CHAPTER 6
" Duduklah chagi…" Yifan memecah kecanggungan antara Jongin dan Suho.
Padangan kecewa Jongin tidak lepas dari pengamatan Suho. Jongin terus saja diam setelah Suho duduk semeja dengan mereka. Yifan mulai menyadari perbedaan sikap Jongin pun bertanya padanya.
" Kau tak apa Jongin-ah?" tanyanya.
" Ne Ge,.. hanya teringat aku memiliki janji mala mini dengan Luhan Ge. Aku permisi dulu."
Srak
Jongin terburu meninggalkan kursinya. Mengundang tatapan heran dari Yifan dan Suho. Namun ia tak sanggup berpura-pura lebih lama tersenyum dihadapan mereka. Airmatanya deras menetes begitu ia sampai di luar restoran. Dadanya sakit, nafasnya sesak. Seburuk inikah dirinya? Apakah benar semua orang tidak mengharapkan kehadirannya? Ia masih belum berhenti menangis. Seolah mengerti salju mulai turun malam itu. Membawanya pada bulan November yang dingin. Beku. Sebeku hatinya saat ini. Ia memang terbiasa disakiti. Tapi ia tidak tahu bahwa sakitnya seperti membunuhnya secara perlahan. Ia berjalan pelan, airmata masih menetes dipipinya. Dinginnya malm tak dihiraukannya. Hatinya terlanjur hancur.
Bruk
Tubuhnya limbung menabrak orang dihadapannya.
" Ya! Dima- eh Jongin-ssi…"
Jongin tidak menjawab, ia hanya menengadahkan kepalanya menatap orang yang ada dihadapanya saat ini. Pandangannya kosong namun airmata masih mengalir deras di pipinya. Orang yang berlalu lalang mulai menatap Sehun aneh. Ya laki-laki yang ditabrak Jongin adalah Sehun. Mereka mengira Sehunlah yang membuat pria manis seperti Jogin menangis.
" Hei,… kenapa menangis?"
"Hiks….."
" Eh,…. Jangan menangis,… orag-orang memperhatikan…"
" Hiks.. Hikss…" Bukannya berhenti tangisan Jogin semakin keras begitu pula airmatanya.
" Ya,.. Aish,.. apa ada yang sakit?"
" Hiks .. Hikss…."
" Bicaralah hei,… aku tidak pernah menenangkan orang yang menangis….. Aish.."
" Hiks,…."
" Ah,.. kakimu sakit? Ayo naik kepunggugku akan kuantar kau pulang."
" Hiks,.. Hiks… Hiks… .."
" Ya… Diam" ucap Sehun sambil membekap mulut Jongin. Mengundang perhatian dari orang-orang disekitarnya.
" Ya,.. anak muda, jangan kasar terhadap pacarmu,.. kasihan dia." Seorang ajhuma yang kebetulan lewat menegur Sehun.
" Ani ajhu-
" Sebaiknya kau gendong saja mungkin dia kesakitan…" Ajhuma tersebut melanjutkan lagi langkahnya tanpa mendegar pejelasan sehun lebih lanjut.
" Aish,.. merepotkan."
Mau tak mau akhirnya sehun menarik paksa tangan jongin dan menggendongnya secara piggy back.
Hikss
Hikss
Isakan lirih masih terdengar dari bibir penuh Jongin.
" Hei,… jangan menangis."
"…"
" Aku tidak tahu apa masalahmu, tapi kau namja kan? Namja tidak mudah menangis kalau kau mau tahu." Meski terkesan aneh, Sehun mencoba menghentikan tangisan Jongin. Hell ! seumur hidupnya sehun tidak pernah menenangkan orang yang menangis. Kalau nonanya menangis tentu oemmanya yang akan menenangkannya. Selama ini yang sehu tahu hanyalah cara untuk membuat orang menangis, bukan sebaliknya.
Perlahan-lahan isakan Jongin berhenti, namun mata sembabnya tidak mampu disembunyikan. Matanya seolah tenggelam karena membengkak.
" Tu-turankan aku." Jogin bersuara lirih.
