Chapter 7
" Ya apa yang kau lakukan panda?" teriak orang itu kepalanya mejadi sasaran geplakan tangan kurus Zitao.
" Dasar bodoh." Umpat Zitao.
" Ayo pulang" Luhan berujar lembut. Entah bagaimana ia bisa berada di belakang Kai. Kai sendiri tidak menyadari kehadiran Luhan yang kini menarik tangannya.
SREK
" Eh?" Kai meoleh bingung. Tangannya kini dipegang oleh Sehun dan Chanyeol sementara sebelahnya lagi dipegang oleh Luhan.
" Taemin, jawab dulu penyataan cintaku." Itu suara Chanyeol yang sugguh membuat Zitao dan Luhan ingin mengulitinya hidup-hidup.
PLAK
Sekali lagi kepala Chanyeol menjadi sasaran geplakan tangan kurus Zitao.
" Emm Sehun-ssi, terima kasih tapi aku harus pulang."
Sehun yang menyadari tangannya menggenggam tangan Kai segera sadar dan melepaskannya. Ia bingung sendiri kenapa ia memegang tangan Kai tadi. Sekarang Sehun hanya memandangi punggung Kai yag semakin menjauh bersama Luhan.
Sementara itu Chanyeol masih belum mencerna situasi yang sedang terjadi.
" Ya Panda, kenapa kau menggeplak kepalaku eoh?" Chanyeol berteriak marah.
" Bodoh kau Chanyeol, kau salah menembak orang Pabbo!" Maki Zitao
" Hei,…. Aku tidak salah… Dia Taemin kan?"
" Dia Jongin, dasar bodoh!" Kali ini suara datar Sehun yang terdengar sangat menusuk.
" Hah?" Chanyeol menganga dengan lebar.
" Hei, tapi dia tidak culun. Kacamatanya tidak ada, ia juga jago menari. Kalian pasti yang sudah buta." Chanyeol masih tidak percaya.
" Terserah." Sehun dan Zitao meinggalkan Chanyeol dan menuju mobil masing-masing.
" Hei, jangan tinggalkan aku." Chayeol berteriak.
.
.
.
.
" Kenapa gege tahu aku disana?" Jongin bertanya setelah masuk dalam mobil Luhan.
" Zitao menghubungiku. Aku menghubungi ponselmu dan tak ada satupun yang kau terima."
" Aku kan lupa membawa posel ge." Ujar Jongin polos.
" Ah,.. baiklah." Luhan tidak mungkin bisa untuk kesal pada anak ini.
"Kita mau kemana ge?"
" Pulang."
" Ani, aku mau menginap di tempat gege saja."
" Tapi…"
" Ayolah ge."
" Baiklah, aku akan menghubungi aunty nanti."
.
.
.
.
Saat ini Yifan sedang duduk di sofa ruang tengah bersama nyoya kim yang sedari tadi modar-mandir menunggu kabar dari Luhan yang tak kunjung datang.
" Jogin akan baik-baik saja aunty."
" Kuharap begitu Fan, kalau sampai terjadi sesuatu padanya maka aunty tidak bisa memaafkanmu Fan."
" Mianhae Aunty."
" Sudahlah, percuma saja Fan kau mita maaf, yang kau sakiti bukan aku tapi putraku."
" ….."
" Aku tidak ingin jadi orag jahat Fan, tapi aku juga tidak ingin anakku terluka."
"…."
" Ku harap kau megerti maksudku Fan."
" Ne Aunty…"
" Aku tidak sejahat itu untuk menyuruhmu membatalkan pernikahan tapi aku mohon dengan sangat, jangan muncul dihadapan Jongin lagi Fan. Kembalilah ke Canada secepatnya. Jangan mengirimkan kabar apapun pada kami. Apapun itu."
" Aunty…"
" Aku tahu ini jahat, tapi inilah yang dapat aku lakukan untuk melindungi anakku. Setidaknya ia tidak lagi menunggumu Fan. Mungkin nanti, jika kau bisa melihat Jonginku telah tersenyum bahagia dengan pedampingnya kau boleh untuk menemui kami lagi. Maafkan aku."
" Oemma…" Suara Taemin mengejutkan nyonya Kim dan Yifan.
" Jangan larang Oemma Tae, inilah yang terbaik. Yah terbaik."
" Baiklah aunty, aku akan kembali ke Canada esok pagi. Bolehkah aku berpamitan pada Jongin?"
