" Ya lama sekali kita tidak berjumpa, hyung… atau bias kau kupanggil kembaran?" Tanya jongin dengan sedikit smirk andalannya, well ia sedang dalam mode Kai, karakter yang ia ciptakan ketika ia menikmati berdiri diatas panggung dengan gemerlap lampu dan kepercayaan diri yang amat tinggi.

" Aku senang melihatmu kembali, sangat"

" Oh,… benarkah? Aku cukup terkejut." Ujar Jongin

" Tidakkah kau ingin mengunjungi Appa dan Eomma?"

" Oh, Nyonya kim yang terhormat, aku baru saja menemuinya. Dan benar sekali. Aku sangat tidak ingin menemuinya. Sangat." Nada bicara jongin mendingin begitu mendengar setiap kata yang diucapkan oleh Taemin.

PLAK

" Ia ibu yang melahirkanmu Jongin." Ujar Taemin dengan nafas memburu karena marah. Tangannya mengepal erat setelah menampar pipi Jongin

" Dan aku tidak pernah lupa bagaimana ia sangat menginginkanku menghilang dari dunia ini. Hanya ada Kim Taemin dimatanya, Kim Taemin yang smpurna, Kim Taemin yang manis, Kim Taemin yang lemah, Kim Taemin yang harus dilindungi, tidak sedikitpun ia mengingat Kim Jongin. Bayi yang pernah dilahirkannya. Anak yang tidak pernah diharapkannya. Kau ingat itu Hyung?" Ujar Jongin mengeluarkan semua emosi yang selama ini dipendamnya.

"….."

" Kau tahu? Bahkan ketika melihatku, ia tak pernah memelukku. Bahkan ia tidak menanyakan kabarku, memintaku untuk tinggal, menanyakan kehidupanku, tidak pernah mencariku. Apakah itu yang seorang ibu lakukan?" Jongin bertanya dengan mata yang sudah siap meneteskan kristalnya.

" Jong –

" Tidak perlu kau jelaskan apapun padaku, aku mengerti. Tempatku tidak akan pernah ada di hati keluarga Kim. Jika kalian keberatan aku memakai marga ini, maka aku akan segera menggantinya. Kalian tidak perlu khawatir memiliki anggota keluarga yang begitu memalukan sepertiku. Selamat tinggal." Jongin meninggalkan Taemin yang masih terbelalak terkejut atas segala ucapan Jongin.

Tangannya mengepal erat, dadanya begitu sesak. Ia tahu selama ini keluarganya sangat salah dalam memperlakukan jongin. Namun, tidak bisakah ia memaafkan ibu mereka?

Jongin berjalan lebih cepat menuju ruangannya.

BRAK

Ditutupnya keras pintu ruangan, tubuhnya merosot dengan air mata yang menganak sungai. Ia masih tetap seorang kim jongin, pria yang cengeng dan lemah dalam menghadapi msalah keluarganya. Ia masih Jongin yang sangat sensitive terhadap masa lalunya. Ia masih Jongin yang akan menangis ketika hatinya terluka. Dan kini tidak ada Yifan ge maupun Lu ge yang akan memeluk dan menenangkannya. Hanya ia. Jongin dengan segala luka hatinya.

.

.

.

.

" Ia kembali, Taemin-ah." Nyonya kim menangis sesenggukan di pelukan Taemin dengan mengucap kata yang sama berulang.

" Ne eomma."

" Ia tampak sangat tampan bukan, ia timbuh dengan baik. Jauh lebih baik disbanding ketika ia hidup disini bukan? Aku ibu yang sangat buruk kan? Katakana Taemin-ah" nyonya kim terus berbicara tiada henti.

Sementara taemin hanya mampu memeluk dan menenangkannya, setelah peristiwa kaburnya Jongin. Ia menjadi sedikit depresi, ia selalu menyalahkan dirinya sendiri sebagai ibu yang sangat buruk bahkan bagi anak kandungnya sendiri.

" Hubungi Luhan, Tae.. katakana pada Luhan supaya ia menjemput Jongin kembali. Ah, tidak. Jangan jongin tampak baik-baik saja, ia akan menjadi buruk jika disini. Tapi aku merindukannya Tae, aku ingin memeluknya. Tubuhnya tumbuh tinggi, senyumnya dan wajah manisnya tetap tidak berubah masih seperti dulu, ia masih putraku bukan? Ia tetap anakku kan? Katakan Tae?"

Taemin hanya mampu menatap kosong kedepan, menatap langsung mata sang kepala keluarga yang berdiri mematung di depan pintu, juga seseorang di belakangnya yang hanya mampu terdiam. Ia tahu semua ini memang berawal dari kebodohan nyonya kim, namun sepertinya Tuhan terlalu berat menghukumnya.

Pria itu, Luhan membalik tubuhnya. Melajukan mobil miliknya dengan kecepatan diatas rata-rata. Seoul Performing Art Academy tujuan utamanya kali ini.

.

.

.

" Suatu kebetulan yang sangat luar biasa bukan tuan Oh?" ujar jongin terhadap guru magang di sekolahnya kini.

" Ya, tuan kim" ujar sehun 'tapi ini bukan suatu kebetulan' ujarnya dalam hati.

Sehun telah mengawasi jongin sejak pria itu meninggalkan Korea, ia bahkan membayar detektif untuk menemukan jongin di Canada, mengawasi kegiatannya dan sebisa mungkin membuatnya kembali ke korea, hingga salah satu rekan bisnis ayahnya, tuan Lee mengatakan ingin membangun sebuah sekolah seni. Dan Sehun tidak menyia-nyiakan kesempatan yang Tuhan berikan padanya secara cuma-cuma. Ia akan memenangkan lagi hati jongin kali ini. Meski ia tahu, ini tidak akan mudah.

