DAY BY DAY
Cast: RenjunxJeno
Rating: T
Genre: Romance,BoysLove
Summary:
Hari demi hari, kucoba tuk lalui
Kucoba jalani hari sesuai apa kata hati
Meski berat karena kujalani sendiri
Namun Tuhan tetap berbaik hati
Dengan membiarkanku meraih sebuah mimpi
Mimpi yang akan menjadi bukti bahwa
Memang ada didunia ini yang bernama
CINTA SEJATI
Pagi hari seperti biasanya. Jeno berangkat kesekolah diantarkan oleh sang supir pribadi dan memasuki area sekolah sendirian. Selalu seperti itu sejak ia masih taman kanak-kanak. Bahkan iapun tak memiliki masa kecil yang berkesan karena yah, ia tak bisa berbaur dengan anak-anak lainnya. Setiap ia akan mencoba berinteraksi dengan seseorang, maka akan selalu berakhir dengan ia yang gemetaran bahkan pinsan. Pernah suatu hari, ada seseorang yang mencoba menolong Jeno dengan menarik tangannya agar ia tak terlalu berjalan ke , bukannya berterimakasih ia malah gemetaran seperti orang ketakutan dan pinsan. Hah, jika Jeno mengingat kejadian itu dia sungguh kesal. Dari sekian banyak manusia di bumi ini, kenapa harus dia yang memiliki human phobia? –pikirnya.
Saat memasuki kelas, suasana heninglah yang pertama menyambutnya karena ini masih terlalu pagi. Namun, tak sedikit pula anak-anak yang sudah datang termasuk...
"Ohh, annyeong Jeno-ssi" sapa Renjun teman sebangkunya
"E-Eung a-annyeong" jawab Jeno sambil menundukkan kepalanya dan menggenggam tali tasnya dan berjalan menarik kursinya yang berada di sebelah Renjun.
"Apa kau selalu diantar dan dijemput jika ke sekolah?" tanya Renjun memulai pembicaraan.
Sepertinya Renjun tak akan pernah bosan mengajak Jeno berbicara meskipun Jeno tak menjaswab ataupun merespon. Jeno hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban –tetap sambil menunduk.
"Wahh, pasti enak sekali ya. Setiap hari diantar oleh appa atau eomma ke sekolah. Tidak seperti papa dan mamaku yang sibuk" balas Renjun
"A-appa e-eomma aniya" sanggah Jeno dengan gugup
"Ohh, lalu kau diantar siapa? supir?" tanya Renjun lagi yang dijawab anggukan lagi oleh yang ditanyai
Diam-diam Renjun tersenyum saat melihat Jeno. Setidaknya, anak itu sudah mulai terbuka padanya. Meskipun setiap pertanyaannya hanya dijawab dengan jawaban singkat dan gagap ataupun anggukan, namun Renjun senang jika Jeno mau berteman dengannya.
Bel jam pelajaran pertamapun sudah berbunyi. Renjun maupun Jeno mengikutinya dengan tenang walau terkadang Renjun masih sering mengajak Jeno untuk berbicara. Jika Renjun perhatikan, sebenarnya Jeno anak yang asyik diajak bicara dan manis. Hanya saja, ia kurang terbuka –menurut Renjun- dan pemalu. Tapi Renjun yakin, seiring berjalannya waktu mereka akan berteman.
Bel tanda pergantian jam pelajaran sudah 10 menit yang lalu telah berbunyi. Namun, guru yang mengajar di kelas belum juga muncul hingga akhirnya datanglah seorang guru piket.
"Anak-anak, hari ini Jung Songsaengnim berhalangan hadir karena sedang sakit. Jadi, kalian kerjakan saja latihan soal yang ada di buku latihan kalian dan jangan ribut" kata sang guru piket kemudian pergi meninggalkan kelas.
"Astaga, yang benar saja. Ini membosankan" gerutu Renjun kemudian ia mengeluarkan buku gambarnya.
Jeno yang memang tidak bisa berinteraksi dengan teman-temannya yang lain memilih pergi dari kelas untuk pergi ke suatu tempat. Renjun yang awalnya asyik menggambar langsung ikut berdiri ketika tahu Jeno keluar kelas.
"Kemana anak itu pergi? apa dia akan bolos?" gumamnya sambil menCoba mengikuti Jeno namun kehilangan jejak.
"Aish, kemana dia?" gerutu Renjun sambil mengusak rambut belakangnya.
Ruang club musik. Inilah tempat tujuan Jeno jika sedang ada jam kosong. Jenopun berjalan menuju barisan alat musik biola dan mengambil salah satunya dan mulai memainkannya.
Alunan musik yang merdu nan lembutpun mulai terdengar. Suasana yang tergambar dari alunan musik itu seperti sebuah ketenangan yang menyejukkan hingga siapapun yang mendengarnya akan terbuai. Musik yang dimainkan mulai terdengar memelan tanda akan berakhir. Seiring dengan berakhirnya alunan musik tersebut, terdengar pula suara applaus dari seseorang.
"Wah, daebbak! Kau benar-benar memainkannya dengan bagus" puji seseorang itu –Renjun dan mulai berjalan menghampiri Jeno.
Jeno yang kagetpun berjalan sedikit mundur saat Renjun berjalan mendekatinya, mungkin lebih tepatnya kearah keyboard yang kebetulan berada di samping kanannya.