" Tidak Yifan, pergilah. Ku mohon jangan buat ia semakin menderita melihatmu pergi."
Yifan hanya diam, ia segera melangkahkan kakinya menuju kamar tamu. Taemin masih berdiri kaku, ia tidak menyangka semua ini akan terjadi.
" Oemma, pikirkan baik-baik. Seb-"
" Oemma tahu apa yang oemma lakukan Tae. Biarkan Oemma berbuat benar untuk Jongin sekali saja."
" Tapi Oemma-"
Kring…
Belum sempat Taemin menyelesaikan kalimatnya, suara dering telepon memutusnya.
" Yoboseo.. Lu.."
"…"
" Dimana? Bagaimana keadaanya?"
"…"
" Baiklah. Tolong jaga dia."
".."
" Arraso"
" Besok pagi bawakan Jongin seragam, ia akan menginap di tempat luhan malam ini."
" Arra Oemma."
Hening
Nyonya kim telah masuk ke dalam kamarnya, Taemin terduduk di sofa, ia tak habis pikir mengapa semua hal menjadi semakin rumit.
.
.
.
.
Yifan mengemasi pakainnya, rencananya ia akan tinggal untuk satu minggu, namun di hari pertamanya di Korea ia membuat sebuah kesalahan, ah-bukan kesalahan sebenarnya. Tapi ia pun bingung dengan keadaan ini. Ia memutuskan akan tinggal sementara di hotel. Ia tidak langsung pulang ke Canada, bagaimanapun ia ingin menjelaskan semua hal ini kepada Jongin. Biarlah ia membantah perkataan nyonya Kim. Ia sadar ini akan membawa akibat buruk nantinya. Tapi ia pun tak mau ambil resiko Jongi akan membencinya dengan meninggalkannya lagi tanpa kabar.
.
.
.
" Aku tidur denganmu ya Ge,.."
" Kenapa?"
" Tidak apa."
" Hmm kau igin memelukku ya? Hmmm aku akui ketampananku tidak bisa kau tolak chagi."
" Hueek" Ujar Jongin pura-pura muntah.
" Eih,.. mengaku saja. Aku ini pria idaman loh.."
" Tidak mau.."
" Yakin?"
" Yakin."
" Ya sudah, tidur sana sendiri."
" Yah gege, kau tega sekali.."
" Biar saja.."
" Ayolah, ge… aku tidak aka menendangmu. Aku janji. Aku akan menuruti perintahmu besok pagi. Janji."
" Janji?"
" Janji."
" Baiklah. Ganti bajumu dengan piama gege, setelahnya kita tidur."
" Arra. Captain."
Jongin mengganti bajunya, ah baju milik Sehun tepatnya. Setelahnya ia segera menaiki ranjang Luhan. Disana luhan sudah berbaring sambil membaca buku.
" Ge,.."
" Hmmm"
" Kau tidak mecari Min hyung?"
" Jongin.."
" Ne?"
" Jangan bicarakan orang yang sudah pergi."
" Tapi kan ge."
" Sudah malam. Hampir pagi malah. Ayo tidur. Jaljayo."
Luhan segera mematikan lampu kamarnya dan memejamkan matanya. Jongin yang memang tidak tebiasa tidur ditempat asing akhirnya mengikuti Luhan. Tak berapa lama keduanya telah terlelap dalam alam mimpi masing-masing.
.
.
.
Pagi telah menjelang. Jongin segera bangun, Luhan sudah tidak ada disampingnya. Ia yakin sekali gegenya pasti sedang di kamar mandi saat ini. Jongin segera menuju kamar mandi yang ada di luar. Ia mengambil sebuah kaos dan celana jeans milik Luhan. Karena ukuran tubuh luhan yang lebih kecil dari Jongin bajunya pun mencetak jelas bentuk tubuhnya.
" Aigoo,… Jonginie mau menggoda gege pagi- pagi hmm?"
" Ani, salahkan saja tubuh gege kurus kering seperti ikan asin."
JLEB
Ingatkan luhan untuk membuat saringan kata-kata untuk Jongin saat mengomentarinya.
" Arraso,.. Cha kita sarapan dulu. Gege hanya punya roti dan susu. Jangan protes."
" Arra."
Mereka makan dengan tenang.
" Jongin tidak lupa dengan janjimu semalam kan?"
" Ne?"
" Turuti permintaan gege pagi ini."
" Asal tidak aneh-aneh."
