Pagi tadi langit mendung hebat.
Dingin menyeruak bersama angin yang berderu tanpa ampun. Jimin dan Yoongi mau tak mau mengenakan mantel cukup tebal hari ini. Pergi dengan perasaan kacau ke Pyeongnyang, mengadu nasib pada dadu yang mereka putar penuh harap. Berdoa barangkali ia menemukan sesuatu tentang Jeon Jungkook dan mengakhiri malapetaka ini. Hujan datang mendadak begitu mereka sampai di perbatasan kota. Yoongi keluar mobil lebih dulu dan memayungi Jimin dan dirinya. Melangkah beriringan menuju rumah kecil dengan cat hijau tosca dihadapannya.
"Aku penghuni baru disini,"
Saat itu rasanya Jimin ingin pingsan. Tidak tahu lagi harus kemana mencari Jungkook. Rumah yang mereka datangi sudah dijual oleh cecunguk buronan itu. Beralih tangan pada pasangan suami istri dengan anak kecil yang lucu berpipi gembul dan matanya hijau. Yoongi disana menggenggam jemari Jimin yang bergetar. Menatapnya lembut meski hatinya sama kacau. "Kau oke? Masih banyak jalan yang bisa kita lalui. Kita bisa menemukan Jeon Jungkook,"
"Ya, hyung." Jimin menoleh dengan senyum hangat namun gemetar. "Kita bisa. Dan saat itu aku akan mematahkan lehernya jika Taehyung terluka barang satu goresan kecil saja."
Yoongi mengelus rambut Jimin yang beraroma lavender. Menghirupnya dalam-dalam dan mengingatnya segenap hati. Napasnya sedikit tenang seiring dengan genggaman yang semakin erat diantara jemari mereka yang bertaut. "Tentu. Kau bebas memberinya smackdown sekalipun."
.Trapped.
.
Vmin;
Kim Taehyung
Park Jimin
.
[Bagian Empat]
.
Semalaman Jimin tidak bisa tidur. Terlalu sibuk memikirkan bagaimana keadaan Taehyung selama ini. Bertanya pada setiap nyamuk yang lewat; apakah Taehyung baik-baik saja. Berdoa pada Tuhan, supaya sahabatnya diberi kekuatan untuk menunggu. Sedikit lagi. Jimin akan datang dan menyelamatkannya, membawanya pulang. Tadi Yoongi mampir ke flatnya untuk makan malam dan segelas teh hijau hangat. Tahu betul kesukaan Yoongi. Namun saat pemuda itu menawarkan diri menemani malam Jimin, dengan teramat halus dan menyesal, ditolak. Jimin hanya tidak ingin Yoongi melihatnya nelangsa, terus menerus gelisah pada sesuatu yang ia tidak tahu. Ia tidak bisa selalu merepotkan Yoongi.
Jimin hampir terjungkal ketika sering telponnya menyala keras. "Halo?"
"Kupikir ini sudah larut," suara serak menyapa keheningan di rumah Jimin. "Kau butuh tidur."
"Ya, baru saja mau tidur. Dan hyung mengagetkanku dengan telpon jam dua pagi begini. Memang hyung belum tidur?"
Hening sebentar. "Mimpi buruk,"
"Ah, begitu." Jimin menggigit bibirnya. "Mau kutemani bicara; sampai merasa baikan?"
"Tidak, aku bukan anak kecil. Tidurlah, atau aku akan benaran datang kesana dan memaksamu tidur. Aku serius Park Jimin, tidurlah. Sekarang."
Hampir saja Jimin tertawa, "Baiklah. Night, Yoongi hyung."
.
Esoknya, Jihoon bersiul senang. Menyenggol bahu Jimin main-main dengan kerlingan mata jahil menatap pemuda yang berjalan menghampirinya. Tertawa iseng ketika Jimin mendeliknya tajam dan menggerutu sebal. Jihoon melambai pada pemuda itu. "Hyung!"
"Ssup,"
"Ah, karena Yoongi hyung sudah disini, kurasa tugasku selesai." Jihoon tertawa lagi begitu Jimin mengerang sebal dan menepak kepalanya main-main. Dilihatnya Yoongi juga terkikik geli, sedangkan Jimin merengutkan bibirnya sedikit tanda kesal. "Ya sudah, kalian pergilah. Hati-hati ya, kalau benar Jungkook memang sekejam itu sebaiknya kalian juga hati-hati. Aku tidak mau kehilangan kalian berdua, aku sayang kalian. Yoongi hyung, jaga Jimin sampai mati! Awas kalau tidak, kuhancurkan cafe bututmu."
Yoongi mendelik. "Kupastikan kau menggembel dijalanan, Min Jihoon."
Kakak beradik itu kemudian tertawa kencang, mau tak mau membuat Jimin ikut tertawa. Sedikit senang dengan pembicaraan Jihoon dan kakaknya yang terasa menyenangkan. Membuat relung dadanya kembali terisi setelah sekian lama berlubang, hangat, dan begitu tenang. Mensyukuri hidupnya yang diberi karunia sebegini besar; Jihoon dan Yoongi, mereka akan selalu Jimin kenang sampai mati.
.
Sesuai rencana kemarin, Yoongi dan Jimin memutuskan membuntuti Jungkook.
Berjalan dengan jarak aman; kira-kira dua puluh meter disekitar Jungkook dan mengikuti langkah pemuda tinggi semampai itu. Mereka ketemuan di kampus kemudian langsung pergi ke fakultas Sains dan dengan keberuntungan tingkat dewa, menemukan Jungkook tengah berjalan sendirian. Yoongi berjalan satu langkah lebih depan, tangannya menggenggam erat jemari gemuk Jimin. Dihadiahi protes pada awalnya tapi Yoongi dengan santai tetap melakukannya. Katanya, takut sesuatu terjadi pada Jimin. Ia sering menonton di drama, kalau tiba-tiba kolega pelaku ikut membuntuti mereka dan menculik salah satu dari mereka. Saat Yoongi menceritakan alasannya, Jimin memutar bola matanya jengah.
Jungkook berjalan jauh sekali. Jimin mengeluh setiap ia merasa lelah. Berulang kali Jungkook menoleh, mengernyit heran dan menelisik sekeliling. Merasa ada yang memerhatikannya entah dimana dan siapa. Namun ia hanya mengendikkan bahu kemudian lanjut melangkah. Yoongi hanya bisa menghela napas ketika Jimin menarik ujung kausnya lalu merengek kelelahan. Mereka istirahat lima menit lalu mengejar Jungkook lagi. Kadang Jimin menggerutu; kenapa tidak dibuntuti naik mobil saja.
"Bensinku hampir habis, dan lagi agak susah dengan jalan ramai seperti ini. Jungkook itu jalannya lambat sekali, lihat. Kita tidak bisa jalan 20km/jam hanya untuk –hei! Kenapa bocah itu lari?"
Sontak Yoongi menarik lengan Jimin dan ikut berlari. Mengumpat sebal pada kemampuan kaki jenjang milik Jungkook yang rupanya lihai sekali melarikan diri. Sebab sial, Jungkook terlihat seperti perpaduan burung unta dan hyena; larinya kencang luar biasa dan gesit dengan rintangan manusia yang memadati trotoar. Bahkan Jimin dibelakangnya sudah ribuan kali mengaduh usai tubuhnya bertabrakan dengan orang yang lalu-lalang. Peduli setan, ia hanya ingin mengejar Jeon Jungkook sekarang. Yoongi membentak kesal pada orang yang menghentikan larinya dan menawarinya parfum entah apalah itu, membentuk dinding yang menjauhkannya dari Jungkook yang semakin tak terlihat punggungnya. Ia kemudian berlari gesit menyusul, semakin meningkatkan kecepatan berlarinya ketika melirik detik waktu pada lampu lalu lintas yang memberi kartu hijau pada pejalan kaki. Berteriak kesal ketika sebuah mobil Alphard melintas dengan tidak tahu aturan dihadapannya, menghalanginya semakin jauh dengan Jeon Jungkook yang sudah tidak tahu kemana.
Seorang pemuda turun dari pintu penumpang, kakinya menapak angkuh bersama dengan matanya yang biru dan cantik. Menatap Yoongi dan Jimin yang tengah bernapas banyak-banyak. Mobilnya berjalan meninggalkannya, kemudian pemuda itu menelanjanginya dengan pandangan yang tidak bisa Yoongi terka maksudnya. "Apa urusanmu dengan Jungkook?"
Yoongi tersentak, pemuda itu tahu tentang Jungkook. "Kau kenal dia?"
"Bisa dibilang begitu," pemuda itu berdeham kecil. "Jadi katakan, kenapa kau membuntutinya dan berlari mengejarnya? Kau apakan Jeon Jungkook?"
