Choose!
Pair: BoBoiBoy x Yaya
Genre: Romance, Humor, & Family
Disclaimer: BoBoiBoy adalah milik Animonsta, Ni-chan hanya meminjam karakternya saja
Warning: Typo, Gaje, OOC, Abal-abal, Humor gagal, dll.
Cerita ini muncul di pikiran saya saat menonton BoBoiBoy Movie, apabila ada kesamaan dengan yang lain itu hanya kebetulan semata :)
Happy Reading~!
RnR please?
Chapter 2
Fajar mulai menyingsing. Cahaya matahari menyelip masuk melewati sela-sela gorden yang belum terbuka. Ayam-ayam berkokokan dan udara segar menyelinap masuk. Benar-benar pagi yang damai dan tentram, andai saja tidak ada teriakan-teriakan nggak jelas ini…
"TAUFAAANNN! Buruan keluarr! Aku belum mandi nih!" teriak Halilintar sembari menggedor-gedor pintu kamar mandi yang tak berdosa itu. "Sudah sejam kau nggak keluar-keluar! Gantiaaann! Kan aku mau sekolah!"
"Kak Hali sabar dulu dong! Belum ada sejam kok! Parabola ah! Tadi aku lagi ada 'urusan belakang', jadi ini baru mau mandi nih. Basah aja belom!" balas Taufan dari dalam kamar mandi.
"Apaa?! Cepetaan! Aku nggak mau telat datang ke sekolah!" Halilintar makin keras gedor pintunya.
"Isshh! Kalau Kak Hali memang mau cepet-cepet, ya udah barengan sini!" Taufan membuka sedikit pintu kamar mandi.
"Ogah! Kenapa aku mesti mandi bareng kau? Kita kan bukan anak kecil lagi pakai mandi bareng sampai bikin lantai licin gegara sabun dan sampo berbotol-botol! Udahlah! Buruan! Awas ngomong lagi! Nanti kukasih belut listrik itu bak mandi!" ancam Halilintar sambil membanting pintu kamar mandi yang hampir terbuka seluruhnya dan menampakkan Taufan yang hanya mengenakan bawahan tadi.
"Kak Hali jahaatt!" Taufan mewek.
Gempa langsung terbangun begitu mendengar teriakan-teriakan dari lantai bawah yang bising itu.
"Duhh, pagi-pagi sudah ribut. Apaan sih?" Gempa bergegas menuruni tangga, dan menemukan Halilintar yang sedang membawa handuk dan gelas berisi sikat gigi dan odolnya, yang lagi menggedor-gedor pintu kamar mandi dimana Taufan sedang asyik sampoan dari dalam yang siulannya aja kedengaran sampai luar dan bikin Halilintar makin mendidih.
Gempa langsung saja ke dapur ruang makan dimana Air dengan santainya menyeruput cokelat hangatnya dan Api yang sedang terburu-buru mengunyah rotinya.
"Oh, Kak Gempa sudah bangun!" ujar Api semangat seperti biasa.
"Lho? Gempa belum mandi?" tanya Tok Aba.
"Aih? Memang mesti sekolah semua kah Tok? Nggak satu orang aja? Lagian gimana bisa mandi? Itu dua lagi berantem memperebutkan hak kuasa atas kamar mandi, kalau ikut-ikutan bisa-bisa remuk ini badan," desah Gempa lalu duduk di salah satu kursi meja makan.
"Eit, nggak boleh ada yang bolos-bolos. Semua harus masuk sekolah! Nggak guna kalau cuma satu cucu Atok saja yang pintar, semua harus pintar! Hehe," tekan Tok Aba.
"Hahaha, ya Kak Gempa sarapan dulu aja. Makanya lain kali mandi sebelum Kak Taufan. Kak Taufan kalau mandi … amit-amit lamanya!" ujar Api dengan nada mengejek.
Gempa mengernyit, "Masa dia mandi selama itu?"
"Itu tuh, baru keluar, padahal Kak Hali sudah gedor-gedor pintu selama setengah jam," celetuk Air, sambil memutar kepalanya pada sosok yang mirip dirinya yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Heeii, tadi pada ngomongin apa?" tanya Taufan dengan muka tanpa dosa sambil melilitkan handuk lembut untuk membungkus rambutnya.
