Choose!

Pair: BoBoiBoy x Yaya

Genre: Romance, Humor, & Family

Disclaimer: BoBoiBoy adalah milik Animonsta, dan Ni-chan hanya meminjam karakternya saja

Warning: Typo, Gaje, OOC, Abal-abal, Garing, Humor gagal, dll.

Cerita ini muncul di pikiran saya saat menonton BoBoiBoy Movie, apabila ada kesamaan dengan yang lain itu hanya kebetulan semata :)

Happy Reading~!

RnR please?

Chapter 1

"Haaahhh!? Jadi Boboiboy nggak bisa kembali satu seperti semula?!"

"Dey, serius kah ini? Masa cuma gara-gara ditembak pistol aja jadi nggak bisa balik lagi? Jangan-jangan Adu Du itu sebenarnya nyantet kau, Boboiboy!" seru Gopal panik sambil menggoyang-goyangkan tubuh Gempa mewakili Boboiboy yang lain.

"Haiya, mana ada nyatet yang efeknya bikin dia nggak bisa bersatu seperti semula! Memang kau kira yang nyantet dia itu siapa hah? Alien?" sahut Ying.

"Memang alien kali," ujar Fang menanggapi sahutan Ying, tapi air mukanya langsung berubah. "Aduh, gimana nih? Kalau kalian nggak kembali kan katanya jadi pelupa!"

"Boboiboy! Kau harus segera cari cara untuk kembali seperti semula! Kalau nggak berabe jadinya!" seru Ochobot.

Reaksi-reaksi yang dikeluarkan oleh orang-orang yang baru saja tahu fakta bahwa Boboiboy sementara ini tidak bisa besatu seperti semula. Tok Aba? Tentu saja baru pingsan begitu tahu kalau cucunya sementara ini tidak hanya satu, tapi lima. Mana mukanya sama semua lagi. Barusan Halilintar dan Taufan membawa Tok Aba ke dalam rumah untuk istirahat, dan Air? Masih tidur, kali ini di kamar. Api juga ikut bersama Halilintar dan Taufan tadi sewatu membawa Tok Aba, dan sekarang nampaknya masih menikmati kebebasannya dengan lari-lari keliling halaman rumah dengan gembira. Teriakan senangnya aja sampai sini. Hanya Gempa yang berada di kedai Tok Aba, bertugas menjaganya bersama Ochobot sekaligus menerima beribu macam pertanyaan dan reaksi dari teman-temannya, karena sifat Boboiboy Gempa yang paling mirip dengan sifat Boboiboy original, meski tampak sedikit dewasa.

"Dey, gimana bisa jadi kayak gini? Kalian nggak bisa bercantum semula? Terus, nanti kalau ada yang lupa gimana? Aku bakal diserang lagi sama Halilintar kayak waktu itu?!" Gopal panik sambil mengguncang-guncangkan tubuh Gempa lagi.

"Iiiyaaa! Teenaaangg duuluuu laaahhh!"

"Ish! Gopal! Jangan guncang-guncangkan Boboiboy terus lah! Kita dengar dulu penjelasannya!" ujar Yaya. "Jadi, bagaimana bisa jadi begini? Intinya sih, aku sudah tau, kau ditembak Adu Du dan tidak bisa menjadi satu seperti semula, tapi aku ingin mendengar keseluruhan ceritanya."

"Hmm, baiklah," Gempa menghela nafas. "Jadi, saat itu …"

Flashback

"Kau sudah kalah, Adu Du! Menyerahlah!"

"Hah? Menyerah? Hahahahaha, masih belum, Boboiboy." Alien berkepala kotak dengan dua antena di atas kepalanya yang diklaimnya sebagai telinga itu menyeringai. Ia terlihat mengeluarkan sesuatu dari kantungnya. Sebuah botol dengan cairan ungu yang mencurigakan. "Probe! Tahan Boboiboy itu sebentar!"

"Baik, Tuan Boss! Mode! Mega Probe! Hiaahhh!"

Robot ungu beremosi itu menembakkan peluru-peluru yang dimilikinya ke arah lima Boboiboy sekaligus. Spontan Boboiboy langsung mengelaknya. Sayangnya peluru yang dimiliki Probe kali ini cukup banyak, ditambah Adu Du mengaktifkan perangkapnya berupa meriam-meriam laser yang terpasang di seluruh penjuru ruang. Kedua Boboiboy 'baru' itu tidak cukup hanya dengan bentuk tahap pertama mereka saja, jadi …

"Boboiboy Blaze!"

