Happy Reading
BREATH
Disclaimer : Masasahi Kishimoto
Pair : (Naruto x Hinata) Itachi, Sakura
Warning : AU, Typo (s) dan segala kekurangan lainnya
DON'T LIKE! DON'T READ!
Chapter 7
Akhir-akhir ini Naruto jadi malas pulang kerumah, dia tak sanggup berada di rumah sendirian sementara sang istri entah dimana. Biasanya meskipun Naruto sedang pergi keluar kota untuk urusan bisnis dan tidak bertemu sang istri dalam beberapa hari, dia bisa tetap menghubunginya. Namun saat ini dia merasa frustasi, dia benar-benar merindukan istrinya, tak mendengar suaranya sehari saja serasa ada yang kurang dan ini sudah 3 hari, ahh dia bisa gila jika terus seperti ini. Semua pekerjaannya jadi kacau, untung masih ada Iruka yang bisa diandalkan.
Sterssnya semakin meningkat mengingat dia terakhir kali melihat Hinata di bawa pergi oleh Itachi. Setahunya Itachi kan menyukai istrinya itu, ya memang Hinata sepertinya tidak memiliki perasaan yang sama, namun siapa yang tahu, apalagi dengan kejadian yang mereka alami kemarin. Dia jadi khawatir perasaan istrinya jadi berubah haluan..
"Arrrgh...shit..shit...shit" kali ini entah ponsel ke berapa yang sudah menjadi korban amukannya karena tak berhasil menghubungi istrinya.
"kau terlihat kacau Naruto" Iruka masuk ke dalam ruangan dan menyerahkan beberapa berkas yang harus di tandatangani bosnya itu. "apa kau sedang ada maslah Naruto? kau boleh membaginya. Ya walaupun kita adalah lelaki bukan berarti kita tidak boleh berbagi masalah, barangkali aku bisa membantu."
" Istriku tidak pulang paman, kau tahu biasanya meskipun aku tak bertemu dengannya, aku masih bisa mendengar suaranya. Namun sekarang sudah 3 hari ini aku tak melihatnya dan tak mendengar suaranya. Aku bisa benar-benar gila lama-lama"
"kau pasti sangat mencintai istrimu itu?"
"apa maksud paman?" Naruto bertanya
"apa maksudmu dengan apa maksud paman?" iruka heran dengan pertanyaan Naruto
"ucapan paman yang tadi"
"oh.. bahwa kau sangat mencintai istrimu?" tanya Iruka dan Naruto hanya mengangguk. "hei..orang buta saja sudah dapat melihat bahwa kau mencintai istrimu, sangat malah. Lalu apa masalahnya dengan perkataanku tadi?"
"itu.. tapi aku menikah dengan Hinata karena..." Naruto menceritakan tentang awal mula pernikahannya dengan sang istri
.
.
.
.
Hinata sedang termenung sambil duduk di atas ranjang, dia masih di apartement Konan sampai saat ini. Semua itu atas permintaan wanita berambuut sebahu itu. Saat Hinata minta di antar mencari hotel atau apartemen untuk tinggalnya sementara, Konaan melarang dan menyuruh Hinata tinggal di apartementnya "tinggal disini saja Hinata, aku disini tinggal sendiri. Jadi aku senang jika ada teman" ujarnya saat itu. itachi juga menyetujui usulan Konan dengan sangat baik.
Ini sudah hari ke tiga sejak pertengkarannya dengan Naruto, sejujurnya dia sangat merindukan sang suami. Rindu suaranya, rindu pelukan hangatnya, rindu ramen buatannya. Rasanya mata Hinata mulai berkaca-kaca jika mengingat suaminya itu.. Narutoo...
"hai.. Hinata.." Konan tiba-tiba menghampiri Hinata yang segera mengusap air matanya. "ini.." konan menyodorkan segelas air hangat yang aromanya khas dan cukup menenangkan bagi Hinata.