"Nggak ada apa-apa. Cuma … seragam kita pas nggak buat kita berlima … gitu, hehe," Gempa nyengir.
"Hooo~," Taufan ber-oh ria.
"Tapi ngomong-ngomong, seriusan! Perlengkapan sekolah kita gimana?"
"Hai?"
Tuh kan bener. Mereka sama sekali nggak sadar soal perlengkapan. Tas kan cuma ada satu. Ada dua sih, sebenarnya. Yang satu cadangan, tapi itu juga udah butut banget. Buku-buku juga cuma satu per satu mata pelajaran. Kalau seragam, ada lima, tapi itu sebenernya untuk seragam seminggu penuh. Kalau dipakai semua tiap hari, ya tiap hari juga harus nyuci. Tapi mau gimana lagi?
"Gimana nih Tok?" tanya Gempa.
"Ah … hahaha, pokoknya pergi sekolah dulu lah. Yang itu, pikirkan nanti. Oke? Nanti Atok usahakan," ujar Tok Aba.
"Duhh …" Gempa langsung galau, tepat saat itu juga Halilintar keluar dari kamar mandi, berjalan ke meja makan dan duduk tepat di sebelah Taufan sambil bersungut-sungut.
"Aku mandi aja nggak sampai sepuluh menit, kau mandi nunggunya orang sampai berjenggot tau nggak? Kak, kau belum mandi kan? Mandi sudah tuh, kan bentar lagi sekolah." Halilintar mengingatkan.
"Waduh! Jam berapa nih?"
"Jam tujuh kurang lima. Kita biasa berangkat sekolah jam tujuh pas kan? Soalnya jalan ke sekolah aja udah makan waktu 15-20 menit, tepat waktu, daripada kena marah Yaya," sahut Taufan.
"Kenapa kalian nggak ingetin dari tadi sihh?!" Gempat langsung buru-buru mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi, sementara adik-adiknya hanya angkat bahu dan Air dengan cueknya nambah cokelat panasnya untuk yang ketujuh kali sebelum berniat menyudahi sarapannya.
Setelah Gempa selesai mandi, jam sudah menunjukkan pukul tujuh lewat lima, seharusnya sudah telat banget ini. Dia segera memakai seragam putih lengan panjang dan hoodie tanpa lengan hitam-emas miliknya lalu menyusul adik-adiknya yang sudah ribut teriak-teriak memanggil namanya untuk berangkat sekolah sama-sama.
Gempa segera turun dan berangkat bersama adik-adiknya.
"Huuhh, kenapa jadi kayak gini sih?"
"Yah, mau diapakan lagi Kak? Takdir …" ujar Taufan yang menggunakan hoverboard-nya untuk pergi ke sekolah. Memang sedikit berlebihan, tapi untuk kelihatan lebih keren, apa sih yang enggak bagi cowok yang lumayan narsis yang satu ini?
"Takdir sih takdir! Tapi ini lebih kayak musibah!" dengus Halilintar.
"Alah, nikmati aja lah Kak. Nggak ada salahnya kayak gini terus. Kakak nggak ngerti perasaanku sih, yang cuma keluar main malam-malam sendirian," celetuk Api.
"Nikmati gimana! Harusnya kita mikir cara kembali seperti semula, bukan cuma menikmati keadaan nggak jelas gini!" seru Gempa, yang entah kenapa dari lima orang ini dia yang paling cocok jadi tsukkomi.
Sampai akhirnya setelah berjalan di lorong Pak Senin Koboi, sekolah mereka terlihat juga. Sekolah Menengah Pulau Rintis, berdiri kokoh di depan kelima kembaran itu. Bangunan besar itu bercat cokelat muda, tidak seperti Sekolah Dasar (Rendah) mereka dulu yang bercat kuning krem. Tapi mereka tidak punya waktu untuk mengagumi hal itu lama-lama, karena jam sudah menunjukkan pukul 07.27, sementara waktu bel masuk berbunyi adalah jam 07.30 tepat, jadi tinggal 3 menit saja lagi. Dan bahayanya Yaya sudah berjaga di pintu gerbang.
