Disclimer : Bleach hanya milik Tite Kubo seorang

―bukan punya Yuuka―

.

.

.

Warning : Typo (yang selalu nongol), AU, contains fantasy terms, curse words, semi-canon, Gaje (Yuuka serahkan pada Readers semua), DLDR

.

'If you drink that poison, then so I am. If you're gonna make a war for it, then I'm going with you.'

.

Enjoy and happy reading !

...


The Half-Blood

Akimoto Yuuka

"Dengar, Rukia, kita mungkin akan mencoba sebuah hal gila. Jika kau menyetujui ini maka tidak akan ada jalan untuk kembali."

Suara Ichigo memperingatkan, begitu dekat dengan bisikan angin juga dedaunan pohon di atas kepala mereka. Semua desakan ini membuat bulu kuduknya meremang. Bulan purnama belum menyingkir seakan menanti jawaban gadis berambut pendek yang terhimpit di antara lengan kokoh pria di depannya. Dia mendongak.

"Akan kupertaruhkan segalanya pada sepuluh persen itu."

Kerutan Ichigo semakin dalam. Bisakah gadis ini menyerah saja? Dia tampak hanya menyembunyikan semua perasaan itu di punggungnya, dimana orang-orang tak bisa melihat. Tapi Ichigo tahu, gadis itu ketakutan. Ujung jarinya gemetar, tatapannya gelisah dan napasnya sedikit lebih cepat. Sebelumnya, Ichigo tak pernah memperhatikan seseorang hingga sedetil ini.

Menutup matanya sebentar, pria itu mengambil napas, "Baiklah, ini akan sakit tapi aku akan melakukannya dengan cepat."

Rukia mengangguk, kaget saat wajah Ichigo tiba-tiba berada terlalu dekat. Jemari pria itu menari di pipinya, setengah untuk menenangkan dan setengah lagi insting. Itu membuat Rukia lupa sejenak pada dunia. Mereka hanya saling bertatapan tapi keyakinan itu seakan memberi banyak keberanian padanya. Entah detak jantung siapa yang terdengar paling keras sekarang.

"Ichigo."

"Ssshhh."

Dorongan lembut di kepalanya membuat darah Rukia berdesir. Matanya membuka lebar, hanya untuk tahu bahwa Ichigo sedang menciumnya―sekarang. Itu sama sekali tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Dia tidak tahu. Yang membuatnya bingung, hazel Ichigo tidak menutup melainkan menatapnya selagi bibir mereka bersentuhan.

Ini adalah ciuman pertamanya.

"Mmh."

Cengkeraman di shihakuso Ichigo menguat. Pria itu bisa merasakan bibir Rukia sedikit bergetar oleh rasa panik. Tapi mereka tak berhenti, dia akan biarkan Rukia beradaptasi dengan ritmenya. Perlahan dan begitu pelan, Ichigo tahu rasa apa yang sedang dikecapnya sekarang. Rasa manis yang mengejutkan. Kepalan tangan Ichigo menguat.

"Maaf," pria itu menjauhkan wajahnya sedikit. "Aku melupakan sesuatu."

Napas mereka beradu menjadi uap yang menghangatkan di luar sini. Wajah Rukia seperti terbakar. Dulu, dia hanya bisa mengira-ngira rasa bibir Ichigo tapi kali ini dia benar-benar bisa menyimpulkannya sendiri. Amethyst-nya melirik ke atas, mencoba menebak apa yang pria itu pikirkan. Tapi apa yang Ichigo lakukan kemudian membuatnya terkejut. Pria itu menggigit bibir bawahnya keras-keras, membuat darah keluar dari sana dalam jumlah banyak.

"Apa yang kaulakukan?" tanya Rukia panik.

Ichigo mengerang, tentu saja itu sakit, tapi bibirnya tertarik ke samping tidak lama kemudian,
"Cobalah untuk tidak mengeluh soal rasanya."

Baru saja Rukia ingin bicara, Ichigo kembali menciumnya. Dia membuka bibir mungil itu dan membiarkan lidahnya menari di dalam, membuat Rukia terkesiap. Mulutnya seakan dipenuhi bau anyir darah yang berasal dari bibir Ichigo. Keningnya mengernyit dalam, tak mengerti, tapi tatapan Ichigo seakan menyuruhnya untuk menurut. Ragu-ragu, Rukia menelannya. Cairan merah itu mengalir di tenggorokannya dan menyebabkan rasa panas yang sulit dijelaskan.

Tiba-tiba saja sesuatu dalam dirinya bergejolak.

"Mnghh!"

Jantung Rukia berdetak semakin cepat setelah tegukan kedua, matanya membuka dan hampir saja melepas ciuman mereka jika Ichigo tidak menahan kepalanya untuk tetap di tempat.

