.Trapped.
.
Vmin;
Kim Taehyung
Park Jimin
.
[Bagian Dua]
.
Sudah sembilan hari Jimin tidak masuk kerja.
Selama itu pula Yoongi menyibukkan diri dengan mondar-mandir di seluruh penjuru cafe. Terakhir ketika ia mengantar Jimin pulang, ia menunggu. Tidak ada lambaian tangan atau pesan darinya, sejujurnya Yoongi khawatir tapi ia menghormati keinginan Jimin yang tidak memperbolehkannya masuk ke gedung flatnya. Ia memiliki banyak spekulasi buruk kali ini, Jimin tiba-tiba menghilang dalam waktu lama tanpa kabar sama sekali.
Ia sudah mencoba menghubungi Jihoon tapi setan itu sedang ada urusan di Jeju bersama klub kampusnya selama seminggu. Dan dengan kurangajar dia menon-aktifkan ponselnya, tidak ingin diganggu, katanya. "Telpon saja dia, hyung."
"Oh –astaga, Seungkwan," Yoongi terkejut saat tiba-tiba Seungkwan datang membawa kardus berisi tepung dan meletakkannya di ruang penyimpanan. "Jangan ikut campur kau,"
"Aku hanya membantu, muka hyung sangat seram saat berpikir terlalu keras. Pengunjung jadi tidak nyaman makan disini; begitu yang tertulis di kotak saran."
"Eh?" Tidak menyangka jika kekacauan ini berdampak pada cafe kecilnya. Padahal biasanya ia mampu mengontrol emosinya. Mungkin empatinya pada Jimin begitu besar. Akhir-akhir ini mereka bersama dan sudah seperti teman dekat. Dalam diam melaksanakan misi 'mengembalikan senyum Jimin' dan lambat laun berhasil. Kehilangan tanpa berita seperti ini membuatnya bingung.
Seungkwan memperlihatkan ponselnya pada Yoongi, "Temanku satu kampus dengan Jimin. katanya dia sedang pergi ke Busan karena urusan keluarga. Mungkin ponselnya sengaja tidak diaktifkan untuk alasan tertentu, sudahlah hyung, jangan murung terus."
Sepupu Jimin baru saja menikah.
Kurang lebih seminggu dia membantu keluarganya untuk persiapan pernikahan. Transport pengantin, kesesuaian event organizer, pakaian, cincin; Jimin yang mengurus. Sejenak iri, kapan dia bisa menyusul menikah dan hidup dengan damai? Mungkin saat Taehyung sudah menikah, pikirnya.
Jimin pulang dengan ribuan jenis pemikiran dalam benaknya. Satu dari sekian adalah ocehan ibunya tentang kabar Taehyung, bagaimana Seoul, apa Taehyung makan dengan baik, apa Taehyung berubah jadi makin tampan, apa Taehyung memiliki pacar, apa nilai Taehyung bagus, apakah, apakah. Dan Taehyung adalah satu dari sejuta kalimat yang dilontarkan selama seminggu penuh dan itu membuat otaknya bersarang tidak karuan. Ia tidak bisa menjawab dengan benar sebab dia memang tidak tahu apa yang terjadi dengan Taehyung.
Terakhir mereka bertemu, Taehyung marah tidak jelas padanya dan menjauh. Membuat lautan sendiri dan menjadikan dirinya pulau jauh tak berpenghuni. Jimin sungguh dilarang untuk menapakkan kaki disana. Membuat Jimin uring-uringan sebab sikap Taehyung yang luar biasa aneh dan sangat bukan dirinya.
Saat Jimin tidak sengaja mendapat buket bunga yang dilemparkan pengantin sepupunya, ia justru berharap khidmat bahwa Taehyung dapat kembali, dan meluruskan relasi mereka yang remuk.
Baru seminggu dan ia sudah serindu ini. Ia bertanya sejak di stasiun; apakah Taehyung sama rindunya dengan dia, bagaimana jika Taehyung merasa bersalah atau menyesal telah bersikap kasar padanya tempo lalu, dan (ini yang selalu Jimin tanya) apakah Taehyung makan dengan baik. Tangannya bergemeletuk saat membuka pintu, jantungnya berdegup gila bahkan dengan bayangan Taehyung yang menunggunya penuh senyuman.
Jika memang Taehyung berkenan.
"Uh –astaga," Jimin terbatuk hebat. Oksigen tidak terdeteksi lagi, hingga kepalanya berputar dan berdenyut. Napasnya sesak dan matanya perih. Ruangan jadi penuh dengan warna abu yang memuakkan hingga Jimin benar-benar bisa muntah disini. Namun matanya menjadi melotot nyalang begitu Taehyung terlintas lagi dibenaknya.
Jangan begini, Kim Taehyung, Jimin membatin.
Langkahnya besar-besar meski kakinya gemetar ketakutan. Relung paru-parunya bolong begitu mendapati Taehyung dan Jungkook tengah duduk bersama di sofa, menonton tv dengan sampah berserakan di sekeliling mereka. Selain karena flatnya menjadi hancur tidak karuan, yang membuat tulangnya menjadi lunak adalah dimana ia melihat dengan jelas mereka tengah merokok.
"Oh, kau," Taehyung mendelik santai dan meniup kepulan asap tembakau. "Kukira kau tidak akan pulang, pakaian dan barangmu banyak sekali menghilang."
"Apa?"
Taehyung mengendikkan bahunya acuh tak acuh. Tidak begitu peduli dengan ucapannya, sebenarnya. Mendapati Jimin tengah menatapnya penuh sangsi saja sudah membuatnya malas, kehilangan mood begitu mudahnya. Padahal tadi dia sedang bersenang-senang dengan Jungkook. Ia melirik sahabatnya itu dan ternyata dia juga memasang wajah masamnya. "Kenapa? Ada apa dengan wajahmu itu?"
Jimin terbatuk keras begitu Taehyung menghembuskan asap rokok ke wajah Jimin yang lepek oleh keringat. Hatinya sesak sampai rasanya ingin meledak, perih, tidak karuan. Ia tidak menyangka mendapat perlakuan hina semacam ini oleh sahabatnya sendiri. Bahkan memimpikannya pun ia tidak berani.
"Keluar."
"Heh, dengar –"
Tidak tahan lagi, kepalanya sudah berputar. "Jeon Jungkook, kuharap kau keluar sekarang juga! Atau aku akan menyeretmu dengan tanganku sendiri. Pulanglah karena langit sudah gelap."
"Jimin –!"
Pekikan Taehyung yang terdengar marah itu tidak dihiraukan. Ia menarik kerah kemeja kotak-kotak yang dipakai Jungkook dan menatapnya nyalang. Tidak tahu mengapa tiba-tiba ia bisa begini berani menatap mata orang dengan emosi campur aduk seperti ini. Ia marah dan sedih, jantungnya nyeri sampai ia tidak mampu bernapas dengan benar. Dan dengan tenaga yang begitu besar (meski Jimin tidak menyangka ia bisa menjadi sekuat itu) Jimin sungguh-sungguh menyeret Jungkook bahkan menendang perutnya keluar flat. Matanya semakin panas, bukan karena melihat betapa mengenaskan Jungkook yang bersimpuh meringkuk kesakitan dihadapannya. Namun sesuatu yang sejak lama membuat kepalanya berlubang sebab dihujam sebegitu hebatnya, sesuatu yang mampu menjadikan dirinya nyaris gila oleh hal konyol seperti ini.
Jimin menangis hebat, "Jauhi Taehyung, kumohon."
.
"Kim Taehyung,"
"Hm."
Bukannya tidak bersyukur tapi memang agak aneh melihatnya tidak terbirit menuju kampus di pagi hari. Ia pikir ia akan merenung seharian karena Taehyung menghindarinya lagi. Dan ketika Taehyung benar-benar ada dihadapannya, ia justru tidak tahu harus bicara apa. Sekejap lidahnya kaku dan menjalar ke seluruh tulang dalam tubuhnya. Bahunya menegang dan sangat berat. Kim Taehyung ada disini dan Jimin bahkan tidak tahu harus melakukan apa.
"Hei, tidak ada kelas?" Jimin mencoba membuka percakapan dengan hal ringan. Meski ia tahu suaranya parau dan bergetar. Sebab dia benar-benar ragu apakah ia harus bicara dengan Taehyung atau tidak. Ia tidak bisa menahan ini lebih lama namun ia tidak kuasa jika Taehyung dan temperamennya belakangan ini malah menjauhinya.
"Hm."
Jimin menggigit bibirnya ragu. Mug yang tengah ia genggam ikut bergetar saking gugupnya. Kelasnya dimulai tiga jam lagi dan ia tidak tahu apa ini kesempatan untuknya membicarakan hal yang mengganjal ini dengan Taehyung atau tidak. "Kau tahu, merokok tidak baik, Tae."
