CHAPTER 14

" Ge…. Ayo kita pergi ke Lotte World.. Kaja.. kaja"

" Ne,… kenapa hari ini begitu bersemangat hmmmm?"

" Sudah lama aku tidak ke taman hiburan ge,…. Ayo naik roaler coaster."

" Arra,..Kaja…"

Hampir setengah dari wahana yang ada di taman hiburan telah mereka coba. Hingga kini mendekati jam makan siang. Keduanya segera mencari café yang ada dalam area wahana hiburan.

" Kau lelah hmmm?"

" Ani ge,… aku semangat hari ini. Sangat bahagia."

" Hmmm?"

" Aku merindukan China ge. Kapan kita bisa kembali kesana ya?"

" Liburan semester nanti kita bisa pergi bersama sayang."

" Ya. Kalau bisa."

" Pasti bisa sayang. Aunty pasti mengijinkan."

" hmm…"

"Kau ingin makan apa?"

" Ayam. Ice cream. Buble Tea. SEPUASNYA."

" Hahahahaha dasar beruang gendut."

" Aku tidak gendut ge."

" Arra. Tapi kau chubby."

" Ani. Aku seksi."

" Ne. beruang gendut yang seksi."

" Aku tidak gendut…"

"Arra. Ayo kita makan."

Mereka memasuki café yang mereka pilih dan memesan menu untuk makan siang mereka sambil bergurau.

" Ge, seandainya Jongie tidak ada apa yang akan gege lakukan?"

" Huh? Jongie akan selalu ada di hati gege sampai kapanpun."

" Gege janji?"

" Tentu saja. Gege tidak pernah mengingkari janji gege pada Jongie bukan?"

" Hmm…"

" Sekarang makan."

" Ne."

Mereka menghabiskan sisa setengah hari dengan berjalan-jalan mengelilingi korea. Dan berakhir di han gang. Gurat lelah nampak di wajah manis Jongin, namun senyum manis tidak pernah terlepas dari bibirnya.

" Aku menyayagi gege, kejarlah cinta gege hmm.."

" Apa maksudmu sayang?"

" Minseok ge, gege masih mencitainya. Kerjar dia ne.."

" An-

" Gege bohong. Jongie tahu gege. Jongie menyayangi gege. Gege adalah kakak terbaik milik Jongie. The one and only. Gege harus bahagia dengan orang yang gege cintai."

" Tapi-

" Jongie akan bahagia. Kita bahagia bersama. Jongie pasti menemukannya suatu saat nanti."

" Jongie-

" Berjanjilah ge? Hmm?"

" Janji."

" Janji."

Luhan memeluk jongin dari belakang. Mereka meresapi kehenigan bersama. Air mata itu menetes. Namun Jongin segera menghapusnya. Ini demi kebaikannya dan kebahagian semua orang yang dicintaiya. Senyum. Ia harus tersenyum dalam memilih keputusannya.

'aku mencintai kalian'

Mereka kembali ke rumah ketika waktu makan malam. Jongin meminta ijin tidak ikut makan malam karena kelelahan. Ia segera menuju kamarya dan merebahkan tubuhnya. Sementara Luhan segera kembali ke apartemennya.

.

.

.

Sehun berdiri di jembatan sungai han, ia berdiri disana sejak matahari hampir tenggelam tadi. Ia melihat semuanya, bagaimana Jongin tersenyum bersama orang yang diketahuinya sebagai Luhan. Ia tak memungkirinya, hatinya terasa nyeri melihat pemandangan di hadapan matanya tersebut. Bahkan nama baekhyun sama sekali tidak terlintas dibenaknya kini. Seluruh hati dan pikirannya tertuju pada Jongin seorang. ia sadar ia begitu bodoh selama ini. Matanya tertutup oleh obsesi ingin memiliki baekhyun melupakan semua orang yang ada disekelilingnya. Seaindanya dulu ia tidak mengenal baekhyun seandainya dulu ia bukan sahabat dari seorang Park Chanyeol. Seandainya,..

Hanya kata seandainya yang mampu ia ucapkan dalam hatinya.

