendam seperti yang sempat dia bayangkan karena hanya diberi sedikit waktu untuk bersiap, tapi dia cukup lega karena telah bebas dari semua kotoran. Setelah memutuskan untuk mengenakan gaun satin berwarna peach dengan model sederhana, Rukia sedikit terkesan. Lemari ini penuh dengan pakaian bagus.
Heh, kenapa kau tersanjung, Rukia? Ini tetaplah penjara bagimu sehangat apapun sambutannya.
Gambaran tentang semua ini cukup sulit diterima setelah apa yang Rukia alami selama tiga puluh enam jam di kamar tahanan. Menyimpan kembali arloji ke sakunya, Bambietta menyeringai.
"Tak buruk untuk seorang putri dari klan ternama," pujinya. Oh, sebenarnya Rukia tak yakin apakah itu sebuah pujian. "Bisa kita pergi ke ruang makan sekarang?"
Rukia mengikuti Bambietta yang berjalan di depannya, naik tangga, menyusuri lorong yang samar-samar diterangi cahaya matahari sebelum tiba di tempat yang mereka tuju. Saat Bambietta bilang ruang makan, agak berlebihan bahwa yang dimaksud sebenarnya adalah sebuah meja panjang dengan tatanan ruang super mewah disertai lilin dan lampu gantung yang menghiasi langit-langitnya. Well, kastil ini tak sesuram yang dia bayangkan.
"Yang Mulia, Kuchiki Rukia telah tiba," Bambietta menunduk patuh pada sebuah kursi yang membelakangi mereka.
"Oh."
Seseorang bangkit dari sana, dengan tubuh besarnya Rukia yakin dia tak salah orang. Raja dari kerajaan Silbern di tanah Wandenreich, sekaligus pemimpin pasukan Sternritter―Yhwach. Aura yang berat dan tekanan menguar di sekitarnya. Pria berjenggot tebal itu menyibakkan jubah hitamnya ke belakang untuk mengulurkan tangan sambil tersenyum ke arahnya.
"Putriku, Kuchiki Rukia," ujarnya lembut dan hangat seperti telah menunggu momen ini begitu lama. "Pilihan yang tepat, gaun itu tampak lebih indah di tubuhmu."
Rukia menyambut uluran tangannya, diam-diam melirik seseorang yang berdiri di pinggir ruangan. Dia ingat rambut pirang itu dan tatapan dinginnya.
"Pujianmu rasanya berlebihan, Yang Mulia," kata Rukia.
"Aku bisa mengatakan sebanyak apapun karena begitulah kenyataannya." Yhwach tersenyum puas, menarik kursi untuk Rukia supaya dia bisa duduk. "Maaf atas insiden pagi ini, kau pantas mendapatkan ruangan yang layak tapi aku menyesal harus berjaga-jaga untuk sesuatu yang tidak diinginkan. Kuharap Bambietta bersikap baik padamu."
Aku yakin dia hanya memastikan bahwa aku bebas dari senjata. Jika bisa sampai sejauh ini itu artinya Profesor Kurotsuchi sudah memprediksinya entah bagaimana.
"Oh, dia sungguh melakukannya. Jangan khawatir."
Yhwach duduk di kursi, melirik Bambietta yang menatap tajam pada Rukia. Matanya kembali pada gadis itu.
"Biar kuingatkan kembali, bahwa perjalanan yang sangat panjang baru saja terbayar hari ini dan aku cukup puas dengan hasilnya. Kau imigran dari Dunia Manusia yang pindah ke Soul Society dengan segala latar belakang yang sulit sebelum tiba di sini. Kau sungguh gadis yang berani, putriku," katanya, meletakkan cangkir di atas meja. "Tapi, kata berani dan putus asa memiliki arti yang mirip."
Sudah kuduga topiknya akan berat, tapi apa yang sedang dia coba untuk katakan?
"Biar kutanyakan satu hal padamu," Yhwach menatapnya. "Apakah kau kemari atas keputusanmu sendiri atau mereka yang mengirimmu?"
Rukia menyadari dia harus berhati-hati pada mulutnya. Karena setiap jawaban yang dia berikan akan mempengaruhi nasibnya di tempat ini. Dia meletakkan sendok di sebelah mangkuk sup menu sarapan pagi ini. Tak bisa dipungkiri, tekanan ini membuatnya gugup.
