.Trapped.

.

Vmin;

Kim Taehyung

Park Jimin

.

[Bagian Tiga]

.

Satu kebohongan dapat menyeruak pada seribu kebohongan selanjutnya.

Satu masalah mampu menyebar begitu mudahnya, menggiring jutaan masalah yang tidak tahu kapan akan berakhir menemukan solusi. Jimin rasa, ini masalah yang tidak jelas. Sebab ia benar-benar tidak tahu kapan bencana ini dimulai dan darimana asal malapetaka mengerikan macam ini. Ia tidak mengira, sebuah angan tentang ketakutan sederhana yang mengerubungi kepala Jimin dengan bermacam imajinasi mengerikan benar terjadi. Jimin tidak tahu harus menyesal atau bangga, merasa dirinya bagai orang indigo yang dapat melihat masa depan.

Jimin tidak tahu, bagaimana harus menyikapi hal aneh seperti ini.

Ia kehabisan akal untuk memutar otak, mencari makna dari semua kronologi yang terus berputar sebab tak menemukan jalan keluar dengan titik terang. Taehyung dan dirinya sudah begitu jauh, rasanya teramat perih sampai Jimin tidak mampu menangis lagi. Kata Taehyung, ia bisa saja menangis darah dan Jimin takut darah. Konyol sebab Taehyung selalu saja mampir ke kepalanya yang sudah berteriak meminta Taehyung pergi. Merasa dirinya begitu tolol untuk tetap memikirkan Taehyung yang kelakuannya sudah bejat tidak karuan. Menganggap dirinya terlalu murah untuk ukuran manusia, sebab tidak peduli sekejam apa Taehyung membunuhnya, Jimin tidak bisa marah. Tidak bisa membenci sahabat uniknya itu, terlebih untuk tidak khawatir –ia tidak mampu.

Rasanya salah ketika Taehyung terus menghindar. Lari dari lingkaran setan yang ia buat sendiri membuat Jimin frustasi kehabisan ide. Taehyung selalu datang membawa masalah dan pergi membuat masalah baru hingga Jimin dibuat muak. Terlampau penat dengan sikap Taehyung yang kelewat konyol. Terlampau bodoh untuk menangis dan menggumam ucapan maaf, padahal ia tidak tahu, siapa yang salah pada keadaan ini. Entah itu dirinya sendiri atau Taehyung, ia tidak begitu peduli. Ia hanya ingin mereka kembali seperti dulu, meskipun itu mustahil untuk sekadar didengar Tuhan.

"Jadi, sudah berapa lama dia tidak pulang?"

Jimin memainkan jemarinya gelisah. Menatap Yoongi takut-takut. "Lima hari,"

Tidak peduli seberapa keras Taehyung berusaha menjauh, Jimin akan terus belari mengejarnya meski itu harus membuatnya mati kelaparan, kehabisan tenaga dan napas, tubuhnya kering meronta, rambutnya memutih oleh uban, keriput telah merubah kekenyalan wajahnya; tidak peduli sampai dimana dan berapa lama, Jimin akan menjemput Taehyung pulang. Kali ini ia memutuskan untuk merekrut Yoongi dalam misi kecil-kecilannya. Tidak ingin gegabah sebab sadar diri bahwa ia terlampau bodoh untuk berbuat sesuatu. Dan Yoongi adalah pilihan tepat akurat, apapun agar Taehyung kembali.

"Menurutmu, dia pergi kemana?"

"Tidak tahu," Jimin bernapas merana. Merasa bodoh sebab tak tahu apapun. "Aku tidak tahu."

Ada sesuatu dalam dada Yoongi yang mencubit jantungnya secara mendadak. Rasanya sesak sebab merasa sakit oleh keadaan mengenaskan dari Jimin. Pandangan matanya gelisah dan lelah, cahayanya meredup sampai kerongkongannya kering. Perasaan ini lebih besar dari sekadar iba, dan Yoongi sungguhan harus mengembalikan senyum Jimin atau ia ikut mati. "Hei, tidak apa, Jimin-ah."

Tubuh Jimin yang bergetar sedikit tenang usai mendapat usapan lembut dikepalanya. Sentuhan sayang dari Yoongi berdampak baik baginya. Tidak salah ia minta bantuan pada boss-nya, ia tahu, bahwa Yoongi akan menemukan solusi baginya. Ia terlampau bahagia mengenal Yoongi dalam hidupnya, bersyukur dengan relasi yang terjalin baik antara mereka. Tapi ini Jimin, dan dia tidak pernah bisa tahan untuk tidak menangis, maka untuk kesekian kalinya, ia menangis.

"Kau tahu temannya, barangkali?"

Teman. Kata itu menamparnya dari tangis, menyadarkannya dari rasa gundah yang membumbung dihatinya. Seketika terpasung terdiam, menggeram marah sebab dadanya merasa panas dan emosi telah berkabut dibenaknya. "Sebenarnya, aku curiga pada satu orang."

"Siapa?"