Tawa hambar dilepaskan Yoongi. "Apa yang kulakukan padanya? Harusnya kau tanyakan itu pada Jungkook, Tuan muda. Apa yang dia lakukan pada temanku." Kemudian mendengus geli, membalas tatapan garang yang dilontarkan pemuda dihadapannya. Meski penasaran juga, siapa kiranya pemuda yang kelihatan kaya raya ini. Diliriknya Jimin yang tengah menelisik pemuda itu seksama, keningnya berkerut lucu tengah memikirkan sesuatu. Sampai Jimin bertanya dengan suaranya yang kecil dan sedikit serak, "Kau ... pacarnya Jeon Jungkook?"
Pertanyaan itu membuat Yoongi dan pemuda itu terkesiap kaget.
Kentara sekali pemuda itu gelisah. Kemudian melirik kedai kopi yang berada tidak jauh dari mereka berdiri. Bibirnya dikulum pelan-pelan dan jemarinya agak gemetar. "Bisa ... kita bicarakan ini sambil duduk atau minum sesuatu?"
"Tentu." Kali ini Jimin yang mendominasi. Tangannya meraih lengan kurus pemuda itu, menariknya juga Yoongi menuju kedai kopi lima belas meter dari mereka berada. Tidak peduli dengan tatapan penuh tanya yang diajukan Yoongi sejak tadi. Yang ada dikepalanya adalah, pemuda disampingnya yang nampak kaya ini tahu sesatu dan bisa memberi informasi tentang Jungkook. Apapun itu. "Mau pesan sesuatu? Tubuhmu gemetar, eum... aku tidak tahu harus memanggilmu apa."
Pemuda itu menyingkap bagian kiri jas mengkilatnya. Mengeluarkan kartu nama yang berwarna emas menyilaukan dan norak –menurut Yoongi– dari saku dalam. Menyeretnya maju kehadapan Jimin agar ia bisa membacanya dengan baik. "Namaku Yugyeom. Pemilik sah dari Black Diamond Corp., perusahaan game dan elektronik dengan posisi nomor dua setelah S. Corp. Usiaku masih dua puluh tahun saat aku mulai bisa mengangkat perekonomian lima belas ribu karyawan di perusahaanku dan –"
"Whoa, dengar, kid." Yoongi mengangkat telapak tangannya keudara. "Kami tidak disini untuk mendengar kemewahan yang kau miliki sejak pertama kali membuka mata dan menangis. Yang kami maksud adalah, apa hubunganmu dengan Jungkook? Benar kau ini ... pacarnya?"
"Antara ya atau tidak." Yugyeom mengendikkan bahunya, separuh mengerut bibir lucu. Meniup poninya yang agak berat dan mengilat oleh sapuan pomade tipis. Menjetikkan jari dan seketika pelayan wanita datang kemudian Yugyeom memesan kue coklat dan Capuccino. Gayanya sedikit angkuh bercampur dengan kekanakaan. Tipikal yang membuat Yoongi mengernyit tidak suka. "Aku membayarnya, pada awalnya."
"Pada awalnya?"
Yugyeom mengangguk. Mengetuk telunjuknya dengan meja kayu dihadapannya, menggumam sebentar dan mengalihkan pandangan dari tatapan tajam yang Yoongi layangkan padanya. "Kami bertemu di klub malam. Dia bekerja disana sebagai ... ya kau tahulah," agak enggan ketika Yugyeom hendak mengatakannya secara deskriptif. Bagaimanapun, hatinya masih tidak siap. Ditatapnya mata Jimin yang terasa lebih hangat dan bersahabat. Hatinya terenyuh dengan tatapan polos itu, begitu manis dan menenangkan. "Kami punya hubungan di ranjang, lebih dari itu, aku tidak tahu. Apakah Jungkook menganggapku lebih atau sekadar pemuas nafsu saja. Maksudku, astaga, dia tampan dan keren. Aromanya begitu memabukkan; perpaduan sitrus, serai, dan daun mint. Dia begitu baik padaku, sangat lembut, juga bisa begitu kasar. Aku sering memesannya sebab kurasa aku menyukainya. Ini konyol tapi aku tahu aku benar menyukainya. Tapi kurasa dia tidak begitu."
Mungkin itu jawaban mengapa Jungkook berekspresi jengah ketika Jimin melihatnya berduaan dengan Yugyeom kala itu. Jimin yakin, Yugyeom adalah pemuda kala ia hendak pergi ke rumah Yoongi. Pemuda yang datang dengan jas mengkilat yang sama, mencium Jungkook, juga memberi sebuah amplop coklat yang tebal sekali.
Disana Jimin ketar-ketir. Semakin banyak spekulasi muncul dalam benaknya. Mengira-ngira dengan begitu buruk tentang apa saja yang bisa terjadi pada sahabatnya. Jantungnya berdegup tidak karuan dan isi kepalanya amburadul, seperti seluruh titik saraf dalam otaknya terbakar, merebak keseluruh tubuhnya sampai ia lemas tak berdaya. "Maaf ikut campur tapi ... aku benar-benar penasaran, ada urusan apa kalian dengan Jeon Jungkook? Maksudku, aku memang bukan siapa-siapanya tapi, aku menyukainya. Aku masih suka mengikutinya pergi meski sering ketahuan tapi itu karena aku menyukainya. Aku masih peduli pada hal-hal yang berkaitan tentangnya."
"Sahabatku," Jimin bersuara parau. Berjengit dalam diam ketika jemari Yoongi menggenggamnya begitu kuat dan hangat dibalik meja kayu. Diliriknya pemuda itu menatap kearah Yugyeom santai. "Jeon Jungkook mengurung sahabatku. Aku tidak punya bukti tapi aku yakin, sahabatku ada padanya. Kami tidak tahu benar atau tidak tapi aku yakin betul, sahabatku tengah bersamanya. Entah dimana."
Yoongi meremas jemarinya. "Apa kau tahu sesuatu tentang Jungkook?"
Tipikal sekali. Min Yoongi memang tidak begitu menyukai perbincangan panjang tidak berguna. Jimin menatapnya dengan jantung berdebar. Memang tidak ada waktu lagi tapi ia merasa tidak enak. Dihadapannya ada orang lugu yang begitu menyukai Jungkook segenap hatinya. Ada orang yang begitu peduli pada Jungkook meski tahu bahwa Jungkook tak lagi berminat padanya. Segudang umpatan sekuat tenaga Jimin tahan agar tidak terlalu membebani Yugyeom supaya pemuda itu tidak tersinggung. "Maksudnya, mungkin kau tahu tempat Jungkook tinggal?"
Jimin harus menjaga emosinya, seperti kata Yoongi. Kemudian melanjutkan, "Kami tidak bermaksud membuat impresi buruk tentang Jeon Jungkook padamu tapi kami benar-benar harus melihatnya dengan mata kami sendiri. Aku, Park Jimin secara pribadi meminta maaf jika tidak sengaja menjelekkan Jungkook kesayanganmu tapi, kumohon dengan sangat, beritahu kami dimana Jungkook tinggal."
Jemari Yugyeom terkepal kuat. Matanya memicing tajam, "Tidak bermaksud? Kalian jelas menuduhnya sebagai penculik atau apalah. Dia bukan buronan, paham? Dia orang baik dan mana mungkin Jungkook menyembunyikan sahabatmu. Lagipula, Jungkook tidak pernah tertarik dengan siapapun. Listen, he fucked me many times but still doesn't give me a love. Sahabatmu tidak akan membuatnya tertarik sebegitu besar. Kau menuding tanpa bukti, ini pencemaran nama baik."
"Astaga," Yoongi mulai kesal. "Begini, bocah. Maksudnya adalah, tolong beritahu kami dimana rumah Jungkook dan serahkan pada kami. Biar kami lihat apakah teman kami ada disana atau tidak, kemudian selesai. Aku tidak peduli seberapa baik Jungkook dimatamu sebab dia tidak begitu. Listen kid, he fucked you because of his work, nothing else. Nothing you can do, he doesn't love you; that's it, face it. Kami tidak punya waktu untuk omong-kosong ini, Kim Taehyung dalam bahaya dan kau harus cepat!"
"Kim Taehyung?"
Jimin mengangguk. "Kim Taehyung nama sahabatku yang hilang. Belakangan ini mereka dekat, semenjak satu kelas. Terakhir mereka pergi bersama sebelum Taehyung menghilang. Hanya Jungkook yang memenuhi kepalaku saat ini." Ia menangkup wajahnya frustasi. "Begini saja, kalau kau tidak terima dengan hipotesa dan tuduhan kami tentangnya, anggap saja ... aku membutuhkan Jungkook. Sebab hanya dia yang tahu kemana Taehyung mungkin berada. Hanya Jungkook yang bisa kumintai tolong. Hanya dia, orang terakhir yang bisa kutanyakan. Aku ini orang bodoh yang tidak bisa menjaga teman sendiri, Yugyeom-ssi. Aku ini payah. Tidak mengetahui apapun tentang sahabat sendiri, aku ini idiot. Jadi kumohon padamu, kuubah pendapatku: tolong beritahu dimana Jungkook sebab hanya dia yang bisa membantuku menemukan sahabatku."