"Ah! Ugh... Ichig―NNGGGHHH!"

Sesuatu dalam dirinya terasa membakar. Rukia menarik shihakuso Ichigo untuk meredam rasa sakitnya, tapi setelah beberapa saat itu benar-benar terasa semakin menyakitkan. Setiap organ yang dilalui darah pria itu berdenyut-denyut di dalam sana. Dia seperti sedang meminum racun, karena rasa sakit itu tak bisa lagi dijelaskan dengan kata-kata. Ichigo mengusap punggung Rukia untuk menenangkannya meski dia tahu itu mustahil. Teriakan Rukia teredam oleh ciuman mereka.

Bersabarlah, sebentar lagi.

Rengkuhan Ichigo menguat, sadar bahwa Rukia hampir tak kuasa untuk melanjutkan. Tangan Rukia yang berada di dada pria itu bergetar hebat dan hampir merobek pakaiannya. Ichigo melirik sebuah tanda yang kini terbentuk di dekat tulang selangka gadis itu. Tanda kontrak mereka. Ruam-ruam yang samar terlihat semakin jelas, itu adalah lingkaran mantra yang dikelilingi simbol elemen, dengan huruf-huruf kuno yang sulit sekali dibaca. Saat simbol itu berhenti bersinar dan menetap di sana, Ichigo tahu ritual mereka telah selesai.

Hazelnya melirik Rukia, mendapati gadis itu mulai sedikit tenang. Jemari panjangnya menyelipkan beberapa rambut hitam itu ke belakang telinga, dan mengusap lehernya dengan lembut. Ichigo memelankan ritmenya sekali lagi hingga ciuman mereka terasa seperti mengambang.

"Hahh... hahh... haa..."

"Rukia," pria itu menatapnya intens, sedikit terengah. "Kau baik-baik saja?"

Rukia susah payah mengatur napas, menggeleng, kemudian ragu-ragu. Seisi perutnya belum berhenti untuk saling berbenturan. Dia masih bisa merasakan bau anyir itu di mulutnya dan tangannya yang gemetar. Tapi ada sesuatu yang berbeda, Rukia hampir tak bisa mengingat letak luka-luka yang ada di tubuhnya karena saat matanya melirik ke bawah, mereka telah hilang.

"...A-Apa?"

"Kau berhasil," Ichigo menghela napas lega. "Luka itu hilang karena tubuhmu sendiri yang menyembuhkannya. Kau tahu apa artinya itu?"

Rukia mendongak, menatap hazel Ichigo yang terus merantainya. Di ujung bibir bawah pria itu masih ada luka yang paling baru. Sayangnya, dia tak bisa menghapus luka orang lain. Dia menunggu saat Ichigo membuka mulut,

"Sekarang, kau adalah Elementalist."

Kata-kata itu memenuhinya. Rukia tidak menyesali apa yang dia lakukan, dia sudah bertekad untuk bertarung di medan yang sama, dengan orang yang sama. Tapi kata "Elementalist" benar-benar sangat berarti bagi Ichigo. Itu artinya, dia adalah seorang penyihir. Dan penyihir adalah musuh terbesar mereka sekarang.

"Kau akan bertarung di sisiku," Ichigo menciumnya setengah frustasi. Dia sudah cukup baik untuk melakukan semua ini. Mata Rukia menutup saat Ichigo melanjutkan, "Jangan pernah berani untuk pergi dariku. Ini perintah."

Jantung Rukia berdetak cepat namun bukan sesuatu yang menyakitkan. Ada kobaran yang menyala-nyala di dadanya. Sekarang, dia tahu bahwa ada sebagian kecil dari darah Ichigo di dalam sana, menyatu bersama darahnya. Dia dan Ichigo. Mungkin, keberanian yang menyala-nyala ini juga berasal dari sana.

"Terima kasih, Ichigo," jawabnya tulus.

Bibir Rukia membentuk senyuman kecil yang membuat pria itu tertegun.

Aku tidak akan membiarkanmu mati.

Kata-kata itu seperti janji. Rukia meremas tangan Ichigo dan berkata serius, "Ayo kita pergi."

Mungkin, segalanya setelah ini akan jadi lebih sulit. Jika ada yang harus dikorbankan, maka Ichigo bertekad itu tidak akan jadi Rukia. Keinginan untuk saling memiliki satu sama lain membuat mereka memikirkan hal yang sama tanpa sadar. Padahal, mereka tidak tahu apa yang terjadi di masa depan. Tapi siapa peduli?

"Ayo."

―Yuuka desu―

"ARGHH!"