"Apa itu penting sekarang, setelah kau berhasil menggenggam kemenangan atas kekalahan Soul Society beberapa waktu yang lalu?"
"Aku tidak pernah berkata bahwa aku mengkhawatirkan sesuatu, tidak, putriku. Yang kumaksud adalah seberapa kuat tekadmu itu."
Rukia terdiam, berusaha menatap iris cokelat kemerahan yang begitu mengintimidasinya. Dia seolah akan menyadari semua kebohongan. Rukia tak bisa membodohinya.
Apa yang harus dia katakan?
"Tekad...," gadis itu bergumam. "Bahkan sampai sekarang aku masih ragu apakah aku berada di sini karena tekad yang kuat atau keadaan yang memaksaku. Seseorang akan menjadi kuat di situasi kritis, itu yang kupercaya. Sayangnya, tidak semua orang memiliki keinginan yang sama."
Menatap mangkuk dengan pandangan yang begitu jauh, Rukia sedikit memaparkan isi pikirannya. Saat memikirkan hal ini, dia sadar bahwa tentu saja tak ada jaminan untuk kembali ke Soul Society, tempat yang akhir-akhir ini dia anggap sebagai rumah. Dunia yang seharusnya tidak dia kunjungi, begitupun tempat ini. Selama ini Rukia hanya... yah, dia tak menganggap dirinya kuat. Dia hanya terbiasa dengan keadaan. Jika saja ada cara yang lebih mudah untuk mati, Rukia akan dengan senang hati melakukannya. Kenyataannya, dia bukannya tak bisa menyerah, kan?
Jika saja... dia bisa cukup egois untuk tak memikirkan kenangan yang sangat sedikit itu.
Rukia mengangkat kepalanya, "Semuanya berpikir bahwa aku adalah seorang pewaris darah kutukan Kuchiki yang tak punya masa depan dan dikejar-kejar oleh kegelapan, tapi aku tak ingin menganggapnya begitu," ujarnya, "aku... hanya murid kelas dua SMA Karakura yang tak punya banyak teman dan memiliki kehidupan biasa seperti orang kebanyakan. Itulah aku."
Mendengar itu alis Yhwach sedikit tertarik.
"Setidaknya dengan berpikir seperti itu, aku punya beberapa harapan. Ada orang yang menungguku, apa ada hal lain yang lebih pantas untuk diperjuangkan selain itu? Jika aku mati aku tidak akan bisa menyelesaikan apapun, tak ada yang bisa dikembalikan. Kehidupan lamaku yang berharga, hanya itu yang kuinginkan dan aku mau kau mengembalikannya padaku."
Berkat kata-katanya, keberanian Rukia kembali secara perlahan. Dia menatap Yhwach tajam dengan amethyst-nya meski tangannya tak berhenti meremas sendok karena berbagai tekanan di ruangan itu. Mengabaikan seringai Bambietta yang seperti berkata "Ini akan jadi menarik", Yhwach meminum tehnya.
"Putriku, apa kau baru saja memintaku untuk mengembalikan kehidupan lamamu?"
Rukia menekan bibirnya, suaranya bergetar, "Aku tidak memintamu―aku menyuruhmu melakukannya, karena sejak awal kau tidak berhak atas itu."
Gadis itu tahu, ini adalah perkataan konyol. Siapa orang bodoh yang mau melepas begitu saja mangsa yang butuh seribu tahun lebih untuk ditangkap?
"Hmm... tapi, bukankah kau melupakan satu hal?" iris Yhwach kembali merantainya di tempat. "Itu bukanlah hidupmu."
Mata Rukia melebar, jantungnya seperti berhenti sesaat. Atau itu memang berhenti sesaat. Napasnya tertahan di tenggorokan dengan ekspresi pucat dan pastinya Yhwach menyadari hal itu.
"Aku tak pernah punya rencana untuk memberikan kutukan itu selain pada klan Kuchiki, tapi kau memilikinya. Jadi apa aku masih harus bertanggungjawab untuk mengembalikan apa yang tak pernah kuambil?" Yhwach menarik senyumnya, benar-benar maju satu langkah dari Rukia dan gadis itu merasa seperti sedang dilempar ke jurang.