"Tadi itu lagu dari Someday – Do you know kan? Bisakah kau memainkannya sekali lagi?" pinta Renjun yang kini sudah duduk dihadapan keyboard.
Awalnya Jeno ragu, namun akhirnya ia mulai memainkan kembali biolanya. Saat alunan musik mulai terdengar, Renjunpun mulai menekan beberapa tuts keyboard tersebut sehingga menimbulkan alunan nada yang merdu sama seperti alunan musik dari biola yang dimainkan Jeno.
Mereka berdua mulai larut dalam alunan musik yang mereka bawakan. Kolaborasi yang sangat indah dari permain piano Renjun dan biola dari Jeno membuat seorang guru piket yang tadinya ingin memarahi anak-anak yang ia kira kabur di jam pelajaran dan bersembunyi disini, mengurungkan niatnya menjadi mendengarkan pertunjukkan mereka. Iapun ikut terlarut dalam alunan musik tersebut.
Alunan musik itupun mulai memelan dan berakhir dengan gesekan panjang antara penggesek dan senar biola serta tuts piano yang ditekan agak lama. Renjun tersenyum sambil menatap Jeno dan Jeno yang hanya menunduk merasa malu.
"Wah, daebak! Kalian benar-benar hebat! Aku harus merekomendasikan ini pada Kim songsaengnim, guru club musik untuk menunjuk kalian sebagai kandidat sekolah kita dalam lomba festival musik tahunan di universitas Hanyang. Jeno, kau pasti mau kan? Kau dulu juga melakukannya" seru sang guru piket heboh.
Renjun dan Jeno yang tadinya kaget, langsung tersenyum canggung pada sang guru piket. Sungguh, mereka tadi hanyalah iseng melakukannya. Namun, mendengar pujian dan tawaran dari sang guru tadi membuat mereka malu.
"Ahh, gamsahamnida ssaem. Tapi sepertinya, cukup Jeno saja yang mengikutnya. Karena permain solonya saja sudah bagus" jawab Renjun kikuk
"Tapi akan lebih bagus jika kalian berkolaborasi. Selama ini sekolah kita hanya mampu sebagai runner up. Mungkin tahun ini jika kalian yang ikut, sekolah kita bisa menjadi juara" keukeuh sang guru tetap memaksa mereka untuk menyetujui idenya.
Baik Renjun maupun Jeno hanya diam saja karena gugup, apalagi Jeno yang menjadi bahasan mereka.
"Aku anggap kalian setuju. Baiklah, siapa namamu?" tanya sang gurupada Renjun
"Huang Renjun kelas XI-1, ssaem" jawab Renjun sopan
"Aku akan mengatakan ini segera pada Kim songsaengnim. Kalian berdua, selamat berkolaborasi dan semangat!" ujar guru tersebut lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Yah, kuharap kita memang benar-benar berkolaborasi dengan baik nanti" keluh Renjun sambil menatap Jeno yang hanya menunduk
Bel istirahatpun berbunyi. Jeno mengambil bekalnya terlebih dahulu kemudian menuju kantin dan duduk dibangku seperti biasanya. Saat sedang asyik menikmati bekalnya. Lagi, Renjun datang dan langsung duduk dihadapannya.
"Apa aku mengganggumu lagi? Kau selalu menundukkan wajahmu jika aku ada di dekatmu" tanya Renjun sedikit kesal dan heran akan sikap Jeno padanya.
Ayolah, mereka ini teman sebangku. Siapa yang tidak kesal jika selalu diacuhkan. Jeno hanya diam saja tak merespon apapun.
"Baiklah, aku akan pindah tempat lagi" kata Renjun jengah dan mulai berdiri
"J-Jangan! T-Tetaplah d-disini" cegah Jeno walaupun ia tetap menunduk
Renjunpun kembali duduk dibangkunya dan mulai memakan makan siangnya dengan tenang. Benar-benar tenang karena tak ada satupun dari mereka yang berbicara.
Malam harinya di kediaman keluarga Lee, mereka sedang menikmati makan malm mereka dengan tenang.
"Jeno, bagaimana dengan sekolahmu hari ini?" tanya Donghae memulai pembicaraan
"Baik, appa. Akupun juga mulai mencoba untuk berinteraksi dengan teman sebangkuku meskipun itu sulit" jawab Jeno
"Jeongmal? Ahh, akhirnya uri Jeno mau berbicara pada oranng lain. Teruslah mencoba, sayang. Dengan begitu, human phobiamu akan sedikit menghilang" seru Yoona sambil memeluk Jeno senang
Akhirnya, harapan mereka melihat putra tersayangnya berinteraksi dengan seseorang selain mereka dan keluarga lainnya terwujud. Meskipun itu tidaklah seberapa, tapi mereka tetap bahagia.
Setelah selesai makan malam dan sedang membereskan piring kotor, tiba-tiba bel rumah mereka berbunyi.
"Biarkan aku saja yang membuka" ucap Donghae dan bejalan menuju pintu depan untuk membuka pintu
Saat pintu terbuka, terlihat dua orang dewasa namja dan yeoja yang sepertinya sebaya dengannya dan istrinya.
"Annyeong haseyo. Kami adalah keluarga baru yang tinggal di depan rumah Anda, Tuan" ujar sang yeoja memberitahu
TBC
Pendek? Iya sengaja :P XD
Aku tau ini aneh. Maafkeun, karena saya newbie dalam hal karang mengarang dan juga maaf kalo bahasanya kaku.
Review juseyo~~