Tidak ada jawaban. Bahkan ketika Capuccino pesanan Yugyeom dingin termakan waktu, Yugyeom masih bungkam tanpa bersuara. Mulutnya terkatup rapat dan matanya bergerak gelisah. Hatinya menimang terus menerus. Kepalanya sedikit pusing, ditambah dering telpon dari sekretaris pribadinya yang terus mengingatkan bahwa rapat segera dimulai. Kehadirannya ditunggu dengan sangat dan kegiatan itu mutlak ia datangi. Tapi otaknya masih berpikir; apakah ia harus percaya atau tidak. Yugyeom menyukai Jungkook sepenuh hatinya. Ia merindukan sosoknya, bukan hanya betapa gagahnya ia diatas ranjang tapi perhatian dan senyum manisnya. Mereka telah menghabiskan banyak sekali malam, sedikit banyak membuat Yugyeom paham dan mengerti Jungkook.
Tetapi dihadapannya ada dua orang. Duduk nelangsa tanpa harapan, memelas padanya untuk sebuah alamat. Rumah Jeon Jungkook, pemuda kesayangannya. Jimin terus meracau, bercerita betapa ia merindukan sahabatnya, perasaannya terombang-ambing menunggu, kepalanya terus berdenyut nyeri tiap menerka apa yang tengah terjadi pada sahabatnya sekarang ini. Mereka mengatakan jika Jungkook tengah menyembunyikan Kim Taehyung. Dan Yugyeom sulit untuk percaya, sebab Jungkook tidak begitu. Dia bukan pemuda seperti itu, dan Yugyeom tahu. "Aku tidak bisa."
"Yugyeom-ssi, kumohon. Hanya kau yang bisa –"
"Lalu bagaimana jika benar?" Yugyeom memekik. Buku jemarinya memutih. "Bagaimana jika memang benar, bagaimana denganku? Kalian tidak akan melepaskannya begitu saja lalu bagaimana denganku? Jika memang benar, kalian akan melaporkannya pada polisi. Atau sudah lebih dulu menebas kepalanya, lalu bagaimana denganku? Aku masih hidup bersamanya, meski tidak disampingnya. Aku bernapas untuknya meski ia meludahiku. Aku tidak akan pernah tega melihatnya mendekam dibalik jeruji menyedihkan. Aku tidak bisa melihatnya menderita."
Yoongi menghirup napas tertahan, memukul meja tidak sabaran. "Dengar, Tuan Muda. Kau akan terus begini sampai kiamat datang tapi dengan teramat menyesal aku harus memberitahukan ini; Jeon Jungkook pacarmu itu punya catatan kriminal dan riwayat penyakit mental. Dia maniak dan psikopat, paham? Kau tidak tahu apa yang tengah terjadi, maka diam dan segera beritahu dimana dia!"
"Jungkook ... psikopat?"
Suara Jimin yang selemah tikus menampar Yoongi. Membuatnya tergagap dan mengulum bibirnya takut. Merutuki mulut bodohnya yang bicara ngawur. "Jimin, aku hanya mencoba tenang. Aku tidak ingin kau jadi gegabah. Dan ... ya, Jungkook itu psikopat. Menurut catatan medis dari Rumah Sakit Daesang, dia menjalankan terapi untuk penyakit itu tapi sempat terhenti karena suatu alasan. Aku hanya menyembunyikannya sebab aku tidak ingin kau kalap. Maafkan aku,"
Jimin menjatuhkan kepalanya, membiarkannya terantuk begitu keras dengan meja. Menghasilkan suara debuman kencang hingga Yoongi dan Yugyeom kaget bukan main. Menatap iba pada Jimin yang tengah nelangsa bersama pikirannya yang kacau. Satu fakta tentang Jungkook membuat kepalanya semakin nyeri ketakutan. Tidak berani berfantasi lebih jauh, sebagaimana kejam Jungkook memperlakukan Taehyung jika memang benar mereka tengah bersama. Ia menangis ketakutan, tidak kuat menebak apa yang tengah Taehyung rasakan saat ini. Tapi ia yakin betul, Taehyung menderita.
Sebab sesuatu dalam hatinya mengatakan demikian.
"Kau mau bebas, Kim Taehyung?"
Pagi-pagi sekali, jauh sebelum matahari terbit, Jungkook datang. Membawa buku tebal; novel Harry Potter keluaran terbaru yang begitu sulit didapat. Membaca dengan tenang dikursi goyangnya dengan kaki ditumpuk indah. Sesekali menawari Taehyung teh melati yang diminumnya. Namun Taehyung hanya diam mengalihkan pandangan. Ketika ruangan itu mulai terang, Taehyung baru sadar wajah Jungkook nampak aneh. Perasaannya mengatakan demikian. Bisikan iblis mengatakan, Jungkook sedang dalam kondisi tidak normal; sehingga Taehyung memasang mode waspada level akhir. "Kau sedang mabuk, atau baru mendapat siraman rohani?"
Diujung sana, Jungkook tertawa. Menatap kearah jendela dan membukanya. Menghirup udara pagi yang terasa begitu sejuk. Anginnya berhembus lembut meniup wajahnya. "Aku selalu suka gaya bercandamu Taehyung. Tapi kali ini aku serius, apa kau mau bebas?"
"Aku tidak akan tertipu."
Jungkook tertawa lagi. Membalik badannya menghadap Taehyung. "Kim Taehyung yang aku suka. Aku benar-benar suka pemuda yang tangguh dan penuh perhitungan sepertimu. Waspada, teliti, jeli. Bukan yang manis dan penurut seperti anjing." Kemudian mengendikkan bahu dan melangkah mendekat. Memberi seringai mematikan dan berjongkok tepat dihadapan Taehyung. Membelai rambutnya sayang kemudian mengecup bibir Taehyung yang merah penuh darah dan bengkak. "Aku suka sekali padamu."
"Dasar orang gila."
"Ya, gila karenamu." Kemudian tertawa lagi, lebih hangat namun misterius bersamaan. Taehyung menatapnya heran dan tajam. Menerka apa kiranya yang Jungkook pikirkan sekarang ini. Ia ingin bebas tapi ia tidak tahu bebas seperti apa yang Jungkook maksud. Jungkook menciumnya lagi, lebih dalam dan lebar. Tipikal ketika ia sedang menggunakan hatinya. "Kau benaran harus makan sesuatu,"
"Tidak sudi."
Jungkook tersenyum. "Kasihan nanti Jiminie melihatmu kurus, Taetae."
Kata itu membuat Taehyung terpasung diam. Park Jimin. Ada banyak perasaan yang bergerumul di dasar hatinya tentang pria itu. Seorang sahabat yang begitu baik bak malaikat, setia, ramah, perhatian. Namun seluruh bisikan iblis membuat Taehyung menjelma menjadi setan yang menyakiti hati pemuda polos itu, Taehyung tidak tahu apakah Jimin bahkan sudi memikirkannya lagi. Ia menyesal teramat dalam, tidak sanggup untuk berdoa pun merasa hina untuk meminta ampun. Merasa tidak amat pantas untuk mendapat kesempatan kembali ke jalan yang benar. Taehyung terlampau bodoh, telah terikat pada lingkaran setan yang menjeratnya penuh siksa. Kini hanya bisa menyesal dan menangis. "Kubilang jangan menangis, Sayang. Aku tidak suka, hatiku ikut sakit."
Sapuan lembut di pipi Taehyung tetap membuatnya jijik. Jeon Jungkook menjijikkan. "Jeon Jungkook, lepaskan aku. Aku tidak mau disini, kumohon, lepaskan aku."
"Dan kabur dariku?" Jungkook meremas leher Taehyung. "Never. Kau milikku dan jelas akan bersamaku selamanya. Aku tidak suka berbagi meski itu dengan siapapun. Terlebih Park Jimin, manusia bodoh keparat itu tidak punya hak untuk menyentuhmu lagi. Kim Taehyung, kau diciptakan hanya untuk menyentuh dan melihatku saja. Menyebut dan memikirkan namaku setiap detik. Bernapas dan hidup untukku, bergerak sesuai perintahku; dibawah kendaliku. Kau milikku."
"Kau gila, Jungkook."
Dengan amarah tertahan, Jungkook menggigit leher Taehyung. Hingga pemuda yang terkukung itu menjerit tidak karuan dengan suara seraknya. Kerongkongannya perih tanpa basuhan air sejak beberapa hari. Jika Jungkook tidak memaksanya minum, mungkin Taehyung sudah mati membusuk. "Aku gila karenamu, Taehyungie. Mengertilah, aku mencintaimu dan itu benar. Kau terlalu indah untuk berjalan diluar sana. Aku tidak suka oranglain melihat kecantikkanmu, menyentuhmu, bahkan berpikiran kotor hanya dengan melihat wajahmu. Kau adalah candu, dan hanya aku yang bisa dan boleh memilikimu secara utuh tanpa syarat."
"Park Jimin bahkan tidak bisa menghentikanku."
Nama itu membuat otaknya tersengat lagi. Taehyung menangis begitu nama Jimin disebut, hatinya kocar-kacir berdoa penuh ketakutan. "Apa yang kau lakukan padanya?"
