.Trapped.
.
Vmin;
Kim Taehyung
Park Jimin
.
[Bagian Satu]
.
Lampu dimatikan. Tersisa cahaya yang menguar dari proyektor penuh debu yang menggantung di langit-langit, menyinari layar putih di seberang sekitar tujuh meter jauhnya. Seorang bapak tua yang mengenakan jas laborat warna putih dengan bet Universitas Negeri Seoul di bagian ulu hatinya menampakkan diri. Senyumnya menawan, penuh ketulusan, sedikit banyak membuat gadis-gadis memekik tertahan sebab ketampanan yang tidak mampu luntur.
"Kudengar sekarang aku bertemu dengan mahasiswa baru, well, kalian nampak imut sekali, omong-omong. Polos tanpa sedikit noda yang mencoreng wajah kalian yang termangu, inosen. Tapi tidak ada waktu basa-basi untuk perkenalan sebab tak ada gunanya menghabiskan tiap detik yang berharga, kalian membayar untuk belajar, dan saya dibayar untuk mengajar. That's it."
Ada suara pekikan kekaguman entah siapa yang memulai.
"Hari ini, kita akan langsung belajar ke inti dan pastikan jas laboratorium kalian sudah wangi sebab besok kita langsung praktek, jadi, cari partner kalian. Saya tidak perlu repot mencarikan pasangan untuk masing-masing dari kalian seperti anak sekolah dasar, right?"
"Ah," Kurang lebih delapan puluh per seratus persentase merengek sebal.
"Maaf menyela. Tapi, Pak, kami baru berumur tiga hari dan sudah praktek ke laborat? Bahkan ini jadwal perdana kami, sedangkan besok sudah harus mengaplikasikan teori? Bukan bermaksud membangkang hanya saja, tidakkah semua ini terlalu terburu-buru? Saya dengar, penjaga alat laborat tidak pernah akur dengan mahasiswa tingkat satu sebab kebanyakan dari mereka lah yang menghancurkan alat-alat mahal penunjang praktikum."
Bapak itu menukikkan alisnya. "Maksudnya, pelajar tingkat awal sangat rentan untuk merusak alat kampus sebab keterbatasan pengetahuan, ketidak terampilan, serta terlalu gugup. Dan berakhir dengan omelan panjang dari nuna penjaga gudang alat laborat dan kesulitan perihal pinjam meminjam."
Setiap pasang mata akhirnya memandang lekat pada pria yang tengah asyik menyampaikan argumennya. Tidak peduli dengan betapa kesalnya raut wajah dosen dihadapannya, pemuda itu balas menatap remeh bapak tua itu, memainkan mulutnya yang menyembunyikan permen karet rasa nanas sampai kebas.
"Oleh karena argumenmu yang tepat, maka jawabannya adalah presensi hari ini, Tuan. Jadi diamlah dan pahami apa yang saya sampaikan sebab jika kau bahkan kehilangan fokus barang sedetik saja, kau dapat membuat nuna-mu mengomel seperti macan datang bulan karena keterbatasan pengetahuanmu dalam kegiatan praktikum."
Ucapan yang terdengar final itu membuat siapapun terkesiap. Ia meraih pointer lasernya dan memulai presentasinya ke halaman satu. "Maka, sebelum kau membuat kesalahan, bekali dirimu dengan ilmu agar kau tahu cara bicara dengan tata krama dan sopan santun, tidak ngelantur, dan rasional."
"Ck," pemuda tadi mengerang. Merasa malu sebab dikalahkan.
Selanjutnya bapak itu menjelaskan pengantar praktikum analis yang paling sederhana; pemeriksaan kadar hemoglobin. Caranya menerangkan sangat interaktif, menyenangkan, dua arah, dan penuh gairah. Ada sesuatu yang membuat ruangan kelas jadi tidak segelap dan sesuram detik sebelum kelas dimulai.
Dan Kim Taehyung sangat suka.
Ia tidak melepas pandangan dari dosen yang sedang membuka sesi tanya jawab dengan beberapa mahasiswa di barisan depan. Matanya berbinar menatap betapa sempurna bapak tua dihadapannya ini, betapa keren caranya menyampaikan segala teori yang terdengar sulit, namun rasanya semua mampu masuk ke tiap saluran sarafnya dan begitu saja terserap ke otaknya dengan mudah.
"Ada pendapat tentang prinsip pemeriksaan hemoglobin?"
Tanpa sadar Taehyung mengangkat tangannya semangat. "Hemoglobin yang dicampur dengan larutan HCl diubah menjadi asam hematin, yang dapat merubah warna darah menjadi kecoklatan. Dengan bantuan tetesan aquadest, warnanya jadi memudar kemudian dibandingkan dengan warna standar untuk kadar hemoglobin. Eum, untuk sejauh ini, hanya itu yang saya tahu, Pak."
"Terdengar seperti bukan pendapat," Bapak itu menimpali. "Itu memang ilmunya, Tuan. Tapi pengetahuanmu lumayan, akan kuingat wajahmu dan kita bertemu besok di laboratorium. Pelajari lebih banyak sebab saya akan bertanya banyak hal,"
Bapak itu mengedarkan pandangannya ke penjuru kelas, membuat kontak mata dengan semua mahasiswa yang terduduk disana menatapnya penuh antisipasi. Mengira-ngira apa yang akan dikatakan bapak dosen itu sebab sejak awal mereka sudah tahu, pria itu penuh kejutan, kejutan yang menyiksa.
"Dan itu berlaku untuk tiga puluh siswa dalam kelas ini juga."
"Oh, tidak." Keluhan dan erangan tidak suka mengalun dengan kencang. Seketika kepala mereka berdenyut nyeri karena tahu mereka harus belajar dengan giat bahkan sejak di hari ketiga mereka kuliah. Bukan berarti tidak siap dengan konsekuensi sebagai mahasiswa, hanya saja, bagi mereka ini terlalu mendadak dan tidak diduga. Semenarik apapun cara bapak itu mengajar, tetap saja, wajahnya seram (meski tampan dan manis disaat bersamaan, namun tatapan matanya yang seruncing rubah membuat siapapun merinding) dan suaranya saat melempar pertanyaan agak mengintimidasi. Caranya menunggu jawaban sungguh tidak sabaran, terkesan mendesak, dan tidak mau tahu.
Bapak itu mematikan proyektor dan menyalakan lampu. "Saya Jung Jinyoung, sampai berjumpa besok."
.
Begitu banyak jenis makanan yang terpapar di kafetaria kampus.
Sampai Taehyung menganga sebab terlalu asyik berpikir, menimang-nimang apa kiranya yang akan ia beli. Ada begitu banyak manusia pula yang mondar-mandir dihadapannya berebut bangku. Entah mengapa untuk alasan yang tidak jelas, Taehyung merasa kecil. Ia bahkan masih termangu, tidak berperang merebut bangku dan segera memesan.
"Butuh bantuan, newcomer?"
Taehyung menoleh saat suara seringan bulu terdengar, ah, dia ingat. Pemuda di kelas tadi pagi yang sudah mengajak Pak Jinyoung berdebat. Dilihat dari dekat, tampan juga. "Maaf?"
Pemuda itu tertawa. "Kau nampak seperti anak ayam yang tersesat, kid. Kenapa tidak segera pesan sesuatu sebab waktu kita tersisa sepuluh menit lagi."
"Eum," Taehyung menepuk lehernya, merasa canggung dengan lawan bicaranya. "Begitu, well, aku hanya tidak terbiasa. Dan sedang memikirkan akan makan siang dengan apa, jadi, yah –"
"Biasakan dirimu dengan Seoul," pemuda itu mengait lengan kurus Taehyung, menggiringnya masuk lebih dalam ke sisi kafetaria. Tidak begitu mengindahkan pekikan ringan dari Taehyung yang agaknya terkejut dengan pergerakan tiba-tiba darinya. Pemuda itu terus membawa Taehyung sampai ke kedai makanan cepat saji dan nampak seorang nuna cantik dari balik kedainya, "Lima onigiri tuna pedas dan satu air mineral."
Begitu menerima makanannya, dia menggeret Taehyung untuh menjatuhkannya duduk di hadapannya. Dengan sebelumnya mengusir seorang perempuan yang tidak kunjung berhenti menggosip meski makanan mereka sudah habis. Ia mengulurkan tiga onigiri ke hadapan Taehyung, "Untukku?"
Dia mengangguk. "Kau tidak masalah dengan pilihan isinya, kan?"
"Sama sekali tidak!" Taehyung merobek bungkus plastik onigirinya cepat dan segera memakannya dengan lahap, tanpa tahu ada senyum dibalik wajah pemuda itu. "Terima kasih, akan ku balas hutangku besok."
"Bagaimana dengan sekarang saja?"
"Eh?" Taehyung mengerjap, mengunyah makanannya lamat. "Yah, sebenarnya tidak masalah juga sih. Ada sesuatu yang kau inginkan? Sebelumnya, well, kalau terlalu mahal tidak bisa. Hari ini aku hanya mengantungi tiga ribu won, jadi –"
Buru-buru pemuda itu mengangkat tangannya ke udara. "Bukan sesuatu yang seperti itu,"
"Hm?" Taehyung menatapnya bingung. "Lalu?"
Dalam sekejap mata, tanpa diminta, Taehyung terperangah menangkap sebuah senyum lebar yang nampak begitu manis dan sangat cocok di wajah pemuda yang bulat dan halus itu. Sebab untuk alasan yang sepele, senyuman itu mengingatkannya pada Park Jimin. Inosen dan suci. Manis dan membuai. Semakin dipikir, ia rindu sahabatnya.
"Berteman denganku?" Dia malah membentuk seringai. "Dan mulai sebagai partner untuk praktikum besok, aku tahu masing-masing dari kita belum memiliki pasangan, jadi, berminat?"
"Kau pasti bercanda," Taehyung menggigit onigiri terakhirnya. "Tentu saja mau, caramu mengajak berteman seperti sedang melamar gadis untuk menikah, tahu? Aneh."
Ada sesuatu didalam perut pemuda itu yang membuatnya terasa geli. Rasanya aneh tapi menyenangkan. Asing namun menantang, ia tidak mampu lagi menahan senyumnya sebab ia teramat bahagia oleh Taehyung yang bersedia menjadi temannya.
"Bisa kita mulai dengan belajar bersama, partner?"
"Oh tentu," Taehyung mengangguk. Berucap melalui tatapannya yang bertanya, apakah dia boleh meminum air yang pemuda itu pesan; jawabannya tentu. Sebab sejak awal sebenarnya itu memang untuk Taehyung, kadang ia merasa bodoh untuk menjadi tidak peka. "Kau bisa datang ke flatku setelah kelas terakhir selesai, kalau kau mau."
"Dengan senang hati." Dia tersenyum manis sampai Taehyung tersedak. Mengusap rambut coklat emas milik Taehyung dan menatapnya dengan mata berkilat, binar, cantik. Sampai dada Taehyung serasa sesak sebab napasnya terenggut. "I'm Jeon Jungkook, by the way."
Taehyung agak bergetar, "Aku Kim Taehyung."
"Aku tahu."
.
Park Jimin tengah menata omelet, nasi baru saja matang dan rice cookernya berbunyi klik dengan nyaring ketika ada suara pintu terbuka dan sahutan menggelegar sekuat auman macan milik Taehyung mengudara dan sampai ke telinganya. Ia tersenyum riang dan segera menghampiri sahabatnya itu. Padahal baru enam jam tidak bertemu, rasanya sudah rindu sekali sampai mau semaput.
"Hei, brat, bagaimana harimu –oh, kau bawa teman?"
Taehyung meletakkan sepatunya. "Hm, dia partner praktikumku untuk besok. Pak Jinyoung akan memberikan kuis makanya kami akan belajar bersama. Tidak apa, kan?"
"Kau suka bergurau," Jimin melempar senyum ke sosok tinggi kekar di belakang Taehyung. "Buat apa tanya, pabo. Masuklah, dan makan dulu. Sebab kau akan menyesal karena kehilangan momentum mencicipi menu high class yang baru saja kupelajari."
.
"Jenguk tampan juga,"
Suara remah keripik usai Jimin bicara membuat Taehyung menoleh. Terkejut juga tiba-tiba Jimin lewat karena sejak satu jam lalu ia sedang tenang belajar. Dan suara langkah Jimin yang berdentum membuat jantungnya berdebar kaget. "Namanya Jungkook, bukan Jenguk."
"Oh, ya." Jimin masuk kamar dan duduk di ranjang. "Lupa, hei, Jungkook sudah pulang. Kau masih saja belajar. Memang sesulit itu, ya?"
Taehyung menggeleng. "Tidak sulit, hanya, gugup. Pak Jinyoung bilang dia akan mengingat wajahku dan bertanya banyak hal besok. Kalau aku tidak bisa menjawab, aku bisa mampus."
"Sekejam itu?"
