Chapter 4
" Kondisinya baik-baik saja, nampaknya tuan kim megalami banyak masalah. Ia sedikit terlihat depresi." Dokter keluarga kim mejelaskan kondisi Jongin.
" Berikan obat yang sudah saya resepkan setelah ia bangun. Saya permisi." Sag dokter meninggalkan kamr Jongin diantar oleh Taemin menuju pintu depan. Bersamaan dengan datangnya mobil Luhan yang terparkir rapi di halaman depan rumah keluarga kim.
" Taemin-ah, dimana Beruangku?" Tanyanya sok asik.
" Di kamar ge," taemin hanya menjawab lesu.
" Baiklah." Ujar luhan semangat nampaknya belum memahami kondisi.
" Jongie sayang, gege dat—eh, jongie kenapa aunty?" Luhan yang baru tiba di kamar jogin terkejut melihat beruangnya tidur gelisah diatas ranjangnya.
" Ia terkena demam, efek hujan-hujanan." Ujar tuan Kim menjawab pertanyaan Luhan karena melihat sang istri yang tak kuasa membuka suara.
" Ck, anak ini. Sudah tahu imunnya jelek, masih saja."
Srett
Luhan mengejutkan tuan dan nyonya kim karena membuka bajunya disana.
" Apa yang kau lakukan Luhan?" Nyonya kim berteriak horror melihat luhan meaiki ranjang Jongin.
" Memperkosanya aunty."
PLAK
"Ouh,.. ya … uncle ini sakit."
" Siapa suruh berkata sembarangan."
" Aku hanya mau menghangatkan tubuhnya. Setiap demam, aku atau halmonie akan memeluknya. Tapi lebih sering aku sih, kami membagi panas tubuh kami."
"…"
" Lu ge,.. dingin." Rintihan Jongin terdengar lagi.
" Stt…. Tidurlah, gege akan memelukmu."
Luhan memeluk tubuh panas Jongin. Sementara Jongin meringkukkan tubuhnya menempel erat di tubuh Luhan.
"Gege, aku mau halmonie…"
" Stt,… tidurlah, gege akan menjagamu. Halmonie akan sedih jika tahu kau sakit."
"Kepalaku sakit ge." Jongin bear-benar terlihat seperti anak sekolah dasar yang sakit karena tidak berhenti merintih.
Jongin tidak tahan sakit. Fakta baru yang nyonya kim baru ketahui, jongin memiliki imun yang lemah fakta yag selama ini juga tidak diketahuinya.
"Gege akan memijatnya."
"Jongie mau ice cream…"
" Nanti kalau sembuh akan gege belikan."
"Mau krong juga.."
" Iya…"
" Ayam goreng."
" Ne.."
" Boneka beruang.."
" Pasti.."
" Harus janji…"
" Janji."
" Dingin.."
" Akan gege hangatkan."
" Mau bubble tea."
" Nanti kalau sembuh."
" Kangen Lu umma."
" Liburan kita kesana."
" Mau monggu.."
" Nanti gege minta umma membawa kesini."
" Tidak boleh."
" Kenapa?"
" Tidak boleh ada binatang, taemin nanti sakit…"
" Baik, nanti monggu tinggal dengan gege.."
" Jongie juga."
" Jongie disini saja…"
" Gege jahat.."
" Gege memang jahat."
Setelah itu nafas teratur mulai terdengar dari belahan bibir Jongin menandakan ia telah tertidur lelap. Yonya kim sedari tadi mendengarkan percakapan absurd mereka. Ia tak meninggalkan putranya yag sedang sakit dengan rusa mesum yag bahkan kini tidak memakai bajunya. Tuan kim telah meninggalkan kamar jongin tanpa suara.
Melihat jongin yang sudah tertidur luhan segera turun dari ranjang dan kembali memakai bajunya.
" eh, aunty masih disini?"
" Ne, luhan-ah… siapa itu krong? Monggu? Lu umma?"
" Krong itu kartun favorit Jongie aunty, masak aunty lupa… dulukan Jongie sejak kecil tidak pernah lepas dari boneka krongnya."
"….." Bahkan nyonya kim tidak ingat kapan ia membelikan boneka bernama krong pada jongin kecil. satu goresan tercipta.
" Monggu anjing kami aunty, kami menemukannya saat berjalan-jalan di taman saat di China, sekarang ia tinggal dengan keluargaku."
" Lu umma, tentu saja ummaku aunty, memang siapa lagi?'"
