Happy Reading

BREATH

Disclaimer : Masasahi Kishimoto

Pair : (Naruto x Hinata) Itachi, Sakura

Warning : AU, Typo (s) dan segala kekurangan lainnya

DON'T LIKE! DON'T READ!

Chapter 6

Hei pernahkah kalian punya mimpi masa kecil yang ingin kalian wujudkan? Hinata punya sebuah mimpi semasa kecil yang ingin diwujudkannya. Dulu ketika ibunya Hikari Hyuga masih hidup, Hinata sering di bacakan dongeng sebelum tidur. Dongeng yang ibunya ceritakan bermacam-macam, namun cerita-cerita yang paling dia sukai adalah dongeng tentang putri raja yang diselamatkan oleh pangeran berkuda putih kemudian mereka saling jatuh cinta pada pandangan pertama dan akhirnya menikah, hidup bahagia selama-lamanya.

Saking sukanya cerita-cerita itu, Hinata kecil selalu ingin dibelikan pernak-pernik seorang putri seperti gaun, mahkota, sepatu kaca dan sebagainya. Kakaknya Neji Hyuga, selalu memanggilnya dengan sebutan princess karena hal tersebut. Dan Hinata kecil berikrar bahwa suatu hari nanti dia akan menemukan pangeran berkuda putih yang akan menolongnya dari penjahat dan membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama, kemudian mereka akan menikah, dan hidup bahagia selamanya. Mimpi masa kecilnya yang indah bukan?

Setelah ibunya meninggal dan semakin dirinya menginjak dewasa ketika pemikirannya sudah logis, mimpi itu sudah terlupakan olehnya. Hei Hinata sadar hal seperti mimpinya itu tidak mungkin terwujud kan di zaman sekarang ini?. meski di dasar hatinya dia masih mengharapkan mimpi itu akan terwujud suatu hari nanti.

Dan tada..Pada suatu sore setelah acara Ospek Kampusnya, seorang pangeran menyelamatkannya dari gangguan para penjahat. Ya bukan pangeran seperti gambaran pada kisah yang sering diceritakan ibunya sih, pangeran yang membawa kuda putih dan berbaju kerajaan yang indah. Hanya seorang pemuda berambut kuning terang dan bermata biru yang memakai pakian kasual dengan kaos Ospek yang menempel pas ditubuhnya. Dan penjahatnya pun bukan ibu tiri yang jahat atau penyihir yang memiliki tongkat sakti, melainkan hanya sekumpulan kakak-kakak kelasnya yang jahil dan sedang mengodanya. Namun dimata Hinata, dia seperti menemukan pangeran impiannya. Saat itu juga dirinya langsung jatuh cinta pada sang pangeran pemberani berambut kuning dan bermata biru, seorang pangeran yang tak lama kemudian dia ketahui bernama Naruto Namikaze.

Namun hatinya harus kecewa ketika mengetahui bahwa pangeran pujaannya mencintai putri lain, seorang putri bermata hijau dan berambut pink, Sakura Haruno. Tapi walaupun begitu dia tetap mengagumi sang pangeran meski dari kejauhan. Dan ketika sang pangeran mendekatinya kembali lalu akhirnya mereka berdua menikah Hinata berfikir mungkin saja putri Haruno yang tadinya dicintai sang pangeran pujaan, hanya pemeran pembantu sebelum pangeran itu mendapatkannya, putri yang memang di takdirkan untuk bersamanya selama-lamanya karena pada akhirnya dirinyalah yang menikahi pangeran.

Bukankah menurut cerita-cerita dongeng yang pernah di dengarnya, ketika seorang pangeran dan putri menikah, mereka kemudian akan hidup bahagia selamanya. Dan dia berfikir telah mencapainya, berbahagia dengan sang pangeran dalam pernikahan. Dia tidak tahu bahwa selama ini sang pangeran hanya berpura-pura.

Hinata lupa pada kenyataan bahwa dia bukan hidup di dunia dongeng melainkan di dunia nyata. Dan di dunia nyata akhir cerita bukan terdapat pada saat pernikahan. Karena masih ada kehidupan yang harus dijalani setelahnya. Masih banyak tahap yang harus di lalui untuk mencapai kebahagiaan dalam pernikahan itu.

.

.

.

.

Hinata mengerjapkan mata, menyesuaikan retinanya yang baru terbuka dengan cahaya disekitar. Yang pertama di lihatnya adalah langit-langit berwarna putih.. ahh jangan dirumah sakit lagi! Dia sudah bosan berada di tempat itu, sejak kecil dia memang sering keluar masuk rumah sakit karena tubuhnya yang agak lemah namun menginjak dewasa dia semakin jarang menginjakan kaki ke tempat yang berbau obat itu karena dia mulai bisa menjaga pola hidup dengan baik.