"Ha, masih peduli?" Jungkook memainkan alis dan mecubit pipi Taehyung gemas. "Kau sudah tidak menganggapnya siapa-siapa lagi, bukan? Dia tidak berarti lagi bagimu, sayang. Dia terlalu mengekangmu dengan segala hal kekinian yang kau lakukan. Bukankah menjengkelkan? Aku, aku akan meberi kebebasan padamu. Rokok, alkohol, seks –dengan senang hati kumanjakan kau– , narkoba, semua yang kau inginkan akan kuberikan, Ma Cherie." Jungkook mengelus rambut Taehyung sayang. "Kecuali kepergianmu. Kau hanya boleh bergerak dalam lingkunganku. Tidak kuijinkan kau keluar rumah untuk alasan apapun, kecuali bersamaku. Kau akan bahagia dan aman, aku bersumpah."
"Kau apakan Jiminku, bangsat?!"
"Hei, santai. Kau belum makan, babe." Jungkook mengelus pundak Taehyung. "Aku tidak melakukan apapun padanya. Dia tidak akan bisa menemukanmu jika itu yang kau harapkan, Sayang. Maaf tapi eksistensi Jimin terlalu berbahaya bagiku. Dia akan merebutmu dan aku tidak suka. Seenaknya saja dia menatap dan menyentuhmu begitu, hanya aku yang bisa dan boleh menyentuhmu. Semauku, sesukaku! Bukan oranglain, paham?!"
Taehyung menggeleng nelangsa. Pikirannya kalang kabut, hatinya bergetar khawatir. Merapal doa meski tahu Tuhan mana sudi mendengar. Berteriak kencang meski tahu Jimin tidak akan sudi menatapnya lagi. Ia ketakutan, hanya nama Jimin yang ada dalam kepalanya. Seandainya ia mendengar Jimin waktu itu, seandainya ia memihak Jimin, seandainya ia percaya Jimin, seandainya. Seandainya. Ia bertanya, pantaskah ia berharap, keluar dari sini secara utuh dan berteman dengan Jimin seperti sedia kala? Ia hanya ingin; bisa mendapatkan ampun dan kesempatan kedua.
Jemarinya bergetar berikut dengan tubuhnya yang merinding kala Jungkook dengan sensual mengulum daun telinganya dengan gerakan lambat dan menyiksa. Tangannya yang besar mengelus seluruh tubuh bagian belakangnya dan meremas tengkuk serta rambutnya yang lepek. Secara lambat memainkan jarinya turun, menuju simpul tambang di pergelangan tangannya yang memerah perih. Dengan satu gerakan tenang, Jungkook menarik ujung simpul dan terbuka. Jemari Taehyung dapat bergerak lagi, digenggamnya kuat-kuat oleh Jungkook. "Kau menyesal?"
"Sangat," Taehyung menangis hebat. "Dengan seluruh hatiku."
Hening sebentar sampai Jungkook terkekeh. Secara sistematis melepas ikatan yang mengekang Taehyung sambil sesekali melirik wajah kacau Taehyung yang begitu indah. Baginya, Taehyung tetap indah dalam keadaan apapun; meski hancur sekalipun. Jungkook mengelus pelipis Taehyung dan mengecupnya lambat penuh sayang. "Kau tahu, semua sudah terlambat."
"Kau memilihku ketimbang Park Jimin; jangan salahkan aku." Suaranya dalam dan mengintimidasi. "Salahkan dirimu yang jatuh dalam pesonaku, Sayang."
"Jeon Jungkook, aku –"
"Kau yang menawarkan dirimu sendiri; kau datang padaku, menghabiskan bersamaku, memikirkanku, menghubungiku, untukku. Kau tidak lagi hidup dalam bayangan Jimin. Kau sendiri yang memilih untuk hidup bersamaku, Ma Cherie. Kau yang membuang Park Jimin."
Mata Taehyung menggelap. "Kau yang membuatku membencinya!"
"Apa? Aku? Oh, tidak, Sayang." Jungkook mengecup pipi Taehyung. "Aku hanya menyingkirkan lalat pengganggu, toh, kau sudah terlanjur benci padanya. Kau menganggapnya sampah, tak lebih dari bayang-bayang guru sekolah kolot yang membatasimu dari kebebasan, aku benar?"
Ribuan kenangan menyakitkan berputar dalam kepala Taehyung. Menghantamnya seketika hingga ia pusing tujuh keliling. Menohok hati terdalamnya sampai ia merasa sesak, jauh dalam alam bawah sadarnya, ia nyaris gila. Membayangkan betapa keji ia memperlakukan Jimin kala itu, betapa ia begitu bodoh untuk membuang Jimin, menyakitinya dengan rentetan kata hina, dan mengkhianatinya tanpa ampun. Ingatannya tentang Jimin yang menangis tempo akhir membuatnya perih, seperti ada tangan besar dan kuat meremas jantungnya, menghentikan peredaran darah dalam tubuhnya hingga ia mati rasa dan hampir tewas. Ia menyesal, menyesal, menyesal. "Aku hanya membantumu mengusirnya dari hidupmu, babe. Tidak lebih. Kau yang putuskan untuk pergi darinya, bukan?"
"Tidak," kali ini Taehyung mencoba berani. "Kau mengatur semuanya, bangsat! Kau membuatnya!"
"You know me so well," Jungkook tertawa. Ada harum melati dari mulutnya, sejenak membuat Taehyung meremang dengan aroma memabukkan yang pekat itu. "God has script, so do i. Aku mencintaimu sepenuh hatiku, dan aku suka sesuatu yang dramatis. Aku merencanakannya dengan matang begitu aku terpikat oleh pesona matamu. Aku menjauhkanmu dari Park -bangsat- Jimin agar aku memilikimu secara utuh. Semua hal tentang kenakalan yang kukenalkan padamu tidak sia-sia, aku senang ternyata kau begitu polos untuk terjerumus. Funny, you learned everything so well like a five. Aku suka itu,"
Dengan gerakan ringan, Jungkook menggotong tubuh kurus Taehyung bak koala. Mengerang gemas pada sosok dipelukannya; Taehyung sangat imut dan cantik jika sedang pasrah. Membawanya keluar, bebas dari ruangan berdebu hingga tahu-tahu Taehyung bernapas normal. He miss oxygen, anyway. Jungkook tertawa kecil. "Salahmu memberitahu password ponselmu. Ku hapus semua pesan dan panggilan dari Jimin. Aku juga yang sering mengacaukan flatmu, semua tak lebih agar kau membencinya sampai begitu besar; supaya kau melihatku seorang, Taehyungie. Aku mengaku, ya, aku yang membuatmu membencinya. Karena aku mencintaimu, demi seluruh sel dalam diriku."
Taehyung berdegup tidak karuan begitu ia sadar tengah berada di tempat yang salah. Ia dibawa Jungkook menuju ruangan laknat penuh spekulasi tidak-tidak dalam kepalanya, sebab ia tahu dan tidak bodoh untuk mengenali bahwa ini salah. Ia terperanjat ketika bokongnya menghantam ranjang empuk. Spreinya begitu lembut dan sejuk, aroma melati menguar begitu tanpa sengaja ia mengelusnya. Taehyung menatap Jungkook separuh mendongak, tidak, ini salah.
Ketika dengan menggebu Jungkook mennciumnya lagi, Taehyung berdoa.
Sebuah hari yang panas, suhu mencapai tiga puluh sembilan derajat selsius.
Kala itu, Jimin dan Taehyung dengan langkah lesu menapak jalan yang ramai dan berwarna oranye oleh cahaya mentari yang begitu menyengat. Musim panas membuat mereka muak. Sudah lima es loli yang mereka beli di sepanjang perjalanan. Otaknya sudah penat oleh matematika dan pulang dengan sinar yang mampu membuat mereka berubah jadi abu. Peluh sudah membuat seragam mereka semakin lepek, hingga menutupi aroma sabun dan parfum yang melekat. "Taehyung,"
"Apa?" Taehyung masih asyik menatap jalan, sembari mengulum es loli rasa jeruk kesukaanya. Ia sungguh benci rasa panas yang menyiksa. Lebih baik terkubur salju ketimbang mati terpanggang dan jadi sajian thanksgiving; tidak, terima kasih. "Menurutmu, aku ini bagaimana?"
"Apanya?"
Jimin mengulum es loli kacang merah. "Ya ... akunya,"
"Aku tidak paham,"
"Apa aku ini ... membosankan?" Jimin menyuarakan pikirannya malu-malu. Tidak berani menatap Taehyung dengan mata sipitnya. Pandangan Taehyung yang tajam membuatnya semakin kepanasan saja, dan Jimin tidak bisa bertahan untuk hal itu. Suara berat Taehyung menetralkan dentum jantungnya yang menggila tanpa sebab jelas, "Mereka bicara aneh-aneh lagi padamu?"
Berpikir sebentar, dan memustukan untuk berbohong. "Tidak juga, hanya ... penasaran."
