Hi,… hi… hi…
Saya balik lagi,.. maafkan atas kelakuan absurd saya yang memilih hiatus. Tapi setelah baca review teman-teman sekalian, rasanya malu banget. Tidak seharusnya saya down karena satu orang yang mengkritik saya pedas. Oke… itu adalah salah satu cambuka buat saya untuk menulis dengan lebih baik.
Terima kasih atas semua review dari teman-teman semua.
Saya memutuskan untuk masih menggunakan istilah bahasa korea yang sederhana, karena kalau saya ubah keseluruhan, malah terasa aneh.
Selamat membaca kawan,…
Chapter 9
" BAEKHYUN"
" BYUN BAEKHYUN DIMANA KAU KEPARAT!"
" Apalagi sekarang Yeol? Kau bahkan berteriak karena bocah cupu itu huh?"
" BAHKAN UNTUK MEMBUUHMU PUN AKU SANGGUP BRENGSEK!"
" KAU YANG BRENGSEK YEOL!"
" AKU MEMANG BRENGSEK LALU KAU MAU APA HAH?"
" Kembali padaku" Baekhyun melembutkan suaranya namun tetap terdengar dingin.
"TIDAK AKAN PERNAH! SEKALI LAGI KAU MENYAKITI JONGIN! KAU AKAN TAHU AKIBATNYA!"
BRAKK
Chanyeol menutup pintu apartemen dengan keras. Mengabaikan baekhyun memandang sendu kearahnya. Tanpa terasa airmatanya menetes. Sendirian. Sepi. Ia tak pernah menyangka akan menjadi seperti ini akhirnya. Ia akui dirinya egois. Sangat egois sebenarnya. Tapi ia terbiasa untuk mendapatkan apa yang ia mau. Ia terbiasa mendapatkan tatapan memuja bukan tatapan mencemooh dan menghina. Dan kini karena ulahnya sendiri ia kehilangan semuanya. Hilang tak berbekas dan tertinggal dalam sudut gelap.
Tak ada tatapan memuja, tak ada decak kagum, tak ada yang memperhatikan dirinya. Satu-satuya orang yang dulu memperhatikannya dengan tulus kini berbalik menatap benci dirinya.
" Sialan kau Jongin." Baekhyun mendesis.
Sepertinya harus ada yang menyadarkan tuan Byun bahwa ini adalah harga pantas yang patut diterimanya karena ulahnya sendiri. Bukan ulah orang lain. Dan kini Jonginlah yang menjadi sasaran kemarahan seorang byun baekhyun.
.
.
.
.
Sementara itu, Sehun masih duduk disamping ranjang Jongin dengan Jongin yang masih lelap tertidur. Suhu tubuhnya sudah kembali normal. Wajahnya tidak sepucat saat pertama kali ia dibawa ke rumah sakit.
"Yi..yifan ge…"
Sehun terkejut mendengar suara Jongin. Terkejut pula mendengar nama yang diigaukan oleh Jongin.
'Siapa Yifan?' batin Sehun bertanya.
" Jongin-ssi.. kau sudah bangun? Hei, buka matamu."
" Engh…." Jongin sedikit melenguh sembari membuka matanya secara perlahan.
" Dimana?" Suara serakya bertanya.
" Kau ada dirumah sakit, kau pingsan dalam kamar mandi sekolah tadi."
" Oh.." responnya sembari menutup matanya kembali. Sehun msih menunggu respon berikutnya dari Jongin namun yang dapat ia dengar hanya suara nafas Jongin yang teratur menandakan ia tertidur.
Senyum tersimpul dibibir tipis Sehun. ' anak ini sugguh lucu' pikirnya. Merasa lelah akhirnya ia merebahkan kepalanya di ranjang Jongin dan tertidur sembari memegang tangannya.
Taemin membuka ruang rawat Jongin.
" Omo…" Nyonya Kim sedikit terpekik begitu melihat posisi Sehun da Jongin yang tertidur.
" Cute.." Ujar Taemin sembari mengeluarkan ponselnya dan memotret posisi Sehun. Jarang-jarangkan dia melihat sehun seperti ini. ' Hahahaha siapa tahu bisa dijadikan senjata suatu saat nanti.' Pikir Taemin.