"Shinji!"

Hiyori melesat pergi setelah menebas dua Sorcerer di depannya―yang kepalanya langsung meledak. Kakinya berlari dengan panik saat tubuh Shinji yang hanya terpaut beberapa meter terkulai tak berdaya. Pria itu terluka lumayan parah. Setelah goresan yang cukup dalam di lengannya, mungkin beberapa tulang telah patah. Shinji yang melihat Hiyori mendekat langsung melebarkan mata.

"Jangan kemari!"

Mendadak, bulu kuduk Hiyori meremang. Gadis itu menoleh ke samping saat Jugram menebas aura putih kekuningan yang sama yang sudah merobek kulit Shinji. Tidak akan sempat. Hiyori menaruh dua tangan ke depan, menunggu rasa sakit di sekujur tubuhnya sementara Shinji bersusah payah untuk bangkit. Tapi rasa sakit itu tak pernah datang.

BATS!

Hiyori baru saja mengintip, tapi apa yang dilihatnya benar-benar mengejutkan. Dia kenal kimono bermotif bunga itu, atau caping jerami tua dan tubuh besar yang sedang mengenakannya. Senyuman yang ada di wajah itu begitu familiar. Hiyori berkedip, bersamaan dengan ayunan pedang yang membelah aura Jugram menjadi dua.

"K-Kyouraku," panggilnya tak percaya.

"Bukan cuma aku, lho."

Atap kembali hancur. Diselingi dengan suara gemuruh dan getaran yang muncul akibat kedatangan sebuah pasukan, sosok yang dimaksud Kyouraku muncul dari sana. Itu Onmitsukido, Soifon, dan dua ajudan Ichigo―Shuuhei dan Ikkaku.

"Bawa Hirako keluar dari sini. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Raja sudah bangun, karena di sini bukan medan perang untuknya."

"Kalau begitu Ukitake―"

"Percayalah, dia sedang menjalankan tugasnya," jawab Kyouraku. "Sekarang, kami yang akan memancing mereka ke sana. Kalian para Vizard telah melakukan yang harus kalian lakukan."

Mendengar kata-kata Kyouraku, gadis itu tak memiliki pilihan selain menurutinya. Dia bershunpo ke sisi Shinji, mencari-cari keberadaan pria gemuk yang selalu bertarung dengan serangan jarak jauh ketika pria berponi miring itu menarik tangannya.

"Sudahlah, Hiyori."

"Ini salahmu karena sudah menantangnya, Shinji boge! Dimana orang itu? Hachi! Hachi, kemari dan bantu aku!"

Tak lama kemudian pria gemuk itu muncul, sedikit kaget saat melihat keadaan Shinji sehingga tanpa pikir panjang langsung mengeluarkan perisai kidou di seluruh tubuhnya untuk memulihkan. Sekarang ini, mungkin racun yang dia terima telah mematikan sebagian syaraf di lengan kanan. Jugram menyipitkan mata, hampir kembali menyerang jika Kyouraku tidak menghadangnya tepat di depan. Luka yang dia terima tidak sebanyak Shinji tapi dia harus tetap membunuhnya, karena jubah putih pemberian Yhwach telah sobek berkat pria itu.

"Aku tidak punya urusan denganmu," ujar Jugram sengit.

"Oh, ya? Sayang sekali, tapi kami punya kejutan yang bagus. Kuharap kau tidak melewatkannya."

Kyouraku melirik Soifon yang langsung menganggukkan kepala. Wanita itu meninggalkan barikade pasukan Onmitsukido yang sedang menangani para Sorcerer, langsung menuju sisi terjauh Jugram untuk membuat sebuah portal. Untuk sesaat, Kyouraku berpikir apakah mereka akan berhasil karena tepat di depan singgasananya, Yhwach tidak bergerak. Sudah tiga puluh menit yang lalu sejak dia menghunus aura pada Ichigo. Dia mungkin mati suri. Tapi dengan semua aura hitam dan tangan kanan bersamanya, Kyouraku ragu mereka akan bisa membunuhnya sebelum Yhwach bangun.

"Apa-apaan ini?"

"Tenanglah, ini tidak menyakitkan tapi mungkin kau akan sedikit pusing," Soifon menjawab perkataan Jugram. "Kau tidak ingin Rajamu bangun dengan kekacauan ini, kan?"

Mengkerutkan kening tak mengerti, Jugram menatap tajam dua orang itu seakan mengutuk mereka. Sekarang suasana hatinya sedang buruk dan dia tidak ingin ada hal yang keluar dari rencananya lagi.

