Chapter 2
" Hei,.. bajumu nampak buruk."
" …."
" Ah,… namaku Sehun, Oh Sehun."
" Ayolah setidaknya terima jabatan tanganku sedari tadi." Jongin hanya memandang aneh orang yang berjongkok dihadapanya ini. Akhirnya ia memilih meraih tangan orang tersebut.
" Nah, siapa namamu? Aku tak pernah melihatmu disini?" tanya Sehun.
" Jongin." Jongin hanya menjawab singkat.
" Baiklah salam kenal, kurasa kau membutuhkan bajuku, Ja.. ikut aku, aku menyimpan seragam lain di lokerku."
Jongin berjalan mengikuti orag yang baru saja dikealnya ii menuju loker dan segera mengganti bajunya dengan baju yang disodorkan Sehun kepadanya setelah sampai di ruang loker siswa.
" Eh, namamu Jongin kan? Apa kau kembaran Taemin itu?" Sehun mulai mengoceh lagi
" Ne"
" Oh?... Ah…" Sehun tak bisa menutup keterkejutannya, kemarin ia memang mendengar kembaran Taemin masuk ke sekolah ini, tapi ia tak menyangka bahwa gossip mengenai penampilan kembaran Taemin yang sangat amat sungguh buruk sekali adalah benar.
" Kami memang berbeda, ia tampan aku tidak, ia aktif aku tidak. Terima kasih atas pinjaman bajunya." Jongin segera meninggalkan ruang loker setelah mengucapkan terima kasih. Ia berjalan dalam diam menuju kelasnya.
Sehun membeku mendengar nada bicara Jongin. Ia sadar ia sudah salah member respon tadi. ' Ah masa bodoh' pikirnya.
.
.
.
.
.
Dua hari setelahnya Jongin nampak berjalan tergesa menuju lapangan basket, ditangannya terdapat sebuah paper bag. Ia berniat megembalikan baju Sehun yang telah dipinjamkan kepadanya tempo hari. Setelah mencari ke kelas Sehun teman sekelasnya mengatakan bahwa Sehun berada di lapangan basket sekolah, karena well Sehun adalah salah satu atlet basket kebanggaan sekolah tersebut.
Duk.. Duk. Duk
Bunyi boal basket beradu dengan lantai lapangan basket, Sehun sang pelaku dribbling bola tidak sadar jika jongin memperhatikannya dari tadi.
" Teknik dribbling yang buruk." Jongin tidak sengaja mengomentari Sehun.
" Apa kau bilang Jongin-ssi?"
" Eh tidak. Aku kesini untuk mengembalikan baju yag kau pinjamkan."
" Aku mendengar komentarmu Jongin-ssi"
" Eh, Mian…"
" Tak apa, skill dribblingku memang tidak bagus, tapi shooting bisa kau percayakan padaku."
Mereka asyik megobrol hingga tanpa sadar
DUG
" Arghhhh"
Suara itu berasal dari bibir Jongin ketika sebuah bola basket tepat mengenai kepalanya. Rasanya sunnguh sakit.
" Oppss,… Mian anak culun." Chanyeol sang pelaku pelemparan hanya menyeringai. Ia berjalan menuju ke depan Jongin, berdiri di samping tubuh Sehun yang nampak khawatir melihat Jongin menunduk memegangi kepalanya dan kacamatanya yang jatuh nampak retak.
" Gwenchana Jongin-ssi."
" Uh…."
Jongin hanya mengeluh sambil terus memegangi kepalanya, kepalanya sedikit mendongak melihat dua orang dihadapannya.
' Manis' batin keduanya melihat mata Jongin yang nampak mengerjap menahan sakit.
" Ya! Apa masalahmu Chanyeol-ssi?" suara Taemin membuyarkan lamunan kedua orang yang berdiri dihadapan Jongin.
" Ck"
" Kau tak apa Jongin-ah?"
" Gwenchana Hyung."
" Kau, awas saja kau berani mengganggu adikku lagi Chanyeol-ssi." Taemin memasang death glare ke arah Chanyeol. Kemudian menarik Jongin pergi dari lapangan tersebut menuju UKS.
Chanyeol masih memasang wajah bodohnya meski Taemin telah meninggalkan mereka.
