LAST CHAPTER
" Chanyeol hyung tidak seharusnya kau berkata begitu."
" Wae? Bukankah seorang teman berhak merindukan temannya?"
"Entahlah, mungkin karena sudah sangat lama hingga aku lupa rasanya dirindukan."
"Ei,…. Jongin yang kukenal tidak pernah melankolis begitu."
"Hmmm?"
"Aku bilang bahwa disini banyak sekali yang merindukanmu Jong."
"Mungkin hanya merindukan bahan ejekan, taruhan, dan bullyan mereka."
"Maafkan aku."
"Tidak perlu." Jongin menjawabnya dengan tersenyum. Meskipun begitu, chanyol tahu senyum itu sarat akan kepedihan dan chanyeol adalah salah satu yang telah menggores kepedihan dalam senyum itu.
"Hangang park sudah banyak berubah."
"Manusia juga berubah. Hanya perubahan lah yang kekal. Bukan begitu hyung?"
"Kau benar. Dan perasaan seseorang tentunya juga akan berubah."
"Kau benar, seseorang yang terpaku pada perasaan masalalunya adalah orang yang terjebak. Dan aku salah satunya."
"Kau bisa menggenggam tanganku Jongin."
"Tidak ada alasan bagiku untuk melakukannya hyung."
"Aku menyukaimu, ah tidak. Aku mencintaimu, apakah itu tidak cukup?"
"Dan membiarkan diriku terjebak pada permainan lama kalian? Apa yang sedang kalian rencanakan? Kau dan Oh sehun. Aku mengira kau benar-benar temanku hyung. Selamat tinggal." Jongin berucap sangat dingin dan berjalan meninggalkan Chanyeol yang Nampak berdiri mematung disana.
Ini adalah karmanya, chanyeol sudah menduga hal ini akan terjadi, namun dadanya masih tetap terasa sakit. Sangat.
" Ini tidak seberapa Chanyeol. Bayangkan betapa sakitnya hati Jongin." Ujarnya lemah pada dirinya sendiri.
Hatinya berdarah, tercabik dan teriris. Adakah yang bias menolongnya? Selama ini orang lain hanya menambahkan garam dan air keras dihatinya. Tidak adakah yang sanggup menolong hatinya yang sekarat? Ia hanya anak polos yang terpaksa menelan pil pahit kehidupan sejak usia dini. Anak polos yang harus merasakat nyeri dan sakit hati setiap hari. Anak polos yang terpenuhi dendam karena sakit yang dirasakannya. Hatinya membusuk karena terlalu banyak luka. Ia kira, airmatanya sudah mongering, namun sebanyak apapun dia meyakinkan hatinya untuk tidak menangis. Airmatanya tetap lolos. Tidak ada yang bisa menolongnya. Bahkan tidak ada keluarga untuknya. Hatinya, tolong selamatkan hatinya dari luka.
.
.
.
"Pagi yang sangat indah bukan tuan Kim? Atau Jongin?" sehun berusaha mengejar langkah jongin yang menuju kedalam lift.
"Hmm" jawab jongin menggumam.
"Ah anda manis sekali hari ini"
Jongin hanya menatap tajam oh sehun yang nampak sangat out of character dari yang ia tahu sebelumnya.
"Aduh jangan memandangku seperti itu, nanti kau jatuh cinta padaku nini" Oh sehun masih saja berusaha menggoda Jongin.
"Apapun rencana busukmu, aku tidak peduli tuan Oh"
Ding
Lift berhenti dan membuka tepat setelah jongin mengatakan kalimat terbut dan ia segera keluar meninggalkan oh sehun yang menatapnya sendu dari belakang.
"Kau pantas mendapatkannya oh" ujar sehun lirih. "Tapi rasanya sakit" lanjutnya.
Melupakan adalah sebuah kata yang sangat mudah untuk diucapkan namun sangat sulit untuk dipraktekan. Lupakan aku, maka semakin kau mengingatnya. Rumit bukan? Hidup seseorang terbalik-balik hanya karena hati yang tidak tenang. Melupakan berarti meninggalkan namun tak jarang orang yang ingin kau lupakan tidak ingin kau melupakannya. Sungguh rumit hidup manusia.
.
.
.
.