" Hmm.." meski begitu Sehun tidak menurunkan Jongin. Ia justru mengeratkan pegangannya.
" Sehun-ssi….."
" Diamlah,.. kau tidak berat. Aku tahu kau sedih sekarang. Tapi jangan jadi pria cengeng."
" Sehun-ssi,.. jangan berpura-pura baik padaku."
" Aku tidak berpura-pura,. Asal kau tahu aku memang baik!" Sehun berujar kesal.
"Mianhae…"
" Hmm"
.
.
.
.
Yifan sudah kembali ke kediaman keluarga Kim. Memang selama di korea ia menginap sementara di rumah keluarga kim.
" Eh,.. Kau pulang sendiri Yifan?"
" Ne ajhuma,.. Jongin ada perlu dengan Luhan-ssi."
" Eh? Ada perlu dengan Luhan? Luhan baru saja pulang. Apa Jongin sudah sedari tadi?"
"Ia ajhuma sejak dua jam yang lalu, ia meminta ijin untuk pergi ada janji dengan Luhan-ssi katanya."
Tanpa menjawab lagi nyonya kim segera mengambil telepon rumahnya dan menelepon Luhan.
" Lu,.. kau dimana?"
" Ada apa auty sayang? Merindukanku lagi?"
" Aish anak bodoh. Kau dimana? Jongin bersamamu?" Nyonya kim terdengar paik.
" Eh, ani aunty, aku masih dijalan."
" Cari dia .. cari Jongin lu."
" Ne Aunty.."
Luhan segera memacu kendaraannya menuju tempat yang bisa didatangi Jongin. Tapi Shit,.. ia baru ingat bahwa Jongin bahkan tidak mengenal tempat-tempat disini.
Luhan segera mendial nomor Jongin yang tidak segera tersambung. Ia segera menambah laju mobilnya menuju ke tempat yang mungkin bis dikunjungi oleh Jogin malam-malam begini.
.
.
.
" Ajhuma,.. sebenarnya ada apa?"
"…"
" Tidak ada Yifan-ah.."
" Jangan berbohong padaku ajhuma."
" Ajhuma mohon Yifan, segeralah kembali ke Canada, ajhuma mohon. Sangat."
" Sebenarnya ada apa ajhuma?"
" Jongin…"
" Iya, ada apa dengan Jongin?"
" Selama ini dia menunggumu Fan, ia menunggu kau membalas cintanya. Anak itu begitu mengagumimu sejak kecil."
"….."
" Kini saat kau datang, ia sangat bahagia Fan, sangat. Tapi ia belum tahu masalah pernikahanmu. Apa kau memberitahunya Fan?"
" N-ne.."
" Astaga,.. Jongin-ah. Kau dimana nak?" Nyonya kim terkejut, ia tidak menyangka bahwa Yifan akan langsung memberitahu Jongin. Ia sangat mencemaskan keadaan anak bungsunya itu sekarang.
Yifan tak tahu harus berbuat apa sat ini. Ia memang menyayangi Jongin. Sangat menyayanginya. Namun sebatas kasih sayang sebagi seorang kakak. Ia tahu bagaimana Jongin kecil. ia sangat menyayangi anak itu. Tapi untuk mencintainya sebagai pasangan ia bahkan tidak pernah memikirkannya.
.
.
.
.
" Sehun-ssi,….."
" Hmm…"
" Jangan antar aku pulang."
Sehun mengernyitkan alisnya bingung dengan maksud orang yang digendongnya ini.
" Lalu?"
" Kemana saja asal tidak pulang."
" Baiklah."
Sehun kini berjalan sambil menggendong Jongin menuju mobilnya yang terparkir rapi.
" Jangan merengek.."
" Tidak akan."
Setelahnya mereka segera melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalanan Seoul. Sementara itu Luhan masih cemas berusaha menghubungi Jongin namun tak kunjung di angkat. Oh, nampaknya tidak ada yang meyadari bahwa handphone Jongin tertinggal dalam kamarnya. Dan karena semua ruangan dikediaman keluarga Kim kedap suara jadinya, yah… tahu sendiri.
.
.
.
" Gantilah bajumu dahulu.."
