Happy Reading
BREATH
Disclaimer : Masasahi Kishimoto
Pair : (Naruto x Hinata) Itachi, Sakura
Warning : AU, Typo (s) dan segala kekurangan lainnya
DON'T LIKE! DON'T READ!
Chapter 5
Na-naruto...
Hinata merasa tak bisa bernafas mendengar nama suaminya berada disana bersama dengan Sakura. Naruto bilang dia sedang sibuk mengurusi proyek, dan disinilah dia bersama cinta masa lalunya. Dari semua tempat yang bisa di kunjungi kenapa mereka berada di klinik dokter kandungan jangan-jangan.. Ya Tuhan! Apa yang sebenarnya sedang aku hadapi ini?. Hinatamerasa harus tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jadi dia memutuskan untuk diam dan mendengarkan.
.
.
.
.
"Hei Karin..." itu suara Naruto "bagaimana kabarmu?"
"Hmm.. baik. Jadi ada perlu apa kau kemari sepupu, bersama perempuan ini?" tanya karin pada sepupu jauhnya itu. Ya Karin dan Naruto memang bersaudara, Nenek nya Naruto dari pihak Kushina dan Neneknya Karin adalah adik kakak
"Aku ingin memeriksa kandunganku Karin" suara Sakura mulai terdengar. Karin terkejut dengan apa yang di dengarnya. Setahunya Naruto memang sudah menikah namun bukan dengan wanita ini. Dia pun tidak tahu siapa istri Naruto, karena pernikahan mereka tertutup waktu itu. Keluarga Naruto merahasiakan identitas istri Naruto, entahlah dengan alasan apa Karin juga tidak tahu. Karin harus mencari tahu ada apa sebenarnya antara Naruto dan Sakura.
"bukankah kau dokter Sakura?" Karin bertanya sarkatik.
"Ya.. aku memang dokter tapi aku bukan dokter kandungan Karin." Jawab Sakura santai
"sudahlah Karin cepat periksa Sakura, jangan mulai lagi pertengkaran kalian." Naruto mengintrupsi, sebenarnya dia tidak nyaman berada disini. Apalagi kalau sampai Karin melapor kepada ibunya, bisa gawat nasibnya.
Namun tadi Sakura bilang padanya dia ingin memeriksakan kandungannya dan meminta Naruto untuk mengantar. Dia cukup terkejut ketika memasuki klinik ini dan yang dilihatnya adalah Karin. Entahlah sebenarnya apa niat Sakura memeriksakan kandungan pada Karin. Karin memang dokter kandungan tapi setahunya Karin dan Sakura itu bermusuhan, karena mereka berdua sama-sama menyukai Sasuke dan tak jarang saling berselisih.
"baiklah ayo.." Karin mengalah dan mempersilahkan Sakura untuk tiduran agar dia bisa memulai pemeriksaannya
"Mmm.. aku keluar sebentar, aku lupa ponselku ketinggalan di mobil" Naruto meminta izin
"apa kau tidak mau melihat bayinya Naruto?" Sakura menawarkan
"lain kali saja" jawabnya singkat
"apa yang kau rencanakan Sakura?" tanya Karin ketika Sakura telah berbarig di ranjang pemeriksaan "setelah apa yang kau lakukan pada sepupuku dan Sasuke meninggal. Sekarang kau datang bersamanya dan mengaku tengah mengandung"
"Ow..ow santai Karin.. pertama aku sudah tidak bertunangan dengan Sasuke dari 2 bulan lalu dan apa ada yang salah jika aku dan Naruto bersama, hei kami masih sama-sama single jadi wajar saja bukan?" Sakura menjawab dengan tenag
"Naruto sudah menikah Sakura, apa kau sadar apa yang kau lakukan. Aku tahu kau jahat, tapi jalang? Hah aku tak pernah menyangka." Karin menyinggung
"OH.. aku tak pernah tahu jika Naruto telah menikah. Apa mungkin seseorang yang sudah menikah menyembunyikan statusnya? Kecuali itu memang sengaja. Jangan-jangan dia menikah karena terpaksa. Dan kau harus ingat Karin, Naruto mencintaiku" Sakura tersenyum
"ya itu dulu... mungkin saja hatinya sudah berubah sekarang. Buktinya dia malah pergi dan tidak mau melihat jalannya pemeriksaan kandunganmu. Heh jangan terlalu percaya diri Haruno" Karin menantang
"itu hanya karena dia belum siap, lihatlah cepat atau lambat kami pasti akan menikah ya tentunya setelah dia menceraikan istrinya. Cepat periksa aku Karin, aku sudah tak sabar mengetahui kabar janinku"
.