"Astaga, lagi." Taehyung melempar ponselnya keatas nakas dan bangkit. "Sampai kapan kau mendikteku seperti guru sekolah dasar? Aku muak dengan omong kosong nyelenehmu itu, tahu? Tidak peduli bagaimana yang kulakukan rasanya selalu salah dimatamu sampai aku tengah libur pun kau merasa aneh, aku benar?"
Bagaimana bedebah itu bisa tahu, Jimin membatin. Sejak dulu ia memang tidak bisa menghadapi Taehyung yang sedang marah. Seluruh sistem tubuhnya menjadi lemah, tidak bisa diatur, bahkan self defence yang lenyap dalam hitungan detik. Menjadikannya kerdil dihadapan Taehyung. Menjadikan dia sepenuhnya salah dan akan tetap menjadi pihak yang salah dalam sudut pandang Kim Taehyung. "Bukan begitu, Kim Taehyung. Maksudku –dengar, aku sudah melupakan kejadian kau menonton itu. Ya, aku tidak masalah dengan itu sekarang, hanya saja, kau merokok, Tae. Merokok. Kau tahu dampak yang akan terjadi padamu nanti, terlebih kau mahasiswa kesehatan –untuk apa kau melakukan ini?"
"Untuk apa, kau tanya? Perlu alasan untuk merokok, menurutmu? Terdengar seperti mengapa kau hidup jika pada akhirnya kau akan menemukan ajalmu."
"Taehyung,"
Taehyung berdecak. "Bahkan negara tidak melarang, kau tahu? Ini konyol, jika merokok sebegitu mengerikan dengan bayanganmu dan lebih, kau menganggapnya sebagai bentuk kenakalan, lalu mengapa aku dan jutaan manusia di bumi ini tidak ditangkap polisi dan masuk penjara –atau hukuman mati, kalau lebih berat?"
"Ucapanmu –"
"Kenapa dengan ucapanku? Faktanya memang begitu, konyol. Aku merokok, lalu kenapa? Jika aku mengidap kanker paru-paru dan komplikasi hati atau ginjal, lalu kenapa? Toh pada akhirnya semua orang akan mati, rokok tidak sebegitu membunuh. Kalau aku mati, lalu kenapa?"
"KIM TAEHYUNG –!" Jimin menggenggam mugnya terlalu erat dengan tangan gemetar hingga susu hangat didalamnya tumpah sedikit. Dan Jimin tidak mau repot-repot peduli. Sebab kalimat yang sangat tidak etis telah keluar dari mulut bangsat Kim Taehyung yang begitu menohoknya. Terasa seperti ia disogok paksa menelan makanan pahit sampai kerongkongannya buntu dan tersedak sampai mati kehabisan napas. Jantungnya serasa diremuk seperti diinjak oleh gajah. Begitu menyiksa. "Kubilang, jaga ucapanmu –"
Taehyung tersenyum remeh. "Ada yang salah?"
Lalu kenapa, dia bilang. Tidak terbayang kalimat konyol itu benar-benar keluar dan baru saja ia dengar, meski separuh dirinya tidak begitu yakin apakah Taehyung benar-benar mengatakannya dengan sungguh. Kalau Kim Taehyung mati, maka Jimin mati; itulah mengapa. Lalu kenapa, Taehyung bilang.
"Aku sungguh tidak mengerti," nada suara Jimin jadi rendah. "Maksudku, kenapa kau jadi seperti ini. Aku bukan orang asing yang sebulan dua bulan mengenalmu. Aku tahu betul bagaimana kau, kau tidak begini; Kim Taehyung tidak begini. Kutanya, ada apa denganmu?"
Amarah menggerayangi relung dada Taehyung. "Ada apa, kau tanya? Mana kutahu, lagipula aku tidak melihat sesuatu yang tidak sesuai disini. Kau yang terlalu over padaku. Look, aku bukan anak kecil dan aku bukan milikmu yang harus kau kekang seperti budak, Jimin –astaga bahkan sekarang rasanya geli mengucap namamu."
"A –Apa?"
"Kau tidak berhenti menuduhku macam-macam, aku muak. Aku begini, begitu, melakukan ini, melakukan itu, selalu salah –seharusnya aku yang tidak mengerti. Seharusnya aku yang bertanya; ada apa denganmu? Kita sudah dewasa, ada apa denganmu? Aku selalu menahan diri saat kau terus berpikir aku berbuat hal aneh tapi aku malah jijik padamu yang justru melakukan hal aneh,"
Jimin tidak mengerti kemana Taehyung mendayung perahu ini.
"Ck. Memangnya apa yang ingin kau sembunyikan dariku hingga kau senang sekali pergi sampai tidak pulang? Terakhir, kau pergi karaoke dengan boss hingga jam tiga, remember? Dan kau sembilan hari pergi tanpa kabar membawa hampir seluruh barang. Aku sempat menyesal sebab merasa sedih kau pergi."
Jimin mengelak. Bukan begini. "Kau menginap di apartemen Jungkook, ingat? Aku sudah mengirimu pesan; sepupuku menikah dan aku harus kesana membantu. Aku sudah meninggalkan note di kamar dan dapur, karena kau tidak kunjung membalas pesanku."
"Hah?" Taehyung menyipitkan mata. "Kau mengigau, ya? Aku tidak menerima sms apapun, cek sendiri kalau tidak percaya. Terlebih, aku mendapati flat kosong melompong dan berantakan. Sampah berserakan, kau pikir, siapa yang tidak sebal ditinggal dengan keadaan mengenaskan seperti itu?"
"Tidak seperti itu –kau tahu aku, mana mungkin aku pergi meninggalkan sampah!"
"Faktanya begitu, keparat." Taehyung melempar ponselnya ke Jimin, meski berakhir jatuh didepan kaki Jimin yang terbalut kaos kaki pendek warna abu. Ia mendecak sebal sebentar, "Sudah kuperingatkan; menjauh dariku. Dan lagi, jangan terpikir mencoba menjauhkan Jungkook dariku. Kau bisa saja berpikir dia muara semua bencana ini tapi tidak, Jimin. Kau adalah pusat dari malapetaka ini. Jangan pernah kau memusatkan Jungkook pada kesalahan yang kau buat, Jungkook tidak begitu."
Taehyung menatap Jimin lagi. "Dan, tidak. Aku tidak tahu kau, setidaknya setelah semua ini terjadi."
Suara lonceng terdengar begitu pintu cafe terbuka.
"Yuhu~ hyung, aku sudah pulang nih. Kangen gak? Yaiyalah, pasti, siapa yang tidak kangen diriku yang mungil menggemaskan baik hati seperti ini, iya tidak?"
Yoongi yang tengah minum kopi tersedak. "Setan kecil macam kau lebih enak diarak lalu dilempar ke neraka, tahu."
Jihoon mengerucutkan bibirnya sebal. Ucapan kakaknya memang selalu menyebalkan jika pada Jihoon, kalau dengan oranglain; kalimatnya bisa dijadikan life quotes. Itu menjadi alasan mendasar mengapa Jihoon sering cemburu jika orang begitu menyayangi kakaknya. Sampai kapanpun, rasa sayangnya pada Yoongi adalah yang terbesar. Orang mudah sekali akrab dengan Yoongi oleh pembawaannya yang kalem dan bijaksana. Tapi jika ada Jihoon disekitarnya, Yoongi jadi menyebalkan. "Jangan merengut begitu, aku kangen padamu kok. Kau kan satu-satunya hal terpenting yang kupunya. Sudah ya, jangan ngambek."
Alasan signifikan mengapa Jihoon sangat menyayangi Yoongi adalah sikapnya yang benar-benar lembut, tidak hanya sebagai formalitas kepada orang asing. Yoongi memang menyebalkan dan suka mengibarkan bendera perang dengannya tapi Yoongi ahli membuatnya terlena. Usai bertengkar Yoongi akan memanusiakan Jihoon dengan usapan lembut yang menenangkan. Suaranya kalem sampai Jihoon merinding, tatapan matanya yang tenang dan sejuk membuat ia meremang, sebab Yoongi sangat mengasihi dibanding siapapun. Sikap itu semakin terbentuk ketika orangtua mereka sudah pergi, jadilah Yoongi merangkap peran orangtua untuk Jihoon.
Maka jangan pernah tanya mengapa Jihoon begitu melindugi Yoongi.
"Aku beli kue beras untukmu," Jihoon gengsi untuk merona. "Kau membanjiri ponselku dengan pesan tidak berguna. Untung aku benar-benar mengnonaktifkan ponselku."
Yoongi hanya tertawa dan makan kue beras yang dibeli Jihoon. Rasanya seperti buatan ibunya, meski agak terlalu manis. Jika ibunya yang membuat kue beras, teksturnya lembut, warnanya kalem, aromanya menggelitik perut, rasanya manis pada kadarnya. Sejenak menutup mata dan mengingat seperti apa rupa ibunya yang sudah menjadi mendiang. Mendekam didalam tanah yang sudah mengering, tidak tahu apakah tubuhnya masih utuh atau tinggal tulang saja digerogoti masa. Tiba-tiba saja dadanya sesak dan hidungnya gatal.