" Gege tidak janji sayang.. kekekkekeke"
Tawa evil Luhan membuat Jogin merinding. Pasti permintaannya kali ini sangat aneh.
.
.
.
.
Rasanya Jongin ingin membolos hari ini. Oh ayolah setelah ia mendapatkan seragamnya yang dibawakan oleh Taemin tadi dan mengganti bajunya. Luhan mulai melancarkan aksinya. Jongin ingin sekali menenggelamkan diriya di kolam ikan dan dimakan ikan piranha sehingga ia tidak perlu kembali dan melihat tatapan aeh teman-teman di sekolahnya. Semuanya salah. Segala permintaan Luhan pasti aneh. Menyebalkan dan membuat dirinya mejadi pusat perhatian.
Sebenarnya tidak ada yag aneh seandainya Jongin yang biasanya bukanlah anak yang selalu meggunakan kacamata tebal, rambut tertata rapi, dan sergam yang dikancing rapi. Tapi kali ini uhmm…. Igatkan Jongin untuk melemparkan Luhan ke sarang macan sehingga rusa itu mejadi mangsanya dan tidak kembali lagi. Baiklah, sepertinya perlu dijelaskan kondisi tubuh Jongin saat ini.
Sepatu kets hitam. Check. Ok tidak ada yang salah.
Celana panjang berwarna hitam khas sekolahnya. Check. Ok kali ini tidak salah.
Ikat pinggang. Check
Nah, keanehannya mulai disini. Hari ini adalah hari Rabu, sekolah Jogin membebaskan pakaian siswa pada hari rabu selama masih menggunakan baju berwarna putih.
JJogin menggunakan baju hitam ketat milik Luhan tadi. Ok ini tidak salah, karena tubuh Jongin yang ramping nampak menawan. Sekali lagi jika tidak mengingat bahwa Jongin yang sebelumnya adalah murid NERD.
Kaos hitam ketat dibalut kemeja warna putih yang tidak dikancing sama sekali membungkus kulit tannya. Khas bad boy wanna be. Semua menurut Jongin masih Ok sendainya tidak ada sebuah slayer berwarna hitam yang diikat membentuk pita sebelah kiri atas kepalanya. Sebenarnya jongin ingin berlari menuju Taemin dan meminjam topi hitam miliknya. Tapi sekali lagi Luhan dan Taemin adalah perpaduan yang sangat evil dalam mengerjai dirinya.
" Manis."
" Perfect"
Ingatkan lagi bahwa Luhan meyuruh Jongin melepas kacamataya dan menggantinya dengan kontak lens berwarna abu-abu. Jongin ingin menangis rasanya. Ini bukan dia sekali. Seandainya dengan menangis ia bisa bebas dari siksaan ini maka ia sudah melakukannya dari tadi.
" Ge, bahkan Kai tidak bergaya seaneh ini."
" Ini tidak aneh Jongin. Ini fashion."
" Tapi lihatlah bahkan mereka menatap Jongin seperti alien yang baru turun ke bumi yang akan membumi hanguskan bumi Ge."
" Jangan berlebihan. Cepat masuk kelas."
" Taemin antar anak ini. Kalau sampai dia melepasnya, bilang padaku. Hukumanmu menanti manis."
" Arra." Taemin dan Jongin membalas bersamaan.
" Nah begitu kan kompak."
" Sampai jumpa Jongie,… jangan lupa, tidak boleh dilepas!"
" Arra!"
.
.
.
Suasana ramai kelas telah terdengar ditelinga Jongi ketika mulai melngkah disamping Taemin. Tapi kali ini bahkan lebih aneh lagi. Koridor yang sangat ramai penuh siswa kini mendadak mejadi sepi bak kuburan.
S-I-N-G
Bahkan hembusan angin kini terdengar jelas ditelinga Jongin. Taemin hanya berjalan terseyum sembari menggandeng tangan kembarannya. Ingatkan kali ini bahwa mereka benar-benar kembar yang menawan.
Bisik bisik mulai terdengar ditelinga Jongin. Ia memberhentika langkahnya dan menghadap Taemin sambil menunjukan puppy eyes memohon tidak membawanya ke kelas.
" Imutnya…" pekik para siswa yang masih ada di koridor semejak tadi memperhatikan kembaran yang berjalan santai tersebut.
Taemin hanya menggelengkan kepalanya dan kembali menyeret Jongin menuju kelasnya.
