Happy Reading
BREATH
Disclaimer : Masasahi Kishimoto
Pair : (Naruto x Hinata) Itachi
Warning : AU, Typo (s) dan segala kekurangan lainnya
DON'T LIKE! DON'T READ!
Chapter 3
Naruto terpaksa menggunakan kunci cadangan yang di bawanya untuk membuka pintu masuk rumahnya. Biasanya sekali saja menekan bel pintu maka istrinya akan langsung datang dan membukakan pintu untuknya. Tapi kali ini cara itu tidak berhasil, sudah beberapa kali dia menekan bel pintu, tapi istrinya tak kunjung keluar. Apa itu salah dirinya yang pulang agak awal.
Karena penasaran akhirnya Naruto mencari-cari Hinata dulu ke sekitar rumah. Tempat yang pertama kali ditujunya adalah dapur. Mungkin saja kan istrinya itu sedang memasak dan tak mendengar bel pintu yang berbunyi.
Sesampainya di dapur dia tidak menemukan keberadaan istrinya itu, malah saat dirinya memeriksa meja makan di ruamg makanpun masih kosong, menandakan bahwa Hinata belum memasak hari ini. Kemudian dia membuka kamar mandi disana tidak ada juga. Dirinya coba memeriksa beberapa ruangan di lantai satu itu dan tak menemukan istrinya bahkan di tempat favorit istrinya di taman belakang yang di penuhi berbagai macam tanaman bunga kesayangan istrinya tersebut.
"lantai satu sudah di periksa, apa dia tidur? Sepertinya tidak mungkin Hinata paling anti tidur sore-sore begini, belanja tidak juga, karena baru kemarin dia minta izin ke super market untuk keperluan bulanan, kalaupun pergi ke luar rumah Hinata pasti menelponku dulu. Coba aku periksa dulu saja ke lantai atas" ucapnya sambil berjalan menaiki tangga lantai dua.
Ruangan pertama yang di datanginya adalah kamar tidur mereka, tapi tetap saja Naruto tak menemukan istrinya tersebut. Di ruangan kerjanyapun tidak ada. Naruto mulai frustasi, jangan-jangan istrinya diculik. Sekarang kan sedang marak penculikan anak kecil. Naruto langsung menyingkirkan fikirannya
"Naruto bodoh, Hinata kan bukan anak kecil, jadi di mana dia? Lelah sekali mencarinya, padahal sudah hampir semua ruangan di lihat tapi belum ketemu juga. Yosh tinggal satu ruangan terakhir, mungkin saja Hinata ada di ruangan baca." gumamnya langsung menuju ruangan di ujung timur lantai atas rumahnya. Ruangan lain yang di favoritkan istrinya tersebut karena viewnya yang menghadap ke arah matahari terbit dan taman belakang kesayangannya.
Saat memasuki ruangan baca, mata Naruto tertuju pada siluet isrinya yang tertidur di atas karpet tebal di ruangan itu. Di sekitarnya targeletak beberapa album foto yang salah satunya terbuka.
"sepertnya kelelahan, harusnya dia memanggil pelayan dari rumah utama saja untuk membantu membereskan ruangan ini, jadi tak harus lelah sampai tertidur." Naruto menggelengkan kepalanya dan langsung menghampiri istrinya. Dia sedikit melihat ke arah album foto yang terbuka, ternyata foto pernikahan mereka.
Ah Naruto jadi ingat masa dirinya menikahi sang istri, seorang gadis yang baru dikenal dekat olehnya selama dua bulan sebelum mereka menikah. Dia bukannya sama sekali tidak mengenal Hinata, hanya saja sebelumnya dia mengenal Hinata hanya sebatas seorang gadis sahabat karib temannya Kiba. Dia juga sering melihat gadis itu di kafetaria kampus bersama Kiba dan Shino si penyuka serangga. Gadis itu memang cantik dengan dandanannya yang feminim dan jangan lupakan gaya khas seorang lady Hyuga yang terkenal dengan keanggunan dan tatakrama yang melekat erat dengan gadis itu. Bibirnya yang senantiasa tersenyum manis membuat para pria jatuh hati.