" Oh Sehun, jangan bilang anak culun tadi kembaran Taemin?" Chayeol berucap dengan nada horror.
" Ck,… namanya Jongin bodoh."
' Matilah aku' Ratap Chanyeol dalam hati.
.
.
.
.
" Jongin-ah, Gwenchana?" Taemin berucap khawatir melihat memar di dahi Jongin.
" Gwechana Hyung, biarkan saja aku istirahat. Hyung kembalilah ke kelas."
" Baiklah, aku akan mejemputmu nanti."
" Ne."
Ruangan kembali sepi setelah Taemin meninggalkan ruang UKS. Jongin merebahkan tubuhnya di atas kasur yang tersedia.
Tes
Setetes air mata membasahi pipi tembamnya.
Flasback On
" Jonginie,… ayo main petak umpet."
" Chireo… Jonginie capek hyung."
" Ayolah,…."
" Jonginie yang jaga ne,… Hyung akan cembunyi."
" Tapi-
"Jha, !"
" Hana, dul, set,….."
Jongin kecil mulai menghitung hingga dua puluh. Setelahnya ia segera mencari hyungnya. Dengan mudah ia dapat menemukan Taemin yag bersembunyi dibelakang sebuah guci besar di ruang tamu.
" Hyung kena…."
" Ya! Jonginie tidak ceru"
BRAKKK
Taemin kecil tidak sengaja meyenggol guci besar tersebut mengakibatkan guci itu jatuh da pecah, karena terkejut Taemin menangis kencang.
" Hue…. Umma,…."
Tap… Tap… Tap…
" Astagam Taemin apa yag terjadi? Jongin, sudah umma bilang jangan nakal, kau ini sellau saja. Bagaimana jika hyungmu terluka? Astaga, kau harus dihukum. Masuk kamar sekarang jangan keluar sampai waktu makan malam!"
" Tapi Jongin tidak nakal umma."
" Apanya yang tidak nakal, kau lihat hyungmu menangis dan guci umma pecah. Masuk ke kamarmu sekarang."
Jongin kecil berjalan menuju kamarnya, kamar berdua sebenarya, tapi Taemin lebih sering tidur bersama sang umma sehingga Jongin kecil lebih sering sendiri.
" Kaki Jongin juga cakit umma…."
Hiks…. Hiks
Kaki kecil jongin nampak mengucurkan darah karena terkena pecahan guci yang terlempar keras menggores telapak kaki dan jarinya.
"Jongin cakit umma" Jongin kecil terus merintih hingga jatuh tertidur.
Flashback Off
.
.
.
Dua minggu telah berlalu, tidak ada perkembangan yang berarti dalam kehidupan Jongin. Ia lebih sering diam dan menyendiri atau pergi ke taman. Hari ini cuaca cukup panas, Jongin turun ke bawah menuju dapur. Ia hendak mengambil air minum. Tanpa sengaja ia melihat sebuah ice cream coklat. Tampak lezat. Ia ingin sekali membukanya.
" Eoh, Kau mau ice cream coklat Jongin? Ah tapi itu milik-" ucapan nyonya Kim terputus.
"Tidak." Jongin berjalan meniggalkan dapur menuju kamarnya. Tak sopan memang tapi ia tidak ingin medengar lanjutan kalimat dari ummanya yang sudah pasti bisa ia tebak.
Jongin bergulig ke kanan dan ke kiri. Ice cream tadi benar-benar menggoda imannya. Segera ia mengambil hodie dan mengenakannya tergesa keluar rumah tapa berpamitan pada siapapun.
Jongin berjalan semakin cepat menuju minimarket dekat dengan taman di kompleks perumahannya. Nyonya Kim yang melihat Jongin berjalan dengan cepat segera menuju ke luar rumah mengikuti Jongin, khawatir karena sang anak bahkan sudah 12 tahun tidak menginjakan kaki di negara kelahirannya itu.
Nyonya Kim nampak mengernyit melihat Jongin masuk ke sebuah mini market. Ia memutuskan untuk melihat Jongin dari kejauhan. Matanya mulai memanas tangannya mencegkram dadanya kuat.