Sejujurnya Taehyung ingin sekali tertawa sebab wajah Jimin yang terkejut dengan mata membola sebesar pingpong itu sangatlah lucu. "Bukan begitu. Kalau beliau bertanya, dia tidak akan memberi kesempatan untuk orang lain menjawab, pokoknya harus orang yang ditanya. Caranya menunggu jawaban itu membuat merinding. Tatapan menelanjangi, kaki yang bergerak gelisah, tautan alis yang menukik tajam. Sungguh tidak sabaran dan mendesak, siapa yang tidak panik."
Jimin tertawa. "Begitulah cara seseorang membangun kepercayaan dirimu."
"Hm?"
"Well," Jimin mengunyah keripiknya lagi. "Seseorang harus menjadi kuat dan lebih kuat untuk menang, bisa jadi dosenmu itu senang padamu karena telah menjawab pertanyaan. Dan dia ingin menguji seberapa kuat kau menghadapi rintangan buatannya yang mirip benteng takeshi. Percayalah, beliau tertarik padamu dan ingin kau punya mental yang lebih kuat selain kognisi yang kau miliki. Seperti itu, kurasa."
Ada hening sebagai musik latar. Ada pula Taehyung yang merenungi opini Jimin, memikirkan jika apa yang dikatakannya memang benar. Dia tidak boleh gentar pun merasa gugup, karena itu menjadikan dirinya lemah dan kerdil. Dia sudah di Seoul dan dia tidak boleh membiarkan dirinya rapuh oleh alasan sepele, sebab masih banyak hal mengerikan diluar sana. Dosen killer bukanlah suatu hal besar.
"Wah," remah-remah keripik berjatuhan dan menusuk kulit Taehyung. "Kau terpana dengan ucapanku, ya? Aku saja kagum, ternyata aku ini berbakat dengan menyemangati. Kenapa aku tidak masuk psikologi saja, ya."
Taehyung melempar remah keripik ke wajah Jimin. "Karena kau cuma bisa makan!"
"Ish! Bukan bisa makan, tapi mencintai makanan. Makanya aku masuk kelas memasak, bodoh. Bedakan kedua hal itu."
"Terdengar sama," Taehyung berusaha mengambil keripik dari bungkusan ditangan Jimin tapi menyadari isinya sudah kosong, ia melempar Jimin dengan plastiknya. Sebal karena belum sempat mencicip padahal ia turut andil membayar. "Kau suka makan, cinta makan, untung kau bisa masak."
"Beruntung aku yang memasak untukmu bodoh, kalau kau –jangan harap. Yang ada aku menemukanmu memasak telur dengan lima lilin sebagai kompor."
Taehyung menyentil dahi Jimin. "Pikirmu aku tidak bisa memakai kompor, apa?"
Mereka berdua hanya tertawa. Berakhir dengan Jimin yang menarik lengan Taehyung yang seringan kapas dan berbaring di ranjang. Menatap langit-langit kamar putih pucat yang masih asing bagi keduanya. Mengatur respirasi masing-masing usai tertawa terpingkal-pingkal. "Tidak kusangka malah kau yang terlihat takut, Tae."
"Gugup, hanya gugup."
"Terdengar sama." Jimin mendelik lucu. "Gugup karena berpikir terlalu berat sampai rasanya grogi menggerogoti pikiranmu hingga sarafmu bergetar ketakutan. Kau takut."
Suara mencebik sebal menguar sampai Jimin tertawa ringan. Selalu senang mendengar Taehyung berdecak jika kalah bicara. Sebab terdengar seperti anak kecil yang merajuk, kadang, Jimin senang melihat Taehyung bertingkah seperti bocah lucu. Ia tidak akan pernah lupa betapa menggemaskannya seorang Kim Taehyung saat masih ingusan.
"Hanya belum terbiasa," Taehyung menimpali. "Bagaimana kuliahmu?"
Jimin menepak sisi ranjang yang ternodai oleh remah keripik. "Berjalan baik. Aku belajar membuat omelet super, seperti yang kau makan tadi. Besok mungkin akan belajar masakan china, entahlah. Tapi sangaaat menyenangkan! Ada satu bocah kecil namanya Jihoon, dia mungil sekali, sumpah."
"Bagiku kau tetap mahkluk termungil."
"Sialan!" Jimin menjambak rambut lebat Taehyung. "Kau harus lihat sendiri dan kupastikan kau menganga sebab dia sangat mungil dalam sweater hangatnya. Tapi caranya memasak justru membuatku menganga, hasilnya luar biasa. Kita menjadi teman sekarang, sebab aku tertarik padanya."
Tidak tahu mengapa ada sesuatu dalam dada Taehyung yang sakit seperti tercubit perlahan. Dahinya mengerut tidak suka, menatap Jimin yang masih tertawa riang dengan kaki pendek yang ia peluk. Dia bilang bahwa Jihoon sangat menggemaskan dan seorang teman yang baik. Banyak sekali hal yang diceritakannya tentang Jihoon mulai warna rambutnya yang nyentrik, makanan kesukaannya, caranya memasak, bahkan sampai suaranya yang mungil dan semerdu dengungan harpa dari surga.
"Kenapa wajahmu?"
"Aku?" Taehyung meraba wajahnya sendiri. "Memangnya ada apa?"
Jimin menyeringai usil dengan alis yang ia buat menari. "Di dahimu tertulis aku cemburu."
"Mana mungkin, bodoh!"
Dan malam dua puluh September, Jimin menghabiskan sisa waktunya bergurau dengan Taehyung sampai suaranya serak dan melupakan perasaannya yang berkecamuk. Sebab sesungguhnya dadanya sendiri terasa robek, sesak, penuh. Nuraninya bergerak gelisah tidak tenang. Ia menutupinya dengan baik (setidaknya ia berusaha tidak kelihatan begitu buruk di hadapan Taehyung) bahwa sesungguhnya dirinya lah yang cemburu.
.
"Sekarang kalian bisa mencoba sendiri pemeriksaan kadar Hemoglobin pada partner masing-masing."
Tiga puluh mahasiswa yang berbalut jas laborat warna putih mendongak dan mengangguk. Menutup buku catatan, bergerak berhadapan dengan masing-masing pasangan, dan berdiskusi. Suasana ruang praktikum jadi agak berisik sebab acara diskusi yang dilakukan dengan tanpa malu-malu.
Taehyung mengusak rambutnya yang terasa lepek karena keringat. Ia menggerutu sebab di ruangan sepengap ini tidak ada pendingin ruangan atau barangkali kipas angin, tubuh Taehyung sangat rentan dengan cuaca panas. Ia mudah berkeringat dan itu membuatnya tidak nyaman. Berkali-kali ia mengepak kerah bajunya atau sesekali mengipas dirinya dengan kain jas yang menjuntai.
Perangai Taehyung yang kedapatan mengelap peluh yang mengucur deras dari dahi menuju rahang tegasnya itu membuat Jungkook bengong sebab pikirnya Taehyung sangat sempurna dari sudut manapun sampai ia bingung, apa wajah macam itu bisa terlihat jelek?
Suara dehaman berat menyadarkan lamunan Jungkook. "Ayo kita juga coba,"
"Oh, tentu." Jungkook tergagap dan mengerang. Ia membuka bagian atas penlancet dan memasukkan blood lancet, membuka penutup bulatnya kemudian menutupnya lagi. Mengatur ketajaman tusukan jarum ke nomor empat dan mengeceknya dengan menekan tombol per diujungnya dengan ibu jari. Menatap Taehyung antusias, "Kau jadi probandusku dulu."
"Loh? Aku?"
Jungkook mengangguk. Dengan sigap meraih jemari kurus Taehyung kehadapannya dan mengoles telunjuk panjang itu dengan alcohol swabs sekali usap. Ada kebanggaan tersendiri dalam dirinya mengetahui bahkan jemari Taehyung sangat indah dan selembut sutra. "Nanti aku jadi pasienmu, Tae. Nah, sekarang jangan gugup."
"Dibilang begitu malah jadi gugup,"
Jungkook menatap Taehyung dengan sekali hentak, mengaum dalam hati sebab mendapati Taehyung tertawa lebar karena canggung atas ucapannya. Matanya jadi sipit karena mulutnya yang terbuka lebar menampilkan deretan gigi yang putih dan rapi. Jungkook sejenak mengangumi dan bersyukur telah diberikan kesempatan menikmati momentum seperti ini. "Sebab akan ditusuk atau karena jemarimu digenggam olehku?"
Taehyung mengerutkan dahinya. Ada yang aneh dengan ucapan partnernya, terdengar seperti sebuah rayuan picisan yang sering ia gunakan bersama Jimin saat bercanda. "Apa maksudmu?"
"Tidak ada."
Selesai dengan berdiam diri, Jungkook bergerak meneteskan larutan HCl kedalam tabung ukur sampai kebatas angka dua. Memastikan tidak kurang pun lebih, memasukkannya kedalam haemometer kemudian menyiapkan diri dengan penlancet dan menghadap Taehyung. Sekali lagi ia meraih jemari panjang itu dan mulai menusuknya.
Jungkook lupa untuk memberi aba-aba atau sekadar memperingati Taehyung kalau dirinya akan memulai, jadi dia mendengar pekikan Taehyung yang menggemaskan seperti kucing. Dia ikut terperanjat karena tubuh Taehyung bergerak tiba-tiba. Begitu matanya yang bulat menatap Taehyung, pemuda itu memberikan cengiran polosnya sampai Jungkook melemah seketika.
Kemudian ia menekan telunjuk Taehyung hingga darahnya keluar lebih banyak. Setelahnya ia mengambil pipet hemoglobin dan segera menyedotnya ketika darah Taehyung hampir menetes jatuh. Ia mati-matian menyedot darah Taehyung untuk sampai ke batas standar di pipet itu, menyesuaikan angka sebagai pembatas takaran agar tidak kurang maupun lebih.
Ketika Jungkook akhirnya berhasil, Taehyung dengan gerakan secepat kilat mengambil tabung di haemometer untuk diserahkan pada partnernya. Pikirnya Jungkook akan mengambilnya, namun siapa sangka kalau Jungkook justru menggenggam erat jemari Taehyung dan membiarkannya memegang tabung itu sementara partnernya sibuk meniupkan darah kedalam tabung dengan lambat dan penuh waspada. Professor Jinyoung sudah memeringati kalau menumpahkan darah kedalam tabung harus teliti, jangan sembarangan atau akan timbul gelembung udara yang akan memengaruhi kadar HCl maupun darah sehingga hasil akhirnya bisa saja kacau.
Tidak ada objek menarik lainnya selain Jungkook, dengan tanpa paksaan, Taehyung menatap Jungkook yang memasang raut serius. Ada setidaknya lima tetes keringat yang nangkring di pelipisnya mengantri untuk terjun bebas.
"Tae, aquadestnya."
"Ah, oh, ya." Taehyung mengalihkan tatapannya, menangkap aquadest kemudian menambahkan tiga tetes kedalam tabung yang warna cairannya sudah menjadi coklat pekat. Mengaduknya lembut penuh kekuatan. Sesekali menelisik warnanya, karena belum sesuai dengan warna standar haemometer, ia menambahkan dua tetes lagi. Dengan perlahan meletakkannya kembali ke haemometer.
Kepala Taehyung dan Jungkook mendekat penuh irama. Matanya memicing tajam, memastikan apakah warna kedua tabung sudah sama. Jungkook bergumam kemudian menambah tiga tetes aquadest lagi dan mengaduk tabung itu. Ia fokus mengamati sampai Taehyung memekik, "Wah. Aku tidak tahu aku anemia, nilai Hb-ku hanya delapan. Kau berhasil, Kook."
"Begitukah?"
"Ya. Selamat untukmu Tuan Jeon, namun kau melupakan pasienmu."
Keduanya bersumpah tidak ada yang lebih mengejutkan dan menyeramkan daripada suara berat dan tepukan ringan di meja praktikum mereka yang dilakukan oleh Profesor Jinyoung. Tatapan rubahnya membuat mereka merinding sejenak sampai sifat pembangkang Jungkook muncul. "Maaf?"
Profesor menunjuk dengan dagunya kearah Taehyung. "Kecerobohanmu membuat Taehyung mengotori jas labnya sebab kau lupa menghentikan pendarahan di telunjuknya, genius."
Buru-buru Jungkook menghentakkan tubuh ringan Taehyung menghadap dirinya dan mendapati darah Taehyung mengucur pelan sampai mengotori jas labnya yang putih dan kaku. Taehyung sama terkejutnya dengan Jungkook. Sebab shit, ini jas lab baru miliknya dan sudah kotor oleh kecerobohannya di hari pertama praktikum. Bahkan ia sudah mencuci jasnya sendiri dengan tangan menggunakan softener dengan wangi lima bunga terharum di dunia (menurut iklan di TV) karena sangat menyayangi jas barunya. Sial, sekarang harus kotor dengan darahnya sendiri. Atas pemikirannya yang memang kadang absurd, dia merasa seperti perempuan yang bocor saat datang bulan.