"Tentu Soul Society tak membiarkan kau kemari hanya untuk memohon padaku mencabut kutukan itu darimu, jika mereka pintar dan mau berpikir sedikit saja mungkin tak akan pernah ada perang seribu tahun sejak awal. Dan kau juga tidak akan dipaksa duduk di meja makan kastilku untuk sarapan bersama orang yang tidak kau sukai, benar?" lanjutnya. Rukia merasa tenggorokannya kering seketika, yang bisa dia lakukan hanya menunduk sementara intimidasi Yhwach berganti dengan empati dangkal. "Hm... gadis kecil yang malang."
Rukia menelan ludah. Ini sarapan terburuk, perutnya yang hanya di isi lima sendok sup mendadak terasa penuh. Tapi, Rukia harus mengakui bahwa perkataan Yhwach adalah kebenaran. Dengan kata lain, dia hanya kambing hitam. Sibuk mencari-cari jawaban dalam kepalanya, tanpa sadar acara jamuan sarapan pagi telah selesai―tanpa bantahan apapun.
―Yuuka desu―
"Kamarmu untuk malam ini, tadi aku lupa memberitahumu lebih awal. Jika kau sudah tahu peraturannya maka jadilah anak yang baik, well, selamat menikmati tidur nyenyak, Putri."
Bambietta mengantarnya kembali ke ruangan yang Rukia pakai untuk mandi. Menutup pintu tanpa menunggu satu pertanyaan pun darinya. Tapi Rukia tidak mendengar suara kunci, lagipula Bambietta hanya melewati jalan satu arah yang sama agar Rukia tidak mengetahui seluk-beluk tempat ini. Gadis itu menatap tangannya yang masih gemetar. Dia tidak percaya pengaruh Yhwach akan berdampak sangat besar pada dirinya. Terasa menyedihkan saat gadis itu terbiasa berpikir bahwa dia terlahir dengan skenario ini.
Melirik jendela kamarnya yang menyorot senja menjadi sebuah lingkaran samar-samar di karpet, Rukia berjalan ke sana. Seisi kastil ini terlalu luas dan kosong. Tidak ada satupun penjaga yang terlihat dan satu-satunya jalan keluar dari kastil ini hanya ada di gerbang utama. Mungkin mereka bersembunyi entah dimana. Ada kemungkinan Yhwach menambah pasukan saat hari ritual tiba, sayangnya Rukia tidak tahu kapan itu. Jika dia akan menyelinap keluar dia harus menghindari semua mata Yhwach yang terpasang di seluruh tempat, dimulai dari lorong.
Aku akan pergi melihat apa yang terjadi di sini.
Begitu Rukia memantapkan hatinya, dia berjalan keluar kamar dan menutup pintu. Bersembunyi dari setiap mata yang ada di sudut dan mengikuti suara-suara samar menuju ruang tempatnya diisolasi. Tubuh Rukia mulai merapat ke dinding.
"Ah... Aarrghhhh! Jangan menyobeknya pelan-pelan, kau akan membunuhku!"
"Ha, bukannya kau tidak bisa mati, ya?"
"Meski begitu itu tetap terasa sakit, kau tidak perlu terlalu menikmatinya. Dagingku tidak bisa tumbuh begitu saja dalam sekejap. Ugh, ahhh kubilang sakit!"
Rukia menutup mulutnya tak percaya. Di balik celah pintu yang lupa dikunci, dia melihat sosok Bambietta menyobek paha seorang wanita berambut hitam panjang yang tak pernah dia lihat. Tubuhnya menggigil melihat pemandangan itu, tanpa mau melihat darah yang terkucur di bawah kaki mereka. Mungkin itu sebabnya ruangan itu berbau busuk. Tapi kenapa? Bukankah wanita itu rekannya?
"Cukup, cukup! Bambietta, you jerk, kau berlebihan!"
"Ayolah, Gisselle, katakan apa taruhan kita sebelumnya? Aku bahkan belum menuju mulutmu tapi kau sudah meronta begini, menyedihkan, padahal kau yang memancingku duluan."
