CHAPTER 1

"Aku dengar mereka kembar"

"Ah,.. benarkah?"

"Bagaimana mungkin mereka kembar?"

"Taemin terlihat sangat keren, sementara orang yang kau sebut kembarannya uhmm,….."

"Hidung besar, kulit hitam, baju sangat rapi dan kacamatanya oh ….. sangat ketinggalan jaman."

" Lihat dia berjalan kemari."

" Abaikan saja"

Kim Jongin adalah nama anak laki-laki tersebut, ia baru meginjakan lagi kakinya di negara kelahirannya setelah menetap selama dua belas tahun di China. Ia terpaksa kembali ke negara kelahirannya karena Halmoni yang selama ini tinggal bersamanya di China meninggal satu bulan lalu. Sebenarnya ia sangat tidak ingin kembali ke negara ini. Ia memilih untuk tinggal di China sendiri namun sebelum meinggal halmoninya menyuruhnya kembali ke negara kelahirannya, Korea Selatan.

" Saeng-ah, ayo hyung antar ke kelasmu."

" Ne, gomawo."

Taemin, sang hyung kembaran Jongin mengantar Jongin menuju kelasnya. Taemin masuk kelas A sementara Jongin kelas B. secara kecerdasan keduanya memiliki kemampuan diatas rata-rata, amun jika dilihat secara penampilan, semua orang akan memilih Taemin dibanding Jongin. Jongin berpenampilan sangat rapid an klimis, khas anak nerd. Ia selalu mengancingkan rapi bajunya. Ia juga memakai kacamata tebal khas anak nerd, kacamata kuda.

.

.

.

.

" Perkenalkan dirimu."

" Anyeong haseyo, Kim Jongi imnida."

" Baiklah, ada yag ingin bertanya?."

" Jongin-ssi, ku dengar kau kembaran Taemin? Apakah benar? " salah seorang siswi bertanya kepadanya.

" Ne,.."

" Kenapa kami tidak pernah megetahui keberadaanmu?" Tanyanya lagi

" Aku tinggal di China bersama halmoni."

" Oh, kau diasingkan ya?" celetuk siswi lainya

" Kalian kembar tapi kenapa kulit kalian berbeda?" siswi lain menanggapi " Penampilamu juga jauh berbeda dengan Taemin?"

" Cukup anak- anak, Jongin-ssi silahkan duduk. Kau bisa duduk di belakang Baekhyun." Ujar Han seosangnim.

" Kamsahamnida." Jogin membungkukan tubuhya.

Tap

Tap

BRUK

" Uhh.."

" Ups,… mianhae Jongin-ssi." Ujar anak laki-laki yang bernama Baekhyun tadi sembari melontarkan senyum remeh kearahnya.

Jongin tidak menanggapi, hanya kembali berdiri dan mendudukan tubuhnya di kursi yang ada dihadapanya saat ini. Ia diam dan focus menatap papan tulis di depan kelas, sementara Han seongsangnim tampak menjelaskan beberapa materi.

.

.

.

.

" Saeng-ah, ayo ke kantin." Taemin nampak muncul tergesa meuju kelas Jongin.

" Ani hyung, aku bawa bekal."

" Aish, baik kita makan bekalmu berdua bagaimana?" tanya Taemin.

" Ne."

Mereka mulai menyantap makanan yang dibawa Jongin dalam diam. Beberapa anak kelas B nampak berbisik-bisik, sebagian besar mengagumi ketampanan Taemin dan membandingkan betapa jauhnya Taemin dengan kembaranya dalam hal fisik.

" Ada manfaatnya juga anak itu masuk kelas kita."

" Uhm…. Aku bisa melihat Taemin dari dekat."

" Iya, kau benar, Taemin tampan sekali."

Taemin sebearnya mendengar kasak kusuk yang ada disekitarnya, ia tampak tidak begitu peduli. Melihat Jongin makan dengan lahap dihadapannya sudah membuatnya senang, ia sangat merindukan adiknya, 12 tahun terpisah dan hanya bertemu sesekali dalam beberapa tahun membuatnya tidak begitu mengenal sosok kembarannya ini.

" Taemin-ah, kajja.."

" Ah … oeddiya?"

" Kau lupa, kita ada kegiatan klub hari ini." Ujar laki-laki itu, Kibum.