"Teman terdekat Taehyung belakangan ini," Jimin menjawab dengan sedikit nada ketus. Tidak suka langsung menyebut nama jahanam yang membuatnya nelangsa seperti gembel ini. Ia benci setengah mati membayangkan namanya terngiang di kepalanya sampai muak. Wajah lugunya itu sungguh menipu dan Jimin teramat benci pada sosok itu. "Kurasa, dia adalah penyebab mengapa Taehyung berubah. Sejak mereka berteman, perlahan Taehyung bukanlah dirinya. Dia memang nakal dan nyeleneh tapi tahu aturan. Dia bersumpah padaku untuk tidak menyentuh hal hina itu namun, apa? Siapa lagi kalau bukan cecurut tengik si teman barunya itu?"

Kalau saja bisa, Yoongi ingin tertawa. Wajah Jimin yang menggerutu itu sangat menggemaskan namun ia sadar dimana posisinya berada. Bukan waktu yang tepat untuk berbahagia. Ia berusaha menyelami tiap kata yang Jimin lontarkan. Ini adalah kalimat terpanjang yang ia ucapkan sebab sebelumnya ia hanya menelpon Yoongi sambil menangis kencang; tidak peduli seberapa lembut Yoongi menenangkannya, Jimin tetap menangis dengan suara melengking sampai Jihoon mendorongnya keluar rumah untuk segera ke flat Jimin.

Disinilah mereka berdua. Berusaha memecahkan masalah. "Dan itu adalah –?"

"Jeon Jungkook."

Namanya tidak terdengar asing. Tidak juga langsung teringat sesuatu. Rasanya ia mengenal nama itu tapi ia tidak bisa memastikan sebab ia tidak punya kenalan bernama Jeon Jungkook. Tetapi sungguh familiar di telinganya, terlebih perutnya tiba-tiba melilit dan jantungnya berdentum aneh. Jimin meremas celana katun yang ia kenakan dan wajahnya mengerut kesal. "Mereka teman sekampus dan yang anehnya, entah pakai hipnotis apa, Taehyung senang sekali menghabiskan waktu bersamanya. Dengan alasan yang sama; mengerjakan tugas, dan hampir setiap hari selama dua puluh empat jam penuh, mereka terus bersama. Aku tidak keberatan pada awalnya, sebab kupikir ia tengah menjalin pertemanan biasa mengingat kami berbeda jurusan; kau tahu, kami tidak bisa selalu bersama seperti dulu. Tapi dia jadi selalu mengabaikanku, menolak bermain denganku, bahkan untuk bicara lima belas menit pun tidak mampu. Dia tidak punya waktu untuk bersih-bersih flat tapi siap siaga jika Jungkook tiba-tiba menelponnya bahkan pukul satu pagi."

Yoongi berdengung. Memikirkan betapa Jungkook sangat hebat untuk mengubah Taehyung dalam sekejap. Jika Taehyung dan Jimin adalah sahabat lengket, akan sangat sulit memengaruhi satu dari mereka untuk berpisah –bahkan Jimin masih menempeli Taehyung. Ada dua hal yang ia asumsikan; entah itu Jungkook yang terlalu lihai mendoktrin pikiran Taehyung atau Taehyung terlampau polos untuk menerima ajakan menjadi nakal.

"Akan kucari tahu tentang siapa Jeon Jungkook ini."

"Hah?" Jimin melotot. "Memang bisa? Apa hyung detektif?"

Yoongi tidak tahan untuk tidak tertawa. "Kalau bisa, ya. Sayangnya aku tidak sejeli itu untuk jadi anggota detektif. Maksudku, aku punya teman yang jago mengotak-atik komputer dan informasi darimana saja. Mungkin dia bisa melacak sesuatu tentangnya dan mendapat sesuatu yang membantu, sebab aku berani bertaruh, Taehyung ada padanya."

Sejujurnya Jimin pun sepaham dengan Yoongi. Jika feelingnya benar, Taehyung pasti berada dalam ruang lingkup Jungkook. Hanya saja, mengingat perangai Taehyung yang sudah berani merokok dan mabuk, ia takut sesuatu yang buruk terjadi pada sahabatnya itu. Sangat mengerikan untuk membayangkan hal tidak diinginkan bisa saja terjadi. Dan Jimin tidak bisa tenang. "Baiklah, aku berharap banyak padamu."

"Pertama, begini; karena kalian satu kampus, coba kau datangi kelasnya. Kau pasti tidak kepikiran untuk mengunjunginya sejak bertengkar, benar?"

Jimin nyengir, separuh hati membenarkan pernyataan Yoongi yang menohok. Ia terlampau frustasi dan banyak menangis di dalam kamar dibanding mencari cara untuk mencari Taehyung. Ia kuliah seperti mayat hidup dan tidak sekalipun terpikir untuk menemuinya di fakultas Sains. Sebagian hatinya merutuk sebab terlalu bodoh untuk sekadar berpikir jernih. "Kalau kalian bertemu, ajak bicara baik-baik. Kalau tidak, coba tanya teman sekelasnya. Baiknya lagi, jika bertemu Jungkook –"

"Akan kupatahkan lehernya! Aku mengerti, hyung!"

"Astaga, bukan!" Yoongi meremas bahu Jimin gemas. "Jaga emosimu dihadapannya. Jika firasatku benar bahwa dia memang menyembunyikan Taehyung darimu, kurasa melihatmu mengamuk akan membuatnya senang dan merasa menang, tahu? Jangan biarkan dia melihatmu terpuruk atau ia akan semakin menyiksamu menggunakan Taehyung,"

Rasanya seperti badak bercula menusuk perutnya. "Menurutmu –begitu?"

