Disclimer : Bleach hanya milik Tite Kubo seorang

―bukan punya Yuuka―

.

.

.

Warning : Typo (yang selalu nongol), AU, contains fantasy terms, curse words, semi-canon, Gaje (Yuuka serahkan pada Readers semua), DLDR

.

'Finally I can see you.'

.

Enjoy and happy reading !

...


The Half-Blood

Akimoto Yuuka

Sejak dulu, kupikir Dewa membenciku.

Aku telah banyak berbuat baik agar Dewa mau mencabut semua kutukan ini, karena aku yakin Dewa baik pada semua orang. Tapi, seberapa banyak pun aku mencoba melakukan hal baik, aku sadar bahwa tak ada yang berubah. Aku mulai lelah.

Menjadi orang baik itu melelahkan.

Kalau begitu, kenapa harus jadi baik?

Hati Rukia terguncang melihat Bambietta yang tak berdaya di depan matanya. Tubuhnya gemetar, ketakutan yang begitu nyata menjalar di sebuah salib besar dimana para penjaga mengikat tangan dan kakinya di sana. Rukia seperti tahu bahwa saat ini akan datang, saat Yhwach mengulurkan tangan dingin padanya dengan iris cokelat kemerahan yang menyala.

"Matahari tenggelam, langit hitam, singkirkan awan dan hujan, jauhkan cahaya dari pemilik malam―"

Mata Rukia melebar. Dia belum pernah mendengar mantra itu sebelumnya tapi entah kenapa dia tahu―untuk apa sang Pemimpin Kerajaan Silbern merapalkannya sekarang.

"Tidak... tunggu sebentar..."

Suara Rukia tercekat di tenggorokan. Pergelangan tangannya tergores karena berusaha lepas dari semua hal yang mengikatnya di tempat. Dia tidak bisa berhenti di sini, dia harus mengulur waktu sebanyak mungkin.

"Kubilang berhenti!"

"...Kirimkan bulan purnama, ketakutan, kebencian, mengalir bersama darah Yang Terpilih, hilangkan semua kehidupan di dunia―"

Atmosfer di ruangan itu begitu tegang. Yhwach menempatkan telapak tangannya di leher Rukia, merasakan degup jantungnya yang berpacu cepat sedangkan gadis itu mulai meronta. Kakinya menendang, kepalan tangannya memukul jika saja tidak ada tali-tali yang melilit di tubuhnya seperti seorang tahanan kelas kakap. Tapi tatapan Yhwach menghancurkan harapannya seketika di sela-sela bibirnya yang terus merapal mantra.

"Akan kuambil darah ini kembali seperti janjiku, dengan semua pengikutku yang setia dan bulan purnama sebagai saksinya," mata Yhwach yang berkilat terefleksi sempurna di mata Rukia, melolongkan kata terakhir sebagai penutup.

Sudahlah, semuanya telah selesai.

Cahaya di amethyst itu menghilang dalam seringai pemilik kegelapan.

"Almighty."

―Yuuka desu―

Ichigo meletakkan tangannya di depan dada dengan ekspresi terkejut. Beberapa detik yang lalu jantungnya berdenyut menyakitkan, seperti mengisyaratkan sesuatu. Dia melirik Shinji dan Toushirou yang berlari di sampingnya.

Tidak, mungkin hanya perasaanku.

"Ada apa?" tanya Shinji curiga, sadar wajah Ichigo mendadak berubah pucat.

"Berlarilah lebih cepat."

Pria itu mulai mendaki dinding kastil, meyakinkan Shinji bahwa dia memang merasakan sesuatu. Awan kelabu perlahan menyingkir dari bulan purnama raksasa yang bersinar mengalahkan cahaya bintang. Tidak, sama sekali tidak ada bintang di sana. Langit hanya berupa kegelapan yang absolut seperti sebuah mata, terus mengawasi dimana bulan sebagai irisnya.

"Ya."

"Ruangan ketiga dari barat. Dari sensorku, tak ada penjaga di sana tapi kusarankan agar kalian tetap waspada. Profesor Kurotsuchi telah menyebar gas penumpul indra setengah jam yang lalu dari bom yang terpasang di ruang kontrol. Semoga saja Yhwach tidak menyadari kehadiran kalian."

"Semoga," Ichigo berkata, sebelum mematikan sambungan denreishinki yang terhubung ke ruang kerja Urahara.