Nyoya kim mendudukan dirinya di sofa. Ia tak berbuat apapun, hanya mengamati Jongin yang tertidur. Tak terasa ia sudah begitu lama. Jongin kecilnya dulu yang berusia enam tahun kini telah berusia enam belas tahun. Manis, ia merasa menjadi orang yang paling bodoh ketika mengingat perlakuannya dulu pada Jongin. Oh tidak, jangan biarkan airmatanya menetes disini. Tidak lagi. Ia harus tersenyum.
Jongin terbangun. Ia masih blank efek tertidur cukup lama. Ia menoleh kebawah merasakan tangannya digenggam. Setelah tahu sehun yang menggenggamnya ia segera menarik tangannya. Akibatnya Sehun membuka mata merasakan ada pergerakan ditelapak tangannya.
" Eh? Kau ingin sesuatu Jong?" tanya sehun dengan suara serak khas bangun tidurnya.
" Emm tidak. Emm Sehun-ssi pasti pegal."
" Eh tidak." Sehun jadi kikuk sendiri berbicara dengan Jongin. Taemin dan Nyonya Kim tampak tertidur di sofa ruang rawat Jongin.
" Sehun-ssi tidur disamping Jongin saja. " Ujar Jongin polos.
" Eh,. Tidak perlu, Sehun-ssi tidur disini saja." Karena terlalu kikuk sehun menyebut dirinya sendiri dengan formal.
" Hihihi,.. sehun-ssi lucu. Tidak apa… kasurnya lebar, Jongin akan bergeser. Ayo naik sehun-ssi."
" Apa tidak apa?"
" Tentu.."
Jongin menggeser tubuhnya sedikit. Sehun mulai menaiki ranjang dan merebahkan tubuhnya disamping Jongin.
Deg
Deg
Deg
Jantung sehun serasa diajak lari marathon.
" Apa sehun-ssi punya penyakit Jantung?" Jongin bertanya lirih.
" Eh kenapa?"
" Jantung sehun-ssi berdetak sangat cepat." Jongin berbicara sambil meletakkan tangannya ke dada Sehun.
" Bukankah ini salah satu tanda kelainan yang terjadi pada fungsi Jantung? Jantug Sehun-ssi berdetak lebih banyak dari 72/ menit berarti Sehun-ssi harus segera memeriksakan ke dokter. Ah kita di rumah sakit, Ayo Jongin antar." Ujar Jongin polos.
" Eh .. tidak perlu Jonginie,… sekarang masih dini hari esok saja akan Sehun periksakan."
'Berhentilah berdentum keras jantung bodoh' Sehun merutuk dalam hati.
Sementara itu Taemin yang tidak sengaja terbangun menahan tawanya setengah mati. Ia tidak mau merusak momen Sehun dan kembarannya dan juga ia tidak ingin membangunkan ibunya yang tertidur disebelahnya.
Sehun yang meyadari jika Taemin mendengarkan obrolan absurd mereka hanya mendengus.
" Ayo kita tidur." Ujarnya kemudian memejamkan mata diikuti oleh Jongin yang juga memejamkan mata mendekat kearah Sehun. Memeluknya seperti guling yang ada di kamarnya.
" Sehun-ssi hangat seperti Lu ge, ah tidak seperti monggu,.. ah tapi monggu kecil… ah Sehun-ssi hangat seperti ." kemudian ia menutup matanya.
Senyum simpul terulas dibibir Sehun. Meski ia tidak tahu nama-nama yang disebutkan oleh bibir Jongin tapi hatinya menghangat mendengar ucapan polos bocah dihadapannya ini.
'pribadi yang menarik' pikirnya.
.
.
.
.
.
" Aku sangat yakin kau kesini bukan untukku kan?"
" Hah, aku menjelaskan pun kau tak akan mengerti."
" Sudah ku duga."
"…"
" Bocah itu lagi kan? Bocah yang selalu mengikutimu dan tak bisa lepas darimu."
" Aku menyayanginya."
" Ck, ya .. harusnya aku tahu dari awal akan begini jadinya."
" Kau tidak mengerti."
" Apa yang aku tidak mengerti ha?"
" Lupakan. Dinginkan kepalamu baru kita berbicara lagi." Luhan meninggalkan orang itu, Minseok mantan kekasih Luhan selama di China dulu. Entah bagaimana mereka bisa bertemu dan berakhir dalam café berdua.
Ah Luhan sebenarnya memang mencari Minseok namun bukan pertemuan yang penuh dengan emosi seperti ini yang diharapkannya. Ia menghela nafasnya kasar, baru menyadari bahwa seharian ini ia tidak menghubungi Jongin. Ia pasti baik-baik saja. Luhan meyakinkan dirinya sendiri.