"Tidak kah kau merindukan Appa nak?"
"Anda berkata terlalu manis tuan kim"
"Apakah aku begitu buruk di masa lalu?"
"Entahlah."
"Aku tahu aku ayah yang buruk bagimu Jongin, tapi ijinkan ayahmu ini menjelaskan semuanya."
"Aku hanya berharap jika ibu memukul dan memarahiku akan ada ayah yang memelukku dan menenangkanku, bukan seseorang yang diam menatap datar padaku dan mengabaikanku ketika aku melihatnya."
"Jadi, Tuan kim yang amat sangat terhormat apa yang ingin anda jelaskan?"
PLAK
"Aku tidak pernah mengajarimu untuk kurang ajar jongin."
"Dan saya tidak ingat anda pernah mengajari saya satu hal pun. Saya pikir, anda dan keluarga anda yang sangat terhormat dan sangat bahagia itu tahu akan hal ini." Jongin berucap datar.
PLAK
Taemin entah datang darimana menampar pipi jongin. Goresan dan lelehan darah dihatinya kian bertambah.
"Baiklah, potret ayah dan anak yang sangat kompak bukan? Dan saya disini sebagai penjahatnya. Terima kasih telah mengijinkan saya meminjam nama kim, nama besar keluarga kalian. Saya permisi."
Jongin melangkah pergi meninggalkan restoran, tanpa menoleh kebelakang namun siapapun yang ada didepannya akan tahun lelehan airmata yang menuruni pipinya semakin deras mengalir. Seolah hujan mengerti dirinya, tubuhnya telah basah oleh air hujan, juga dirinya yang telah basah oleh airmata. Jika ada penghilang rasa perih dalam hati, jongin rela membayar berapapun untuk ini.
Entah siapa yang salah dalam cerita ini, Jongin yang berpura-pura kuat dan tegar serta keras kepala atau Keluarga Kim yang tidak pernah peka dengan harga diri dan emosi tinggi? Semua ini semakin kusut tak beraturan. Andai saja salah satu pihak mau mengalah untuk meminta maaf. Namun agaknya sifat mereka tidak ada satupun yang mau untuk melakukannya. Yang satu lelah untuk terus disakiti, yang satu takut untuk lebih menyakiti.
.
.
.
Tubuhnya memanas, ia terdiam duduk dikursi kerjanya. Ia sangat merindukan neneknya. Sangat merindukan Luhan gegenya, ia sudah lelah. Tubuhnya menghianatinya.
"Tuan Kim…" Sehun memanggil jongin yang Nampak menelungkupkan kepalanya.
"Jongin…." Tidak ada jawaban.
"Hei…. Nini…." Sehun mengguncang pelan tubuh jongin dan memeriksa dahinya.
"Astaga,.. panas sekali tubuhmu." Sehun segera menggendong Jongin dan berlari kesetanan menuju lift dan segera membawanya ke rumah sakit.
.
.
.
Jongin sudah sadar sejak 30 menit yang lalu dengan Oh Sehun yang masih menungguinya layaknya kekasih yang sangat setia. Sebenarnya Jongin sudah hendak meninggalkan ruang rawat ini sejak ia siuman namun sialnnya Oh sehun tidak mengijinkannya bergerak sedikitpun.
" Apapun drama yang sedang kau mainkan aku tidak peduli Oh"
"Tidak bisakah otakmu yang cantik itu tidak berfikir picik kepadaku?" Sehun menyahut
"Dengan seluruh tindakanmu dulu? Tentu tidak bisa. Seorang Oh yang terhormat tidak mungkin mau berdekatan dengan orang seperti Jongin tanpa ada alas an khusus. Apalagi kali ini? Mobil mewah? Rumah? Saham? Atau bahkan wanita? Simpan semua itu karena aku tidak akan jatuh untuk hal yang sama." Jongin berucap sangat dingin.
"Dengar, aku tahu aku sangat brengsek dulu. Aku akui itu dan tidak bisakah kau melihat usahaku kali ini tidak berniat untuk bermain-main?" Sehun berucap dengan nada emosi dan amarah yang terdengar jelas.
Pyar.
Jongin menjatuhkan gelas di meja nakas samping tempat tidurnya.