"Duh, gimana nih? Yaya sudah jaga tuh! Uhhh … kena denda lagi deh …" Taufan langsung pesimis.
"Masih sempat kok! Ntar kan kita bisa sampai pas-pasan!" sahut Api.
"Hei, kalian lupa? Bagi Yaya, sampai pas-pasan itu juga termasuk telat kan?" ujar Halilintar.
"Masa bodo dah. Kalau telat ya balik aja pulang ke rumah. Rileks," kata Air cuek.
"Woi! Sudahan pang kalian! Dari pada banyak bacot sudah kita hadapi aja. Mau didenda juga terserah! Daripada dianggap bolos sekolah? Aku duluan!" Gempa yang emosi langsung berjalan mendahului adik-adiknya yang masih tercengang melihat tingkahnya yang heroik itu, berani menantang murid perempuan yang paling ditakuti di sekolah, padahal mereka berlima sama-sama punya ketertarikan masing-masing terhadap perempuan itu. "Kenapa keadaan ini terasa déjà vu banget sih?"
Mau tak mau Gempa teringat pengalamannya pergi ke sekolah bersama Gopal dan Fang dulu sewaktu kelas lima, dimana mereka hampir saja terlambat mengingat bel masuk akan berbunyi 30 detik lagi dan mereka terpaksa masuk sekolah lewat ruang guru.
"Oh, Boboiboy! Akhirnya datang juga!" Yaya bergegas menghampiri Gempa yang awalnya sempat dikiranya Boboiboy original, tapi begitu melihat hoodie tanpa lengan hitam-emas yang biasa dipakai oleh Gempa, Yaya pun tersadar. "Kau … Gempa kan? Jadi memang masih belum kembali juga?"
"Eh … haha, begitulah."
"Sendiri aja? Empat lainnya mana?"
"Tuh, sembunyi di balik pohon," Gempa dengan cueknya menunjuk lokasi persembunyian adik-adiknya tercinta.
"Kaaakkk! Kenapa dikasih tauu!" seru Taufan panik lalu memacu hoverboard-nya dan berhenti tepat di sebelah Gempa dan di depan Yaya.
"Terus kalian mau sembunyi di sana sampai bel masuk? Enggak kan?"
"Kalian ayo cepat masuk! Satu menit lagi bel masuk bunyi! Jangan sampai guru-guru menemukan kalian yang masih lari-larian di koridor!" Yaya mengkoordinir Boboiboy untuk segera masuk ke sekolah, dan arahannya langsung diikuti oleh kelima-limanya.
Jam pelajaran pertama, Matematika. Seperti biasa Guru Papa Zola masuk ke kelas sambil menenteng beberapa LKS dan buku rumus, tak lupa kertas-kertas yang jumlahnya banyak yang membuat firasatmu buruk dan takut-takut kalau-kalau ada ujian dadakan.
Papa Zola dan anak-anak di kelas Boboiboy dan kawan-kawan, kelas IX-J, kaget setengah mati begitu tahu fakta bahwa ada salah satu anak murid dan temannya yang sekarang sedang mengganda menjadi lima dan tidak bisa kembali menjadi satu untuk sementara, tapi mereka segera menyesuaikan diri dengan itu dan menganggap mereka sebagai murid biasa. Papa Zola pun sudah memintakan empat kursi dan meja tambahan lagi untuk Boboiboy, serta meminjamkan beberapa buku pelajaran dari perpustakaan sekolah. Untungnya lagi setelah itu pelajaran berjalan seperti biasa. Tidak ada ulangan dadakan, safe!
Bel istirahat berbunyi dan keempat adik Gempa mendadak dikerumuni oleh orang ramai. Tentu saja Gempa nggak laku, soalnya kan dia yang paling mirip Boboiboy yang original (puk puk Gempa), meski lebih dewasa dari yang asli. Yaya melihat Gempa yang senggang pun menegurnya.
"Boboiboy umm ... Gempa, gimana?"
"Gimana apa, Yaya?"
"Tentang kondisi kalian."
"Belum ada perkembangan. Zero." Jawaban telak dari Gempa.
"Hemm … ini masalah yang lumayan besar juga ya," Yaya berpikir. "Bagaimana kalau kita teliti dulu tentang cairan yang digunakan untuk pistol itu, siapa tahu bisa mendapatkan petunjuk yang lumayan?"
