Disclimer : Bleach hanya milik Tite Kubo seorang
―bukan punya Yuuka―
.
.
.
Warning : Typo (yang selalu nongol), AU, contains fantasy terms, curse words, semi-canon, Gaje (Yuuka serahkan pada Readers semua), DLDR
.
'Can I really keep that word?'
.
Enjoy and happy reading !
...
The Half-Blood
Akimoto Yuuka
"Profesor."
Siang itu di kantor sementara I.P.P.S yang berada di bagian utara barak ninja Onmitsukido, Akon memberanikan diri mengetuk pintu. Itu adalah ruangan Kurotsuchi Mayuri yang tidak pernah disentuh siapapun sejak mereka pindah, karena Mayuri sendiri yang menyuruh mereka untuk tidak mengganggunya. Dia juga tidak mau diperiksa oleh orang-orang bagian medis jadi Akon sedikit khawatir karena lukanya adalah yang paling parah.
"Profesor, Anda di dalam?" Akon mengerjap gugup, sebelum menghela napas saat mendengar sahutan.
"Akon, ya? Bisa kau panggilkan Nemu?"
"Eh?"
Belum sampai Akon mengerti apa yang dikatakan Profesornya, wanita berwajah datar yang dimaksud tiba-tiba sudah berada di belakangnya sambil membawa nampan berisi makanan. Akon tersentak, menyingkir perlahan saat Nemu bicara dengan suara pelan.
"Permisi sebentar, Akon-san."
"A-Ah."
Meski tidak mengerti apa yang sedang terjadi, Akon memutuskan untuk membiarkan Nemu membuka pintu.
"Mayuri-sama, aku membawakan makanan yang Anda minta."
"Masuklah, Nemu."
Kelaparan? Tidak, pasti bukan itu. Akon yang menaikkan alisnya tinggi-tinggi mengintip lewat celah pintu, tanpa menduga bahwa ruangan yang menjadi kamar si Penanggungjawab I.P.P.S benar-benar jauh dari kata steril. Steril apanya? Ruangan itu lebih tampak seperti sebuah bencana!
"Oh, maaf atas kekacauan ini, Akon. Duduklah dimanapun kau suka, hati-hati pada kecoa! Mereka mungkin berada di sekitar tumpukan sampah itu. Aku mencium bau berita penting yang menguar dari baju kumuhmu. Pergi dan dapatkan yang baru setelah keluar dari ruanganku, bisa, kan?"
Yah, maaf kalau aku bekerja terlalu keras untuk menggantikan posisimu sementara kau mengacau di sini, Profesor.
"Nemu, kau bisa keluar."
"Baik, Mayuri-sama."
Akon duduk di kursi terjauh dari tempat sampah dan menunggu pria eksentrik yang sedang melahap makanannya dengan rakus. Hanya perasaannya atau dia semakin gemuk hanya dalam beberapa jam?
"Untuk mengganti nutrisi yang kupakai untuk memulihkan tubuhku, aku harus makan tiga kali lebih banyak dari biasanya. Tapi beruntung obat yang kuciptakan mencegah penutupan luka dalam jangka waktu lama meski efek sampingnya sampai begini. Jangan beritahu siapapun, Akon, kau tidak bisa meragukan betapa percayanya aku padamu."
"Jadi, Anda sedang bereksperimen, Profesor? Karena itu Anda menolak pengobatan dari Divisi Penyembuhan."
"Begitulah."
Bisa-bisanya...
Akon mengganti ekspresi ngerinya barusan dan berpikir kalau percobaan Mayuri cukup berhasil. Luka di perut akibat tusukan pedang itu telah menutup dengan sempurna. Dia tersenyum maklum, saat ini Mayuri akan jadi orang yang paling senang di dunia karena tahu pengorbanannya tidak sia-sia.
"Seperti yang Anda katakan, aku memang punya berita penting mengenai Kuchiki Rukia."
Mayuri menghentikan gerakan sendoknya, mendongak.