Naruto kenal beberapa orang yang terlihat gencar mendekatinya. Sebutkan saja teman sekelasnya Gaara, keturunan subaku yang terkenal dengan perusahaan otomotifnya. Toneri Otsutsuki si pria berambut putih, menurut kabar yang pernah Naruto dengar, Otsutsuki merupakan klan tertua di Jepang yang sangat berpengaruh. Oh jangan lupakan kakak tingkatnya yang juga kakak dari si Teme sahabat karibnya, Itachi sang prodigi Uchiha. Mereka adalah para penakluk wanita yang menaruh hati pada si gadis Hyuga. Namun tak satupun dari para casanova itu yang berhasil menaklukan hati sang gadis. Selain karena Hinata kebal terhadap cowok spesies ganteng dan keren seperti mereka, sang kakak Neji Hyuga yang merupakan Ketua Organisasi kendo di kampus juga ikut berperan aktif terhadap ketidak berhasilan mereka.
Jangan harap para pria itu bisa bebas mendekati sang gadis, kecuali mereka ingin mengalami hal buruk yang akan menimpa diri mereka selanjutnya. Maka tak heran gadis itu tidak pernah terlihat dekat dengan seorang pria, kecuali 2 sahabat karibnya si penyuka anjing dan si penyuka serangga. Oh tentunya dia beberapa kali terlihat bersama Itachi, sepertinya prodigi Uchiha itu memanfaatkan keakrabaan keluarga mereka untuk mendekati sang gadis walaupun dari yang dia dengar Hinata hanya menganggap Itachi seperti kakaknya sendiri.
Naruto seharusnya merasa beruntung saat dia mengetahui bahwa sang aprodhite malah menyukai dirinya dibandingkan 3 pria populer itu. Bukan berarti Naruto kalah menarik dari mereka, lihatlah postur tubuhnya yang tegap, rambut kuning khas blasterannya dan jangan lupakan sepasang bola mata biru shapire yang indah, merupakan beberapa faktor yang membuat para gadis tergila-gila padanya apalagi dengan bonus kekayaannya yang melimpah. Hanya saja selama ini Naruto tak pernah berusaha mendekati Hinata karena dia malah tergila-gila dengan si gadis berambut pink jadi pria berambut kuning itu tak pernah menggubris hal itu.
Sampai ketika harapannya kepada sang gadis pujaan sudah tak ada, dia mengikuti saran dari Kiba untuk mendekati Hinata. Jangan salahkan dirinya sehingga dia mencoba mencari pengobat hatinya yang rapuh saat itu. Dia hanya manusia biasa yang ingin juga merasakan kebahagiaan, dan saat beberapa kali bersama dengan Hinata, dia merasa nyaman dan lupa akan sakit hatinya walaupun dia masih ragu jika harus dikatakan telah jatuh cinta kepada sang gadis berambut indigo. Dirinya masih bimbang dengan perasaannya sendiri, bagaimanapun cinta pertama sulit untuk di lupakan. Jadi dia tidak yakin apakah hatinya sudah berpindah haluan atau belum.
Memutuskan keluar dari lamunannya Naruto segera menggendong Hinata ala brydal style menuju kamar mereka. Sesampainya di kamar dia segera meletakan Hinata di atas kasur king size dengan hati-hati takut istrinya itu terbangun.
"maafkan aku yang sering meninggalkan dirmu sendirian, dan..dan maafkan aku juga yang belum bisa membalas cintamu Hinata. Aku harap kau mau bersabar menunggu hatiku yakin dengan perasaanku sendiri" gumannya sambil mengelus pipi lembut istrinya kemudian mencium lembut bibir mungil tersebut. Setelah menyelimuti Hinata, Naruto memutuskan untuk mandi agar badannya terasa segar.