Diseberang sana Jongin tampak dengan senyum lebar membawa beberapa Ice cream coklat ditangannya kemudian duduk di teras minimarket dan memakan dengan lahap ice creamya di bangku yang disediakan.
Nyonya Kim merasakan sakit, separah itukah dirinya selama ini? Bahkan anaknya sendiri memilih untuk berbohong hanya karena sebuah ice cream. Untuk membelikan ratusan ice cream pun bahkan ia sanggup.
Nyonya kim masih nampak memperhatikan Jongin yang tampak bahagia memakan ice creamnya, hingga dua orang anak kecil meghampirinya. Jongin dengan semangat membagi ice creamnya kepada mereka. Sugguh pemandangan yang sangat menyayat hati nyonya kim. Jongin diapit dua orang anak kecil dan mereka memakan ice cream bersama. Nyonya kim bahkan tidak ingat kapan Jongin kecil makan ice creamnya dengan semangat bersama Taemin dulu. Ia sadar ia ibu yang sangat buruk, jarang sekali ia memperhatikan Jongin kecil dulu. Tak kuat menahan airmatanya, nyonya kim beranjak dari sana dan kembali ke rumah.
Satu jam setelahnya Jongin pulang.
" Dari mana saja Jong?" Nyonya Kim berusaha tersenyum bertanya pada sang putra yang baru kembali.
" Eoh,.. dari taman."
'Kau berbohong pada umma Jong' batin nyonya Kim merasa pedih.
Tak sepenuhnya bohong memang Jongin menuju taman setelah berhasil meghabiskan ice cream dengan kedua anak kecil tadi.
" Apa yang kau lakukan di taman?"
" Bermain dengan anak-anak. Permisi, kalau boleh aku ingin mandi."
Nyonya Kim semakin merasa pedih mendengar kalimat Jongin seolah ia adalah orang lain dirumah ini, ia pun mengingat selama dua minggu Jongin berada di rumah tak sekalipun Jongin memanggilnya umma. Jongin terkesan sangat menjauhkan diri dengan nyonya kim.
.
.
.
.
Jongin duduk menghadap meja makan, menu makan malam kini adalah ayam goreng. Jongin menelan ludahnya. Ia sangat ingin menikmati hidangan tersebut, ia sudah sangat semangat hendak mengisi penuh piringnya sebelum sebuah kilasan memory kembali menyadarkannya
" Kau sudah terlalu banyak makan Jongin."
" Berikan ayamya untuk Taemin. Kau bahkan sudah memakan dua tadi."
" Tapi Jongie cuka ayam umma."
" Kau harus makan yang lain, sisakan ayamnya untuk hyungmu."
" Aracho umma"
Jongin kecil memakan nasi dipiringnya sembari menahan air mata yang ingin menetes. 'Jongin bukan anak cengeng' ulangnya terus menerus dalam hati.
Tuan Kim memimpin makan malam dengan khidmat. Jongin mengisi piringnya dengan nasi dan beberapa sayuran. Pandanganya tak lepas dari ayam goreng di meja tersebut namun tidak satu centi pun tangannya bergerak untuk mengambil.
" Kau suka ayam kan Jongin? Kenapa tidak mengambil lauknya?" Tuan kim bertanya pada sang putra yang nampak khidmat memakan makanan di piringnya.
" Eh…..Tidak, aku sudah tidak suka." Jongin terkejut dan berucap tidak yakin.
Seperti biasa ia segera menuju kamarnya begitu selesai makan malam. Dalam kamarnya Jongin masih membayangka bagaimana nikmatnya si ayam goreng. Waktu sudah menunjukan pukul 22.30 tapi Jongin tetap tidak bisa tidur. Bayangan ayam goreng terus menari dibeakya. Ia segera megambil jaket dan dompetnya bergebas keluar rumah. Nyonya Kim yang saat itu sedang mengambil air minum terkejut melihat Jongin terburu-buru menuju ke pintu depan. Ia segera membangunkan sang suami mengajak untuk mengikuti putra mereka.
Hal yang sama kembali terulang, taxi yang ditumpangi Jongin berhenti disebuah restoran cepat saji 24 jam khas ayam. Tuan Kim yang melihat sang istri membekap mulutnya menahan tangis hanya mempu mengelus punggungnya perlahan untuk menenangkanya.