"Kita berhasil. Bomnya telah dikeluarkan tanpa kesalahan dan dia meletakkannya di ruang kontrol kastil kerajaan Silbern," Akon tersenyum.
Sendok Mayuri terjatuh dari tangannya.
"Benarkah... yang kaukatakan itu, Akon?"
Pria bertanduk itu mengangguk pelan, geli melihat mata berbinar-binar yang berusaha Mayuri tutupi dengan wajah 'sudah kuduga'-nya itu. Melupakan makan siangnya sebentar, dia langsung menghadap komputer besar di belakangnya untuk mengetik.
"Ruang kontrol, ya? Bukan pilihan yang buruk," Mayuri menyeringai terlalu lebar. "Sampaikan perintahku, aku akan atur batas waktunya."
"Baik!"
―Yuuka desu―
Bunyi tapak sepatu yang buru-buru memecah kesunyian di halaman istana kekaisaran Seireitei. Seolah tak peduli pada teriakan para penjaga yang takut-takut menyuruhnya untuk berhenti, kakinya tetap berusaha menerobos masuk. Menuju pintu ganda yang berdiri kokoh di depan kehancuran dan putus asa, melambangkan harapan. Dia tahu tebakannya benar saat melihat sekumpulan prajurit kelas atas kecuali dirinya berkumpul dalam sebuah rapat begitu pintu dibuka.
"Ichigo?!"
"Dimana kau, Pak tua?"
Ukitake terkejut melihat pria berambut oranye yang berdiri di ambang pintu dengan mata menggelap. Suaranya yang pelan dan bukannya berteriak membuatnya tampak lebih menakutkan dari biasanya.
"Kau mencariku?" ujar Genryuusai yang membelah kerumunan dengan suaranya.
Ichigo berjalan cepat, hampir terlihat seperti sebuah teror dan semua orang tahu apa yang akan dia lakukan begitu sampai di hadapan sang Komandan. Tapi bayangan itu tak pernah terjadi karena Shinji menahan bahunya untuk maju lebih jauh.
"Tahan dulu, Ichigo. Perhatikan dimana kau sedang melangkah sekarang. Bahkan di dalam istana pun kau tidak segan-segan untuk mengacau, huh?"
Ichigo memicingkan mata. Untuk pertama kalinya bahkan bulu kuduk Shinji sampai meremang. "Jangan menceramahiku," suaranya terdengar dingin. "Kau bahkan tidak datang saat Yhwach menyerang Seireitei. Kau tak punya hak untuk bicara soal mengacau."
Ekspresi Shinji mengeras pada kata-kata tajam itu, dan sebelum atmosfer bertambah berat Toushirou menengahi mereka.
"Hirako benar, tenangkan dirimu dulu, Kurosaki. Kau banyak salah paham di sini."
"Kalau begitu jelaskan padaku, bagian mana yang kurang jelas untuk kumengerti. Apakah saat Sternritter datang? Saat mereka menghancurkan Seireitei dalam sehari? Atau saat aku mengetahui bahwa kalian memasukkan bom ke dalam tubuh Rukia atas nama kedamaian? Pilih salah satu."
Rahang Ichigo menonjol di balik kulitnya, dadanya naik turun berusaha menahan semuanya keluar―kekecewaannya. Satu-satunya kekecewaan yang dia miliki atas keputusan Genryuusai.
"Jangan bicara omong kosong. Kau tidak memahami satu pun detail dari kejadian ini."
"Benarkah?" Kepalan tangan Ichigo menguat akibat kata-kata Genryuusai. "Lalu untuk apa kau memberikan misi ini jika tahu aku akan gagal?"
"Bukankah sudah kubilang kalau hanya kau satu-satunya kandidat yang tepat?"
"Aku tidak mengerti."
"Hanya kau di dunia ini yang paling benci pada Kuchiki. Tindakan apa yang akan diambil oleh seseorang jika dihadapkan pada berbagai situasi kritis, apakah akan sesuai dengan harapanku, aku penasaran pada hal itu."
Mendengar nada suara Genryuusai yang tak berperasaan itu Ichigo hampir saja tertawa, "Semua ini... hanya karena penasaran?"