"Selalu begini. Tidak apa hyung, menangis saja kalau mau. Maaf, aku lupa kalau kau mudah sensitif jika makan kue beras. Harusnya kubelikan cheesecake saja tadi, hyung, menangis saja."
"Tidak apa." Yoongi meneguk kopinya yang tersisa sedikit. Menelan paksa gumpalan kue beras yang belum sempurna dikunyah, rasanya semakin sesak ketika ia sadar Jihoon tahu ia hendak menangis. Ia sudah dua puluh lima dan tidak pantas untuk menangis. Bahkan Jihoon tidak menangis, maka Yoongi harus jauh lebih kuat. "Kau istirahat sana,"
Sedikit banyak Jihoon paham tentang Yoongi. Dia hanya tersenyum dan makin merapatkan diri pada kakaknya yang tengah melankolis. Menyingkirkan kue beras dari hadapannya dan mengeluarkan permen rasa lemon, kesukaan Yoongi. Yang disambut antusias dengan senyum kesedihan yang tersisa dalam tiap milimeter tarikan bibirnya yang kering. "Thanks."
"Oh ya," Jihoon celingukan. Menukikkan alisnya bingung. "Aku tidak melihat Jimin,"
Baru saja permen itu masuk ke mulut Yoongi, dia sudah harus sedih lagi. "Hm, sudah sekitar sepuluh hari dia tidak kerja. Kata teman Seungkwan, dia ada urusan keluarga di Busan. Tapi kenapa lama sekali ya? Tidak ada kabar juga, perasaanku saja atau memang terjadi sesuatu?"
Jihoon merenung sebentar. "Dia bukan tipikal yang seperti itu, hyung. Jika ada sesuatu dia pasti menghubungi, siapapun itu. Terlebih kau atasannya, kalau dia tidak masuk kerja seharusnya ijin padamu dulu, ya kan, hyung?"
Yoongi mengangguk. "Terakhir kita bertemu saat aku pergi mengajaknya karaoke. Aku mengantarnya pulang tapi tidak diijinkan masuk. Aku bilang padanya untuk melambaikan tangan atau kirim sms bahwa dia sampai di ranjang dengan selamat, setelah hampir satu jam, tidak ada kabar. Awalnya kukira dia terlalu lelah jadi kubiarkan saja dan pulang."
"Siapa sangka dia tiba-tiba menghilang." Ada nada khawatir di tiap kata yang ia susun. Pikirannya kalut menerka dimana dan sedang apa Jimin sekarang. Syukur kalau ia baik-baik saja tapi ini sudah terlalu lama dan jujur, Yoongi khawatir. Bukan bermaksud berpikir macam-macam, hanya saja, siapa tahu, siapa sangka. Manusia tidak tahu apa yang akan terjadi bahkan satu menit yang akan datang. "Ponselnya tidak aktif, ah, membuat pusing kepala saja."
Jentikan jemari kurus Jihoon membuat Yoongi kaget. "Kita ke flatnya, sekarang."
.
Rasanya sudah lama sekali Jimin menghindar.
Bukan sengaja, sebenarnya. Jimin sungguhan ada urusan keluarga, dan bukan di Seoul. Dia absen kuliah seminggu lebih juga di cafe Yoongi. Bahkan ia mengnonaktifkan ponselnya. Sempat menyesal karena lupa memberitahu Yoongi perihal ketidak hadirannya. Untuk menebus kesalahannya, ia sudah memesan kue keju dan akan segera pergi bekerja.
Jimin tengah mematut diri di depan cermin ketika Taehyung lewat meminum yoghurt.
"Hei, Taehyung," Secara reflek Jimin akan selalu memanggilnya. "Kau sudah mandi? Kau ke kampus jam berapa? Tumben tidak masuk pagi, atau kau ada kelas jam satu? Aku mau ke cafe untuk bekerja, kalau kau berkenan mungkin –"
"Diam."
Seperti anjing baik, Jimin menurut. Dengan tatapan mata bingung sekaligus sedih. Apa Taehyung serius dengan ucapannya soal menjauhi dirinya? Tidak mungkin, Jimin pikir Taehyung hanya tengah tersulut bara api saja. Emosi Taehyung memang susah dikendalikan siapapun. Tapi Jimin mengenal tabiat sahabat karibnya itu, Taehyung tidak mungkin marah berkelanjutan padanya. Namun sinar yang Taehyung pancarkan dari tatapan matanya yang menusuk membuat hatinya ketar-ketir, berharap cemas, tidak karuan.
"Kalau mau pergi, ya pergi sana. Biasanya juga kau langsung pergi tanpa kabar."
Tidak, Taehyung mulai lagi. "Sudah kubilang, bukan begitu –"
"Lalu apa? Kau sudah memeriksanya sendiri kalau tidak satu pun sms yang masuk ponselku, dan aku tidak mau mengingat lagi kejadian sial dimana aku harus membersihkan flat yang kotor oleh sampahmu."
Baru Jimin ingin menyela, ada suara ketukan pintu menginterupsi perdebatan kecil mereka. Taehyung mendengus tidak suka dan berjalan menghampiri. Ia tidak mau repot menanyakan siapa atau melihat siapa yang berada dibalik pintu ini. Ia membukanya dengan cepat dan mendapati seorang pria bertubuh lebih kecil darinya dengan wajah yang kalem. Sebenarnya sudah terasa sejak pria itu menatapnya dengan hangat, Taehyung merasa sejuk. Namun dia tidak mengenali siapa orang ini.
"Aku kesini ingin bertemu Jimin,"
"Namamu?"
"Yoongi hyung?" Taehyung segera menoleh ke belakang begitu Jimin secara implisit menjawab pertanyaannya. Agak terkejut dengan suara tenor miliknya itu, masih belum terbiasa mendengar lengkingan nada yang Jimin lontarkan. Kemudian menatap sosok yang kalem tadi dengan kerutan di dahi serta dengusan sebal. Ternyata ini yang namanya Min Yoongi.
Tadinya ia mengira Yoongi lebih dewasa lagi. Auranya memang tenang dan wibawa tapi perawakannya tidak meyakinkan, bahkan Taehyung masih ragu kalau pria ini atasan Jimin dan berumur paling tidak dua puluh lima tahun.
"Hai, Jimin." senyum Yoongi mengembang. "Jihoon memberitahuku yang mana flatmu. Aku kesini karena khawatir sebab kau tidak meninggalkan pesan apapun. Kau tahu, kau melewatkan gaji pertamamu. Dan maaf, kau harus dihukum potong gaji oleh karenanya."
"Oh," Jimin merasa canggung sekaligus tidak enak pada boss-nya. "Aku baru saja mau kesana, hyung. Dan yah, itu salahku jadi, tidak masalah. Harusnya aku yang minta maaf karena tidak menghubungimu atau Jihoon. Sebenarnya aku mencoba menelpon Jihoon tapi tidak aktif, dan aku terlalu sibuk."
Taehyung berdecih. "Sibuk 'ndasmu."
Kalimat itu menampar Jimin dari topeng ceria yang sedang Jimin gunakan. Yoongi yang merasa bahwa itu bukan candaan sama sekali (terdengar jelas dari nada dan tatapan merendah itu) menatap Taehyung dengan penuh tanya, meski hanya diam. Dia tidak begitu ingin ikut campur. Terlebih dia tidak tahu siapa pemuda ini, awalnya ia pikir ini adalah Taehyung tapi mengingat bagaimana Jimin mendeskripsikan seorang Taehyung; pemudia ini jelas bukan Taehyung. "Tunggu sebentar, hyung. Aku akan mengambil ransel lalu kita pergi."
"Ya, tentu."
Ada yang aneh dari cara Jimin berlari, sebenarnya. Tapi Yoongi tidak begitu mengindahkannya. Ia baru saja akan menunggu di bawah ketika Taehyung berdeham dengan suara beratnya hingga ia terperanjat. Yoongi bertanya melalui tatapannya dalam diam, menunggu pemuda itu bicara padanya. Taehyung menelisik Yoongi dari ujung kepala sampai kakinya yang terbalut sneakers Puma. Ia berdecih lagi, "hei, Boss. Kudengar, kau sering mengajak Jimin pergi hingga larut."
Nadanya terdengar tidak suka.
"Karena kau, aku jadi pusing dengan gunjingan tetangga yang sering mencemooh kami pemuda nakal. Aku tidak peduli sekaya apa dirimu tapi, manner please. Jangan suka membuat Jimin jadi keluyuran sampai pagi seperti itu, brat."
.
"Yoongi hyung?"
Jika Jimin tidak mencubit pipinya, mungkin Yoongi tidak segera sadar. "Lampu merah, hyung harus berhenti."
"Ah, ya, tentu." Yoongi langsung menginjak rem mobilnya. Sadar detik waktu tidak memungkinkan dirinya untuk melaju melewati lampu lalu lintas. Pikirannya kacau dan tidak fokus. Untung Jimin memeringatinya kalau tidak mungkin sesuatu yang buruk akan terjadi.