Yoongi mengangguk lamat. "Hanya hipotesa awalku saja. Jika memang benar dia yang memengaruhi Taehyung, pasti sikapnya sangat buruk dan tidak bisa diajak bertengkar, maksudku, dia akan jauh lebih kuat dan berkelahi tidak akan mengembalikan Taehyung. Kau harus tenang dan bicara padanya, tanyakan dimana Taehyung berada dan jangan menyentuhnya!"

.

"Taehyung tidak masuk selama seminggu,"

Seorang pemuda berambut coklat karamel melebarkan senyum sopan. Menatap keheranan pada Jimin yang menggumam entah apa sebab ia tidak dapat mendengar suara Jimin yang selemah tikus. Menoleh dengan tatapan bertanya pada kawannya yang bertubuh kurus dan tinggi. "Mm, ada apa, Jimin-ah?"

Dipanggil, Jimin menoleh. "Taehyung lama tidak kelihatan, Jisoo. Kurasa kau tahu dimana dia, kalian 'kan sekelas. Ternyata dia tidak masuk kampus juga?"

"Kudengar kalian tinggal bersama," kawan Jisoo mengernyit heran. Ia ingat Taehyung pernah bercerita bahwa ia tinggal bersama sahabatnya yang bernama Park Jimin. Kalau tidak salah ingat, memang ini orangnya. Mereka pernah bertemu dua kali, Taehyung mengenalkan Jimin pada mereka. Dan kenapa Jimin malah mencari Taehyung jika mereka tinggal serumah?

Pertanyaan itu terdengar sarkatis. "Hm, Taehyung... tidak pulang, Mingyu."

Keduanya terkesiap mendengar pengakuan Jimin. Merasa tidak enak telah bertanya, sepertinya mereka ada masalah. Yang mereka tahu, Jimin dan Taehyung adalah sahabat dekat. Tidak begitu sering melihat mereka bersama, sebab Jimin beda fakultas. Jisoo nampak berpikir sebentar kemudian bersuara, "Coba kau temui Jungkook. Mereka sudah digossipkan pacaran karena sering menempel berdua. Bahkan si mulut ember Hoseok tidak bisa diam ketika melihat mereka tidak bersama lagi,"

"Tidak bersama lagi?"

Mingyu menangguk, "Jungkook tetap ke kampus, sedangkan Taehyung tidak. Bahkan absen tanpa surat ijin, kurasa nilainya bisa saja turun dan kudengar dia dapat peringatan dari Dekan. Memang suratnya tidak sampai kerumah kalian?"

"Tidak, tuh." Jimin menggaruk kepalanya bingung. Mengingat-ingat apa ada surat yang datang sebab ia yakin tidak ada satu pun surat masuk ke flatnya. "Kalian benaran tidak lihat Taehyung, dimana, barangkali? Maksudku, diluar kampus?"

Mereka berdua menggeleng. Hatinya iba menatap Jimin yang tertunduk lemah. Jisoo nampak berpikir lagi sampai ia teringat sesuatu tentang Taehyung dalam memori payahnya. "Kalau tidak salah, aku sempat melihatnya jalan sempoyongan di distrik tujuh Rabu kemarin,"

"...Ha?"

"Seingatku, ada seseorang yang menggiringnya berjalan tapi entah siapa. Tubuhnya terbungkus pakaian serba hitam dan mengenakan hoodie. Aku sedang naik mobil dengan keluargaku, dan mereka lewat di zebracross. Jalannya sangat cepat sampai aku tidak bisa memanggil mereka. Memang nampak mencurigakan, sih, tapi yang menganggu pikiranku ..."

Jimin menunggu dengan cemas. "Pemuda berhoodie itu menenakan kalung salib; persis dengan yang biasa Jungkook pakai."

Tidak lagi. Perasaan tertohok ini kembali muncul. Dada Jimin begitu sakit dan sesak untuk bernapas, ia terpasung oleh kata-kata Jisoo barusan. Terlampau menamparnya dari pemikiran mengawangnya. Mungkin benar jika Jungkook ada hubungannya dengan semua ini. Ia sungguhan takut tentang probabilitas kejadian buruk menimpa Taehyung saat ini. Kim Taehyung dalam bahaya. Dan Jimin tidak bisa tinggal diam.

Merasa salah bicara, Jisoo mengulum bibirnya pelan. Sedikit merasa tidak enak tapi sebuah kebenaran harus diungkapkan, lebih baik ketimbang Jimin tidak tahu tentang apapun. Dan sejak hari itu Jisoo juga penasaran dengan Jungkook, sebenarnya. Ada sesuatu dalam diri pemuda itu yang aneh dan Jisoo selalu ingin tahu; dia bukan indigo atau seseorang dengan feeling kuat tapi ia rasa Jungkook menyembunyikan sesuatu. Pernah suatu ketika (atau lebih bagus disebut sering) ia mendapati Jungkook menatap Taehyung dengan tidak biasa, aneh, mengintimidasi, dan menakutkan –entah apa artinya.

"Oh, panjang umur," Mingyu memecah keheningan dan menunjuk lewat kerlingan matanya. "Jungkook sedang sendirian di taman sana, kau temui saja."

.

"Jeon Jungkook?"