"Benar," Genryuusai menghela napas, "Tapi perubahan yang dibuat Kuchiki Rukia padamu sangat pesat. Bukankah itu yang membuatmu datang kemari saat ini, untuk bertanya mengenai kebenaran?"
"Dia hanya gadis tak bersalah yang dikorbankan oleh seluruh dunia."
"Meski kau bilang begitu, dia tetap alat yang sengaja diciptakan oleh klannya sendiri untuk mengakhiri peperangan. Itulah sebabnya Kuchiki Rukia dilahirkan di dunia ini."
Dengan kata-kata itu, amarah Ichigo tak bisa dibendung lagi. Kakinya melangkah cepat ke hadapan Genryuusai yang hanya terpaut beberapa meter darinya. Tapi sekali lagi, dia tak pernah sampai karena rekan-rekannya menghalanginya seperti sedang menenangkan singa yang mengamuk.
"Ichigo, apa kau sudah gila?!" teriak Shinji yang menahan dua lengan pria itu dari belakang.
"Yang benar saja, kau ingin membunuh Komandan?" sahut Soifon.
Kyouraku yang berada di samping Soifon mengisyaratkan wanita itu untuk tenang sementara Toushirou angkat bicara.
"Jika kau memukul Komandan kau akan berada di tiang eksekusi itu lagi, Ichigo."
"KALAU BEGITU BUNUH SAJA AKU SEKARANG!"
BATS―
Tiba-tiba saja Ukitake muncul di hadapannya seperti memotong kalimat yang akan lebih panjang dari itu. Tangannya menyentuh bahu kiri Ichigo, cukup dekat untuk berbisik di telinganya.
"Jangan paksa kami, Ichigo. Tentu kau paham betul bagaimana kondisi Komandan saat ini," mata Ichigo jatuh pada lengan haori kiri Genryuusai yang kosong dan Ukitake melanjutkan, setelah menarik napas panjang untuk pertama kalinya hari itu. "Kami tidak akan meninggalkan rencananya sampai di situ, itulah yang tidak kau ketahui. Rapat ini memutuskan kapan kami akan merebut Kuchiki Rukia kembali."
Mata Ichigo melebar, menatap tak percaya pada Genryuusai yang masih memasang wajah datar. Begitu mereka melepaskan Ichigo, pria itu berkata dengan suara pelan.
"...Apa maksudnya itu?"
"Maksudnya adalah, kami akan mengumpulkan pasukan, lalu pergi ke Silbern dan membawa gadis itu kem―"
"Aku paham! Tapi... kenapa?"
Dahi Ichigo berkerut pada kalimat Shinji, ragu-ragu. Jika ini lelucon maka dia benar-benar ingin mati di tiang eksekusi. Tapi saat matanya bertemu dengan milik Genryuusai, dia tahu tak ada satupun kebohongan di dalamnya. Mungkin inilah alasan kenapa Toushirou begitu marah waktu itu. Saat dia hampir mengkhianati kekaisarannya sendiri.
"Kenapa kalian tidak memberitahuku?" tanya Ichigo.
"Karena―serius, jangan tersinggung―aktingmu itu buruk sekali," jawab Shinji.
"Apa?"
"Kau beruntung mendapat luka itu, karena jika seranganmu benar-benar mengenai kepala Yhwach maka semuanya selesai. Kami harus membiarkan mereka berpikir bahwa Soul Society melakukan perlawanan terbaik, senyata mungkin."
Ichigo tahu betul maksud kalimat terakhir Toushirou mengacu pada pengorbanan Komandan mereka yang bahkan sampai sekarang sulit dipercaya. Dia mungkin tidak memperlihatkannya, tapi semua sadar bahwa mengalah untuk seorang Genryuusai adalah hal yang paling dia benci.
Untuk sesaat pikiran Ichigo seperti sedang berada di langit-langit, dia menatap Shinji, lalu Ukitake. Orang-orang ini serius, tapi dia perlu detail dari alasannya.