.
.
.
.
Pagi telah menyapa, Jongin telah diijinkan pulang. Sehun mengantarkan Jongin dan keluarganya kembali ke rumah. Waktu masih menunjukan pukul 06.00 masih ada dua jam sebelum kelas dimulai. Mereka mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Jongin duduk dibelakang dengan nyonya kim dan Taemin di depan bersama Sehun. Suasana dalam mobil sangat masih sangat mengantuk, kepalanya sejak tadi terus terbentur kaca mobil membuatnya terkejut kemudian terbangun dan setelahnya memejamkan matanya lagi. Sehun dan Taemin terkikik melihat tingkah lucu Jongin. Nyonya Kim sebenarnya ingin menawarkan pundaknya namu ia masih takut Jongin akan menolaknya. Sehingga ia hanya sanggup memperhatikan Jongin dalam diam.
Nyonya kim mengalihkan perhatiannya pada pemandagan dari jendela kaca mobil. Tampak mobil dan kendaraan lai berlalu lalang dihadapannya. Suasana dalam mobil masih lengan, mungkin efek mengantuk yag tidak tertahankan karena mereka hanya mampu tertidur selama beberapa jam saja.
PUK
Nyonya kim sedikit terkejut merasakan beban mengenai pundaknya. Itu, kepala anaknya, Jongin kini menyandar dipundaknya, matanya terpejam dengan nafas teratur. Menandakan sang putra tengah tertidur. Wajah polosnya sungguh menggemaskan saat ini. Nyonya Kim sontak tak berani bergerak. Ia hanya menahan nafas dan menghembuskannya secara perlahan seolah takut bahwa helaan nafasnya dapat membangunkan sang putra.
Taemin nampak terharu di kursi depan. Sementara sehun belum memahami situasi ini. ia hanya mengendikkan bahunya acuh dan melanjutkan fokusnya untuk menyetir sampai di kediaman nyonya kim.
Sesampainya dikediaman keluarga kim, Jongin masih tertidur pulas. Nyonya kim enggan membangunkan putranya. Sementara untuk megandalkan Taemin mengangkat Jongin sangat tidak mungkin. Dari segi postur tubuh jelas Jongin lebih tinggi. Akhirnya Sehun menawarkan diri untuk mengangkat Jongin.
Oke, ini bukan salah tubuh Jongin yang besar dan juga bukan salah tubuh sehun yang tipis seperti triplek, tapi salahkan saja perut Sehun yang belum terisi sejak semalam. Akibatnya sebuah benjolan menghiasi kepalanya karena terbentur pintu mobil saat menggendong Jongin keluar dari mobil. Taemin tertawa puas karenanya sementara Sehun meringis sakit.
Oke sekarang hal absurd terjadi lagi, setelah meletakkan Jongin di kasurnya. Sehun bukannya kembali ke rumahnya dan menuju sekolah namun kini ia malah memposisikan dirinya disamping Jongin dan ikut tertidur disebelah Jongin.
" Ma telepon ke sekolah ya, aku, Jongin, dan Sehun tidak masuk. Pay pay."
Dan kini Taemin malah ikut memposisikan dirinya disebelah kiri Jongin sementara Sehun disebelah kanannya. Mereka sudah seperti jejeran ikan yang dijual dipasar. Nyonya Kim hanya menggelengkan kepalanya dan meninggalkan kamar putranya.
Biarkan ketiga manusia absurd ini menikmati indahnya mimpi mereka selagi mereka bisa.
.
.
.
.
Chanyeol masih berdiri didepan gerbang menunggu kedatangan si albino sehun dan Jongin. Ups, tidak ada yang memberitahu Chanyeol bahwa mereka tidak masuk hari ini, akhirnya ia hanya bertemu dengan udara kosong hingga bel masuk berdentang.
"Sial, aku seperti orang bodoh disini."
.
.
.
Menjelang siang ketiga makhluk absurd tadi telah membuka matanya dan telah duduk berjajar rapi di meja makan. Mereka benar-benar seperti korban kelaparan, mengingat bahwa ini makanan pertama mereka semenjak kemarin sore.
" Kau sudah tak apa Jong?" Tuan Kim bertanya.
" Ne, aku tak apa."
" Jongie sayang…. Apa yang terjadi padamu sweety?" Seekor rusa langsung menubruk tubuh Jongin dari belakang.