" Menyesal heh?" sebuah suara membuyarkan lamunannya.

" Biasa saja."

" Akuilah, ia terlalu indah. Sulit bagi siapapun untuk tidak mengaguminya."

" Lalu? Apa?"

" Kau bodoh, aku selama ii tidak pernah sekalipun membuang baekhyun atau mencampakkannya. Ia sendiri yang memulai, ia tidak pernah puas. Meski ia bersama denganku tapi ia selalu mencari lelaki lain yang menurutnya lebih. Hingga malam itu, aku melihat sendiri bagaimana ia berciuman panas, diatas ranjang dengan seorang pria. Malam ulang tahunku."

"Ap..appa yang kau kataka hyung?"

" Kau dibodohi olehnya. Ia menggunakanmu karena tahu kau mengaguminya."

" Ini semua tidak benar kan?"

" Kau tidak perlu percaya padaku. Tidak ada untung maupun ruginya bagimu. Tapi hati seseorang terlanjur pecah berkeping-keping karena perbuatan bodohmu."

" Maksudmu?"

" Maaf memang tidak dapat merekatka kembali hati itu, setidaknya maaf akan sedikit meredakan sakitnya."

" Hyung, kau-

" Aku menyukainya. Tapi aku lebih menyukai ketika ia tersenyum dengan bahagia. Cinta itu tidak harus memiliki Sehun, jika cinta yang kau miliki tidak terbalas. Yakinlah, cinta lain yang jauh lebih indah menantimu."

" Hyung-

" Tidak semua rasa suka adalah cinta. Aku pergi."

Chanyeol meniggalkan Sehun yang masih terpekur memikirkan kata-kata chanyeol tadi. Tidak, chanyeol tidak menyerah, namun ia juga tidak akan menghalangi seseorang untuk menggapai kebahagiaannya. Biarlah, ia berusaha da orang lain juga berusaha. Takdir akan menentukan hasil akhirnya.

.

.

,

" Apa yang kau lakukan disini Byun?" suara chanyeol terdengar dingin.

" Chanyeol dengarkan penjelasanku."

" Hubungan ini sudah berakhir saat mataku sendiri mendapati buktinya."

" Kumohon-

" Kau sudah mengenalku sejak kita disekolah dasar. Dan kau tahu apa hal yang paling ku benci."

" Chan, kumohon maaf-

" Bahkan meski kau bunuh diri didepanku sekalipun aku tidak akan mengubah keputusanku.. bukalah matamu dan carilah orang lain yang menerimamu dan mencintaimu."

" Chan, aku tidak bercanda. Aku akan bun-

BLAM

Chanyeol masuk kedalam apartemennya dan membanting pintunya dengan keras.

Ceklek

Pintu terbuka

" Satu lagi, jika ingin bunuh diri jangan disini. Aku malas berurusan dengan polisi. Sungai han atau melompat dari namsan tower terdengar lebih elit."

BLAM

Pintu kembali tertutup. Meninggalkan baekhyun yang ternganga di depannya.

" SIALAN KAU PARK"

"….."

Tidak ada sahutan. Baekhyun menendang pintu apartemen Chanyeol dan segera pergi setelahnya.

.

.

.

Jongin terduduk di atas ranjangnya. Ia segera merebahkan tubuhya ketika mendengar suara langkah kaki mendekati pintu kamarnya.

" Jongie, umma masuk ne…"

"….."

Jongin memejamkan matanya berpura-pura tertidur.

" Ah,.. kau bahkan tidak mengganti bajumu nak."

Nyonya kim mendekati jongin. Melepas sepatu dan kaos kaki yang masih menempel di kakinya. Membuka jaket jongin yang dipakai jongin dan menyelimutinya. Tak lupa nyonya kim mengatur suhu kamar agar lebih dingin. Setelahnya ia segera beranjak meinggalkan kamar Jongin.

Perlahan, jongin membuka matanya. setetes air mata nampak meninggalkan manic coklat tersebut menetes membasahi sisi atas pipinya.