Toushirou menghela napas, "Tapi tetap saja, rencana ini tidak akan berhasil sejak awal kalau kau tidak punya niat untuk mencuri dokumen milik I.P.P.S waktu itu. Kami tidak bodoh. Semua orang yang melihat dirimu tumbuh dan dikenal sebagai prajurit yang suka melanggar aturan pasti paham isi pikiranmu yang tembus pandang itu."
"Apa kau sudah mengerti sekarang?" tanya Shinji, sedikit sarkastik.
"Mereka belum mengetahui tentang bomnya, tapi akan. Jadi kita tidak punya banyak waktu untuk berdebat," lanjut Kyouraku.
Mereka menunggu jawabannya. Ichigo menatap Genryuusai seakan meminta sesuatu, kali ini tatapannya berubah. Dia, Kurosaki Ichigo, telah kembali menjadi seorang yang lapar akan tujuan. Menutup matanya sebentar, pemimpin kekaisaran Seireitei menjawab,
"Lakukan apapun yang kauinginkan. Aku sudah pernah mengatakannya. Jika kau meminta persetujuanku itulah yang kaudapatkan."
Itu adalah kalimat yang dia katakan saat Ichigo meminta persetujuan untuk menjaga Rukia sampai semua kembali normal. Sejak dulu, orang tua itu selalu menyerahkan semua keputusan pada Ichigo, mungkin inilah yang dia maksud dengan rasa penasaran. Apakah tindakan Ichigo akan sesuai dengan harapannya? Tak ada yang tahu.
"Aku ikut."
―Yuuka desu―
Ukitake bilang mereka tidak bisa pergi ke Silbern dengan banyak pasukan jadi mereka yang pergi ke Albinia Mese siang itu hanya Ichigo, Toushirou dan Shinji. Lagi-lagi, Ichigo tidak mengerti kenapa. Tapi saat dia menginjakkan kaki ke lantai bar Albinia Mese yang sudah lama tak dikunjunginya itu, Ichigo mendapatkan sebuah jawaban. Jawaban yang sangat tidak diduga. Karena dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, anggota Vizard berkumpul dalam satu meja seperti tengah mengadakan upacara minum teh.
"...Apa maksudnya ini?"
"Apa maksudmu dengan pertanyaan 'Apa maksudnya ini?' itu?" Shinji meremas kepala gadis pendek berkuncir dua yang menatap Ichigo tak suka. Sarugaki Hiyori, gadis bermulut tajam yang menjadi rekan Shinji sejak lama.
"Apa maksudmu melakukan itu, Shinji boge!"
"Jangan menanyakan hal dengan kalimat yang sama berulang-ulang, dasar bodoh!"
Sementara dua idiot itu sedang bertengkar―seperti biasa―Ichigo disambut oleh seorang pria bertubuh gemuk yang dia kenal sangat ramah. Ushoda Hachigen, pengguna kidou yang kemampuannya terpusat pada penyembuhan. Di sebelahnya adalah gadis berkacamata, Yadomaru Lisa dan pria bertubuh atletis, Meguruma Kensei.
"Kensei?" Ichigo menatap kaget pada rekan bertarung lamanya yang sedang duduk di sofa.
"Lama tak jumpa, Ichigo. Kami sudah dengar semuanya, apa boleh buat? Kami akan membantumu masuk ke Silbern. Kau tidak berpikir untuk pergi hanya dengan tiga orang, kan?"
"Jadi kau sudah memikirkannya sejauh ini, ya, Urahara? Dengan melibatkan lembaga swasta di luar kuasa Central 46 seperti mereka," ujar Toushirou yang melihat si geta-boshi keluar dari ruang kerjanya sambil menggendong Yoruichi dalam tubuh seekor kucing hitam.
"Justru karena itu," pria itu tersenyum. "Bukannya membantu, Central 46 malah akan menghambat jika seandainya kita keluar dari rencana. Lagipula, kalian akan butuh orang-orang ini nanti."
"Sudah cukup basa-basinya. Kau sudah siapkan gerbangnya?" tanya Shinji.