"Usul yang bagus! Tapi … kita bahkan tidak punya sampel dari cairan yang ditembakkan oleh pistol itu, bagaimana bisa menelitinya? Dan efeknya saja anti-mainstream gini, membuat superhero yang bisa berpecah tidak bisa bersatu kembali?" Gempa langsung down lagi.
"Ehhh? Maksudku kita coba cek ke perpustakaan dulu, kukira aku pernah melihat buku kimia tentang ramuan-ramuan lengkap, bahkan mencakup ramuan dengan efek dan khasiat yang aneh sekalipun. Coba saja dulu, siapa tahu dapat."
"Boleh juga."
"Yuk! Kita ke perpustakaan sekar-!" Ajakan Yaya langsung terhenti begitu ia mendengar bunyi-bunyi aneh dari perut Gempa, dan sang empunya perut langsung nyengir malu sambil memegangi perutnya.
"Eh … hehe, aku tadi pagi belum sempat sarapan. Aku bangun telat, terus antri mandinya panjang banget sih, dan sudah kesiangan, jadi langsung berangkat sekolah."
"Duhh … nggak boleh gitu. Sarapan itu kan penting, lain kali kau harus sarapan ya, meski cuma sesuap atau dua suap! Aku nggak akan memaafkanmu kalau kau sampai sakit karena memaksakan diri," ujar Yaya. "Meski belum jam makan siang, kau mau ke kantin sekarang, Boboiboy? Aku temani."
Gempa mengangguk kuat. "Mau!"
Gempa dan Yaya langsung saja ke kantin yang terletak di luar bangunan utama sekolah itu. Kantin masih sepi. Tentu saja, ini belum waktunya murid-murid biasa berdatangan untuk mengisi perut. Jam istirahat pertama biasanya hanya koperasi yang penuh, sedangkan kantin akan mulai penuh saat jam istirahat kedua, dimana sudah menjelang siang yang beriringan dengan perut anak-anak yang mulai lapar. Tapi meski masih jam istirahat pertama, disitulah Yaya tengah menyedot susu stroberi kotakannya sambil menemani Gempa yang sedang memakan sebuah roti berukuran besar.
"Hmm … begitu. Kamar mandi juga harus pakai antri ya, padahal itu rumah sendiri."
"Haha … iya kan?" ujar Gempa sambil mengunyah roti yang baru dibelinya, tak ayal dia tersedak dan terbatuk-batuk setelahnya.
"Duh, Boboiboy, jangan bicara sambil makan," Yaya menepuk-nepuk punggung Gempa lalu menyodorkan sebotol air mineral. "Nih, minum."
"Fuhh … makasih, Yaya," ujar Gempa setelah meminum beberapa teguk air mineral.
"Hm, sama-sama." Yaya mengangguk.
Gempa membalasnya dengan senyum tipis dan kembali memakan rotinya sampai habis.
"Nah, kita ke perpustakaan sekarang? Aku juga ingin cepat-cepat kembali menjadi satu bersama dengan adik-adikku," Gempa langsung berdiri.
"Ah, tunggu dulu," Yaya merogoh kantong celananya dan mengeluarkan sebuah sapu tangan merah muda yang motifnya sama seperti jilbab santainya. Bertabur bunga-bunga, tapi ini warna putih. "Sebelum itu, lap mulutmu dulu. Masih belepotan remah roti nih."
Yaya dengan penuh kasih sayang mengelap pelan sekitar mulut sang pengendali elemen tanah tersebut. Muka Gempa langsung memerah, dan dia langsung salah tingkah, berharap-harap andai waktunya bersama Yaya ini tidak akan cepat berlalu. Boboiboy yang asli (dia yang jadi satu dengan adik-adiknya) pasti sudah beberapa kali diperlakukan oleh Yaya seperti ini, tapi untuk Gempa, untuk dirinya hanya sendiri, ini pertama kalinya! Spontan ia langsung ingin membatalkan rencananya dengan Yaya untuk mencari tahu caranya bersatu kembali dengan adik-adiknya secara sepihak, tapi ia tahu itu tidak mungkin. Sesuka apapun ia dengan Yaya dan sekuat apapun keingan Gempa untuk memonopolinya, ia tidak bisa membiarkan keadaannya seperti ini terus, lagi pula ia merasa tidak adil pada adik-adiknya. Tapi kalau ia bisa mendapat satu permohonan, ia hanya ingin waktu ini berlangsung lebih lama …
"AHHHH! Target ditemukaaann! Kak Haliii! Ini nih! Persis seperti yang Kak Hali perkirakan!"