"Sudah kubilang, biarkan saja mereka bicara." Taehyung merangkul tubuh Jimin. kemudian memberi tepukan tenang sedikit mengelusnya lembut. Tanpa tahu Jimin sudah berdebar kencang hanya dengan sentuhan sederhana seperti itu. Baginya, semua yang dilakukan Taehyung memang membuatnya amburadul dan tidak karuan; Jimin menyukainya. "Mereka cuma gegabah yang tidak tahu apa-apa. kau ini orang terpandang, tauladan, pintar, berprestasi, ganteng –maksudku, manis. Kau itu manis. Baik hati dan sopan sama siapapun. Mereka hanya iri, sebab kau nampak sempurna. Kau bukannya pilih-pilih teman tapi hanya menyaring yang terbaik sebab kau layak mendapat yang terbaik."
Seketika cahaya matahari tidak terasa menyengat lagi. Mungkin ini sebagian sihir yang Taehyung sering lakukan, sebagaimana biasanya pemuda itu mampu mengubah suasana menjadi nyaman hingga Jimin luar biasa terayomi. "Kau bukan membosankan, kau hanya melakukan hal yang benar. Mereka saja yang kurang kerjaan, merokok dan membolos –halah. Tidak lulus baru tahu rasa, tuh orang. Dengar ya, Jiminku manisku sayangku. Kau itu yang terbaik, jangan dengarkan ejekan mereka. Mereka hanya iri, apalagi tahu kau punya sahabat keren ganteng seksi macam aku."
"Taik lah kau, Taehyung!" Jimin terpingkal, tidak peduli es lolinya yang terjatuh sebab terlalu asyik tertawa lebar-lebar. Tidak mau tahu tentang wajah geli dari beberapa orang memandangnya sebagai orang aneh yang ketawa nyeleneh siang-siang. "Kau itu gombal saja! Kau itu kerempeng, seperti kertas, hitam, jelek, nyeleneh, gila, konyol. Makanya jangan kebanyakan main layangan, kulitmu jadi gosong tuh, dijilat matahari!"
"Enak saja. Trend 2015 itu, pria seksi adalah yang punya kulit tanned eksotis seperti penjaga pantai berotot! Kau ini bacaannya cuma rumus Phytagoras mana tahu!"
"Dih, masa laki-laki bacaannya majalah cowok seksi. Homo ih, jijik."
"Jijik juga kau cinta padaku," Taehyung mengelus dagu Jimin lembut sembari terkekeh, memainkan alisnya naik turun dengan pandangan jahil yang menggoda. Hingga kepalanya dipukul keras oleh kepalan tangan Jimin yang setara dengan batu kali. Keras sekali. "Ya deh, aku cinta padamu. Thanks, ya, bro."
Taehyung tertawa, "I know you love me. Sama-sama, Babe. Duh, jadi ingin menikahimu secepatnya. Habis wisuda kita harus menikah pokoknya."
"Mana sudi! Kalau kau seksi seperti Hyosung Secret atau paling tidak suara mendesah sebagus Hyorin Sistar, iya deh. Kau sih ... yah, apaan. Suara om-om pedofil bukan tipeku."
"Dasar pemilih," Taehyung mengusak rambut Jimin. "Terserah kau menikah sama siapa, yang jelas aku akan bersamamu selamanya. Sampai mati. Aku tahu kau sebegitu menyukaiku, aku mana tega meninggalkanmu sendiri. Aku rela deh, jadi bujang hanya untuk hidup denganmu sampai tua."
Jimin membuat wajah terharu main-main, "Oh, romantisnya. Jijik ah. Tapi yah, aku sayang kau."
"I love you the most, Jiminie."
Ini tidak benar. Namun jangankan mengelak, bersuara pun Taehyung tak mampu. Tak ada kata maupun nada terendah yang keluar dari belah bibirnya yang membengkak. Sentuhan Jungkook membuatnya gila dan berkabut. Ia sadar ini salah namun ia tidak bisa lepas. Jungkook adalah iblis yang sudah terikat dengannya sejak jauh tempo. Taehyung tidak bisa lagi menolak. "Jungkook-ah –jangan –"
"Aku tahu kau suka,"
Jungkook sudah membuang kemeja Taehyung yang robek dan kotor. Pemuda itu mengukung Taehyung begitu kuat dan lembut secara bersamaan. Menatapnya intens dan pekat dari atas, jika dilihat ternyata Taehyung begitu cantik; dari sisi manapun. Wajah memerah Taehyung membuat Jungkook kehabisan akal, nyaris frustasi sebab wajah sayu dan tatapan lemas itu sungguh menggoda. Tubuh kurusnya nampak begitu cantik dengan ribuan mahakarya ciuman kupu-kupu yang ia berikan setiap hari. Ia menelan ludahnya agak berat; merasa beruntung dapat mengenal Taehyung salam hidupnya. "Kau bagaimana bisa secantik ini, Taehyung? Kalau kau meninggalkanku duluan, aku akan mengawetkanmu saja. Kau terlalu indah untuk dikubur atau dijadikan abu. Tidak boleh."
"Kau gila, Jungkook." Taehyung separuh mendesah ketika Jungkook mengecup dadanya begitu lambat, lembut, basah, dan sensual. Nyaris melayang jika ia tidak ingat siapa yang mencumbunya begini. Ia tidak ingin berakhir mengenaskan begini tapi rasanya ia pantas. Ia telah menjadi buruk dan mungkin ini hadiah yang pantas didapatkannya. Tidak henti mengucap maaf pada Jimin yang mungkin sedang bersenang-senang disana, makan, tidur, atau bekerja. Ia jadi ingat Yoongi, apa pemuda itu menjaga Jimin dengan baik? Tentu. Dibanding dirinya yang sebentar lagi akan hina, Yoongi jelas lebih sempurna dan dapat diandalkan. "Jangan, Jungkook –asssh,"
Sekali hentak, Jungkook dapat melepas celana yang melekat di pinggul ramping Taehyung. Membasahi bibirnya sendiri ketika melihat pemandangan indah; Taehyung jauh luar biasa cantik saat telanjang bulat. Ia benar-benar senang, gembira bukan main. Tanpa sadar tubuhnya bergerak sendiri, hormon dan iblis menyelimuti pikiran sehatnya. Jungkook sudah tidak waras lagi. "AH, Jungkook-ah –jangan, kumohon hentikan."
Dengan wajah cemberut yang lucu, Jungkook menepis jemari Taehyung yang baru mengganggunya saat tengah memainkan kebanggaan Taehyung. Dengan cepat ia mendekatkan wajahnya dan menyambut kesenangannya, bermain sepuasnya di pusat gairah Taehyung tanpa ampun. Senang bukan kepalang ketika mendengar Taehyung kembali memanggil namanya; terus, konstan, stabil, penuh desah, panjang, dan tubuh menggelinjang oleh afeksi hebatnya di ranjang.
Jungkook baru memainkan dua jarinya dalam tubuh Taehyung, baru sebentar menikmati pertunjukkan porno live dari jalang terhebat miliknya dalam kendalinya, ketika pintu kamarnya didobrak paksa hingga terbuka rusak. Engsel pintunya lepas dan memantul di lantai kayu. Keduanya menoleh kendati terlampau kaget. Mata mereka sama terbelalak, dan napas yang terhenti sejenak.
"KIM TAEHYUNG!"
Sebuah bogeman keras menghantam rahang Jungkook. Hingga ia tersungkur dan jarinya terlepas mengenaskan dari tubuh Taehyung yang memerah dan berkedut minta lebih. Tidak ada kesempatan baginya untuk bangkit sebab sudah lebih dulu dihantam dengan ribuan pukulan menyakitkan tanpa ampun dan tanpa jeda. Serta tetesan airmata yang membasahi bajunya. "Park Jimin sialan kau! Buat apa kau disini, ha? Tahu darimana kau tempat ini?"
"Peduli setan tahu darimana!" Jimin menggeram dan menginjak perut Jungkook. "Kau melukai Taehyung sampai begitu, kau menodainya, bangsat! Apa yang kau lakukan padanya, jahanam! Dasar orang gila tidak waras kau memang! Kau seharusnya mati! Mati ditanganku! Mati! Mati!"
Diujung sana, Taehyung lemas. Yoongi berlari menghampirinya dan melepas jaket hangatnya, membantu Taehyung duduk perlahan meski waspada dan berusaha cepat. Taehyung menatap Yoongi sayu, tubuhnya bergetar hebat dan menggigil. Yoongi memakaikan jaket ditubuh Taehyung yang sudah kacau, matanya memindai cepat dan menemukan celana kemudian memakaikannya lembut. Menggumam penuh sayang; hati-hati. Tidak apa, aku disini. Taehyung terenyuh dalam diam, tubuhnya masih panas dan lemas, tidak kuat berdiri pun bergerak banyak. Matanya memicing pelan pada sosok Jimin yang tengah bergelut dengan Jungkook disana. Ia menangis, tidak menyangka Jimin masih peduli padanya. Ia menangis, bahwa Jimin masih sudi untuk ada. Disana, berkelahi, demi dirinya.