"Ruangan ketiga, kalau mau ambil jalan cepat harus pakai cara itu."

"Jangan!" Toushirou mengernyitkan kening pada kalimat Shinji. "Mau menyerang tanpa rencana di kastil setinggi dua ratus kaki juga harus pakai kira-kira. Aku tidak pernah menyetujui aksi ceroboh yang sangat beresiko seperti itu."

"Aku tidak bilang kita akan main hajar tanpa rencana, kan? Di sini tidak ada penjaga, dan kemungkinan Hiyori serta yang lainnya baru akan muncul beberapa menit lagi."

Mereka masuk ke dalam kastil setelah memecah jendela, masih dengan Toushirou yang tidak setuju dengan rencana Shinji. Tapi Ichigo tak bisa berkonsentrasi pada apa yang dua orang itu bicarakan saat pikirannya masih dipenuhi perasaan gelisah. Yang tadi itu apa? Dia tak punya bukti tapi instingnya mengatakan bahwa dia harus buru-buru.

"Kalian berdua diamlah, ada yang mendekat."

Kata-kata Ichigo membungkam mereka seketika. Dari jauh, Shinji bisa mendengar suara tapak kaki seseorang. Ichigo melirik Toushirou lewat ujung matanya dan lelaki itu mengangguk. Dia meletakkan pedangnya lurus ke bawah. Es tipis menjalar di lantai-lantai marmer berwarna merah, menuju dua orang Sorcerer yang sedang berjalan tanpa ekspresi menuju arah mereka tanpa tahu tiga penyusup bersembunyi tepat di depan.

"Huh? A-Apa ini? Tubuhku―!"

Sorcerer di depan menoleh untuk meminta pertolongan saat tubuhnya tiba-tiba membeku dalam sepersekian detik. Rekannya terlonjak, hampir berteriak jika saja tidak menginjak jalur es milik Toushirou tanpa sengaja.

"Apa yang terjadi?! T-Tolong aku, agh, ritualnya―"

Ichigo melebarkan mata, berlari keluar dari balik dinding begitu saja setelah mendengar kata itu. Yang benar saja, ritualnya sudah dimulai?!

"Shit!"

Toushirou mengikuti Ichigo, disusul Shinji setelah pria itu puas mengamati ekspresi Sorcerer yang membeku di tengah jalan. Dia melempar bola padat berwarna hitam dan membiarkannya menggelinding di lorong, sebelum berlari ke ruangan ketiga kastil Silbern. Tempat diadakannya ritual darah Elementalist Rukia.

Sekali lagi, jantung Ichigo berpacu cepat. Dia tak bisa berpikir lagi. Tangannya meremas dadanya yang tak mau tenang, perasaan ini membuatnya gila. Sama seperti saat dia tahu Central 46 sengaja mengurung Rukia di I.P.P.S waktu itu, juga saat Shiba Kaien lagi-lagi mengkhianatinya. Di balik hazelnya yang pucat dan tampak lelah, akhirnya dia melihat pintu besar yang kusam termakan usia berdiri kokoh di sisi dinding sebelah kanan. Napas Ichigo tersengal, buru-buru tangannya meraih gagang pintu saat Toushirou menahannya dengan cepat.

"Kita butuh rencana, Kurosaki."

"Bisakah kau lihat situasinya? Dia ada tepat di balik pintu ini," bisik Ichigo kesal. "Jika kau butuh rencana maka aku setuju dengan Shinji."

Lelaki itu menatap Ichigo tak percaya. Bahkan yang dikatakan Shinji tidak bisa disebut dengan rencana. Tapi dia bisa melihat tekad yang besar di hazel itu, juga emosi yang menyala-nyala di dalamnya. Menarik napas ketiga, Ichigo mendobrak pintu itu dengan kakinya―hanya untuk melihat satu hal.

Rukia.

Dan satu hal lagi.

Tiang eksekusi.

Tubuh Ichigo membeku, diikuti tatapan seribu Sternritter, sang tangan kanan dan pemimpin kerajaan Silbern yang menusuknya di tempat. Dia tidak menyesali satu detik yang memberinya ribuan kutukan, karena meski tubuh besar Yhwach dan mata cokelat kemerahannya melotot murka, pria itu bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri wajah gadis yang telah berjuang bersamanya selama hampir dua bulan ini.