Taehyung meliukkan badannya mengambil tissue di ujung meja ketika Jungkook dengan tiba-tiba menarik telunjuknya dan memasukkannya kedalam mulutnya. Taehyung tidak memiliki waktu untuk bereaksi atau menanggapi. Ia hanya mampu terdiam dan menatapi Jungkook yang tengah menyedot darahnya seperti vampire kelaparan. Ia merasa nyeri sebab lukanya memang agak dalam ditambah gerakan tubuhnya yang terkejut saat ditusuk membuat lukanya robek makin lebar.
Kehangatan mulut Jungkook membuatnya geli, liur yang membasahi jarinya membuat lukanya terasa semakin perih meski berangsur membaik. Gerakan menyedot yang Jungkook lakukan membuat kepalanya berdenyut, seketika tubuhnya ikut kaku. Dan lidahnya membeku kehabisan kosakata. Pikirannya melebur dengan seluruh darah miliknya yang ditelan mentah-mentah oleh Jungkook.
"Merasa lebih baik?"
Taehyung hanya mengangguk pelan, mengamati luka di telunjuknya yang sudah mengering. Darahnya sudah tidak keluar meski ia bisa melihat ada bekas goresan menyembul di kulit halusnya. Selama ini ia tidak pernah percaya dengan paham menyedot darah untuk menghentikan pendarahan kecil. Pikirnya hal semacam ini hanya terjadi di drama untuk adegan romantisme saja, jadi, artikel tentang liur yang dapat menyembuhkan luka itu benar adanya. Mungkin ia harus memberitahu Jimin sepulang kuliah nanti, sebab pembicaraan ini menarik.
"Berikan jas lab milikmu padaku,"
"Hm? Untuk apa?"
Jungkook melirik sudut jas lab milik Taehyung yang kotor terkena darah sudah mengering. "Aku akan mengirimnya ke binatu. Hitung sebagai permintaan maaf karena telah lalai membiarkan lukamu terbuka. Kalau aku lebih teliti, harusnya jasmu masih seperti baru."
"Tidak perlu repot,"
Namun bukan Jungkook namanya kalau merasa repot. Dibanding merasa direpotkan, ia lebih suka dengan kata merasa bersalah. Menurutnya Taehyung terlalu baik sebab kalau itu dirinya, sudah pasti telinga partnernya berdenyut oleh omelan Jungkook yang tidak akan berhenti. Ia pasti marah jika jas lab miliknya yang baru sudah kotor. Memang terlihat sepele tapi Jungkook membenci ketidak sempurnaan.
Jungkook menggeleng. "Biarkan aku bersikap baik, Tae."
"Kau sudah cukup baik untuk –"
"Berikan padaku sebelum aku membuka paksa jas kotor itu dari tubuhmu, disini, sekarang juga."
Suara yang dalam itu terdengar mengintimidasi di pendengaran Taehyung. Ada tekanan dalam tiap untaian kata yang keluar dari bibir tipis milik Jungkook. Pandangan matanya juga berkilat, iris matanya yang gelap membuatnya ngeri sebab Jungkook amat menyeramkan dan diktator. Ucapannya terdengar ambigu, ia hanya terbiasa berucap kotor dengan Park Jimin. Jika itu oranglain, maka Taehyung akan menjadi pria tauladan yang baik hati serta santun. Bicara dengan Jungkook membuatnya canggung, sadar bahwa melihat Jungkook bagaikan cerminan dirinya yang pembangkang dan suka bicara kotor seperti penggoda. "Uh, oke."
Dan Taehyung tidak tahu maksud senyuman aneh di wajah Jungkook.
.
Hari Minggu yang mendung.
Cuaca dingin sejak pagi. Matahari masih enggan muncul sebab terlalu mengantuk dibalik awan. Flat murah yang ditinggali Jimin dan Taehyung tidak memiliki penghangat. Terlalu boros, kalau Jimin berpendapat. Jadi Jimin menggelung dirinya dalam selimut tebal setelah melapisi tubuhnya dengan dua sweater hangat dan pergi ke dapur untuk menyeduh susu.
Masih jam tujuh pagi. Sialnya, Jimin tidak bisa kembali terlelap meski suasana sangat mendukung. Ia juga belum mandi karena terlalu malas. Air pasti terasa sangat dingin dan Jimin benci itu. Ini hari libur jadi ia bebas akan membersihkan dirinya jam berapa pun ia mau. Ia membungkus tubuh mungilnya dalam selimut putih yang ia bawa dari kamar, duduk di sofa empuk kecil dengan kaki terangkat kemudian meminum susunya sembari menonton Spongebob Squarepants.
Jimin mengeratkan selimutnya ketika ia mendapati Taehyung sudah berpakaian rapi. Rambutnya ditata, memakai kaus katun warna putih polos ditutup coat hijau coklat yang menjuntai sampai ke lutut. Jeans belel yang warnanya sedikit pudar dan robek sana sini serta kaus kaki pendek warna hitam. Jimin menelisik sahabatnya yang nampaknya akan pergi ke suatu tempat, meski terheran; tidak biasanya Taehyung suka bepergian sepagi ini. Merasa malu karena dirinya masih terlihat gembel karena kedinginan.
Tunggu, buat apa malu. "Mau kemana kau sepagi ini?"
Taehyung memasang Rolex di lengan kirinya. Mendekati Jimin dan menegak susu hangat yang dihadiahi pekikan nyaring dari Jimin hingga telinganya pekak. Dia bersumpah kalau tidak ada yang bisa mengalahkan suara tenor milik Jimin yang terdengar seperti lumba-lumba.
"Ada janji dengan Jungkook."
"Lagi?" Jimin mengganti channel tv, dia tidak terlalu suka Spongebob. "Kau selalu pergi dengannya belakangan ini. Kapan kau ada waktu untukku?"
Perlu diingat bahwa Kim Taehyung tidak akan sudi merasa iba pada wajah Jimin yang sengaja dibuat aegyo sebab, tidaklah imut melainkan jijik. Efek persahabatan mereka yang sudah seteguh batu karang, Taehyung mampu keluar dari jeratan aegyeo sahabatnya. Dia tidak akan terpedaya lagi oleh wajah memelas yang sekarang nampak aneh (walau sebenarnya menggemaskan sekali, Taehyung ingin memekik tapi dia sangat gengsi jika berurusan dengan Park Jimin).
"Ayolah," Taehyung menggelitik rahang Jimin. "Kita tinggal bersama, sarapan, nonton tv, makan malam, bahkan tidur bersama. Kita sudah hidup berdampingan seperti suami istri, Jimin. Dan kau masih menyimpan rindu sebesar itu padaku?"
Jimin menenggelamkan dirinya dalam selimut. "Tidak, bukan begitu maksudku. Aku juga tidak melarangmu pergi dengan teman baru, hanya saja, akhir-akhir ini kita jarang memiliki quality time. Ada banyak hal yang ingin kuceritakan tapi kau selalu tergesa saat akan berangkat kuliah. Jadwal kelasmu berakhir jauh lebih lama dariku, dan aku masih punya hati untuk tidak mengganggumu yang sedang lelah."
"Kau bisa mencariku saat jam makan siang, demi Tuhan, jarak fakultas mu denganku hanya berjarak lima ratus meter. Salah siapa yang menolak makan siang bersama minggu lalu, kau pikir?"
"Sudah kubilang saat itu ada seleksi senat!" Jimin membela diri. "Lagipula sembilan puluh per seratus, kau yang selalu menolak makan siang bersama, Taetae. Kau bilang, harus menemui Profesor Jinyoung, menyerahkan tugas, laporan praktikum, pergi bersama Jungkook, mengerjakan tugas bersama Jungkook, bahkan kau pernah membatalkan janji karena telah makan bersama Jungkook. Aku tidak tahu siapa yang harus marah disini."
"Begini," Taehyung memijat pelipisnya pelan. "Aku minta maaf jika selalu membuatmu kesal karena tidak bisa hang out atau bermain bersamamu, Jim. Tapi kau harus mengerti, aku sungguh banyak laporan dan tugas. Bukan meremehkan tapi jurusanmu tidak sama mengikatnya denganku. Aku penat, banyak hal yang harus kukerjakan. Dan soal Jungkook, kau kan tahu dia temanku di kelas. Sama sepertimu yang berteman dengan Jihoon. Kau tidak bisa selalu membutuhkanku, bukan? Kita memiliki jadwal yang berbeda sekarang, bukan berarti pula aku tidak ingin bermain denganmu lagi, kau tetap sahabatku yang the only one, the best of the best. Masalahnya, kita memiliki kehidupan masing-masing, setidaknya sekarang."
Ada jeda waktu beberapa detik bagi Jimin untuk terdiam. Ia tahu dan sangat paham kalau Taehyung amat sibuk dengan tugas dan kuliahnya. Kalau tidak salah dengar, Taehyung sudah resmi jadi anggota himpunan mahasiswa yang Jimin yakin akan sangat sibuk. Sejenak bangga pada sahabatnya sebab dirinya yang kerdil ini bahkan tidak mampu lolos menjadi anggota senat. Dipikir-pikir, Taehyung belum tahu soal ini sebab tidak ada waktu untuk membicarakannya. Ia mengerti kalau Taehyung memiliki teman baru sebagaimana dirinya memiliki Jihoon tapi apakah Taehyung merasakan hal yang sama dengannya; bahwa sebaik apapun teman baru yang dimiliki rasanya tetap berbeda.
Tidak ada yang mampu menyaingi hebatnya Kim Taehyung dimata Jimin. Baginya pemuda bersuara berat itu sangat berarti, menyenangkan, menarik, menggoda. Ia senang dengan Jihoon tapi harinya lebih menyenangkan jika dihabiskan dengan Taehyung yang berlari di pikirannya. Tetap ada perasaan hampa yang menganga didalam dadanya, menggema memanggil nama Taehyung penuh kerinduan. Ia sungguh merindukan Taehyung yang biasanya memberikan senyum kotaknya dipagi ketika Jimin bangun, ia terbiasa dengan rangkulan menyesakkan dari lengan kurusnya, ia masih mengingat rasanya dijejali bekal makan siang olehnya.
Jimin merindukan Taehyung, meski mereka tengah bersama.
"Hei, Jimin." Taehyung menarik lembut selimut yang menutupi wajah Jimin. Ada perasaan bersalah yang bersarang dihatinya, tidak seharusnya ia bicara panjang lebar seperti tadi. Jimin bilang dia ingin bercerita banyak hal dan mungkin ada sesuatu yang Taehyung tidak tahu; kalau Jimin sedang sedih. Akhir-akhir ini Jimin nampak lesu bagai burung tanpa sayap. "Maafkan aku, aku tidak bermaksud."
Sedikit sakit melihat Jimin jadi pendiam. "Minggu depan. Aku janji minggu depan kita –"
"Pergilah."
"Apa?"
Senyum yang terpatri membuat dada Taehyung berdenyut. Rasanya nyeri sampai ke ulu hati, merobek jantungnya seketika. Ia tahu kalau Jimin terluka. "Kasihan Jungkook menunggu, pergilah. Sebaiknya kau bawa payung, diluar mendung dan kurasa akan hujan."
"Jimin –"
"Selamat bersenang-senang."
Pertengahan semester tiga, dan Jimin masih tidak terbiasa.
Begitu banyak hal yang mengganggu fokusnya. Taehyung selalu senang menari dan memporak porandakan pikirannya. Pikirnya Taehyung akan memiliki waktu luang saat libur semester kemarin tapi semua memang hanya sampai di angannya saja sebab sahabatnya justru pergi ke Gwangju untuk sebuah acara himpunan. Dia bilang ternyata harus mendekam lebih lama, ada hal menarik yang bisa dijadikan bahan penelitian, katanya. Sejenak Jimin sedih; apa dia tidak lebih menarik?
Jimin tidak ingin berburuk sangka maupun marah pada Taehyung. Ia sangat menyayanginya, hanya saja, ia lelah merasa sendiri. Ia kesal bahwa Taehyung nampak baik-baik saja sedangkan dirinya sudah menyedihkan seperti gembel karena kesepian, berharap Taehyung meliriknya sekali saja. Mengajaknya bermain atau sekadar mengobrol untuk lima menit penuh; Jimin hanya mampu mewujudkannya dalam bunga tidur saja setiap harinya.
Ia tengah membuat graffiti nama Kim Taehyung saat Jihoon duduk disampingnya. "Kau ini seperti mayat hidup, tahu? Aku tidak tahu harus sedih atau mencekikmu supaya cepat mati."
"Hentikan kebiasaan bicara kasar, tidak cocok untukmu."