"Karena kaubilang hanya menyobek mulutku, asshole! Baiklah, mari kita selesaikan saja ini, oke? Jika kau melukaiku lebih dari ini aku tidak akan bisa beregenerasi dengan cepat. Lagipula bukannya mengawasi gadis itu tapi kau malah bersenang-senang sendirian. Kau benci berurusan dengan anjing Yang Mulia, kan?"
Rukia bergidik saat Bambietta tertawa. Apa maksud mereka pria berambut pirang itu?
"Siapa peduli? Urusi urusanmu sendiri, Gisselle, dan jangan ungkit-ungkit dia di depanku. Gadis Kuchiki itu mengecewakan. Seperti yang diharapkan dari putri klan konglomerat, dia terlalu penurut."
Sepertinya wanita itu membuat kesimpulan besar yang salah. Rukia sedikit kesal tapi dia bersyukur Bambietta berpikir seperti itu. Semua akan lebih mudah saat dia bisa membuat mereka meremehkannya.
"Padahal aku berharap akan melihat sesuatu yang menarik."
"Dangkal sekali rencanamu, kau tidak lupa kalau aku belum selesai dengan ini, Gisselle."
"Hee... jelas-jelas kau tidak cocok berada di sini, kau pasti menemukan banyak kesenangan di Dunia Manusia karena begitu pulang rasanya kau tidak berhenti membunuh orang."
Kenapa dia masih bicara setelah Bambietta hampir mengelupas pahanya? Saat membayangkan posisinya sekarang, Rukia menemukan jantungnya berdegup kencang. Jika ketahuan, mungkin dia akan bunuh diri saja.
Bambietta menghentikan kegiatannya sejenak dan melipat tangan. Wajah Gisselle tampak lebih pucat dan napasnya mulai tak beraturan karena kehilangan banyak darah. Meski Bambietta membencinya, dia memutuskan untuk mengatakan beberapa hal.
"Hmm, yah, aku bertarung dengan Kurosaki Ichigo setelah menang taruhan darimu. Aku belum pernah melawannya dengan tubuh asliku tapi dia tahu. Itu membuatku terkesan, tapi serangannya waktu itu tidak seperti yang sebelumnya. Kurosaki Ichigo yang tenang dan brutal, dia menjadi ragu-ragu dan putus asa karena Kuchiki kecil itu."
"Karena itu kau kesal dan membunuh semua orang?"
"Aku memang membunuh orang saat aku kesal, jangan memancingku, Gisselle!"
"Kalau begitu, kenapa kau tidak siksa saja sang Putri!"
Bambietta mencengkeram mulut Gisselle dengan tangannya, "Aku terikat dengan semua aturan memuakkan ini, atau jika kau mau kau bisa menggantikanku melakukannya, hm? Tanganku sudah gatal ingin merusak kulitnya yang mulus itu sejak lama, Gisselle, kau tidak tahu seberapa besar ini menyiksaku."
Melihat mata yang serakah itu bersinar-sinar di atasnya, wajah Gisselle memucat. Dia menggelengkan kepalanya sementara kuku Bambietta telah menggores pipinya dengan tidak berperasaan dan dia tahu ini adalah pertunjukan utamanya saat mendengar suara pintu terbuka.
"Umm... kupikir, kau mencari ini?"
Mereka berdua menoleh, dan di ambang pintu berdiri Meninas dan Rukia yang matanya hampir keluar dari tengkorak. Seketika seringai Bambietta melebar ke pipinya, melepas wajah Gisselle dengan kasar dan berjalan ke sana. Membuat Rukia panik luar biasa.
"Well, well, well. Bagus sekali, Meninas, kerja bagus. Kau berhasil menangkap tikus kecil yang merayap kemari dengan lincah. Aku tidak percaya aku bahkan tidak menyadari kehadirannya."
"Ini kebetulan. Aku hanya ingin menyampaikan pesan dari Jugram padamu saat kulihat dia berdiri di balik pintu entah sejak kapan."
"Dia yang akan memberitahukannya sendiri, benar, Putri? Jangan takut, aku tidak akan berbuat apa-apa padamu, tidak sebelum kau bicara."
Rukia menarik napas tersendat, dia benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dia ketakutan hingga tak bisa bergerak tapi tangan dingin Meninas yang memegangnya terasa begitu nyata. Sesuatu akan terjadi padanya.