Waktu seperti diperlambat. Rukia mengangkat wajahnya yang sedikit basah, tatapan kosongnya membuat Ichigo seakan dipenuhi balok-balok besar yang mengganjal di lehernya. Gadis itu mengerjap, sebelum amethyst-nya melebar oleh keterkejutan yang teramat sangat. Sosok yang sedang berdiri itu terefleksi jelas dalam irisnya. Kurosaki Ichigo. Belum sempat mulutnya membuka, Jugram telah bangkit dari tempatnya berdiri dan mengibas jubah. Pedang bermata satu keluar dari sarung yang tersemat di pinggang sementara dua orang di samping Ichigo juga melakukan hal yang sama.

Dia ada di sana.

"RUKIAAAA!"

BADUUMMM! DUUUAAARRR!

Para Sorcerer berlarian menghindari atap kastil dan batu-batu yang hancur mendadak dan menjatuhi kepala mereka. Beberapa mati, beberapa yang lain berlindung. Tapi begitu basoka milik Kensei terlihat dari balik lubang retakan, Ichigo tahu Hiyori dan rekan-rekannya yang lain telah datang.

"Ichigo!" Shinji berteriak.

"Kuharap kau lebih cepat."

Yhwach mengeluarkan jarum dari balik jubahnya, tanpa aba-aba menancapkannya ke leher Rukia sehingga membuat gadis itu memekik keras.

"Aaaaarrgghhhh!"

Darah Ichigo mendidih hingga ke kepala menyaksikan adegan itu. Tangan yang kini bergetar oleh amarah menggenggam erat Zangetsu hingga uratnya menyembul di balik kulit.

"GETSUGA TENSHOOUUU!"

Ichigo melompat, ayunan pedangnya menghunus angin dengan reiatsu yang bahkan sanggup mengembalikan enam buah cero. Ah, hal itu bahkan sudah tidak ada artinya lagi. Tak perlu mengelu-elukan soal kekuatan. Untuk apa menjadi kuat jika tak bisa melindungi hal yang berharga? Pertanyaan itu sangat sering muncul di kepala Ichigo. Yang selalu dilakukannya hanya terlambat, selalu begitu dan selalu ada yang harus dikorbankan. Yhwach melirik lewat ujung mata seperti tengah merendahkannya, sementara Jugram tiba-tiba muncul dan mengayunkan pedang ke arah yang berlawanan. Aura putih kekuningan menggesek serangan fatal milik Ichigo di udara sehingga asap dan debu kembali berhamburan. Tapi Jugram tahu persis dimana letak kelemahan Ichigo, yaitu matanya yang dipenuhi keraguan.

BUAAAGHHH!

"Ahhgg!"

Tubuh Ichigo terpental ke dinding, membuat retakan besar di belakang punggungnya. Selagi dia terengah karena kejutan yang tiba-tiba itu, Yhwach mencabut jarum yang telah berisi cairan berwarna merah di dalamnya, membuat Rukia mengernyit sakit untuk kesekian kali. Gadis itu menatap benda di tangan Yhwach dengan ekspresi pucat luar biasa.

Apa yang akan dia lakukan?!

"Baru kali ini aku menganggap apa yang kau lakukan tidak sia-sia, Putriku. Jika aku bisa mengendalikan rasa senangku sedikit saja, aku tidak akan terkejut melihat ada tikus-tikus kecil berkeliaran dan merusak kastil serta acaraku. Tapi tetap saja, aku cukup terkesan kalian bisa mengelabuiku sampai sejauh ini," Yhwach berkata dengan mata menggelap. "Putriku, Kuchiki Rukia... sekarang kau tidak berguna lagi untukku."

Rukia membeku dalam tatapan dingin Yhwach, dia seperti kehilangan separuh nyawanya. Hanya terdiam, melihat cairan merah meluncur dengan mulus di leher Yhwach saat pria itu menusukkan benda itu ke sana. Darahnya. Sebagian kehidupan yang lain telah kembali untuk bergabung dengan sang pemilik kegelapan. Iris cokelat kemerahan itu berkilat, menikmati momen-momen yang telah ditunggunya selama lebih dari seribu tahun.

Hari ini akhirnya terjadi.

Yhwach menyingkirkan jarum itu dari tubuhnya dan mendesis, "Evolusi dimulai."

Tidak.