"Diamlah," Jihoon menyodorkan Sprite kaleng pada Jimin. "Kalau kau sebegitu kesepian, kau bisa mengisi harimu dengan sesuatu yang lebih berguna. Dibanding dengan mencoret buku catatanmu dengan hal tidak penting."
Jimin mendelik, "Kim Taehyung itu penting bagiku,"
"Tapi tidak dengan tulisan graffitimu yang payah, Jimin. Kau menghabiskan belasan lembar kertas untuk mengukir namanya yang bahkan tidak mau lagi bicara denganmu. Dia tidak akan datang meski kau menggambar ukiran namanya sebagus Da Vinci sekalipun, kau bilang dia sedang di lahan praktik?"
Jimin mengangguk, menutup bukunya. Mendesah pelan sebab Jihoon dengan ucapan pahitnya selalu benar dan membuatnya kalap tidak mampu membalas. Terkadang ia sebal karena menjadi lemah dan Jihoon yang bahkan lebih mungil darinya membuatnya terlihat bodoh dan tidak berdaya. Ia meneguk Spritenya dengan cepat, ia haus omong-omong.
Bicara soal Sprite, ini minuman favorit Taehyung.
Rasa rindunya semakin besar. "Ya, di Rumah Sakit Hankuk. Dia bilang hanya dua minggu tapi ini sudah lewat lima hari. Si bedebah itu –!"
"Sudah coba pergi kesana?"
Jimin menggeleng. Merutuki dirinya yang begitu pengecut bahkan untuk sahabatnya sendiri. Ia sering berpikir untuk pergi kesana sesekali. Mengiriminya makan siang atau buah dan vitamin, mungkin. Paling tidak menjenguknya, melihat apa Taehyung melakukan tugasnya dengan baik, atau sekadar memastikan sahabatnya hidup dengan baik, makan dengan benar, cukup istirahat, dan sehat. Tapi nyalinya ciut ketika mendapat notifikasi kakaotalk darinya; sebuah foto dirinya bersama Jungkook di lobby Rumah Sakit dengan wajah gembira.
Aku senang disini! Menyenangkan sekali, jangan mengkhawatirkanku, Jiminie. –Taehyung
Tidak ada yang lebih bahagia dibanding melihat Taehyung hidup dengan baik, Jimin rasa. Memang tidak sepatutnya ia khawatir sebab Jungkook ada disana. Ia tidak pantas untuk menapakkan kaki disana sebab ia akan berakhir seperti orang bodoh, celingukan mencari sosok Taehyung yang entah berada dimana. Tidak seharusnya ia berharap bisa menjaganya, memastikan Taehyung hidup dengan baik jika Jungkook lebih berkompeten menjamin Taehyung aman bersamanya.
Ia hanya malas mengakui ia benci tanggungjawabnya direnggut.
"Kakakku membutuhkan seorang pelayan,"
"Apa?"
Jihoon sendawa usai menegak coca cola. Wajahnya merengut lucu akibat perih bercampur gatal bersarang di hidungnya. Efek soda memang tidak terlalu bagus tapi Jihoon sangat menyukai minuman aneh ini. "Cafe kakakku kekurangan pegawai, dia baru memecat beberapa karyawan sebab ketahuan mencuri uang di mesin kasir."
"Wah, jahatnya." Jimin ikut sendawa. "Tapi kenapa aku?"
"Supaya kau bisa menghabiskan waktu untuk sesuatu yang berguna. Mengisi waktu luangmu dengan mengumpulkan uang daripada menulis graffiti tidak jelas seperti itu."
Jimin menjitak kepala Jihoon. "Seperti kau bisa menggambar saja."
"Terserahlah! Hei, bagaimana? Aku tidak tahan melihatmu murung terus, sehari dua hari tidak masalah. Tapi kau terus begitu selama dua semester. Kau harus perhatikan kuliahmu juga. Lagipula si Taehyung itu juga sedang berjuang dengan kulianhnya, 'kan? Jangan jadi lemah, kau harus kuat atau kau bisa mati sia-sia."
Tidak pernah terpikirkan kesempatan seperti ini datang padanya. Awalnya ia memang bermimpi akan bekerja part-time di sebuah restoran atau minimarket. Tapi ia ingin melakukannya bersama Taehyung, sebab pasti akan terasa jauh lebih menyenangkan. Ia berangan seperti di drama, pulang kuliah bersama kemudian berlari karena hampir terlambat bekerja. Kemudian bekerja hingga larut, makan ramen di kedai tengah malam, lalu tidur berdampingan.
Tapi itu hanya sebuah mimpi yang mustahil terjadi, bukan?
"Aku juga bekerja disana –disuruh kakak, sebenarnya. Tapi tenang saja, aku akan menemanimu. Kalau aku ada kegiatan senat kau bisa duluan ke cafe, kakakku orang yang menyenangkan, kok. Mungkin kau bisa berteman dengannya."
.
"Ini seragam milikmu."
Jihoon sedang ke toilet. Jimin tengah melamun di bangku pantry ketika kakak Jihoon datang memberikan seragam karyawan cafe padanya. Suaranya lebih berat dibanding Jihoon jadi ia agak terkejut, sebenarnya ia sebal. Kakak beradik ini senang sekali mengejutkan orang dengan muncul tiba-tiba.
Bagaimanapun ia harus membuat kesan baik sebab dia akan jadi bossnya. "Terima kasih, sajang-nim."
Pemuda itu mengerutkan alisnya. "Agak aneh mendengarnya darimu. Mungkin karena kau temannya Jihoon, sebenarnya aku tidak setua itu –"
"Memang kelihatan, sih." Jimin segera menutup mulutnya yang kelepasan bicara. "Maaf,"
Pemuda itu tertawa ringan menanggapi sikap gugup Jimin. Sejak Jihoon mengenalkannya tadi, dirinya sudah memekik dalam hati kalau Jimin sangat menggemaskan. Sikapnya lugu dan sopan, meski senyumnya agak dipaksakan. "Kau lucu. Ah, begini. Panggil aku hyung, semua karyawan tidak memanggilku sajang-nim, Jimin-ah. Tidak perlu formalitas sebab aku belum pantas mendapat sanjungan sebesar itu, menurutku."
Jimin mengangguk afirmatif. "Baik, hyung. Kau mudah sekali menerimaku bekerja."
"Pelayan tidak memerlukan kualifikasi khusus," dia menanggapi. "Namaku Min Yoongi, omong-omong."
.
Sudah sejak jauh hari Yoongi diperingatkan tentang Jimin. Jihoon bilang kalau dia menitipkan temannya itu pada kakaknya. Katanya Jimin memerlukan sesuatu yang berguna di hidupnya. Menurut cerita Jihoon, Jimin sedang sedih sebab sahabatnya sedang pergi dan tak kunjung kembali. Mungkin ini perkara mengapa Jimin tidak begitu banyak bicara atau tersenyum. Padahal jika dipikir, Jimin akan sangat menawan jika tersenyum.
Maka ketika cafe sedang sepi, Yoongi mendekati Jimin yang tengah mengelap gelas kaca di ruang peralatan makan. Samar-samar ia mendengar Jimin bersenandung, terdengar sangat indah dan manis. Suaranya lembut dan ringan seperti kapas sampai Yoongi merinding meski dengan dengungan sekecil tangisan kucing. Sejenak ia teringat adiknya yang suaranya juga bagus.
"Sejak kapan kau disitu, hyung?"
"Ah? Aku?" Yoongi menepuk lehernya canggung. "Baru saja. Mm, suaramu bagus,"
Tidak disangka suara tertawanya juga merdu.
"Apa kau sebaiknya duduk di panggung dan bernyanyi saja, ya?"
"Eh? Tidak," Jimin meletakkan gelas itu ke etalase dan menepak seragamnya. Menghadapkan dirinya dengan Yoongi yang ternyata tidak jauh berbeda perihal tinggi badan. Ia baru tahu kalau kakak beradik ini memiliki genetika bertubuh mungil. Yoongi bilang usianya dua puluh lima, dan tingginya sama dengan dirinya yang masih sembilan belas. "Aku tidak semahir itu, hanya senang menyelingi waktu dengan bergumam tidak jelas."
Yoongi mendengus dan duduk di sebuah kursi plastik. "Kau harus mendengarku bernyanyi sebelum menilai suaramu yang seindah nyanyian dewi surga, Jimin-ah."
"Dewi surga apanya," Jimin tertawa renyah dan ikut menjatuh dudukkan dirinya berhadapan dengan Yoongi, menarik dirinya mendekat dengan lawan bicaranya itu. "Kalau begitu, bernyanyilah."
"Aku belum ingin kau tuli,"
Sebuah keajaiban ketika Yoongi akhirnya mendengar tawa yang berderai dari mulut Jimin. Ia sungguh tidak menyangka bisa melihat karyawannya bahagia, jika sebelumnya Jimin hanya tersenyum separuh maka ini mampu membuat dadanya sesak. Ada perasaan bangga dalam dirinya melihat Jimin yang tengah mengusap sudut matanya yang berair sebab terlalu keras tertawa.
Ia menerka-nerka, apakah Jihoon pernah melihat Jimin tertawa?
"You and your jokes, really." Jimin mengusak rambutnya. "Aku sudah menahan tawa sejak kau bengong seperti orang dungu di ambang pintu tadi. Kali ini aku sungguhan tidak tahan lagi. Kau menyenangkan dan lucu, hyung."
"Senang melihatmu tertawa."
"Hm?"
Yoongi tidak langsung merespon, menimbang apa yang harus ia bicarakan lagi. Ia ingin mengungkit masalah Jimin tapi apakah pantas, ia baru saja berhasil membuatnya terpingkal dan ia tidak sanggup kalau harus melihat Jimin sedih kembali. Tapi ia berambisi menyelesaikan keterpurukan Jimin sampai ke akar permasalahannya. "Kudengar kau murung di kampus,"
Melihat reaksi Jimin yang terkejut, Yoongi menyesal.
"Hanya temanku. Tidak, maksudku, sahabatku. Kami sudah bersama sejak sekolah menengah dan sekarang kami di Seoul, kampus yang sama meski berbeda jurusan. Belakangan ini kami jarang bertemu meski tinggal bersama, itu saja. Jangan terlalu mengindahkan cerita Jihoon, itu hanya perasaan kekanakkan yang terkadang muncul begitu saja."
Yoongi memandang Jimin dalam diam. "Ya, aku memang mendengar ceritamu dari si judes itu."
"Kalau boleh tahu, kenapa kalian tidak bertemu lagi?"
Ada sedikit keraguan sebelum Jimin menjawabnya, "Dia memiliki kesibukan baru. Juga teman baru, mereka sering menghabiskan waktu bersama. Ah, bukan berarti aku membencinya, aku tidak melarangnya memiliki teman selain diriku, kok. Hanya –"
Entah darimana sebuah keberanian mampu mendorong Yoongi untuk mengelus rambut keperakan milik Jimin yang selembut katun, memberinya tepukan suportif di bahunya dan tersenyum lembut sampai Jimin terkesima. "Kau bisa mencariku kapanpun. Aku tidak berusaha menggantikan posisinya tapi, kau selalu bisa datang padaku. Termasuk kalau kau rindu padanya dan ingin melakukan sesuatu."
Sebuah kesempatan. Tawaran emas yang menggiurkan.
"Apapun?"
"Tentu."
Jimin mengangguk mantap saking senangnya. "Mari kita mulai dengan bertukar nomor dan id kakaotalk."
.
Pukul sebelas malam.
Jimin baru pulang dari kerja part timenya di café Yoongi. Punggungnya terasa remuk sampai ke sumsum tulang, peluhnya tidak berhenti mengucur, dan kepalanya masih berdenyut pegal. Hari ini banyak pelanggan yang melemparkan diri untuk melepas dahaga di cafe sederhana itu sampai Jimin tidak kuat bahkan sekadar mengeluh.
Air panas baru saja siap ketika Jimin mendengar suara pintu terbuka. Dengan langkah tergesa ia menuju pintu dan mendapati Taehyung yang penampilannya sudah kusut bukan main.
"Hei, Tae." Jimin beranjak membantu Taehyung membawakan ranselnya. Juga melepas coatnya. "Kau nampak lelah, mandilah dulu. Aku baru saja menyiapkan air hangat untukmu mandi,"
"Hm."
Selalu berakhir seperti ini. Jimin tersenyum lebar meski hatinya merasa perih untuk sesaat. Tidak ada waktu dan kesempatan bagi Jimin untuk mengeluh atas apa yang dideritanya. Ia ingin memaki Taehyung tapi tidak tega, ia ingin Taehyung bicara tapi tak kuasa melihat sahabatnya yang membuka mata saja tidak mampu lagi. Sudah satu tahun lebih mereka bersahabat dalam diam, cukup membuat Jimin tersiksa dan bersumpah bahwa ia bisa saja gila.
