Happy Reading

BREATH

Disclaimer : Masasahi Kishimoto

Pair : (Naruto x Hinata) Itachi

Warning : AU, Typo (s) dan segala kekurangan lainnya

DON'T LIKE! DON'T READ!

Chapter 2

Hinata akhir-akhir ini merasa sedikit kesepian dan bosan jika Naruto sedang berada di kantor. Ibu mertuanya belum juga pulang dari perjalanannya keluar kota. Merasa bosan dengan kegiatan membacanya di ruang baca, dia menutup buku bacaan di pangkuannya dan mengedarkan pandangan kesekeliling ruangan. Di sudut ruangan itu, masih terdapat beberapa kardus berisi koleksi buku-buku kesayangannya yang menumpuk menunggu tangan-tangan terampil Hinata untuk segera di bereskan. Sejak dulu Hinata memang sangat suka membaca, tak heran jika koleksi bukunya pun lumayan banyak. Alhasil saat dia menikah kemudian ikut pindah dengan suaminya, semua koleksi buku kesayangannyapun dia bawa ke rumah barunya.

"lebih baik aku bongkar dan bereskan buku-buku itu saja sambil menunggu Naruto pulang" gumamnya, kemudian berdiri mulai membereskan buku-bukunya ke rak-rak yang sengaja telah di persiapkan sesuai keinginannya. Ketika membuka kardus terakhir, senyum manis mengembang di bibir caniknya. Kardus itu berisi album foto pernikahan mereka. Dengan sedikit tidak sabaran Hinata mulai membuka album pertama. Di halaman peratama ada foto seorang wanita berkimono putih (shiromuku) indah dengan Wata boushi (kerudung) yang menutupi kepala dan sebagian wajahnya sedang tersenyum malu, disampingnya seorang pria berhakama hitam tersenyum dengan tangannya yang melingkari pinggang si wanita. Itu foto pernikahan Hinata dan Naruto, foto yang sama terpajang di dinding kamar tidur mereka. Halaman-halaman berikutnya terus dia buka, dan setiap membuka halaman baru, maka senyuman pun terus mengembang dari bibirnya. Ingatannya kembali ke masa di kala acara itu di langsungkan

.

.

.

.

Jantungnya berdetak tak menentu dan mulai gelisah duduk di kamar tidurnya dalam balutan kimono indah dengan *wata boushi yang terpasang menutupi kepalanya. Hinata, gadis itu mulai berkeringat dingin, sebentar lagi acara pernikahannya akan di laksanakan. Di samping kirinya seorang gadis yang lebih muda dengan mata yang serupa sedang duduk sedikit agak cemberut

"kak Hinata kenapa sih kau mau-maunya menikah dengan si bodoh itu, apalagi pernikahan ini begitu tertutup dan keluarga Namikaze yang hadirpun hanya sebatas kedua orang tua dan nenek, kakeknya saja? Apa kau tidak merasa curiga, jangan-jangan Naruto itu ingin pernikahannya tidak diketahui oleh orang-orang termasuk teman-temanmu. Apalagi tak ada satu orang temanmu yang di undang, bahkan teman terdekatmu sekalipun Kak Kiba dan Kak Shino" cerocos Hanabi yang sedikit tidak setuju dengan konsep acara pernikahan kakaknya itu.

"tak apa Hana, ini hanya peresmian saja, nanti kalau Naruto sudah tidak sibuk dengan urusan pengambil alihan perusahaan ayahnya, kami baru akan melaksanakan resepsi dan mengundang kerabat dan teman-temanku. Aku tetap bahagia, akhirnya aku bisa menikahi lelaki yang aku cintai. Lagipula ini yang aku inginkan Nabi, aku ingin pernikahan yang tertutup agar auranya terasa dan lebih khidmat" jawab Hinata dengan senyum sambil mengusap keapala sang adik