Jimin juga sudah menduga ada sesuatu yang salah disini. Yoongi nampak kalut dan aneh saat Jimin berjalan beriringan dengannya disaat ia sudah siap. Yoongi jadi diam dan melenyapkan semua senyuman seribu watt yang biasanya ia suguhkan. Gelagatnya mencurigakan dan sering hilang fokus. Masalahnya dia sedang menyetir dan melamun itu bahaya. "Ada masalah? Biar kugantikan hyung menyetir kalau kau ingin istirahat,"
"Tidak," Yoongi tersenyum, memilih untuk makan perment mint sebelum ia ceroboh untuk melamun lagi. "Bukan apa-apa, maaf. Aku tadi hilang fokus."
"Ada apa, hyung? Katakan padaku, bukan bermaksud memaksa tapi mungkin aku bisa membantu? Selama ini hyung sering mendengar curahan hatiku, kegundahanku, dan membantu; mungkin aku juga bisa melakukannya untukmu. Lagipula aku belum mau mati dijalan begini,"
Bercanda. Tidak ada maksud menyindir, Jimin berniat membangun suasana yang hangat sebagaimana biasanya. Dan sedikit banyak berhasil; Yoongi tertawa. Agak lega melihatnya tertawa lagi setelah kedapatan wajah kusut Yoongi yang terjadi. Fluktuasi emosinya ketara betul dan Jimin sungguhan khawatir sesuatu terjadi. "Pria tadi, siapa?"
"Apanya?"
"Yang di flatmu; yang membuka pintu. Rambutnya coklat emas, kalau tidak salah."
Berganti Jimin yang diam. Ia tidak tahu apakah pertanyaan ini memiliki jawaban, dan pantaskah untuk dijawab. Sebenarnya mudah saja, hanya, selama ini ia menggambarkan sosok Taehyung yang begitu anggun dan bak malaikat. Jika dilihat dari perangai Taehyung barusan (meski Jimin tidak tahu bagaimana sikap Taehyung saat bicara pada Yoongi selama ia pergi) mana mungkin Jimin menjawab dengan jujur. Akan ada rentetan pertanyaan yang Jimin tidak bisa jawab lagi; Yoongi akan menghujaninya dengan ribuan tanya penasaran mengapa Taehyung berbeda.
"Apa dia –Kim Taehyung?"
Kalau saja bisa, dan boleh, Jimin ingin menjawab bukan. Tapi ia tidak bisa menyembunyikan sahabatnya itu. Ini konyol; bagaimana Taehyung sudah membuatnya remuk namun ia tidak bisa membenci pemuda aneh itu. Konyol saat Jimin tetap bersikeras menjaga harga diri Taehyung dimata oranglain. Ini semua terasa begitu tidak masuk akal betapa Jimin masih menyayangi Taehyung dan melindunginya. "Lampunya sudah hijau, hyung. Hei –mobil di belakang sudah membunyikan klakson,"
Kalau saja bisa dan memang boleh, Jimin ingin pergi lagi. "Cepat, hyung, jalan."
Jimin sedang menonton Runningman.
Pizza dan cola sudah biasa menemaninya jika sudah begini. Ia tertawa saat melihat Kwangsoo lagi-lagi dijahili Jaesuk dan Jongkook. Menurutnya, Runningman adalah variety show terlucu sejagat raya. Sebab ia dibuat lupa, Jimin sudah lupa dengan apa yang terjadi. Yang ia tahu adalah bahwa Kwangsoo dan wajah konyolnya mampu menggelitik perutnya sampai ke ubun-ubun.
Tidak biasanya ia melankolis kalau melihat Jihyo. Sebab jika menemukan gadis yang disebut ace di Runningman itu pasti mulutnya sudah bicara panjang lebar; dengan Taehyung. Sahabatnya selalu bilang kalau Jihyo itu wujud nyata dari Aprhodite, meski Jimin selalu menimpalinya dengan cibiran. Namun Taehyung akan selalu membela Jihyo dengan sederet kelebihan Jihyo di Runningman. Wajahnya, rambutnya, badannya, kepintarannya, kegesitannya, kelicikan; sebab Taehyung mengidolakan Jihyo.
Menonton Runningman tanpa celotehan Taehyung terasa berbeda.
Jimin tersedak saat ia belum selesai menelan cola dan pintu flat digedor keras. Telinganya berdenyut dan jantungnya berdegup karena kaget. Ketukan pintu itu sangat kencang seperti anggota densus tengah berusaha membobol pintu persembunyian terduga teroris.
"Siapa –Oh, astaga!"
Dia tidak memiliki persiapan apapun namun tangannya dengan sigap memopong tubuh Taehyung yang tersungkur. Wajahnya merah dan matanya terpejam. Mulutnya menggumam tidak jelas dan penampilannya berantakan. Tubuhnya panas dan lemas sekali. Jimin menggoyangkan badannya, berusaha membangunkannya. "Taetae –! Hei, kau kenapa?"
"Uhm, Jimin –"
Taehyung bangkit dengan lutut yang gemetar, kepala pusing dan pandangan berputar serta buram. Ia mencoba berjalan namun engsel kakinya tidak kuat hingga ia terjatuh, dan Jimin menopangnya sekali lagi, meski dengan teriakan sekuat lumba-lumba. Serta satu tangan yang menutup indera penciumannya dan kerutan dahi yang jelas. "Kim Taehyung –kenapa kau mabuk?!"
"Aku tidak mabuk,"
"Kau sempoyongan tidak karuan begini, mulutmu bau alkohol, penampilan urakan; kau pikir aku sebegitu bodohnya tidak tahu kau mabuk? Kenapa, Taehyung, kenapa?"
Taehyung mendorong tubuh Jimin masuk. Ia tidak kuat berdiri meski ditopang seperti itu, ia ingin segara rebahan sebab kepalanya seperti ditimpa batu besar. Sakit dan menyiksa. Kerongkongannya terasa terbakar dan perutnya mulas bukan main. Rasanya aneh sebab lidahnya kebas. "Berisik, ah."
"Kau –" Jimin dan tenaga dalamnya yang masih jadi misteri, menggendong tubuh kurus Taehyung ke kamar. Menidurkannya perlahan. Membuka mantel tebalnya dan pakaian yang lengket penuh aroma alkohol, sepertinya soju. Membuka sepatu serta kaos kaki lalu berlari ke dapur. Tidak menghiraukan erangan Taehyung yang terus memanggil namanya.
Jimin kembali dengan segelas air hangat berwarna kuning emas. Mendudukkan Taehyung dengan hati-hati seperti ia memperlakukan barang pecah belah. "Minum dulu, terus tidur."
Kalau saja hatinya sedang baik dan tidak cemas begini, sudah pasti ia mengacak rambut Taehyung sebab gemas dengan tingkahnya yang manis dan penurut. Tapi Taehyung pulang mabuk dan Jimin tidak bisa tidak khawatir. Ini konyol, Taehyung sudah kelewatan.
Tapi seorang Jimin mana tega memarahi Taehyung yang seperti anak kucing kehujanan begini.
"Jimin~ air madu~ enak enak~" Taehyung terus menggumam tidak jelas meski matanya sudah jelas mengantuk. Jimin mengelus rambutnya lembut dan menidurkannya lagi. Menyelimutinya dengan rapi dan membasuh mukanya dengan kain bersih yang basah.
"Jimin~ Jimin~"
Hati Jimin kembali remuk dimakan waktu.
.
Pagi-pagi sekali, Taehyung muntah.
Jimin mengelus bagian belakang lehernya naik turun, berharap Taehyung cepat lega. Sesekali mengelap keringat yang mengucur deras di setiap sudut kepala dan wajahnya. Matanya merah dan berair, suaranya hampir serak karena terus muntah, lututnya gemetar, tangannya goyah memegang pinggiran wastafel. Jimin bisa saja menangis saat ini tapi ia tidak ingin menjadi lemah. Taehyung sedang lemah dan ia harus menjadi kuat untuk menolongnya.
"Ini, minum dulu." Jimin datang membawakan air madu hangat untuk Taehyung yang terduduk lemas di sofa. Wajahnya urakan dan napasnya berat tidak karuan. Keringatnya masih banyak dan kepalanya terus saja pusing. Taehyung tidak berhenti mengerang bahwa pandangannya buram dan berputar.
Hangover membuat Taehyung gila.
Taehyung dengan cepat meneguk air madu meski dibantu Jimin yang memegang gelasnya. Tangannya terlampau lunglai untuk sekadar menjentikkan jari. Perutnya terus berontak dan jadi mulas, kerongkongannya penuh gas hingga ia belum sembuh dari mual. Taehyung tidak mau melihat pantulan dirinya tapi ia yakin bahwa ia seperti gembel. "Kepalaku sakit,"
Dengan lembut jemari Jimin memijat pelipis Taehyung yang dibals desahan lega dari empunya. Tahu-tahu pandangannya sedikit jelas dan tidak begitu berputar, lebih stabil, dan lega. Rasanya nyaman sekali karena entah mengapa perutnya terasa lebih enak. Meski tubuhnya jadi makin lemas.