Taehyung menoleh saat Yoongi mengusap pipinya, "Sudah. Ayo, keluar sekarang."
"Jimin?"
"Dia bisa menyusul," Yoongi membopong Taehyung. "Kau harus selamat dulu, ayo, Taehyung."
Mereka menoleh ketika Jungkook memekik, "Tidak! Jangan bawa Taehyungku, kau keparat!" kemudian berjengit dan mempercepat langkah mereka keluar dari sana. Jungkook berontak dari kekangan tubuh Jimin yang kuat, namun mendapat tendangan hebat lagi hingga ia terlempar sedikit, kepalanya terantuk meja kayu berlapis cat hijau muda. Mengaduh sebentar, kemudian cepat bangkit dan membuka laci. Memindai sesaat pada Jimin yang sudah bangkit dan berbalik menyusul Taehyung. Dadanya bergemuruh, secepat kilat mengambil pisau dari sana dan menerjang mereka. "KEMBALIKAN TAEHYUNG PADAKU!"
Jimin berbalik lagi, menatap terkejut pada Jungkook yang berlari ke arah Taehyung mengangkat pisau mengkilat itu tinggi-tinggi. Tanpa pikir panjang mencekal Jungkook dan menghalaunya mendekati Taehyung. Memutar kepalanya kebelakang dan berteriak kalut, "Cepat pergi sana! Akan kurus setan satu ini! Yoongi hyung, cepat bawa Taehyung pergi! Cepat sana –ARGH! SIAL!"
"TIDAK, JIMINIE!"
Taehyung melepas lengan kokoh Yoongi dan terjatuh, berteriak nelangsa ketika Jungkook menghujam perut Jimin dengan pisau itu. Membuat goresan panjang dan menusuknya berkali-kali, tawa Jungkook mengudara namun Taehyung hanya menangis dan gemetar. Yoongi baru saja hendak mendekat ketika suara tembakan mengagetkan mereka. Yoongi menoleh kebelakang dan lima polisi berlari, menodong pistol dan berteriak nyalang. Tanpa pikir panjang menembak kaki dan tangan Jungkook ketika hendak melarikan diri. Sigap berlari dan mengamankan Jungkook yang meringis kesakitan, kepalanya dibenturkan ke lantai. Matanya nyalang menatap Yoongi, kemudian Yugyeom yang tahu-tahu berada di belakang Yoongi; bersembunyi dibalik bahu tegap Yoongi. Matanya bergerak ketakutan, "Jungkook-ah ..."
"Dasar kau," Jungkook menggeram saat tubuhnya diangkut paksa. "Kau brengsek! Beraninya jadi sekutu mereka! Kubilang jangan beritahu siapapun –argh! Sakit!"
Seorang sersan berdecih usai memiting kepala Jungkook. "Penjahat sepertimu terlalu hina merasa sakit. Diam dan silahkan mati dipenjara. Ayo, jalan dasar lemah kau. Jalan, cepat!"
Jungkook berjalan tertatih keluar. Beberapa orang yang penasaran mengerling sembari berbisik entah apa. Banyak yang mereka kejadian itu dan berspekulasi masing-masing. Sementara Yoongi berlari mendekati Jimin yang sudah terkulai tak sadarkan diri. Membantu tim medis mengangkatnya ke tandu kemudian bersama Yugyeom membantu Taehyung bangkit. Membopongnya, berjalan dan menangkan Taehyung yang menangis pilu memanggil nama Jimin di setiap deru napasnya. "Kita ke mobilku saja, Yoongi hyung."
"Oh, tentu." Yoongi menatap Yugyeom, "Tidak apa?"
"Ya. kita harus cepat, kasihan Taehyung masih gemetar."
Genggaman tangan Taehyung mengerat pada Yoongi, hingga Yoongi menghentikan langkahnya sebentar dan menatapnya heran. Dengan sabar menunggunya siap bicara. "Antar aku ke Jimin,"
"Taehyung, kau harus tenang dulu. Jimin akan baik-baik saja,"
"Tidak. Aku sudah baik-baik saja dengan begini, antar aku ke Jimin. Sekarang."
Yugyeom beradu tatap dengan Yoongi, bertanya melalui gestur tubuhnya; apa yang harus mereka lakukan. Taehyung butuh duduk tenang, air hangat, pakaian, dan istirahat. Tapi mereka juga tak tega melihatnya merana ingin bertemu Jimin yang sekarat. Ambulans sudah pergi sepuluh menit lalu, dan Taehyung masih menangis merengek ingin ke rumah sakit. "Kalau kau masih kuat, baiklah. Tapi kita pulang dulu, kau harus tenang. Minum sesuatu lalu ganti baju, setelah itu kita bertemu Jimin. Satu hal; Jimin orang yang kuat, dia akan baik-baik saja, Taehyung. Kalau kau yakin, dia pasti selamat."
Lorong rumah sakit di lantai tiga cukup sepi. Masih pukul tujuh, waktunya perawat melakukan ganti dinas; mengunjungi seluruh bangsal dan kamar lalu memberi laporan pada antar sejawat. Memberi ucapan selamat pagi yang menyenangkan dan doa supaya lekas sembuh. Hanya berselang lima belas menit sampai pengantar makanan tiba, mengucap selamat pagi dengan senyuman manis dan bercengkrama ringan. Jimin baru sadar tiga hari kemudian. Luka di perutnya cukup besar dan dalam, mengingat betapa brutal isi otak Jungkook untuk menggerakkan pisau itu. Membuatnya agak kepayahan dalam bergerak, bahkan untuk duduk masih menggunakan bantuan tuas di ranjang.
Bukan perkara perih yang dirasakannya, Jimin merasa hampa. Ia sudah sadar namun Taehyung tidak muncul dihadapannya. Ia tidak mau tahu bagaimana keadaannya dari ucapan oranglain. Ia ingin memastikan keadaan sahabatnya dengan matanya sendiri. Melihatnya dan menanyakannya langsung. Jimin tertunduk pelan, mengira-ngira apakah Taehyung masih marah padanya atau bagaimana. Ia kehabisan akal. Terlampau kesepian di rumah sakit penuh aroma antiseptik yang membuatnya sedikit mual. Obat yang dikonsumsi juga sedikit banyak membuatnya cepat mengantuk. Yoongi terkadang (sebenarnya yang paling sering) datang mengunjunginya; membawakan apel atau kue manis, bercerita banyak hal, mengurusinya makan, sampai menemaninya tidur. Atau Jihoon yang bertingkah heboh hingga pasien yang terbaring disebelahnya memekik marah sebab tidurnya terganggu.
Menyenangkan, namun tetap kosong. Ia butuh melihat Taehyung. Dadanya masih bergemuruh kala mengingat kejadian tempo lalu; dimana Jungkook nyaris memperkosa sahabatnya. Ia tidak terima dan marah bukan kepalang. Ia ingin tahu, apakah Taehyung baik-baik saja disana. Jimin menghela napas, memangku wajahnya dan menatap ke arah jendela yang memantulkan cahaya matahari pagi. Ia belum begitu lapar pagi ini. Bubur kacang pinusnya mulai dingin namun ia tidak peduli.
Suara gaduh mengagetkannya, berjengit pelan saat luka jahitannya tertarik oleh gerakannya yang terlalu mendadak. Memicing pelan pada siapapun yang datang pagi-pagi sekali seperti angin ribut itu. Ia memegang perutnya yang berdenyut nyeri dan meringis kecil. "Pagi, Jimin."
"Ah, Yoongi hyung." Jimin tersenyum, bisa apa dia kalau Yoongi yang datang. "Kau datang pagi sekali, dan berisik, tahu? Pasien disebelah itu baru, orangnya agak galak. Nanti kena omel lagi, lho."
Yoongi tertawa, "Kau harus tahu perjuanganku hari ini. Aku rela bangun pagi buta hanya untuk membawanya kemari. Aku tidak tahan dengan wajahmu yang mirip anak anjing minta dipungut, dia selalu bersembunyi di luar, ah, sial. Aku dapat pukulan di sekujur tubuhku hanya untuk ini."
Jimin memiringkan kepalanya tidak mengerti. Namun Yoongi tersenyum lebar, tenang, dan manis. Menggeret seseorang yang ternyata bersembunyi dibalik tubuhnya yang tegap beraroma kayu manis dan madu. Membuat Jimin terperangah kaget, meski bibirnya terkatup rapat, tidak tahu harus bicara apa pun bereaksi macam apa. Kim Taehyung ada dihadapannya, menggaruk lehernya pelan dan tersenyum canggung. Mengalihkan tatapan memikatnya dan berdeham kecil. Rasanya rindu sekali, sampai dada Jimin sesak dibuatnya. Ribuan kupu mengepakkan sayapnya kuat-kuat hingga jemarinya bergetar. Ada sedikit air yang menggenang di pelupuk matanya, hangat dan basah. Rasanya rindu sampai Jimin amat bahagia. "H –Hai, Jimin ... kau oke?"
