Angin berhembus lepas,

Dingin menusuk kulit

Tetesan embun dingin akibat suhu udara yang hampir membeku

Dia, kembali

Pria itu berjalan dengan tenang menenteng tas dan kopernya, tak lupa kaca mata hitam yang menutupi maka kantuknya dan jaket tebal yang melapisi tubuhnya untuk menghindari hawa dingin yang menusuk. Seoul saat musim dingin bukanlah kawan yang baik bagi tubuh manusia, termasuk dirinya.

"I am Back" desaunya lirih seperti angin yang berhembus perlahan. Pria itu, Jongin telah kembali ke Negara ini, Negara tempat keluarganya berada dan Negara yang membuatnya kehilangan kebahagiaannya. Tiga 5 tahun bukanlah waktu yang sebentar baginya untuk menyembuhkan luka. Perihnya bahkan masih sangat terasa ketika ia mengingat setiap detail kejadian yang pernah dilaluinya di Negara ini. Tapi bagaimanapun juga melarikan diri bukanlah solusi yang terbaik. Ia telah berhasil mengejar mimpinya menjadi dancer sekolah seni terbaik di Canada dan ada seorang investor yang ingin bekerjasama dengannya untuk membangun sekolah seni terbaik di Seoul. Orang bilang, kesempatan tidak akan pernah dating dua kali, jadi ia memantapkan hati untuk kembali ke Negara ini.

.

.

" Senang bertemu dengan anda tuan Kim Jongin"

" Tentu Tuan Lee, saya sangat berterima kasih atas tawaran anda."

" Saya akan mempercayakan pengoperasionalan sekolah ini kepada anda sebagai kepala sekolah sekaligus pengajar dance sekolah ini. Senang bekerja sama dengan anda." Ujar Tuan Lee

" Terima kasih banyak." Ujar jongin sambil membungkukan badannya sedikit. Keputusan telah diambilnya maka yang harus dilakukannya adalah bertahan dengan keputusannya.

" Besok akan kuperkenalkan kau pada seluruh calon pengajar sekolah seni ini, Seoul Performing Art Academy." Ujar Tuan Lee

"Tentu Tuan" Ujar Jongin sambil tersenyum. He already took his first step and no way to going back.

Kakinya melangkah ringan menyusuri trotoar pinggiran jalanan padat kota Seoul, 5 tahun ia tak pernah lagi melihat kota ini dan sekarang ia dapat merasakan genangan air di pelupuk matanya, ia ingin sekali berbohong namun hatinya tak mampu menyangkal jika ia sangat merindukan kota ini, Seoul tempat dimana ia dilahirkan.

Ia diam berdiri disana, hanya perlu menekan bel dan mengucapkan 'Aku Pulang' tapi tidak. Kakinya terasa begitu lemas dan ia tak mampu berkata-kata. Sudah sepuluh menit ia berdiri di depan pintu ini. Sangat, ia sangat ingin mengucapkan salam dan memeluk erat anggota keluarganya namun semua itu hanya ilusi semu. Hatinya masih terlalu sakit, kelebatan ingatan buruknya kembali seberapapun ia mencoba untuk melupakannya. Hingga akhirnya.

"Jong… Jongin" Ibunya Nampak berdiri disana terbelalak kaget setelah membuka pintu. Putra yang selama lima tahun ini dinantinya kini kembali, Nampak sangat tampan dan manis pada saat yang bersamaan. Tubuhnya tumbuh tinggi dan sempurnya, tangannya sangat bergetar ingin sekali memeluk sang putra.

Tak jauh berbeda dengan ibunya, jongin juga hanya mampu terdiam melihat tubuh ibunya yang sedikit lebih kurus disbanding terakhir kali ia melihatnya. 'apakah ibu makan dengan baik?' bagaimana keadaan ibu?' ' aku merindukanmu' kalimat itu terus berkelibatan di pikiran Jongin. Tubuhnya hanya diam tidak mampu berkata-kata.

"Ma… masuklah nak," nyonya kim memecah keheningan yang terjadi diantara keduanya.

Crash

Satu goresan tercipta dihatinya, ibunya bahkan tidak memeluknya, tidak tampak senang dengan kehadirannya. Ia merasa keputusannya hari ini sangat bodoh. Ibunya masih membencinya. Hatinya semakin terasa sakit.

Jongin melihat kembali ruang dem ruang yang dulu pernah ditinggalinya, ibunya duduk pada sebuah sofa yang ada di ruang tamu. Jongin kemudian mengikutinya.

"Bagaimana kabarmu selama ini Jong?" suara ibunya Nampak bergetar memecah keheningan yang terjadi.

"Aku baik, hanya ingin mengambil beberapa barang yang tidak sempat kubawa." Ujarnya dingin. Seperti topeng yang selama ini dikenakannya untuk menghadapi dunia, ia sudah tidak ingin menjadi pihak yang paling lemah. Pihak yang tertindas. Maka keputusannya adalah membentengi diri dari segala kemungkinan sakit hati.