Sebuah seruan berisik, dari siapa lagi kalau bukan Taufan.
"Kak Gempa curang! Masa mau memonopoli Yaya sendiri!" Taufan memacu hoverboard-nya melaju ke arah Gempa, tapi sebelum ia sampai tepat ke depan kakak tertua itu, sebuah bayangan merah menyala sudah terlebih dulu ada di depannya. "Kak Hali!"
"Kak, apa maksud semua ini?" tanya Halilintar dingin dengan tatapannya yang tajam setajam pisau dapur itu.
"Eh! Eng-enggak kok! Kalian salah paham!" Gempa buru-buru menjelaskan. "Aku dan Yaya bermaksud untuk mencari cara untuk mengembalikan kita semua seperti semula, jadi tadi kami berniat ke perpustakaan untuk mencari cairan apa yang Adu Du pakai untuk pistol tersebut. Tapi, sebelum sempat ke perpus, perutku bunyi karena nggak sempat sarapan tadi pagi karena buru-buru, jadi Yaya mengajakku ke kantin deh. Begitu …"
Halilintar dan Taufan masih mencerna penjelasan Gempa barusan. Sedetik kemudian, tampang curiga di wajah Halilintar akhirnya pudar. Gempa pun bisa bernafas lega.
"Hmm … begitu. Alasan yang masuk akal. Tapi apa Kakak bisa memberikan penjelasan lebih lanjut tentang kenapa Kakak mesra-mesraan sama Yaya di kantin tadi?" tanya Halilintar lagi. Gempa, nampaknya kau masih belum bisa bernafas lega, adikmu yang satu ini ternyata curigaan banget. Tapi dibanding curiga, lebih tepatnya kalau dibilang ... cemburu?
"Ehh! Ka-kami nggak mesra-mesraan!" bantah Yaya. "Aku cuma mengelap mulut Gempa aja karena penuh sisa remah roti tadi."
Halilintar terdiam sejenak sambil menatap wajah Yaya yang tak sedikitpun terlihat bahwa ia sedang berbohong. "…jadi begitu. Ya sudahlah," Halilintar langsung berbalik.
"Lho, udahahan Kak? Padahal tadi kan ... ohhh … aku tahu! Jadi kalau yang ngasih alasan itu Yaya, Kak Hali langsung jadi nggak ber-aduh! Aduhh! Kakkk! Kak Haliii! Sakiitt laaaahhh!" Taufan yang barusan mau ceplas-ceplos lagi langsung diseret-seret oleh Halilintar yang mencengkram jumper hoodie biru raven milik Taufan menuju ke arah kelas yang berbarengan dengan bel masuk yang kini berbunyi.
"Boboiboy! Ayo kita cepat ke kelas! Sudah masukan nih! Kita nanti saja ke perpustakaannya. Yuk, nanti telat!" ajak Yaya.
"Eh, iya," Boboiboy segera mengikuti Yaya yang sudah terlebih dahulu berlari. Tentu saja, sebagai seorang siswa teladan dan pelajar yang dicintai pada abad ini di sekolahnya, ia tidak boleh telat pada saat jam pelajaran, apalagi membolos.
"Oke, sudah dulu untuk hari ini. Jumpa lagi minggu depan, anak-anak murid kebenaran, bye bye!" ucap Papa Zola, yang entah kenapa ia mengajar di dua jam pelajaran hari ini. Katanya sih guru Kimia mereka lagi sakit, jadi pelajaran Kimia diganti dengan pelajaran Matematika, dobel deh.