Ia tidak memiliki waktu untuk marah, ia hanya mampu menggiring Taehyung ke kamar mandi dan membantu melepas pakaian yang bau apek dan lengket oleh keringat. Jimin meringis membayangkan betapa lelah Taehyung selama ini. Menyalahkan dirinya yang begitu egois untuk meminta atensi, padahal Taehyung sedang berjuang menuntut ilmu. Bukannya mendukung, ia justru kecewa dengan sahabatnya yang bertempur dengan jadwal padat tanpa celah.
"Mandilah." Jimin meletakkan pakaian lusuh itu ke keranjang. "Setelah itu istirahat."
.
"Bagaimana?"
"Astaga –!" Jimin hampir melompat ketika Yoongi tiba-tiba datang dan menepuk bahunya saat ia sedang fokus meletakkan kardus yang entah apa isinya tapi berat sekali. Ia selalu sebal bagaimana boss-nya senang membuatnya olahraga jantung dan hampir mati karena serangan mendadak. "Berhenti membuatku kaget, astaga, hyung."
Saat Yoongi tertawa, Jimin selalu mendengus. "Bagaimana apanya?"
"Sahabatmu,"
"Oh," butuh sekitar lima detik untuknya terdiam kemudian berkata, "Tidak begitu berubah. Kami tetap sama seperti biasanya; diam, tanpa tawa, dan hampa. Belakangan ini dia pulang larut, sebelas atau kadang sampai jam satu pagi. Aku kasihan melihatnya, mau bicara pun, aku tidak tega. Aku ingin bertanya paling tidak, 'apa kau sudah makan?' tapi dia selalu pulang dengan mata terpejam dan mengigau. Aku sungguh tidak sanggup."
Tanpa suruhan, Yoongi meletakkan beberapa kardus gula dan kopi ke lemari paling atas. Yang disambut senyuman Jimin. Mereka duduk lagi disana, biasanya Yoongi yang memulai percakapan. Jika bukan dengan Taehyung, Jimin masih agak sungkan bicara leluasa dengan oranglain. Meski ia senang berbincang dengan siapapun, termasuk Yoongi. Selain pendengar yang baik, dia seorang kakak penuh perhatian dan sering memberi nasihat. Meski sebagian besar usulan darinya tidak dapat ia lakukan sebab keadaan Taehyung yang mengenaskan.
"Tidak apa, toh sahabatmu sedang lelah. Anggap saja ini semacam latihan beradaptasi."
"Dan membutuhkan waktu setahun lebih?"
Ada nada yang Jimin tinggikan dan penuh penekanan dalam membantah pernyataan Yoongi. Sedikit tidak terima dengan pendapat yang terdengar begitu simpel dan tanpa empati. Orang memang selalu mudah bicara ketika tidak merasakan penyiksaan sedalam ini.
Bersyukur Yoongi memiliki pembawaan diri yang kalem. "Adaptasi tidak memiliki batas waktu. Tergantung bagaimana kau bisa menyesuaikan dirimu dengan keadaan, Jimin-ah. Tidak peduli setahun, sepuluh, dua puluh, seratus; ketika kau mampu beradaptasi pada waktu tertentu, saat itulah penderitaanmu berakhir. Jangan marah, itu hanya pendapatku."
"Yah." Jimin mengipasi wajahnya yang panas. Tahu saja dia sedang marah, "Kau benar, hyung. Hanya saja, aku tidak biasa. Kami sering bertengkar tapi tidak pernah diam, kami menyelesaikan masalah dengan berkelahi sebentar lalu saling bicara dan memaafkan. It's done. Tapi sekarang, berbeda, hyung."
"Lalu? Kau tidak tega mengajaknya bicara, juga kesal karena saling diam; apa maumu?"
Tidak tahu. Sejujurnya jawaban yang terbesit adalah aku sungguh tidak tahu. Jimin tidak mengerti apa yang harus dilakukan, dan sekali lagi, Yoongi benar. Ia ingin mengakhiri ketidak jelasan ini, pun ia tidak bisa membuat Taehyung lebih lelah dengan ocehan kekanakan darinya. Ia sungguh bingung dan tidak tahu harus berbuat apa, merencanakan sesuatu pun tidak.
Yoongi tertawa lagi. "Maaf jika menekanmu. Aku juga tidak tega melihatmu merana seperti ampas kopi basi. Aku ingin membantumu, semudah itu. Dan jika kau membutuhkanku, aku selalu ada. Tapi kalau kau tidak menginginkan apapun, tidak masalah. Tidak ada ikatan, benar?"
"Harusnya aku yang minta maaf, hyung."
"Untuk?"
"Sifat egoisku. Kekanakanku. Kau sudah sangat baik untuk membuatku tertawa dan memberiku solusi untuk masalah sepele ini. Padahal kau sibuk dengan manajerial cafe-mu. Waktumu seperti tersita untukku seorang saja, duh kan, jadi kegeeran. Ah, lupakan sajalah."
Ingatkan Yoongi untuk tidak menculik Jimin sebab pemuda itu sangat lucu.
"Kau baru pulang, Jiminie?"
Tidakkah ia salah dengar? Barusan itu suara Taehyung yang amat ia rindu sampai ke seluruh saraf tepinya hingga lututnya melemas. Maka ketika ia mendapati Taehyung menatapnya lembut seluruh akal sehatnya hilang, melebur bersama angin malam, dan berkabut. "Kau darimana saja?"
"K- kerja,"
Alis Taehyung bertaut. "Jimin, kau bekerja? Hebat sekali sahabatku ini, kemarilah kau." Taehyung menangkap kepala mungil Jimin dan mengusak rambutnya yang lepek, mengukungnya diantara satu lengan yang kurus namun kuat. Tertawa seraya mencubiti pipi gembul Jimin sampai mereka tersandung hingga sedikit oleng.
"Iya, aku bosan tidak melakukan apapun jadi aku bekerja part time di sebuah cafe."
"Pasti keren," Taehyung membawakan ransel Jimin dan menggiringnya duduk di sofa. "Seperti di drama. Anak kuliahan kerja di cafe sampai larut, astaga, seperti adengan drama betulan. Hei, Jimin. jangan tertarik dengan boss mu seperti di drama juga, ya."
"Apaan, tidak mungkin! Boss-ku itu laki-laki."
Taehyung memasang wajah jahil. "Ah, aku tersinggung. Padahal sebenarnya aku menyukaimu sejak pandangan pertama. Sejujurnya aku juga sedang bekerja mengumpulkan uang untuk segera melamarmu, menikahimu. Tapi kau tidak tertarik dengan pria, ya, hm."
"Kau ini asal bicara." Jimin tergelak. "Kalau laki-lakinya kau, sih, aku mau kok."
"Hm," Taehyung menjawil dagu Jimin iseng. "Kalau kita menikah sekarang saja, bagaimana?"
Dengan gerakan kilat, Jimin memukul wajah sahabatnya dengan ransel. Tertawa riang karena reaksi Taehyung yang begitu lucu. Juga bahagia menemukan sahabatnya telah kembali. Kim Taehyung telah pulang. Dan kini Kim Taehyung tengah bersamanya. Mungkin Yoongi benar, hanya perlu menunggu dengan sabar maka penderitaanmu akan berakhir. Seperti saat ini, penantiannya terbayarkan oleh buah dari kesabaran tiada ujung; Kim Taehyung dan ucapan tidak warasnya.
Kim Taehyung kembali.
.
Hari Minggu cerah dan tenang.
Juga merupakan Minggu paling membahagiakan bagi Jimin setidaknya saat Taehyung asyik dengan kesibukan kuliahnya. Pagi buta Jimin pergi ke pasar, belanja bahan makanan sebab berniat masak besar hari ini. Hadiah dari perayaan kecil-kecilan untuk dirinya sendiri; merayakan kepulangan Taehyung.
Jimin meletakkan dua kantung plastik di meja dapur. "Taetae, kemari dan bantu aku."
Hening. Tidak ada sahutan bahkan sekadar gumaman pun tidak terdengar.
"Kemana si keparat itu?" Jimin langsung ke kamar. Memasang ekspresi kesal yang ditahan, Taehyung tidak mendengarnya berteriak tadi sebab sedang menonton sesuatu di laptop dengan earphone telinganya. Jimin tidak bisa membayangkan kalau tempat tinggalnya kemasukan maling dan Taehyung tidak sadar, mampus lah sudah. "Hoi. Aku memanggilmu, tahu."
"Oh? Jimin?" Taehyung melepas earphone di telinga kirinya, mendongak ke wajah Jimin yang menghantarkan raut kesal sebab diabaikan. "Kau dari pagi sudah menghilang, darimana saja?"
Jimin mendekat, "Pasar, belanja bahan makanan. Sudah lama tidak makan daging, kau suka kan?"
"Wah, ada hal besar apa ini? Park Jimin, orang teririt sedunia memasak daging untukku?"
"Bleh." Jimin muntah pura-pura. "Hanya sebuah perayaan untuk diriku sendiri. Aku sedang senang,"
"Terlihat dari eskpresimu."
"Begitukah?" Jimin menangkup pipinya yang menghangat. "Ada hal yang membuatku bahagia, akhirnya. Sudah lama aku tidak sesenang ini dan kurasa aku tidak bisa menghabiskan daging sendirian. Oh, aku juga akan memasak chapcae, kau suka itu, kan. Mm, tadinya aku ingin beli kimchi juga tapi aku sudah muak dengan itu, belakangan ini aku makan kimchi sampai diare dan –Astaga! Apa yang kau lakukan?!"
Taehyung terperanjat oleh suara melengking Jimin yang seperti kuda saat ketakutan. Gelombang suaranya menusuk gendang telinga sampai kepalanya berdenyut dan nyeri. Ia tidak pernah berdusta untuk mengatakan bahwa Jimin berpotensi membunuh siapapun dengan suara lumba-lumba miliknya yang mengalahkan tiupan sangkakala. "Kau dan suara tengikmu –memang apa yang kulakukan?"
Jimin membungkukkan badan dan menatap laptop. Menunjuknya sarkatis dan menghujami Taehyung dengan tatapan setajam bambu runcing. Dingin dan menusuk.
"Kau nonton film biru, hah?"
"Oh," Taehyung berdengung kelewat santai. "Lalu?"
Tidak disangka bahwa dihadapannya ini adalah Kim Taehyung.
"Lalu, kau bilang? Sejak kapan kau nonton tetek bengek macam ini, ha?!"
Telinga Taehyung pekak dan kepalanya berdenging. Teriakan lima oktaf milik Jimin sanggup membuatnya mimisan. Nyaring dan hampir membuat jendela retak, menerobos saluran dalam telinganya hingga otaknya tersengat. "Kau ini kenapa; laki-laki melakukan hal ini, Jiminie."
"A –apa?"
"Kau tidak tahu?" sedikit heran dengan reaksi aneh dari Jimin. "Listen, kita adalah pria. Sudah dewasa, mencapai batas legal –hampir, dan kita sudah mimpi basah sejak SMP. Menonton porno bukan hal tabu bagi laki-laki, kau tahu? Bahkan kau sudah dua puluh, Jiminie. Pria membutuhkan ini untuk penyaluran hasrat birahi."
"Tu –Tunggu," kepala Jimin berdenyut. "Birahi, hasrat, aku tidak mengerti bahkan tidak mau tahu! Hei, bahkan kau tidak pernah menonton ini walau sudah mimpi basah berkali-kali, Tae. Kau dan ucapan bangsatmu tidak pernah menyentuh kata seks yang divisualisasikan!"
Taehyung tidak mengira Jimin tidak berkembang sebagaimana dirinya. Jungkook bilang, laki-laki wajar menonton video porno sebab hormon laki-laki sulit ditahan dan sesungguhnya lebih besar dampaknya dibanding wanita yang tengah PMS. Katanya hanya dengan hal ini, birahi dapat disalurkan. Dengan menjauhi seks bebas. Taehyung masih waras untuk tidak melakukan itu sebelum menikah jadi ia mengikuti saran Jungkook, bahkan video ini di forward dari laptop milik temannya itu.
Memangnya tidak pernah ada yang menceramahi Jimin?
"Hei, kita ini sudah dewasa. Kalau tidak pernah lihat beginian, mau jadi apa kita sebagai suami nanti? Ini bekal masa depan untuk membina rumah tangga –"
"Aku serius, bangsat."
"Uh, oke." Agak bergidik mendengar suara rendah Jimin. "Maksudnya, laki-laki wajar menonton hal ini. Aku juga tidak menontonnya setiap hari, mesum namanya. Hanya kalau aku ingin saja, maksudnya kalau aku sedang kebelet. Paling sebulan sekali dua kali, sumpah."
Jimin tidak mengira sahabatnya ternodai.
"Kita tidak akan selamanya terikat dengan status suci. Young guy and hormones, you know? Jungkook bilang, ini lebih baik dibanding kau menyalurkan hasratmu dengan bermain di ranjang. Aku masih punya logika untuk opsi kedua, Jimin-ah. Aku tidak seburuk yang kau katakan, hei, dengar. Bukan berarti aku menjadi mesum nakal; Seoul and the effects, begini caranya bekerja. Kau harus punya ilmu sebelum oranglain membuatmu nampak bodoh,"
"Ilmu berhubungan intim apa gunanya, dasar bodoh!"