"Oi, Shinji, kau baik-baik saja? Astaga...," Ikkaku yang datang untuk membantu Shinji dikejutkan oleh kondisi pria itu. Tapi ucapannya membuat Hiyori benar-benar kesal.

"Diamlah, botak! Kau mengganggu!"

"Aku tidak bo―"

Shuuhei menahan bahu Ikkaku dan berkata serius, "Kami akan bantu kalian keluar dari sini, aku baru saja datang dari Albinia Mese dan si geta-boshi itu bilang mereka akan memindahkan tapal batasnya sekarang."

Mendengar hal itu, Hiyori dan Hachi terkejut, tak terkecuali Shinji yang langsung menoleh ke arahnya.

"Se...karang?"

Shuuhei mengangguk, menghela napas pendek karena banyak sekali yang harus dipikirkan.

"Apa mereka berencana untuk melawannya sendirian?" tanya Hachi.

"Sepertinya kita memang tak bisa berbuat apa-apa. Ini adalah keputusan Komandan, dan aku yakin tidak ada dari mereka yang menginginkan seseorang kembali terluka," jawabnya. "Ini mungkin adalah pertarungan yang terakhir."

Mereka semua terdiam. Ya, ini mungkin keputusan terbaik. Dengan memindahkan jalur tapal batas Dunia Manusia, sebuah jalur lain akan muncul dan membentuk Dunia Manusia palsu. Saat itu terjadi, semua manusia akan kehilangan kesadaran mereka untuk sementara karena perubahan arah reiatsu yang begitu besar. Tentu saja, ada pengorbanan untuk mendapatkan kekuatan seperti itu. Mungkin inilah yang sedang dilakukan oleh Ukitake.

"Bisakah aku serahkan yang di sini pada kalian berdua?" tiba-tiba saja seorang lelaki pendek berambut putih sudah berjalan menuju mereka.

"Hitsugaya-san," panggil Shuuhei. Dia tahu tatapan itu menunjukkan suatu rencana saat Toushirou memilih untuk bergabung dalam tim penyelamatan Rukia. "Anda... mau kemana?"

"Tentu saja, ikut bersama mereka."

Mendengar itu, ekspresi Shinji mengeras, "Aku juga ikut."

"Shinji!"

"Aku tidak bisa diam begitu saja setelah sampai sejauh ini!" dia berteriak pada panggilan Hiyori, membuat luka-luka di tubuhnya kembali berdenyut.

Untuk sesaat, Toushirou tahu harga diri Shinji terluka. Dia pasti berpikir bahwa Soul Society membuangnya setelah tahu mereka sudah tidak berguna. Tapi bukan itu intinya. Toushirou menatapnya tajam.

"Kalau begitu katakan padaku apa yang bisa kau lakukan dengan tubuhmu yang sudah babak belur itu? Bergerak saja sudah terasa sulit. Apa aku harus mengingatkanmu tentang tugas seorang pemimpin?" ujarnya, seketika membuat Shinji terdiam. "Kau ingin meninggalkan anak buahmu demi harga diri yang cuma sebesar biji kacang? Jangan bercanda. Urusi dulu dirimu sendiri sebelum mengkhawatirkan orang lain."

Sebenarnya, ucapan Toushirou agak kasar. Shuuhei dan Ikkaku saling bertatapan karena terkejut tapi di sisi lain, Shinji jadi menyadari satu hal. Kata-kata itu seperti menamparnya. Dia melihat rekan-rekannya yang masih bertarung di ruangan itu, mencoba mengulur waktu sementara dirinya terbaring tak berdaya. Lalu tatapannya beralih pada ekspresi khawatir Hiyori. Ah, dia memang pemimpin yang buruk. Shinji memalingkan wajahnya dan bergumam,

"Maaf."

Mendapati masalah di sana sudah selesai, Toushirou berkata, "Bomnya akan meledak lima belas menit lagi. Kalian berdua bertanggungjawab untuk membawa mereka ke Seireitei, mengerti?"

Sekali lagi Shuuhei dan Ikkaku tergagap, sebelum pria botak itu mengangguk ragu, "Baiklah."

Toushirou bershunpo ke seberang Soifon, menghela napas karena kalimat arogan yang terpaksa dia ucapkan. Tapi perang ini sudah bukan simulasi seperti yang pernah diajarkan di Akademi. Ini adalah eksekusi yang sebenarnya. Jika dia bilang akan ada yang terluka, maka itu benar-benar akan terjadi. Bahkan sesuatu yang lebih buruk dari itu. Kematian. Menarik napas pelan, lelaki itu mengangguk pada Kyouraku setelah berbondong-bondong ninja Onmitsukido beserta para Vizard meninggalkan aula kekacauan dan rekan-rekan mereka di dalamnya.