Semua mata melebar tak percaya, bahkan Vizard yang yakin telah datang tepat waktu tak bisa mengatakan apa-apa. Sternritter bersorak, menyambut Raja agung mereka dan kekuatan yang bahkan tak bisa dihentikan oleh Genryuusai sekalipun. Abadi. Kata itu seakan mewakili semua kejahatan yang sedang mencapai masa jaya, kata yang selama ini dianggap sebagai hal tabu. Karena memang, tak ada yang abadi.

Tapi, bagaimana jika seseorang berhasil membuktikannya?

"Habisi mereka," kata Yhwach.

Asap putih mulai keluar dari pori-pori pria itu, kulitnya memerah seperti tengah terpanggang bara api. Perubahan yang dinamis terlihat samar di balik cahaya bulan dan asap yang semakin menebal. Entah apa yang terjadi di baliknya, tapi ketika kepala Yhwach mendongak, dia bisa merasakan sensasi menakjubkan membanjiri tiap sel dalam tubuhnya hingga berdenyut. Sebenarnya, itu sangat menyakitkan. Rasa sakit itu akan berganti oleh sesuatu yang lebih dahsyat nantinya.

"Oh...!"

Tiang salib Rukia retak akibat guncangan dan angin yang berputar semakin besar ke arahnya. Dia meronta, tapi semakin dia berusaha terlepas, semakin pergelangan tangan yang pucat itu tergores serat tali yang begitu kasar. Desakan angin yang kuat membuat Rukia memejamkan mata, tahu bahwa usahanya sia-sia saat tiang kayu itu patah dan menghempasnya ke samping.

"Ah―AHHGGG!"

Darah segar keluar dari mulut Rukia saat punggungnya menubruk dinding dengan kuat. Hempasan itu bahkan tak merusak ikatannya sedikit pun. Penglihatan Rukia membayang, dia tak bisa lagi menghitung seberapa banyak luka yang dia terima belakangan ini. Apapun itu, sekujur tubuhnya terasa begitu sakit.

"Shinji! Apa yang harus kita lakukan?!" teriak Hiyori, membuat Shinji seperti diguyur air es di musim dingin. Di satu sisi, dia tak bisa berhenti mengayunkan pedang.

"Bertahanlah sebentar, kita akan keluar setelah mendapatkan gadis itu."

Shinji yang berada agak jauh dari sana terburu menghabisi kedatangan para Sorcerer. Dia melompat ke atas saat tubuh Ichigo yang sedang keluar dari puing-puing memenuhi pandangannya. Pria itu hendak memanggil, tapi bibirnya terkunci begitu melihat ekspresi gelap Ichigo dan kilatan di hazelnya. Apa hanya perasaannya atau mata Ichigo sedikit memerah?

"Hyaaa! A-A-Apa... yang terjadi?"

Kepala Shinji menoleh saat teriakan ngeri Toushirou memenuhi telinganya. Shihakuso lelaki itu terciprat cairan berwarna merah yang dia yakini sebagai darah. Tapi yang membuatnya terkejut datang dari kepala Sorcerer di depannya yang kini sudah tidak berbentuk lagi. Seketika, Shinji mengingat kata-kata Urahara.

"Itu dia! Bom yang terpasang di kepala mereka!" Pria itu berseru, menghentikan gerakan seluruh anggota Vizard. "Tekan kepala mereka untuk mengaktifkannya, dengan begitu kita bisa membuka jalan untuk keluar dari sini, kalian dengar aku?!"

"Huh, jadi begitu maksudnya," ujar Kensei kagum.

"Jangan cuma menyuruh, bodoh! Kau tidak lihat betapa menjijikkanya isi kepala mereka itu, ya?"

Meski menggerutu, Hiyori mengatakan itu dengan wajah lega. Shinji memutar badannya dan berteriak sekali lagi, kali ini dengan penuh keyakinan.

"Ichigo! Bawa gadis itu dan pergi dari sini!"

Pria berambut oranye itu menoleh, ditatapnya Shinji dari kejauhan yang menggenggam erat Zanpakuto-nya. Berapa lama pun, pria itu masih akan bertarung di sini. Itulah rencananya.

Kuserahkan yang di sini padamu, Shinji.