"Kau masih tidak paham apa yang kukatakan." Taehyung mengaktifkan mode sleep pada laptopnya dan menggiring Jimin duduk di hadapannya. Menelisik wajah yang kelihatannya tidak senang sama sekali dengan penuturan panjangnya sejak tadi. Dilihat dari ekspresinya, Jimin kecewa. Memang sejak awal Jimin adalah sosok yang jauh lebih inosen dibanding dirinya yang penuh hal kotor.
Namun Taehyung bersumpah bukan maksudnya menjadi seperti anak nakal kebanyakan. Toh ia tidak menambah frekuensinya menonton hal porno, hanya sesekali dalam sebulan. Bukan menjadi rutinitasnya juga, sebab Taehyung terlalu sibuk dengan laporan dan tugas kuliahnya. Tapi ia berharap Jimin mengerti. Bagaimanapun mereka sama-sama pria, tidak mungkin ia selalu melakukan hal baik sampai menjadi buddha. Mustahil tidak ada teman yang mengatakan bahwa menonton video porno adalah hal wajar; mustahil Jimin tidak tertarik sedikit pun terhadap seks.
"Maaf jika aku membuatmu kecewa,"
Hembusan napas Jimin begitu kentara bahwa ia tidak suka.
"Tapi aku tidak seburuk apa pun yang tengah kau bayangkan saat ini. Coba kau tanyakan pada Jihoon atau siapapun, pernahkah mereka menonton hal itu maka jawabannya seratus persen pasti pernah. Jimin, sudah kubilang kita harus menjadi berbeda dengan kita saat SMA; nakal, berani, tantangan –"
"Kerusakan otak,"
"Apa?"
Jimin menatap Taehyung nyalang. "Menonton video porno dapat merangsang terjadinya kerusakan otak. Dan aku tidak pernah setuju jika itu berkaitan tentang seks. Sudah kubilang, itu tidak baik dan dibenci Tuhan. Persetan dengan kebiasaan, kewajaran, budaya. Tuhan melarang segala bentuk yang mendekati dosa. Tuhan tidak akan mengampunimu –"
"Oh, astaga." Taehyung menangkup pipi gembul sahabatnya. "Kau membuatku merinding. Jangan bawa Tuhan kalau sedang seperti ini situasinya, sayang. Begini, aku memang salah. Aku minta maaf atas kebodohanku, dan ketidaktahuanku tentang apapun yang kau sampaikan. Tapi sungguh, kau memang harus melihatnya sebelum kau dijadikan bahan cemoohan. Kalau kau tidak tahu hal sesimpel ini, kau bodoh, Jim. Kau tidak akan tahu istilah kotor, bagaimana kalau kau dilecehkan nanti? Karena kau tidak tahu apa-apa, bagaimana kalau kau diperkosa?"
"Oh, terima kasih. Ucapan adalah doa."
"Bukan seperti itu, ya Tuhan." Taehyung mengelus rambut Jimin sayang. "Maafkan aku. Tapi serius, coba tanya pada temanmu. Mungkin kau akan menyesal kalau kau ternyata salah tentangku. Itu bukan hal yang begitu berdosa. Dosa jika kau menjadikannya rutinitas dan kecanduan, atau yang lebih buruk, mempraktekannya. Tapi sungguh, aku bisa memegang kontrol atas diriku. Aku bisa menjaga diri."
Perlahan ada ketenangan dalam hati Jimin. Sebenarnya ia juga penasaran, sering ia ingin tahu atau melihat hal intim seperti itu tapi selalu ia urungkan. Ia terlampau takut Tuhan marah dan memberinya karma, Jimin lebih takut Tuhan. Tapi terkadang ia memang merasakan tubuhnya haus, memerlukan sesuatu seperti sentuhan atau sekadar suara memabukkan. Jimin tidak sepenuhnya mengerti sebab tubuhnya lemas, panas, dan sakit semua.
Apa ini yang dimaksud Taehyung dengan butuh? Penyaluran hasrat birahi? "Nah, sekarang aku bantu kau memasak sebagai permintaan maafku. Ayo, ke dapur."
.
"Kau bercanda? Tentu saja pernah."
Jimin tersedak liurnya sendiri. Telinganya berdenging begitu Jihoon mengatakannya dengan gamblang dan tidak tahu malu. Padahal ia sudah susah payah mengubur rasa malunya untuk bertanya, 'Apakah kau pernah menoton video porno?' dan jawabannya membuat tulangnya seketika menjadi agar-agar.
Ada kerutan di dahi Jihoon. "Kenapa? Jangan bilang kau belum pernah –shit, you really."
"Lalu kenapa kalau tidak pernah menonton? Memangnya keren memandangi dua orang telanjang bercumbu di ranjang? Bleh. Kau tidak pernah diperingati ibumu atau pastur di gereja?"
Sedetik kemudian Yoongi datang dengan buku manajerial keuangan bulan ini. Sedikit penat sebab wajahnya sudah amburadul, Jimin yakin kalau kepalanya sudah berputar-putar dan pusing sekali. Begitu banyak hal yang harus Yoongi urus dan Jimin menyesal bahwa ia tidak bisa membantu dalam skala kecil sekalipun. "Ada sesuatu yang menarik?"
"Jimin bilang, dia tidak pernah nonton video porno, hyung."
"Oh,"
"Hyung pernah?" Jimin bertanya antusias. Berharap paling tidak Yoongi sepaham dengannya. Dilihat dari pembawaannya yang tenang dan penuh wibawa, besar kemungkinan boss-nya itu lebih dewasa dalam mengontrol diri.
Ketika Yoongi mengawali dengan dengungan, Jimin waspada. "Pernah. Tentu saja, laki-laki memang begitu."
Don't judge a book by its cover, people said.
"Astaga, berhenti bilang seperti itu! Aku juga laki-laki!" Jimin meremas kain pembersih yang sudah agak kumal dan benang terurai sebab terlalu banyak di genggam dan ditarik-tarik. Sejak tadi Jimin melampiaskan kejengkelannya pada kain itu. Marah sebab merasa dirinya bodoh karena tidak tahu apa-apa, sebal karena ia merasa tertinggal, dan seolah dunia mengejeknya yang tidak berkembang. "Tidakkah kalian diajari bahwa menonton hal seperti itu hal buruk? Selain merusak otak, psikis, dan fisik, itu hal yang bertentangan dengan agama. Tidak mungkin orang macam kalian tidak pernah mendapat siraman rohani selama hidup belasan tahun."
"Apa ini berhubungan dengan Kim Taehyung?"
Bagaimana caranya Yoongi selalu tahu apa yang membuat Jimin gundah? Jika bahkan ia selalu mampu menutupnya rapat-rapat, berusaha setidaknya berlagak ini kejadian tidak disengaja, hal sepele. Berperan bahwa ini masalahnya sendiri dan tidak ada sangkut pautnya dengan Taehyung tapi Yoongi selalu tahu, betapa hebat sahabatnya membuat Jimin uring-uringan. "Tidak juga,"
"Aku sepaham denganmu, Jimin-ah. Makanya aku hanya menontonnya sekali seumur hidup. Tidak tahu sih, Jihoon kemungkinan mengoleksi puluhan dvd –"
"Hyung!" Ada warna merah di wajahnya; entah karena marah atau malu. Jimin terlalu lelah menerka sebab terlampau kaget dengan kenyataan bahwa wajah bak malaikat mereka sungguh menipu.
Suara tawa yang menguar dari mulut Yoongi membuat Jimin bergidik sebentar. "Mungkin itu berlaku untuk Taehyung-ssi juga. Bahwa dia tidak begitu addict dengan hal seperti itu, dari bagaimana pandanganmu tentangnya, aku yakin bahwa dia pria dewasa yang mampu mengontrol dirinya sendiri. Jangan marah pada siapapun, Taehyung dan hormon remajanya juga ingin mencoba. Terkesan semua laki-laki melakukannya tapi semua jatuh pada pilihan tiap individu; mau atau tidak. Bukan berarti tersisa kau seorang yang tidak pernah menontonnya. Ada banyak pria yang bahkan tidak sudi mendekati hal berbau seks. Itu semua pilihan, Jimin-ah."
Dan Jimin tidak pernah berhenti untuk mengucap syukur atas kesempatan yang ia dapatkan. Memiliki teman sekalem Yoongi yang amat bijaksana dalam berucap, sungguh lembut meski ada ketegasan dalam intonasinya, mengayomi meski dengan senyumannya, menasihati bagai kakak terbaik, dan memiliki cakrawala positif hingga berusaha membuat oranglain terbawa positif.
Sesaat merutuk mengapa Yoongi punya adik yang sangat menjengkelkan macam Jihoon.
"Bimbing dia, awasi dia, namun jangan mengekang. Dia bukan anak kecil, dan kau bukan orangtuanya. Teman harus mendukung dengan benar, kau memang tidak bisa membuatnya jauh dari hal itu jika Taehyung agak keras kepala tapi kau memiliki hak untuk membatasi Taehyung dan dampak negatif dari menonton film biru."
Dan Jimin tidak peduli tubuhnya yang ditarik paksa oleh Jihoon sebab ia sudah segera menghambur memeluk Yoongi dengan erat dan mengucap terima kasih. Meski tertawa dalam hati, mengetahui bahwa Jihoon mudah sekali cemburu jika itu tentang Yoongi hyung.
.
Jimin ingin sekali menghabiskan waktunya bersama Taehyung.
Dan meski seribu tahun pun, Jimin tidak akan pernah puas. Rasanya baru seminggu mereka kembali dekat dan percakapan terakhir mereka tidak begitu baik; Jimin dengan sifat kekanakan dan pahamnya yang kolot. Ia merutuki betapa bodohnya dalam mengoptimalkan waktu sesingkat ini. Lari pagi, sarapan bersama, makan siang, jalan-jalan, belanja, bersih-bersih, tidur, dirty talk, Jimin ingin melakukan hal itu meski untuk selamanya.
Namun Taehyung memiliki kehidupannya sendiri.
Di hari senin, sarapan baru saja siap. Jimin sudah menyiapkan diri untuk meminta maaf, bersumpah bahwa ia tidak akan kekanakan lagi, mendengar Taehyung, dan berbaikan. Ia ingin mengembalikan tawa mereka. Ia tidak ingin sendirian lagi, tidak ingin kesepian lagi, tidak ingin Taehyung pergi. Ia menyerah, mengalah, membiarkan Taehyung hidup sebagaimana ia suka. Seperti yang Yoongi bilang, Taehyung sudah dewasa. Tidak seharusnya Jimin terus membatasi hal nakal yang ingin Taehyung lakukan, pada dasarnya Taehyung memang pribadi nyeleneh yang nakal. Seharusnya Jimin tidak terkejut lagi. Ini hanya membuang waktunya, dan hubungan mereka sedikit merenggang dengan pilihan Jimin untuk tidak mengacuhkan Taehyung. Dia merasa bodoh saat ini.
Sebab ketika ia melihat Taehyung jalan terbirit menuju pintu, hatinya berteriak lagi.
"H –Hei! Sarapanmu –"
"Ah, Jimin," Taehyung dan suara paginya yang masih serak. "Maaf, aku ada presentasi dua puluh menit lagi. Jungkook sudah menungguku di kampus, aku harus mendapat impresi yang baik atau aku akan gagal dalam mata kuliah Doktor Goo."
Bersamaan pintu flatnya berdentum keras, hatinya pecah berkeping-keping.
.
Tidak ada kata terlambat, mereka bilang.
Rabu pukul dua siang, Jimin berlari ke fakultas Sains, mencari sahabatnya yang entah sedang dimana. Jihoon bilang, mahasiswa Sains sedang bebas sebab seluruh dosen sedang ada seminar di Daegu. Kemungkinan Taehyung pun memiliki waktu luang, maka ia berencana mengajak Taehyung pergi ke tempat kerjanya. Ia ingin mengenalkan sahabat terbaiknya pada semua orang, termasuk Yoongi yang katanya amat penasaran dengan sosok yang selalu Jimin banggakan.
Masih ada waktu satu jam sebelum part timenya dimulai. Jimin merapal doa penuh harap, barangkali Tuhan sudi mendengar doanya. Berharap Taehyung sungguh memiliki waktu setidaknya lima belas menit untuknya. Tidak, ia bersumpah tiada niat egois. Ia ingin memperbaiki relasi mereka yang sedikit retak belakangan ini. Bicara empat mata ditemani frappe atau latte dan kue manis.
"Maaf, Jimin. aku tidak bisa."
Meski pada akhirnya hanya menjadi sebuah wacana.