"Jadi, apa yang dikatakan anjing itu?"
"Jugram ingin kau membawanya ke aula malam ini. Bulan purnama akan muncul dan Yang Mulia akan melakukan ritualnya. Tapi, Bambietta, apa kau masih ada urusan dengan Gisselle? Dia pucat."
"Aku sudah tidak tertarik dengan taruhannya, biarkan dia di situ untuk beregenerasi," Bambietta melirik gadis tak berdaya itu dengan ujung matanya. "Hm, Yang Mulia bilang aku tidak boleh melukai sang Putri karena dia membutuhkannya hidup-hidup, tapi dia tidak bilang aku tidak boleh mencicipinya, kan? Kerja bagus, Meninas, dari sini biar aku yang mengatasinya. Kita harus bersiap-siap untuk acara penting malam ini, Putri, mari ikut denganku."
Hell no!
Tubuh Rukia mundur dari tangan Bambietta yang terulur, kepalanya menggeleng keras. Demi dewa kematian, dia tahu apa yang akan wanita itu lakukan saat hanya ada mereka berdua di satu ruang. Mengeratkan gigi, Rukia melepas cengkeraman Meninas dan lari ke lorong.
"Shit, dia lari. Aku akan pastikan mendengar jeritannya sebelum matahari tenggelam karena waktuku tidak banyak."
"Ah, Bambietta!" Suara Meninas yang memanggilnya tak digubris karena wanita itu langsung berlari menyusul Rukia yang sudah tak tampak lagi.
Di sebuah lorong panjang yang seperti tak ada ujungnya, Rukia berlari kencang. Dia merobek gaun satin itu hingga ke paha dan bersembunyi di pertigaan, terengah. Tangannya gemetar menuju dada. Astaga, Tuhan, apa yang harus dia lakukan? Apa?! Wanita itu sedang berlari mengejarnya. Rukia meletakkan telinganya di lantai dan mendengar tapak kaki dari kejauhan. Amethyst-nya bergerak-gerak gelisah seakan mencari ide, lalu... pandangannya beralih ke gaunnya.
Dengan cepat Rukia merobeknya hingga terbagi dua, meletakkannya di persimpangan pertama. Sekarang pakaian itu berubah menjadi terusan pendek yang berantakan. Rukia melirik lorong sekali lagi dan berlari menjauh. Berharap semoga Bambietta mengambil jalan yang salah.
Begitu Rukia mencapai sisi lain kastil yang terdapat sebuah jendela, Rukia berhenti. Senja hampir berganti malam dan dia terdampar tanpa tahu arah. Gadis itu mengawasi langit-langit untuk menghindari setiap mata Yhwach dan menemukan sebuah ruangan. Ragu-ragu kakinya melangkah. Itu adalah ruang kontrol tapi tidak ada satupun penjaga. Beberapa komputer memantau lorong-lorong sempit yang dilaluinya, dan dia melihat Bambietta berjalan sambil membawa potongan gaun itu di tangannya. Rukia mendesah lega. Bagus, wanita itu mungkin tersesat.
Jika aku mati di sini, apa yang kira-kira akan Ichigo lakukan? Semua hal berlalu begitu cepat sejak terakhir aku bangun di sampingnya.
Rukia merenung.
Aku merindukan Ichigo.
Suaranya hatinya terdengar kesepian. Rukia segera menghapus semua itu dan fokus.
Mungkin ini saatnya. Tempat ini menjadi pusat kontrol dan aku akan mulai dari sini.
Merapal mantra yang Hanatarou ajarkan padanya, Rukia mendesah. Menarik belati yang keluar dari kulit pahanya dengan secercah cahaya. Belati pemberian Hanatarou. Dia menyembunyikannya di sana agar tak ada yang sadar. Rukia memegang belati itu dengan kedua tangannya yang gemetar.
Kali ini... akan kuserahkan semua pada takdir.
JLEBB!
"AAAHHHHGG!"
―Yuuka desu―
"Kau benar-benar seekor kelinci liar, Putri. Kesabaranku sudah mencapai batasnya. Aku harus memberimu hukuman sebagai tanda permintaan maaf."
