Happy Reading
BREATH
Disclaimer : Masasahi Kishimoto
Pair : (Naruto x Hinata) Itachi
Warning : AU, Typo (s) dan segala kekurangan lainnya
DON'T LIKE! DON'T READ!
Chapter 4
Hinata segera bangkit dari tempat tidurnya, dan sedikit melirik jam di dinding sebelah kanan. "ahh..ternyata masih pagi" ujarnya setelah melihat jam, ternyata menunjukan pukul enam pagi. Naruto lagi-lagi belum pulang ke rumah. Setelah kabar kematian sasuke diterimanya waktu itu, Naruto langsung terbang ke Konoha. Hinata tidak ikut karena sedang tidak enak badan.
Tiga hari kemudian suaminya kembali kerumah mereka itupun menejelang malam. Hinata merasakan perubahan pada diri suaminya sepulang dari konoha. Ketika di tanya Naruto hanya menjawab sedang kelelahan. Hinata merasa ada yang disembunyikan suaminya itu, tapi dia juga tidak mau berburuk sangka. Bahkan ketika mereka tidur dan Naruto tidur dengan posisi membelakanginya, Hinata mencoba memaklumi. Mungkin saja Naruto memang sedang kelelahan.
Pada pagi harinya Naruto langsung pergi lagi setelah mendapat telpon dadakan yang entah dari siapa dengan membawa beberapa stel pakaian ganti. Katanya ada proyek kantor yang harus segera ditangani. Dan sampai hari ini dia belum kembali padahal ini sudah hari ketiga. Naruto hanya beberapa kali memberi kabar kalau dirinya belum bisa pulang.
Tiba-tiba perut Hinata mulai terasa mual lagi, dia segera berlari ke wastafel dan mulai muntah-muntah. Akhir-akhir ini dia sering mudah lelah dan perutnya terasa mual, apalagi jika pagi hari dan mencium bau masakan tertentu. Nafsu makannyapun jadi berkurang dan malah addict terhadap makan kesukaan suaminya, ramen.
Merasa kepalanya sedikit pusing, dia kembali ketempat tidur dan mendudukan dirinya disana. Matanya jatuh ke tanggal yang dilingkari merah pada kalender di meja nakas samping tempat tidurnya. Itu adalah hari haid terakhirnya di bulan lalu. Menurut tanggal yang tertera pada kalender tersebut, seharusnya 5 hari yang lalu dia sudah harus menstruasi. Selama hidupnya dia tak pernah terlambat jadwal bulanannya itu melebihi 2 hari.
Merasa ada yang tak wajar Hinata mencoba mencocokan setiap puzle perubahan pada dirinya akhir-akhir ini. Di mulai dari muntah-muntah di pagi hari, mual jika mencium bau masakan yang mengandung bumbu tertentu, mudah lelah, ohh jangan lupakan kesukaannya terhadap ramen yang tidak biasa itu.
Bukan berarti Hinata sombong, hanya saja menurutnya makan ramen itu tidak menyehatkan sama sekali. Suaminya saja yang doyan dengan ramen hanya dia perbolehkan makan makanan kesukaannya maksimal 2 kali dalam seminggu. Maka akan tidak wajar jika dalam beberapa hari ini dia bisa memakan ramen 2 kali dalam sehari. Bahkan kemarin saat berbelanja ke super market langganannya dia membeli banyak persediaan ramen.
Setelah mencocokan semua tanda-tanda yang terjadi, Hinata berkesimpulan bahwa sepertinya dia sedang mengalami masa awal kehamilan. Hei meskipun dia bukan seorang paramedis, Hinata bukan lah wanita bodoh. Apalagi coba kemungkinannya, perpaduan antara terlambat datang bulan, morning sicknes dan addict terhadap makanan yang awalnya tidak terlalu dia suka kalau bukan dia sedang hamil?.