"Kelas memang ditiadakan. Tapi aku sungguh menyesal, Jungkook memintaku pergi untuk mengunjungi laboratorium di Universitas G. Temannya meneliti sesuatu dan kami harus melihatnya, itu bahan tugas akhir kami untuk semester ini."
Ia tidak tahu apa arti degupan jantung ini. "Lima belas menit?"
"Aku bahkan sudah ditunggu selama sepuluh menit lalu. Aku sungguh menyesal, Jiminie. Hanya ini waktu luang yang kami punya, deadlinenya tanggal tiga puluh. Kami telah menunda ini berkali-kali dan sekarang adalah waktu yang pas,"
"Kau bisa menjemputku sepulang kerja?" Ia tidak bisa menyerah seperti tempo lalu.
Helaan napas Taehyung membuat Jimin tercekat. Perasaannya tidak tenang, gelisah, berharap penuh ketakutan. Lututnya sudah lemas dan kepalanya semakin berat. Nampaknya Taehyung tidak senang jika Jimin memaksa, sebab wajahnya sudah mengerut. Hatinya serasa diremas begitu kuat.
"Aku akan menginap di apartemen Jungkook."
Sejak kapan liur menjadi sangat sulit untuk ditelan. "Mengapa? Kau punya tempat tinggal."
"Setelah meneliti kami harus pergi ke suatu tempat, kemungkinan pulang larut. Lokasinya lebih dekat apartemennya, terlalu lelah jika aku pulang. Malah bisa jadi aku tidak sampai dengan selamat, lagipula, pagi-pagi sekali kami ada praktikum dan kami harus membahas sesuatu terlebih dahulu. Pulang kerumah hanya membuang waktu."
Tidak ada perkataan yang sebegini menusuk pernah ia dengar dari Taehyung. Jimin terlampau sakit saat Taehyung menganggap pulang ke tempat tinggal mereka hanya sia-sia. Ia sungguh remuk saat ini. Seluruh sarafnya berdenyut, tulangnya berubah jadi abu, otaknya mendung. Lidahnya tertahan, kata terperangkap diujung tenggorokannya hingga ia tersedak.
Ketika Taehyung pergi dengan wajah kesal, pertahanannya runtuh.
.
Dua minggu yang penuh derita bagai neraka.
Kembali ke hari dimana Jimin bercumbu dengan kesendirian. Taehyung dan rutinitas padatnya kembali. Ia tidak mampu merengek pun marah pada keadaan. Hanya berhak merenungi nasib yang amat sial mengira bahwa Taehyung akan selamanya berada disisinya.
"Hyung, hibur Jimin sana."
Jihoon selesai membersihkan meja kemudian menghampiri kakaknya yang tengah mencoret kertas dengan deretan angka. Wajahnya mengerut dan terus menggerutu kecil. Yoongi yang tadinya fokus langsung teralih begitu mendengar nama Jimin. "Memangnya dia kenapa?"
Jihoon menghela napas. "Taehyung kembali sibuk dan Jimin sepertinya terpukul. Kurasa kali ini lebih menyakitkan untuknya, mungkin ada sesuatu yang terjadi diantara mereka."
"Begitu?" Yoongi menelisik seluruh area cafe, mencari sosok Jimin untuk melihat seberapa murung dia kali ini. Beberapa minggu terakhir Yoongi sibuk dengan manajerial dan rencana pembukaan cabang di daerah Gyeonggi-do. Ia tidak begitu memerhatikan keadaan Jimin, sebab terakhir mereka berbincang wajahnya sumringah. Pikirnya dia sudah baik-baik saja. "Kau temannya juga, kenapa selalu menyuruhku menghiburnya?"
"Aku sudah mencoba but always failed. You're the one who can make him smile better than me."
.
"Hei, Jimin."
Jimin baru saja membuang sampah dan dikejutkan oleh kehadiran Yoongi. Ia heran mengapa ia selalu terkejut bahkan meski Yoongi sering membuatnya kaget. "Ya, hyung?"
Kentara sekali Yoongi tengah berpikir. Wajahnya mengerut terlebih dahulu, berusaha tidak terlihat aneh atau canggung. Meski sebenarnya ia canggung. Ia menelan liurnya agak gugup, berusaha suaranya keluar dengan intonasi yang baik. "Sabtu ini ada waktu?"
"Memangnya kenapa kalau ada?"
Yoongi tersenyum perlahan. "Mau pergi denganku?"
"Eh?" Ini terlalu mendadak dan aneh. Sudah beberapa minggu mereka tidak bercengkrama dengan akrab dan sekarang boss-nya mengajaknya hang out. Agak canggung sebab mereka tidak sedekat itu untuk keluar bersama di malam hari. "Hyung tidak mengurus cafe? Malam minggu akan banyak pengunjung, lagipula aku punya shift sabtu malam."
Senyum langsung mengudara. Sejenak merasa canggung melanda, rasanya aneh karena mendapat penolakan dengan halus seperti ini. Mungkin ini alasannya mengapa jantungnya terus berdegup tidak karuan, sebab Jimin pasti akan menolak ajakannya. Jihoon sering bilang kalau Jimin itu pemuda yang baik dan lugu, namun ia masih canggung untuk pergi keluar malam hari dengan orang yang tidak begitu dekat dengannya.
Jangan panggil dia Min Yoongi jika mudah menyerah.
"Yankie hyung baru saja pulang dari Jerman dan berkewajiban mengurus cafe. Lagipula kepalaku sudah berputar tiap kali melihat deretan angka dalam satuan won. Aku membutuhkan libur, tahu. Kepalaku bisa meledak jika terus menerus mengurus tetek bengeknya."
"Astaga, hyung." Jimin terpingkal mendengar Yoongi dan gerutuannya yang seperti kakek-kakek. "Hentikan lelucon abalmu, rahangku pegal karena tertawa,"
Yoongi tertawa. "Bukan karena leluconku, itu karena kau sudah lama tidak tertawa."
Sebegitu mudahnya Yoongi membuat Jimin tertawa maka semudah itulah ia membuat Jimin terdiam merenung. Ia tidak tahu harus berapa kali mengucap syukur dan berterima kasih sebab Yoongi dan segenap perhatiannya mampu membuatnya luluh. Betapa besar skala kepekaan Yoongi untuk merasakan seluruh emosi yang Jimin bawa dalam tubuhnya. Dan betapa gigih usahanya untuk sudi membuatnya yang kekanakan ini kembali dengan senyuman.
"Kau dibebas tugaskan sabtu ini, Seungkwan 'kan sudah sembuh. Dia bisa menggantikanmu untuk melunasi absennya minggu lalu."
Yoongi tersenyum lagi. "Jadi, pukul delapan? "
.
Jimin terbirit menuruni tangga. Sedikit kerepotan dengan gulungan syal yang sudah berantakan. Ia sudah tidak mau tahu penampilannya seperti apa. Meski ia yakin bahwa dirinya sudah buruk untuk dilihat. Tapi ia terlampau kaget menerima pesan bahwa Yoongi sudah sampai didepan gedung flatnya. Ia tidak menyangka bahwa Yoongi akan benar-benar datang pukul delapan tepat.
Yoongi dan kedisplinan yang patut diteladani.
Padahal ia tengah asyik membaca webtoon dan masih bersantai. Masih ada lima belas menit untuk bersiap, dan bodohnya malah lupa waktu. Hingga tahu-tahu pesan masuk dari Yoongi membuatnya terjungkal dan segera menyambar coat panjang dan sepatu puma warna coklat secara acak; tidak begitu peduli apakah itu cocok di padukan.
"Hei, santai saja."
Jimin menghirup napas dalam-dalam. "Kau selalu mengejutkanku, hyung! Bagaimana bisa aku santai kalau kau tiba-tiba sudah sampai. Aku baru bersiap," setengah berbohong sebab sesungguhnya ia senang mengulur waktu dengan percuma.
"Jika aku bilang delapan, ya delapan." Yoongi tertawa dan mengeluarkan kunci mobil. "Ayo, kau mau makan apa?"
"Loh? Hyung punya mobil?"
Yoongi mengernyit, "Aku tidak bisa membedakan apakah itu pujian atau hinaan."
Mulut Jimin ia tutup rapat dengan jemarinya yang gemuk dan kecil. Matanya membulat lucu begitu sadar ucapannya terdengar salah. Namun Yoongi tetap tertawa, apapun reaksi yang Jimin berikan. Hingga Jimin menurunkan tangannya dan tersenyum canggung. "Kau tahu bukan begitu maksudku, 'kan hyung."
"Ya, aku tahu." Yoongi membukakan pintu untuk Jimin masuk, setelahnya berlari ke sisi pengemudi dan masuk. Segera menyalakan mesinnya dan menyalakan audio player. Jimin terkejut dalam diam bahwa Yoongi ternyata pendengar IU. Memang karakter Yoongi sangat cocok dengan suara lembut IU tapi ia justru berpikir kalau Yoongi lebih suka band indie atau malah 5 Seconds of Summer. "Kau keberatan dengan makanan Mexico, atau Italia?"
"Sebenarnya, kalau bukan makanan Korea aku akan makan banyak sekali. Kalau tidak makan masakan Korea aku tidak merasa kenyang,"
Jimin tidak bisa mengira kapan Yoongi tidak tertawa oleh kata-katanya.
"My treat then," Yoongi menambah volume audio player ketika lagu Someday terputar. Jimin mendesah pelan sebab ini salah satu lagu favoritnya sejak sekolah menengah. IU dan suara seringan kapas memang mampu membuat siapapun jatuh hati. "Dengan imbalan potong gaji,"
"Waduh –!" Jimin menjerit. Terkejut bukan main saat Yoongi mengatakannya dengan wajah serius. Belum juga punya gaji malah sudah teracam dipotong sebab makan malam dengan boss. Siapa yang tidak ketakutan. "Jangan gitu dong, hyung. Gaji pertamaku saja belum turun,"
Dan Jimin ikut tertawa saat Yoongi terpingkal gemas oleh celotehan karyawannya itu.
.
"Hei, Jimin."
Untuk kesekian kalinya, Jimin terkejut. Di hari terik seperti ini, dengan tanpa pesan pengantar atau tanda-tanda, Yoongi datang ke kampusnya. Dengan setelan pakaian yang cukup membuat beberapa teman kampusnya menganga dan berliur. Jaket denim dilipat sampai siku yang membalut kaus katun kuning pucat bermotif Alice in Wonderland, jeans coklat, converse coklat tanah, Army swiss, dan kacamata hitam –astaga sejak kapan Yoongi pandai berdandan begini?
Dengan langkah kecil Jimin berlari. Menggeret Yoongi menepi sebelum gadis di lobby menjerit dan minta foto bareng. "Apa yang hyung lakukan disini?"
"Hei, bukan itu yang ingin kudengar." Yoongi melepas kacamata hitamnya. Bahkan Jimin tahu Yoongi tengah memakai eyeliner, setipis apapun, Jimin mengenalinya. "Yoongi hyung, kau tampan sekali hari ini. Pakaianmu keren, kau cocok dengan setelan begini; setidaknya puji dulu baru bertanya."
"Bleh." Jimin menyisir rambutnya, "Kau sudah tahu bagaimana reaksi teman kampusku yang sanggup membuat gedung ini terendam banjir liur. Jadi, katakan, ada hal penting apa? Jihoon sedang kumpul senat, katanya."
Yoongi merengut, "Aku mencarimu. Tidak ada urusan dengan si setan kecil itu."
"Hm? Aku?"
Tidak ada waktu bagi Jimin untuk menanggapi sebab Yoongi sudah menarik lengannya dan pergi. Membuat beberapa pasang mata menelisik, siapa kiranya pria ganteng yang tengah berbincang dengannya. Sebab sehari-hari Jimin hanya bersama Jihoon atau Seokjin, dan kali ini aura pemuda itu lebih manly ketimbang Seokjin. Membuat beberapa perempuan memekik kagum. Dan berniat menginterogasi Jimin esok pagi.
"Kau suka patbingsoo? My treat, tanpa potong gaji."
.
Pukul sebelas malam, dan Jimin sudah harus terkejut oleh Yoongi yang tersenyum dengan wajah horror.
"Kau –astaga, hyung!"
Yoongi hanya tertawa, menelaah penampilan Jimin yang sudah mengenakan sweater turtleneck warna hijau dan celana panjang warna hitam, menggendong ransel warna coklat gelap dan rambut yang sedikit lepek oleh keringat. "Sudah mau pulang?"
"Mm, kan cafemu sudah tutup. Aku sudah mengepel lantai dan mengunci gudang. Apa kau perlu sesuatu denganku, hyung?"
Sekarang gerak-gerik Yoongi mudah dibaca. "Bukan hal besar, sebenarnya."
"Dan itu adalah –?"
Yoongi nyengir dan melambaikan dua kertas, "Late night movie?"
.
"Apa ada sesuatu yang ingin kau lakukan, Jimin?"