"tetap saja kakak, seharusnya kalau dia memang benar menginginkan pernikahan ini, setidaknya teman-temanmu harusnya di undang juga dong. Apalagi kakak baru mengenal keluarga Naruto selama dua bulan terakhir, ya walaupun kau sudah jatuh cinta pada si kuning itu saat pertama kalian bertemu di Ospek kampus. Haah kau masih percaya saja dengan dongeng seorang pangeran berkuda putih menyelamatkan putri dari gangguan penjahat. Dan kakak langsung jatuh cinta padanya di saat pria itu menolongmu dari gangguan kakak kelas yang menjahilimu. Kau kemanakan kak Itachi yang dari dulu mengejarmu. Kalau aku boleh memberimu saran aku lebih suka kau bersama kak Itachi, dia lebih tampan dan juga dewasa, dia tidak pernah malu menunjukan afeksinya kepadamu." Hanabi mulai membanding-bandingkan Naruto dengan Itachi yang memang sudah menunjukan ketertarikannya pada Hinata lebih dulu

"tapi aku mencintai Naruto, Hanabi bukan kak Itachi. Dan meskipun aku baru mengenal keluarganya dalam satu bulan terakhir, aku yakin bibi Kushina dan paman Minato bukan orang jahat, jadi kau tidak boleh berprasangka buruk pada mereka OK. Naruto orang yang baik, selama ini dia selalu memperlakukan aku dengan baik juga" Hinata berusaha membela calon suaminya

"iya aku tahu kakak, tapi apakah kau sadar Naruto mulai mendekatimu setelah acara pertunangan Sakura dan Sasuke kan? Jangan-jangan dia hanya ingin mengobati luka hatinya saja, karena yang kudengar dari curhatan-curhatanmu selama ini, dia mencintai Sakura. Aku yakin sekali bahkan Naruto belum pernah menyatakan cinta padamu!" Hanabi tetap ngotot

Seketika Hinata terdiam dengan ucapan adiknya, memang benar Naruto tak pernah sekalipun berkata cinta kepadanya. Hell bahkan mereka tidak dalam keadaan hubungan yang sepesial seperti pacaran selama ini. Dia memang dekat selama dua bulan ini dengan pria itu, mereka sering jalan bareng dan Hinata sudah sering pergi bersama ibunya Naruto. Namun dia sudah mengenal Naruto lebih dari 4 tahun, dan cukup tahu sifat dan kelakuannya, secara Naruto adalah teman dekat Kiba dan Kiba adalah sahabat karibnya.

Dari obrolan Kibalah dia mengenal Naruto lebih dalam bahkan mengetahui kalau Naruto itu mencintai sahabatnya sendiri, namun cintanya bertepuk sebelah tangan karena gadis itu mencintai Sasuke yang tak lain sahabatnya juga. Hinata suka melihat Naruto yang selalu tersenyum kepada semua orang walaupun hatinya sedang tidak enak, atau ketika dia tetap membantu Sasuke jika pria itu sedang bermasalah meskipun sahabatnya itu telah merebut gadis pujaannya.

Hatinya begitu murni dan dia tidak menyesal telah mengagumi dan mencintai pria itu selama 4 tahun dia mengenalnya. Mungkin posisinya sekarang seperti bermain dengan api, sewaktu-waktu Hinata bisa terbakar karenanya, tapi dia rela mengambil resiko itu. Cintanya tulus, dan dia meyakini suatu saat Naruto pun akan mencintainya pula. Dia meyakini pepatah bahwa batu sekeras apapum jika ditempa air terus-terusan maka akan hancur. Apalagi hati manusia, jika Hinata terus melimpahi Naruto dengan cintanya, maka dia yakin suatu saat nanti hati pria itu akan luluh juga.

"kenapa kakak, apa kau sekarang merasa ragu setelah mendengar ucapanku? Semuanya belum terlambat kau masih bisa mundur" lanjut Hanabi melihat kakaknya yang diam saja.

