Chapter 13
Pagi menyapa membawa awal baru bagi semua insane yang menatp matahari pagi penuh semangat, tak terkecuali par siswa high scholl yang saat ii tegah berkutat dengan buku pelajaran di kelas masing-masing. Namun sepertinya tidak semuanya berada di kelas.
" Sehun-ah, jangan bermain dengan perasaan."
"…."
" Kita hentikan saja semua ini. Lupakan, seolah kita tidak pernah membuat sebuah taruhan konyol ini. Semua ini hanya akan merusak diri kita sendiri dan menghancurkan perasaan orang lain."
" Kita sudah separuh jalan."
" Justru karena kita baru setengah, sebaiknya kita hentikan saja. Maafkan aku. Semua ini karena ide konyolku."
" Oh sehun tidak pernah menarik perkataannya tuan Byun."
" Sehun-ah, kau tetap akan mendapatka mobil itu. Kita hentikan saja okay? Aku sudah bosan dengan semua ini."
" Tapi aku belum."
" Kau sangat keras kepala."
" Hanya sebentar lagi. Chanyeol aka kembali kepadamu dan mobil itu akan menjadi milikku."
" Lalu?"
" Apanya yang lalu?"
" Bocah Kim itu, apa yang ingin kau lakukan padanya?"
" Seperti yang lainnya tentu saja."
" Kau memang brengsek. Aku sudah mengingatkanmu. Kau bisa tetap mengambil mobil itu."
" Oh sehun tidak akan mengambil sesuatu yang belum dimenangkannya."
Suasana koridor yang sepi karena masih jam pelajaran membuat Sehun dan Baekhyun berbicara dengan santai. Tak ada yang perlu di khawatirkan akan ada yang mendengar percakapan mereka karena saat ini seluruh siswa sedag mendengarkan penjelasan membosankan dari setiap seosangnim yang ada di kelas. Oh, mungkin kita melupakan seseorang yang tengah berdiri mematung dalam bilik kamar mandi mendengar dengan jelas percakapan yang mereka lakukan.
" Begitu ya?" suaranya berbisik lirih tapa terdengar oleh siapapun.
" Cukup Sehun, permainan ini kita akhiri saja."
" Kau masih belum mengerti Baek…"
" Apa yang tidak ku mengerti huh?"
" Kau pikir untuk apa aku mau melakukan kegilaan ini Baek?"
" Kau menyukai tantangan kan?"
" Apakah sedangkal itu kau menilaiku selama ini Baek?"
" Apa maksudmu Hun?"
" Jangan bilang kau-
" Ne, aku menyukaimu Baek, aku melakukan semuai ini agar kau melihatku, agar kau tersenyum untukku Baek. Bukan chanyeol atau yang lain."
" Tidak. Ini tidak mungkin.. hentikan semua omong kosong ini Sehun-ah…"
" OMONG KOSONG KAU BILANG?"
"…"
" Setelah apa yang kulakukan agar kau mau hanya sekedar melihatku yang selalu menunggumu kau masih saja menganggap ini semua omong kosong?"
"…"
" Khe…. Harusya aku percaya pada Chanyeol. Harusnya aku tahu kau bukalah orang yang akan perduli pada perasaan orang lain. Bodohnya aku karena meski aku tahu hatiku masih tetap memilihmu."
"…"
" Lakukan sesukamu sekarang. Aku berhenti."
"….."
Sehun meninggalkan Baekhyun sendiri. Separuh hatinya hancur, namun entah mengapa ia justru merasakan sebuah kelegaan hari ini. Sakit masih terasa namun bukan sesak yang menyiksa. Sebuah kelegaan dan penyesalan-mungkin.
Namun perasaan itu kini tak bertahan lama, sebuah padu baja seolah meimpa kepalanya dan sebuah pedang beracun seolah menusuk tepat dijantungnya. Dihadapannya kini. Seorang Kim Jongin berdiri dalam diam dengan setetes airmata yang menetes perlahan dari mata indahnya.
" Kamsahamnida Sehun-ssi." Jongin membungkukan tubuhnya dan berlalu dari hadapannya.
" Kamsahamnida, Byun Baekhyun-ssi. Aku tidak tahu kesalahan apa yang aku pernah buat padamu atas semua luka yang kau berikan kepadaku. Tapi aku akan tetap meminta maaf, mungkin dalam kehidupa yang lalu aku sagat bersalah kepadamu hingga kau membalasnya saat ini. Atau mungkin juga karena keberadaanku membuatmu tidak nyaman. Joesonghamnida." Jongin membungkukan tubuhnya sekali lagi dan berlalu dari sana.