"Ada di depan. Mari ikut denganku."
Mereka tiba di tempat terakhir senkaimon dibuka ketika pertama kali Rukia masuk ke dunia roh bersama dengan Ichigo. Tapi sekarang, tak ada pintu shoji panjang yang sudah tua melainkan lubang hitam yang mirip seperti Garganta. Gerbang menuju Wandenreich. Semua tatapan beralih pada Urahara saat pria itu menjelaskan dengan gestur santai.
"Perhatikan reiatsu kalian saat berada di dalam, jika kalian kehilangan pijakan, aku tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi karena itu adalah lubang tanpa dasar yang bisa menelanmu dalam sekejap. Di ujung sana adalah sebelah timur kastil Silbern yang berbatasan dengan hutan. Masuklah lewat samping. Itu cara tercepat untuk tiba di aula ritual, tempat dimana Kuchiki Rukia berada."
Atmosfer yang tegang memenuhi halaman belakang Albinia Mese setelah Urahara selesai dengan penjelasannya. Saat dia mengecek denreishinki dan mendapat sebuah pesan, pria itu kembali bicara.
"Profesor Kurotsuchi memberikan kalian waktu tiga jam sebelum bom itu meledak. Aku sudah dapat lokasinya berkat bantuan I.P.P.S juga. Oh, dan satu lagi," dia memajukan tubuhnya dan bicara dengan nada pelan, hanya untuk senang-senang. "Jika kau bertemu Sorcerer, pukul saja kepalanya dan lihat apa yang terjadi. Tapi jangan coba lakukan itu pada sang Raja maupun tangan kanannya. Baiklah! Hanya itu, semoga beruntung."
Baik Vizard maupun Ichigo dan Toushirou, sama-sama mengerjap bingung. Tampaknya si geta-boshi sedang dalam suasana hati yang baik, meski biasanya dia juga mengatakan hal-hal aneh. Tapi ketika mereka berhadapan dengan gerbang menuju kegelapan yang mengaga lebar, Urahara tahu mereka sudah siap.
"Tunggu! Tunggu, Kurosaki-san!"
Ichigo menoleh pada suara canggung yang dia kenal betul. Saat itulah Hanatarou muncul entah dari mana, sendirian berlari dengan terengah-engah.
"Hanatarou? Kenapa kau kemari?"
"Yah, itu...," dia menarik napas tersendat. "M-Maaf, aku hanya ingin menyampaikan kata-kata Rukia-san waktu itu, jadi―"
Mata Ichigo melebar, "Tunggu sebentar, aku tidak mengerti. Kau bertemu Rukia?"
"Astaga, m-maafkan aku, aku tidak menjelaskannya dari awal! Begini, K-Kurosaki-san, saat Kurosaki-san bertarung dengan dua pendatang Sternritter itu sebenarnya aku... sedang berada di ruang isolasi Rukia-san untuk memberikan sesuatu padanya. T-Tolong jangan marah padaku!"
Berdiri di depan Hanatarou yang membungkuk dalam padanya, Ichigo hanya terdiam. Dia seperti kehilangan kata-kata. Itulah yang membuat Hanatarou semakin ciut sementara rekan-rekannya yang lain hanya melihat tanpa menginterupsi.
"...Apa yang Rukia katakan?"
"Huh?"
Hanatarou menunggu bentakan, tapi suara Ichigo terlalu kecil untuk pantas disebut bahwa dia sedang marah. Dia memang tak pernah marah padanya. Dia hanya tampak... terkejut. Hanatarou segera berdiri tegak untuk menjawab.
"K-Kami tidak punya banyak waktu untuk bicara tapi...," ekspresi lelaki itu melembut, "Rukia-san banyak cerita tentang dirimu, Kurosaki-san. M-Meski dia bilang kau bodoh tapi―dia masih berpikir tentang bagaimana ini akan sangat menyusahkan bila dia semakin membebanimu. Rukia-san berkata... bahwa dia telah memberimu banyak luka. Dia ingin bertarung dengan caranya sendiri dan ingin agar kau mempercayainya, meski dia tahu kau tidak akan menyukai jalan yang dia pilih. L-Lalu aku sadar, betapa pentingnya kau bagi Rukia-san, dan betapa dia sangat mempercayaimu. Rukia-san pasti tahu kau akan datang menyelamatkannya, Kurosaki-san. Menurutku, itulah alasan kenapa dia bertanya apa ada yang menghentikanmu saat kubilang kau datang menjemputnya."