"Bisakah kau mengembalikannya ke bentuk semula? Setelah aku memecahkannya? Bisakah kau kembali menuang air ke dalamnya setelah itu? Bagaimana rupa gelas itu setelahnya? Bisakah kau menjawabnya?"
Sehun tertegun. Ia tidak bodoh untuk mengetahui apa yang jongin maksud. Ia hanya mampu melihat Jongin dengan pandangan kosong. Benar. Mereka tidak memikirkan bentuk hati jongin saat ini. Ia sendiri selama ini hanya memikirkan Jongin akan memaafkannya tanpa berfikir bentuk hati Jongin saat ini.
"Maaf" Lirihnya sambil berbalik meninggalkan ruang rawat Jongin.
Sehun cukup terkejut untuk melihat keluarga Kim ada di depan pintu ruang rawat Jongin. Namun, dari ekspresi mereka, Sehun tahu Keluarga Kim mendengar semua yang Jongin katakana kepada Sehun.
Hingga akhirnya mereka terjebak dalam diam berdiri bersandar didepan ruang rawat Jongin dengan backsound tangisan pilu dari bibir Jongin yang seperti telah ditahan namun masih tetap meloloskan isakan-isakan perih yang menyayat hati.
Adakah yang bisa menolong hatinya yang sekarat?
Bisakah ia ?
.
.
.
Jongin terbangun dari tidurnya karena lelah menangis. Didapatinya sepucuk surat dan sebuket bunga mawar putih ditangannya.
Surat itu dari ibunya, yang meminta maaf dan dengan sabar akan selalu menanti kedatangan Jongin.
Dear nae sarang adeul
Oemma mianhata
Jongin-ah, oemma tahu… betapa buruknya oemma selama ini dan oemma pun tidak sanggup untuk meminta pengampunan kepadamu atas semua kesalahan oemma.
Pulanglah nak, kapanpun kami akan selalu menunggu kedatanganmu, kami tidak pernah melupakanmu bahkan disetiap hembusan nafas kami.
Kami menyanyangimu
Jongin hanya diam menatap kosong dalam dua kertas yang ditujukan padanya. Entahlah, perasaannya begitu kacau saat ini.
Hunnie and Nini
Dalamhatiku aku bersumpah dan berjanji tidak akan pernah membuatmu dan membiarkanmu terluka lagi.
Lean on me.
O.S.H
.
.
.
Seperti tak pernah lelah untuk mmpermainkan hatinya, kini jongin mendapati sepucuk mawar putih dan sebuah ucapan selamat pagi dan hari yang indah. Agaknya hal ini tidak berlaku sekali saja namun setiap hari hingga kini telah mencapai 1 bulan jongin terus mendapatkan bunga mawar putih yang sama.
Taemin juga telah mengunjunginya dan meminta maaf untuk kejadian lalu. Ia tidak bermaksud untuk menyakiti Jongin dengan sikap dan caranya. Meski Jongin hanya diam, namun Taemin tahu jauh dilubuk hati Jongin tetaplah dongsaengnya yang amat polos dan penyayang.
.
.
.
"Apa yang akan kau lakukan tuan Oh?"
"Oh.." Sehun Nampak terkejut mendapati Jongin yang keluar kamar mandi ruangannya hanya bermodalkan bathrobe putih polos yang menampakkan pundak mulusnya. Well, seharusnya Oh sehun merutuki dirinya yang telah tertangkap basah hendak mengirimkan bunga mawar putih dan ucapan selamat pagi untuk yang ke 88 kali. Bukannya malah mengagumi kemulusan pundak Jongin. Tapi oh sehun tetaplah seorang oh sehun. Ia dengan tampang datarnya menjawab "Meletakkan kiriman bunga untukmu."
"Apa kau tahu siapa pengirimnya?"
"Mungkin kau membencinya."
"Aku memang pernah membenci pengirimnya namun aku tidak pernah membenci bunganya. Dan berusahalah lebih keras Oh." Ujar jongin sambil tersenyum kecil.
END
SORRY...
I just felt that this story is out of my plan and the flow it a bit off
so its end from here
You can create your own imagination what will happen next about Jongin with his family, Sehun. Chanyeol, and Luhan
See You
Kamsahamnida
Bow