Suara lemah itu sengaja dibuat lirih, dan Jungkook berhenti memainkan Piano tiles dan mendongak. Menatap heran dengan pemuda yang memanggilnya barusan. Cahaya matahari agak menyilaukan dan wajahnya sedikit tertutup, tidak begitu nampak jelas. Begitu ia memiringkan kepalanya dan wajah itu terlihat, ada senyum tipis di wajah Jungkook. Dalam hati bersorak penuh selebrasi. "Hai?"

"Hai, apa kabar?"

Jungkook semakin tersenyum begitu melihat mata pemuda itu menatapnya sinis. "Baik; bagaimana denganmu, Park Jimin?"

Namanya terdengar menjijikkan jika Jungkook yang mengucapkannya. Jimin bisa muntah jika terus ditatap seperti itu sebab terlalu muak dengan sikap tenang Jungkook yang terlihat menyebalkan dan played cool like nothing happened. Dan Jimin teramat membencinya. "Straight to the point saja; kemana Kim Taehyung?"

Jungkook tertawa sebentar. "Ah, tidak mau segelas kopi dan kue manis?"

"Jawab saja."

"Kim Taehyung, ya?" Matanya ia kerlingkan dengan sengaja, membuat pose berpikir dengan perlahan dan berusaha menahan tawa. Sejak awal ini memang terasa lucu baginya, dan mungkin ini akan jadi lebih menarik dari yang bisa ia bayangkan. "Bukankah kalian tinggal serumah, kenapa repot bertanya padaku, Tuan muda?"

"Kau benar-benar cari mati."

Dengan dramatis Jungkook menggeleng. "Aku kemari mencari ilmu, Tuan." Kemudian tertawa lagi. Wajah mengamuk Jimin yang ditahan setengah mati nampak lucu dimatanya. Tatapan tajam itu tidak ada kesan bagi Jungkook, benar-benar menyenangkan dilihat. Terlebih, alasan pemuda itu mencarinya benar-benar membuatnya terpingkal. Menyadari betapa dangkal pemikiran Jimin untuk menemuinya dalam perjalanan mencari Taehyung yang hilang. "Begini, ya. jikalau kau sangat mencurigaiku, setidaknya kumpulkan bukti yang memberatkanku. Lagipula, bagaimana kau berpikir untuk menemuiku? Taehyung absen kuliah berhari-hari dan kurasa itu harusnya menjadi tanggung jawabmu, bukan begitu, sahabat?"

Jimin berani bertaruh bahwa Jungkook tengah memancing amarahnya.

"Kalau kau memang sahabatnya, pasti kau bisa menemukannya. Apalah aku yang hanya teman satu kampusnya saja. Aku tidak tahu dimana Taehyung, astaga, padahal minggu depan ada tugas praktikum dan aku kehilangan partnerku," Jungkook meraih bahu mungil Jimin dan menatapnya dengan mata bulat dan indahnya yang besar seperti anak anjing minta dipelihara. "Carikan Taehyung untukku, Jimin-ssi. Kau pasti tahu dia dimana, kau 'kan, sahabatnya. Aku nelangsa tanpa Taehyung dikampus, kumohon, Jimin. temukan dia, aku takut sesuatu terjadi padanya. Aku berharap banyak padamu."

Omong kosong apa lagi yang Jungkook katakan. Ada yang tidak beres dengan kepalanya, mungkin. Jimin terbelalak dengan pemikiran yang menari-nari kacau. Jungkook dengan cepat berubah emosi; tadi dia menatapnya remeh, bicara seperti penculik dan sekarang menatapnya melas butuh pertolongan. Melolong padanya agar menemukan Taehyung untuknya. Jimin tidak bisa membaca arti tatapan mata dan melihat aura tapi ia yakin jika Jungkook tidak normal. Bahkan jika matanya tidak salah menangkap, Jungkook memberikan seringaian aneh meski hanya lima detik. Wajahnya semakin dekat dengannya dan hembusan napasnya menyapu leher Jimin hingga merinding. Mereka tidak melepas tatap sebab Jungkook terlalu erat membuat perangkap dan bibirnya yang merah dengan sengaja meniup pelan udara hangat ke dalam telinganya dan berbisik dengan nada sensual.

"Selamat berjuang."

.


Yoongi menggigit bibirnya takut. Dadanya bergemuruh dan meletup. Ia memainkan jemarinya gelisah dan berkali-kali menimang sembari menatap ponselnya. Berulang kali membuka lockscreen namun kembali menguncinya. Terus begitu sebab terlalu takut. Tapi ini demi Jimin, dan Yoongi harus memberitahukan hal ini padanya sebelum semua terlambat terdeteksi.

Dengan hati yang gemetar, Yoongi mengirim pesan singkat padanya.

Jimin, jauhi Jungkook. Jangan buat masalah padanya dan mari bergerak diam-diam. Kita buat strategi lewat pintu belakang. Aku yakin melebihi persentase yang ada bahwa Taehyung ada pada cecunguk itu. Kemari pukul tujuh dan buat rencana menemukan Taehyung. Jeon Jungkook itu manusia berbahaya, putuskan hubunganmu dengannya! Salah-salah dia ikut menjadikanmu target selanjutnya.

Kuperingatkan sekali lagi, jangan gegabah memukulnya! Dia berbahaya, menjauh darinya!