"Kau mabuk," Jimin memulai. "Dengan siapa?"
"Um?"
Sebenarnya Jimin sudah geram. Ia bahkan tidak tidur semalaman untuk memikirkan ini. Taehyung yang mabuk sangat susah dikendalikan, terlebih efek hangover terasa sangat lama pulihnya. Ini sudah keesokan hari tapi sahabatnya masih nge-fly. Jimin tidak bisa tidak gundah melihat ini. "Katakan, siapa yang mengajakmu minum? Kau tidak bisa minum, KimTae."
"Aku bisa –!"
Cukup sudah. "Pasti Jungkook; mengaku saja."
"Apaan, sih." Taehyung cegukan dan seketika perutnya panas. "Jungkook Jungkook Jungkook terus, kau gak capek menyebut namanya? Selalu Jungkook selalu dia, kenapa sih, senang banget nyalahin dia? Dia salah apa, sih, padamu –kau jahat."
"Semenjak kau berteman dengannya, kau jadi aneh. Pulang larut, nonton film biru, merokok –aku masih tidak bisa memaafkan hal itu, kalau kau ingat. Dan sekarang; mabuk. Kau pikir aku akan diam saja, ha? Kau mabuk dan jelas karena Jungkook!"
Dengan kasar Taehyung menepis lengan Jimin yang bertengger dibahunya. "Argh –diamlah. Aku mabuk, lalu kenapa? Memangnya tidak boleh? Kenapa kau tidak pernah letih mengekangku, Jimin? Aku capek kau marahi, kau curigai. Hatiku terluka kau menghardik Jungkook seperti itu."
"Kalau bukan dia, siapa lagi. Kau bukan orang yang begini, Taehyung."
"Shut your fuck mouth off, Jimin." Kepala Taehyung berdenyut nyeri. "Hentikan prasangka jelekmu itu. Kau tidak berhak mengurusi hidupku. Aku sudah dua puluh satu tahun dan kau harus mengerti itu. Aku bukan anak kecil, pun adik atau pacarmu, berhenti memenjarakan aku dalam kotak sucimu itu; aku tidak butuh."
Berganti kepala Jimin yang berdenyut serasa ditimpa batu.
Ini terasa konyol. "Aku melindungimu, Taehyung. Aku tidak mengekangmu. Yang kau lakukan ini sudah keterlaluan. Apa yang kau katakan dengan menjauhi kenakalan? Bersumpah kau tidak menyentuh rokok dan segala macamnya? Nyatanya; nonton porno, merokok, bahkan sekarang mabuk."
"Aku tidak mengerti. Kenapa kau berubah? Rasanya baru kemarin kita berangkat dari Busan, bercengkerama hangat seperti biasa. Bercanda. Tidur bersama dibawah cahaya bulan bersama suara jangkrik; rasanya baru kemarin. Kau berjanji untuk tidak seperti ini, KimTae –kau tidak begini."
Jimin tidak peduli bahkan ketika ia sudah menangis. "Lalu sekarang kau begini, aku tidak bisa diam saja. Aku khawatir, aku peduli padamu. Aku tidak ingin kau begini, Taehyung. Kau aneh, tabiatmu jadi terbalik, aku kehabisan akal untuk menerka semua gelagatmu yang jadi beda. Kau tidak mendengarku, pun melihatku lagi. Kau pikir, aku tidak sama lelahnya, tidak sama capeknya, tidak sama frustasinya?"
"Aku nyaris gila karena kau begini, Taehyung. Kau sudah bersumpah. Aku tidak ingin menganggap ucapanmu dulu adalah bualan manis untuk membujukku ke Seoul. Apa kau berbohong padaku kala itu?"
Taehyung tidak langsung menjawab. Matanya ikut berair melihat Jimin menangis. Sejak dulu ia memang tidak bisa berhadapan dengan Jimin yang menangis. Tidak peduli berpisah bertahun-tahun sekalipun, hatinya ikut teriris perih melihat Jimin mengeluarkan air mata berharganya. "Lupakan saja,"
"Kau pikir ini film, bisa di skip begitu saja? Hal seperti ini mana bisa aku lupakan; kau sangat berarti bagiku. Aku bisa punya seribu teman tapi tidak sahabat sepertimu, Taehyung. Kita sudah bersama sejak dulu dan aku sangat menyayangimu. Aku tidak bisa tidak khawatir tentangmu, kau segalanya bagiku."
"Bullshit."
"Apa?"
Dengan tenaga yang payah, Taehyung bangkit. Kakinya sempoyongan, tulangnya serasa selemas agar-agar. Kepalanya masih berdentum-dentum dan pandangannya agak buram. "Omong kosong saja. Aku tidak peduli lagi. Mau kau apa kek, bagaimana kek, terserahmu. Kalau aku merokok dan mabuk lalu kenapa? Apa pedulimu? Sana kau urusi kerjaanmu dan boss-mu yang keren dan kaya raya itu."
"Kau marah karena aku pulang larut bersama Yoongi hyung?"
Gerakannya tertahan. Entah karena tubuhnya terlalu lemah atau karena pertanyaan Jimin yang begitu menohok tenggorokannya hingga ia bingung. Ia tidak tahu harus menjawab bagaimana, terlebih ia tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya. "Buat apa. Persetan denganmu."
Seminggu berlalu, dan terasa seperti neraka pintu ketujuh bagi Jimin.
Hidupnya seperti sedang diaduk-aduk oleh Dewa. Rasanya begitu menyiksa hingga ia bernapas pun takut. Ia tidak bisa makan dan tidur dengan tenang. Berjuta-juta pemikiran rumit mampir tidak henti di otaknya. Ditambah beban kuliah dan pekerjaan, mungkin Jimin sebentar lagi akan wafat.
Taehyung jadi orang yang mudah sekali marah. Sifatnya urakan seperti preman. Meski ia sering mendengar prestasinya di kampus luar biasa. Mendapat indeks prestasi yang kumlaude dan segudang sertifikat lomba kecil-kecilan. Berbanding terbalik jika mereka bertemu, Jimin hanya dianggap lalat pengganggu saja. Dan itu membuat kewarasannya menipis. Ia nyaris gila.
Belum pernah mereka bertengkar sehebat dan serumit ini. Rasanya lebih menyenangkan jika mereka berkelahi sampai darah menggenang dibanding diam penuh hujat saling curiga seperti ini. Ia lelah kucing-kucingan dengan Taehyung sebab bukan begini cara mereka berteman. Rasanya lebih efektif jika Taehyung dan Jimin bicara baik-baik atau saling menikam; asal mereka kembali. Relasi yang rapuh itu kuat kembali.
Lututnya meletus seperti balon saat bagaimana Taehyung membuang kotak bekal yang ia siapkan sejak pagi buta. Dihadapan matanya, Taehyung meludahi makanan itu dulu lalu membuangnya. Jimin tidak bisa menahan tangisnya lagi, meski tidak kuat pula untuk bercerita pada siapapun.
Sistem tubuhnya jadi error ketika Taehyung memarahinya selama dua jam karena merusak ponselnya. Bukan perkara serius, sebenarnya. Kalau Jimin pikir, itu salah Taehyung yang tidak becus karena meletakkan ponsel sembarangan. Ia tengah mengambil sesuatu dan karena terlalu malas dari posisi rebahannya yang nyaman serta tidak begitu melihat kemana tangannya bergerilya, iPhone Taehyung jatuh mengenaskan dan kena tumpahan coklat panas milik Jimin. Ponselnya retak seluruh layar sampai Jimin ngeri dan ketika Taehyung kembali dari supermarket, ia murka.
"Taetae –"
"Apa?!" Jimin mengerti kenapa Taehyung menjawabnya dengan ketus. Ponsel kesayangannya rusak mengenaskan dan ia yakin segala dokumen penting ada di iPhone itu. Ia merasa bersalah namun Taehyung tak sudi mendengar. Ia menahan Taehyung yang hendak berangkat kampus itu, "Aku sudah telat. Kalau kau diam seperti orang dungu begitu, aku pergi."
"Tidak –maksudku, tunggu!"
Jimin menyodorkan iPhone warna hitam pada Taehyung. "Ini, pakai saja punyaku. Aku tidak begitu memerlukannya. Setidaknya, tidak sesibuk kau –pasti kau membutuhkan ponsel. Tidak masalah kalau kau menjadikannya milikmu, aku bisa mendapatkan yang lain nanti,"
"Ck." Taehyung meraih iPhone Jimin cepat. "Dasar sombong. Ah, aku lupa kau punya pacar kaya raya; Min Yoongi tidak mungkin membiarkanmu merana tanpa handphone, ya?"
"Taehyung, bukan itu maksudku –"
"Aku pergi."