Dengan derai tangis yang teak terbendung lagi, juga senyuman lebar, Jimin mengangguk.
.
Rasanya menyenangkan ketika jantungnya berdebar. Jimin sangat ingin menangis ketika ia bisa memainkan jemari kurus Taehyung dalam genggamannya. Tersenyum geli melihat jemari yang cantik dan panjang itu, jauh lebih besar ketimbang miliknya yang pendek dan gemuk. Namun Jimin begitu menyukainya. "Kau begitu suka jariku?"
"Ya," Jimin mengaitkan jemari mereka. "Cantik, panjang, dan kurus. Telapakmu lebar dan hangat. Nyaman sekali digenggam, Taehyung. Aku sangat sangat sangat suka!"
Taehyung tersenyum lebar sekali, menggunakan jemari kirinya yang bebas untuk mengelus surai Jimin yang masih lembut dan beraroma melon. Beradu tatap dengannya selama mungkin, membuatnya merasa gembira dan tenang di saat bersamaan. Ia tidak pernah tahu, dampak mengagumi keindahan Jimin bisa begini hebat membuat sistem tubuhnya kacau. "Maafkan aku, Jimin."
"Untuk?"
"Semuanya," Taehyung menghela napas. Kepalanya tertunduk. "Semua yang kulakukan padamu. Sikap, perkataan, pemikiran; semuanya. Aku ... menyesal, dengan segenap hatiku. Aku mengaku salah dan merasa bodoh. Tidak seharusnya aku begitu, aku membuangmu begitu saja. Aku... tidak tahu, setan apa yang masuk ketubuhku. Aku percaya padamu namun mendadak aku benci padamu dan aku sungguh merasa malu. Aku tidak punya keberanian untuk menatapmu lagi, pada awalnya. Kau begitu peduli padaku meski aku menyakitimu berulang-ulang. Kau tetap menyayangiku, meski aku telah menggapmu tak ada. Dan aku merasa tidak pantas untuk semua kebaikan yang kau berikan, aku ini sudah hina. Aku tidak pantas menjadi seseorang untukmu. Aku ini sampah, Jimin-ah."
"Tidak, Taetae. Tidak begitu." Jimin mengeratkan tautan jemari mereka, membuat Taehyung mendongak menatapnya dengan mata berbinar yang lucu. "Aku sayang padamu. Dan itu tidak akan berubah, sampai aku mati. Kau tetap sahabat terbaik yang kumiliki, selamanya. Aku tidak peduli tentang masa lalu sebab kau ada disini. Sekarang, bersamaku, memikirkanku. Aku bertahan sebab aku tahu, kau adalah Kim Taehyung; pemuda nyeleneh yang terlalu percaya diri dan kotor. Penggemar berat wanita seksi semacam Ayumi Sonoda dan bertingkah seperti cacing kepanasan. Aku tahu kau, Taehyung. Aku tahu kau tidak akan pernah bisa meninggalkanku untuk alasan apapun sebab you love me the most, right?"
Hancur sudah momen melankolis. Taehyung mendengus geli dan mencubit pipi Jimin. "Kau ini, senang sekali ya, mengejekku macam-macam. Kau terlalu percaya diri, babe. Aku dengan senang hati akan pergi mencampakkanmu hanya untuk bisa mendengar suara merdu Ayumi Sonoda yang tengah mati-matian menahan nafsu. Ketimbang kau, suara lumba-lumba yang membuat telingaku berdarah. Aku mana bisa tahan hidup denganmu."
"Aku masih ingat kau bersumpah akan membujang demi aku."
"Mana ada yang begitu!" Taehyung memekik dan menjitak Jimin. "Aku bisa mati konyol karena hasrat biologisku tak tersampaikan. Aku akan jadi pria terganteng yang mati mengenaskan dengan alasan konyol; tidak bisa berhubungan seksual hanya karena terikat oleh setan berpakaian malaikat bernama Park Jimin yang tak lebih dari manusia jahanam, yang tega membiarkan sahabatnya mati kehausan."
Seperti ini yang Jimin rindukan. Momen bersama Taehyung, tertawa karena kelakar konyol diselingi dirty talk yang menggebu hingga dada mereka berdentum nyaman. Tawa Taehyung terdengar amat manis seperti aromanya; permen karet. Melihat bagaimana Taehyung hidup dengan baik membuatnya bernapas lega. Ia tidak memerlukan apapun lagi, cukup dengan tawa manis dan tatapan memikat dengan bola mata sepekat darah mampu mengantarkan Jimin kepada kebahagiaan tanpa akhir. Hanya dengan waktu sederhana dan sentuhan kecil hingga mereka larut dalam dunia yang mereka ciptakan, melebihi keindahan Narnia dalam lemari kayu. Warnanya lebih hijau dan segar, aromanya lebih manis dan sejuk, penuh fantasi melebihi Wonderland. Sanggup membuat Jimin rela menukar seluruh miliknya hanya untuk kehidupan seperti ini. "Katanya kau mau menikahiku? Kau ini sangat tidak konsisten sebagai pria. Dasar, pantas kau belum dapat pacar! Kambing saja ogah denganmu."
"Kau yang bilang tidak suka laki-laki."
"Kan sudah kubilang, kalau laki-lakinya kau, aku mau." Jimin mengerut lucu. "Kau itu budeg atau pikun, sih? Astaga, aku semakin khawatir kau tidak punya istri kelak. sifatmu terlalu urakan jadi cowok. Tidak macho, pikun, tidak konsisten –aku turut prihatin, bro."
Taehyung mendengus geli lagi, "Kau ini benar-benar jalang ya, Sayang. Aku sih suka dengan yang agresif semacam kau, menggairahkan. Sanggup mengangkat libidoku tinggi-tinggi sampai aku benaran bisa tuli dan kehilangan akal sehat hanya untuk menggagahimu sampai pagi, babe. Kau ini yang terbaik, aku suka. Suka sekali Park Jimin yang begini."
"Dasar keparat kau. Lebih baik cepat kau tidur disini, menungging, buka celanamu, buka kaki lebar-lebar, memohon padaku dengan tatapan sayu. Ah tidak, kau harus masturbasi didepanku dulu, lalu desahkan namaku kuat-kuat. Rayu aku sehebat yang kau bisa. Tunjukkan bahwa kau cukup pantas untuk aku setubuhi hingga tidak bisa berdiri untuk –"
"Astaga, kalian ini! Jaga ucapan kalian, kau tidak sendirian disini, Tuan!"
Mereka menoleh kaget ketika gemerisik tirai coklat pastel terbuka, menampilkan bapak tua dengan wajah kacau dan raut terganggu bukan main. Matanya tajam dan memicing tidak suka, mulutnya menggerutu terus. Ada kerutan di dahinya seperti anak tangga sebab, banyak sekali. Taehyung nyengir polos, terkikik canggung dan menggumam maaf. Jimin menahaan tawanya dibalik telapak tangannya yang mungil. Matanya terpejam erat, tipikal saat ia tengah malu. Ketika bapak itu sudah kembali memutus kontak, Taehyung terkekeh dan menatap Jimin yang ikut terkikik. Disana Taehyung berbisik dan memindai ke arah bapak itu dengan lirikan. "Dia saja yang iri, gak bisa berduaan kayak kita."
"Apaan sih, dasar mesum!" Jimin tergelak. "Sudah, kasihan tuh bapaknya kan mau tidur. Aku juga mau tidur Tae, obatnya sudah bereaksi nih. Ngantuk banget,"
"Yah ... aku ditinggal?"
"Aku gak kemana-kemana. Jangan seperti anak kecil."
Taehyung menahan tubuh Jimin yang hendak kembali rebahan. Jimin melebarkan bola matanya sedikit kaget dan bingung. Sebab tatapan mata Taehyung begitu tajam dan memikat. Raut wajahnya serius dan ada sedikit peluh nangkring di pelipisnya, sedikit banyak membuat Jimin menelan ludahnya gugup sebab dimatanya Taehyung luar biasa seksi. Bahkan Jimin baru sadar kalau Taehyung mengecat rambutnya jadi warna merah darah. Segar dan menantang, tegas dan seksi. Jimin ingin pingsan rasanya. "A-apa?"
Sial, bahkan suaranya tidak bisa terdengar jelas.
"Jimin,"
"Y-ya?"
Hening sebentar sampai Jimin merasa Taehyung mengaitkan jemari mereka, erat dan hangat. Juga tatapan menelisik setajam elang, dan hembusan napas yang berat dan panas. "Boleh aku menciummu?"
"What –?"
"Aku ingin menciummu, boleh?"