Ngomong-ngomong bau obat, dia tak mencium aroma itu di sini. Yang tercium oleh hidungnya adalah wewangian parfum atau pewangi pakaian? Entahlah. Tapi aromanya seperti bunga.. mawar mungkin. Itu berarti dia bukan berada di rumah sakit atau ruang kesehatan kan? seperti biasanya jika dia sadar dari pingsan.

Karena penasaran Hinata mengedarkan pandangannya kesekeliling ruangan, sepertinya dia berada di kamar seorang perempuan jika di lihat dari dekorasi ruangannya. Tapi tak tahu dimana. Tadi seingatnya dia langsung jatuh pingsan di pangkuan seorang wanita yang tidak dikenalnya tak lama setelah menaiki mobil Itachi. Sebenarnya sebelumm keluar dari ruangan Karinpun, dia sudah merasakan kepalanya pusing namun ditahannya. Apalagi mengingat dia memang belum makan terlalu banyak hanya sepotong roti isi yang di santapnya saat sarpan. Dirinya terlalu semangat dengan pemeriksaan kandungannya dan lagi nafsu makannya memang sedang kurang baik akhir-akhir ini.

Ahh dia jadi terfikir dengan sahabatnya itu setelah kepergiannya, apakah dia sudah tahu bahwa sepupunya adalah suami Hinata?. Bagaimana reaksinya setelah tahu?. Dan bagaimana dengan Naruto sepeninggalnya dia dengan Itachi tadi?.. Hinata berusaha tak peduli meskipun dalam hatinya merasa khawatir dengan mereka.

"ceklek" suara pintu terbuka membuat Hinata menoleh ke arah pntu.

"hei.. kau sudah sadar" Itachi memasuki ruangan dengan seorang wanita berparas cantik berambut biru sebahu.

Hinata hanya mengagguk "hmm.. maaf Kak Itachi kalau boleh tahu kita sekarang dimana?" tanya nya berusaha mengeluarkan suara meskipun tenggorokannya agak terasa kering.

"minumlah dulu Hinata" ujar Itachi menyodorkan segelas air hangat di depan mulut Hinata yang langsung disesapnya "Kita berada di rumah sahabat ku saat ini, Konan"

"Hai Hinata... perkenalkan aku Konan" Konan menyapa dengan senyum yang terlukis di wajahnya.

"ah.. kak Konan, aku Hinata. Salam kenal, maaf jadi merepotkan kakak"

"bukan masalah Hinata, aku senang bisa membantu" Konan berujar ramah

"terimakasih ... mm kak Itachi maafkan aku, tadi.. tadi aku memelukmu tiba-tiba" Hinata berujar malu-malu

"tidak apa-apa Hinata, santai saja OK, apakah kau lapar Hinata?" tanya Itachi

"hmm.." jawab Hinata malu-malu. Perutnya memang sudah lapar

"apa kau ingin makan sesuatu? Biasanya wanita hamil suka minta yang aneh-aneh" suara Itachi terdengar sedikit di tekan

"baga..."

"aku tadi memeriksa tasmu, tadinya mencari alamat tapi yang ku temukan malah test pack, dengan dua garis merah. Menurut Konan itu berarti positif hamil. Apa benar itu Hinata?" suara Itachi dingin

"i-iya.."

"jadi ternyata benar kau sudah menikah dengan si Namikaze itu. Kenapa kau merahasiakannya Hinata. Dan kau menghilang begitu saja. Apa kau tidak tah.."

"cukup Itachi, kau tidak melihat wajah Hinata yang sudah pucat pasi begitu? Dia baru sadar dan kau langsung mencercanya dengan banyak pertanyaan." Potong Konan melihat Hinata yang mulai ketakutan, di introgasi oleh Itachi "jangan dengarkan Itachi ya Hinata" Konan mencoba menenangkan Hinata yang hampir menangis.

"maaf.. Hinata. Maaf kan aku.." ujar Itachi menyadari kesalahannya

"ti-tidak apa-apa Kak Itachi, kakak tidak salah. A-aku seharusnya yang meminta maaf" jawab Hinata sedikit terbata

"baiklah.. kembali ke pertanyaan awal, apa kau mau makan sesuatu Hinata? Cinamon roll mungkin, biasanya makan manis itu bisa memperbaiki moodmu yang sedang buruk" Itachi menawarkan makanan favorit HInata

"Hmm.. aku mau cinamon rool.. tapi..aku jadi merepotkan kak Itachi lagi."

"tidak Hinata berhenti bicara seperti itu, aku senang bisa melakukan sesuatu untukmu" ujarnya sambil mengelus kepala Hinata lembut "Lagipula aku sekalian akan membeli makan untuku dan Konan. Wanita ini tidak bisa memasak, jadi jangan harap di apartemen ini kau akan mendapatkan makanan rumahan yang fresh from the open. Terpaksa harus membeli makan di luar".