"sampai kapan aku harus bersabar Naruto?..." lirih Hinata pelan saat Naruto sudah berada di kamar mandi. Ternyata ketika Naruto meletakannya di atas tempat tidur, Hinata sudah terbangun dan mendengar ucapan suaminya barusan. "haah... fikir apa aku ini, ayo Hinata semangat jangan menyerah" lanjutnya menyemangati diri sendiri.
Hinata memutuskan untuk duduk di atas tempat tidur menunggu Naruto keluar dari kamar mandi. Melirik kearah jam di dinding kamarnya ternyata sudah menunjukan pukul setengah tujuh malam, berarti dia ketiduran cukup lama. Padahal jarang sekali Hinata bisa tertidur di sore hari. Entahlah akhir-akhir ini dia sering sekali merasa mudah lelah. Dia jadi malas memasak hari ini. Badannya agak pegal-pegal pula.
"ceklek.." suara pintu kamar mandi terbuka kemudian terlihat Naruto yang hanya mengenakan celana santai keluar dengan handuk yang menyampir di bahunya dan rambut yang masih meneteskan air.
"hei tuan putri, sudah bangun rupanya?" tanya Naruto ketika melihat Hinata sedang duduk di atas tempat tidur.
Naruto memilih duduk di lantai bersandar kekaki jenjang istrinya mengisyaratkan Hinata untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Mengerti dengan isyarat suaminya, Hinata segera mengambil handuk di sampiran bahu Naruto dan mulai mengusap-usap rambut Naruto dengan handuk tersebut.
"ah.. Naruto maafkan aku ketiduran jadi tidak sempat memasak." Ujarnya sambil tangannya tetap bekerja.
"tidak apa-apa sayang... kita kan bisa pesan makanan dari luar, kau mau makan apa hari ini? Biar aku memesan ke Restauran. Atau mau makan di luar saja?"..tanya Naruto memaklumi Hinata yang sepertinya kelelahan
"mm..sebenarnya aku ingin makan ramen, tapi harus buatan Naruto.." jawabnya malu-malu.
"ramen? Tumben sekali tapi yosh tidak apa-apa aku akan membuatkan ramen yang sepesial untukmu, kau tunggu disini OK" jawabnya dengan semangat
"tidak mau.. aku mau ikut tapi digendong" Hinata sedikt merajuk
Rasa-rasanya tingkah Hinata semakin aneh-aneh saja. Pertama tidur di sore hari yang jarang sekali di lakukan istrinya itu. Malah selama pernikahan Mereka Naruto tak pernah melihat istrinya tidur di sore hari. Kedua ingin makan ramen, padahal biasanya dia yang sampai selalu merajuk-rajuk agar di izinkan untuk menikmati makanan favoritnya itu, menurut Hinata ramen itu tidak sehat ditambah ingin dibuatkan oleh Naruto, hei jangan lupa Hinata itu wanita yang mandiri jadi jika dia meminta sesuatu seperti itu bukankah itu tidak lazim. Apalagi Hinata ingin di gendong, hell sejak kapan istrinya jadi semanja itu? Apa mungkin efek kesepian bisa merubah sifat seseorang?. Ah pusing dengan pradug-praduganya sendiri Naruto memutuskan menuruti keinginan sang istri. Lagipula selama ini Hinata sudah melayani dirinya dengan baik, jadi tidak salahnya sekali-kali dia memanjakan istrinya itu.
"ayo.. naik keatas punggungku!" printahnya sambil menarik tangan Hinata dan melingkarkannya di leher. "ya ampun Nata kau semakin berat saja, apa aku sanggup memabawamu sampai ke dapur tanpa pingsan" candanya sambil berjalan keluar kamar dengan Hinata bertengger di atas punggungnya. Merasa tersinggung tangan Hinata memukul bahu suaminya itu dengan pipi yang sudah memerah.
"ha..ha..ha aku bercanda Nata. Lagian bukankah bagus kalau tubuhmu semakin gemuk jadi terlihat lebih seksi" lanjutnya
"Naruto mesum. jangan menggodaku, aku kan malu. Lagian aku tak punya kegiatan, jadi yang bisa aku lakukan ya hanya penggemukan badan..he..he" jawabnya dengan tangan tetap melingkar di leher suaminya.