Setiap kata-katanya adalah kebenaran, dan Ichigo seperti bisa membayangkan bagaimana Rukia mengatakan setiap ucapannya meski dia tak pernah melihat. Dia hanya bisa merasakan jantungnya―yang berdegup kencang setelah lama sekali. Gadis itu... selalu berpikir bahwa dia adalah beban. Selalu. Dia tidak sadar bahwa dirinya mengubah orang-orang di sekitarnya. Sesuatu dalam diri Ichigo bergetar oleh kesenangan juga perasaan yang dia sendiri hampir lupa apa namanya.
"Terima kasih karena sudah memberitahuku, Hanatarou. Itu sangat berarti," Ichigo tersenyum lembut.
Lelaki itu hampir terpana pada ekspresi Ichigo yang dia lihat. Begitu tulus, senyum pertamanya setelah sekian lama. Tapi begitu sadar bahwa dia harus mengatakan sesuatu balik, Hanatarou berdeham gugup.
"Ya... maksudku tidak. Maksudku, baiklah... atau semacam itu! Oh, dan kurasa, Rukia-san akan sangat senang saat bertemu denganmu, Kurosaki-san!"
"Aah."
Ichigo memantapkan keputusannya sekali lagi, menghadap lubang hitam bersama rekan-rekannya yang juga ikut tersenyum. Sedikit lagi. Hanya tinggal menyeberang lubang waktu ini dia akan sampai. Ichigo dan yang lainnya mulai masuk ke dalam, pergi meninggalkan satu-satunya cahaya yang membawanya pada dunia. Hal terakhir yang Ichigo lihat di belakang adalah lambaian tangan Hanatarou dan tubuh samar Urahara yang berdiri di sebelahnya.
―Yuuka desu―
"Hei, Shinji."
"Hm?"
Ichigo yang berlari di tengah memanggil pria berponi miring itu tanpa menoleh. Saat pandangan Shinji beralih padanya, pria itu menarik napas pelan.
"Maaf atas apa yang kuucapkan."
Melebarkan mata, Shinji hampir tak percaya dengan apa yang dia dengar. Kurosaki Ichigo meminta maaf? Padanya? Dia masih berlari di sebelah pria itu dengan wajah bodoh, hampir membuat Ichigo ingin menendangnya keluar dari jalur reiatsu.
"Ehm, maaf, apa kau baru saja..."
Ichigo memberinya tatapan kesal luar biasa dan Shinji menelan kembali kalimat yang ingin dia ucapkan. Hanya untuk menggoda si prajurit Kelas A, karena dia tahu Ichigo pasti sangat benci melakukan hal itu.
"Aku... tidak pernah meragukanmu," lanjut Ichigo. "Yah, meski segala hal benar yang kau katakan itu sangat memuakkan, tapi aku tidak pernah merasa keputusanmu untuk keluar dari naungan kekaisaran dan membentuk Vizard adalah tindakan yang salah."
Untuk sesaat Ichigo merasa risih dengan kalimatnya sendiri dan membuang muka jauh-jauh. Sejak kapan dia jadi puitis pada Shinji?
"Lupakan apa yang kukatakan."
"Tidak bisa."
Ichigo memutar kepala untuk melihat ekspresi Shinji. Tapi pria itu hanya menghadap ke depan dengan senyum tulus yang tak pernah dia lihat.
"Sudah kurekam di dalam otakku," lanjutnya, meringis sambil menunjuk kepalanya.
"Hei, bisakah kalian hentikan itu? Menjijikkan. Kalian ini apa? Sepasang kekasih SMA?"