.
.
.
Hinata sebenarnya sudah tak tahan berada di sana. Air mata sudah mengalir deras di pipinya. Dia berusaha menahan isakannya agar tak terdengar oleh Karin ataupun Sakura. Bagaimanapun dia ingin mendengar lebih banyak, meski nanti hatinya semakin hancur.
.
.
.
.
"kandunganmu baik-baik saja dan usianya sudah sekitar 8 minggu.. aku akan menuliskan resep obat yang harus kau minum" Karin berujar setelah selesai memeriksa Sakura.
"hmm.. syukurlah"
Naruto datang kembali ke ruangan itu, tak lama setelah Sakura menerima obat dari Karin.
"apakah sudah selesai?" tanya Naruto setelah bergabung kembali dengan mereka.
"sudah.. dan kandunganku baik-baik saja" jawab Sakura ceria
"baiklah ayo kita pergi.."
"tunggu Naruto aku ingin membicarakan sesuatu, tapi hanya berdua denganmu" Karin menyela sebelum Naruto dan Sakura keluar.
"kenapa aku tak boleh mendengar Karin?" Sakura bertanya was-was
"Ini urusan keluarga, dan orang luar tidak berhak ikut campur" semprot Karin, dia sebenarnya sudah kesal dengan wanita itu. Meskipun Karin tidak terlalu dekat dengan Naruto bagaimanapun dia adalah sepupunya. Karin tidak mau Naruto jadi salah langkah. Karin tahu Naruto dulu memang mencintai wanita pinky itu. Tapi dia harap, perasaan Naruto telah berubah setelah apa yang telah di lakukan Sakura padanya. Naruto telah beristri, ya setahuunya Naruto memang menikahi istrinya tersebut atas permintaan sang ibu, Kushina. Dia memikirkan bagaimana nasib istrinya kalau begitu? Apalagi dari kabar yang dia dengar dari keluarganya, istri Naruto adalah orang baik dan Kushina sangat menyayanginya. Apa yang akan di lakukan bibi jika mengetahui hal ini?
"tunggulah di mobil Sakura, aku akan menyusulmu nanti" ujar Naruto lagi-lagi menengahi. Sakura langsung pergi meninggalkan ruangan itu dengan sedikit kesal.
"baiklah Naruto, pertama apa istrimu tahu kau bersama dengan Sakura saat ini?" tanya Karin sepeninggalan Sakura
"tidak, aku sudah tidak bertemu dengannya 3 hari ini. Sejak Sakura memberitahuku dia hamil 3 hari yang lalu aku membawanya ke Tokyo dan selama itu aku menemaninya"
"OK.. apa bibi tahu apa yang kau lakukan ini?"
"jangan sampai ibu tahu hal ini, jika tidak aku akan di bunuhnya Karin" Naruto membujuk Karin
"dan kau pantas mendapatkan itu"
"apa maksudmu Karin? Kau mengharapkan aku mati"
"ya apa lagi memang nasib yang pantas untuk seorang peselingkuh? Ingat Naruto kau sudah beristri dan kau meninggalkan istrimu sendirian di rumah demi menemani perempuan lain. Apalagi perempuan yang pernah menyakitimu" ingin rasanya Karin menampar wajah sepupunya itu
"perlu kutegaskan aku bukan peselingkuh. Aku hanya tak bisa meninggalkan Sakura sendirian Karin. Dia sedang hamil dan yang ku tahu seorang perempuan yang sedang hamil harus dijaga perasaannya dan tidak boleh stress" Narito menjawab dengan geram
"Heh jangan bercanda Naruto bukan hanya perempuan hamil yang harus di jaga perasaannya. Apa kau pernah memikirkan apa yang istrimu rasakan jika dia mengetahui ini semua. Apalagi jika..." karin sedikit melirik ke arah Naruto "oh Ya Tuhan.. jangan bilang kau sudah melakukan hubungan intim dengan istrimu" lanjutnya ketika melihat raut wajah sepupunya itu
"Hei.. itu wajar, kami sudah menikah Karin"
"Ya kau sudah menikah dan celakalah kau Naruto! Aku tahu kau menikahinya atas dasar ingin membahagiakan ibumu karena beliau menyukai istrimu dan menyuruhmu menikahinya. Tapi apakah kau tidak bisa menghargai perasaannya. Aku dengar dia mencintaimu, dan coba bayangkan jika itu terjadi pada orang terdekatmu. Aku tahu aku bukan orang baik-baik tapi aku juga perempuan. Aku tidak suka jika itu terjadi apalagi di depan mataku sendiri. Dan bagaimana jika istrimu hamil Naruto. Apa kau pernah berfikir sampai ke arah sana?" karin sedikit membentak kearah Naruto sementara Naruto hanya bisa terdiam.