Hati Naruto menghangat mendengar tawa lembut istrinya. Meskipun cintanya belum bisa ia berikan untuk wanita itu, bukan berarti Naruto tak peduli dengan kebahagiaannya. Dia berusaha memberikan kebahagiaan pada Hinata semampu yang bisa di lakukannya. Apalagi ibunya bisa marah jika melihat menantu kesayangannya bersedih akibat ulahnya, dan kemarahan ibunya yang terkenal dengan red hot-bloded Habanero adalah hal terakhir yang Naruto harapkan.
"baiklah tuan putri duduk dulu disini, sang koki akan memasak ramen sepesial khusus untuk yang mulia" godanya setelah menurunkan Hinata dan menarik salah satu kursi di meja makan. Hinata hanya tersipu malu dan mengangguk.
5 menit kemudian semangkuk ramen yang masih mengeluarkan uap panas telah tersedia di depan matanya. Dengan tak sabaran Hinata segera menikmai ramen tersebut. Hmm ramen buatan Naruto enak juga, Hinata tidak tahu jika Naruto bisa membuat ramen seenak ini.
"pelan-pelan Nata makannya, tenang saja ramennya tidak akan aku ambil" ucap Naruto yang keheranan melihat kecepatan makan sang istri. Sementara Hinata hanya tersenyum malu menanggapinya dan melanjutkan kembali kegiatan makan yang tadi terganggu.
"mmm Naruto aku tidak tahu kalau kau pandai memasak. Ini enak" Ujar Hinata sambil melirik sang suami yang masih terfokus menghabiskan ramen miliknya.
"Oh.. jangan salah, untuk urusan ramen aku memang ahlinya" dia terheran ketika melihat mangkuk Hinata sudah bersih "Wah jadi benar enak ya ramen buatanku sampai-sampai kuahnyapun kau habiskan" goda Naruto lagi.
"itu..." Hinata merasa malu karena nafsu makan yang di luar kebiasaannya itu, sampai mukanya sudah berubah seperi kepiting rebus.
"tak usah malu Nata, aku senang kau menyukai ramen buatanku. Kau harus sering-sering memintanya kepadaku. Aku dengan senang hati akan membuatkanmu lagi lain kali OK" tawar Naruto
"hm" Hinata mengangguk
"yosh aku sudah selesai, kenyangnya. Kali ini biarkan aku yang membersihkan bekas makan kita malam ini. Kau duduklah saja di situ Hinata".
"tidak Naruto, biar aku yang membersihkan semuanya, Naruto kan sudah memasakan ramen untukku. Jadi sekarang giliran aku yang membersihkan bekasnya" Hinata bangun dan mulai membereskan mangkuk bekas makan mereka.
"baiklah nyonya Namikaze, tapi yang cepat ya. Aku tak sabar menikmati hidangan penutup dari istriku yang seksi" goda naruto sambil menjilat bibirnya
Hinata hampir menjatuhkan mangkuk yang sedang di pegangnya "Naruto mesum, jangan berbicara seperti itu. Memalukan sekali" wajahnya sudah merah sempurna
"oh ayolah Hinata kita ini suami istri, kau ini.. seperti kita tidak sering melakukannya saja" goda Naruto. senang sekali rasanya dia bisa menggoda Hinata
"tapi itu memang memalukan untuk di bahas Naru.. " wajah Hinata semakin memerah
"kau manis sekali jika seperti itu, aku jadi tidak sabar lagi. Aku berubah fikiran, lebih baik mejanya dibereskan besok saja ayo kita lakukan sekarang saja" ucap Naruto yang langsung membopong istrinya menuju kamar tidur mereka. Sepertinya Hinata tidak akan bisa tidur malam ini.
.
.
.
.