"Begitu rupanya," gumam Jugram. "Sekarang aku mengerti, kenapa kalian para Shinigami tidak pernah mengambil jalan yang mudah." Tatapan dinginnya menusuk Kyouraku, "Itu karena harga diri kalian yang tidak berguna, sama seperti pemimpin kalian. Menolak untuk kalah, bertarung atas dasar kedamaian. Jika kata teman hanya akan menyulitkanmu untuk mencapai kemenangan, lalu untuk apa kalian mati-matian menjaganya?"

―"Pada akhirnya, mereka juga yang akan dikorbankan."

Ekspresi Kyouraku yang tadinya datar kini menggelap. Garis-garis di sekitar matanya mulai menonjol saat untuk pertama kalinya, kata-kata Jugram berhasil menyulut api yang sudah terkurung selama ratusan tahun.

"Sekali bicara, mulutmu itu berisik sekali."

Kyouraku mengarahkan kedua tangannya ke depan, membentuk simbol segitiga yang Jugram yakini sebagai kidou.

"Cobalah untuk mengatakannya lagi setibanya kita di kuburanmu."

Kening Jugram mengkerut, sadar dua orang di kanan kirinya juga sedang melakukan hal yang sama. Perlahan, cahaya keemasan muncul di tangan mereka. Membuat lambang teleportasi semakin terlihat jelas. Dengan ketiga pasukan elit Seireitei, mereka bisa menahan arus reishi Raja Silbern dan sang tangan kanannya setidaknya untuk lima menit ke depan.

Sinar rangkap tiga penembus paruh, kidou pengikat dan teleportasi dari tiga arah yang mengelilingi Jugram serta Yhwach menembakkan cahaya mereka ke sana. Seketika membuat pergerakan Jugram terkunci, dia tidak bisa merasakan lengan dan kakinya atau beberapa organ tubuh yang lain. Sinar itu seperti mematikan seluruh syaraf yang ada di tubuhnya. Begitu mantra pengunci telah melakukan tugasnya dengan baik, ketiga orang di sekelilingnya merapal,

"Bakudou #30 : Shitotsu Sansen!"

Sebuah cahaya putih seperti melempar kesadaran mereka ke alam yang lain. Kulit mereka membias, tersedot titik kecil yang berputar seperti mesin pengocok telur sebelum hilang tak berbekas. Meninggalkan arena pertarungan beserta sisa pasukan Sternritter dan bulan purnama yang menjadi saksi atas peristiwa malam itu.

"Dua menit lagi."

Suara di denreishinki milik Kensei mengisyaratkan bahwa mereka harus segera menjauh. Dia melirik Hachi yang langsung membawa perisainya ke atas bukit yang dikelilingi hutan. Dalam hitungan mundur itu, Vizard bersama para ninja Onmitsukido akan melihat―detik-detik kehancuran kastil kerajaan Silbern.

"―pat, tiga, dua, satu."

BOOOMMMM! DUUUAAARR!

Sebuah ledakan besar terjadi di hadapan mereka, seketika menghancurkan hampir sepertiga dari keseluruhan kastil Silbern. Seolah-olah ada sekelompok pembajak di dalamnya. Para Sternritter yang tersisa tampak melompat keluar dari celah-celah kastil, sebagian terbakar, sebagian lagi mati karena terjun dengan posisi kepala di bawah. Pemandangan seperti itulah yang sedang dilihat oleh Shinji. Menutup matanya sebentar, pria itu meraba-raba tombol kecil yang tersemat di telapaknya. Menunggu waktu yang tepat.

Tak lama kemudian, sebuah bola api besar terlempar ke arah mereka. Disusul beberapa yang lain seakan menunjukkan bahwa Sternritter belum menyerah. Mereka tahu para Shinigami sedang melihat masa-masa keruntuhan ras penyihir, dengan jatuhnya kubah runcing yang selama ini berdiri kokoh menuju purnama. Di saat yang bersamaan, Hachi membuat kekkai.

"Sudah berakhir," Shinji bergumam, menekan tombol kecil itu dan setelahnya, muncul ledakan lain di sayap kanan kastil.

Dia bisa melihat dengan jelas, bagaimana ketakutan itu terbentuk di wajah para Sternritter ketika api membumbung tinggi dan melahap mereka hidup-hidup. Bahkan, tak ada satu teriakan pun yang terdengar. Semuanya telah musnah. Shinji tidak menyesali keputusannya karena telah meledakkan bola hitam hasil curiannya di Albinia Mese. Bom rakitan Urahara yang gagal. Setidaknya, itu cukup berhasil untuk meluluhlantakkan Silbern.

"Sisanya kuserahkan pada kalian."