"tidak Hanabi, aku sudah yakin dengan keputusanku, aku yakin suatu saat nanti Naruto akan balas mencintaiku" jawab Hinata yakin

"sampai saat itu terjadi hati kakak sudah hancur berkeping keping maksud kakak?" Hanabi bertanya sarkatis

"oh ayolah Hanabi apa kau tidak senang melihat kakakmu bahagia, ini adalah hal yang kakak inginkan, kau harus mendukungku OK" Hinata berusaha merayu adiknya

"Baiklah, tapi jika suatu saat nanti pria itu menyakitimu, kakak harus langsung mengatakannya padaku, lihat saja apakah dia masih bisa melihat matahari esok harinya.." Akhirnya Hanabi mengalah namun tentu saja dengan sedikit polesan kata-kata ancaman darinya. Lihat saja jika si Naruto itu menyaki Hinata maka dia akan merasakan hukuman dari juara taekwondo tingkat Nasional itu.

"sebenarnya siapa yang kakak dan siapa yang adik disini? Kenapa lama-lama sikapmu jadi seperti kak Neji sih Nabi hi hi.." Hinata terkikik mendengar ke psesivan adik kecilnya itu.

"karena aku menyayangimu kak, sama seperti kak Neji menyayangimu, kami tidak mau kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk terhadapmu. Aku serius kakak, apalagi kau akan tinggal jauh dari kami, ya..ya memang bukan di luar negri tapi tetap saja Tokyo itu cukup jauh dari sini, jadi aku tidak bisa memantaumu. Kakak yang harus mengatakannya jika ada masalah OK" Hanabi memberikan syarat

"ohh Nabi, aku juga menyayangimu, meskipun kita jauh aku masih bisa berkunjung ke sini, atau jika kau mau kau bisa berkunjung ke rumahku kelak, tentunya dengan persetujuan ayah dan kak Neji" Hinata memeluk adik kecilnya

"baiklah aku akan tagih janjimu itu, dan bersiap-siaplah jika suatu saa nanti aku berkunjung kerumahmu dan menganggumu" Hanabi yang tidak terlalu suka dengan hal-hal yang berbau afeksi seperti ini langsung melepaskan pelukan kakaknya

Tok..tok..tok

Terdengar suara pintu diketuk dan muncul seorang pria yang memiliki mata serupa dengan mereka

"ayo Hanabi cepat bawa Hinata acaranya akan segera di mulai, ayah dan yang lain sudah menunggu" ajak Neji memasuki kamar Hinata.

"baiklah, are you ready sista?" Hanabi bangkit sambil mengandeng tangan Hinata

"uhum.." angguk Hinata semangat kemudian berjalan di belakang Neji menuju ruangan lain tempat keluarga inti Hyuga berkumpul untuk segera menuju kuil yang berada di dalam kompleks kediaman Hyuga untuk melaksanakan pernikahan.

.

.

.

.

Prosesi pernikahan berjalan dengan khidmat dan tertutup, hanya keluarga inti Hyuga dan Namikaze yang menghadiri upacara pernikahan tersebut. Acara berjalan dengan khidmat dan tanpa hambatan sama sekali, meskipun persiapannya hanya dua minggu saja. Setelah lamaran keluarga Naruto untuk Hinata di terima malam itu mereka langsung merencanakan acara pernikahan sesuai dengan adat keluarga Hinata dua minggu kemudian, dan pihak keluarga Narutopun tidak keberatan dengan hal itu. Apalagi Naruto yang memang belum siap mempublikasikan pernikahannya karena dia masih harus mempersiapkan pengalihan jabatan perusahaan dari ayahnya untuk dirinya.

Setelah semua acara adat yang dibutuhkan telah selesai semua merasa lega. Ibu Naruto lah orang yang paling terlihat bahagia, dia tak henti-hentinya tersenyum melihat anak dan mantu barunya itu. padahal Kushina sempat menangis di pelukan suaminya saat menyaksikan proses pengucapan janji kedua mempelai. Sebagai seorang ibu bagaimanapun dia berharap bahwa anak dan menantunya bisa mendapatkan apa yang mereka cari dalam pernikahan ini.

Minato hanya tersenyum simpul melihat putra dan menantunya, dia berharrap semoga putranya bisa menemukan kebahagiaan dan cinta pada menantunya itu. Kebahagiaan dan cinta yang sama seperti yang dia miliki dari sang istri, Kushina.

