Chapter 12

" Kenapa kau begitu bodoh?"

"….."

" Mati tidak akan meyelesaikan masalah bodoh…"

" Mati akan membuatku hilang…"

" Lalu apa untungnya untukmu?"

" Tidak ada alasan bagiku untuk hidup.."

" Bodoh. Aku, kau harus hidup karena aku…"

" Apa maksudmu?"

" Kalau kau tak punya alasan untuk hidup. Jadikan aku sebagai alasanmu. Jadilah Kai!"

" Kau tidak mengerti Sehun-ssi…"

" Aku memang tidak megerti. Tapi biarkan aku memahamimu."

" Tidak ada alasan bagimu memahamiku.."

" Mengapa semua hal harus membutuhkan alasan untukmu?"

" Manusia hidup untuk sesuatu kan?"

"…."

" Kalau hal yang diharapkan telah hilang, bisakah manusia itu tetap hidup?"

" Bisa. Temukan alasan lain utuk membuatmu tetap hidup."

" Apa? Apa alasanku untuk tetap hidup?"

" Keluargamu membutuhkanmu…"

" Tidak. Mereka tidak membutuhkanku….."

" Pasti ada"

" APA? APA YANG HARUS KULAKUKAN? SEMUANYA TIDAK MEMBUTUHKANKU-

Cup

Blink…. Blink…blink

Perkataan Jongin terputus begitu Sehun membalikkan tubuhnya dan mengecup bibirnya pelan. Sehun kemudian menempelkan dahinya ke dahi Jongin.

Blink.. blink…blink

" Aku. Aku membutuhkanmu, aku mencintaimu. Tetaplah hidup untukku."

Jongin masih membeku dalam keterdiamannya. Jantungnya berdegub kencang, serasa jutaan kupu-kupu terbang diperutnya. Matanya masih menatap lurus ke dalam mata Sehun seolah mencari kebohongan dalam perkataan itu. Namun, semua tak nampak dalam mata itu. Hanya ketulusan dan keseriusan yang terpancar darinya.

" Ja-jangan mengucapkan sesuatu yang tidak kau yakini Sehun-ssi."

" Aku tidak pernah seyakin ini."

"…"

" Berubahlah untukku, aku membenci airmatamu."

"…"

" Lagi pula kau terlihat lebih sexy saat mejadi Kai seperti di balap mobil waktu itu."

Wink***

"YA! DASAR PERVERT"

" Hahahahaha… Ayo pulang"

" Andwe "

" Apa perlu aku menggendongmu hmmm?"

" Ani. Aku namja manly tahu…"

" Huh? Namja manly tidak mungkin menangis sambil lari-lari di jalan…. Yang ada itu namja sinting"

" YA!"

" Hahahahaha….."

.

.

.

Dibalik pohon yang tak terlihat, seseorang mencengkram erat dadanya 'sakit' ia membalikkan tubuhnya menjauhi area itu.

"Hidup untuk sebuah alasan?"

" Bodoh"

Ia merutuki dirinya sendiri.

.

.

.

" kita mau kemana sekarang?"

" kau ingin kemana?"

" Tidur."

" Baiklah, kita ke apartemenku.."

" Huh?"

" Kenapa?"

" Kau tidak berniat macam-macam bukan?"

" Eh, kalau aku ingin macam-macam bagaimana?"

" He? Turunkan aku."

" Aku bahkan tidak menggendongmu."

" Aish,… kau menyebalkan."

" Dan kau sangat menggemasakan."

" Ya! Aku manly,.. sudah kubilang berulang-ulang."

" Ya. Dan kau juga yang membuktikan itu tidak benar."

" Menyebalkan."

" Memang"

Mereka telah sampai dalam apartemen sehun. Jongin menjatuhkan tubuhnya di sofa dalm apartemen. Sementara Sehun segera menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri setelah seharian beraktivitas. Dua puluh menit kemudian ia keluar dari kamarnya dan sudah nampak segar. Ia segera meuju ke sofa. Bibirnya membentuk senyum tipis begitu melihat Jongin yang tertidur dengan mulut yag sedikit terbuka, ramput berantakan, dan nampak menggelung tubuhnya untuk memperoleh kehangatan. Nampak sama seperti anak kucing yang ditinggal induknya pergi.

Sehun segera mengangkatnya pelan dan memindahkannya dalam kamar Sehun. Satu-satunya kamar yang tersedia dalam apartemen Sehun.

" Mungkin aku memang belum mencintaimu, tapi aku akan mecoba mengerti dirimu." Lirih sehun.

Cup

Sehun menyelimuti Jongin dan ia segera merebahkan tubuhnya di sofa dalam kamar yag sama.

