Chapter 5

"Kemari,…. " Jongin berjalan malas ke arah mobil Luhan

" Kenapa?"

" Tidak,… aku mau bicara dengan Jongin."

" Jongin dan Kai sama ge,.."

" Tidak. Aku mau Jonginku yang imut."

" Arra,. Ada apa gegeku yang cantik?" Jongin berucap sambil memutar matanya malas.

" Nah, begitu lebih baik."

"Kau membawanya kan ge?"

" Hmmm,… asal tidak hari ini. Biar aku mencari dulu lokasinya…."

"Ayolah ge,…"

"Tunggu kabar dariku atau tidak selamanya?"

" Aish tapi,…"

" Tidak ada tapi,… kalau sampai uncle tahu aku bisa digantung."

" Berlebihan"

" Hei….. aku serius,…"

" Aku juga serius ge."

" Kenapa? Bukankah sebelum kesini kau bilang Kai tidak aka nada lagi hmm?"

" Aku hanya bosan ge,…."

" Bosan? Bukan Jongin sekali."

" Aku serius, mejadi culun itu tidak enak."

Luhan mengernyitkan alis mendengar perkataan Jongin.

" Ada apa hmm? Jangan mencoba berbohong dari gege."

" Aku bosan ge,… aku dan Taemin berbeda."

"…."

" Aku ingin membuktikan bahwa Jongin lebih dari Taemin. Jongin bukan anak yang lemah."

" …"

" Gege mau membatuku kan?"

" Hmm…. Tapi tidak dengan menjadi Kai."

" Ayolah Ge, aku berjanji setelah ini semua berakhir hanya akan ada Jongin."

" Baiklah." 'aku akan selalu mendukungmu apapun yang terjadi' tambah Luhan dalam hati.

Mereka memasuki mobil Jongin dan menuju kediaman keluarga Kim. Ini yang sangat Luhan sukai dari Jongin. Ia akan berceloteh sepanjang jalan untuk menarik perhatiannya. Ia suka Jonginnya yang seperti ini. Sangat.

.

.

.

.

Saat sampai di kediaman keluarga Kim, Luhan sedikit mengernyitkan dahi karena Nyonya Kim nampak sibuk menata meja makan yang dipeuhi berbagai makanan lezat penggugah selera.

" Seingatku, tidak ada yang ulang tahun aunty." Luhan mengernyit.

" Ah ini perayaan kedatanganku ya?" Luhan berceloteh lagi.

"Untuk apa merayakan kedatanganmu rusa nakal." Nyonya Kim menjawab sambil tersenyum.

" Lalu.?"

" Ada kejutan untuk Jongin,…."

" Oh…" Luhan hanya membulatkan kedua bibirnya membentuk huruf o.

" Eh aku?" Jongin yag sajak tadi diam berdiri disamping Luhan jadi baru membuka suaranya.

" Don't you miss me little pup?"

Suara ini, sangat asig ditelinga Jongin. Ia tidak pernah mendengar suara ini. Tapi ia merasa familiar dengan cara bicara ini. Jogin segera membalik tubuhya menghadap sofa diruang tamu. Seorang pria tampan dengan rambut pirag nampak duduk dan tersenyum menatap ke arahnya.

"My little Jongin always cute…" suara itu kembali terdengar.

" Yi..Yifan ge?" Jongin berkata ragu.

" Its me, Jongie… give me hug baby." Pria itu, Yifan ge nya telah kembali. Yifan yang Jongin tunggu sampai saat ini telah kembali. Pria itu kini ada dihadapannya. Nyata.

" Don't be stone baby,… give gege hug."

Jongin langsug berlari memeluk Yifan gegenya, ia meluapkan segala kerinduan hatinya dengan memeluk erat Yifan, menangis dalam diam semakin mengeratkan pelukannya.

'Bogoshipo'

'Bogoshipo'

Hanya kata itu yang terus keluar dari bibir Jongin.

" Nado Jongie." Yifan menjawab semua kata yang diucapkan Jongin.

Tanpa mereka sadari dua orang diruang yang sama menatap mereka dengan pandangan yang sama, nanar. Namun dalam artian yang jauh berbeda.

Luhan meremas dadanya merasakan sakit melihat pemandangan haru di hadapannya. Ia tahu, sangat tahu bahwa sosok tersebut yag ditunggu Jongin setiap saat. Luhan bahkan sudah berjanji bahwa ia siap melepas Jongin ketika pria itu kembali. Tapi hatinya seakan menghianati, sakit tetap menderanya meski ia sudah tahu bahwa saat ini aka tiba. Tapi ia tidak menyangka akan tiba secepat ini waktunya.

Di belakang sana Nyonya kim masih terpaku. Sebegitu rindukah Jongin pada sosok Yifan? Sosok yang bahkan tidak memiliki hubungan darah dengannya. Sosok anak kecil yang menemani Jongin kecil diwaktu senggang di sela kesibukan sekolahnya. Sesulit itukah Jongin membuka hati untuk ibu kandungnya sendiri.