"Hm?" Jimin tengah meletakkan buah-buahan didalam kulkas begitu Yoongi yang tengah minum jus apel tiba-tiba mengajaknya bicara. Berpikir sebentar, namun tidak menemukan satu pun jawaban yang pantas. Belakangan ini ia sudah merasa senang jadi tidak begitu membutuhkan sesuatu. "Tidak juga, kenapa memangnya?"
Hening. Yoongi tidak langsung menjawab, sebab meneliti buku keuangan dalam genggamannya. Kemudian meminum jus apelnya dan kembali bicara. "Sedang ingin pergi hanya tidak tahu harus kemana, mungkin kau punya referensi." Yoongi mengangkat bahu.
"Kita sering bepergian belakangan ini, hyung."
Yoongi mengangguk. Menatap Jimin yang tengah menggeret kursi dan duduk mendekati Yoongi, tersenyum pelan. "Kepalaku sering pusing, pergi denganmu membuatku merasa baikan."
"Kalau sakit, seharusnya istirahat dan minum obat, hyung."
Yoongi tertawa dan mengacak rambut Jimin. "Aku bukan tipikal orang yang mengonsumsi obat, Jimin-ah. Tidak begitu senang dengan efek mengantuknya. Jalan-jalan, atau makan adalah alternatif terbaik."
"Aku akan senang jika bisa membantumu,"
Yoongi bertanya memastikan melalui tatapannya. Jimin memahami binar mata itu dan secara reflek mengangguk mengiyakan. Yoongi banyak membantunya jadi, Jimin tentu merasa terhormat bila mampu membuat bossnya merasa baik. Dengan keakraban yang mereka jalin selama ini, ia tidak lagi canggung bersama Yoongi. Rasanya sudah nyaman.
"Karena suaramu bagus, mau karaoke?"
.
Kamis, pukul tiga dini hari.
Entah pengaruh setan mana yang membuat Yoongi dan Jimin menghabiskan waktu sampai selarut ini. Mereka hanya karaoke dan pergi makan, namun waktu memang berjalan begitu cepat hingga tidak terasa lagi detikan jarum jam yang terus berputar. Jimin menolak menginap di rumah Yoongi, ia memiliki tempat tinggal dan tidak akan pernah membiarkannya kosong tak berpenghuni. Ia menyayangi tempat tinggalnya meski Taehyung menganggapnya hanya sebuah tempat.
Yoongi melepas seatbeltnya, "Kau yakin bisa pulang?"
"Hyung, kita sudah sampai. Kau mengantarku dengan selamat." Jimin tersenyum dan melepas seatbeltnya juga. Mengeratkan jaket yang Yoongi pinjamkan, sebab Jimin terlalu sensitif dengan cuaca dingin. "Hanya dilantai tiga, hyung. Tidak perlu khawatir."
"Bagaimana jika aku mengantarmu sampai kedalam kamar?"
"Tidak –" suara Jimin separuh menjerit, meski diselingi sengau sebab mengantuk dan serak. Tenaga dan suaranya tergilas oleh auman gila yang ia buat selama karaoke. Menyenangkan dan membuatnya lupa, rasanya aneh, menantang, dan gila. "Sudah lewat dari kata larut, pulanglah hyung. Kau punya daya tahan tubuh yang bagus. Jangan paksakan dirimu menyetir kalau mengantuk."
Yoongi mematikan ac mobilnya begitu menyadari Jimin menggigil. "Kalau khawatir, ijinkan aku menginap, kau ini aneh."
"Maaf," Jimin tersenyum lemah. "Tidak bisa."
"Aku tahu. Sudah sana, masuk. Setelah itu lambaikan tanganmu dari jendela sana atau kirimi aku pesan bahwa kau sampai di ranjang dengan selamat."
Jimin terpingkal sekali lagi, "Siap, boss."
.
Lampu ruangan menyala. Ini aneh, Jimin selalu meninggalkan flat dengan lampu dimatikan.
"Darimana saja kau?"
Terlampau terkejut ketika Taehyung dan suara bariton menamparnya dari rasa kantuk. Jimin terkesiap dengan degupan jantung yang keras bukan main. Sebab sudah lama rasanya tidak melihat Taehyung di sekeliling flat. Rindu ini membuatnya gila. "Pergi, dengan Yoongi hyung. Kau sudah pulang?"
"Ck," Taehyung menatap Jimin nyalang. "Kau pergi bersamanya terus belakangan ini, dan pulang malam setiap hari. Kau bekerja atau apa, sih?"
"Aku bekerja sampai jam sebelas. Tadi Yoongi hyung memintaku menemaninya pergi,"
"Kemana?"
Dia tidak tahu mengapa nada Taehyung sangat tinggi. "Karaoke, kenapa memang? Tunggu, nadamu terdengar menyeramkan, Tae. Kau tidak sedang marah, kan?"
"Kau ini bodoh?"
"Maaf?" Jimin lebih terkejut lagi sekarang. Taehyung mungkin sering menjahilinya dengan kata kotor atau bodoh tapi dengan intonasi dan mimik yang serius seperti ini, seolah Taehyung benar-benar berpikir dirinya bodoh. Dan untuk alasan apa, Jimin tidak tahu. Kenapa Taehyung tiba-tiba marah seperti ini; aneh dan tidak masuk akal. "Salah jika aku pergi karaoke? Toh biasanya kau juga pulang malam karena pergi dengan Jungkook, bukan?"
"Kau sedang melempar boomerang padaku?"
"Kau ini kenapa?"
Suara Taehyung meledak. "Kau yang kenapa, keparat! Pulang malam seperti orang tidak tahu etika, turun dari mobil mahal, dengan embel-embel bekerja –"
"Aku memang bekerja, ada apa denganmu?"
"Ck," Taehyung mendekat dengan wajah sangarnya. "Aku pulang malam karena belajar, tugas kuliah, sedangkan kau –bermain tidak jelas dan apa ini; karaoke? Dengan boss? Bisa kau bayangkan seperti apa orang akan berpikiran tentangmu,"
Terlampau kaget untuk bereaksi, lidahnya kelu dan mampet. "K –Kau tidak serius dengan ucapanmu, bukan? Terdengar seperti kau mencemooh dan beranggapan aku pria nakal yang pulang larut sebab pekerjaan dunia malam,"
"Kau mengaku rupanya,"
"Aku tidak –!" suara Jimin memekik. Ia tidak terima; bagaimana bisa, Kim Taehyung, seorang yang sangat ia sayang dan percaya berpikiran buruk tentangnya. Ia amat terpukul mengetahui Taehyung memiliki prasangka jelek terhadapnya. Bahwa ia pulang larut karena bersenang-senang seperti anak klub, sebab tidak mungkin, dan tidak akan pernah.
Sesuatu yang membuatnya merasa sangat sakit adalah bahwa Taehyung tidak percaya padanya. Ia merasa semua ini tidak adil. Ada begitu banyak hal yang ingin ia utarakan tentang perilaku Taehyung yang kurang ajar namun ia tidak tega dan sekarang, satu-satunya orang yang bisa ia jadikan sandaran berubah. Berbalik menuduhnya dan menggilas kewarasannya.
"Bukankah kau, yang selama ini seperti anak hilang, tidak tahu rumah, tidak tahu pulang. Pergi dan datang seenaknya, kau pendusta ulung, pemberi harapan, tidak tahu merasa berterima kasih. Tidak punya etika, tidak peka, bodoh –Kim Taehyung, jika kau marah dengan kelakukanku yang kau nilai bejat seperti pelacur, mengapa aku tidak bisa begitu padamu?!"
Taehyung mengernyit, "Apa?"
"Kau menghilang, pulang larut, bahkan tidak pulang berminggu-minggu. Selama setahun aku menunggumu, kau tetap tidak berubah. Kau terus saja pergi bersama Jungkook untuk seribu alasan, aku sampai muak mendengarnya. Tugas, penelitian, praktikum, presentasi –"
"Aku memang melakukannya!"
Entah sejak kapan Jimin menangis. " –aku sudah lelah. Jika kau marah pada Yoongi, mengapa aku tidak bisa begitu pada Jungkook? Kau menghabiskan banyak waktu dengannya. Aku mengerti kalau jadwalmu begitu padat tapi apa benar tidak ada barang sepuluh menit kau sisihkan untuk melirik bahwa aku ada disini, menunggumu pulang, Kim Taehyung? Aku lelah menunggu dan berharap, kau kembali dengan cengiran konyolmu dan kita menghabiskan malam dengan bercandaan konyol kita. Bahkan aku tidak bisa menatap matamu lagi saat sarapan; saat pulang kau terlampau mengantuk dan pagi-pagi kau terbirit ke kampus –"
" –Jika kau dengan mudahnya menuduhku berbuat macam-macam, mengapa aku tidak bisa begitu padamu? Kau yang nampak lebih mencurigakan, tahu?"
"Kau menuduhku?"
Jimin merinding dengan Taehyung dan tempramen yang meningkat. "Bukankah kau menuduhku lebih dulu? Tatapan menelisik dan decakan sebal itu, kau berpikiran macam-macam tentangku, bukan? Oh, astaga, Kim Taehyung. Saat ini juga aku bisa bersumpah bahwa aku tidak melakukan hal buruk apapun, juga tida berfoya-foya atau bermain seperti apa yang kau bayangkan. Lalu bisakah kau bersumpah?"
Saat Taehyung hanya bergeming, Jimin berdoa penuh ketakutan.
"Kau seperti anak kecil,"
Perut Jimin tiba-tiba mulas, jantungnya berdegup kencang sebab ada sesuatu didadanya yang terasa perih. Pikirannya kalang kabut dan seketika perasaannya aneh, gelisah, tidak karuan. Reaksi Taehyung sangat tidak masuk akal dan membuatnya bertanya. Taehyung bersikap seolah Jimin salah padahal jika diperhatikan, bahkan Taehyung yang memulai bencana ini lebih dulu. Taehyung diminta bersumpah namun melenggang pergi, seolah melepas masalah ini hingga menjadi terombang-ambing.
"Kim Taehyung –!" Jimin menahan lengan sahabatnya, "Ada apa denganmu, ha? Tidak mampu bersumpah? Lalu bisa kau jelaskan, siapa yang salah disini?"
Taehyung menepis jemari Jimin dengan kasar. "Kau bicara ngawur! Sudahlah, aku mengantuk. Cepat cuci muka atau apalah sana, lalu tidur. Memangnya kau tidak capek? Bermain sampai lupa waktu."
"Kim Taehyung –!"
"Apa?!" Taehyung balas menyalak. Suaranya nyaring dan berat. "Sudah kubilang, aku pulang larut sebab tugas kuliah. Tidak lebih. Dan Jungkook itu temanku. Lagipula aku sedang sibuk dengan praktikum klinik di rumah sakit jadi seharusnya kau paham,"
"Aku paham, masalahnya kau yang tidak memahamiku –!"
"Bagian mananya?" Taehyung memasang wajah nyeleneh. "Pulang malam diantar boss, akhir pekan pergi bersama boss, pulang kuliah dijemput boss, bahkan pergi karaoke dengan boss sampai jam tiga pagi. Bagaimana aku bisa tidak berpikir buruk tentangmu?"
Kalimat itu membuat Jimin tertohok sampai mampus.
"Kau –tidak percaya padaku?"
Selama ini Jimin berdoa agar Taehyung selamat, selalu sehat, dan diberkati. Ia tidak tahu bahkan tidak pernah mengira bahwa Taehyung mampu menusuknya dengan ucapan setajam belati dan tatapan menelisik penuh curiga serta pikiran kotor penuh spekulasi negatif. "Tidak. Aku kecewa Jimin, kukira kau anak baik-baik. Aku tidak bisa berpikir positif kali ini, kau pulang jam tiga pagi, Jimin –tiga pagi! Wajahmu kusut dan penampilanmu berantakan, bagaimana bisa aku membuat otakku diam untuk tidak kepikiran macam-macam?"
"Kau –"
Jimin merasa tubuhnya berubah jadi agar-agar saat Taehyung menampiknya, "Menjauh dariku."
.
.
To Be Continued
.
Panjaaaaaaaaaaaaaaaaang banget ya, wkwkwkwk. Memang terlihat ngelantur, soalnya ada banyak kejadian yang akan diceritakan pada chapter depan sampai habis. Untuk informasi, ini bukan romance tapi friendship Vmin, ya! mungkin karena penggambaran cerita dan kalimat yang ambigu ke bromance, jadinya dikira romance.
But i want to write a true undying friendship with Vmin because they're different in my tought. Mereka lucu dan gila dengan cara mereka. Semoga bisa menyegarkan pikiran dengan membaca cerita amburadul dari saya. Kritik dan saran akan sangat membantu dan saya bersyukur jika kalian bersedia menumpahkan pemikiran kalian di kolom review.
So, happy reading and give supports~!
[copyright – sugantea]