Untuk meyakinkan dirinya sendiri Hinata mengambil alat tes kehamilan yang memang telah ibu mertuanya sediakan untuk jaga-jaga. Setelah membaca sebentar petunjuk pemakaiannya, Hinata langsung mengaplikasikan apa yang telah dibacanya tadi. Menurut petunjuk, tes kehamilan harus di lakukan saat pagi hari, dan bukankah jam 6 itu masih cukup pagi?. Tanpa membuang waktu dia segera masuk kekamar mandi untuk melaksanakannya.
Bibir mungil itu terus komat-kamit mengusir kegugupan yang tiba-tiba meyerangnya, sambil tangannya tetap memegang alat tes kehamilan itu dengan mata tertutup. Setelah satu menit yang bagi Hinata bagaikan waktu seumur hidup, dia membuka matanya dan melihat test pack ditangannya dengan hati berdebar, tanpa sadar setetes air mata keluar dari matanya melihat dua garis merah yang tertera di alat itu.
"aku hamil" gumamnya terharu dengan hasil penglihatannya
"Ya Tuhan aku hamil, aku hamil anak ku dan Naruto. Ya Tuhan terimakasih ...terimakasih ...terimakasih. aku harus segera menghubungi ibu.. tapi tunggu dulu apakah tes ini akurat? Sebaiknya aku langsung konsultasi ke dokter kandungan saja dulu baru setelah itu aku akan memberi kabar pada ibu dan Naruto, biar lebih meyakinkan. Kalau tidak salah Karin kemarin bilang dia berprofesi sebagai dokter kandungan. Aku harus menghubunginya!" gumam Hinata menimbang-nimbang.
Hinata bergegas menghubungi Karin untuk membuat janji. Karin adalah teman akrabnya semasa SMA. Meskipun setelah lulus, mereka tidak pernah bertemu lagi karena Karin melanjutkan kuliahnya di Universitas Tokyo sedangkan Hinata memilih Universias Konoha. Tanpa disangka kemarin saat Hinata sedang berbelanja di mini market langgannya dia bertemu kembali dengan Karin setelah 4 tahun. Setelah berpelukan mereka berbincang sebentar kemudian saling bertukar alamat e-mail. Dari perbincangan singkatnya itulah Hinata tahu kalau sekarang Karin berprofesi sebagai dokter kandungan di Rumah Sakit Kota Tokyo.
" hai Karin apa aku mengganggumu?"
"tidak Hinata ada apa?"
"ohh.. aku ingin memeriksakan diriku"
"memang kau kenapa Hinata, apakah Kau sakit? Aku ini dokter kandungan bukan dokter umum Hina, tapi kalo penyakit tidak terlalu berat mungkin aku bisa membantu" cerocos Karin tanpa memberikan kesempatan Hinata untuk bicara
"ahh.. aku bukan sakit itu Karin, aku mau memeriksa kehamilan padamu, tadi pagi aku sudah menggunakan test kehamilan dan hasilnya positif.. "
"asataga Hinata siapa yang menghamilimu?.." Karin langsung memotong pembicaraan Hinata. Wajar saja karena Karin tidak tahu kalau Hinata itu sudah menikah namun Karin meyakini temannya itu bukanlah wanita nakal. Apalagi marga hyuga sangat kolot, hell bahkan karin belum pernah mendengar Hinata berpacaran semasa SMA mereka. Mendengar Hinata menyukai seseorangpun dia tak pernah, walaupun banyak teman lelaki mereka yang menyukai wanita itu.
Hah perempuan berambut merah itu jadi penasaran, jiwa gosipnya berteriak meminta penjelasan. Apa yang telah terjadi dengan temannya yang pemalu itu. Karin sudah kehilangan kabarnya semenjak mereka berpisah saat kelulusan SMA. Dia harus meneror sahabatnya itu untuk bercerita. Kemarin saat bertemu dengannya mereka tidak sempat mengobrol banyak karena terburu-buru.