Kalau saja dipikir, Jimin rasa justru Taehyung lebih memaksanya. Bukan bertanya. Terlihat jelas dari matanya bahwa Taehyung amat sangat ingin melakukannya segera, tanpa penolakan. Dan jujur, Jimin tidak tahu harus mengatakan ya atau tidak. Hatinya menjerit seperti wanita kecopetan sebab ia sebal betapa mudah Taehyung mengatakannya. Terpikir dalam benaknya Taehyung tengah melawak tapi auranya jelas tak main-main. Jauh dalam lubuk hatinya Jimin ingin mengatakan ya, sebab sedari dulu Jimin ingin merasakan bibir tebal itu. Hanya bisa menerka, apakah rasanya manis atau asin. Bagaimana suasana saat berciuman dengan the hottest guy in life ini, apakah tubuhnya bisa hangus atau meleleh seperti lilin. Ia membayangkan, betapa lihai Taehyung dapat berciuman. Apakah dia akan menggunakan lidahnya yang besar dan panas? Apa dia senang menyusuri mulut partner ciumannya? Apa dia seorang good kisser; apakah ciumannya sebegitu menyiksa. Jimin ingin tahu. "Aku tahu kau ingin,"
"A-apaan, sih?"
Taehyung dan mulut kotornya mulai. "Bibirmu cantik sekali. Tipis, lembut, merah, segar, menggoda. Aku terbuai hanya menatapnya lama dan aku tidak bisa terus berdiam diri untuk menahan birahiku. Kau ini sungguh seperti jalang, Jiminie. Astaga, kalau saja bisa sudah sejak dulu aku menghabiskan seluruh sisi bibirmu; membuatnya rusak penuh darah, bengkak dan berkedut, mengkilat oleh liur, mulutmu amburadul beserta isi kepalamu yang jadi kosong. Bernapas megap-megap dan menatapku sayu, argh sial, aku benaran harus melakukan ini. Atau aku bisa mati ditelan hasrat."
Tidak ada waktu bagi Jimin untuk merespon secara cepat atau bahkan memekik. Ia hanya terbungkam oleh bibir tebal Taehyung yang begitu membuatnya penasaran setengah mampus. Rasanya nyaman dan menantang disaat bersamaan. Dadanya bergemuruh berikut jantung yang menggebu tanpa ritme, cepat dan kasar. Jimin hampir sesak napas saat ia tanpa sadar membuka mulutnya sendiri, dengan senang hati membiarkan lidah besar dan panas milik Taehyung singgah ke dalam mulutnya. Tidak peduli dengan liur yang mengucur deras di dagunya, terlampau terlena oleh irama dan gerakan Taehyung mengecap langit-lagit mulutnya dengan lambat dan menyiksa. Terlalu lembut hingga Jimin gemetar dalam pejaman matanya. Ia melihat gelap namun merasakan cahaya berpendar disekelilingnya. Taehyung sangat terampil dalam hal ini; Jimin teramat sangat puas dengan keinginan Taehyung. Bahkan suara kecipak basah yang dibuatnya usai berciuman dalam membuat Jimin meremang sebab hormonnya naik drastis.
"Kau pasif sekali, babe." Taehyung mengusap dagu Jimin. "Siapa ya, yang tadi merayuku?"
Malu bukan main saat Taehyung memainkan alisnya nakal. Jimin jadi berdebar tidak karuan, menggeram sebal oleh mata Taehyung yang mengerling jahil padanya. Kalau saja mampu, Jimin akan menonjoknya tapi tubuhnya sudah lemas oleh hisapan Taehyung beberapa detik lalu. Tenaganya tesedot habis tanpa sisa, meninggalkan napas lamat dan perut yang semakin perih oleh rasa geli. "Kau menciumku seperti jalang, Taehyung."
"Kembali kasih, jalang." Taehyung tertawa. "Bagaimana, mau kusetubuhi sekarang, atau sekarang?"
Jimin mendelik marah dan mengacungkan jari tengahnya lalu menusuknya masuk ke lubang hidung Taehyung. Menusuknya brutal dan melempar bantal padanya, memekik tertahan meski Taehyung tertawa nyaring. Terpingkal atas reaksi Jimin yang nampak begitu menggemaskan. Sudah lupa pada sosok bapak disebelah mereka yang berkedut marah oleh kebisingan yang mereka buat. Mereka tidak peduli lagi, hanya tertawa lebar dan saling mencubit atau memukul. Terbahak dengan gurauan yang mereka buat dalam perbincangan konyol mereka. Melupakan waktu tidur Jimin atau makan siang Taehyung. Lebih memilih quality time dengan cara mereka sendiri dan berakhir dengan pelukan serta beberapa kecupan dengan rasa strawberry dan madu.
Taehyung ada disana. Disamping Jimin setiap waktu, mengambil cuti kuliah untuk mengurus Jimin dalam masa pemulihan dari luka parahnya. Berusaha menebus dosa besar yang dianutnya pada masa lalu dan memulai hidup yang lebih baik. Mengoptimalkan waktu bersama Jimin yang telah terbuang sia-sia. Tidak berpikiran melakukan semua ini sebatas ganti rugi atau rasa iba. Taehyung ada disana, sebab tanggung jawab yang mengikat dalam kodratnya sejak ia mengenal Jimin. Ia harus melindunginya sampai mati, mengayominya sepenuh jiwa, meski itu berarti mengorbankan dunianya. Ia telah bersumpah, atas nama Dewa, Iblis, Demon, Tuhan, dan seluruh isi bumi; akan hidup selamanya untuk Jimin. Mengucapnya penuh keyakinan tanpa suara lantang, namun dengan hati yang mantap dan keteguhan luar biasa.
Bukan sebatas rasa penyesalan, namun lebih besar dari itu. Ikatan persahabatan tanpa ujung, yang telah kembali utuh dari ambang kehancuran tanpa sisa. Secara sukarela hidup bersama Jimin selamanya, tidak sekadar membual saat bicara siap membujang sampai ajal menjemput. Menjadi bagian dari Jimin hanya agar ia merasa utuh sebagai manusia, menjadi sahabat tanpa akhir, keluarga yang selalu ada dibalik lindungannya, matahari dan bulan yang menerangi kehidupannya, serta udara yang membuatnya hidup tanpa cela. Menjadi tameng dari jutaan cacian yang menerpa tanpa ampun, menjadi rumah untuknya tinggal dan pulang, serta menjadi bumi tempatnya berpijak.
Jimin mengecup bibir hangat Taehyung. "I hate you,"
Dan Taehyung akan disana, tersenyum konyol dan mencium Jimin lebih liar dan dalam. Membalasnya begitu menggebu dan tanpa ampun. Tidak peduli dengan rengekan Jimin yang memukul dadanya kehabisan oksigen. Hanya merasa, bahwa Jimin begitu sulit dilepaskan.
"Ya, i hate you the most."
.
.
.
Tamat.
.
Edisi : [sesi panjang lebar]
Noun. : cuap-cuap
MAMAAAAAAAAAAAAAAAA AKHIRNYA SELESAI INI FANFIC VMINNYA UHUHUHUHUHU MAU NANGESH AKU. GAKKUAT EHEY. AKHIRNYA BISA MEMBUAT VMIN SETELAH BIGHIT MEMBERIKAN BEGITU BANYAK FANSERVICE VMIN SAMPAI TUMPAH RUAH TAK TERBENDUNG.
Juga, terima kasih atas kesediaan kawan-kawan sekalian, yang sudah favs, follow, dan review. Ya Allah, rasanya bahagia banget melihat review kalian. Membuat gairah menulisku naaaiiiiik drastis. Perhatian yang satu ini cukup mengejutkan soalnya banyak yang review, aku makasih banget sama kalian dan maaf juga jika mengecewakan beberapa pihak. Aku suka ketawa gaje dan menggumam 'maafin' sama yang review soal karakter Taehyung yang dibuat jahat sama aku. Banyak yang emosi dan marah (karena baper sih, menurutku bukan karena kesel sama aku ehuhuhue kepedeean) sama Taetae yang terus nyakitin Jimin. atau yang emosi sama Jeka aku minta maap banget guys! Ini demi kesejahteraan cerita saja huhuhu jangan marah sama aku. Tapi ini sudah mencapai tamat dan ... memang agak gantung, beberapa hal tidak diteruskan seperti; bagaimana hubungan Yoongi dan Jimin? atau jadi Taehyung sama Jimin itu jadian atau bagaimana?
Jawabannya: kembali seperti dulu. Mereka berteman, kayak biasa... Cuma yah, tahulah ya... suka dirty talk gitu, dan Taetae udah gatahan tuh pengen nyosor Jimin eheheheh jadi dengan amat suka hati saya kabulkan doanya Taetae. Gitu, Yoongi masih sibuk sama cafenya plus nyari istri soalnya udah kesusul sama temen-temennya dan ngerasa baper jadi jomblo mulu. Ewwkwkwkwk
Udah kali ya, gitu aja. Makasih buat pembaca yang mampir kemari, baca-baca, bahkan review. Cinta banget sama kalian ahey~ habis ini ada cerita Vmin lagi sih (bocoran karena naskah sudah siap, tinggal di publish) tapi entah ya, kapan rilisnya ehehhehehe. Pokoknya sekali lagi, makasih atas perhatiannya selama ini juga saran atau kritik, pujiannya juga, makasih banget! Semoga bangtan terus sukses dan berjaya, keep love Bangtan with your deep heart, guys.
Happy Reading~!^^