" Oh, baiklah. Aunty akan kebawah, kalau jongie bangun tolong beritahu kami."
" Tentu aunty."
Nyonya kim meninggalkan kamar Jongin, luhan menduduka tubuhnya di meja belajar Jongin, ia membuka tas da mengeluarkan laptopnya untuk mulai mengerjakan tugasnya yang lumayan menumpuk karena ia mahasiswa pindahan.
.
.
.
.
.
" Mianhae."
" Hmmm…" Tuan kim hanya berdehem untuk menanggapi istrinya yang masuk kedalam kamar mereka.
" Aku ibu yang buruk."
" Aku tahu." Tuan kim nampak masih memasang wajah dinginya terhadap sang istri.
" Ia bahkan tidak pernah memaggilku umma."
" Kau mengacuhkannya semenjak kecil. ia takut padamu."
" Dokter bilang tubuhnya kuat, ia mengambil nutrisi lebih selama dalam kandungan, ia memblokade nutrisi Taemin."
" Apa kau pikir Janin dalam kandungan tahu apa yang ia lakukan?" tua kim enggan membahas hal ini lagi. Ia sangat tahu istrinya adalah tipikal orang yang tidak mau disalahkan. Ia hanya membalas dengan pertanyaan setiap istrinya mengeluarkan argument tapi menggunakan nada datar.
" Tubuhnya terlahir lebih besar dan lebih kuat dari imun taemin sagat buruk saat kecil. ia terlahir lebih dulu tapi berat badannya hanya setengah dari berat badan Jongin."
" Dia tetap anak kita."
" Aku ibu yang buruk, sangat."
"Sudahlah, sebaiknya kau istirahat."
" Dia membenciku sekarang."
" Jongin tidak membencimu, ia hanya belum terbiasa mendapat perhatianmu."
" Ia bahkan tidak berani memandag mataku,.. apakah ada ibu yang lebih buruk dariku?"
" Sttt … sudahlah, kita perbaiki secara perlahan. Tenanglah"
.
.
.
.
Jongin bangun malam hari, tubuhnya sakit semua, luhan tertidur disampignya, jam sudah menunjukan pukul 23.00. Jongin memilih tertidur lagi karena sudah sangat malam.
.
.
.
" Ayo berangkat chagi…"
" Ishh…. Hentikan panggilan menjijikanmu itu ge…."
" Hahahha…. Taemin, kau mau ikut bersama kami atau sendiri?"
" Eh aku sendiri saja ge,.."
" Bersama mereka saja chagi, toh tujuan kalian sama." Nyonya kim nampak menimpali.
" Baiklah umma."
Mereka berjalan menuju ke mobil Luhan. Jongin segera mengambil sheet belakang diikuti Taemin masuk melalui pintu yag lain.
" Aish aku bukan supir kalian. Jongin pindah kedepan."
" Eh? Biasanya kan Taemin?"
Hening
Nyonya kim yang berdiri disamping mobil pun senyumnya memudar.
" Jongin boleh pindah depan?" Jongin bertanya polos.
" Tentu saja,… itu memang tempat duduk Jongie kan."
" Yey… Jongie pindah."
Sederhana sebenarnya, tapi satu lagi goresan luka menyayat hati nyonya kim. Taemin tidak berani berkomentar, bagaimanapun dia adalah salah satu subjek yang secara tidak sadar menyakiti saudaranya, adiknya, kembarannya.
Jongin pindah ke jok depan dengan riang. Meski sudah berusia 17 tahun jongin tetaplah anak kesayangan keluarga Lu. Sifatnya yag sangat jauh berbeda dari Luhan membuat nyonya Lu bahkan tidak akan pergi tanpa mengajak Jongin.
.
.
.
" Ehmmm sehun-ssi,…."
" Ne,.?"
" Apakah aku boleh menjenguk janggu?"
" Janggu?"
" Ne."
" Siapa itu janggu?"
" Puppy kemarin."
" Ah, namanya janggu? Baiklah kau bisa ke appartementku setelah pulang sekolah."
" Eh,.. tapi aku tidak bisa pergi kemana- mana sehun-ssi. Emm bisakah membawakannya ke halte kemarin?" Jongi bertanya dengan sangat polos. Seandaiya tidak ada kacamata, rambut klimis, baju rapi tentu jongin akan nampak sangat manis tapi dengan penampilan ini yang terlihat adalah siswa culun yang berusaha mendekati pangeran sekolah.
" Tentu."
" Gomawo."
" Cheonma"
.
.
.
