Chapter 11
Brukk
" Ya! Apa kau tak puny—eh Jonginie…."
" Hiks… Hiks… "
" Eh,.. cup.. cup jangan menangis…"
" Hiks.. Mianhae… Mianhae.. Jongin buka anak baik,.. mianhae.."
" Eh,… tidak- Jongin anak baik kok,… Chanyolie yag tidak lihat jalan."
" Hiks,.. Hiks …:
" Aish,.. sehun-ah katakana sesuatu!" Chanyeol berteriak frustasi.
" Hiks… Hiks…"
" Memamngnya menangis ada gunanya? Apa kau akan terus menangis seperti gadis cengeng yang tidak berguna heh?" oh rasanya chanyeol ingin sekali menggeplak kepala sehun. Di saat seperti ini bisa-bisanya dia mengatakan kalimat datar nan dingin kepada Jogin.
" Hiks… Hiks.."
" Kim Jongin, apa kau hanya akan menangis seperti orang tidak berguna huh?"
" Hiks,… benar.. Jongin tidak berguna. Chanyeol-ssi dan Sehun-ssi jangan dekat-dekat Jongin. Jongin pembawa sial. Nanti Chanyeol-ssi dan Sehun-ssi kena sial karena jongin. Iya, Jongin harus pergi."
Sehun dan chanyeol tidak menyangka jongin akan berkata seperti itu. Mereka seperti ditampar keras oleh kalimat yang Jongin ucapkan. Sementara itu Jongin segera bangun dan berlari menjauhi keduanya. Meninggalkan keduanya yang masih mematung karena terkejut.
" Sehun bodoh, cepat kejar Jongin." Ujar Chanyeol yang sadar terlebih dahulu.
" Sial."
Sehun akhirnya mengikuti Chanyeol yang berlari mengejar Jongin. Mereka sudah berlari secepat yag mereka bisa. Tapi mereka tak menemukan tanda-tanda keberadaan Jongin.
"Sial."
.
.
.
.
Jongin benci Korea sebenci ia pada dirinya sendiri. Sekuat apapun ia mencoba berubah mejadi Kai tapi ia tak pernah sanggup meninggalkan Jongin dalam dirinya. Ia benci menjadi orang lemah. Tapi ia lebih membenci dirinya sendiri karena tidak bisa berhenti menjadi orang yang lemah.
Korea membuatnya kembali menjadi namja cengeng yang tidak diharapkan. Jongin sadar, keberadaannya tak ubahnya sebuah debu, tak diharapkan dan tidak diinginkan. Satu-satunya orang yang menyayangi Jongin dengan tulus telah pergi. Lalu apa ada alasan bagi Jongin untuk tetap berdiri meantang mereka yang tak mengharapkannya.
Paru-parunya sakit. Ia membenci tubuhnya yang masih dengan rakusnya menghirup udara ketika Ia tak berharap dapat hidup di dunia ini.
'Jongin adalah pembunuh'
'Jongin adalah sampah'
'Jongin harus musnah'
Mati akan terasa lebih baik baginya. Dunia ini tidak membutuhkan namja munafik seperti dirinya. Ia ingin kembali ke China tapi ia pasti akan emrepotkan keluarga Lu lagi. Tidak, ia sudah menghancurkan hubungan Luhan, ia tidak mau lebih menghancurkannya lagi. Kembali ke rumah pun terasa percuma, ia akan terus mengenang bahwa dirinya adalah pembunuh. Mencari Yifan pun tak mungkin ia lakukan, Yifan akan bahagia dengan hidupnya dan Jongin hanyalah anak pembawa sial yang tidak seharusnya merusak kebahagiaan orang lain.
Sehun? Jongin bahkan baru mengenalnya, ia tidak akan mejadi beban bagi orang lain lagi. Tao? Ia saudara Luhan pasti ia aka member tahu Luhan mengenai keberadaannya. Pikiran Jongin bertebaran tak tentu, mulai dari masalalunya, masa kini, dan pilihan terbaik baginya hanyalah satu hal.
.
.
.
Luhan segera menuju mobilnya dan menghubungi nomor ponsel Jongin.
Drrtt…. Drrrttt
"Sial"
Ponsel Jongin ada di bagku sebelah kemudi. Jongin tak sengaja menjatuhkannya sebelum keluar tadi. Luhan menyalakan mesin mobilnya dan mulai menyusuri jalan mencari keberadaan Jongin.
Luhan mencoba menghubungi Taemin untuk menanyakan kepulangan Jongin.