Hinata terbangun dalam keadaan kamar yang gelap. Tangan suaminya melingkar erat di perut rampingnya. Muka Hinata memerah mengingat kegiatan yang mereka lakukan semalam. Memang mereka sudah sering melakukan hal seperti itu semenjak menikah 2 bulan lalu, namun baginya setiap kali selalu terasa sebagai pengalaman pertama. Hinata tahu Naruto mungkin belum bisa mencintainya, namun pria itu selalu memperlakukannya dengan lembut dan penuh perasaan.
Setelah berhasil menguraikan pelukan suaminya dengan pelan-pelan agar tidak terbangun, Hinata bergegas menuju wastafel karena perutnya tiba-tiba terasa mual.
Naruto samar-samar mendengar suara orang muntah-muntah. Dia meraba sisi lain ranjang yang ditidurinya dan tak menemukan sang istri di sana. Dengan segera Naruto membuka mata dan mengedarkan pandangan mencari-cari keberadaan Hinata. Pandangannya jatuh ke sosok istrinya yang sedang membungkuk di atas wastafel dan muntah-muntah. Tanpa pikir panjang pria bertubuh tegap itu segera bangkit menghampiri sang istri.
"kamu kenapa Nata?" tanya Naruto penasaran sambil membantu memegangi rambut Hinata dan mengusap-usap tengkuknya.
Hinata hanya mampu menggeleng lemah dan mencuci mulutnya. Naruto segera membimbing istrinya menuju tempat tidur dan mendudukannya.
"kamu kenapa Nata? Jangan-jangan kau keracunan ramen yang aku bikin semalam ya!" Naruto bertanya khawatir
"aku baik-baik saja, Tidak usah khawatir Naru.. hanya sedikit mual, sepertinya masuk angin. Tidak mungkin keracunan makanan." ucap Hinata saat melihat wajah kekhawairan sang suami.
"bagaimana kau tahu? Kau kan bukan dokter" Naruto berucap lembut
"logikanya jika aku keracunan makanan, maka kau juga akan mengalami hal sama. Ingat semalam kita makan ramen yang sama kan?" Hinata mencoba menjelaskan pada suaminya yang agak bodoh itu.
"oh iya.. hehe. Jadi cuman masuk angin ya. Apa kau perlu sesuatu Nata? Air hangat mungkin?" tawar Naruto
"hmm sepertinya segelas air hangat sediki membantu" jawab Hinata
"baiklah aku akan mengambil air hangat dulu, tunggulah disini OK." Ujarnya sambil berlalu.
5 menit kemudian Naruto masuk kembali kekamar dengan membawa segelas air hangat dan memberikannya kepada Hinata.
"apa kau mau kuantar ke dokter Nata?" tanya Naruto sambil meletakan gelas bekas Hinata di nakas samping tempat tidur.
"tidak usah Naru, sepetinya di istirahatkan sebentar juga sembuh. Sebaiknya kau segera siap-siap untuk berangkat kantor" tolak Hinata
"kau yakin?" tanyanya meyakinkan bahwa Hinata benar-benar tidak membutuhkannya
"hm" Hinata mengangguk
"baiklah kalau begitu aku akan mandi terlebih dahulu". jawabnya
Baru juga Naruto melangkah menuju kamar mandi tiba-tiba ponselnya berdering. Naruto segera mengambil ponselnya dan melihat id si pemanggil
ibu
Naruto sedikit melirik ke arah Hinata kemudian menjawab panggilan itu
"Iya hallo Ibu ada apa?" jawabnya agak ragu.
Hinata yang baru saja akan terpejam kembali membuka matanya. Ibu! Ada apa mertuanya itu menelpon pagi-pagi begini
"a-apa?... Ibu jangan bercanda...Ya sudah aku akan segera berangkat ke Konoha sekarang. Aku secepatnya berada disana"
"ada apa Naruto, apa terjadi sesuatu dengan ibu?" Hinata bertanya setelah Naruto terlihat menutup sambungan telponnya.
"Sasuke... sasuke mengalami kecelakaan di Jalan Bebas Hambatan Konoha dan.. dan langsung meninggal di tempat.." Naruto menjawab bingung sementara Hinata menutup mulut tak percaya.