"TUNGGU, PAK GURU!" seru seluruh anak murid kelas spontan sewaktu mendengar 'jumpa lagi minggu depan' dari Papa Zola. Padahal ini baru hari Senin, nggak mungkin dong mereka nggak akan ketemu Papa Zola padahal nanti hari Kamis bakal ada pelajaran Pendidikan Jasmani, terus nanti juga akan ada pelajaran Matematika lagi di hari yang lain.
"Ya, ada apakah wahai murid-murid kebenaran?"
"Kenapa 'jumpa minggu depan' Pak Guru? Bukannya nanti bakal ada pelajaran lain yang gurunya itu Papa juga kan?" tanya Gopal, mewakili yang lain.
"Oh ya, Papa lupa," Papa Zola segera kembali masuk ke kelas dan membagikan selebaran satu per satu pada murid-muridnya. "Nah, kalian berlima Boboiboy dapat satu aja ya. Mubazir kertas. Lagian memang cuma ada 12 lembar." Memang, tentu saja pihak sekolah tidak pernah memperkirakan satu kelas yang biasanya hanya ada 12 orang mendadak menjadi 16 orang.
"Hmm, iya lah Pak Guru," kata Gempa menghela nafas. Ia menerima selebaran dari Pak Guru Papa Zola, dan dia langsung didatangi adik-adiknya.
"Apaan tuh?"
"Ng … Sekolah Menengah Pulau Rintis akan memberikan liburan sebanyak lima hari dari hari Selasa sampai Sabtu karena guru-guru akan ada rapat soal festival sekolah. Masuk kembali seperti biasa hari Senin depannya," Gempa membacakan inti isi selebaran itu.
"Eh? Rapat festival sekolah sampai lima hari?" Halilintar menyadari ada yang janggal dari laporan barusan.
"Hei, mesti lah," ujar Pak Guru Papa Zola. "Kalau kau nggak percaya, ini Papa kasih liat jadwal rapatnya. Lihat nih! Lihat! Puas?!" Guru nyetrik tersebut menempelkan secara kasar sebuah kertas lagi pada kepala Halilintar. Untung dia nggak ngamuk, dan justru mencabut kertas itu dari mukanya, meskipun ekspresinya bersungut-sungut tak terima.
"Aih? Jadwal rapat macam apa nih?" Halilintar mengernyit.
"Mana? Mana?" Seisi kelas langsung mengerubungi Halilintar, ingin melihat juga apa yang tertulis di kertas yang diberikan guru mereka barusan.
Rapat Guru Sekolah Menengah Pulau Rintis
Yang dibahas: Festival Sekolah Tahunan
Jadwal rapat:
Hari Selasa – Pembukaan rapat (Cuma salam pembuka saja, setelah itu pulang)
Hari Rabu – Pembahasan tentang festival sekolah tahunan (Rapat yang sebenarnya)
Hari Kamis – Penutupan rapat (Cuma kata-kata penutup saja, setelah itu pulang)
Hari Jumat – Hari libur sepihak, guru pada capek habis rapat, jadi liburkan saja
Hari Sabtu – Hari libur Nasional
"Haiya, jadwal rapat macam apa nih? Habis salam pembuka dan penutup langsung pulang? Rapatnya tiga hari berturut-turut? Terus lagi mana ada hari libur gara-gara 'Guru Capek Habis Rapat'?" protes Ying. "Cuma rapat tentang festival sekolah tahunan aja sampai pakai libur semingguan?"
"Hei, hei, hei, kalian ini nggak pernah memikirkan perasaan guru-guru yang banting tulang demi kehidupan sekolah kalian yang menyenangkan kan?! Capek jadi guru itu! Tahu nggak?! Jadi Papa mengusulkan untuk jadwal santai seperti ini, dan Kepala Sekolah menerimanya!" ujar Pak Guru Papa Zola dengan bangga.
"Kepala Sekolah nerima?!"
Kepala Sekolah macam apa yang nerima jadwal rapat ngawur kayak gini? Dan lagi sebenarnya sekolah macam apa ini?
"Hei, hei, sudahlah! Sudah jam pulangan ini! Bubar! Sekarang! JUGAAA!" teriak Pak Guru Papa Zola.
"Hemm … iya lah, Pak Guru," jawab murid-murid lemes dan langsung buru-buru keluar kelas sebelum gendang telinga mereka pecah karena dengar teriakan guru 'kesayangan' mereka itu.