Hanabi terus memandangi kakaknya yang terlihat bahagia, bagaimanapun sebagai seorang adik dia tetap khawatir kepada kakak tercintanya itu. Kakaknya merupakan sosok pengganti ibunya yang meninggal saat melahirkan dirinya. Hinata selalu ada di saat dia merindukan sang ibu, atau saat ayah mereka sedang sibuk dengan urusan bisnisnya. Mereka sudah saling melengkapi Hanabi yang mempunyai sifat tomboy dan pribadi yang keras merasa tenang jika berada dekat dengan Hinata yang feminim dan lembut. Dia hanya berharap semoga kakaknya selalu di lindungi dari kesedihan sebagai mana Hinata melindunginya dari rasa sepi kehilangan ibu mereka.

Neji hanya bisa berharap yang terbaik untuk adik tercintanya, dia tahu Hinata sangat mencintai Naruto, meskipun dia tidak pernah menunjukan kesukaannya. Terbukti dari perbedaan sikap yang dia tunjukan untuk pria itu. Entahlah apa yang akan Neji lakukan jika Naruto menghancurkan hati adiknya, mungkin dia akan melakukan hal yang sama seperti yang Hanabi dan Hinata tadi obrolkan di dalam kamar adiknya, menghajar Naruto sampai tidak bisa melihat matahari esok hari. Diam-diam tadi Neji mendengarkan obrolan kedua adiknya itu sebelum mengetuk pintu, diapun berfikiran hal yang sama seperti Hanabi. Apalagi Neji cukup mengenal Naruto karena mereka sempat satu organisasi di kampusnya sebelum Neji lulus lebih dulu. Neji sering mendengar bahwa Naruto mencintai seorang gadis berambut pink yang tak lain adalah sahabat karibnya sendiri. Namun cinta itu tak bersambut karena si gadis malah mencintai sahabatnya juga. Dan disinilah dia melihat adik kesayangannya memberikan cintanya bahkan siap mengorbankan hatinya untuk pria yang belum di ketahui mencintainya atau tidak. Haah dia memang agak sedikit kurang mengerti tentang cinta dan pengorbanan, yang pasti menurutnya cinta dan berkorban itu ada pada ranah yang berbeda.

Hiasi melihat kebahagiaan yang terpancar dari mata putrinya itu. Meskipun dia ayah yang sibuk dan kadang tak hadir di sisi mereka ketika mereka sedang membutuhkannya, namun pria paruh baya itu sangat mencintai putra-putrinya. Apalagi Hinata merupakan warisan dari mendiang istri yang di cintainya. Bukan hanya karena wajahnya yang memang sangat mirip namun sifatnya pun menurun dari Hitomi mendiang istrinya. Hinata bagaikan sosok penyeimbang dalam kehidupan keluarganya setelah kepergian sang istri. Hinata dewasa lebih awal untuk mengayomi adik yang kehilangan sosok ibu mereka. Dia hanya berharap putriny itu bisa menemukan kebahagiaannya.

Naruto hanya berharap langkah besar yang diambilnya ini akan membawa kebahagiaan dalam hidupnya. Bagaimanapun sebagai seorang manusia dia ingin hidup bahagia dengan orang yang dicintai dan mencintainya. Walaupun untuk saat ini rasa cinta itu belum ada dihatinya tapi dia berharap seiring berjalannya waktu rasa cintanya akan berubah haluan dan dia bisa menemukan sumber nafas yang baru pada diri Hinata, gadis yang telah menjadi istrinya sekarang.

Hinata merasa bahagia, terlihat dari senyum manis yang terkembang di wajahnya karena hari ini dia telah resmi menjadi istri dari pria yang dicintainya. Meskipun perjalanan cintanya baru akan di mulai dari sini dan pasti akan menemukan jalan yang sulit, dia akan tetap berusaha agar hati Naruto bisa tersinari cahaya cinta yang dimilikinya. Wanita yang telah berubah marga menjadi Namikaze itu memandang wajah suaminya dengan senyum dan harapan semoga pria itu dapat merasakan cinta yang sama pada dirinya. Serta mereka dapat merasakan kebahagiaan dalam pernikahan ini. Do'a dan harapan yang sama yang di inginkan oleh orang-orang yang menyangi mereka.