"apa kau bilang Itachi, aku bisa memasak, brengsek!" Konan marah di sebut begitu oleh Itachi

"hah.. oh iya aku lupa kau bisa memasak tapi hanya mie dan air" Itachi tak terpengaruh dengan amarah yang sudah menyebar di sekitar Konan.

Hinata hanya memperhatkan dua sahabat yang sedang berselisih di depannya itu sambil tersenyum.

"baiklah aku akan keluar dulu, kau istirahatlah dulu sebentar Hinata. Sementara aku akan membeli makanan" ujar Itachi setelah pertengkaran kecilnya dengan Konan selesai, di tandai dengan wanita berambut sebahu ituu meninggalkan mereka berdua di kamar.

"hmm.. sekali lagi maaf kak.."

"ssssh.. apa yang aku katakan tadi?"

"ma-maaf kak.."

"sudahlah aku pergi" ujar Itachi mengelus kepala Hinata lagi sebelum keluar ruangan untuk membiarkan Hinata berisirahat.

Dari dulu Itachi memang selalu baik padanya, selalu menolongnya jika sedang mengalami kesulitan. Siapapun yang beranggapan mereka pernah berhubungan secara romantis.. hilangkan fikiran itu, karena Hinata dan Itachi memang tak pernah pacaran. Ya mereka memang dekat dan Itachi begitu peduli pada Hinata, namun wanita itu selalu menganggap Itachi seperti kakaknya, dia menyayangi sulung Uchiha itu seperti dirinya menyayangi Neji, kakaknya. Apalagi mengingat Itachi dan kakaknya memang bersahabat, sebenarnya bukan bersahabat sih lebih bisa disebut rival mungkin. Karena setiap mereka bertemu selalu saja terjadi perang deathglare. Namun walaupun begitu kakaknya yang over protective itu selalu meminta bantuan Itachi untuk menjaga Hinata jika dia sedang ada urusan yang tak bisa ditinggalkan.

Ngomong-ngomong tentang Neji, dia jadi merindukan kakaknya itu, ah bukan hanya kakaknya melainkan adik dan ayahnya juga. Bagaimana kabar Mereka saat ini? Terakhir mereka berkomunikasi seminggu yang lalu. Saat mereka mengantar ayahnya untuk cek kesehatan bulanannya. Selama ayahnya sedang menjalani tes Hinata mengobrol dengan Hanabi dan Neji yang menunggu di luar ruangan melalu video call. Mereka belum sempat saling berkunjung karena belum punya kesempatan, Hanabi masih sibuk dengan sekolahnya sementara Hiashi dan Neji dengan perusahaan advokat mereka. Apalagi saat-saat sekarang banyak kasus yang sedang mereka tangani. Dan Hinata masih menunggu Naruto punya waktu untuk mengantarnya.

Apa yang akan difikirkan keluarganya tentang masalah yang sedang dialaminya bersama Naruo saat ini. Dia jadi ingat ucapan adiknya sebelum dirinya menikah dan juga pesan kakaknya seminggu yang lalu, bahwa dia harus langsung menghubungi mereka jika Naruto menyakitinya. Tapi Hinata bukanlah orang seperti itu, walaupun dia yang terlemah di antara keluarganya, namun dia selalu yang paling tenang dalam menghadapi masalah dan keluarganya tahu hal itu. Jadi meskipun sekarang dirinya sedang bermasalah dia akan berusaha menyelesaikan ini sendiri dulu. dia tidak mau membuat keluarganya bersedih karena masalah yang sedang menimpanya.

Hinata merasa bukan menjadi dirinya sendiri saat ini, pembawaannya yang biasanya tenang ketika menghadapi masalah, meluap seketika jika mengingat apa yang dirnya tadi katakan pada Naruto. Dia jadi merasa bersalah, bagaimanapun Naruto adalah suaminya. Seharusnya dia tak berbuat seperti itu tadi.

Tapi hey siapa yang tak akan marah dan sakit hati jika kau menemui suamimu mengantar seorang wanita, dan harus di ingat wanita itu adalah cinta masa lalunya, berkunjung ke dokter kandungan. Sementara selama 3 hari itu suaminya tak pulang ke rumah dengan alasan sibuk menangani proyek. Ya..ya.. memang suaminya selalu memberi kabar setiap malam sebelum dirinya tidur. Tapi tetap, wajar saja jika dia curigakan? walaupun memang sikapnya tadi tidak bisa dibenarkan juga, seharusnya dia mendengarkan penjelasan suaminya dulu. Tidak langsung menyimpulkan secara sepihak, menjudge bahwa suaminya bersalah.