"Baiklah Naruto pertanyaan selanjutnya, apa kau mencintai istrimu?" Karin melingkarkan tangannya di dada
"aku.. aku.." Naruto bingung harus menjawab apa
"baik kalau itu terlalu sulit untuk kau jawab sekarang aku bertanya padamu apa kau masih mencintai Sakura, Naruto?"
.
.
.
.
Hinata sudah tak tahan lagi, ini sudah cukup. Semuanya sudah cukup dia tidak siap mendengarkan jawaban Naruto selanjutnya yang akan membuat hatinya yang sudah rusak semakin hancur berekeping-keping. Memang apa lagi yang dia harapkan dari jawaban Naruto atas pertanyaan Karin tadi. Bahwa suaminya itu sudah mencintainya dan tidak mencintai Sakura lagi? Heh jangan mimpi Hinata.
.
.
.
.
"jawab Naruto, apa kau masih mencintai Sakura?" karin kembali melontarkan pertanyaannya
"Aku.."
"Ka-karin..." Hinata segera keluar dari persembunyiannya dan memanggil nama sahabatnya sebelum Naruto sempat melanjutkan ucapannya. Karin dan Naruto yang tadinya duduk berhadapan segera melirik ke arah sumber suara selainm mereka di ruangan itu.
"Hinata/Hi-hinata.." karin dan Naruto berujar secara bersama-sama. Karin dengan mata kagetnya. Oh dia lupa tadi dia menyuruh Hinata untuk menunggu dirinya. Sementara Naruto terbelalak melihat istrinya ada di sana. Dia tidak bisa berbuat apa-apa, dia ingin membuka mulutnya tapi tidak ada suara yang keluar.
"Ya ampun Hinata apa yang terjadi?" karin langsung bertanya dan segera menghampiri Hinata setelah tersadar bahwa sahabatnya itu sedang berusaha menahan tangis, sebenarnya sia-sia karena air matanya sudah jatuh, terbukti dar pipinya yang sudah basah dan mata memerah seperti sehabis menangis cukup lama. Karin langsung memeluk Hinata "apa yang terjadi Hinata kenapa kau menangis?"
"Karin aku .. aku ingin pulang. Maaf.. maaf aku.. aku tidak bisa melaksanakn rencana kita. Aku.. aku.."
"OK.. Hinata tak apa. tapi bisa kau jelaskan apa yang terjadi. Apa terjadi sesuatu dengan suamimu. Aku akan mengantarmu pulang OK?"
"ti-tidak Karin aku akan pulang sendiri. Aku tak ingin merepotkan"
"tapi Hinata wajahmu terlihat pucat. Aku takut terjadi sesuatu dengan kan..."
"Karin aku mohon, aku ingin pulang sendiri"
"tapi Hina, bagaimana jika kan..."
"Karin...please!"
"hah.. baiklah tapi secepatnya kabari aku jika sudah sampai di rumahmu OK!"
Hinata hanya mengangguk dan terburu-buru keluar dari ruangan Karin. Dia melirik sekali ke arah Naruto yang terdiam mematung. Matanya tak fokus entahlah kaget mungkin. Dia ingin segera keluar dan secepatnya pergi walaupun tak tahu mau kemana. Tak mungkin ke rumah mereka kan. Hah rumah mereka, mungkin kata itu sudah tak pantas dia ucapkan lagi mulai dari sekarang.