Dua sosok yang berpelukan tersebut masih betah dalam posisinya. Jongin bahagia, sangat. Ia menantikan hari ini selama lebih dari sepuluh tahun dan kini orang yang dirindukannya ada di hadapannya. Ia berharap waktu akan berhenti disini.

" Ayo,.. sudah pelukanya. Jongin ganti bajumu ak. Dan Yifan segeralah ke meja makan. Kita makan bersama" Tuan Kim menghentikan moment melepas rindu keduanya.

" Arra appa"

Cup

Jongin berjalan cepat setelah mengecup pipi Appanya menuju kamarnya dan segera mengganti bajunya.

" Aunty jangan iri begitu, sini aku yang cium." Luhan seolah megerti keterkejutan Nyonya Kim atas tingkah Jongin.

" Yak,… rusa nakal jauhkan bibirmu itu dari istriku." Tuan Kim berteriak.

Cup

" Uncle telat."

" Aish.."

Yifan hanya tertawa memandang kekonyolan dihadapannya.

Mereka makan dengan riang, Jogin nampak sangat bahagia dan itu mengiris perih hati Luhan. Namun meski begitu ia mencoba tetap tersenyum.

" Kau tiba-tiba kembali ke korea dalam rangka apa Yifan?" Tuan Kim bertanya.

" Hmmm aku ingin menemui seseorang Ajhusi.."

Jongin blushing mendengar kalimat yang baru diucapkan Yifan. Tapi ia menutupinya dengan menundukan kepalanya. Meski begitu, Luhan masih dapat dengan jelas melihat pipi merah Jongin.

Hanya nyonya Kim yang memandang wajah Jongi dengan pandangan yang tidak dapat dideskripsikan, haru, sedih, takut, dan menyesal seolah nampak dalam iris kelam miliknya.

.

.

.

.

" Taemin-ah, mau pulang?"

" Ah, ne hyung."

" Mau ku antar?" Orang itu Chanyeol menyandar dipintu ruag club dance.

" Ah tidak perlu hyung"

" Bukankah kau tidak membawa mobil? Ah ku lihat tadi saudaramu juga sudah meninggalkan sekolah."

" Ah,.. ne Jongin memang pulang."

" Nah, sebaiknya kau ikut saja denganku."

" Ne tapi-"

" Taemin-ah, sudah selesai? Ayo pulang." Suara Minho sang Kapten tim sepak bola memotog perkataan Taemin.

" Ne, sebentar lagi Kodok Jelek." Taemin berucap sebal karena Minho memotong perkataannya. " Maaf hyung, aku tadi sudah bilag akan meumpang mobil kodok jelek itu Chan hyug. Sampai jumpa."

Chanyeol hanya menganggukan kepalanya.

" Gagal LAGI, huh?" Sehun sengaja meekankan kata lagi pada Chanyeol.

" Apa pedulimu Oh?"

" Tidak ada."

" Ingat kau juga gagal bodoh."

" Hmmm setidaknya aku tidak berambisi untuk mendapatkan Taemin sepertimu."

" Sial kau."

.

.

.

.

" Ge,.. kemana saja selama ini?"

" Hmm? Gege ikut baba ke Canada Jongie.."

" Gege jahat meninggalkan Jongie sendiri…"

" Bukankah Jongie juga meninggalkan gege ke China?"

" Tapi,..-"

" Sudah, ayo ikut gege, kita jalan-jalan sepuasnya hari ini."

" Assa… Yeay" Jongin berteriak kegirangan melupakan bahwa Luhan masih di sana. Duduk bersandar di depan televisi bersama nyonya Kim.

" Apapun yang terjadi, tetaplah bersama Jonginku Luhan." Nyonya kim memecah keheningan yang tercipta diantara keduanya.

" Apa maksud Aunty? Orang yang ditunggu Jongin bahkan kini sudah ada dihadapanya."

" Aunty mohon jangan tinggalkan Jongin."

" Ne."

" Aunty menyayangi kalian. Sangat."

" Tentu aunty." Luhan sebenarya masih bingung dengan maksud perkataan nyonya Kim tapi ia mencoba utuk menuruti saja,

.

.

.

Jongin dan Yifa benar-benar menghabiskan sepanjag sore hingga malam dengan bermain di Lotte World. Mereka bermai sepuasnya mencoba setiap wahana yang ada. Jogin sangat bahagia hingga tak mampu untuk berkata-kata. Orang yang dicintainya kini ada disampingnya dan menggenggam erat tangannya. Tidak ada yang lebih bahagia dibandingkan hari ini.

" Kita mau kemana lagi ge?"

" Kita akan makan malam bersama. Gege sudah memesan tempat."