"baikalah Hinata kalau begitu kau datanglah nanti sore ke Klinikku. Aku akan mengirimkan alamatnya ke e-mailmu. Sekalian nanti kau juga harus bercerita tentang dirimu. Kemarin kau sih terburu-buru pulang jadi kita tidak sempat mengobrol. Datanglah ke tempatku jam 3 sore OK".
"OK.. kalau begitu Karin cerewet..hi..hi"
"jangan lupa bawa hasil test kehamilannya nanti, Hina-bunny ha..ha"
"berhenti memanggilku seperti it.." "tut..tut" belum selesai Hinata memprotes dengan panggilan yang biasa dilontarkan oleh sahabatnya itu, Karin sudah memutuskan hubungan telponnya.
.
.
.
.
Hinata terbangun dari tidur siangnya ketika mendengar ponselnya berbunyi, tanpa melilhat id si pemanggil dia langsung menjawab telpon tersebut.
"Hallo.. Hinata, kau kemana saja? ibu sudah menghubungimu beberapa kali tapi tidak diangkat, apa kau baik-baik saja sayang, kenapa pula nomor Naruto tidak aktif saat ibu hubungi, apa dia bersamamu sekarang?"
Tanpa langsung menjawab, Hinata melihat id si pemanggil. Oh ternyata itu ibu mertuanya Kushina Namikaze.
"maaf bu.. tadi aku ketiduran setelah membereskan rumah jadi tidak mendengar suara ponselku bunyi, aku baik-baik saja bu. Naruto belum pulang kerumah, 3 hari yang lalu sepulang dari Konoha dia pergi lagi setelah menerima telfon katanya ada urusan mendadak di kantor dan kemungkinan tidak bisa pulang dalam beberapa hari. Tadi malam dia sempat menghubungiku dan katanya urusannya belum beres jadi belum bisa pulang" jawabnya dengan suara agak parau
"apa! Ya tuhan anak itu. Apa kau yakin dirimu baik-baik saja sayang? Ibu khawatir, suaramu parau sekali"
"aku hanya sedikit pusing kepala saja kok bu dan mungkin baru bangun tidur jadi suaraku agak parau" ujarnya berbohong berniat ingin memberikan kejutan untuk ibu mertuanya jika nanti dia benar-benar positif hamil setelah di periksa Karin.
"sebaiknya kau segera periksa kedokter, atau perlu ibu antar? Ibu akan bersiap siap dulu, kemudian menjemputmu bagaimana? " tanyanya khawair
"aku memang sudah membuat janji bertemu dokter. Ibu tidak usah datang kesini..aku sudah memesan taksi dan nanti taksinya akan datang sebentar lagi. Lagian ibu pasti baru sampai dari Konoha kan? lebih baik ibu istirahat." tolaknya halus sambil melihat jam di tangannya yang telah menunjukan waktu setengan tiga sore mendekati jadwal janjinya tadi dengan karin
"baiklah kalau begitu, tapi jaga diri baik-baik OK.. kalau ada apa-apa segera hubungi ibu atau suamimu ya sayang." nasehat Kushina lembut
"iya bu, aku siap-siap sekarang ya. Sebentar lagi taksinya datang. Sampai jumpa". Setelah itu dia mematikan sambungan telponnya dan segera bergegas menuju kamar mandi untuk bersiap-siap.
.
.
.
.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit akhirnya Hinata sampai di klinik kandungan tempat praktek sahabatnya. Ya.. karin membuka tempat praktek di luar jam kerjanya di rumah Sakit tokyo. Entahlah apa tujuannya mungkin untuk mengumpulkan pundi-pundi uang agar lebih banyak. Hinata menunggu sebentar di luar ruangan kerja karin, karena menurut suster penunggu pendaftaran, masih ada pasien di dalam ruangan Karin.