Dan Jimin tidak tahu sampai kapan kesalah fahaman ini berakhir.
"Mm, Jimin?"
Mendengar dipanggil, Jimin berhenti mengelap kaca. "Ya, hyung?"
"Kau terlihat murung,"
"Kata siapa," Jimin tertawa. "Aku tersenyum dan tertawa, kok, hyung. Yang ada Yoongi hyung, tuh, yang cemberut terus. Gantengnya nanti hilang, lho. Kalau sudah begitu, cafemu tidak seramai dulu. Selain makanan yang enak, wajahmu jadi aset penjualan meningkat, tahu."
Sedikit lega mendengar Jimin berceloteh riang. Yoongi sudah khawatir, karyawannya itu kedapatan sering melamun dan matanya berair. Terkadang bengkak, hidungnya merah dan hidungnya menghirup-hirup supaya ingusnya tidak keluar. Tipikal sehabis menangis, dan Yoongi tahu itu. Sejak mereka kembali bertemu, Yoongi tahu Jimin tengah memakai topeng namun ia merasa tidak pantas untuk mencampuri urusannya. Rasanya lancang jika ia terlalu mau tahu semua tentang Jimin; ia menghargai privasi semua karyawannya.
"Kau bisa curhat padaku; seperti biasa. Rasanya kangen mendengarmu cerita banyak hal," dan tidak ada kebohongan didalamnya. Semenjak itu Jimin seolah menghindarinya. Berlagak seperti karyawan baru yang masih asing dengannya. Berperan ceria meski tidak begitu mengindahkan kehadiran Yoongi yang selalu menatapnya. "Sebenarnya, kudengar di daerah Myeongdong ada restoran daging domba dan aku ingin sekali –"
"Maaf, hyung."
Tidak biasanya. Dan ini sudah terjadi beberapa minggu belakangan. Jimin menolaknya secara tegas dan benar-benar menghindarinya. Ini aneh dan tidak masuk akal. "Sabtu malam, kau kan tidak ada jadwal jaga. Dan aku sedang ngidam domba, jadi kurasa –"
"Aku menyesal, Yoongi hyung," Jimin tersenyum canggung. "Ah –itu, ada sesuatu yang harus kukerjakan; kuliah –ya, kuliah. Mm, aku harus ke gudang, dulu, kurasa. Jadi, yah, –maaf."
.
Senin malam tanggal lima belas, gaji kedua turun.
Jimin senang bukan kepalang. Gajinya lumayan karena tidak dipotong seperti bulan kemarin. Terlintas dibenaknya untuk mengajak Taehyung makan besar dan berbaikan. Taehyung biasanya mudah luluh dengan makanan jadi, mungkin Jimin akan membelikan kue dan set sukiyaki, atau burger dan cola. Taehyung sangat suka burger, sejujurnya.
Tiba-tiba Yoongi menghampirinya, "Rayakanlah bersama Taehyung."
"Hm, pasti!"
.
Jimin tidak punya ponsel pun telpon rumah, dia tidak bisa menghubungi Taehyung untuk bertanya makanan apa yang dia inginkan malam ini. Kata Jihoon, mahasiswa Sains pulang lebih cepat. Ia sudah bersiap dirumah, menunggu Taehyung dan bertanya makan malam seperti apa yang ia inginkan.
Tapi sudah dua jam menunggu, ia gelisah. Tidak begitu yakin Taehyung akan segera pulang. Terlebih, ia tidak memberitahu Taehyung bahwa ia menunggunya. Jika dipikir, kalau Taehyung sudah pulang pun pasti ia sudah merasa lapar. Dan Jimin belum menyiapkan apapun. Ia merasa konyol, tidak berpikir secara matang. Buat apa menunggu tidak jelas jika bisa membuat Taehyung terkejut; lagipula Jimin tahu semua kesukaan Taehyung.
Buru-buru ia mengenakan jaket dan sepatu. Ia membuka pintu dan terkejut mendapati seorang pemuda yang sangat tinggi dihadapannya. Tampangnya seram, penampilannya seperti anak punk, rambutnya dicat merah terang, dan beberapa piercing nongol di dua daun telinganya. Kalau tidak salah hitung, ada sekitar delapan; empat di kiri empat di kanan. Jimin tidak memiliki kenalan seperti ini, dan ini bukan jalan raya dimana orang bisa berlagak menanyakan alamat rumah. Lalu mengapa orang aneh ini bisa nyasar ke depan flatnya?
"Aku datang menagih hutang,"
"Hutang?" Jimin menggaruk kepalanya, bingung. "Hutang siapa yang kau maksud?"
Pemuda itu berdecak. "Jangan berlagak, ini rumah Kim Taehyung, kan?"
Ada apa lagi ini. Pemuda dihadapannya menyebut nama Taehyung dan hutang dalam satu pembicaraan. Ia masih dalam mode terkejut, otaknya berpikir macam-macam, tubuhnya menegang. Mengira ada apa Taehyung dengan pemuda abal seperti ini, terlebih –hutang? "Aku tidak mengerti,"
"Ini," Pemuda itu menyodorkan foto Taehyung. Tunggu, dapat darimana? "Yang ini, kan, namanya Kim Taehyung. 30 Desember 1995, dari Busan, kuliah di Universitas Negeri Seoul. Sudahlah, cepat panggil bocah tengik itu, aku tidak punya banyak waktu."
"Tunggu, itu memang Taehyung, sahabatku. Tapi aku tidak mengerti, maksudku, hutang apa yang kau bicarakan?"
"Anak kecil," pemuda itu menggeram pelan. "Begini, Taehyung main dengan kelompok kami dan kalah. Dia harus membayar untuk itu dan dia langsung kabur saat kehabisan uang, padahal dia selalu kalah. Dasar kepala udang, ah, dan dia juga sering meminjam uang pada kami. Namun tidak pernah kembali, pikirnya dia bermain dengan siapa, ha? Kalau saja bisa, akan ku buat dia jadi kue beras."
Ini keterlaluan. Tidak masuk akal pemuda itu datang dan mengatakan hal aneh yang sebenarnya mustahil dilakukan Taehyung. Hutang, main, Jimin tidak mengerti.
"Hei, bocah! Mana si bangsat Kim Taehyung itu –! Akan ku patahkan kakinya jadi seribu."
"Tu –tunggu –" Jimin menghalang pemuda yang ternyata kekar itu. Ia takut sekali, kalau boleh jujur. Pemuda itu menyeramkan dan bau alkohol, sepertinya mabuk. Tapi Jimin lebih takut ia melukai Taehyung, dan tidak boleh. Taehyung tidak boleh terluka bahkan karena goresan kecil oleh pisau kecil sekalipun. Taehyung tidak boleh dipukul. Mematahkan kakinya, dia bilang? Jimin akan lebih dulu menjadikannya makanan anjing.
Pemuda itu mengangkat Jimin dengan mudah. Kerahnya ditarik hingga Jimin tidak menapak lagi. "Dengar, kid. Boss besarku sudah marah dan memukulku. Aku harus pulang dengan uang atau aku akan mati, atau mungkin aku bisa membawa pulang kepala Taehyung yang masih segar?"
"Lepas dulu, kita bicara!"
Jimin berlari kedalam setelah terlepas dari cekikan maut itu. Kemudian datang ke pemuda itu yang menatapnya sangsi. Dengan tangan gemetar ia menyerahkan amplop coklat padanya, "Aku tidak tahu berapa hutangnya tapi ambil ini,"
"Dasar," dia mengambil amplop itu kilat. Mengeluarkan uangnya dan menghitung. Menelisik Jimin yang menunduk sedih. Sedikit iba padanya. Ia menimang sebentar lalu memberikan sepuluh ribu won pada Jimin dengan mata yang menatap ke arah lain. "Uangnya lebih, ambillah. Kasihan aku melihatmu,"
Perlahan Jimin menerima uang itu, suaranya parau karena terisak. "Terima kasih,"
Hidup itu penuh dengan kejutan.
Tidak ada yang bisa menebak apa yang akan terjadi bahkan untuk satu menit kemudian. Meskipun banyak peramal di luar sana, tidak semua yang dikatakannya benar. Beberapa orang menganggapnya kolot dan tidak masuk akal. Sebab bukankah tidak adil jika mengetahui apa yang akan terjadi?
Dan kali ini kejutan itu datang pada Jimin.
Tidak ada hujan tidak ada angin, Jimin terbangun dengan seluruh tubuh yang pegal dan sakit. Bukan denyutan nyeri yang membuatnya terbengong selama satu menit penuh. Tapi bagaimana bias matahari langsung menyinari wajah Taehyung yang tengah tersenyum padanya. Tersenyum. Dan ini sungguh sebuah keajaiban. Belakangan ini sahabatnya memang sering ngambek, marah, emosional. Melihatnya tersenyum manis nyaris saja membuat Jimin menangis. Ia rindu.
"Pagi, Jimin." Taehyung dan suara seraknya yang dalam. "Tidurmu nyenyak?"