"Boboiboy Ice! Tembakan Pembeku!" Boboiboy Ice menembakkan mini-gun-nya mengitari seluruh ruangan dan membuat meriam-meriam laser dan Probe membeku.

"Cakera Api! Hiaaahhh!" Boboiboy Blaze mendukung dengan melempar kedua chakramnya yang dengan lincah membabat habis meriam yang membeku, juga memberi critical hit pada Probe sehingga robot itu kembali ke bentuknya semula.

"Maaf Tuan Boss! Aku cuma bisa mengulur waktu sampai segini! Uhuhuhuhu! Maafkan aku, Tuan Boss!"

"Tidak, sudah lebih dari cukup, Probe!" Adu Du kembali memasang tampang jahat di wajahnya. "Rasakan ini, Boboiboy!"

Cahaya dari pistol itu menusuk mata, tapi Boboiboy tidak merasakan rasa sakit sedikitpun. Begitu cahaya itu lenyap, Adu Du dan Probe sudah hilang entah kemana, meninggalkan mereka berlima. Karena merasa tak ada yang perlu dilawan lagi, Boboiboy berencana bersatu seperti semula dan meninggalkan tempat itu, tapi ada yang aneh. Boboiboy tidak bisa kembali menjadi satu seperti semula. Sudah dicoba berkali-kali tetap tidak bisa. Apa lagi yang direncanakan oleh alien jahat berkepala kotak itu? Dan apa sebenarnya tujuannya?

Setelah kelima Boboiboy ribut-ribut sedikit soal kondisi mereka, Yaya pun datang dengan kecepatan tinggi.

Flashback END

"…jadi begitu ceritanya," Boboiboy Gempa mengakhiri.

"Nggak guna itu alien kepala kotak!" Ying seperti biasa menghina Adu Du.

"Ochobot, bisa kau scan Boboiboy, memastikan kalau ia tidak akan hilang ingatan lagi meskipun lama berpecah?" pinta Fang.

"Baik!" Robot kuning berbentuk bulat tanpa kaki itu segera meng-scan Boboiboy. Setelah hologram yang keluar dari mata biru Ochobot menunjukkan scan complete, Ochobot langsung berucap. "Belum pasti, setidaknya untuk saat ini, dia tidak akan lupa dalam waktu singkat. Tapi kita tetap harus berusaha mencari cara untuk menyatukan mereka semua, kalau nggak, Tok Aba bakal pusing, kenapa cucunya jadi kembar lima begini."

"Benar itu! Kalau begini terus kan nggak baik!" sahut Ying.

"Lagian Boboiboy Api itu bahaya! Bisa-bisa dia bikin ulah lagi kayak ngebakar kandang ayam atau kertas-kertas ujian kita," ujar Fang.

"Nah, nah, itu dia." Gopal setuju. "Pokoknya jangan bakar kertas-kertas ujian kita dan jangan banjirkan sekolah ya, Boboiboy!"

"Ah, sudahlah. Pokoknya hari ini bubar dulu deh. Kita lihat perkembangannya besok. Lagian sudah sore," Ochobot menunjuk ke arah langit yang sudah berubah warna menjadi jingga.

"Yok, aku pulang dulu, Boboiboy. Dahhh!" Ying segera berlari laju menggunakan kekuatan manipulasi waktunya.

"Aku juga, nanti Apa aku marah. Bye, Boboiboy!" Gopal pun bergegas pulang, diikuti oleh Fang yang hanya diam dan sekadar melambaikan tangan.

"Yaya, kau nggak pulang?"

"Rumahku kan di sebelahmu, Boboiboy. Nggak perlu jalan jauh juga. Lagian aku masih pengin lama-lama di sini. Terutama melihat kondisimu itu, aku jadi nggak bisa tenang," ujar Yaya.

Gempa cuma nyengir. "Aku nggak pa-pa kok. Nggak usah khawatir. Paling pistol itu cuma berefek sehari atau dua hari. Jadi nggak masalah. Aku juga pengin tau gimana rasanya hidup bersaudara itu."

"Hmm, baiklah. Aku pulang. Kalau ada apa-apa beritahu aku! Janji ya!" ucap Yaya berubah pikiran lalu segera pulang ke rumahnya yang hanya berada di sebelah rumah Boboiboy.