Kurang lebih 10 menit kemudian dia mendengar suara pintu di buka dan sepasang suami istri yang keluar ruangan dengan senyum kebahagiaan yang tersirat di wajah mereka. Mungkin karena kabar yang mereka terima setelah konsultasi dengan Karin. Haah.. dia jadi ingin juga rasanya di antar oleh Naruto untuk memastikan kehamilannya ini. Tapi dia tidak boleh egois mungkin saja Naruto benar-benar sibuk karena sampai tadi pun sebelum dia berangkat menuju tempat ini, Hinata berusaha menghubungi Naruto nomornya belum aktif. Rencananya dia akan membuat makan malam romantis sekaligus memberi kabar kehamilannya, tapi saat akan menghubungi nomor ponselnya ternyata ponselnya masih tidak aktif jadi akhirnya dia hanya mengirimkan sebuah pesan singkat unutuk suaminya itu, meminta dia pulang malam ini.
"selamat sore ibu dokter apakah saya sudah di perbolehkan masuk?" tanya Hinata basa-basi kepada Karin yang sedang sibuk entahlah melihat catatan apa di atas mejanya.
"hei..Hina-bunny, kau sudah datang ayo duduk." Jawabnya cepat saat mendongakan kepalanya dan melihat bahwa Hinata sudah ada diambang pintu.
"apa kau menunggu lama Hinata?" tanya Karin setelah Hinata duduk di kursi pasien di depan Karin
"ahh baru sekitar 10 menit kok Karin"
"Lalu bagaimana, mau langsung ke pemeriksaan atau kita mengobrol sebentar hm?"
"pemeriksaan dulu saja Karin aku sudah tidak sabar memastikannya."
"baiklah, sebelumnya apa kau sendirian datang kesini Hinata?"
"hum.. aku tadi kesini sendirian naik taksi soalnya suamiku sedang sibuk di kantornya, jadi dia tidak bisa mengantarku check up"
"ohh.. kalau begitu, mana test pack yang sudah kau coba tadi, apa kau membawanya?" Karin mengulurkan tangannya
" iya..ini alatnya" Hinata memeriksa tasnya kemudian mengeluarkan alat persegi dan memberikannya pada Karin
Setelah menerima alat test kehamilan dari Hinata dan memeriksanya sebentar Karin menyuruh Hinata berabring di meja pemeriksaan di sampingnya untuk melakukan USG.
"Hinata coba kau lihat layar di depan itu" perintah karin setelah selesai melakukan persiapan. Dia memgang alat berbentuk persegi. Ujung alat tersebut berputar-putar do perut Hinata yang sebelumnya sudah diolesi dengan gel.
"hmm..aku tidak melihat apa-apa Karin, gambarnya kurang jelas" Hinata mendongak ke arah layar yang terpampang di depannya
"iya karena ini hanya USG 2 dimensi, jadi gambarnya kurang jelas. Lihatlah di kantung rahimmu itu memang sudah ada janinnya meskipun masih sangat kecil, ukurannya hanya 0,1 – 0,2 mm, tapi aku pastikan kau positiv hamil dan jika di lihat dari ukurannya kemungkinan usia kandunganmu sudah memasuki minggu keempat sekarang" Karin menjelaskan
Hinata tak sanggup berbicara apa-apa matanya mulai berkaca-kaca melihat layar di depannya menampakan calon anaknya yang masih sangat kecil dan rapuh. Karin segera membereskan peralatannya dan menyuruh Hinata duduk kembali di tempat duduk pasien di depan mejanya
"baiklah Hinata, sebelumnya aku ucapkan selamat kau akan menjadi seorang ibu, apa kau senang?" Tanya Karin
"..."
Karin sedikit mendongakan wajahnya yang tadi terfokus menuliskan resep untuk diambil Hinata.