Ichigo melesat dengan kecepatan tinggi, menyadari bahwa pusaran angin di sekitar Yhwach tampak lebih kecil dari sebelumnya. Sebentar lagi. Baru saja Ichigo berpikir demikian, jalurnya terhalang sesuatu berwarna putih. Hampir menyamai kecepatannya sehingga pria itu membelalak. Dalam gerak lambat, lambang Wandenreich dan tatapan dingin Jugram langsung memenuhi pandangannya seketika―serta sebuah ayunan pedang.

TRANGG!

"Kkhh..."

Aneh, dia bahkan tak sempat mencabut pedangnya tapi gerakan Jugram terhenti. Melihat ke atas, Ichigo menemukan punggung Shinji dan tangannya yang menahan Zanpakuto sekuat tenaga.

"Shinji."

"Pergilah."

Ekspresi Ichigo mengeras. Dia tak bisa melihat wajah Shinji tapi dia bisa merasakan keseriusan yang jarang sekali terpancar darinya. Ini memuakkan, tapi Ichigo tak punya cara lain. Dalam sekejap, tubuh pria itu telah menghilang. Shinji tersenyum seraya keringat mengalir melalui dagunya.

"Hei, blonde, tidak keberatan, kan, kalau aku menggantikannya? Kebetulan saat ini aku sedang luang, dan asal kau tahu saja dia itu orang yang sangat-sangat-sangat sibuk."

Mata Jugram menyipit, "Reiatsu-nya sangat berbeda dari yang lain. Tak selemah milikmu. Aku bisa merasakannya lewat gesekan pedang kami. Aku harus membunuhnya untuk tahu apakah firasatku benar."

"Hee? Bukankah kau hanya patuh pada perintah Rajamu? Kau bisa merasakan yang seperti itu juga, ya?" Shinji menyeringai. "Tapi... bukankah kau agak kasar, kuharap kau tidak serius mengatakan orang lain lemah dengan tampang datarmu itu. Ini bukanlah sesuatu yang bisa kau coba seenaknya, karena bisa jadi... kau yang akan terbunuh."

Jugram mengernyit saat Shinji menekan pedangnya kuat-kuat. Meski dia bilang begitu, melawan Jugram Haschwalth tanpa persiapan dan sangat mendadak ini cukup berbahaya. Jika saja orang ini juga punya peledak di kepalanya, dalam hati Shinji mendesah keras-keras. Apa boleh buat? Untuk saat seperti inilah kehadirannya dibutuhkan.

"Aku mengapresasi pengorbananmu, tapi kita akan lihat apakah omongan besarmu itu benar-benar terbukti," ujar Jugram, menyelipkan keangkuhan di balik kata-kata itu dan Shinji menyeringai lebar.

Tidak ada pengorbanan yang sia-sia.

Rukia merasa ada hembusan lembut menyapu wajahnya saat kesadarannya kembali. Matanya mengerjap melihat tetesan darah di lantai. Darahnya, ya? Ah, posisi macam apa ini, dia tidak bisa bergerak. Gadis itu memejamkan mata, sebelum sesuatu seperti menamparnya keras-keras. Ichigo! Tadi dia melihat pria itu di sini. Saat matanya mencari-cari sesuatu yang tampak mencolok di ruangan itu, samar-samar hidungnya mencium aroma bergamot. Bergamot yang sangat dia kenal.

Ini Ichigo.

Rukia mendongak saat sadar Ichigo telah berdiri di depannya. Entah kenapa, pria itu tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya memotong semua tali di tiang itu dan membiarkan tubuh Rukia jatuh ke lengan kokoh yang sudah lama tidak disentuhnya. Untuk sesaat, napas Rukia tercekat.

"I... Ichigo."

Pria itu terdiam sebentar, sebelum menjawab dengan suara berat, "Aku di sini."

Itu adalah satu kalimat pendek yang sangat berarti baginya. Rukia memejamkan mata, membiarkan Ichigo merengkuhnya dengan sangat hati-hati. Kehangatan ini, sentuhan ini, entah berapa banyak yang dia rindukan hingga tak sanggup mengatakannya. Ichigo menarik napas, berbisik di telinganya dengan suara pelan.

"Kita akan pergi dari sini."

Gadis itu mengangguk, tangannya melingkar begitu saja di lehernya. Untuk sesaat, Ichigo melirik ke belakang, tempat dimana rekan-rekannya masih bertarung. Ada secuil perasaan ragu di dalamnya tapi kemudian tatapan Ichigo beralih ke Shinji.

Sejujurnya, aku bersyukur ada kau di tim ini.