―Yuuka desu―

Rukia menoleh saat mendengar suara ledakan keras dari arah selatan. Itu adalah letak kastil Silbern. Apa pertarungan di sana sudah selesai? Apa mereka selamat? Pertanyaan itu membuat jantungnya berdegup kencang, dia hanya bisa mencengkeram kerah Ichigo ketika pria itu mempercepat lompatannya.

"Mereka akan baik-baik saja," ujar pria itu, melirik Rukia sebentar sebelum kembali ke depan.

Mungkin sekarang pikirannya sudah tembus pandang karena terlalu lama di dekat Ichigo, karena pria itu sudah tahu apa yang dia pikirkan tanpa perlu menjelaskan. Diam-diam Rukia mendesah. Angin yang dingin semakin terasa di atas sini, ketika apa yang dia lihat hanyalah deretan pohon-pohon tempat Ichigo memijakkan kakinya, melompat dari dahan satu ke dahan yang lain. Di depan mereka, ada sebuah lubang mencurigakan yang mengaga lebar.

Portal menuju Dunia Manusia. Tepatnya, replika Dunia Manusia.

"Entah kenapa aku bersyukur karena ada benda praktis ini," komentar Ichigo.

"Dasar payah."

Bukannya Rukia tidak tahu kalau pria itu sama sekali tidak bisa menggunaan kidou. Saat-saat seperti inilah yang membuat Ichigo menyesal karena selalu mendapat nilai buruk di kelas akademik. Selama itu, Urahara yang merangkap pekerjaannya.

"Kita masuk sekarang, Rukia."

Gadis itu mengangguk, tangannya melingkar erat di leher Ichigo saat pria itu melompat lebih tinggi untuk menggapai portal yang ada di atasnya, sebelum tubuh mereka tersedot ke dalam. Berada di perpindahan ruang dan waktu tidak pernah menyenangkan. Apalagi portal itu sengaja dibuat untuk keadaan terdesak. Rukia merasa kalau dia baru saja turun dari wahana roller coaster setelah putaran berhenti dan dirinya berada di sebuah lahan kering berpasir. Ada beberapa gedung pencakar langit yang samar-samar terlihat, bukit batu serta matahari. Udara kering yang langsung menyentuh kulitnya membuat gadis itu bergidik.

Ini Karakura.

Ichigo menurunkan gadis itu hingga dia bisa merasakan sendiri tekstur tanah berdebu yang tersengat sinar matahari. Dua malam berada di kesenyapan Silbern membuat matanya menyipit oleh cahaya yang tiba-tiba itu. Tapi sekali lagi, semua ini hanya replika.

"Itu...," mata Rukia menemukan beberapa tubuh berdiri di lahan kosong yang ada di bawahnya―dan dua sosok familiar di tengah-tengah.

"Yhwach ada di sana," jawab Ichigo.

Diam-diam Rukia menahan napas, menatap Ichigo yang sudah berada di ujung tebing sambil mengulurkan tangan. Kali ini Rukia tidak ragu lagi. Gadis itu meraihnya, terjun bebas untuk yang kedua kali hari itu, sebelum kaki Ichigo menapak keras ke tanah dan angin kembali mengibarkan helai-helai rambutnya. Sosok bertopi garis-garis hijau yang Rukia kenal menoleh kaget begitu mereka sampai, tapi sepertinya kali ini dia tahu kenapa.

"Aku tidak percaya akhirnya kau mau melakukannya," dia berkata, lebih menyerupai ketidakpercayaan dari pada sambutan hangat. Di tempatnya, Ichigo mengerang.

"Jangan sekarang, Urahara-san."

Ya, Rukia tahu tanda yang tercipta di bahunya mengundang banyak perhatian. Dia melirik ke samping dimana Ukitake sedang terbaring. Ada rantai yang mengikat tubuh setengah telanjangnya ke tanah. Cahaya keemasan yang mengalir di sela-sela rantai adalah reiatsu milik Ukitake, mereka menggunakannya untuk memindah jalur tapal batas Dunia Manusia. Entah seberapa besar energi yang diperlukan tapi jika itu hanya berasal dari satu orang Rukia tidak heran kenapa pria berambut putih itu selalu tampak pucat meski cuaca sedang cerah. Tentu saja, hanya prajurit elit yang bisa melakukan pengorbanan ini. Karena jika tidak, rantai segel akan menyedot habis reiatsu mereka hingga tak bersisa. Dengan kata lain―mati.

"Bersiaplah, kalian berdua," Yoruichi menepuk punggung Ichigo dan Rukia sebelum berjalan ke baris depan. "Jangan berkedip, setelah ini mungkin kau akan melihat sesuatu yang tidak bisa diulang lagi."