"hei..kenapa kau menangis Hinata? Apa kau tidak senang sebentar lagi akan menjadi seorang ibu hmm?" dia bertanya kembali saat melihat wanita di depannya sudah berkaca-kaca
"bu-bukan itu Karin, aku hanya terharu, sebentar lagi.. sebentar lagi aku akan menjadi seorang ibu. Ada buah hatiku yang sekarang bergelung nyaman. Aku bahagia sampai tidak bisa mengungkapkannya" Hinata mulai mengeluarkan air mata.
"hei..sudah hapus air matamu" karin menyodorkan sekotak tisu dan Hinata mengambil satu lembar dari dalamnya. "baiklah Hinata, apa ada yang kau rasakan akhir-akhir ini?" Karin kebali ke mode dokternya
"ya.. aku sering mual dan muntah di pagi hari dan mudah lelah ohh dan selera makanku berubah total, selain itu semuanya normal" jawab Hinata menyebutkan beberapa perubahan pada tubuhnya
"oh itu wajar, setiap ibu hamil pasti mengalaminya" ucapnya sambil menuliskan sesuatu di kertas, sepertinya resep obat. Karin berdiri dan masuk ke ruangan yang tertutup pintu dan tak lama kemudian dia keluar lagi. "baiklah Hinata selama menunggu obatmu datang bagaimana kalau kau ceritakan sedikit tentang dirimu yang belum aku ketahui, jadi..kau benar sudah menikah?" tanya karin setelah duduk kembali di kursinya
"ya dua bulan lalu tepatnya" jawab Hinata malu-malu
"kenapa kau mendahuluiku, aku kan lebih tua darimu. Ya memang sih kita satu angkatan tapi jika ditilik menurut umur aku lebih tua satu tahun darimu. Jadi siapa pria beruntung yang bisa menaklukan hati sang tuan putri?"
"dia teman sekampusku kami hanya dekat selama dua bulan dan acara pernikahan kami pun tertutup hanya keluarga inti saja yang hadir. Rencananya kami mau membuat resepsi setelah urusan suamiku beres Karin"
"ohh.." karin hanya mengangguk " jadi siapa pria beruntung yang mendapatkanmu hm" goda Karin sambil mengerlingkan matanya.
'dia pengusaha yang cukup dikenal di Tokyo, namanya Na.."
"ceklek' suara pintu dibuka memotong ucapan Hinata. "maaf dokter Karin, pasien terakhir sudah datang, apa saya suruh menunggu dulu?" seorang suster bertanya dari ambang pintu
"oh baiklah suruh dia masuk 1 menit lagi OK" jawab Karin "baiklah Hinata apakah kau mau menungguku memeriksa pasien terakhir hari ini?. Setelah itu kita bisa minum dan melanjutkan obrolan tadi." Saran Karin
"aku akan menunggumu saja lagian aku tidak punya kerjaan selain menunggu suamiku yang sudah 3 hari ini belum pulang he he." Hinata tertawa
"begitulah nasib istri seorang pengusaha, selalu di tinggal." Ujar Karin
"hmm" jawab Hinata mengangguk
"ayo ikut aku" Karin berdiri kemudian berjalan kesamping Kanan ruangan dan membuka tirai biru muda yang memisahkan ruangannya dengan satu single bed yang ada di sana. "kau bisa beristirahat dulu di sini. Tenang ini steril Hina, ini tempat ku biasa beristirahat jika sedang lumayan kelelahan." Lanjutnya
"baiklah terimakasih Karin " balasnya sambil duduk diatas tempat tidur. Sepeninggalnya karin Hinata membaringkan tubuhnya
"mungkin berbaring sebentar selama menunggu tak ada salahnya" gumamnya.
Terdengar suara kursi di tarik disusul suara pintu terbuka. Baru saja Hinata akan memejamkan mata dia mendengar nama seseorang disebutkan Karin.
"sakura Haruno!"
Sakura, untuk apa dia ada di Tokyo bukankah seharusnya dia ada di Konoha.
Hinata di buat lebih terkejut lagi ketika Karin menyebutkan nama orang kedua setelah Sakura
"dan Naruto?"
Na-naruto?