Karin merasa ada yang aneh dari sahabatnya tersebut. Pertama keluar dari ruangan istirahatnya dalam keadaan menangis, kedua dia terus-terusan menunduk seperi tengah menghindari sesuatu, dan yang terakhir setiap dia akan mengucapkan kata 'kandungan' Hinata selalu memotong pembicaraan. Dia sedikit melihat Naruto yang sepertinya baru tersadar dari lamunannya atau entahlah itu. Jangan-jangan..oh Tuhan bencana apalagi ini?
.
.
.
.
"Hinata...!" Naruto memanggil nama Hinata dan segera akan menyusulnya ketika tangannya di tahan oleh Karin "lepaskan aku Karin aku harus menyusul Hinata.!" Berontak Naruto
"Naruto, jangan bilang jika istrimu itu Hina-ta?..." Karin ingin mendengar kata penyangkalan dari Naruto atas praduganya, namun sepertinya nasib sedang tak berpihak padanya ketika melihat mata Naruto dan mendengar apa yang selanjutnya di ucapkan oleh sepupunya itu.
"Ya dia memang istriku, sekarang lepaskan aku Karin.. aku harus menyusul Hinata dan menjelaskan kesalah pahaman ini" Naruto segera melepas tangan Karin dan berlari keluar untuk menyusul istrinya. Sementara Karin hanya membatu mendengar pernyataan Naruto. Ya Tuhan Hinata maafkan aku..
.
.
.
.
Hinata sedang berdiri di pinggir jalan menunggu taksi, ketika Naruto berhasil menyusulnya. Dari arahnya terlihat Hinata sedang menunduk dan bahunya bergetar sepertinya sedang menahan tangis.
"Hi-hinata.." ucapnya sambil memegang tangan Hinata
Hinata mengangkat wajahnya dan memandang Naruto yang sudah ada di depannya
"Lepas Naruto.." ujarnya sambil menepis kasar tangan Naruto
"Hinata dengar kan aku dulu, kau salah paham. Semuanya tidak seperti yang kau fikirkan."
"iya Naruto, aku selalu salah faham. Aku salah faham terhadap perlakuanmu selama ini padaku, aku salah faham ketika melihat senyummu kepadaku, aku salah faham ketika kau memanggil ku dengan sebutan 'sayang', aku salah faham ketika kau tertawa di depanku. Aku salah faham Naruto.. aku salah faham dengan semua sifat yang kau tunjukan saat berada di dekatku.
Aku kira... aku kira saat kau melamarku waktu itu, kau yang menginginkannya, karena kau ingin memulai hidup yang baru dan melupakan masa lalumu. Tak apa kau jadikan aku tameng agar kau bisa melupakan cinta yang kau miliki di masa lalumu, tak apa aku menahan perasaan kecewa saat kau tak membalas perasaan cintaku, selama kau bahagia.
Dan..dan aku lebih salah faham lagi menganggapmu bahagia bersamaku. Aku tidak tahu sungguh jika selama ini kau berpur-pura hanya untuk menyenangkan hati ibu. Aku tidak tahu kalau kau menikahiku hanya karena kau di minta oleh ibu. Aku..aku..hiks" Hinata sudah tak tahan sungguh. Dia menutup wajah dengan kedua tangannya. Air mata yang tadi berusaha di bendungnya sudah turun dengan deras. "apa kau pernah sedikit saja mencintaiku Naruto?"
"Aku.. aku.."
"sudah tidak usah dijawab. Aku sudah tahu apa yang akan kau ucapkan" lirihnya
"Nata say.."
"tidak Naruto.. sudah cukup, jangan memanggilku lagi dengan sebutan itu. Aku sudah tahu semuanya sekarang. Dan..dan kau tidak usah berpura-pura lagi. Aku sudah mendengar cukup banyak tadi" Hinata diam sebentar "oya selamat akhirnya kau bisa mendapakan cintamu Naruto dan akan segera menikah dengan wanita pujaanmu dan selamat juga atas anak kalian" lanjutnya menurunkan tangan yang tadi menutupi wajahnya dan memandang lurus ke arah Naruto.
.
.
.
.