Pegangan Rukia yang tiba-tiba mengerat membuat Ichigo sadar bahwa proses regenerasi Yhwach hampir selesai. Ichigo mengambil ancang-ancang, bersiap saat asap mulai menghilang dan memunculkan sebelah mata Yhwach yang melotot ke arahnya. Begitu langkah mundur Ichigo terbaca, aura Yhwach menghunusnya dengan tidak berperasaan, membuat Shinji menoleh dengan tiba-tiba karena mendengar suara kaca pecah.

Aura itu tak pernah mengenai mereka, karena Ichigo telah lebih dulu pergi sebelum Yhwach sempat menyentuhnya. Melihat satu masalah telah selesai, Shinji membuang napas lega diam-diam. Tak peduli lagi pada luka goresan yang lumayan fatal di lengannya. Di tempatnya berdiri, Jugram berkata,

"Kau adalah satu-satunya yang masih bertahan hidup setelah menerima racunku. Tapi entah itu akan bertahan berapa lama."

Darah segar mengalir melewati jarinya, sebelum jatuh ke lantai dan membentuk genangan yang cukup besar. Terengah, bibir Shinji tertarik ke samping.

"Aku juga penasaran."

―Yuuka desu―

Terjun dari ketinggian dua ratus kaki tak pernah semenegangkan ini. Anggap saja Rukia tidak tahu bahwa sekarang ini Ichigo sedang tidak bertumpu pada apapun kecuali angin―dan keberuntungan.

"Ngghh!"

Cengkeraman Rukia melonggar untuk sepersekian detik ketika kaki Ichigo akhirnya menyentuh tanah, tapi hanya sebentar, Ichigo menekan ujung geta-nya dan bershunpo ke hutan tanpa menunggu sebuah aba-aba. Yang tersisa dari kastil itu hanya suara gemuruh atap kastil yang berlubang serta jeritan orang-orang yang menyedihkan di dalamnya. Dengan apa yang tersisa, kedua orang ini terus berlari, meninggalkan rekan-rekan mereka yang tertinggal di belakang.

Malam terasa lebih gelap di luar sini. Yang bisa Rukia dengar hanyalah suara ranting patah dan napas Ichigo yang terlalu dekat. Tadi dia melihat kekkai yang berlubang-lubang di luar kastil. Itu mungkin perbuatan Kensei agar mereka bisa keluar dari sana.

"Ichigo, berhenti sebentar," Rukia berkata dengan susah payah. "M-Mereka... teman-temanmu masih di sana, kita tidak bisa meninggalkan mereka."

"Biarkan saja. Mereka bukan orang-orang biasa."

"Meski begitu―"

Tatapan Ichigo membuat Rukia seketika terdiam. Seharusnya dia tahu, di sini, Ichigo lah yang paling menderita. Kilatan yang ada di hazelnya saat itu benar-benar menyakitinya. Ketika Ichigo mulai memelankan tapak kakinya, dia tak bisa menahan helaan napas keluar. Dia tak tahan lagi, karena itu mereka kembali bershunpo ke belakang pohon pinus dan berlindung di sana untuk sementara.

"Siapa yang melakukannya, Rukia?" tanya Ichigo, menghimpit Rukia di antara tubuhnya. Napasnya terengah karena terus berada dalam tekanan.

Rukia menggigit bibir, memilih untuk tidak menjawab. Sebuah tangan besar terulur untuk memisahkan bibir itu dan mengusap sisa darah di sudut bibirnya. Dahi Ichigo mengkerut begitu teringat bagaimana darah itu bisa berada di sana.

"Rukia, katakan padaku, siapa yang membuat luka-luka ini?"

"Itu sudah tidak penting lagi bagiku."

"Bagiku tidak."

Gadis itu menarik pakaiannya ke bawah untuk menutupi goresan panjang di paha dan goresan yang lain di betisnya. Masih ada sisanya di lengan dan leher, serta sebagian lain di wajah. Baiklah, dia bisa membayangkan bagaimana penampilannya sekarang. Sungguh, Ichigo tidak sanggup mengingat berapa banyak luka yang ditanggung Rukia sejak awal mereka bertemu hingga sekarang. Melindungi apanya? Sisi lain dalam diri Ichigo bangkit dan memaksanya membuka mata lebar-lebar.

Siapa di sini yang paling menderita?

"Aku akan membunuhnya. Siapapun itu," desis Ichigo.