Setelah Gempa selesai membereskan kedai milik kakeknya dibantu Ochobot, ia segera kembali ke rumah, sambil berharap rumahnya tidak kacau balau dengan adanya empat lagi dari dirinya di rumah dengan sifat yang berbeda-beda. Halilintar dan Taufan sih, ia bisa memercayainya karena mereka sudah lama bersama. Air? Kerjanya hanya tidur saja, tidak perlu khawatir, tapi Api? Nah, ini dia. Tersangka utama kasus kebakaran kandang ayam milik Bibi penjaga kantin, dan gudang tempat penyimpanan kertas-kertas ujian, serta gerobak es krim milik ayah Gopal dan parahnya pernah bikin gosong satu lapangan sekolah. Gempa berdoa semoga rumahnya tidak kebakaran karena Api yang setress karena kebanyakan tekanan.

"Assalamu 'alaikum."

Setelah mengetuk pintu, Gempa masuk. Ruang tamu terlihat sepi, seperti tidak pernah digubris sedikit pun.

"Eh? Sepi banget disini. Mana yang lain?" Ochobot mulai membuka topik.

Gempa hanya angkat bahu. Mereka berdua menuju ruang tengah dan Gempa pun menyalakan lampu karena memang sudah gelap. Ternyata pemandangan yang menunggunya saat lampu dinyalakan adalah …

"Nah, gimana Tok, nyaman?"

"Ahh … lega kepala Atok. Lebih keras lagi, Taufan. Ah, Halilintar sudah selesai nyapu? Tolong buang sampah ya."

Pemandangan Taufan yang sedang memijat kepala Tok Aba dan Halilintar yang sedang membersihkan rumah secepat kilat menggunakan kuasanya. Bukannya rumahnya terbakar seperti bayangannya, ternyata malah jadi kinclong. Gempa bisa menghembuskan nafas lega.

"Ah, Kak Gempa sudah pulang~!" seru Taufan riang. "Maaf Kak, tadi nggak sempat bantuin di kedai. Tapi Ochobot ada kan? Kedainya baik-baik aja kan? Nggak dihancurin sama Golem?"

"Ya enggaklah. Eh? Kakak?" Gempa menyadari hal yang janggal.

"Iya lah," Tok Aba bangkit dari kursi sofa setelah Taufan selesai memijatnya. "Ternyata punya lima cucu nggak buruk juga. Begini terus juga nggak apa-apa. Jadi Atok tadi rapat bersama empat cucu Atok yang lain menentukan siapa Boboiboy yang tertua, dan semua sepakat kalau Gempa adalah yang tertua dan Air adalah yang termuda, karena dia yang muncul paling terakhir. Makanya Taufan memanggil Gempa tadi dengan sebutan 'Kak Gempa'." jelas Tok Aba. "Kedainya tadi sudah beres?"

"Beres, Tok," jawab Ochobot mewakili Gempa yang masih melongo, tepat saat ia hendak membuka mulutnya lagi, gebrakan pintu sudah mendahuluinya.

"Kami pulang, Tok! Assalamu 'alaikum!"

Terdengar teriakan dari ruang tamu dan sang empunya suara langsung menuju ke ruang tengah dimana yang lain berada. Tak lain suara itu milik Boboiboy Api, yang sedang membawa tas belanja, disusul Air di belakangnya yang terlihat lemas saat memegang dua tas belanja sekaligus.

"Wa 'alaikumsalam, sudah pulang? Makasih ya, pasti capek kan? Nanti Atok buatkan cokelat panas, istirahat dulu. Tempat belanja tadi kan jauh," Tok Aba mengambil tas belanja dari tangan Api dan Air lalu membawanya ke dapur.

"Cokelat panas? Makasih Tok! Air tunggu!" seru Air mendadak semangat begitu mendengar kata 'cokelat'.

"Eh, Kak Gempa sudah pulang! Ochobot juga nih! Kita main yok!" ajak Api.

"Kau barusan disuruh istirahat sama Atok, jadi ke kamar dulu sana. Baru pulang sudah ngajakin main. Bukannya kita berempat sudah main monopoli tadi?" dengus Halilintar yang tengah mengepel ruang tamu. "Dan jauh-jauh sedikit. Nanti hasil kerjaanku kotor, aku yang rugi mesti kerja dua kali."

"Habisnya aku kalah telak sihh! Kenapa Air yang menang! Padahal dia kan mainnya ogah-ogahan!" Api tampak tidak senang.

"Cuma lagi hoki aja kok," balas Air singkat. "Aku mau ke kamar dulu, ngantuk. Hoahhmm!"