Sungguh tidak ada yag lebih membahagiakan Jongin saat ini. Wajahnya memerah tanpa diperintah. Ia bahagia. Sangat bahagia. Dalam beaknya berputar-putar bahwa Yifan akan menyatakan perasaan kepadanya. Ugh… memikirkannya saja membuat Jogin malu setengah mati. Tapi ia tidak akan menolak. Ia bahagia.

.

.

.

Sehun dan Chanyeol nampak bersandar di kap mobil masing-masing. Mereka berada di arena balap liar yang cukup terkenal di Seoul. Mereka sudah cukup lama bergabung dalam kelompok balap liar ini. Namun mereka jarang untuk melakukan balapan. Hanya melihat dan bertanding sesekali jika ada yag menarik bagi mereka. Selebihya mereka hanya mengamati atau ikut dance street yang juga berada di area yang sama. Tak jarag mereka menggunakan sejumlah uang atau mobil sebagai bahan taruhan. Bukan hal yang wah bagi mereka mengingat latar belakang keluarga mereka yang kaya.

Mobil luhan mulai memasuki arena balap liar. Ia tidak turun, hanya megamati seperti apa aktivitas kelompok balap liar tersebut dari dalam mobilnya hingga seseorang mendekatinya.

" A.. Yo ge,… apa kabar?"

" Ah Baik Tao-er." Luhan menjawab namun fokusnya tak lepas dari arena balap dihadapanya.

" Tumben kau kesini ge?" Tao, pria itu nampak bertanya pada Luhan.

" Hmmm hanya ingin mengamati."

" Tidak ingin bergabung hmm? Dimana Kai?" Tanya Tao.

Tao adalah salah satu sepupu jauh Luhan yang pindah ke Korea karena orang tuanya memutuskan untuk membuka cabag usaha restoran china di Korea. Namun Tao tidak ikut kembali ke China setelah urusan pembukaan cabang restoran mereka selesai. Ia menetap untuk meyelesaikan sekolahnya di Korea.

Mendengar pertanyaan Tao, Luha kembali teringat bahwa kini Jongin pasti sedang menikmati malam yang indah bersama orang yang dicintainya. Meski hati Luhan sakit, ia akan tersenyum jika Jongin tersenyum. Mereka seperti saudara yang tidak terpisahkan dari kecil.

" Ia sedang ada perlu." Luhan menjawab pertanyaan Tao setelah tadi sempat terdiam cukup lama.

.

.

.

Jongin dan Yifan memasuki sebuah restoran mewah. Hal ini tentu membuat Jongin terkagum, mereka menyantap makan malam dalam khidmat karena semua telah dipersiapkan oleh Yifan sebelumnya.

" Jongie,… sebenarnya hyung ingin mengatakan sesuatu padamu."

" Ne ge.." Jogin sangat gugup sekarang. Dugaan bahwa Yifan akan menyatakan perasaan padanya semakin menguat. Hal ini membuat jantungnya berdetak semakin cepat.

" Hm… ini."

" Eh? apa ini ge?" Jongin bertanya bingung melihat Yifan meyodorkan sebuah amplop berwarna keemasan kepadanya.

" Bukalah."

Jongin membuka perlahan amplop tersebut. Jantungnya berdetak cepat. Setelah amplop tersebut terbuka. ia tak mampu berkata apa-apa. Pandangannya terpaku pada kertas dalam amplop tersebut.

" Jongie bagaimana menurutmu?"

" Eh? I-ini indah ge, sangat indah."

" Ah,.. kau terkejut bukan?"

" Hmm ne-' sangat terkejut' tambah Jongin dalam hati. Ia mengulas senyum di bibirnya

" Ah itu dia sudah datang."

" Maaf aku terlambat." Sebuah suara dibelakang Jongin membawa ia kembali kea lam sadarnya.

" Ne. tak apa chagi. Jongie perkenalkan ini Kim Suho, calon pengantinku. Dan Suho chagi, ini Jongin dongsaeg yang sangat aku sayangi." Ujar Yifan.

" Anyoeng haseyo."

" Ne, Anyoeng haseyo."

Lembaran yag ada ditangan jongin terbuka sudah. Sebuah undangan pernikahan antara Wu Yifan dan Kim Suho tercetak dengan tinta emas dengan sangat elegan seolah mengejek Jongin.

TBC

maaf chapter ini sangat pendek,... sebenarnya saya berjanji mengupdate FF inid ari senin kemarin tapi entah mengapa website ii tidak mau terbuka pada laptop saya hingga akhirnya saya baru bisa mengupdatenya sekarang.

sebenarnya saya belum dalam mood untuk melanjutkan FF sehingga saya sagat lambat dalam mengupdate. Saat ini saya sedang menunggu sebuah pengumuman yang sangat penting bagi saya.

Saya harap reader mau mendoakan semoga pengumuman yang saya nantikan sesuai dengan harapan saya dan memang yag terbaik untuk saya.

Kamsahamnida

Bow