" Uh,… aku sesak ge." Ujar Jongin.
" Eh, maaf… maafkan kemarin gege sangat sibuk."
" Ne tak apa.."
" Hua…. Makanan, aunty tahu saja aku belum makan. Selamat makan." Luhan berkata dengan ceria. Meghasilkan dengusan nafas dari yang lain.
Mereka makan dalam suasana tenang,
" Eh,… " Jongin tiba- tiba berhenti makan.
" Ada apa Jong?" tanya Taemin.
" Dimana Yifan ge? Kenapa tidak ikut makan?"
Nyonya kim nampak gugup dan menegang. Tapi ia berusaha menutupinya.
" Oh, Yifan ge harus kembali ke Canada, ada urusan mendadak." Tuan Kim mencoba membantu sang istri.
" Tapikan, kemarin dia janji akan menemani Jongin selama disini?" tanyanya.
" Yifan ge punya urusan lain Jongin, jangan merepotkannya, apalagi ia sedang sangat sibuk. Kau mengerti?"
" Ne.."
' Anak merepotkan'
' Kau sangat merepotkan'
' Tidak berguna'
'Kau pembawa sial'
' Eyah kau dari sini'
Jongin memegang erat sendoknya begitu kilasan masa lalunya muncul tanpa diundang. Kepalanya pusing sekali, rasanya ia ingin berlari, tapi ia tidak ingin mengacaukan suasana. Ia bukan pengacau, ia bukan perusak.
Luhan menyadari gerak-gerik aneh Jongin segera mendekatinya.
" Ada apa hmm?"
"….." gelengan kepala Jongin menjawab pertanyaan Luhan.
" Baiklah, kita ke Lotte World hari ini? mau?"
Jongin hanya menganggukan kepalanya berulang kali. Sungguh lucu.
" Jangan merepotkan Luhan ge, Jongin." Suara tuan Kim memecahkan suasana tegang yang tercipta.
'Merepotkan'
'Merepotkan'
'Merepotkan'
'Merepotkan'
'Merepotkan'
Jongin mengeratkan pegangan tanganya pada lengan Luhan. Luhan yang menyadari pun segera mengelus punggung Jongin.
" Tidak, Jongin sama sekali tidak merepotkan. Luhan ge senang pergi bersama Jongin."
Jongin memandang mata Luhan. Mencari kebohongan dimata Luhan, namun tak didapatinya. Sehun yang melihatnya merasa panas. Kalau bisa ia ingin menggantikan posisi Luhan. Tapi tidak mungkin, akhirnya ia hanya bisa mendengus.
.
.
.
.
Mereka berdua telah memasuki area Lotte world. Jongin sangat bahagia, senyum tak pernah lepas dari bibirnya, ia telah mencoba berbagai wahana yang tersedia. Mulai dari yang sederhana hingga yang ekstrem. Mereka membeli kue beras pedas dan memakannya di Taman sebelum pulang menuju ke rumah.
" Ge aku mau beli minum sebentar."
" Ne. gege tunggu disini."
Jongin segera menuju minimarket diseberang Taman. Sementara Luhan tetap duduk di bangku yang ada di taman tersebut.
" Huh,.. sekarang bahkan tidak terpisah."
Sebuah suara mengagetkan Luhan yang tengah menikmati keheningan malam di taman tersebut.
" Aku sedang tidak ingin bertegkar." Luhan membalas.
" Baby sitter huh?"
" Aku tidak ingin membahasnya…"
Jongin terlihat sangat senang ketika kembali ke taman, ia melihat Minseok duduk disamping Luhan. sembari membawa dua kaleng minuman hangat ditanganya ia segera berlari mendekat ke arah mereka. Namun tubuhnya membatu setelah mendengar setiap kalimat yang Minseok ucapkan.
" Karena bocah sialan itu kan kau meninggalkanku?"
" …"
" Karena anak manja yang selalu lengket padamu itu kan?"
"…"
" Kau bahkan lebih memilih bocah sial itu ketimbang dirimu yang kekasihmu huh,…"
"…."
" Sungguh hebat sekali bocah sial itu merusak hidupku.."
Tangan Jongin gemetar, setiap kata-kata Minseok begitu menghunus jantungnya. Nafasnya sesak. Airmatanya menetes tanpa diperintahkan.
" Jong- jongin….. bukan pembawa sial."
" Jongin bukan…."