Tidak ada waktu untuk diulur lagi. Permasalahan ini harus cepat berakhir. Yoongi memang bilang untuk datang pukul tujuh tapi ia tidak bisa menunggu jika itu tentang Taehyung. Ia ingin segera bertemu Yoongi dan minta penjelasan. Berbahaya seperti apa yang dia maksud. Seribu imajinasi bermain di otaknya, berangan tidak-tidak tentang Jungkook yang melukai Taehyung. Ia terlampau takut untuk menunggu dirumah, akan lebih baik ia bertemu Yoongi secepat mungkin.

Ia mengirim pesan kakao pada Yoongi dan matanya tidak sengaja melihat Jungkook di seberang jalan. Terduduk diam di halte dengan kaki yang digerakkan gelisah. Gelagatnya seperti tengah menunggu sebab berulangkali melihat jam tangan dan mendengus sebal. Jimin penasaran dan mencari tempat aman untuk mengamati bocah tengik itu. Ia terperanjat ketika Jungkook tiba-tiba bangkit saat mobil Audi hitam datang tepat dihadapannya. Jimin berpikir sebentar kemudian kembali mengamati.

Seseorang yang mengenakan jas mengilat turun dari sisi pengemudi, membuka pintu penumpang membiarkan sesosok pemuda yang lebih pendek dari Jungkook turun. Mereka bertatapan lama sekali seperti waktu hanya milik mereka berdua. Pemuda itu tersenyum manis namun Jungkook memutar bola matanya malas, seolah muak dengan kehadiran sosok didepannya itu. Ia mencoba menyentuh pipi Jungkook namun dengan sigap ditepis kasar, hingga sang pengemudi yang nampaknya merangkap titel bodyguard hampir menonjok Jungkook kalau pemuda kecil itu tidak menahannya.

Mereka berbincang entah apa; Jimin tidak akan mendengarnya dari jarak sejauh ini. Namun pemuda itu mencoba menggenggam jemari Jungkook yang lebih besar darinya dan menatap Jungkook. Ini terlihat aneh dan menjijikkan, seperti adegan drama di televisi tapi pemerannya pria-pria –homoseksual. Pemuda itu mengeluarkan amplop tebal dari saku celana bahannya yang kelihatan mahal dan memberikannya pada Jungkook, menghasilkan seringai mematikan di wajah Jungkook. Jimin dapat melihat bibir Jungkook mengucap terima kasih dan melenggang pergi namun ditahan sebentar oleh pemuda itu. Jungkook nampak jengah lalu terkejut sebab belum bicara namun pemuda itu sudah menciumnya lebih dulu.

"Astaga, mataku!" Jimin mengumpat dalam bisik. Menutup matanya dengan jemari gemuk dan merapal doa gereja yang biasa diajar guru agama di sekolah. Jantungnya berdegup kaget sebab terlalu mendadak mendapat pemandangan memuakkan ini. "Jeon freakin' Jungkook! Apa sih yang dia lakukan itu?!"

Jimin mengintip dari celah jemari dan mendesah lega begitu kegiatan intim tidak senonoh itu usai. Jungkook pergi dengan gaya berjalan yang dibuat keren meski Jimin sudah muak melihatnya. Kemudian menatap pemuda yang nampak bergeming menatap kepergian Jungkook. Aneh, memang Jungkook semenarik itu untuk ditangisi? Jimin dengan cepat mengeluarkan ponsel dan membuka kamera, menampilkan efek zoom in pada wajah pemuda itu ketika ia berbalik menghadap kearahnya kemudian mengambil gambarnya. Entah mengapa Jimin rasa pemuda itu bisa membantunya, mengungkap siapa Jungkook yang sebenarnya.

.

Jimin berlari kalang kabut menuju apartemen Yoongi.

Dia sudah tidak sabar bertemu dengannya dan bercerita banyak hal, juga mendengar banyak hal dari Yoongi. Mungkin ada sesuatu yang dapat membantunya selangkah menemukan Taehyung. Ia tidak melupakan kebaikan Yoongi bahkan ketika pria itu dengan santai memberikan kepercayaan password apartemen padanya. Katanya, ia mempersilahkan Jimin jika pada jam-jam tak menentu Jimin ingin menemuinya secara darurat sebab Yoongi kadang susah bangun saat jam tidurnya diganggu. Maksudnya, akan lebih efisien jika Jimin langsung masuk apartemennya dibanding mengganggu tetangga dengan lengkingan lumba-lumba miliknya dan suara gedoran pintu yang menggema pukul tiga pagi.

Ia melepas sepatunya asal. "Yoongi hyung! Hyung? Kau dimana? Aku sudah disini, hyung!"

Rasanya seperti dirumah sendiri ketika kakinya dengan seenak hati melangkah ke kamar Yoongi yang pintunya terbuka separuh. Melolong memanggil nama Yoongi sebab terlalu menggebu ingin bertemu namun sebal Yoongi tak langsung menyahut. "Hyung, aku –ASTAGA, MAAF! TIDAK SENGAJA!"

Jimin langsung membanting pintu kamar Yoongi hingga tertutup rapat. Matanya memejam erat dengan napas yang memburu dan jantung berdegup kelewat kaget. Otaknnya macet sebentar dan merutuk sebab terlalu gegabah ketika dengan santai nyelonong ke kamar orang dan mengamati Yoongi yang hanya memakai boxer dan hendak memakai kaus. Dalam arti lain, Jimin telah melihat tubuh Yoongi telanjang dan membuatnya jadi mesum. Wajahnya memanas tidak karuan mengingat betapa bagus tubuh telanjang itu; putih, mulus bersih, dan ada tetes-tetes air yang tertahan di tulang selangkanya dan beberapa menetes dari rambut Yoongi yang basah. Ini tidak benar dan ia sungguh merasa seperti orang mesum saja.