"Kau tidak perlu melakukannya―"

"Apa kau ingin aku diam lagi, Rukia?! Kenapa kau selalu ingin melakukan semuanya sendirian?"

"Karena dia tidak akan bisa melakukannya lagi!"

Napas Ichigo tercekat. Tiba-tiba dia teringat pada tubuh seseorang yang tersisihkan di samping Yhwach sebelum ini, dan dia tahu betul tubuh siapa itu.

"Bambietta Basterbine."

Rukia meletakkan tangannya di depan dada, menunduk sementara Ichigo mulai mengerti maksud dari kalimatnya. Yhwach telah memotong lengan Bambietta. Gadis itu melihat dengan mata kepalanya sendiri saat peristiwa itu terjadi. Apa yang dia lakukan masih terekam jelas seakan baru terjadi lima menit yang lalu.

Ichigo menggenggam sebelah tangan Rukia yang bergetar, merengkuhnya dalam sebuah pelukan panjang. Bunyi gemerisik dedaunan dan ranting pohon adalah satu-satunya yang mereka dengar sekarang, kecuali detak jantung dan tarikan napas yang saling bersahutan. Ichigo mengeratkan pelukannya hingga tubuh mungil Rukia hampir tenggelam, tapi gadis itu tak bisa menutupi apapun lagi. Kebohongan tidak lagi dibutuhkan di sini, saat satu-satunya yang kau inginkan hanyalah kehadiran seseorang yang berharga.

"Ada banyak permintaan maaf yang ingin kukatakan padamu," ujar Ichigo tulus, mengusap pipi gadis itu dengan sebelah tangannya. Tapi Rukia menggeleng.

"Yang kubutuhkan sekarang hanya ini."

Ada sedikit rasa kesal dalam diri Ichigo saat gadis itu mengatakanya. Kenapa dia bisa begitu kuat? Dengan tubuh sekecil ini dan beratnya beban yang ditanggungnya, Ichigo akan melakukan apapun. Apapun.

"Jangan mengatakan hal yang manis seperti itu."

Ichigo mencium pergelangan tangan Rukia yang lecet. Garis wajah yang jelas karena sinar bulan juga tatapan tajamnya memaksa jantung Rukia untuk kembali berpacu. Sebelah tangan Ichigo bergerak ke lehernya, mengusap luka yang paling baru. Mereka sadar, segalanya akan lebih sulit mulai dari sekarang. Gadis itu menatapnya serius.

"Ichigo, biarkan aku bertarung."

Ekspresi Ichigo mengeras oleh ketidakpercayaan. Oh, tidak, jangan lagi.

"Rukia..."

"Aku pernah mengatakannya padamu, bahwa suatu hari nanti pasti ada saat dimana aku harus menggunakan darah ini. Dan inilah saatnya," dia berkata. "Yhwach telah mendapatkan hal yang paling dia inginkan, sesuatu yang kalian para Shinigami lindungi selama lebih dari seribu tahun. Itu tidak mengubah apa yang telah terjadi. Satu-satunya cara adalah melawannya menggunakan darah ini."

"Tidak, kau tidak bisa."

"Kenapa?"

Pria itu menghela napas frustasi, "Kita sudah pernah membahas ini, Rukia. Yang harus kaulakukan hanyalah tetap di sisiku dan jangan pernah mencoba apapun."

"Bisakah kau percaya padaku sekali saja?" mata Rukia berkilat marah. "Ini permintaan sekali seumur hidupku. Aku tidak pernah bisa membuat permintaan karena selama ini klan Kuchiki yang memutuskannya untukku. Tapi setidaknya kau bisa... mengabulkan yang satu ini."

Kepalan tangan Ichigo menguat. Kenapa dia tidak bisa mengerti? Pria itu tidak bisa melihatnya kembali terluka. Sudah cukup semua ini terjadi, Ichigo tidak ingin hal yang lebih buruk menimpa gadis itu. Dia benar-benar sudah cukup menerimanya.

"Kumohon, Ichigo."

Jangan katakan itu.

"Aku mohon."

Ah, dia benci situasi ini. Terkutuklah kau, Yhwach.