" Eh?"
" Pakai bajuku, di jok belakang. Ukuran tubuh kita tidak jauh berbeda."
" Memangnya kenapa?"
" Bajumu sama sekali tidak cocok dengan tempat yang akan kita kunjungi."
" Aish.." setelahnya jongin segera meraih baju sehun yang terletak di belakang, ia mulai melepas blazer yang dikenakannya dan kemejanya. Oh jangan lupakan seorang Oh Sehun masih duduk disebelah Jongin.
" Ya! Apa yang kau lakukan?"
" Mengganti baju? Ada yang salah?"
" Aish… sudahlah." Sebenarnya sehun dengan merona parah, beruntunglah suasana dalam mobil masih cukup gelap sehingga Jongin tidak melihatnya. Oh .. ayolah meski sehun tidak menyukai Jongin tapi ia masih belum terbiasa melihat tubuh menggoda seperti milik Jongin terpampang jelas dihadapannya. Dan yag baru sehun sadari adalah pinggang Jongin sangat ramping, kulitya tan halus, dan jangan lupakan abs samar yang tercetak diperutnya. Oh,… sehun rasanya ingin menerkam mahkluk polos disampingnya ini.
Jongin memakai kaos hitam da sebuah kemeja kotak-kota berwarna biru, jangan lupakan beanie hitam yang bertengger mais di kepalanya… hmm tipe bad boy yang sangat manis.
" Turunlah, kita sudah sampai…"
" Eh?"
" Kau pasti tidak pernah ke tempat seperti ini bukan? jangan membuatku malu."
" Ne"
Mereka berjalan menuju arena balap liar yang sebelumnya pernah dikunjungi Luhan.
" Kai-ya…."
" Eh? Tao-zi"
Sehun memandang aneh kedua orang ini. Darimana mereka bisa kenal, pikiran Sehun mencoba menganalisis keadaan. Dan oh apa tadi maksud Tao memanggil Jogin dengan nama Kai?
" Eh kau bersama Sehun? Mana Luhan Ge?"
" Eh? Iya hehehe,… Lu Ge dirumah mungkin."Jongin tidak yakin dengan ucapanya sendiri.
" Mau mencoba hmmm?"
" Apa boleh?" Jongin bertanya dengan riang. Tidak memperhatikan ekspresi kebingungan Sehun. Ia masih tidak mengerti dengan mood anak ini. Tadi menangis meraug, sekarang malah bermanja-maja bersama salah satu temannya …. yang bisa dibilang sama sepertinya. Bad boy.
" Tentu.."
" Yeay,…" Jongin bersorak senang. Tapi kemudian ekspresinya menjadi datar lagi..
"Tapi Tao-zi, aku tidak punya mobil."
DOENGGGG
Rasanya Tao ingin sekali menggeplak kepala namja mais dihadapannya ini.
" Untung kau manis. Kalau tidak sudah ku geplak kepalamu kai." Tao bersungut.
" Pakai mobilku sana." Tao berujar lagi.
" Ah, boleh? Yaeay,… Tao memag baik."
Cup
Kecupan dari Jongin melayang ke pipinya.
" Satu lagi." Tao merengek
" Tidak mau."
" Dasar"
Oh, nampaknya mereka masih melupakan sosok namja datar bak tempok yang menatap cengo ulah mereka berdua.
Dan kini jangan lupakan wajah Sehun yag menganga tidak percaya melihat Jongin memasuki mobil tau dan menuju ke start arena balap. Oh tolong igatkan sehun untuk meutup mulutnya sebelum para nyamuk sibuk memasukinya.
Jika dilihat secara fisik memang jongin terlihat manis tipe anak rumahan, namun jangan lupakan sejak Junior School di China keluarga Lu sering mengajak Jongin untuk menyaksikan balap mobil yang membuatya terobsesi dengan olahraga ekstrem itu. Jangan lupakan bahwa Jongin memiliki nama samara Kai ketika sedag beradu balap liar. Tidak banyak yang mengetahui hal ini. Bahkan mungkin hanya Luhan, Tao dan keluarga Lu saja yang tahu aktivitas ekstrem Jongin.