"Ahh! Bukannya barusan Air baru aja tidur! Heii! Jangan jadi cowok lembek gitu! Main sama Kak Api sinii!" Api langsung mengejar Air yang menuju ke lantai dua.

Gempa berusaha memahami situasi mereka sekarang. Sumpah, kepalanya sakit banget. Nyut-nyutan gitu. Kini dia akhirnya mengerti perasaan orang-orang terdekatnya yang khawatir berat atas kejadian ini. Kenapa ujung-ujungnya dia justru dipanggil 'Kakak' sama semua pecahannya dan kenapa justru Tok Aba malah senang kalau cucunya mengganda menjadi lima? Ditanya pun jawabnya …

"Hah? Tentu saja karena pekerjaan Atok jadi jauh lebih ringan. Rumah bisa bersih, kerjaan beres, dan stok untuk jualan besok juga sudah ada, semua dilakukan dengan cepat karena banyak orang," jawab Tok Aba dengan muka bahagia.

"Hemm … memang terbaikk," balas Gempa lemes.

"Tentang biaya makan dan keperluan, Gempa tidak perlu khawatir, kedai Atok kan laris, apalagi kalau banyak yang membantu, pasti bisa menampung lebih banyak pelanggan lagi," ujar Tok Aba. "Ah, tapi memang ada satu yang Atok khawatirkan."

Satu? Dari semua hal yang terjadi cuma satu yang Atok khawatirkan?! Gempa rasanya pengen pingsan aja.

"Besok kalian sekolah kan? Gimana caranya pergi sekolah kalau berlima gini? Perlengkapan-perlengkapan sekolahnya bakal cukup enggak?" tanya Tok Aba.

"Sekolah?! Haaahhhh …"

Plek. Gempa pun beneran pingsan di tempat. Yang didengarnya terakhir kali adalah suara Tok Aba yang kaget dan buru-buru memanggil empat orang kembarannya, tapi itu sudah tidak penting lagi sekarang. Yang sekarang mengganggunya sampai kebawa-bawa mimpi adalah bagaimana dia bisa sekolah dengan selamat besok? Pasti dia langsung jadi bahan gosip sebulanan. Mampukah ia menjalani cobaan yang ditimpakan padanya ini?

Sementara itu di tempat Yaya, ia tengah memandangi sebuah foto yang terletak di bingkai foto yang bertabur pita dan bunga yang berwarna-warni. Bingkai foto itu adalah penyebab nilai '95' di rapor mata pelajaran Seni Budayanya sewaktu SD dulu. Di foto itu terdapat dia dan empat orang sahabatnya, tentu saja salah satu di antara empat orang itu ada yang lebih spesial dari hanya sekadar sahabat. Orang yang sudah ada di hatinya semenjak lama, meski gayanya sama sekali bukan tipenya.

"Haahh …" Dengan desahan panjang, Yaya kembali meletakkan bingkai foto itu ke meja belajarnya. "Besok … Boboiboy bagaimana ya?"

Sembari memandang langit malam yang bercahaya karena sinar bulan dan ditaburi bintang-bintang yang berkerlap-kerlip, Yaya berdoa semoga tidak akan ada masalah besok di sekolah disebabkan oleh orang yang disukainya tersebut.

~To Be Continued~

Yosshh! Apdet kilat bro~! Meski belum masuk ke cerita utama sih, soalnya cerita utama ini akan dimulai semenjak Boboiboy (Gempa) masuk ke sekolahnya beserta adik-adiknya yang sifatnya lumayan kontras dari dia. Dan dari situlah konflik cerita ini mulai bermunculan. Hehe, nantikan saja ya XD Akhir kata saya ucapkan, review please~! X3


Hampir lupa, balasan review yang nggak login!

Ililara, Nurul2001, Guest, Pinky, & Guest (orang yang sama kah?):

Ini sudah lanjut, selamat menikmati X3

Elang Emas:

Nah, itu dia tuh. Tasnya emang cuma ada satu. Gimana yaa? Beli baru lah!

Hanna Yoora:

Ini sudah apdet, dan tenang aja, di sini juga ada HaliYaya kok, meski disini Hali-nya Ni-chan buat tsundere, hehe XD

Aline:

Ni-chan juga bikinnya aja ini jiwa udah melayang kemana-mana. Berimajinasii~ :3

Terima kasih sudah me-review, Ni-chan seneng banget X3 Berkat banyak review kalian, Ni-chan jadi bisa apdet secepat ini, sekali lagi, terima kasih! Pantau terus fanfic Ni-chan ya :D