Gempa pun segera mengemas barang-barangnya dan merapikan topinya, sembari memikirkan akan ia apakan liburan seminggu itu. Jawabannya sudah pasti! Ia akan mengajak Yaya jalan-jalan ke …
"Yaya! Mau nggak jalan-jalan sama aku besok? Kan libur?" tawar Taufan mendahului.
"Jalan-jalan ya? Aku mau kok, Taufan! Aku juga lagi pengen keluar!" Yaya menerimanya dengan senyuman lebar, membuat semua saudara-saudara Taufan melotot ke arahnya, khususnya Halilintar.
"Haaahh? Kak Taufan curang! Harusnya aku sama Yaya yang jalan-jalan besok!" seru Api mengeluarkan protesnya.
"Nggak! Kan aku sudah ajak Yaya duluan!" kata Taufan sambil membusungkan dada.
"Daripada mereka berdua yang nggak jelas ini yang ajak kau jalan-jalan, mending sama aku saja, Yaya," ujar Halilintar sambil menatap Yaya tajam yang membuat gadis itu ngeri dan secara otomatis menelan ludah dan menganggukkan kepalanya.
"Ahhh! Kak Hali curangg! Kan aku barusan aja Yaya duluan!" Taufan ngambek.
"Hei, hei! Kalian ini gimana sih? Aku kan pemimpinnya! Harusnya aku yang jalan-jalan duluan bareng Yaya besok!" Gempa langsung ikut campur.
Yaya mendadak bingung, kenapa mereka malah mulai bertengkar memperebutkan dia? Padahal Yaya barusan cuma menerima ajakan jalan-jalan dari Taufan, tapi tiba-tiba keempat Boboiboy yang lain langsung protes dan berebut mengajaknya jalan-jalan bersamanya. Apa sebabnya ya … Eh, jangan-jangan …!
"Eh? Aku juga mau jalan-jalan sama kau kok, Yaya," ujar Air yang baru saja bangun tidur. Mendengar nama Yaya yang tengah diperebutkan oleh saudara-saudaranya, tentu saja ia juga tidak berniat untuk kalah.
"Hmh! Mending Yaya jalan-jalan sama aku dibanding anak hiperaktif nggak jelas kayak kalian!" Halilintar menunjuk kedua adiknya, Taufan dan Api.
"Apaa?! Aku juga punya hak untuk mengajak Yaya! Bukan cuma Kak Halilintar aja yang boleh!" protes Api.
"Aku juga kok! Apalagi barusan Yaya sudah terima kalau aku yang bakal bawa dia jalan-jalan besok! Pokoknya aku yang jalan besok sama Yaya! Titik!" seru Taufan nggak mau kalah.
Yaya yang kini menyadari apa yang menyebabkan kelima Boboiboy itu memperebutkannya sekaligus, langsung berteriak. "Sudaaahhh! Jangan berantem di dalam kelas! Kalian mau nama kalian berlima kucatat sekaligus?!" seru Yaya yang langsung memperlihatkan pulpen multi-warna dengan hiasan kepala dombanya yang bergoyang-goyang dengan sensasi horor bagi murid-murid SMP Pulau Rintis.
"Ehhh?! Nggak-nggak!" Kelima Boboiboy langsung menggeleng-gelengkan kepala kuat.
"Fuuhh … ya sudah, begini aja. Kan kita ada jatah libur lima hari, dan kalian ada berlima, kenapa nggak satu-satu aja? Kalaupun kalian rebutan mau ngajak aku jalan-jalan di hari yang sama, nggak mungkin lah! Aku mana bisa berpecah kayak kalian. Kalian mau belah badanku ini jadi lima?" Yaya tertawa kecil. "Kalian tinggal tentukan saja sendiri. Siapa yang jalan-jalan dengan aku duluan besok, sampai hari Sabtu nanti." Yaya memberi usulan yang bagus.
Gempa manggut-manggut. "Benar juga! Kalau berganti-gantian kan adil ya! Oke, jadi sekarang, siapa yang besok mau jalan-jalan sama Yaya? Aku aja ya?"