"Itu kasar sekali, Hiyori. Bersikaplah manis sedikit, dasar gadis pemarah!"
"Diamlah, pantat ayam! Dan hilangkan kebiasanmu yang selalu menggaruk pantat saat tidur. Menjijikkan sekali."
"Kenapa kau mengatakan itu sekarang, Hiyori!"
Meski kelihatan bodoh tapi Ichigo merasa hubungan mereka sedikit mirip dengan apa yang dialaminya pada Rukia. Bertengkar untuk saling mengerti satu sama lain. Tapi tentu saja dia tak akan mengatakannya. Ketika yang lain ikut menertawakan Shinji, Kensei tiba-tiba menunjuk ke depan.
"Itu pintu keluarnya."
Mereka terdiam, memfokuskan pandangan kembali ke depan dan samar-samar tampak sebuah cahaya sebesar biji jagung. Semakin lama semakin besar.
"Semuanya bersiap!" seru Toushirou.
"Heh, lumayan cepat juga," sahut Shinji yang kini mengeluarkan pedangnya, diikuti oleh anggota Vizard yang lain.
Ichigo menambah kecepatan berlarinya, tak sabar untuk segera sampai di seberang. Begitu cahaya yang menyilaukan membuat mereka menutup mata, lubang hitam telah berakhir dan kaki-kaki yang berlari tak bisa lagi menemukan pijakan di antara angin.
"A-Apa?!"
"GYAAAAAHHH!"
Secara bersamaan mereka terjun dari atas langit. Entah kenapa reiatsu di tempat ini lebih tipis dari sebelumnya jadi saat mereka hampir putus asa mencari pijakan, Hachi membuat perisai yang membawa mereka tetap di udara.
"Hei, apa-apaan tempat ini? Tidak nyaman sama sekali!" seru Hiyori, menggosok lengannya dengan keras.
Lisa mengkerutkan kening, "Tak kusangka perbedaannya sangat kontras. Udara di sini tidak seimbang."
"Benar," sahut Hachi. "Ini akan jadi perlawanan yang cukup sulit."
"Kita tinggal ikuti saja apa kata Urahara dan memukul kepala para penyihir yang muncul, meski aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelahnya," Shinji berdiri di atas perisai dan memandang kastil besar di depan matanya. "Hanya itu yang bisa kita lakukan."
Kastil itu terlihat tua, kubahnya berbentuk runcing yang mengarah pada bulan. Bulan purnama malam ini. Ichigo punya firasat buruk tapi dia tak bisa membuang tiga jamnya yang berharga hanya untuk merenung. Bangkit dari posisi duduk, Ichigo terkejut melihat kekkai bergerak pelan menutupi atap kastil.
"Hachi!" Ichigo berteriak dan dengan segera pria gemuk itu melajukan perisainya dengan kecepatan penuh.
"Mustahil sempat, jarak kita terlalu jauh," kata Toushirou, menutupi wajahnya dengan sebelah tangan.
Tidak. Dia tidak akan menyerah sampai di sini.
"Pisah perisainya, Hachi! Aku dan Ichigo akan maju lebih dulu."
Hachi mengangguk pada perintah Shinji dan memotong perisainya menjadi tiga bagian. Begitu Shinji dan Ichigo mendapat bagiannya masing-masing, mereka melaju lebih cepat dari angin. Kekkai kastil kerajaan hampir menutup setengah bangunan tinggi yang berdiri kokoh di depan, jantung Ichigo berpacu dengan cepat. Dia dan Shinji berhasil memasuki area dalam dan berhenti untuk melihat yang lain masih berada agak jauh, sebelum samar-samar, mereka mendengar Toushirou berteriak.
"T-Tidak! WHOOOOAAAAA!"
Apa mata mereka menipu atau itu benar-benar tubuh Toushirou yang dilempar dengan kecepatan tinggi oleh lengan berotot Kensei?
"Dia menuju kemari."