Dia harus membicarakan masalah ini dengan Naruto, bagaimanapun tak selamanya kan dia terus-terusan menghindar. Tapi untuk sementara waktu dia akan menenangkan diri menunggu hatinya siap untuk bertemu dengan suaminya lagi. Dan adapun waktunya dia juga tidak tahu sampai kapan? hah sepertinya harus mencari hotel atau apartement untuk sementara. Tidak mungkinkan dia tinggal di apartemen Konan untuk bersembunyi menunggu hatinya siap. Dia sudah merepotkan wanita yang baru di kenalnya itu. dia akan meminta Itachi menemaninya mencari Hotel atau apartement untuk tinggalnya sementara. Dan lagi-lagi merepotkan pria uchiha itu.

.

.

.

.

Naruto terdiam diatas sofa di ruang baca rumahnya, tempat favorit sang istri. Setelah kepergian Hinata bersama Itachi tadi, Naruto hanya mematung di sana sampai Sakura menghampirinya dan mengajaknya pulang. Akhirnya Naruto mengantarkan Sakura dulu ke apartementnya dan dia sendiri kemudian pulang ke rumah dan disinilah dia sekarang.

Ya Tuhan apa yang telah aku lakukan? Hinata.. Dia tak pernah menyangka akan jadi seperti ini. Melihat Hinata menangis dan tak mau disentuhnya. Bahkan dia tak diizinkan memanggil namanya sesuai panggilan kesukaannya itu. Apalagi mendengar perkataan tentang dirinya tadi seperti mendengar jerit kematian tepat di telinganya. Dia tak mungkin sejahat itu kan?. Dia memang menikahi Hinata karena ibunya menyarankan.

Namun jika bukan karena dia yang memang menyetujui usulan ibunya itu, dia bisa saja menolak dan ibunya tak akan memaksa. Hell dia sudah dewasa dan ibunya tak akan bisa mendiktenya untuk bersikap ini atau itu, sekali lagi jika itu bukan keinginannya. Yang artinya semua yang dia lakukan, semua yang dia perlihatkan selama ini di depan Hinata memang berasal dari dirinya seutuhnya tanpa unsur pemaksaan dari pihak manapun.

Apakah salah ketika dia mempercayai intuisi ibunya bahwa dia bisa hidup bahagia bersama Hinata? Bukankah setiap manusia yang lahir ke dunia ingin bahagia?. Dan intuisi ibunya memang tepat, selama ini dia bahagia bersama Hinata. Ya dia memang belum bisa mengatakan bahwa dirinya sudah jatuh cinta pada Hinata, tapi hei bagaimana jika kau patah hati setelah ditinggal orang yang kau sayangi dan langsung mengatakan cinta kepada wanita lain pada keesokan harinya, bukankah berarti kau termasuk gampangan. dan Naruto tidak seperti itu. Dia ingin meyakinkan hatinya terlebih dahulu, bahwa ketika dia mengatakan kata 'cinta' itu tulus dari dalam hatinya bukan karena unsur kasihan atau sejenisnya.

Tapi..tapi kenapa semuanya jadi seperti ini? Hinata menyangkanya berpura-pura selama ini dan apa katanya tadi 'menikah serta anaknya dengan Sakura?' Oh shit hinata menyangka janin yang di kandung Sakura adalah anaknya. Ini semakin membuatanya frustasi. Semua ini berawal dari hari itu, hari dimana dia mendengar kabar tentang kematian Sasuke.

Naruto akhirnya tiba di Konoha setelah menempuh perjalanan selama 14 Jam. Dia langsung menuju kediaman keluarga Uchiha untuk melihat mayat Sasuke terakhir kalinya, rencananya besok pagi mayatnya akan segera di kuburkan. Saat tiba di mansion Uchiha dia langsung di sambut oleh ibunya yang sudah berada di sana.

"Naru kau sudah datang?" ibunya langsung menghampiri Naruto yang baru tiba "mana Hinata? Apa dia tidak ikut denganmu?"

"Hinata tidak ikut bu, tadi sebelum aku pergi dia sempat muntah-muntah jadi aku menyuruhnya untuk istirahat saja di rumah." Jawab Naruto. Dia jadi teringat istrinya itu bagaimana keadaanya sekarang. Tadi setelah Naruto menerima telpon dari ibunya dia sempat kebingungan. Sampai Hinata menyuruhnya untuk bersiap-siap dan segera berangkat menuju konoha. Selama Naruto mandi, Hinata membantunya membereskan perlengkapan yang akan di bawanya. Istrinya itu memang selalu tahu apa yang Naruto butuhkan. Heuh dirinya jadi merindukan Hinata?.

"kenapa kau tinggalkan Hinata sendirian Naruto?" suara ibunya membuyarkan lamunan Naruto

"ya ampun ibu, apa ibu lebih tega kalau aku membawanya kemari dalam keadaan sakit? Atau ibu lebih memilih menantu kesayangan ibu itu sakitnya semakin parah?"