" Ini yang terbaik." Lirihnya.

.

.

.

pagi telah menjelang, Taemin disibukan dengan pakaian seragam yang dikenakannya. Sambil menjinjing tas di pinggungnya ia menuju ke pintu kamarJongin.

Tok tok tok

"Jongie, ayo turun…."

Tok tok tok

" Ah, aku tunggu dibawah ne…" Ujar Taemin meninggalkan depan pintu kamar Jongin.

.

.

.

" Dimana Jongie chagi?"

" Masih dikamarnya oemma."

" Ah, bangunkan dia, kalian hampir terlambat. 30 menit lagi bel masuk berbunyi bukan?"

" Ne Oemma."

Taemin kembali ke lantai dua arah kamar Jongin berada.

Tok Tok Tok

" Jongie,.. bangun saeng?"

Tok tok tok

" Jongie?"

tok tok tok

ceklek, … taemin membukan pintu kamar setelah tidak ada jawaban dari dalam.

" Jongie,…"

tidak ada jawaban. Kamar tersebut nampak rapi. Taemin menuju pintu kamar mandi.

Tok tok tok

" Kau di dalam Jongie?"

masih tidak ada jawaban.

Ceklek.

.

.

" EOMMA"

.

.

.

.

.

.

" Kau yakin dengan semua ini saeng?"

" Ne, aku yakin dengan keputusanku"

" Belum terlambat untuk kembali saeng."

" Ani. Aku sudah yakin dengan keputusan ini."

" Arraso."

.

.

.

" Luhan-ah, Jongie bersamamu?"

" Ia tidak ada di kamarnya."

" Tas sekolahnya tidak ada."

….

" Pakaiannya masih tertata rapi di dalam lemarinya."

….

" Baiklah, umma tunggu."

PIP

Nyonya kim mendudukan dirinya di sofa, pikirannya sedikit kacau, putranya tidak ada di dalam kamarnya, semua terasa janggal kali ini.

Pikirannya melayang ke masa lalunya.

FLASHBACK

SRET

BRUK

"Akh….."

.

.

"Dokter tolong istri saya." Suara suaminya terdengar begitu putus asa.

Nyonya kim hanya mampu bernafas putus-putus menggenggam tangan sang suami yang menuntunnya ke dalam ruang ICU. Setelahnya semua terasa gelap.

.

.

"Maafkan kami, namun janin yang ada dalam kandungan nyonya kim tidak bisa kami selamatkan. Kandungan nyonya kim yang lemah ditambah benturan yang cukup keras menyebabkannya tidak dapat bertahan. Karena insiden ini kami terpaksa harus mengangkat rahim nyonya kim."

.

.

" Kau, kau dasar anak pembunuh."

"Pergi kau dari hadapanku."

" Pergi.."

" Aku sungguh membencimu."

" Pergi…."

"Hiks… eomma… eomma…"

" Kau bukan anakku. Kau pembunuh. Pergi dari hadapanku. Pergi…"

FLASHBACK OFF

"Umma, aku berangkat. Siapa tahu Jongin sudah berangkat pagi-pagi sekali ke sekolah."

Suara Taemin menyadarkan lamunan Nyonya Kim. Ia segera menghapus airmatanya.

"Ne, hati-hati."

.

.

.

"Dimana Jongie aunty?" Luhan datang dengan berlari dari pintu depan.

" Ia tidak ada sewakttu kami mengajaknya untuk sarapan lu, bajunya masih tertata rapi dalam lemari. Hanya tas sekolahnya yang tidak ada. Namun seragamnya masih tergantung rapi dalam lemarinya lu. Bagaimana ini lu?"

"Sudah meneleponnya aunty?"

" Handphonenya tertinggal dalam kamarnya lu." Ujar nyonya kim sambil berurai airmata. Tuan kim hanya mampu mengelus pelan pundaknya. Ia pun tak dapat berkata apapun saat ini.

" Baiklah. Aku akan mencarinya juga aunty."

Tok tok tok

"Permisi, apa benar ini kediaman keluarga kim?" tanya seorang pria.