"Enak aja! Pokoknya aku! Kan aku yang barusan ajak Yaya jalan-jalan duluan?! Kenapa Kak Gempa nyerobot! Nggak! Nggak bisa! Pokoknya harus Taufaaan!" jerit Taufan nggak terima.
"Aku juga maunya ngajak jalan-jalan Yaya yang masih fresh, yang belum diduluin sama kalian-kalian semua." Halilintar mengucapkan kata-kata yang ambigu, diikuti dengan Yaya yang kini merinding ngeri, meski ia tahu bukan itu maksud si pengendali elemen petir.
"Ahh! Nggak bisaa! Yaya sama aku aja! Aku kan lebih ganteng daripada mereka berempat!" Api sempat-sempatnya numpang narsis.
"Alah, Kak Api itu nggak ada apa-apanya kalau dibandingkan sama aku," Air nimbrung.
"Apa kau bilang?" Api langsung naik darah.
Duh, kok kayaknya pembagian jatah 'Jalan-Jalan Bergiliran'-nya nggak berjalan lancar ya? Kenapa sebegitunya sih, ngerebutin cewek yang kalian suka? Toh kalian semua kan sama-sama Boboiboy, bukan orang lain. Aslinya juga satu tubuh, kenapa pada ribut? Tuh, mereka aja mau berantem lagi.
"Pokoknya aku duluan! Kan katanya aku kakak kalian semua!"
"Kakak yang harusnya mengalah dengan adik dong! Nggak bisa! Taufan duluan!"
"Enak aja! Api dulu!"
"Air duluan, kan aku adik yang paling uncit. Kakak-kakak ngalah dong."
"Berisik kalian semua. Tentu saja aku duluan!"
Yaya yang sudah nggak tahan lagi langsung menggebrak meja sehingga mengeluarkan bunyi yang sangat keras. Untungnya itu meja nggak hancur.
"Oke! Biar kalian berhenti ribut, aku yang akan tentukan urutannya! Berikan aku waktu semalam untuk berpikir! Kalau bisa besok pagi aku sudah memberikan kalian jawabannya lewat ponsel. Nah, kita harus segera pulang nih, kasihan dari tadi Ying, Gopal, dan Fang nungguin kita!" Yaya menunjuk tiga sahabat mereka yang dari tadi menunggu sembari menonton perkelahian mereka di depan kelas dan nggak berani negur ataupun ikut campur. Kelima Boboiboy hanya nyengir lalu minta maaf karena telah membuat mereka menunggu lalu mereka pun pulang bersama.
~To Be Continued~
Uphh~! Pegal bahu dan pinggang habis ngetik demi apdet cepet nih… meski gak bisa dibilang apdet cepet sih. Oke, lupakan soal Ni-chan, dan pikirkan saja posisi Yaya. Siapa yang bakal dia pilih buat jalan-jalan duluan sama dia nih, kira-kira? Hehe, silakan tunggu di chapter berikutnya! XD
Oh ya, ngomong-ngomong, tempat kencan yang bagus selain akuarium, mal (termasuk bioskop, game center, dan kawan-kawannya), taman bermain, sama festival apa ya? Ni-chan butuh inspirasi~ X'3
Balasan review yang nggak login:
bunga, sofy:
Sudah lanjut, selamat membaca X3
Aline:
Siip lah kalau setuju X3 Sudah apdet, selamat membaca XD
Ililara:
Setelah membaca chapter ini Ililara-san bisa menyimpulkannya sendiri kan? :3
encik melayu:
Api dan Air tahap 1 karna ada sebab dibalik tu. Ini dah mula, tapi lambat sangat ya? :'3 Lalu ... soal Yaya suka Boboiboy Taufan, hmm ... coba nanti Ni-chan usahakan. Halo, Ni-chan orang Indonesia :D
Ellena:
Iya, memang agak lambat ya, jalannya? T_T Maaf, habis ini udah sesuai plot, tahan aja ya :) /woi
Hikaru Q.A:
Seenggaknya saat ini mereka nggak akan lupa kok. Sampai kapan mereka berpecah dan apa ada penawarnya? Hmm ... liat aja ya... hehe X3
Sekali lagi terima kasih sudah me-review fanfic Ni-chan, ketemu lagi di chapter berikutnya~ XD