"ya gak gitu juga, ibu hanya khawatir Naru, bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Hinata?"

"Ibu tenang saja, lagipula sebelum aku berangkat tadi Hinata sudah agak baikan kok"

"apa kau sudah menghubunginya lagi Naru?"

"belum bu... aku baru sampai dan langsung di brondong pertanyaan oleh ibu, jadi kapan waktuku bisa menghubunginya? Sekarang biarkan aku melihat Sasuke dulu, baru setelah itu aku akan memberikan kabar pada Hinata. Aku yakin dia juga ingin tahu kabar Sasuke." Naruto segera beranjak ke ruang duka sebelum ibunya meneror lagi.

Dia melihat beberapa orang mengelilingi mayat Sasuke unutuk mengucapkan salam perpisahan. Mikoto duduk di sisi kanan Peti mayat Sasuke, di sisi kirinya ada Itachi. Sementara Fugaku sedang menyapa beberapa pengunjung yang datang, dan saudara-saudara Sasuke yang lain menyebar di sekitar ruangan.

Ada sesuatu yang mengusik Naruto, dia tidak menemukan Sakura berada di sana, bukankan Sakura salah satu orang terdekat Sasuke?. Hei meskipun mereka sudah tak pernah berhubungan selama 4 bulan, terakhir kali Naruto bertemu mereka bukankah hubungan mereka adalah bertunangan. Ya setelah acara pertunangan Sasuke dan Sakura malam itu, Naruto memang mengganti semua kontaknya.

Dia mencoba mengikhlaskan pertunangan kedua sahabat karibnya itu. Meskipun dia mencintai Sakura, tapi dia tidak akan mengganggu kebahagiaan si gadis bersama dengan pria yang di cintainya itu. Jadi Naruto memutuskan untuk menjauh dari mereka. Apa terjadi sesuatu selama ke alfaannya itu?

"Naruto.."

Naruto mendengar suara seseorang dan tersadar dari lamunannya ah ternyata ibunya Sasuke

"oh..bibi, aku minta maaf baru bisa datang jam segini. Tadi pagi setelah mengetahui kabar dari ibu, aku langsung kemari."

"kau tinggal di mana selama ini Naruto? Sasuke.. sasuke memanggil-manggil namamu sebelum dia mengehembuskan nafas terakhirnya. Apa kau mau memaafkan Sasuke Naruto? Dia..dia.."

"apa yang bibi bicarakan? Sasuke tidak punya salah apapun kepadaku bi.. jadi tidak ada yang harus di maafkan. Aku selama ini tinggal di Tokyo bi, mengurus perusahan Ayah yang ada di sana." Naruto mengenggam tangan Mikoto yang sudah terlihat berkaca-kaca.

"tapi... tapi Sasuke..pertunangan itu. Itu kan yang menyebabkan kau menghilang selama ini Naruto?"

"tidak bi.. Sakura bukan milik siapapun saat mereka bertunangan. Jadi dia tidak bersalah apapun OK. Bibi sebaiknya tenanglah, kasihan kan jika Sasuke melihat orang yang di kasihinya bersedih" Naruto meyakinkan Mikoto yang sekarang malah menangis. Sepertinya tidak bisa bertanya keberadaan Sakura untuk saat ini. Entahlah menurut Naruto keluarga Uchiha sedikit menghindar menyebut nama Sakura. Ah benar-benar membingungkan

"aku turut berduka atas apa yang menimpa kepada Sasuke bi, dia adalah teman baikku meskipun kami sering bertengkar. Dia sudah ku anggap seperti saudara ku sendiri". Lanjut Naruto kemudian sedikit melihat ke dalam peti mati yang masih terbuka.

Merasa sudah cukup akhirnya Naruto pun berpamitan kepada Mikoto

"baiklah bi.. aku harus pulang ke kediaman Uzumaki, ibu sudah menungguku di depan. Besok aku dan ibu akan kemari lagi untuk menghadiri upacara pemakamannya. Jadi selamat tinggal bi sekali lagi aku turut berduka atas ke pergian Sasuke"

"iya Naruto, terimakasih kau sudah datang"

"Itachi.." Naruto sedikit melirik ke arah Itachi sebelum berlalu pergi namun pandangan yang Itachi berikan padanya membuat dia sedikit heran ada apa ini sebenarnya?.

.

.

.

.

15 menit kemudian Naruto sudah berada di dalam kamarnya di Mansion Uzumaki. Dia teringat belum menghubungi istrinya. Naruto segera mengambil ponsel dari kantung celana yang dia kenakan. Melirik sebentar kearah jam

21:56 apa Hinata masih bangun jam segini. Sekitar jam 7 malam tadi Hinata mengiriminya sebuh e-mail, menanyakan keberadaan dirinya. Menuntaskan kepenasarannya Narutopun mendial nomor istrinya.