Itachi sedang berada di kota Tokyo hari itu untuk menyelesaikan urusan bisnisnya selama dua minggu kedepan. Memang selain aktif sebagai pengurus perusahaan Uchiha di konoha, Itachi juga mempunyai Yayasan Amal yang di bangunnya bersama dengan sahabat-sahabatnya di Kota Tokyo ini. Rencananya mereka akan mengadakan Acara Amal dalam waktu dekat. Karena itulah disinilah dia sekarang, di salah satu jalanan Tokyo. Mengantarkan sahabatnya Konan pulang ke apartemennya setelah mereka selesai rapat untuk perencanaan acara amal yang akan di adakan oleh nya dan sahabat-sahabatnya itu. Saat itu Itachi sedang menceritakan kronologi kematian adiknya kepada Konan sambil tetap terfokus menyetir, ketika wanita iu tiba-tiba menyuruhnya berhenti.
"Itachi tunggu! berhenti sebentar" Konan berseru sambil matanya melihat ke arah spion seperti sedang memastikan sesuatu.
Itachi segera mengikuti perintah Konan dan terheran melihat kearah wanita yang sedang memusatkan perhatiannya entah terhadap apa.
"hei lihatlah bukankah itu Naruto sepupu Nagato. Sepertinya dia sedang bertengkar dengan seorang wanita. Dan ya Tuhan wanita itu menangis."
Itachi yang merasa penasaran dengan apa yang di ucapkan Konan segera mengarahkan pandangannya ke arah yang Konan tunjukan. Hinata! ada apa dengannya kenapa dia menangis? Itachi cukup terkejut dengan apa yang dilihatnya. Disana ada Naruto seperti sedang berusaha menahan dirinya mendengarkan Hinata yang sedang berbicara sambil menangis. Dia segera membuka pintu mobilnya dan hendak melangkah keluar ketika sebuah tangan menahannya.
"Itachi mau kemana kau?" Konan berusaha menahan Itachi yang tiba-tiba terlihat murka
"aku akan menghampiri mereka, kau fikir apa lagi?"
"tapi Itachi kita sebaiknya tidak usah ikut campur. Itu bukan urusan kita"
"ini urusanku Konan.. apa yang terjadi padanya adalah urusanku" ujar itachi dan melangkah mendekat ke arah Naruto dan Hinata. Konan akhirnya terdiam dan duduk kembali membiarkan Itachi menghampiri Naruto. Melarang Itachi dalam keadaan seperti itu, bukanlah hal yang paut dilakukan, kecuali kau ingin terkena imbasnya
.
.
.
.
"apa maksudmu Hinata.. aku tak mengerrti dengan apa yang kau ucapkan?" tanya Naruto yang tak mengerti dengan ucapan Hinata tentang anak dan menikah dengan Sakura "Nata .."
"cukup Naruto.. aku bilang cukup jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi. Aku sudah muak Naruto.. aku lelah dengan semua sandiwaramu.."
"Hinata.." Naruto berusaha meraih istrinya ketika sebuah tangan menahannya
"cukup Naruto jangan mendekati Hinata lagi, apa kau tidak mendengar apa yang dia katakan?" Itachi berbicara dengan tegas.
Melihat Itachi Hinata segera mendekat ke arah pria Uchiha itu dan memeluknya meminta perlindungan
"Kak Itachi aku mohon bawa aku dari sini sekarang.. aku..aku" Hinata menyembunyikan wajahnya di dada bidang Itachi mengabaikan tatapan suaminya yang mengeras.
"menyingkir kau Namikaze" ujar Itachi tajam sambil berjalan dengan merangkul Hinata, meninggalkan Naruto yang terdiam membeku. Itachi segera mendudukan Hinata di kursi belakang mobilnya. Konan kemudian bergabung dengan Hinata duduk di kursi belakang ketika melihat wajah wanita itu pucat sepertinya akan pingsan. Benar saja terhitung 30 detik kemudian Hinata jatuh pingsan di pelukan Konan bertepaan dengan mobil Itachi yang melaju.
.
.
.
.
Tersadar Naruto segera membalikan badan dan memanggil istrinya
"Hinata tungg.." bertepatan dengan mobil Itachi yang melaju dengan kencang.
Ya tuhan apa yang sudah aku lakukan? Hinata... naruto hanya bisa memandangi kepergian istrinya dengan wajah sendu.
Sementara itu di sebuah mobil sedan berwarna Hitam yang terparkir tak jauh dari tempat Naruto dan Hinata bersitegang, Sakura Haruno melihat semuanya dengan jelas. Berhasil.. bibirnya mengulas senyum kepuasan.