Tubuhnya terhuyung kebelakang ketika Yoongi (yang sudah berpenampilan rapi dan kering) membuka pintu, Jimin menatapnya canggung dan senyuman maklum. Yoongi hanya nyengir saja sebab mau marah atau protes pun tidak mungkin bisa. "Masih pukul enam kurang, kenapa?"

"Ah, ya!" Jimin langsung memasang mode siaga yang serius. "Aku terlanjur penasaran dengan pesan menggantung darimu, hyung. Ceritakan padaku, Jungkook berbahaya bagaimana?"

"Itu..."

Yoongi mengalihkan tatapan mereka sebentar. Ada perasaan takut terbesit dihatinya. "Jungkook punya catatan kriminal, dan kurasa kita harus bergerak cepat."

"Jungkook," Yoongi gemetaran sejenak sebelum bertatapan dengan Jimin. "Telah membunuh banyak orang, setelah menyekapnya sekian lama."

Hal buruk akan terjadi; cepat atau lambat. Dan Jimin tidak memilki banyak waktu untuk termenung sebab Kim Taehyung ada pada tangan yang salah. Kim Taehyung tidak aman berada di teritori yang berbahaya, dan Taehyung sedang memertaruhkan nyawanya sendiri. Jimin dilanda amarah luar biasa sampai kepalanya mendidih. Kabut menyelimuti hatinya meraung siap menerkam. Sekujur tubuhnya gemetar menahan amuk hingga keringat menetes satu per satu. Buku-buku jemarinya memutih sebab terlalu lama mengepal dalam getaran hebat dan napasnya memburu. "Bedebah jahanam –!"

"Dengar baik-baik,"

Yoongi meraih bahu Jimin yang menegang gemetar. Berusaha mengirim impuls penenang lewat matanya yang teduh, sebisa mungkin agar Jimin tidak dalam kendali emosi puncaknya atau semua bisa kacau. Meski hatinya kocar-kacir, Yoongi harus tetap tenang dan berwibawa. Dia pria yang lebih dewasa diantara mereka dan harus membatasi Jimin dan amarah yang tidak kuasa dibendung. "Aku mendapat alamat rumahnya, dan aneh, sebab kurasa itu hanya informasi pengecoh yang palsu. Alamatnya berada di Pyeongyang dan itu jauh sekali dari ruang lingkupnya –"

"Kita kesana." Jimin berujar mantap.

"Kau yakin?" Bibirnya Yoongi gigit pelan, ada kekhawatiran kecil mampir di ulu hatinya. "Maksudku, aku yakin jika memang itu rumahnya, dia tidak akan berada disana. Entah disewakan atau sudah memiliki penghuni baru dan pindah kesuatu tempat. Kemungkinan besar akan sia-sia; kami mendapatkannya dari profil Rumah Sakit Daesang. Dia pernah dirawat disana dan menjalankan terapi jalan berbulan-bulan. Tapi aku sungguh tidak yakin, entah mengapa perasaanku mengatakan begitu."

"Lalu apa gunanya kau bicara omong-kosong?"

Nada dingin itu terdengar sarkatis dan amat menohok Yoongi. Ia dibuat terbungkam oleh celotehan tidak berbobot dari mulutnya sendiri. Terlalu bodoh untuk menyadari bahwa ia teramat berhati-hati, bergerak terlalu waspada, hingga tanpa sadar hanya bicara tanpa melakukan sesuatu yang berguna. Matanya berkedip gelisah ketika menangkap pesan tersirat dari tatapan Jimin yang mengintimidasi dan dominan. "Jadi ... Bagaimana menurutmu?"

Helaan napas terdengar. "Kita kesana. Sekarang."

.


Ruang gelap itu penuh dengan perabotan yang berlapis debu. Seseorang bisa menulis aksara seperti bermain pasir pantai di lantai yang tertutup debu bercampur tanah. Ada semilir bau anyir khas darah yang begitu lama dibiarkan tak terurus. Sebuah jendela besar terpasang rapi dan pas dengan posisi bulan sehingga biasnya masuk sebagai satu-satunya cahaya penerang. Udaranya terlalu lembap dan pengap untuk dihirup. Menghasilkan erangan menyiksa dan batuk kering yang mengudara, melolong ingin keluar dari sesuatu yang sebelas dua belas dengan tempat penghabisan nyawa.

Derit kursi kayu bertabrakan dengan satu-satunya petak lantai yang jauh dari debu tebal. Ada suara rintihan penuh derita bergema setiap ia menggesekkan pergelangan tangannya dengan tali tambang berwarna putih usang bercampur bercak darah. Rontaannya sedikit banyak menggores lengannya yang sedikit kering sebab dehidrasi. Perih membumbui lukanya sendiri ketika debu terus beterbangan ketika angis berhembus kencang.