"Hallo sayang.. " sapanya setelah terdengar telponnya dijawab

"Mmm... Naruto? oh ya Tuhan maaf aku ketiduran. Apa kau sudah sampai Konoha? Kenapa baru menghubungiku sekarang jam berapa ini? Dan.. dan.." suara Hinata agak serak khas bangun tidur namun ada kekhawatiran di dalamnya

"Hei tenang sleeping beauty he..he" Naruto sedikit terkekeh membayangkan wajah lucu istrinya khas bangun tidur "jika kau bertanya apakah aku baik-baik saja? maka jawabannya 'ya aku baik'. Aku memang sedih tapi aku baik. Jadi jangan khawatir!" Naruto menenangkan mendengar nada khawatir istrinya itu. "sekarang izinkan aku bertanya OK! Bagaimana kabarmu, apakah kau baik. Maaf tadi aku meninggalkanmu dalam keadaan kurang baik" lanjut Naruto setelah istrinya agak tenang.

"Hmm syukurlah kalau begitu... aku baik kok. Hanya sedikit pusing, mungkin jika diistirahatkan lebih lama akan sembuh. Naruto tenang saja, tinggalah disana selama yang dibutuhkan aku tidak apa-apa" Inilah istrinya selalu penuh dengan pengertian. Tanpa dimintapun, dia tahu apa yang Naruto inginkan. "Naru.. apa kau mendengarku?"

"Oh.. iya maaf Nata, baiklah kalau kau sehat aku jadi tenang. Cepat lanjutkan tidurmu. ini sudah cukup malam. Selamat tidur sleeping beauty"

"hm.. selamat tidur. Aku mencintaimu.." Hinata langsung menutup telponnya tanpa menunggu jawaban Naruto.

"Aku .." apakah Naruto berani bilang bahwa dirinya sudah mulai punya rasa yang sama pada istrinya itu? Entahlah..

.

.

.

.

Sebenarnya banyak pekerjaan kantor yang harus dia selesaikan akhir-akhir ini, namun Naruto juga tak dapat mengabaikan kematian sahabatnya. Karena itu disinilah dia sekarang, di ruang kerja kakak sepupunya Nagato Uzumaki, menumpang untuk mengerjakan beberapa proyek yang harus segera dia tangani. Tadi setelah acara pemakaman Sasuke, Iruka Umino orang kepercayaannya di kantor menghubunginya untuk memeriksa beberapa file proyek yang sudah di kirimnya melalui e-mail. Rencananya besok pagi dia baru akan kembali ke Tokyo.

Naruto sedang memeriksa e-mail yang ke tiga ketika suara ketukan pintu terdengar olehnya.

"Masuk.."

"Maaf tuan, ada yang ingin bertemu dengan anda" ujar sang pelayan dari ambang pintu

"Oh.. baiklah suruh dia menunggu sebentar. Aku akan turun" jawab naruto sambil memeriksa e-mailnya unuk yang terakhir. Siapa kira-kira yang datang dan ingin menemuiku. Naruto turun ke lantai bawah untuk menemui seseorang yang katanya ingn bertemu dengannya di ruang tamu Mansion Uzumaki. Dia berhenti melangkah menuruni tangga saat terlihat sesosok wanita berambut pink sedang duduk membelakanginya. Sakura? Aku tak melihatnya di rumah Sasuke maupun saat pemakaman. Dan sekarang dia ada disnini? Sebenarnya apa yang tengah terjadi?.

"Sakura?" Sapa Naruto ketika telah berada di hadapan Naruto.

"Hai Naruto.. maaf aku menganggumu."

Sakura terlihat berbeda dari yang terakhir kali di lihatnya. Ya dia memang tetap terlihat cantik dengan rambut merah muda yang tidak lazim, tubuh semampai, paras rupawan dan mata emeraldnya yang memikat. Namun baginya ada yang berbeda, pancaran matanya berbeda dengan Sakura yang dulu dicintainya. dulu? apa itu berarti Naruto sudah tidak mencintai wanita itu lagi sekarang? Hah lagi-lagi Naruto masih belum yakin dengan perasaannya sendiri. Tapi memang dia sudah tidak merasakan lagi perasaan menggebu-gebu saat bertemu dengan wanita ini, tetap peduli namun dengan kadar perasaan berbeda. Entahlah Naruto lagi-lagi belum yakin.

"santai saja Sakura, apa kau ada perlu denganku?" Naruto to the point.

Di mata Sakura, Naruto terlihat bersikap tenang. Tidak seperti sikap yang biasa dia tunjukan jika bertemu dengannya. Apa dia sudah..? tidak-tidak dirinya tidak akan membiarkan hal itu terjadi, tidak di saat dia sedang membutuhkan pria itu.