Sehun dan Baekhyun hanya mampu menatap kosong punggung Jongin yang semakin Jauh dari pandangannya kini. Keduanya tak mampu berkata-kata. Tubuh mereka seolah kaku dan membeku atas apa yang baru saja terjadi di hadapan mereka saat ini.
" Aku memang kecewa pada kalian" Suara itu- Chanyeol mengembalikan kesadaran Baekhyun dan Sehun.
" Tapi aku sangat kecewa padamu Sehun-ah, kau sudah seperti dongsaengku. Harusnya kau tak perlu kau melakukan semua ini demi pria jalang sepertinya." Ujar Chanyeol menatap sinis Baekhyun.
" Kini kau lihat, demi sebuah bunga plastic kau justru merusak sekuntum mawar. Mungkin bagimu sekuntum mawar tidak berharga, tapi bandingkanlah, apa yang kau dapat dari sekuntum mawar dan sebuah bunga plastic?"
" Hyung-"
" Tidak, kau tidak perlu meminta maaf kepadaku, kau tak memiliki salah apapun kepadaku. Bahkan aku baik-baik saja saat ini. Tapi minta maaflah pada seseorang yang-
PYARRRR
" Hatinya kau hancurkan seperti gelas itu!.. ah iya, hanya sebuah gelas, tapi apakah bisa diperbaiki meski kau menggunakan lem terbaik sekalipun?"
"…"
" Pikirkanlah, aku pergi."
Chanyeol meninggalkan lorong tersebut dengan langkah ringan. Menyisakan Sehun yang terdiam dan mematung sementara Baekhyun yang menangis di belakangya. Tidak. Sehun tidak merasakan apapun atas tangisan Baekhyun, semuanya hambar. Tidak terasa apapun lagi dihatinya. Kosong.
Ah… penyesalan memang selalu terletak di akhir cerita kan?
.
.
.
Jongin berjalan dalam diam. Ia mengeratkan genggaman tangannya. Semuanya tampak buram dalam langkah yang tak pasti. Hatinya kini entah seperti apa bentuknya. Kelam. Semuaya tak nampak. Terjebak dalam kubangan hitam.
Drrtt…. Drrttt
Message :
Jongin-ah gege menunggumu di taman dekat sekolahmu sekarang.
Ia tidak tahu nomor pengirim pesan tersebut. Tapi keyakinannya hanya satu. Orang itu, ia pasti bisa membatunya kini. Untuk yang terakhir kalinya.
.
.
.
.
" Luhan ge, bisakah temani aku ke taman bermain besok pagi?"
" Bukankah kau harus sekolah beruang nakal?"
" Aku ingin bolos sehari saja hyung. Aku merindukan taman bermai seperti ketika kita di China dulu. Tapi kia tidak mungkin kembali kan? "
" Hei,… tapi membolos bukanlah pekerjaan anak baik chagi."
" Ayolah, hanya sehari saja."
" Arraso. Ini yang terakhir kalinya kau membolos arra?"
" Ne. Yaksok."
Jongin menutup teleponnya. Ia berjalan menuju taman dekat sekolah. Mood belajarnya sudah hancur. Berada dalam kelaspun tidak akan membantunya sama sekali.
" Jongin-ah!"
" Jongin-ah! Tunggu….."
GREP
" Mianhamnida"
" Eh? Kenapa minta maaf padaku Chanyeol-ssi?"
" Maafkn aku, karena aku menjadikan mu sebuah bahan taruhan denga Sehun. Ah… sebearnya bukan dirimu tpi entah mengapa akhirnya ku terpaksa ikut terseret dalam benang kusut hubungan kami."
" Gwenchana Chanyeol-ssi. Aku juga minta maaf atas segela hal yang telah terjadi. Mianhamnida."
" Ah.. Gwenchana. Chingu?" tanya Chanyeol dengan menyodorkan kelingkingnya.
" Ne. Chingu." Jongin membalas dengan memberikan kelingkingnya pula. Pinky promise.
" Kau mau pergi kemana? Mau ku antar?"
" Ani. Aku hanya ingin pergi ke taman. Chanyeol-ssi tidak perlu mengantarku."
" Chanyeol-ssi aniya! Chanyeol hyung.. arra?"
" Ne. Chanyeol hyung."
" Baik. Hati-hati Jongin-ah."
" Ne. hyung."
Melupakan tatapan sendiu dari seseorang yang melihat semua kejadian disana. Mengepalkan tangannya erat dan pergi meninggalkan tempatnya.
.
.
.
.
." Aku pulang "
" Jonginie sudah pulang chagi?"
" Ne Appa." Jongin tiba-tiba mendekati tuan Kim dan memeluknya erat.
" Aigoo. Ada apa dengan bayi beruang appa eoh?"