Ada banyak luka di sekujur tubuhnya yang ringkih. Jeansnya sudah tinggal selutut usai dirobek paksa dengan gunting besar. Ada dua goresan besar di tiap kakinya; luka kering yang membiru sebab darahnya sudah mengering. Nyaris busuk sebab dibiarkan begitu saja tanpa obat merah yang membasuh. Pakaiannya berantakan, nyaris terlihat seperti kain lusuh sebab keadaannya robek dimana-mana terlalu mengekspos perpotongan tubuhnya yang masih mulus meski ada bercak merah bercampur ungu. Wajahnya sama kacau, terlalu banyak peluh dan luka di tiap sudut wajahnya. Paling banyak dibagian bibir, ada luka besar dengan darah yang masih nangkring dan basah –luka itu baru. Tiap ia meronta bahkan merengek sedikit, rasanya seperti ingin mati. Perutnya kurus meronta kelaparan tapi batinnya terus menolak dengan ego pada setiap makanan lezat yang disuguhkan. Tidak sudi sekadar mengecap dan minum satu teguk air pun.

"Masih menolak?"

Suara itu terdengar memuakkan sebab dibuat melas dengan sengaja. Dimainkan dengan sayang secara sengaja, bahkan tatapan matanya begitu merayu dengan penuh kelicikan di tiap kedipan nakal yang disanjungkan dengan intonasi seramah mungkin. "Kau bisa mati kelaparan, Sayangku. Aku memang suka tubuh kurusmu sebab sangat menyenangkan didominasi,"

Pemuda itu melangkah dan mengapit dagu runcing sandera cantik dihadapannya. Tidak begitu peduli dengan wajahnya yang basah sebab diludahi mangsanya sendiri. "Tapi aku ingin tubuhmu berisi, enak dipeluk dan baik demi kesejahteraan penisku untuk menyambut bokongmu yang montok itu. Kalau kau terlalu kurus, pantatmu bisa tepos kalau kau terus menolak makan, Dear."

"Kau dan omong-kosong! Tidak sudi aku makan darimu; mana tahu kau membubuhkan sianida disana dan kau membuatku tidak sadar lalu menggunakan tubuhku."

Pemuda itu nyengir. "Wah, ide bagus. Besok aku akan menjejalimu makanan yang sudah kucampur obat perangsang, setelah itu kita melihat angkasa ketujuh; bagaimana, Sayang?"

"Dalam mimpimu." Ia meludahi pemuda yang nampak menjijikkan dimatanya. Terlampau geli untuk menatap matanya yang berujar sok polos. Mudah baginya mengatakan hal aneh tapi bagi pemuda itu sendiri, tak lebih dari sebuah ancaman yang benar saja akan terjadi; tinggal menunggu waktu yang tepat. Senyuman itu terlihat sangat memuakkan ketika dibubuhi seringai dan dengusan geli. Terlebih ketika jemari kokohnya menekan luka diwajahnya begitu dalam dan sensual. "Ah, kau memang tahu diriku, Sayang. I always had thousand dreams with you, Dear. Mimpi dimana kau bergerak tidak sabaran, terlilit nafsu, dengan tubuh telanjat bulat, meremas sprei hingga robek, menggigit bibir sampai berdarah, mata terpejam menahan birahi, dan menungging; memohon seperti anak anjing minta disetubuhi sampai kau rusak dan mati –mimpi basah dengan kau sebagai aktor jalang terbaik, Kim Taehyung."

Pandai benar orang ini bicara. "Aku bukan jalang,"

"A-ah," pemuda itu meremas kuat tengkuk Taehyung dan memiringkan kepalanya. "Kau benaran akan menyesal begitu tahu betapa murahnya kau diranjang; terlebih dalam kendaliku secara absolut. Kau tidak akan pernah ingat untuk memintaku berhenti, kau akan lupa semua sumpah serapah yang kau tudingkan padaku; sebab terlalu menikmati tiap detik dimana aku membuat tubuhmu haus terus menerus minta digauli sampai mampus."

Pemuda itu tertawa, namun Taehyung menangis.

"Cup, cup, jangan menangis, Sayangku. Kau tahu aku orang yang lembut, kan? Aku akan membuatmu kepayang setelah menjadi saksi betapa lembut aku menyentuhmu hingga kau gila, Ma Cherie. Taehyung, kau akan menikmati semuanya jadi, tenanglah, oke?"

Taehyung tetap menangis hebat. Tidak menyangka hal mengerikan seperti ini bisa terjadi padanya. Maksudnya, dari sekian juta umat manusia di Korea Selatan; mengapa harus dirinya. Ia teramat takut dan gelisah menanti waktu ajalnya segera tiba, menggiringnya ke neraka dan menjadi iblis di kehidupan selanjutnya. Ia tidak berhenti menangis, dengan perlakuan keji yang menimpanya. Terasa seperti budak seks yang ia tonton di film Inggris jaman Victoria, dan Taehyung sungguh takut. "A –aaaah, ti –tidak –"

"Ssssh, kau suka ini; favoritmu."