" Jongin-ah, hyung pergi dulu ne…."

" Ah,.. kau Jongin ya? Kembaran bocah jelek ini? Kenalkan, aku kibum. Panggil aku Key hyung ne." Ujar Kibum menyalami Jongin.

" Ne hyung."

" Aigoo… kau imut." Ujar kibum. Membuat beberapa siswi yang masih ada di kelas melotot horror dan meragukan ketajaman mata kucig seorang kibum.. Jongin tidak ambil pusing dengan tingkah sahabat hyungnya itu. Ia masih diam melahap makanannya tanpa memperdulikan siswi lain yang bergosip disekitarnya.

Hari pertama Jongin pindah tak ada yang menarik, ia kii telah duduk dalam mobil yang dikemudikan oleh Taemin menuju ke rumah.

" Apa ada yang ingin kau beli dahulu sebelum pulang Jong?"

" Ani."

" Baiklah."

Suasana mobil hening kembali. 12 tahun ternyata waktu yang sangat lama. Jonginnya yang cerewet dulu kini begitu pendiam dan dingin. Mobil mereka telah sampai di halaman rumah keluarga Kim.

Tuan dan Nyonya Kim telah meunggu mereka di meja makan. Setelah memarkirkan mobilnya mereka segera menuju ke kamar masing-masing untuk mengganti baju dan meuju meja makan untuk makan siang bersama.

" Bagaimana hari ini Jong?" sang Appa mencoba bertanya melihat sag putra yang baru kembali tampak tenang menguyah makanannya.

" Baik." Ujarnya pelan.

" Ada hal menarik yang terjadi di sekolah?" tanya nya lagi.

" Tidak ada."

Nyonya Kim nampak canggung ingin mengajak putranya berbicara. Ia menunggu Jongin untuk melihat ke arahnya, namun nampaknya Jongin hanya focus pada piring dihadapanya dan memakannya dengan lahap.

"Kau begitu merindukan masakan korea ne Jonginie?" Nyonya Kim akhirnya membuka pembicaraan.

" Aku merindukan masakan halmoni." Jongin menjab dengan pelan. Setelahnya tidak ada lagi pembicaraan. Nyonya kim serasa tidak bisa membuka suaranya lagi untuk mencoba mendekati sang putra yang nampak dingin.

" Aku selesai." Jongin segera meiggalkan meja makan dan menuju ke dalam kamarnya.

Tuan Kim haya menghela nafas. Nyonya Kim nampak frustasi melihat putranya bahkan tak memeluknya ketika pulang. Hanya diam dan menuju ke ke kamarnya dalam diam.

.

.

.

" Umma Jongie mau ec klim laca coklat …" ujar anak kecil itu menahan tangis. Hanya ada satu ice cream yang tersisa di sebuah minimarket itu,

" Taem juga mau Umma."

" Jongie rasa vanilla saja ne, Taem ingin yang coklat." Ujar nyonya Kim.

" Tapi umma.."

" Jangan cengeng Jongie."

" Jongie tidak jadi caja umma." Anak kecil berusia kurang dari empat tahun itu memilih diam menundukan kepalanya dan berjalan keluar minimarket duduk menunggu dibangku yang ada di depan minimarket.

" Eh"

Anak kecil itu terkejut merasakan pipinya dingin.

" Yifan hyung….. apa ini untuk Jongie?" mata anak kecil itu mengerjap berbinar melihat anak yang lebih tua dariya mambawa ice cream coklat yang ditempelkan ke pipinya.

" Ne,… untuk Jongie…"

" Gomawo hyung,…. Jongie cayang hyung."

Airmata menetes pelan dari belahan kelopak matanya yang tertutup.

" Bogoshipo…" Lirihnya.

.

.

.

Pagi menjelang, Jongin telah siap dengan segala perlengkapan sekolahnya. Ia turun menuju meja makan. Melihat sluruh anggotanya telah berkumpul untuk sarapan bersama.

" Ah, Jongie suka susu coklat kan? Umma buatkan ne." nyonya Kim langsung menyambut Jongin yang baru turun dari tangga.

" Tidak perlu, aku minum air putih saja."

" Ah, Jongie mau selai coklat? Biar Umma oleskan."

" Tidak, aku makan nasi goreng saja." Jongin berucap sambil menuju ke dapur.