"Kamarmu masih sama, ibu tidak menyentuh apapun di dalamnya." Ujar Nyonya Kim lebih tenang.

CRASH

Goresan lebih dalam kembali tercipta, bahkan ibunya enggan untuk menyentuh barang miliknya. Ia semakin yakin bahwa dirinya begitu menjijikan dimata ibunya.

'you chose the right path Jong' ujarnya dalam hati.

Jongin berjalan menuju ke kamarnya, kondisinya masih sama. Ibunya memang seperti Nampak enggan untuk menyentuh kamarnya selama hidupnya.

Ranjang yang selalu menemaninya ketika ia sedih, marah dan kecewa pda semua hal yang terjadi dalam kehidupannya. Buku pelajaran yang masih Nampak tersusun rapi di rak lemari bukunya, baju yang tidak pernah ia gunakan hingga kini ia kembali. Tumpukan kaset yang membawanya menuju dance kontemporer yang dulu tidak bias ia sebut sebagai dance.

Jongin kini mendapatkan semua yang ia inginkan, selain kini ia dapat menjadi penari professional, jongin juga mendapatkan gelar sebagai seorang sarjana administrasi dengan nilai cumlaud. Well, terima kasih atas berkah otak cerdasnya yang mampu membawanya mencapai apa yang diinginkannya.

Betapapun pahit masalalunya, kini ia sudah berada di itik dan level berbeda dari sebelumnya, ia tidak akan lagi menengok kebelakang. Mimpi buruk tidak akan lagi mampu menghantuinya. Membuatnya menjadi lebih kuat. Sosok yang berbeda dari yang orang kira.

Jongin hanya membawa sebuah buku catatn yang dulu tidak sempat dibawanya, tersimpan rapi diantara tumpukan buku pelajaran yang tidak mungkin disadari oleh orang lain karena siapa yang akan peduli dengan seorang kim Jongin yang begitu menyedihkan?

Jongin meninggalkan rumah itu tanpa berpamitan, ia tidak menemukan ibunya disana. Maka ia memutuskan untuk segera angkat kaki dari rumah tersebut. Tanpa diketahuinya, nyonya kim membekap erat mulutnya agar tangisannya tidak terdengar oleh siapapun. Airmatanya menetes deras melihat putranya dengan tenang meninggalkan rumahnya. Tanpa salam. Terjadi untuk yang kedua kalinya dan ia tidak mampu mencegahnya.

Sebenarnya nyonya kim sangat ingin memeluk jongin sejak ia pertama kali melihatnya berdiri didepan pintu, ingin menciumi wajahnya dan menanyakan bagaimana kondisinya. Namun, ia terlalu pengecut untuk melakukan semua yang ada di pikirannya.

5 tahun yang lalu

Setelah kepergian Jongin, nyonya Kim tidak pernah absen untuk tinggal di kamar Jongin, memluk erat gulingnya dan membuka semua buku yang dimilikinya. Hingga ia menemukan catatan harian Jongin.

Bolehkah aku memohon padamu Tuhan?

Apakah kau akan mengabulkan permohonanku?

Bisakah aku memiliki seorang ibu yang menyayangiku? Bolehkah aku terlahir lagi tanpa kembaran? Rasanya aku sangat ingin menghilang dari kehidupan ini karena rasa iri hatiku.

Tuhan, aku memang bukan orang yang baik. Tapi kumohon cepatlah panggil aku karena aku terlalu takut untuk mengakhiri hidupku. Aku tidak ingin tinggal di neraka untuk yang kedua kalinya?

Bisakah kau membawaku pergi dari neraka ini?

Nyonya kim sadar, tulisan itu Jongin buat jauh sebelum hari dimana ia menemukannya. Tulisan jongin sejak di junior high school. Nyonya kim hanya mampu meneteskan air mata atas segala coretan tinta curahan sang putra. Ia begitu menyadari betapa bodohnya ia dan betapa buruknya ia menjadi seorang ibu. Mungkin dirinya tidak layak disebut sebagai ibu.

Sejak hari itu, ia tahu bahwa Jongin akan lebih baik tanpa dirinya. Ia ,memutuskan untuk melepaskan Jongin sebagai putranya, karena ia tahu betapa ia sangat buruk menjadi seorang ibu bagi putra kandungnya sendiri.

.

.

.

.

Hari pertama jongin datang bekerja, ia mengenakan sweater biru muda yang dilapisi jas hitam, celana hitam, dan sepatu hitam yang membalut tubuhnya dengan elegan. Jongin tumbuh menjadi pria menarik yang sangat menawan. Tatapan mata yang tajam namun tampak selalu sayu saat memandang, hidung mungil yang sangat pas, dipadu dengan bibir yang merekah merah dan bervolume. Perpaduan kesempurnaan ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa.

" Jongin ? lama tidak berjumpa!" senyum dan bibir itu, Jongin sangat mengingatnya

TBC