Ini tidak benar. Pemuda licik itu selalu melakukan ini padanya; mencium dan mengigit lehernya. Sejak dulu, leher memang satu dari sekian titik lemahnya. Kondisi terikat kuat bahkan beberapa sudut paku menancap dan rantai mengikat agar Taehyung tidak bergerak bahkan satu senti saja. Pemuda itu bilang sangat menyukai leher Taehyung yang jenjang yang bersih. Katanya, rasanya manis dan memabukkan. Taehyung terus menangis di setiap deru napasnya yang amburadul dan desahan tertahan yang begitu menyiksa. Matanya berkabut lagi ketika pemuda itu lagi-lagi menggunakan lidahnya yang panas untuk membasahi hasil gigitannya yang memerah. "Mungkin, kau sengaja menolak makan, agar aku menghukummu begini? Iya, Taehyung? Liciknya Sayangku, kau hanya perlu meminta dengan benar supaya aku melepasmu dan mari selesaikan di ranjang dua hari penuh."

"Orang gila! Tidak waras! Psikopat! Gendeng! Tidak manusiawi –"

Lagi, seperti biasa, pemuda itu akan mencium bibir Taehyung lebar-lebar kalau diserapahi. Teramat tidak senang dengan gelar yang Taehyung layangkan secara acak. Menurutnya, Taehyung terlalu malu mengakui kalau ia pemuda hebat dalam hal mencumbu; well, Taehyung and his tsundere inner-self. Maka ia selalu memaafkan Taehyung; dengan syarat, mencumbunya terlebih dahulu sampai puas. Sebab tidak peduli berapa jam ia mencumbu Taehyung meski dengan berciuman saja; rasanya tidak puas. Mulut Taehyung teramat tebal dan berisi, manis, lebar, dan rongga mulutnya begitu luas bagai goa, panas, menggairahkan. Lidahnya terlalu lihai untuk ukuran amatir dan ia selalu tahu Taehyung mampu terbuai dalam ciuman panas yang selalu membuat Taehyung terlena dan ikut andil dalam gerakan intim yang menghasilkan suara kecipak basah penuh desah hingga kepala mereka bergerak liar dan mengajukan diri untuk saling mendominasi, mencoba berciuman sedalam mungkin sampai paru-paru mereka bolong kehabisan oksigen. "Meh. Kau suka ciuman mautku, Dear."

"Tidak. Bahkan untuk nol koma satu persentase. Hanya membuktikan betapa jalang dirimu memberikan kepercayaan padaku. Kau begitu menjijikkan. Beraninya memasukkan liurmu padaku, kau sungguh murah dan tidak terampil, kau mudah terangsang begitu saja, kau yang jalang, Jeon Jungkook."

Suara tawa menggema. "Kuanggap begitu caramu mengatakan 'aku suka ciumanmu, berikan aku lebih dan buat aku kepayang dalam kungkunganmu, Jungkook'. Kau tipikal sekali, aku suka."

"Jeon Jungkook," Taehyung menggeram.

"Ya, babe?"

Lama tidak bersuara, Jungkook tertawa lagi. Tahu bahwa dia menang. Taehyung dan wajah merah itu tidak mampu menipunya, dan ia sungguh senang. Taehyung kehabisan kata dan Jungkook sangat gembira melihat cebikan sebal darinya. Ia mendekat lagi, menjambak rambut Taehyung hingga kepalanya mendongak. Meninggalkan kecupan panjang di mata dan bibirnya, juga sudut yang terluka. Merasa bersalah meski sedikit, sebab bagian hatinya lebih besar menyukai Taehyung dengan darah mengucur. "Tetaplah disisiku, Sayang."

"Kim Taehyung," Jungkook meniupkan udara ke telinga Taehyung dan mengulum pelan penuh dominasi cuping telinganya. Menyeringai girang sebab Taehyung lagi-lagi mendesah untuknya. Terlampau senang dengan suara Taehyung yang cocok sekali dengan erangan menyebut namanya penuh dosa. Sekali lagi mengecup rahang tegas Taehyung yang bermandikan keringat bercampur cologne yang setiap hari Jungkook taburkan padanya agar tetap harum.

"Aku mencintaimu."

.

.

To Be Continued

.

Edisi: [sesi panjang lebar]

noun. : cuap-cuap

Aku kembali! Dan ada eksplisit cumbuan disini dan maaf ini lebih ke KookV untuk percintaannya muehehehe. Untuk yang review minta Jimin dan Tae bisa lebih dari teman; hmmmm ditunggu saja kelanjutannya ya. hehehe. Makasih loh kalian nyempetin baca cerita abal ini dengan kata yang absurd parah penggabungannya jadi sebuah kalimat. Saya masih belajar dalam menulis, ada banyak referensi dan authors yang saya kagumi diksinya dan sedang perlahan memahami diksi dewa itu ;)

Semoga ga bosen untuk tetap ngikutin cerita berbelit ini. Doain juga Jimin cepet ketemu Taetae dan nyelamatin doi, pengennya saya juga nikam Jungkook aja gitu. Semenjak dia ultah dan jadi dewasa, kesan adultnya makin menguar dan saya gak tahan untuk menjadikan image chic jahat sama Jeka. Ehehe maapin aku Jeka lovers. Aku tetap sayang Jeka kok.

Btw, sedikit curhat... saya merasa terhormat sekali begitu dapat notifikasi dua author senior (karena saya masih cecunguk baru menetas) faving this one. Makasih banget kak dan kayaknya saya belum bisa menyebutkan namanya di cuap-cuap deh. Ehehehe.

Pokoknya, jangan bosen apalagi lelah sama cerita saya yang amburadul ini, ya. anggap saja sebagai bentuk support kalian ke bangtan dalam artian lain. Hehehhe. Love, Sugantea.

Happy Reading~^^