Sehun baru menyadari ia mencintai jongin setelah jongin pergi meninggalkan hidupnya, tatapan mata polosnya, senyum manisnya, eyesmile nya, suara tawanya, wajah imutnya, sehun sangat merindukan beruang manisnya. Yeah, dan jangan lupakan sosok chanyeol yang mendeklarasikan diri sebagai saingannya bahkan hingga saat ini.

"Baiklah, anda bias mulai mengajar mulai hari ini." Ujar jongin.

" Terima kasih tuan Kim." Ujar sehun. Ia segera berdiri hendak meninggalkan ruangan. Sebelum membuka pintu, ia berhenti sejenak.

" Jongin-ah, Mianhata." Ujarnya kemudian meninggalkan ruangan. Menyisakan jongin yang menegang ditempatnya.

Kring…. Kringg

"Tuam Kim, ada seseorang yang hendak bertemu dengan anda" Ujar resepsionis di seberang telefon.

" Baik, suruh ia menemuiku di ruangan." Ujar jongin sambil memijat keningnya yang tiba-tiba terasa pusing. Jongin sadar hidupnya tidak mungkin berjalan damai setelah ini.

CEKLEK

"Silahkan- Lu ge?" Jongin sangat terkejut mengetahui tamu yang hendak menemuinya adalah Lu ge nya. Luhan, gege yang sangat dirindukannya.

"Apak kabarmu nini bear?" Ujar Luhan dengan senyum manisnya.

" Lebih baik dari sebelumnya." Ujar jongin dengan senyum hampa. Luhan tahu, bagaimana bentuk hati jongin yang sudah hancur berserakan.

"Tidak ingin memelukku?"

" Sangat"

" I am all yours" ujar Luhan sambil merentangkan tangannya.

Namun, jongin hanya duduk terdiam ditempatnya. "Wae?" Tanya Luhan.

" Aku sangat merindukanmu, namun aku benci dengan panggilanmu itu ge" ujar jongin sambil mempoutkan bibirnya.

" Bagaimana mungkin kau masih bias simut ini hummm?" Tanya Luhan. Ia mengalah dan memeluk jongin dari belakang.

" Apa kabarmu Ge?"

" Aku baik. Kau ?"

" Seperti yang gege lihat."

"Jongin-ah, lihat gege." Ujar luhan sambil menangkup pipi Jongin untuk memandang matanya.

"Memaafkan tidak akan membuatmu hancur, ia akan merekatkan kepingan hatimu. Maafkanlah ibumu. Ia sangat merindukanmu. Hingga rasanya ia ingin menghukum dirinya sendiri, takut akan menyakitimu jika ia menyentuhmu. Ibumu menderita Jongin-ah." Luhan berujar dengan sungguh-sungguh. Tubuh jongin menegang mendengar ucapan Luhan, namun egonya mengatakan ini adalah balasan atas segala sakit hatinya.

" Dendam tidak akan membuatmu menang Jongin-ah. Maafkanlah ia." Ujar Luhan mngecup pipinya dan meninggalkan jongin yang masih menatap kosong pada pintu yang tertutup mengantarkan kepergian luhan.

Tanpa terasa airmatanya menetes mengalir dipipinya.

.

.

.

Sekolah ini dilengkapi dengan kantin khusus guru dan staf serta kantin untuk siswa yang letaknya terpisah. Jongin sedang duduk seorang diri menikmati makan siangnya yang sedikit terlambat.

TAK

" Aku boleh duduk disini kan Tuan Kim?" Tanya suara itu, Sehun

Jongin mengedarkan pandangannya dan well memang semua bangku makan siang masih terisi penuh. Nampaknya seluruh guru memiliki hari yang cukup sibuk dihari pertama ini.

" Humm" ujar Jongin menggumam. Membuat senyuman sehun mengembang.

"Bagaimana kabarmu selama ini Jongin-ah?" Tanya sehun.

" Bersikaplah layaknya rekan kerja tuan Oh, karena kita tidak pernah berteman baik sebelumnya. Ucapan jongin sedikit banyak menampar perasaan sehun. Namun ia menutupinya dengan wajah poker facenya.

" Untuk itu, mari berteman." Ujar sehun dengan senyum yang hanya dibalas tatapan dingin oleh Jongin.

" Aku selesai, selamat siang tuan Oh." Ujar jongin meninggalkan meja dengan makanan yang bahkan hanya berkurang seperempatnya saja.

" Ini akan sulit" gumam sehun. " Kau pasti bias sehun" ujarnya mengepalkan tangan ke udara, dihadiahi pandangan aneh guru lain di ruangan tersebut. Akhirnya sehun menyadari kebodohannya, ia meminta maaf dan melanjutkan makan siangnya dengan tenang meski masih mendapat beberapa pandangan heran dari guru lainnya.

.

.

.

Jongin berdiri dekat dengan sungai han, ia melamunkan semua hal yang terjadi dihidupnya selama ini.

"Teman tidak akan pernah melupakan teman lama bukan?" sebuah suara membuyarkan lamunannya.

"Eoh…."

" Apa kabar Jongin-ah? Lama tidak berjumpa."

" Ne, baik."

" Teman?"

"Teman" jawab jongin samil tersenyum.

"Bagaimana kabarmu hyung?"

" Aku baik, dan aku sangat merindukanmu Jongin-ah. Sangat"

" Chanyeol hyung-

TBC