.
Tuhan itu adil dan baik kepada seluruh umat.
Agaknya Jimin percaya. Tuhan itu adil, kata orang. Dan Jimin sekarang percaya. Jika dulu ia tergantung oleh relasi di ujung tanduk, nyaris gila karena hatinya kacau sekali, maka sekarang ia menemukan kebahagiaannya kembali. Rasanya seperti mimpi, geli sampai ke ubun-ubun. Jimin girang bukan main; Kim Taehyung ramah padanya, mengajaknya bicara, bahkan membuatkan sarapan untuknya.
Jimin merindukannya. "Kau tidak ke kampus?"
"Ha? Ini hari minggu, Jimin."
Ah, kegalauannya cukup berdampak pada amnesia. "Kau tidak pergi kemana, barangkali? Dengan Jungkook, mungkin?"
Taehyung yang tadi asyik dengan film dan popcorn di pangkuannya, menoleh keheranan. Menatap Jimin yang agaknya ada keraguan dalam pancaran matanya. "Kau mengusirku?"
"Tidak –oh, bukan itu maksudku,"
"Lalu?"
Jimin menggigit bibirnya pelan. Mengalihkan tatapannya ke lantai, berpikir sebentar untuk menjawab pertanyaan Taehyung. Ia ragu, jika langsung mengutarakan kenakalan Taehyung (atau kekesalannya tentang Taehyung yang selalu pergi dengan Jungkook) mungkin pemuda itu akan langsung marah. Biasanya Taehyung secara tiba-tiba mengamuk dan mendiamkannya seharian –atau beberapa minggu. Tapi ia sungguh terheran, mengapa sifat Taehyung aneh seperti ini. Sikapnya selalu berubah saat Jimin lengah, meski penampilannya tidak berubah. Emosinya fluktuatif sampai membuat Jimin selalu waspada akan kondisi Taehyung. Ia selalu takut untuk mengawali pembicaraan, tidak mau membuat Taehyung marah padanya lebih dalam. "Yah, kau tahu, biasanya –kau –"
Ketika Jimin dipeluk, ia terpasung. "Moodku sedang baik sekali. Aku kangen kau, omong-omong."
"Dapat pujian dari Profesor Goo?"
"Lebih dari itu; sesuatu yang hampir membuatku mati tinggal nama, dan sekarang aku tidak perlu khawatir tentang itu." Taehyung tersenyum lebar sekali sampai hati Jimin terenyuh. Sekujur tubuhnya panas dan lemas. Kim Taehyung memang satu dari sekian titik terlemahnya. Melihat Taehyung bahagia saja rasanya ia turut bersuka cita. Melihat Taehyung tersenyum padanya, relung dadanya lega. Rasanya bahagia dan hangat. Ini hal yang sudah lama ia nantikan, dan Jimin tidak berhenti berucap syukur. "Benarkah? Apa itu?"
Taehyung tidak langsung menjawab. Agak menyesali mulut embernya yang menyeret mereka ke pembicaraan yang ia yakin bahwa Jimin akan mengomel lagi padanya. Jimin terlalu baik sebagai manusia dan kadang membuat Taehyung penat. "Begini, pertama, kau jangan marah padaku –"
Jimin hanya berkedip pelan. Taehyung menghembuskan napasnya, "Aku punya semacam –hutang, dan sebenarnya aku sedang minta waktu untuk membayarnya. Dan entah, mungkin Tuhan mendengar doaku atau apalah; hutangku lunas! Berikut bunganya yang membengkak jadi kebun!"
Hutang itu. Mengingatkan Jimin ke hari dimana ia baru saja mendapat gaji dari usaha kerasnya melawan kantuk diantara himpitan tugas dan jadwal kuliah yang membuatnya sesak. Seluruh penyakit seperti pegal, rematik, kram, dan kebas tidak berharga lagi. Usahanya melayang sia-sia untuk hal konyol yang bahkan tidak Jimin ketahui untuk apa. Untuk apa hutang itu? Mengapa Taehyung terlilit hutang; dan yang lebih dalam lagi, buat apa Taehyung berhutang ke preman seperti kingkong itu?
"Ajaib, bukan? Mereka tidak mau mengatakan siapa yang membayarnya; aku hendak mencicil tiga ribu won dan aku ditendang keluar. Katanya hutangku lunas, dan aku tidak perlu berurusan dengan mereka lagi –demi Tuhan, aku bahagia!"
Penasaran menggelitik dada Jimin. "Untuk apa kau berhutang segala? Dan pada siapa?"
"Ah," Taehyung mengusak hidungnya grogi. Sudah mengetahui Jimin akan bertanya seperti itu. "Untuk suatu hal, dan pada orang baik, kok. Tenang saja, ah, pokoknya kau tidak usah tahu. Aku juga sudah tidak mau repot memikirkannya lagi, hari ini aku –"
"Orang baik? Lebih tepat jika dikategorikan sebagai gorilla nyasar yang siap mematahkan tulangmu jadi seratus dan menjadikannya makanan anjing."
Apa Taehyung tidak salah dengar? Tapi, tatapan Jimin amat menelisik. "Tidak, kau –"
"Ya, aku yang membayar hutangmu."
Taehyung melempar mangkuk popcorn di genggamannya dan menggebrak meja. Terlampau percaya diri bahwa ia mampu menjadikannya terbelah dua. Matanya nyalang seolah mampu membuat kepala Jimin berlubang, napasnya jadi lebih berat karena oksigen begitu sulit ia hirup. "Apa kau bilang?"
Perasaan sesak membuat Jimin buta. Ia memalingkan wajahnya. "Kau mendengarnya sendiri dengan baik, bukan?" Sekuat tenaga menahan tangis. Dadanya terlampau nyeri seperti diinjak badak bercula satu, sesak bukan main, kepalanya berdentum-dentum. Lagi, Taehyung emosi padanya. Ia tidak mengerti harus bersikap bagaimana pada Taehyung. Semua yang dilakukannya, dikatakannya adalah sebuah kesalahan mutlak tanpa cela.
"Beraninya kau –"
"Memangnya aku bisa apa?" Jimin membalas tatapan garang itu dengan sudut mata yang tergenang, siap meruntuhkan tetesan air dalam sekali kedip. Lututnya gemetar dan tubuhnya lemas, ia terlampau sakit melihat Taehyung selalu saja marah padanya tanpa arah. "Orang itu datang, mengancam untuk membunuhmu. Dia tidak segan membuatmu benyek seperti dedak dan disebar ke laut Jeju. Tubuhnya kekar seperti kingkong dan siapa yang tidak akan percaya pada ancamannya? Mendengar hidupmu terancam membuatku merinding, bodoh. Kau pikir, aku bisa apa?"
Rahang Taehyung menegang. Pikirannya kacau balau. Ia tidak bisa menghadapi situasi seperti ini. Melihat Jimin menangis merupakan titik lemahnya dan ia sungguh tidak kuasa. Bukan seperti ini yang ia inginkan tapi tubuh dan mulutnya memang suka bergerak sembarangan. "Kau tidak berhak ikut campur urusanku, Jimin."
"Dan membiarkan kepalamu jadi pajangan teras rumah?" Jimin memekik. "Kau gila. Sudah kubilang, kau segalanya bagiku. Masalahmu adalah masalahku juga, kenapa kau begini? Kau bisa berhutang padaku, lalu kenapa kau mengikat janji dengan lintah darat macam itu?"
"Kubilang jangan ikut campur!"
Taehyung bangkit dengan hentakan yang membuat Jimin terjungkal sedikit. Gerakan tubuhnya yang secara tiba-tiba membuat airmatanya mengalir tanpa mampu ia kontrol. Ia mendongak, menatap betapa garang Taehyung memandangnya. Untuk kesekian kali, hati Jimin remuk. "Kau bisa menceritakan apapun padaku, Tae. Kita ini sahabat, mengapa kau senang membuat jarak sejauh ini? Sekarang, jangankan untuk menggapaimu –mengintipmu saja tidak bisa, aku tidak punya celah."
"Aku sudah tidak peduli lagi sejauh mana kau membuatku kecewa. Persetan sedalam apa kau membuatku jatuh terjerembab oleh perangai konyolmu itu. Aku sakit dan itu karenamu, dan aku sudah tidak peduli lagi. Terserah bagaimana kau menyiksaku, tapi kumohon, jangan seperti ini."
"Kau –" Taehyung mengerjap, tiba-tiba matanya perih. "Kau yang seharusnya berhenti. Jangan seperti ini, Park Jimin. berhenti mendikteku, menceramahiku, mengajariku seperti anak kecil. Aku punya urusanku sendiri dan kau dilarang untuk sekadar menyentuhnya, Jimin."
Ini tidak adil. "Maka katakan kenapa! Kenapa aku dilarang mendekatimu lagi, katakan kenapa aku tidak bisa bersamamu lagi, katakan kenapa kau seperti ini padaku, katakan kenapa aku tidak lagi menjadi orang yang dapat kau percaya? Katakan, kenapa."