" Oh sehun, menjijikan sekali seleramu!" suara itu Jongin sangat mengenalnya. Suara salah satu pangeran sekolah dengan kelakuan minus yang sangat mengiritasi siapapun yang memandangnya.
" Apa maksudmu park?"
" Bocah culun begitu. Jangan bilang kau mendekatinya karena ingin membuat Taemin memujimu heh?"
" Heh,… Kita memang bersaing untuk mendapatkan Taemin, tapi aku tak perlu melakukan hal bodoh untuk itu."
" Lalu maksudmu mendekatinya adalah?"
" Aku memang baik park, tidak sepertimu."
" Untuk apa berbaik hati pada bocah culun macam itu? Buang-buang senyuman."
" Ck… urusi saja bocah yang mengejar-ngejarmu itu park."
" Siapa?"
" Siapa lagi."
" Byun baekhyun?"
" Itu kau tahu."
" Bocah macam dia bukan seleraku, selain cerewet dan berteriak-teriak tidak jelas apa yang bisa dilakukan bocah itu. Jauh lebih baik Taemin."
" Kita masih saingan bodoh."
Tanpa mereka berdua sadari Jongin mendengar semua percakapan mereka. Intinya tetap sama, Taemin adalah pihak yang selalu menang dalam hal apapun. Ia hanya akan menjadi bayangan, entah itu dalam keluarga, teman, dan dimanapun.
Kim Jongin hanyalah bayangan semu yang seharusnya tidak ada. Eksistensinya tidak dibutuhkan, hanya sebuah noda yang harus segera dihapus.
Tanpa sadar ia meremas erat jemarinya.
Sama sekali dirinya tak pernah membenci Taemin, ia iri tapi untuk membenci rasanya ia tak sanggup. Bagaimanapun Taemin adalah bagian dari dirinya.
Flashback On
" Jongin cepat bangun, Taemin demam, kita harus ke rumah sakit." Suara nyonya kim membangunkan Jongin kecil yang tertidur dibalik selimutnya. Saat ini sudah malam, jongin kecil hanya memakai piamanya saja dan segera mengikuti ummanya menuju mobil.
Jongin kecil sangat mengantuk. Ia tertidur di kursi tunggu rumah sakit. Entah sadar atau tidak nyonya kim tidak mengajak Jongin pulang setelah memeriksakan taemin. Jongin kecil tetap terlelap di kursi tunggu rumah sakit hingga pagi menjelang.
"Umma.." Jongin kecil terbagun dari tidurnya, matanya tak focus, ia terus memanggil umma berkali-kali.
" Hiks… Umma."
" Umma.."
Seorang perawat menghampirinya.
" Ada apa adik kecil?"
" Umma… Umma hiks,… jongie mau pulang."
" Umma memagnya kemana adik kecil?"
" Jongie tidak tahu, jongie mau pulang hiks,… umma."
" Hiks… hikss… aunty… hiks… wu aunty…. Hiks.." Jongin kecil berlari mengejar seorag wanita yang menggandeng seorang bocah kecil dari pintu masuk.
" Omo… Jongie, kenapa sayang…"
" Hiks,.. Jongie mau pulang, hikss hikss."
" Ne?.. nanti umma jongie mencari jongie?"
" Umma tidak ada, hiks.. hiks.."
" Iya … nanti pulang dengan aunty, sekarang kita menjenguk paman Yifan ge ne?"
" Hiks… hiks..ne"
Jongin kecil pulang diantar oleh nyonya Wu karena kebetulan rumah mereka berdekatan.
Tok … Tok.. Tok..
" Tunggu sebentar."
" Omo,.. Jongie bagaimana bisa ikut dengan anda nyonya wu?"
" Harusnya saya yang bertanya bagaimana mugkin anda meninggalkan Jongin di rumah sakit sendirian nyonya Kim?"
Nyonya wu sungguh tidak bisa mengerti bagaimana bisa dengan mudahnya seorang ibu meniggalkan anaknya di rumah sakit umum pada malam hari.
Flashback Off
.
.
.
" Ge, jemput aku sekarang…"
" Ada apa Jongie."
" Ini Kai.. ge."
Tbc
Gomawo untuk semua reviewer dan reader...
kekekekeke
mian saya mau pamit untuk 2 minggu kedepan saya akan off sementara
chap ini kenang-keangan sebelum off kekekeke
saya akan segera kembali begitu saya sudah mnyelesaikan kegitan saya
Fighting
Kamsahamnida
Bow