" Bibi Lee, tolong buatkan aku bekal ne."

" Baik tuan muda.."

" Jangan panggil tuan muda bibi, panggil Jongie saja." Ujarnya sembari memeriksa buku yang ada dalam tasnya.

Nyonya Kim memandang sedih putranya yang nampak lebih hangat bersama maid di rumah mereka dibandingkan dengan dirinya sendiri.

" Terima kasih." Ujar Jongin setelah memasukkan bekal yang dibuatkan oleh Bibi Lee.

Ia melangkahkan pelan kakinya menuju pintu depan untuk menuju ke sekolah.

" Kau tidak sarapan dulu Jongie?" Tuan Kim bertanya.

" Aku sarapan di kelas saja."

" Taemin belum selesai, tunggulah sebentar Jong. Kasian dia terburu-buru nanti."

" Aku berangkat naik bus saja. Aku berangkat."

Nyonya Kim tampak menyadari kesalahannya. Jongin berjalan cepat menuju halte bis. Hatinya terasa diiris. Meski ia sudah biasa seperti ini tapi setidaknya selama 12 tahun ia sudah mulai lupa perasaan ini. Kini ia harus mulai membiasakan diri lagi.

" Kau kuat Kim Jongin." Ujarnya dalam hati.

Jongin menunggu bis dalam diam hingga ia dikejutkan suara mobil yang memekakkan telinga.

Tin Tin

" Oh Hi.. Kim Jongin-ssi. Oh… Bukankah kau kembaran Taemin?"

"…."

" Hmmm apa yang kau lakukan disini? Oh… Jangan-jangan Taemin malu memiliki kembaran sepertimu."

"…"

" Baiklah nikmati harimu Jongin-ssi."

Baekhyun sang pelaku penghinaan meninggalkan Jongin yang membeku ditempatnya. Ah… ia sadar sekarang, Taemin pasti juga malu memiliki kembaran seperti dirinya yang tampak sangat buruk.

Jongin masuk kedalam bus yag akan membawaya menuju sekolah. Ia duduk di kursi paling belakang. Nyatanya memang ia tidak diharapkan siapapun di dunia ini. Satu-satunya orag yang meyanyanginya telah dipanggil ke sisi Tuhan sementara Yifan hyungnya entah berada dimana saat ini. Semejak kepindahannya ke China ia tak pernah tahu lagi keberadaan namja penolongnya dulu.

Jongin berjalan dalam diam, pikiranya melayang ke masa-masa dirinya di China dulu, meski tidak memiliki teman yang sangat dekat tapi setidaknya disana ia diperlakukan adil.

Brukkk

Jongin tidak sengaja menabrak siswa lain. Sialnya siswa tersebut membawa cola yang telah dibuka hingga membasasi baju seragamnya.

" Shit, Ya! Dimana matamu hah?" siswa tersebut membentak Jongin. Jika dilihat siswa tersebut baik-baik saja, justru kondisi Jongin yang memprihatinkan dengan baju yang sudah nampak kecoklatan oleh tumpahan air soda.

"…" Jongin diam tak menjawab. Ia malasa berurusan dengan orang sok seperti ini.

" Ya, kau tuli! Tidak tahu siapa yang kau tabrak eoh? Aku Park Chanyeol, kau berurusan denganku tikus kecil." setelah menucapkannya Chanyeol segera meninggalkan Jongin yang masih terduduk di tanah.

" Hei,.. bajumu nampak buruk."

" …."

" Ah,… namaku Sehun, Oh Sehun."

TBC

Anyoeng,….. wah saya tidak menyangka bahwa respon teman-teman begitu banyak terhadap FF abal saya.

Klarifikasi beberapa hal.

" The Ugly Twin" adalah salah satu FF favorit saya, saya memang mendapat inspirasi dari FF tersebut, tapi dijamin ini bukan jiplakan. Karakter dan alur dijamin akan berbeda, tapi saya tidak memungkiri kemugkinan aka nada scence yang sama.

Saya harap readers tidak menganggap saya memplagiat karena muri ini hasil olahan dan memang terinspirasi dari beberapa karya author yang sudah sangat professional seperti "Monggu Kai" " Rappicaso" " Bocah Lanang" "Fallenigma" " HyunK.V" dll yang masih sangat banyak lagi.

Selamat Membaca.

Kamsahamnida

Bow