Dari sana, Rukia bisa melihat tubuh Genryuusai beserta wakilnya, Sasakibe, yang berdiri menunggu kebangkitan makhluk besar berjubah hitam. Raja Penguasa Wandenreich. Kyouraku, Soifon dan Toushirou yang baru saja tiba setelah melakukan teleportasi langsung mengaktifkan segel selanjutnya.

"Bakudou #62 : Hyapporankan!"

Tiga buah tongkat energi dilemparkan ke arah Yhwach, kemudian terpecah menjadi banyak tongkat-tongkat kecil yang menjepitnya terhadap permukaan padat. Rukia tak bisa menghitung seberapa banyak, tapi jika dia yang berada di sana mungkin itu benar-benar akan melumpuhkan setiap pergerakannya.

Yoruichi bershunpo, dalam sekejap mendorong tubuh Jugram menjauh hingga pria itu hampir menabrak batu. Mantra pengikat yang tadi sempat dia terima belum sepenuhnya hilang, jadi Yoruichi menggunakan kesempatan itu untuk meminimalisir semua kemungkinan. Terutama jika Jugram nekat menghalangi serangan rekan-rekannya nanti.

"Kau di sini saja, blonde, jangan ikut campur urusan orang dewasa," Yoruichi menyeringai, mengangkat satu tangannya setelah Jugram kembali terkunci di sebuah tiang setinggi dua meter.

"Ugh!"

Jugram tersentak. Beberapa tusukan jari Yoruichi di titik vital tubuhnya membuat semua aliran reishi menutup. Dia hampir mati jika saja wanita itu tidak membiarkan lehernya bebas. Penyihir tetap membutuhkan oksigen untuk bernapas, syukurlah Yoruichi tidak lupa pada ironi itu.

"Aku tahu kemampuanmu, dan apa yang sudah kau perbuat dengan kedua tangan itu. Jika aku melawanmu satu lawan satu dengan hanya menggunakan hakuda, aku penasaran apakah nanti kau bisa mati dengan cara yang semua orang inginkan," desisnya pelan. "Dibunuh dengan tangan kosong, tak ada yang lebih menyedihkan dari itu, benar?"

Untuk beberapa saat wajah Jugram mengeras, tapi dia tahu hanya ada satu hal yang bisa membunuhnya. Yaitu tangan Yhwach sendiri. Dia tak membalas ucapan Yoruichi dan menatap sosok besar yang sedang tertidur itu, bergumam pelan,

"Jika saja itu bisa terjadi."

"Bakudou #75 : Gochuutekkan!"

Kyouraku dan dua rekannya meneriakkan segel terakhir. Sedikit terengah kerena telah menggunakan banyak energi dalam waktu singkat. Tapi jika dilihat, berjaga-jaga pada sesuatu yang melebihi monster memang memerlukan banyak tenaga. Rukia yang sejak tadi hanya menonton bisa merasakannya. Betapa mengerikan jika monster itu terbangun nanti. Mungkin, itu sebabnya kidou tingkat tinggi seperti pagar ratusan langkah dan lima pilar besi penahan diluncurkan. Begitu juga dengan acungan pedang para prajurit elit Seireitei. Genryuusai menyipitkan mata.

"Bersiaplah kalian!"

Tongkat energi yang mengunci pergerakan Yhwach retak, memunculkan gelombang besar yang hampir menghempas Rukia jika Ichigo tidak menarik pinggangnya mendekat. Sesuatu yang lebih besar dari itu datang tak lama kemudian, ketika aura hitam di sekeliling Yhwach berkilat-kilat penuh amarah, menghancurkan pertahananan pertama dengan kegelapan yang mulai merasukinya.

"Aku tidak bisa menahannya lagi! Kkh―ah!"

"Soifon!" panggil Kyouraku.

Wanita itu terhempas, membuat Urahara mengeluarkan perisai dari tangannya sebelum tubuh itu menabrak batu. Situasi sulit ini telah mengubah tanah kering berpasir menjadi arena pertarungan yang baru. Retak, membentuk lembah yang besar di tengahnya. Karena baik Shinigami maupun kegelapan yang terlahir kembali itu tidak dapat mencegahnya. Ini adalah medan perang.

BLAARRR!

"Gghhh!"

Toushirou terpental, menancapkan pedang ke tanah untuk menopang tubuhnya. Sial, amukan itu begitu dahsyatnya hingga segel tingkat tinggi tak bisa menahan lebih dari lima menit. Asap pekat yang keluar dari tengah lembah perlahan tersingkirkan oleh pusaran angin, menampakkan tubuh besar berjubah hitam yang bangkit dari kematian. Rukia kenal iris cokelat kemerahan itu, tapi ada sesuatu yang membuatnya lebih gelap. Darahnya. Hanya karena setetes darahnya, makhluk mengerikan itu tercipta.