" Taemin-ah…"
" Ne Ge, Mian pintu rumah memang kami kunci semua, kami lupa tadi sewaktu akan pergi, biarkan Jongin menginap di tempatmu ya ge, malam ini. Gomawo"
" Ah ne…"
Jongin tidak mungkin pulang. Luhan yakin itu. Ia kembali menyusuri jalan mencari keberadaan Jongin. Tumbuh bersama Jongin membuatnya ingin melindungi Jongin dari apapun hal yang mungkin menyakitinya. bahkan ia rela meninggalkan kekasihnya dan lebih memilih jongin. Rasa sayang Luhan terhadap Jongin membuatnya menjadikan Jongin prioritas diantara segala hal. Apapun asal Jongin dapat tersenyum tulus dan bahagia.
.
.
.
.
Disini ia berdiri, menatap kosog langit yang seolah mengejeknya. Bintang bersinar dengan terangnya seolah menertawakan keadaanya. Apalagi yang Jongin harapkan? Ia tak memiliki hak apapun di dunia ini. Semuanya kosong. Separuh hatinya telah mati dan kini separuhnya lagi telah berdarah-darah tak terselamatkan. Apa yang ia harapkan?
Mati adalah pilihannya. Dengan kematiannya maka tak aka nada lagi kesiala menimpa sekitarnya. Ia adalah beban berat yang terpaksa dipikul oleh orang disekitarnya. Ia menertawakan dirinya sendiri. Bagaimana mungkin ia mengharapkan kebahagiaan ketika dirinya sendiri adalah sumber kesialan?
Arus deras air sungai Han seolah menantang keberaniannya. Matanya menatap kosong ke bawah namun airmata tak jua kering dari pipinya. Setiap kenangan yang terukir menetes dalam setiap titik airmatanya yang jatuh. Ia tertawa seperti orang gila, menertawakan kebodohannya sendiri atas impian semunya.
Apakah Tuhan melihatnya? Ah pasti Tuhan melihatnya, ini mungkin akibat yang harus ditanggungnya karena menjadi sumber kesialan bagi orang lain. Lalu kenapa ia diciptakan? Apakah Tuhan melakukan kesalahan? Tidak. Tuhan tidak pernah salah. Jongilah yang salah.
Ketika mati menjadi pilihan terbaik apakah ada baginya alasan untuk tetap hidup? Ketika Tuhan megecapnya sebagai pendosa, apakah tidak lebih berdosa lagi ketika ia mejadi pembawa sial bagi orang disekitarnya? Ketika neraka menunggunya, apakah dega tetap hidup ia akan terbebas dari bayangan neraka?
Bahkan mungkin dosanya tidak akan pernah terhapus. Ia menjadi pembunuh di usia 4 tahun. Bukankah dirinya memang tercipta sebagai pendosa. Tubuhnya sudah lelah, berpura-pura mejadi orang yag kuat membuat orag lain tak mengusiknya tapi tidak dengan hatinya. Luka itu masih terbuka, menganga dengan darah yang terus mewarnainya. Hingga mungkin hatinya telah busuk sekarang. Tidak ada manusia yang mampu hidup dengan hati yang busuk, kecuali ia adalah monster.
Benar, Jogin adalah monster bukan manusia. Lalu, untuk apa ia hidup? Diam dan mencari namun tak satupun alasan ia temui. Bukankah pilihannya tetap satu.
Kematian adalah harga mati baginya.
.
.
.
" Kita berpencar, hubungi aku kalau kau menemukannya." Chanyeol berujar segera membelokan dirinya menyusuri jalan sepi. Sementara Sehu terus berjalan.
.
.
" Tao-ya, bantu aku cari Jongin."
"…"
" Tinggalkan balap sialmu, Jongin lebih penting"
PIP
Luhan mengurut keningnya frustasi. Ia merutuki kebodohannya hari ini. Ia adalah tempat terakhirnya bersandar. Ketika di China maka jongin akan berlari ke makam neneknya, tapi disini?
.
.
.
Jongin memajat sedikit pagar pembatas jembatan. Indah. Satu kata yang terlintas diotaknya ketika ia melihat pemandangan di hadapannya. Mungkin Tuhan berbaik hati padanya memberikan kenangan indah sebelum kematiannya.
Ia memejamkan matanya. pasrah. Ia telah rela menyerahkan nyawanya.
GREP
" Kenapa kau begitu bodoh?"
"….."
" Mati tidak akan meyelesaikan masalah bodoh…"
" Mati akan membuatku hilang…"
" Lalu apa untungnya untukmu?"
" Tidak ada alasa bagiku untuk hidup.."
" Bodoh. Aku, kau harus hidup karena aku…"
" Apa maksudmu?"
" Kalau kau tak punya alasan untuk hidup. Jadikan aku sebagai alasanmu. Jadilah Kai!"
TBC