Setetes airmata meluncur mulus dari manic mata Jongin yang terpejam. Tak ada isakan. Namun genggaman erat tangannya dalam selimut membuktikan betapa Ia menahan tangisannya.

.

.

.

.

" Sehun-ssi,.. bisakah kau mengantarkanku pulang?" Jongin bertanya dengan mata yang nampak memiliki lingkar panda.

" Eh,… kau bisa memakai seragam milikku untuk ke sekolah."

" Ani,.. aku tidak ingin berangkat ke sekolah. Aku ingin istirahat di kamarku. Aku sulit tidur ditempat lain."

" Arraso, tunggu aku memakai seragam dulu ne?"

" Hummm"

.

.

.

Sehun mengantar Jongin ke rumahnya. Tampaknya keluarga kim sedang menghabiskan sarapannya.

" Jongie,… tidak bersama Luhan ge?" Tanya Taemin.

" Ani, Sehun yang mengantarku." Ujarnya sembari memasuki kamarnya

" Ah,… Sehun-ah, sudah sarapan? Mau bergabung bersama kami?" Tanya nyonya Kim.

" Ani Ajhuma,.. saya buru-buru ke sekolah. Oh… ya Jongin sedang tidak enak badan. Jadi hari ii ia tidak masuk sekolah."

" Sehun… kenapa Jongie bersamamu? Seingatku kemarin ia pergi bersama Luhan ge?"

" Ah,.. semalam kami tidak sengaja bertemu. Sepertinya Luhan-ssi sedang ada urusan sehingga Jongin bersamaku."

" Oh baiklah. Gomawo sehun-ah."

" Ne, aku berangkat. Apa kau mau ikut sekalian?"

" Ani. Miho hyung menjemputku."

" Baiklah. Aku permisi. Anyeong."

.

.

.

" Jongie, kau baik-baik saja?" tanya nyoya kim melihat putranya bergelug dengan selimut.

Jogin yang terkejut segera bangkit dari tiduranya karena terburu-buru ia tersandug selimutnya sendiri hingga jatuh dan kepalanya membentur pinggiran ranjang.

'Argh" ujarya sambil megelus kepalanya.

Nyonya kim yang terkejut segera mendekat dan mengangkat tangannya untuk memeriksa kepala Jongin. Namun Jongin menutup matanya ketakutan. Nyonya kim menghela nafasnya. Ia mengelus kepala Jongin lembut.

" Apa sebegitu takutnya kau pada ibu Jongie?"

Jongin yang shock hanya mampu membuka matanya dan memandang kosong ke depan. Melihat anaknya hanya terdiam, Nyonya Kim mengelus pipi Jongin pelan.

" Apa kau sangat takut pada ibu?"

"…"

" Apa ibu sangat jahat padamu Jongie?"

"…"

" Tidak bisakah kau memaafkan ibu sayang?"

"…"

" Kau pasti sangat lelah ya? Tidurlah lagi. Ibu akan menjagamu."

Jongin dibaringkan ke atas ranjangnya dan Nyonya kim menyelimutinya kemudian mengecup keningnya pelan.

"Apakah Jongie bermimpi?" Jongin bertanya masih dengan memadang ibunya tak percaya.

" Ani. Jongie tidak bermimpi. "

" Apakah jika jongie meutup mata semua akan tetap sama?"

" Ne. semua akan tetap sama."

Jongin menutup mata dan mengeratkan selimutnya. Senyumnya tersemat manis dibibirnya. Sementara air mata nyonya Kim menetes dipipinya.

Mungkinkah ini awal yang baik untuk keduanya? Atau justru membuat hubungan keduanya menjadi lebih buruk?

.

.

.

Luhan berbaring di kasur dalam apartemennya. Sebelah hatinya terasa sakit dan sebgian lainnya merasa sangat lega.

" Haruskah aku melepasnya?"

" Sanggupkah aku melepasnya?"

" Apa artinya aku baginya?"

" Bahagiakah ia tanpaku?"

Luhan bermonolog dan mengacak rustasi rambutnya. Kejadian semalam terus terbayang dalam benaknya. Otaknya tak mampu berfikir jernih saat ini.

.

.

.

" Sehun-ah, jangan bermain dengan perasaan."

"…."

" Kita hentikan saja semua ini. Lupakan, seolah kita tidak pernah membuat sebuah taruhan konyol ini. Semua ini hanya akan merusak diri kita sendiri dan menghancurkan perasaan orang lain."

" Kita sudah separuh jalan."

" Justru karena kita baru setengah, sebaiknya kita hentikan saja. Maafkan aku. Semua ini karena ide konyolku."

TBC