" Ai. Jongin lelah appa. Ingin dipeluk. Biasaya halmonie akan memeluk Jongin. Tapi karena halmonie tidak ada. Jongin peluk appa saja ne?"
" Tentu saja chagi. Selamanya Jongin tetap bayi beruang appa."
" Uhum… Jongin mengantuk appa."
" Mau tidur?"
" Ani."
" Lalu?"
" Ingin gendong Appa."
" Aigoo… lihat tubuhmu sudah sebesar ini masih minta gendong eoh?"
" Sekali saja Appa."
" Arra.. arra naiklah ke punggung appa."
HUP.
" Yeah… appa daebak."
" Kita meluncur…"
" Hahahahahaha…"
Nyonya kim hanya mampu tersenyum haru melihat pemandangan itu. Harusnya itu terjadi 10 tahun yang lalu. Harusnya hanya ada tawa yang menghiasi rumah ini.
.
.
.
" Taemin hyung…"
" Ne Jonginie?"
" Jongin ingin tidur bersama hyung."
" Aigoo.. kenapa hari ini manja sekali eoh?"
" Hanya ingin kan sering pergi bersama manusia berwajah katak itu. Jadi sekarang harus mau menemani Jongi tidur. Tidak ada penolakan.
" Arra.. arra.. kita tidur sore?"
" Ne!"
HUP.
" Jaljayo hyung."
" Hmmm.. jaljayo chagi."
" Hyungie hangat….. nyaman."
" Kekekeke…. Jongie juga. Lebih hangat dari Mr. Teddy. Seperti winie the pooh… beruang madu yang imut dan manis."
" Ani,.. Hyungie lebih imut."
" Jongie lebih manis… dan… sexy"
" Huh? "
" Lihat, pinggang rampingmu,kulit tanmu yang halus dan bibirmu yang minta dicium itu…"
" Hah?"
" Kalau kau bukan kemaranku mungkin aku sudah menjadikanmu kekasihku chagi."
" Aku tidak mau pacar yang pendek."
JLEB.
" Ka… Tidur." Ujar Taemin jengkel.
" Kekekekeke,… mimpi indah hyung."
" Mimpi indah chagi."
.
.
.
" Kurasa tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi Minseok-ssi."
" Ne. kau benar. aku kesini hanya ingin meminta maaf."
" Kau meminta maaf pada orang yang salah."
" Hmm.. tapi hanya ini kesempatan terakhirku."
"….."
" Kumohon sampaikan maafku pada Jongin-ssi, Luhan-ssi. Setelah ini sudah tidak aka ada kesalah pahaman lagi. Semuanya sudah berakhir dan sudah jelas. Dan juga maafkan aku tas segala sikapku dulu terhadapmu. Meski bukan hal yang baik untuk dikenang namun terselip beberapa kenagan idah di dalamnya. Semua sudah tertulis dalam lembar kenangan hidupku. Kamsahamnida Luhan-ssi. Semoga kau bahagia."
"….."
" Aku pergi."
Minseok meninggalkan Luhan yang masih duduk termenung dalam café yang nampak nyaman tersebut.
' Bagaimana aku bisa bahagia jika sebagian hatiku kau bawa dan menyisakan kekosongan belaka Minseok-ah?' Batin luhan dalam keterdiamannya kini.
.
.
.
" Yoebo… panggilkan anak-anak. Ini waktunya makan malam." Ujar nyonya Kim.
" Ne…"
" Adeul-ah…. Kajja makan malam sudah siap. Sebaiknya kalian mandi dulu supaya lebih segar." Tuan kim membangunkan Jongin dan Taemin yang masih nampak bergelung dengan selimut hagngatnya.
" Ne Appa…"
" Gendong.." Ujar Jongin dan Taemin bersamaan.
" YA! Lihat tubuh kalian sudah sebesar karung beras begitu bagaimana cara appa menggendong huh?"
" Hahahahahaha" Tawa bahagia itu kembali meghiasi kediaman keluarga Kim. Yang etah kapan akan terulang lagi.
.
.
.
" Umma suapi aku."
FREZE
Tidak. Itu bukan suara Taemin. Itu jelas suara Jongin. Jongin memita nyonya kim untuk mnyuapiya. Sungguh tidak ada yang lebih bahagia dari mala mini. Puteranya telah kembali.
" Umma tidak mau ya?" tanya Jongin.
" Ani. Umma mau, ayo sayang umma suapi nak."
Hal sederhana yang meninggalkan senyum tulus diantara keluarga bahagia itu. Atau mungkin sendu?
'Aku ingin malam ini tidak cepat berakhir. Kumohon Tuhan'
TBC