Kepalan tangan Rukia menguat. Ichigo meremas bahunya, memberi kekuatan selain tatapan mata yang setajam burung elang. Di depannya, makhluk berjubah hitam itu menyeringai.

"Senang rasanya bisa kembali."

.

To be Continued

.


Author's note :

Woowww akhirnya check list impian dapet review 100! Thank you very much! Ini nggak akan terwujud tanpa dukungan kalian. Mungkin butuh waktu yang lama *karenangaret* dan usaha ekstra jaga mood biar nggak ilang tapi Yuuka bersyukur impian ini nggak Yuuka penuhi sendirian. The Half-Blood sudah hampir satu tahun! Wkwkw serius, sampe Yuuka screenshot ini #plak. Btw, ini sudah masuk scene perang lhooo. Akhirnya, ya, Yuuka sendiri udah menunggu saat-saat Ichigo melakukan kontrak ritual darah Elementalist Rukia. Karena, well, sebenernya, semua ide tentang The Half-Blood ini tercipta dari kiss scene yang melintas waktu Yuuka lagi semedi wkwkwk. Dari satu scene itu, Yuuka kembangkan jadi berchapter-chapter lamanya, sampe mood nulis kiss scene yang harusnya lebih dahsyat dari itu hampir hilang. Semoga kalian masih bisa menikmatinya ya! Oh, dan semua kidou yang Yuuka tulis di sini tidak sama persis dengan manga atau anime nya. Bisa jadi namanya sama tapi Yuuka modifikasi agar sesuai dengan alur.

Dan untuk orang-orang yang tinggal di Dunia Manusia seperti Yoruichi dan Urahara, mereka tidak bisa menggunakan reiatsu sendiri untuk melakukan serangan. Karena seperti yang tertulis di perjanjian, mereka yang punya darah biru tidak boleh menginjakkan kaki ke Dunia Manusia. Jadi Yoruichi cuma bisa menggunakan hakuda atau seni bertarung tangan kosong. Tapi alasan kenapa Urahara masih bisa melakukan teknik kidou adalah karena dia meminjam reiatsu teman-teman yang ada di sekitarnya. Waktu di Albinia Mese, dia nggak akan bisa mengeluarkan Danku kalau Ichigo nggak ada. Dan di scene perang ini, dia punya banyak stok reiatsu dari para prajurit elit yang mengelilingi dia. Wkwkwk sebut dia parasit! Baiklah, mungkin itu catatan Yuuka, maaf karena nggak memasukkannya lebih awal di cerita dan maaf lagi karena Yuuka masih belum bisa update kilat seperti yang kalian harapkan TT mencuri waktu senggang adalah satu-satunya yang bisa Yuuka lakukan sekarang. Oke, Yuuka ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dari dukungan kalian baik yang sudah membaca, mereview, memfollow atau memfav cerita ini. Kritik dan saran sangat diterima! Terakhir tapi bukan terakhir, tell me what you're thinking please?

Balasan bagi yang tidak log in:

BLEACHvers : Wah iya, mungkin karena itu juga ending Bleach jadi kayak gini, hiks jadi inget lagi TT. Tapi dibanding Dragon Ball atau Naruto, ending Bleach itu yg paling nggak masuk akal #plak. Wkwk kemarin Yuuka juga meledak-ledak kok, ini aja udah agak adem haha wah syukurlah, Yuuka ngerasa akhir-akhir ini susah bikin paragraf. Selalu aja ada kata yang diulang-ulang, maklum newbie ini wkwk btw terima kasih banyak reviewnya, udah update nih semoga kamu suka ^^

kazukiito : Gimana gimana? Masih kurang bumbu IchiRuki nya? Wkwkw mungkin yang sekarang belum keliatan karena Yuuka masih harus membagi tiap scene untuk menjelaskan situasi yang lain juga. Makasih banyak reviewnya kazukiito-san *-*

kirara967 : Holaaa makasih reviewnya ^^ iya Yuuka kok jahat banget ya bikin Rukia babak belur terus wkwk tapi setelah darah Elementalist dibangkitkan, luka-lukanya udah hilang kok jadi siap tempur lagi *ditabok. Kurang liarkah imajinasi Yuuka? Masih banyak stok yang numpuk di kepala tapi bingung ngeluarinnya gimana wkkwk tunggu aja, kirara-san, itu semua Yuuka simpan di belakang. Makanya ikutin terus ceritanya yaa *promosi* sudah update nih *-*