"Sebelumnya apa kita bisa bicara di tempat yang lebih tertutup?"

"maksudnya?"

"Oh maksudku.. maksudku, di tempat yang lebih rahasia.. ahaha" Sakura tertawa kikuk sementara Naruto mengernyitkan alisnya bingung "begini Naruto, apa yang akan aku bicarakan ini sangat pribadi jadi ya.. begitulah" Sakura mulai terlihat gugup

"jika yang kau takutkan adalah ada yang akan mendengar pembicaraan kita jika disini, tenang saja Sakura. Semua orang di rumah sedang tidak ada, ibuku masih di rumah keluarga Uchiha dan baru akan kembali nanti malam. Sementara Nagato sedang ada urusan bisnis di luar kota. Jadi kita bicarakan di sini saja, bagaimana?"

"baiklah kalau begitu.. aku langsung saja. Begini Naruto kau pasti bertanya-tanya kenapa aku berada disini, sementara aku tidak ada di rumah Uchiha untuk menemani Sasuke di saat terakhir serta saat pemakamannys di langsungkan" Sakura mulai bercerita sementara Naruto hanya mengangguk-anggukan kepalanya. "sebenarnya aku dan Sasuke sudah tidak bertunangan lagi"

"apa maksudmu Sakura?" Naruto bertanya, ada kekagetan di suaranya

"Ya.. dua bulan setelah acara pertunanganku tepatnya tanggal 2 bulan Maret itu, Sasuke memutuskan pertunangan kami"

Tanggal itu sehari sebelum pernikahannya dengan Hinata. Seandainya dia tahu bahwa malam itu Sakura dan Sasuke berpisah, mungkin wanita yang di nikahinya sekarang adalah Sakura. Apa itu berarti sekarang dia menyesali pernikahannya dengan HInata? jawabannya tentu tidak, meskipun bisa saja dia menikah dengan Sakura jika dia tahu wanita y ang di cintainya itu sudah berpisah dengan sahabatnya. Tapi dia tak pernah menyesali pernikahannya dengan Hinata. Sebut saja ini merupakan permainan takdir, dan dia bersyukur di takdirkan dengan wanita yang sekarang menjadi istrinya.

Dia.. Setelah apa yang telah aku berikan untuknya, dia tega berbuat itu padaku Naruto." Sakura mulai terisak, mengembalikan kembali fikiran Naruto

"Apa..? itu tidak mungkin Sakura, Sasuke tidak mungkin berbuat seperti itu" Dia tidak percaya, sahabatnya berbuat sekejam itu. Dia tahu Sasuke memang pria dngin, namun apakah pria bermata kelam itu tega melakukan hal yang seperti Sakura sebutkan tadi?

"jadi kau tidak percaya padaku Naruto.. aku bersumpah mengatakan yang sejujurnya. Malam itu aku mulai menanyakan kapan dia akan menikahiku, apalagi pertunangan kami sudah berjalan 2 bulan, namun..namun dia tidak pernah menyinggung tentang pernikahan. Malah semakin kesini sikapnya berubah, dia seperti tidak perduli lagi padaku dan saat malam itu lah dia marah besar dan mengatakan bahwa dia bertunangan denganku hanya untuk membuatmu marah" sakura mulai frustasi, dan Naruto di buat tak percaya dengan apa yang didengarnya

"Sakura.. aku..."

"dan aku sekarang sedang hamil Naruto. Malam tanggal, sebelum Sasuke kecelakaan aku bertengkar lagi dengannya,

aku bilang padanya bahwa aku sedang hamil dan apa kau tahu yang dia katakan padaku?" Sakura kembali terisak "Dia bilang bahwa dia tidak pernah mencintaiku selama ini bahkan dia bilang tak ada rasa suka sedikitpun padaku, karena sejak dulu hatinya telah dimiliki seseorang"...

Naruto terkejut dengan kenyataan yang Sakura katakan. Tidak mungkin sahabatnya tidak mengakui anak yang sedang di kandung sakura, tapi dia pun ragu. Bisa saja Sasuke melakukan hal itu Apalagi menurut perkataan Sakura tadi Sasuke mempunyai gadis yang dia suka dari dulu. Dia memang akrab dengan Sasuke, namun sahabatnya itu tertutup tentang masalah pribadi. Dan semasa mereka bersama Naruto memang tak pernah melihat atau mendengar Sasuke berpacaran dengan seorang gadis, jangan-jangan karena hal ini. Tapi tunggu dulu tadi Sakura bilang mereka bertengkar pada malam sebelum Sasuke kecelakaan. Jangan-jangan.. apa hal itu yang menyebabkan Sakura tak datang kerumah duka dan saat pemakaman Sasuke. Mata Naruto terbelalak.