" Imut"
" Manis"
" Cantik"
" Seksi"
Pekikan tersebut terus keluar selama Jongin dan Taemin menyusuri koridor sekolah. Kelas Jongin sudah semakin dekat. Jongin semakin gugup. Ia rasanya ingin lari saja. Bukan masalah sebenarnya jika seluruh siswa tidak memandanginya seperti hendak mencabik-cabik tubuhnya lapar. Jongin ati sekali diperhatikan di depan umum. Ia bisa terkena serangan gugup mendadak jika banyak orang memperhatikannya. Jelas sekali Jongin mendengar suara gaduh kelasnya. Ia menarik tangan Taemin tidak ingin masuk kelasnya.
" Kau mau kita dihukum Lu ge?" Taemin bertanya pura-pura sebal. Sebernarnya ia sangat menahan tawa kali ini melihat kegugupa Jongin dan betapa manisnya adiknya itu.
" Ayolah,… aku akan memanggilmu hyung satu minggu penuh jika aku tidak masuk kelas."
" Buing Buing."
S-I-N-G
Sepertinya Jogin lupa bahwa jendela kelasya tidak terlalu tinggi dan kini ia sudah berada di dekat pintu kelasnya yang terbuka lebar. Suara gaduh yang tadi didengarnya kini menghilang. Teman sekelasnya nampak mematung ditempat masing-masing. Chayeol menganga bodoh karena berada dikelas tersebut. Sehun masih dalam ekspresi datarnya meski tidak memungkiri ia terkejut dengan apa yang baru dilihatnya. Sementara siswa lain yang berada dikelas tersebut mendadak menjadi patung.
" Yorobeun aku titip dia ne." Taemin berteriak menggeret Jogin masuk ke kelas.
Seolah robot mereka semua mengaggukan kepala tak terkecuali Sehun.
" Taemin, kau membelah diri?" Pekika heboh seorang Dobi-ups Chayeol dihadiahi deathglare dari seluruh siswa yang ada di kelas tersebut. Ingatkan kini bahwa Chayeol akan terhapus dari jajara pria tampan di sekolah karena imagenya barusan.
" Ani, ini Kim Jongin, adik sekaligus kembaranku."
Mata Chanyeol melebar.
" Yeoppo"
Sementara Baekhyun nampak mendecih melihat tingkah Chanyeol.
'Sial' dengusnya.
'Awas kau Kim.' Baekhyun berkata dalam hati.
Jongin berjalan pelan menuju bangku yang diduduki Sehun. Ia membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah paper bag.
" Sehun-ssi Kamsahamnida." Ujarnya pelan.
Seluruh siswa dikelas mengikuti setiap gerak yang dilakukan oleh Jongin. Ia gugup luar biasa saat ini.
" Ne" Jawab Sehun datar. Dihadiahi tatapan tajam dari seluruh siswa dikelasnya. Bagaimana mungkin ia bisa menjawab sedater itu pada Jongin yang imut, catik, manis, dan seksi saat ini.
" Jonginie maafkan kami ne.." Suara itu Taehyung.
" Ne." Jongin beujar pelan. " Mohon bantuannya Hyung deul."
" Ha?"
Seluruh siswa dikelas nampak membelalakan matanya.
" Ne. Jongie satu sampai dua tahun lebih muda dari hyug deul."
" APA?"
" Apa Taemin tidak bilang kalau kami ikut percepatan sebelumnya?" Tanyanya memiringkan kepala.
" IMUTNYA…."
Dan berakhirlah Jongin dengan pipi yang dicubiti teman sekelasnya. Mereka berhenti karena Sehun tiba-tiba menggebrak meja.
" Appo." Jongi menggosok-gosok pipinya. Ia segera diseret Sehun utuk duduk.
" Jangan beraegyo disini, Jong."
" Ani." Ujarnya sambil mengelus pipinya dan mempoutkan bibirnya.
" Kau beraegyo Jong."
" Ani Sehun-ssi." Ujar Jogin menajamkan matanya namun tetap saja ia tampak Imut.
Sehun mengelus gemas kepalaya.
" Kau terima pernyataanku kemarin kan Jong?"
BRAK
TBC
mianhamida saya baru bisa update hari ini...
semoga masih ada yang menunggu FF abal ini
masih banyak Typo ne? hehehe mianhae karena saya tidak sempat cek ulang lagi
terima kasih bagi para readers yag masih setia dengan FF abal ini dan yag selalu setia meninggalkan review... itu sagat berharga.
Kamsahamnida
Bow