" Benar, apa ada yang bisa kami bantu?"

" Ah, kenalkan. Saya Chanyeol. Sunbae Jongin disekolah. Saya hanya ingin mengantarkan titipan jongin dinihari tadi."

" Apa maksudmu nak?"

" Tuan dan Nyonya bisa mnegeceknya sendiri melalui surat yang ditinggalkan dalam tasnya. Saya tidak berani membuka surat tersebut. "

" Dia, dimana dia saat ini nak?"

" Jongin tidak menjelaskan apapun kepada saya. Ia hanya menitipkan tasnya tersebut untuk saya serahkan kepada tuan dan nyonya. Saya permisi."

" Terima kasih nak."

" Sama-sama nyonya."

Nyonya kim jatuh terduduk di depan pintu rumahnya sembari memeluk erat tas milik Jongin yang baru saja diterimanya. Tuan kim menuntunnya menuju sofa. Luhan segera mengambil surat yang ditinggalkan Jongin. Tangannya sedikit gemetar. Setetes airmata turun di pipinya.

" Percayalah, ia akan baik-baik saja dimanapun ia berada aunty."

" Hiks.. hiks… hiks.."

" Ia akan baik-baik saja."

" Luhan-ah,… ia pergi lagi lu…"

.

.

.

" Maaf jika aku merepotkanmu ge."

" Kau tidak pernah merepotkanku Jong, kau adikku yang paling ku sayangi.'

" Apa rencanamu di Canada nanti Jong?" tanya suho. Mereka saat ini berada di pesawat yang membawa mereka menuju canada. Tempat Jongin menenangkan diri.

" Aku mendapatkan beasiswa di sekolah seni. Aku akan menyelesaikan high schoolku dan masuk kesekolah seni tersebut."

" Bukankah kau masih ditingkat satu jong?"

" Aku mengajukan kelas akselerasi di sekolahku yang baru. Aku sudah menjalani tes dan diterima. Sehingga aku langsung masuk tingkat tiga highschool semester dua. Setelahnya aku akan masuk sekolah seni (art college) yang memberikanku beasiswa."

" Ah, sungguh pintarnya adiku ini." Ujar Yifan.

" Ne. siapa dulu. Hehehe." Jongin tertawa lepas. Meski hatinya sedih meninggalkan keluarganya tapi ini adalah pilihan terbaiknya. Mengasingkan diri dari semua orang dimasalalunya dan membuka lembaran baru hidupnya di Canada. Yifan bersedia menjadi walinya selama di canada. Dan ia telah mendapatkan beasiswa untuk masuk tingkat college. Ia yakin keputusan ini akan membawanya ke dalam kebahagiaan.

Hatinya mungkin sedikit sakit ketika melihat interaksi mesra antara yifan gegenya dan suho. Namun ia tidak mau egois. Yifan hanya mencintainya sebagai adik. Maka sudah sepantasnya ia juga mencintai Yifan sebagai kakak.

.

.

.

" Meski aku sangat tidak menyukai tingkahmu. Tapi ini adalah permintaan yang ia berikan padaku."

" Apa maksudmu hyung?"

" Jongie hanya menitipkan ini untukmu." Ujar Chanyeol menyodorkan sebuah amplop untuk Sehun.

" Tidak ada permintaan maaf yang sempat kau ucapkan untuknya. namun kini ia telah pergi."

" Apa maksudmu hyung?"

" Bacalah sendiri. Kau akan tahu."

Dear : sehun-ssi

Terima kasih atas semua yang telah kau lakukan untukku. Hingga kini aku menyadari seperti apa diriku dan langkah terbaik untukku. Cinta memang patut untuk diperjuangkan. Namun sehun-ssi, mempermainkan perasaan seseorang untuk mendapatkan perasaan orang lain bukanlah sebuah tindakan bijak. Kumohon jangan pernah kau ulangi karena rasanya sangat sakit sehun-ssi.

Jaga dirimu. Berbahagialah.

Terima kasih.

.

.

.

.

.

TBC

I'll be back

.

.

I'll wait for him

.

.