"Jika yang kau fikirkan, aku ada kaitannya dengan kematian Sasuke. Hentikan pemikiran itu Naruto. Aku tidak ada hubungannya dengan kecelakaan yang Sasuke alami. Malam itu aku memang bertemu dengannya di Restaurant Yakiniku, tempat yang telah kami sepakati saat aku minta bertemu dengannya. Tapi setelah Sasuke mengatakan hal yang menyakitiku itu, aku langsung pergi darisana dan tak bertemu dengannya lagi setelah itu. Yang ku tahu pagi-pagi aku mendapatkan kabar bahwa Sasuke telah meninggal" Sakura berkata panjang lebar ketika melihat mata Naruto yang membulat setelah perkataanya bahwa dia bersama Sasuke pada malam itu.

"OK Sakura aku sudah mendengarkan semua ceritamu, jadi apa yang bisa aku bantu?" tanya Naruto setelah Sakura terlihat diam cukup lama menandakan bahwa wanita itu telah selesai bercerita.

"Aku..aku ingin kau mengakui anak yang aku kandung ini adalah anakmu. Hanya untuk sementara Naruto setidaknya sampai anak ini lahir"

"Apa maksudmu Sakura! Apa kau gila?"

"Aku tak bisa hidup menanggung malu Naruto, aku hamil tapi.."

"kenapa kau tidak meminta bantuan pada keluarga Uchiha, bukankah itu anak Sasuke?"

"Mereka tidak akan mau membantuku, jika pun mereka mau, pasti aku akan dipisahkan dengan anakku kelak. Keluarga Uchiha terlalu peduli dengan nama baik kau tahu sendiri hal itu Naruto. Tolonglah aku Naruto.. kau tahu aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, aku tidak tahu lagi harus meminta tolong pada siapa"

Naruto benar-benar bingung dengan semua ini, Sakura memang ada benarnya Keluarga Uchiha terlalu menjunjung tinggi nama baik. Bisa saja mereka menolong Sakura, tapi kemungkinan Sakura akan diasingkan di sebuah tempat rahasia dan nanti setelah dia melahirkan, anaknya akan mereka bawa dan Sakura? entah nanti bagaimana nasibnya. Apalagi Sakura memang sudah tak punya siapa-siapa lagi. Dia memang telah yatim piatu bahkan sebelum mereka saling mengenal di bangku SMP. selama ini wanita iu tinggal di panti asuhan sampai menginjak usia SMA.

Haah ini semua membingungkan apa yang harus dilakukannya? Dia juga tak mungkin menyanggupi permintaan sakura

"Aku bisa membantu menyembunyikanmu Sakura, tapi jika harus mengakui anak yang kau kandung adalah anakku, maaf aku harus menolak. Apa yang akan keluargaku fikirkan nanti jika aku melakukan itu, dan lagi aku tidak ingin mengambil hak yang harusnya dimiliki orang lain" Naruto berhenti sebentar dan berfikir. "besok ikutlah bersamaku ke Tokyo, untuk sementara kau bisa tinggal di apartemenku, sampai kita mendapat solusi yang lebih baik"

"baiklah Naruto aku setuju dengan usulanmu, setidaknya selama menunggu jalan keluar yang lebih baik"

Karena itulah sekarang Sakura berada di Tokyo. Tinggal sementara waktu di apartement miliknya. Sebenarnya miliknya dan Hinata karena itu adalah kado pernikahan mereka dari kedua orang tua Naruto. Namun Hinata tidak mau menempatinya, istrinya itu tidak suka tinggal di apartement. Dia ingin tinggal di tempat yang memiliki halaman yang luas agar bisa menyalurkan hobinya yaitu bercocok tanam. Akhirnya Naruto membeli rumah yang di tempatinya sekarang dari uangnya sendiri tentunya. Dan sementara menunggu orang yang akan meyewa apartementnya, tempat itu kosong. Maka dari itu Naruto menyuruh Sakura menempatinya sebelum dia menemukan tempat untuk wanita itu.

Tiga hari ini memang Naruto menemani Sakura, tapi hey bukan dalam artian menemani selama 24 jam. Dia kan harus bekerja juga. Hanya ketika perempuan itu sedang membutuhkannya saja, seperti saat dirinya menemani Sakura cek up ke dokter.

Dia memang salah tidak berkata jujur pada Hinata, tapi lelaki bodoh mana yang akan bilang pada istrinya bahwa dia sedang mengurusi wanita lain apalagi itu adalah si cinta masa lalu. Walaupun Naruto tahu mungkin istrinya itu akan mengerti tapi dia pasti sakit hati dan itulah yang di hindari Naruto. Melihat istrinya sakit hati bukanlah emosi yang baik untuk dirinya.

Namun harapan tinggalah harapan, niat ingin menghindari Hinata yang sakit hati. Yang terjadi malah lebih parah dari yang di takutkan.. ahh benar-benar nasib.