Rukia memperhatikan Ichigo yang tengah menutup matanya dengan penuh harap. Dia tahu permintaannya begitu egois, dan sejujurnya dia juga tahu bagaimana reaksi Ichigo dari awal. Tapi apapun itu, dia sudah memutuskan untuk tidak akan mundur. Ichigo menyisir rambutnya ke belakang dengan sebelah tangan, menghela napas untuk kesekian kalinya. Tatapan yang Rukia tujukan padanya benar-benar serius―dead serious.

"Aku tahu satu cara. Sebenarnya, ini bahkan tidak ditulis di buku Akademi tapi aku sempat membacanya di perpustakaan klan Shiba," jelas Ichigo pada akhirnya, membuat mata Rukia melebar.

"Kau... mengijinkannya?"

Pria itu terdiam sebentar, menatap goresan di pipi Rukia yang terhalang bayangan pohon, "Tidak. Tidak akan pernah. Tapi―"

Jari Ichigo menutup bibir mungil yang baru saja akan protes itu, dan mengusapnya perlahan.

"Aku tidak pernah punya pilihan saat itu mengenai dirimu, Rukia. Untuk kali ini, aku yang akan bertanggungjawab secara penuh, aku tidak akan membiarkanmu memaksakan diri hingga akhir atau bertarung sendirian. Karena kau akan bertarung di sisiku."

Rukia merasakan kelegaan yang teramat sangat mengaliri seluruh tubuhnya. Dia mengangguk, sedikit gugup saat Ichigo melanjutkan dengan kening berkerut.

"Tapi... dengan tingkat keberhasilan yang hanya sepuluh persen aku tidak tahu apakah ini akan berjalan baik. Dengar, Rukia, kita mungkin akan mencoba sebuah hal gila. Jika kau menyetujui ini maka tidak akan ada jalan untuk kembali."

Kepalan tangan Rukia menguat, mengabaikan degupan jantungnya yang mulai mengganggu di dalam sana. Tapi entah angin apa yang barusan datang, dia sama sekali tidak takut. Ditatapnya hazel itu dengan serius sementara bibirnya membuka,

"Akan kupertaruhkan segalanya pada sepuluh persen itu."

.

To be Continued

.


Author's note :

Finally done for this chapter! Universitas sungguh merupakan bencana kedua setelah ospek! Setelah lepas dari semua beban ini akhirnya Yuuka mulai bisa melakukan rutinitas seperti biasa. Terima kasih untuk kalian yang masih menunggu, dan Yuuka bersyukur bisa mempertemukan dua tokoh yang Yuuka cintai (Ichigo & Rukia) dengan suasana yang Yuuka inginkan meski itu nggak pernah terjadi di dunia nyata. The hell with Bleach ending! Jujur, Yuuka udah punya firasat tentang itu setelah lihat Rukia yang tiba-tiba selalu nempel ke Renji maupun Inoue yang selalu satu adegan sama Ichigo. It sucks. But trust me, itu nggak akan terjadi di fanfic ini karena *maaf* nggak ada karakter bernama Orihime Inoue. Yuuka nggak benci kok sama Inoue. Oke, Yuuka akan menerimanya dengan lapang dada karena semua orang pasti udah bosen sama posting beginian wkwkwk. Yuuka ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dari dukungan kalian baik yang sudah membaca, mereview, memfollow atau memfav cerita ini. Kritik dan saran sangat diterima! Terakhir tapi bukan terakhir, tell me what you're thinking please?

Balasan bagi yang tidak log in:

kazukiito : Holaaaa kazukiito-san! Gimana, gimana? Udah menegangkan belum? *apanyaorangbelumsceneperang* waaah ini masalah antara Soul Society dan Wandenreich, Aizen mah apa atuh wkwkkw sebenernya Yuuka nggak berencana untuk masukin Aizen, takut kepanjangan. Dan jujur aja Yuuka juga bingung gimana masukinnya hehehe. Nanti bakal ada saatnya kok yang lain keluar, kalo nubruk semua sih nanti Yuuka pusyang :D Hmmm kayaknya Yuuka harus mulai atur jadwal lagi nih, banyak anime-anime yang kelewatan, btw makasih reviewnya ya!

kirara967 : Makasih reviewnya yaa ^^ wah, kayaknya harapanmu nggak jadi kenyataan nih soalnya Ichigo telat dateng. Author juga sering nelat kok *pundung*. Yhwach cuma nganggep Rukia barang baru yang kalo udah nggak menarik langsung dibuang kok wkwkwkwk *ditabok* udah update nih, semoga kamu suka ya!