" Jongin bukan perusak.." seluruh tubuh Jongin bergetar ia menutup kedua telinganya. Tak dipedulikannya lagi minuman yang dibawanya kini tergeletak di tanah. Tubuhnya beringsut mundur,
" Jong-Jogin bukan pembawa sial."
" Bukan…"
" Jongin bukan…"
" Bukan.."
Tubuhnya semakin bergetar. Airmatanya mentes deras. Luhan mematung mengetahui jika Jongin mendengar setiap kalimat pedas yang Minseok ucapkan. Jika itu orang lain Luhan tak akan ambil pusing, tapi ini adalah Jongin. Anak itu tidak boleh mendapatkan penolakan lagi.
" Jongin pembawa sial.."
" Jogin memang pembunuh…."
" Luhan ge harus jauh-jauh dari Jongin.."
" Harus.."
" Jongin harus pergi.."
" Ya,.. pergi.."
" Jogin sial…"
" Anak pembawa sial…"
Jongin masih terus meracau, tubuhnya masih bergetar hebat. Minseok mematung, tidak mengetahui akan begini reaksi Jongin.
" Jongin tidak boleh disini.. Jongin bukan anak baik… pergi, Jongin harus pergi…" racauan Jongin terdengar menyayat hati. Luhan masih mematung. Sebelumya Jongin tidak pernah separah ini. Tidak, trauma Jongin tidak boleh kembali. Anak itu bisa depresi.
Jongin berlari setelahnya, meninggalkan Luhan dan Minseok yang masih mematung.
" Inikah yang kau harapkan? Aku hanya memintamu mengerti…" suara luhan terdengar sangat dingin.
"…" Minseok masih terkejut.
" Kau lihat? Kau lihat akibatnya HAH? Dia bahkan sangat menyayangimu, setiap hari bertanya bisakah ia bertemu denganmu disini?"
"…."
" Terima kasih sekarang kau berhasil menghancurkan anak yang kau anggap pembawa sial, hancur, sehancur-hancurnya. Jika sesuatu terjadi kepadanya aku tak akan pernah memafkanmu. Aku memang mencintaiya. Sebatas ADIK. Harusnya kau lebih tahu hal ini."
Minseok masih mematung, ia tidak menyangka Jongin akan bereaksi seperti yang baru saja dilihatnya. Ia sungguh tidak menyangka Jongin memiliki kondisi mental yang tidak sekuat kelihatannya.
.
.
.
.
Sementara itu Jongin masih terus berlari meninggalkan taman itu sejauh-jauhnya.
Brukk
TBC
Maaf ya baru bisa bales review yang persatuan,… wah terharu sekali membaca review kawan-kawan sekalian
Terima kasih
HafifahEXO11 : Hehe terima kasih,… saya lanjutkan
ryecha0710 : Saya kembali hehehe
Gitagita48 : Salam kenal juga
Haura : Terima kasih banyak
2789 : Terima kasih banyak ya,….
World of Mind : Fighting
: Siap Lanjutkan.
hissinfullips : Terima kasih kawan,… sarannya sangat membantu sekali, setelah saya pikirkan akhirnya saya memutuskan untuk menyelesaikan apa yang telah saya mulai. Terima kasih banyak.
cute : Terima kasih banyak
byun baekhyun mahrizal fahri : Hahaha tidak apa, terima kasih.. asal menyampaikan kritikannya dengan cara yang baik meski tidak menggunakan akun asli sangat saya hargai…. Terima kasih.
Kim Eun Seob : memang angst meski gagal kekekkeke
chococheezy : Terima kasih….. Semangat…..
Hehyuk17 : Iyup,… semangat
eviaquariusgirl : Keep smile…
mynamedhiendha : Hahaha iya,… maaf ya
kimkimkimrin : Fighting
Jongkwang : Fighting
Sukmawindia : Berjuang,…..
who : hehehe iya sudah dicabut,.. maaf ya
miszshanty05 : Fighting
novisaputri09 : Fighting,… gak sampai bulanan kok hehehehe
askasufa : Semangat…
fiandra : Fighting..
kim atun : Terima kasih
jonginkai : Fighting…. Fighting,… maaf ya
gembel : hehehe saya sudah balik
kihae forever : Semangat
chankai lovers : hahahaha,… siapa ya…..? kekekke
putri : hehehe terima kasih
HaeSan, errory , tyna, Guest , YAYA, wufannie, gomiyehet, Lilac, nayunda : hahahaha maaf ya,… aku sayang kalian semua kok,… ya,.. pasti dilanjut.