Menelan ludah horor, Shinji dan Ichigo segera menyingkir ke samping untuk melihat tubuh itu jatuh menabrak pohon dengan keras. Tak ada yang pernah memperlakukan Toushirou semenyedihkan ini. Shinji bertaruh bukan Kensei yang melakukannya, kecuali atas paksaan Hiyori. Di dalam kekkai yang hampir sepenuhnya tertutup, dia bisa melihat senyuman puas gadis itu terpampang di bibirnya. Shinji mengusap wajah.
"H-Hei, Toushirou, kau tidak apa-apa?" tanya Ichigo tak yakin, mengipas-ngipas asap yang timbul dari benturan itu.
"Hiyori...," keluh Shinji, matanya beralih ke dinding berkabut di depannya dan mengamati. "Tebal sekali. Kelas A, ya? Hei! Kalian, apa bisa mendengarku?"
"Pelankan suaramu, bodoh."
"Tenang saja, kita berada cukup jauh dari gerbang. Hei, jawab aku jika kalian dengar!"
"Shinji?!" panggil Hiyori setelah jeda beberapa saat. Suaranya samar namun masih jelas. "Kau di sana? Kami akan cari jalan lain, kalian pergilah lebih dulu!"
"Baiklah! Kau berhutang minta maaf pada Hitsugaya, kau dengar aku?"
"...Hah? Apa?! Ah... kurasa dia bilang kau harus minta maaf pada si cebol itu, Kensei."
Shinji menahan urat kekesalan yang bermunculan di keningnya dan menghadap Ichigo. Pria itu hanya memasang wajah datar, tak bisa berkata-kata. Tapi setelah pandangannya beralih pada kastil kerajaan Silbern yang semakin muram saat tertimpa cahaya bulan, Ichigo memasang keseriusan sekali lagi.
"Yah, sepertinya ini memang keberuntungan kita bertiga," Shinji berkata dengan percaya diri.
"Kurasa begitu."
Kepalan tangan Ichigo menguat dan dia kembali bertekad.
"Ayo."
.
To be Continued
.
Author's note :
Chapter 17's done! Ichigo muncul di sini! Seperti judulnya, ini adalah arti nama dari Ichigo sendiri yang melambangkan akan datang harapan. Masih menceritakan IchiRuki secara terpisah. Ini adalah hari saat Rukia bangun di ruang isolasi kerajaan Silbern. Yuuka pengen nyampein apa aja yang sedang dilakukan Ichigo dkk waktu Rukia disiksa seharian di kastil huhu teganya dirimu author! Penantian kalian akan segera berakhir, karena gak lama lagi IchiRuki bakal kembali bertemu yeeaaayyyyy! Yuuka ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dari dukungan kalian baik yang sudah membaca, mereview, memfollow atau memfav cerita ini. Kritik dan saran sangat diterima! Terakhir tapi bukan terakhir, tell me what you're thinking please?
Balasan bagi yang tidak log in:
Rini : Kak sama senpai bukannya sama aja ya wkwkwk yaudah deh terserah kmu. Makasih udah terus nunggu dan review! Sudah update nih, silakan dibaca ya, Rini *-* Hope you like it.
BLEACHvers : Holaaaaaa! Makasih reviewnya yaa. Iya deh nggak papa telat review, Yuuka juga sering telat update wakakaka masih semangat kok, Yuuka emang lebih suka SKS sih (Sistem Kebut Semalam) jangan ditiru ya hahaha. Kemungkinan chapter depan mereka bakal ketemu jadi terus ikutin ceritanya ya. Salam 45!
kirara967 : Makasih udah review, kirara! Iya, karena mereka beda dunia, nyeritainnya juga beda soalnya waktunya bersamaan sih jadi susah kalo pindah". Sudah update nih, semoga kmu suka ya!
kazukiito : Kazukiito-san... arigatouuuu *terharu* Klo nanggalin, Yuuka udah pernah, masalahnya mood yang gak bisa ditentuin kapan bagusnya itu lho. Kadang nongkrong di depan laptop berharap nemuin satu dua kalimat eh malah ngeblank. Hasilnya download anime deh *aib* *curcol* Yuuka coba deh kali aja saran Kazukiito-san berhasil ^^