Taehyung bungkam. Lidahnya kelu untuk bergerak dan suaranya tersangkut di kerongkongannya. Pun otaknya tidak bisa berpikir kalimat macam apa untuk menjawab amukan Jimin. ia hanya merasa relung dadanya robek, otaknya retak, dan tubuhnya kejang. Ia tidak mampu menjawab Jimin, tidak mampu berucap apa-apa lagi, tidak kuasa melihat Jimin tersiksa lebih dari ini.
"Aku tidak paham kau mengigau apa," Taehyung menyambar ponselnya. "Aku pergi."
Permasalahan ini tidak akan menemukan ujung, jika salah satu dari mereka terus pergi dan membiarkan suasana canggung penuh halilintar ini menyelimuti. Dan Jimin tidak bisa selalu membiarkan Taehyung lari dari bencana ini. Ia butuh penjelasan, setidaknya ungkapan maaf sederhana darinya. Ia mencekal lengan kurus Taehyung dan menatap mata sahabatnya itu. "Jangan pergi. Jangan lari lagi."
"Berhenti membuatku gila karena bingung. Kau selalu lari disaat seperti ini dan kali ini tidak lagi, tidak sebelum kita selesai bicara."
"Tapi aku sudah selesai," Taehyung menghentakkan lengannya. "Sekarang aku benar-benar pergi."
Emosi Jimin tercampur aduk. Sedih, marah, kesal, tidak karuan, kacau. Ia terlalu lama menjadi lemah atas sikap dominan Taehyung dan rasanya tidak ingin lagi. Ia ingin memperbaiki semuanya, tidak peduli harga dirinya jadi murah atau apa. Jimin terlanjur mati rasa jika diperlakukan seperti ini, menyiksa dengan perlahan. Membuat kewarasannya mengabur ke udara. Jimin sudah tidak peduli seremeh apa dirinya ketika ia memeluk Taehyung dari belakang.
Hangat. Punggung lebar Taehyung sangat hangat dan Jimin selalu menyukainya. "Kumohon, dengarkan aku. Kita bicara dan berhenti kucing-kucingan seperti ini. Aku tersiksa setengah mati, kau mencekikku sampai kehabisan napas. Kau membuatku bungkam seperti cacat bisu. Kau membuatku gila karena terus berpikir; apa yang salah padaku. Apa yang salah diantara kita. Aku gila untuk terus memikirkan apa yang sesungguhnya tengah terjadi sebab aku tidak tahu, tidak punya akal untuk menerka apa yang tengah terjadi. Bisakah, sekali ini saja, kau katakan padaku apa yang membuatmu begini?"
"Memangnya kenapa denganku?!"
Telinga Jimin berdenging, gema suara Taehyung menghujam gendang telinganya. Tapi ia masih kuat dari perlawanan Taehyung dalam dekapannya. Sekali ini ia bersyukur memiliki lemak lebih banyak dibanding Taehyung. "Kau berbeda, Taehyung. Kumohon kau mengerti, jangan mengamuk seperti sapi gila dan bicara padaku. Apa yang membuatmu menjadi begini buruk? Aku tidak tahan lagi menghirup asap rokok yang mengepul di seluruh sudut ruangan. Aku tersiksa karena batuk tiap menit. Aku tidak bisa melihatmu mabuk lagi, Taehyung. Kau sudah kelewatan dan kau pikir aku akan membiarkanmu begitu saja? Tidak, aku akan membawamu pulang."
"For God's sake!" Taehyung melepas pelukan Jimin yang melonggar, membalikkan tubuhnya menatap Jimin yang sudah kacau oleh airmata. Jimin nampak begitu rapuh bagai kaca dan Taehyung seketika pening. Matanya berkedut dan jantungnya berdentum-dentum. Tubuhnya ikut bergetar seiring isakan yang Jimin lontarkan. Sudut matanya ikut berair di setiap tetes airmata yang mengucur dari mata sipit sahabatnya. Ia sungguh tidak tahan. "Kau pikir kau Ayahku? Bleh. Aku tidak peduli pada omong kosongmu itu. Dasar banci, menangis saja sampai kau mengeluarkan darah dari matamu itu. Pastikan undangan melayat sampai padaku."
Terdengar seperti Taehyung menyumpahinya mati.
Taehyung mengusak rambutnya. "Look, sekarang, berhenti mencampuri urusanku. Sibukkan dirimu dengan segala tetek bengekmu sendiri. Jangan kau menyentuh kehidupanku tanpa ijin. Kau dilarang campur tangan dalam kehidupanku, atau kau akan tamat –"
"Jika itu berarti aku bisa melindungimu, tidak masalah aku mati."
"What the fuck? Ini bukan melodrama atau opera sabun, bangsat. Aku tidak luluh pada bualan manismu sebagaimana Juliet percaya dengan cinta konyolnya kepada Romeo. Kubilang, jauhi aku dan jangan turun tangan tanpa ijinku, got it?"
Jimin menggeleng, ia tidak bisa menyerah. Dan Taehyung mengerang. "Taehyung, apa aku bagimu?"
"Sampah, mungkin?" Taehyung berdecih dan Jimin semakin lemas. "Tidak begitu peduli juga. Kau mengganggu, tahu? Aku lelah, Jimin. Sana menangis pada ikan mas, aku tidak punya waktu meladeni tingkah konyolmu yang mirip banci."
"Dan memiliki dua puluh empat jam penuh untuk Jeon Jungkook?"
"Jangan mulai lagi –"
Jimin tidak bisa memendam semua ini. Tiba-tiba lidahnya menjadi licin untuk mengungkap semua keresahan yang sudah terlalu lama bersarang di dadanya hingga ia mual. Rasanya aneh betapa ternyata ini begitu mudah, emosinya terombang-ambing. "Lalu siapa lagi? Kau menjadi tengik setelah mengenalnya; kau pikir aku bodoh? Aku bisa membedakan mana kau yang dulu dan sekarang, yang baik dan buruk; Taetae dan Kim Taehyung yang berandal."
"Kau pikir aku sebegitu lemah untuk marah? Aku marah! Aku kesal –aku benci bahkan sejak dia menginjak kaki baunya disini, aku tidak suka! Kenapa? Gelagatnya mencurigakan dan terpampang jelas bahwa dia bukan orang baik-baik, tahu? Dia tidak lebih dari tikus pembawa malapetaka –"
"Lalu bagaimana dengan Yoongi?"
Jantungnya berdetak lebih kencang. "Apa?"
"Sejak kau mengenalnya juga berubah. Pulang malam seperti pelacur, kalau bukan karena Yoongi lalu karena siapa lagi?"
"Kau –" rahang Jimin mengetat. Ia benci bagaimana Yoongi direndahkan seperti ini. Yoongi adalah orang baik, teramat baik untuk dilecehkan dengan bejat sperti itu. Ia tidak terima, Taehyung tidak tahu seberapa besar rasa penasaran Yoongi terhadapnya. Bagaimana ia menerawang kagum pada sosoknya saat Jimin selalu menceritakannya. Bagaimana ia selalu memberi Jimin solusi untuk tiap masalah diantara relasi mereka yang hampir pecah berkeping-keping.
Taehyung pun sama marahnya. "Seharusnya aku yang tidak mengerti; ada apa dengamu. Aku bukan mainanmu, bonekamu, pionmu, bukan milikmu. Tidak perlu mengekangku seperti burung. Kau tidak berhak atasku sebab kau bukan siapa-siapa."
"Bukan... siapa-siapa?"
Kepala Jimin berputar. Tubuhnya mati rasa akibat kebas. Lidahnya terasa pahit sekali sampai ia mual namun kerongkongannya mampet dan nyaris tersedak. Sedangkan Taehyung kurang lebih sama. Tiba-tiba kepalanya berdentum. Ribuan panah menghujam tubuhnya. Kakinya gemetar sebab tulangnya serasa berubah jadi agar-agar. Ia nyaris tidak percaya dengan ucapannya sendiri.
Begitu lagu Unravel terdengar dan memecah keheningan, Taehyung menatap ponselnya yang terus bergetar. Ia melirik Jimin yang tengah menatapnya sendu meski mulutnya terbuka setengah lebar; terlampau kaget menerima ucapan laknat semacam itu. Dengan perasaan bersalah yang membumbung di tiap deru napasnya, Taehyung menerima panggilan itu.
"Ya," Taehyung menghela napas. "Ada apa, Jungkook?"
.
.
.
To Be Continued
.
Ahhhhh mamakkkk aku pening dengan alur ini apa ini, Ya Tuhan...
Ini cerita kedua yang aku buat plotnya terlebih dahulu, biasanya aku buat cerita itu mengalir, sesuai kemampuan jariku mengetik, lol. cuapcuapnya gaada buat ini, doanya aja semoga lancar ini ff ehehehehe. makasih banyak buat review kaliaaan mwahmwah ily.
happy reading!^^
[copyright – sugantea]