Lawan Jongin kali ini pun tidak main-main, Taecyon, Seunghyun, Hyunseung adalah jajaran nama kelas atas balap liar Seoul. Bahkan Tao saja hanya pernah menang dua kali dari mereka.
" Anak manis, sebaiknya jangan bermain dengan hal yang berbahaya." Suara Seunghyun memperingatka Jongin.
" Tidak Ajhusi…" Jawab jongin polos, oh tapi terlalu janggal jika disebut polos karena Jongin tidak lupa menyematkan smirk andalannya.
" Brengsek."
" Sudahlah T.O.P buktikan pada anak mais ini kemampuanmu." Ujar Taecyon kini.
" Lihat saja nanti bocah."
Percakapan mereka terpaksa diakhiri karena kini seorang gadis cantik yang memakai baju kekurangan bahan ampak membawa benderanya ke tengah arena.
Ready…
Go
Setelahnya keempat mobil itu melaju kencang membelah jalanan yang sepi malam itu. Semua memprediksi bahwa T.O.P lah yang akan menang malam mini. Sudah tujuh kali berturut-turut T.O.P memenangkan pertadingan di arena ini.
Namun nampaknya mata para penonton perlu pemandangan yang berbeda kini karena sebuah mobil yang dikenali sebagai mobil milik Tao melaju melewati garis finish untuk pertama kalinya malam itu.
"Shit…" suara seunhyun memecah keheningan yang tercipta karena keterkejutan semua orag yang ada disana.
" Tao-zi…."
" Apa?"
" Aku menang"
" Aku tahu. Lalu."
" Kau tidak mengucapkan selamat padaku?"
" Bosan."
" Aish menyebalkan." Jongin mempoutkan bibirnya maju ke depan. Dan jangan lupakan sehun masih terdiam membisu tetap pada posisinya. Oh ayolah, bahkan Sehun saja tidak pernah menang melawan Seunghyun. Da kini, anak man-ehmm nerd yang tampangnya sama sekali tidak ada sangar-sangarnya bisa mengalahkan Seunghyu si Dewa balap.
" Baiklah, aku mungkin kalah dalam balap mobil. Bagaimana kalau kita dance battle."
" Kau yakin?" suara Tao bertanya heran.
" Tentu. Tapi bukan aku yag bertanding. Kau, Sehun, dan bocah ini vs Junho, Hyunseung, dan Jimin."
" Siapa takut." Kali ini suara Jongin yang membuat mata Sehun semakin membola.
Sehun memang biasa dance battle, Tao juga kadang ikut tapi tidak sehebat dirinya. Dan kini, Oh Sehun rasanya ingin menghantam kepala anak nerd di hadapannya itu. Dari segi penampilan saja dia sangat meragukan.
Alih-alih menggeplak kepala Jongin. Mata sehun kini terpaku pada wajah manis Jongin yang telah lepas dari kacamata kudanya.
Tao maju pertama melawn Jimin, Sehun kemudia melawan Hyunseung dan kini battle antara Junho dan Jogin segera dimulai. Junho yang terkenal dengan free style dancenya dan Jongin yang,. Ehm nampaknya semua meragukan anak manis ini.
Musik telah dimainkan, Junho maju dengan aksi provokatif dan free style dance yang membuat setiap mata yang memandangnya terkagum-kagum. Jongin berjalan santai menuju tengah arena, music dimulai da Jongin mulai menghentakka tubuhnya sesuai irama. Lembut, energik , amun akurat dan terkesan seksi mejadi cirri khas dance Jogin. Da kini ingatkan Oh Sehun agar ia kembali menutup bibirnya. Semua mata memandang kagum gerakan Jongin hingga musicberhenti.
Tiba-tiba
" Taemin, Jadilah kekasihku!" seseorang berlutut dihadapan Kai.
PLAK
TBC
mian baru bisa update lagi, terima kasih yang sudah mendoakan saya
but
I am Failed
oh... Don't worry, Give up isn't my style
so, i will try in next year...
Thank you for your support
please callme Sisca, or Sicca thats better than you call me " thor"
Kamsahamnida
Bow