Bambietta membuang potongan gaun Rukia ke samping dan mengangkat tubuh mungil yang dia temukan di jalan buntu. Tergeletak di sana tak berdaya dan hampir pingsan. Rukia membiarkan wanita itu menggendongnya di bahu, berjalan menuju sebuah ruangan yang Rukia yakin ada di puncak menara karena dia bisa melihat matahari tenggelam.
Bunyi rantai yang kasar dan berkarat bergema. Ini sama seperti saat pertama kali dia bangun. Ruangan sempit, pakaian lusuh, rantai dan borgol yang melilit tubuhnya, lalu―seringai Bambietta.
"Aku akan berikan yang setimpal padamu, Kuchiki Rukia."
Rukia memejamkan mata, merasakan kuku panjang itu menari di wajahnya seperti sebuah hitungan mundur, sebelum itu menancap di sana.
"Ugghh... ahh!"
Kaki Rukia yang menggantung di atas lantai meronta. Sakit sekali. Ini penderitaan yang tak ada habisnya. Air mata Rukia mengalir di pipinya tanpa sadar.
"Ah, aku tahu rasanya. Pasti sakit, bukan? Ini adalah hukuman karena telah membuatku bersabar terlalu lama. Aku tidak akan membunuhmu, Putri, kau masih terlalu berharga, maksudku―darahmu. Aku yakin Yang Mulia tidak akan keberatan jika aku membuat pahatan yang indah di kulitmu, sedikit saja, ayolah."
"Hyaahh! Gghhh... hhh... tidak, kumohon, hentikan."
"Hmm? Aku tidak bisa mendengarmu."
"Aku... sudah cukup. AHH!"
"Saat-saat terakhir seperti ini sangat menyenangkan, bukan? Kau jadi memahami apa arti rasa sakit yang sebenarnya. Kehilangan rumah, keluarga, teman, orang yang berharga, jati diri. Apa lagi yang lebih menyakitkan dari itu? Jika kau ingin terus hidup maka korbankan semuanya."
Rukia membuka matanya yang sayu. Dia merasakan luka di mana-mana, paha, lengan, perut, pipi, leher yang membuatnya gemetaran. Dengan bibir berdarah dia berkata,
"...Kau, tidak perlu kehilangan semuanya... untuk hidup, hhh... karena jika kau... diberi satu kesempatan untuk hidup... uhukk! Hidup akan memberikan segalanya... untuk memperbaikimu."
Mata Bambietta melebar. Jari-jarinya yang penuh darah berhenti menggores, dia sepenuhnya terkejut pada kata-katanya. Gadis lemah yang mengikuti arus karena dikendalikan oleh takdir ini punya mental yang kuat. Dia tahu dirinya akan mati malam ini, tapi meski terluka dan menangis, kenapa masih ada tekad yang begitu besar dalam suaranya? Itu membuat Bambietta teriritasi. Baru dia sadar sejak tadi amethyst Rukia selalu menatapnya tajam.
"Kau ini... sulit dipahami," gumam Bambietta, "Jika kau mati, apa yang bisa kaulakukan? Kau itu cuma gadis lemah. Kalau Kurosaki Ichigo saja tidak bisa melakukan apapun waktu itu, mustahil bagimu yang hanya bisa mengandalkan keberuntungan untuk selamat. Semua yang terjadi di kastil ini diketahui oleh Yang Mulia. Dia memiliki mata di setiap sudut, setiap ruangan, kau tidak mungkin bisa lolos darinya. Rencana apapun tidak akan berhasil."
"Dari tadi... kau selalu mengatakan tidak bisa dan tidak mungkin... menurutmu aku tahu apa yang akan terjadi? Uhukk... uhukk! Kita tidak akan tahu... sebelum mencoba."
Bambietta memicingkan mata, "Seperti yang kubilang, tekad saja tidak cukup. Bagimu, Kurosaki Ichigo―"
"Aku percaya padanya."
Sekali lagi, mata Bambietta melebar.
"Aku percaya pada Ichigo. Aku benar-benar... percaya padanya."
Air mata Rukia kembali mengalir. Hanya mengucapkan kalimat itu, dia kembali menangis. Apa karena dia sudah sangat putus asa? Dia sudah melakukan apa yang harus dia lakukan. Sekarang tugasnya hanya menunggu, karena itu Rukia harus menaikkan harapannya sekali lagi.