Dapat mereka lihat dari jedela tembus pandang restoran, Jongin memesan ayam goreng dengan beberapa varian dan memakannya dengan lahap.
Pukul 24.00.
Jongin baru sampai dirumahnya.
" Darimana saja kau Jongin?" Tuan Kim yang duduk di sofa depan televise mengagetkan Jongin yang berjalan perlahan.
" Eh,.. da—dari mecari udara segar."
" Baiklah, istirahatlah. Lain kali bilang saja pada supir untuk mengantarkanmu."
" Ne."
"Hah" Tuan kim meghela nafasnya. Ia memijit pelan kepalanya, 'kenapa jadi serumit ini.'
.
.
.
.
Sekolah masih tetap sama seperti biasanya bagi Jongin, topic dirinya yang menjadi kembaran Taemin seolah adalah trend bagi semua siswa. Chanyeol sudah jarang membully dirinya meski terkadang ia dengan sengaja menabraknya ketika membawa buku, menjegal kakinya, dan meguncikannya dalam kamar mandi. Jogin tidak mau ambil pusing dengan semua tingkah laku Chanyeol.
" Lihat, bahkan dia tak bisa menjaga dirinya sendiri."
"Iya, Taemin selalu melinduginya."
" Kau benar. Taemin memang keren."
Jongin berusaha menulikan pendegarannya mendengar beberapa siswi bergosip tentang dirinya.
Bruk
Tubuhnya terhempas dan buku yang dibawanya berserakan ketika kakinya tak sengaja menabrak sesuatu, oh bukan sesuatu sebenarnya. Itu adalah kaki sang penguasa sekolah alias Chanyeol yang menjegalnya denga sengaja.
" Opps… perhatikan jalanmu bocah culun." Chanyeol melenggang pergi tanpa membantu Jongin sama sekali.
"Argh…." Jongin berteriak ketika tangannya diinjak kencang oleh seseorang. Bukan Chanyeol pelakunya karena ia telah menghilang di ujung koridor, orang itu Baekhyun.
" Heh, dengarkan baik-bauk bocah culun. Sekali lagi kau menggaggu Chanyeol maka kau akan merasakan yang lebih dari itu."
"….."
"Camkan itu" Baekhyun berjalan meninggalkan Jongin yang masih mmbereskan buku yang harus dibawanya ke ruag guru sembari meniup-niup tangannya.
Bel pulang telah berbunyi
Jongin berjalan menuju ke gerbang sekolah. Ia ingin pulang naik bus sekarang. Tangannya masih terasa sakit, sehingga Ia sibuk meniup-niup tangannya.
" Beruang manis." Jongin meghentikan langkahnya mendengar suara tersebut. Ia mengedarkan pandangannya mencari sosok orang yang mengeluarkan suara yang sangat diingatnya tersebut.
' ah, salah dengar batinnya.'
" Ya beruang madu, beruangku yang manis, tidak ingin memelukku eoh?"
" Aku pasti sudah gila karena berhalusinasi." Jongin seolah melihat seorang pria baru saja keluar dari sebuah mobil mewah dan menyandarkan tubunhya di badan mobil.
" Kau tidak berhalusinasi sayang. Aku memang dihadapanmu beruang madu."
"Kau-
TBC
Whoa,…. Kamsahamnida Chingudeul, saya tidak menyangka akan sebanyak ini supportnya, baiklah disini akan saya jawab pertanyaan yang chingu ajukan.
Pair ?
Bulum saya tentukan hehehehe
Lihat nanti saja ne
kekekekke
Kamsahamida bagi teman-teman yang sudah mereview FF abal saya.
Kamong Jjong, nayuda, asfasuka, ling ling pandabear, Guest, asmayae, Han Yoori, Jongin48, melizwufan, Kaienieris, novisaputri09, zeekai, aliyya, ,k1mut, rencha, silverqueen88, , , BabyWolf JonginieKim, brbielukai, thiefhaie fha, chankai Love, sfsclouds, keepbeef chiken chubu, hunkai love, jonginkai, cute, Ren Choi, sayakanoicinoe, monica maulyana, eviaquariusgirl, chotaein816, ayumKim, yesaya mei, Jongkwang, Kim Dihyun, rinirhm30, cute, dll