Suara pintu yang dibuka mengagetkan Bambietta dan Rukia, mereka serentak menoleh ke pintu. Di sana, seperti biasa, Meninas berdiri dengan tenang.
"Bambietta, sudah waktunya."
"Aku tahu. Ketuk pintunya terlebih dulu."
Untuk sesaat nada Bambietta tak seperti biasanya. Sejak kapan dia meminta seseorang untuk mengetuk pintu? Meninas tertegun di ambang pintu sementara Bambietta melepas semuanya kecuali borgol di tangan Rukia, gadis itu kembali terjatuh ke lantai.
"Kau dengar itu, Putri? Ini adalah vonis terakhir untukmu. Semua penjaga akan dikumpulkan dan satu-satunya jalan keluar adalah menerobos mereka. Itu adalah pilihan terakhirmu jika kau bisa menghadapi Yang Mulia Yhwach satu lawan satu."
Rukia terdiam saat Bambietta berbisik di telinganya, lalu menggendongnya seperti yang tadi dia lakukan. Rasanya, tak ada ancaman yang terdengar dalam kalimat itu. Itu lebih kepada peringatan. Di sela-sela kesadarannya, Rukia melihat lantai yang bergerak menjauh, dia tidak tahu berapa lama mereka berjalan sebelum akhirnya mendengar suara pintu besar dibuka. Apa yang dilihat Rukia dengan mata kepalanya waktu itu adalah...
Ruangan besar, tatapan seribu pasukan, Yhwach beserta tangan kanannya yang setia dan―tiang eksekusi.
Belum sempat Rukia memaknai semua itu tiba-tiba Bambietta menurunkan tubuhnya, membungkuk pada Yhwach dan sang Pemimpin Pasukan Sternritter berdiri dari singgasananya.
"Ulurkan tanganmu, anakku."
Rukia bisa melihat ekspresi Bambietta mengeras, dia melakukan apa yang Yhwach perintahkan dan yang terjadi selanjutnya―
ZRASHH!
Lengan Bambietta terputus dari tubuhnya dan terlempar sejauh tiga meter. Rukia membeku.
"GYAAAHHHHHH!"
"Itulah kenapa aku menyuruhmu untuk tidak melukainya, beraninya kau menyentuh darah itu sebelum diriku."
Darah Rukia berdesir, nyalang menatap Bambietta yang tersungkur pucat sambil mencoba untuk menahan pendarahan di lengannya. Tatapan Yhwach beralih pada Rukia dan gadis itu tersentak. Jantungnya seakan keluar dari rongga dada, saat melihat mata penuh kegelapan yang hanya tertuju padanya.
"Kita mulai upacaranya, Putriku Kuchiki Rukia."
.
To be Continued
.
Author's note :
Ini sungguh di luar dugaan Yuuka, fanfic ini masih berlanjut sodara-sodara! Maaf atas keterlambatan yang luar biasa ngaret, ugh, Yuuka juga sebel mengingat mood Yuuka yang suka naik turun. Terima kasih bagi yang masih menunggu fic ini, untuk kalian silent reader yang *mungkin* diam-diam menantikan chapter 16 muncul sambil terus menggerutui Yuuka. Ampun deh, nggak lagi, insyaallah. Yuuka masih pengen ngelanjut sampai selesai, ini aja belum perang, masa udah discontinue sih? Semoga aja reviewnya sampai 100 amiinnn... cuma itu harapan Yuuka sekarang. Karena itu, dukung Yuuka ya! Yuuka ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dari dukungan kalian baik yang sudah membaca, mereview, memfollow atau memfav cerita ini. Kritik dan saran sangat diterima! Terakhir tapi bukan terakhir, tell me what you're thinking please?
Balasan bagi yang tidak log in:
Rini : Sudah lanjut ini, maaf kelamaan. Jangan panggil Yuuka senpai donngg itu beban yang berat untuk ditanggung *senpai apaan yang ngaret sebulan lebih?* terima kasih banyak buat review dan dukungannya ya, Rini, seneng deh kmu suka. Ikutin terus ceritanya ya dan review terus please *memohon* ^^