"terimakasih kak" Hinata menerima gelas tersebut kemudian menyesapnya "hmm.. ini enak, air apa ini?" tanyanya penasaran
"oh itu air jahe, sengaja aku buat tadi. Lumayan untuk menghangatkan tubuh dan menghilangkan mual. Baik juga untuk ibu hamil sepertimu." Konan berhenti sebentar dan memandang wajah Hinata "Kau merindukan suamimu?.."
"itu.." Hinata menjawab ragu
"tak apa Hinata, aku tidak tahu masalah apa yang sedang kalian hadapi, tapi jika aku boleh berpendapat. Sebaiknya kau bicarakan masalah apapun yang sedang kau milki dengan suamimu. Jika seperti ini terus masalah tak akan selesai. Bukan berarti aku tak suka kau tinggal di sini Hinata, kau sudah aku anggap seperti adik ku sendiri meskipun kita baru bertemu 3 hari yang lalu. Aku tidak suka melihatmu bersedih karena merindukan suamimu. Setiap masalah pasti ada penyelesaiannya, jadi pertimbangkan saranku tadi OK. dan lagi emosi yang seperti ini tidak baik untuk kandunganmu" nasihat Konan sambil mengusap tangan hinata..
"terimaksih Kak.. aku .." dia semakin gugup dan matanya kembali berkaca-kaca
"tok..tok"
"hei Itachi kau sudah datang?" tanya Konan melihat Itachi di ambang pintu
"Konan, aku bisa bicara sebentar dengan Hinata?" tanya Itachi sambil menghampiri HInata dan Konan
"Hmm..baiklah aku juga mau siap-siap berangkat ke kantor" dengan itu Konan meninggalkan Hinata dan Itachi..
"Hinata.." Itachi memulai pembicaraan
"mmm.." Hinata mendengarkan sambil menunduk, berusaha menutupi matanya yang sudah berkaca-kaca
"aku fikir yang Konan katakan itu benar" Ujar Itachi. Sebenarnya sulung uchiha itu sudah ada di balik pintu sejak tadi, tapi dia sengaja bersembunyi sebentar ketika mendengar obrolan Konan dan Hinata di Kamar.
"tapi kak.. aku belum siap.." jawabnya sambil terus menunduk
"sampai kapan? aku tidak mau melihatmu terus-terusan bersedih"
"aku..aku tidak tahu.. aku.." Hinata menjawab terbata dengan tangan yang mengusap air matanya yang hendak terjatuh.
"aku akan menceritakan sebuah rahasia padamu, jadi dengarkan baik-baik apa yang aku katakan OK.." Itachi memotong pembicaraan Hinata, Hinata hanya mengangguk
"kau tahu Hinata sebenarnya Sasuke mencintaimu"
"apa?.. apa maksudnya kak. aku...aku "
.
.
.
.
Itachi Uchiiha sulung keluarga Uchiha merupakan jenius di keluarganya. Dia terkesan perfectionis. Meskipun dia merupakan keturunana Uchiha, tapi sifatnya yang hangat dan tak suka kekerasan berbeda dari anggota keluarga Uchiha lainnya. Dia sangat menyayangi keluarganya terutama sang adik tercinta Sasuke Uchiha.
Saking sayangnya kepada sang adik Itachi pernah menghajar sekelompok kakak kelasnya, karena mereka telah membuly Sasuke. Meskipun dengan resiko dia terkena skors selama 2 minggu karena membuat anak-anak itu menjadi babak belur, bahkan sebagian ada yang masuk rumah sakit. Itachi sang pecintai damai melanggar keyakinannya demi membela sang adik.
Tidak seperti Itachi, Sasuke sang adik terkesan lebih dingin dan arogan. Seperti sebagian keluarga Uchiha, Sasuke dan Itachi pun dikagumi para gadis meskipun di usia mereka yang masih kecil. Sifat Sasuke sangat terlihat dingin jika dia berdekatan dengan para penggemar permpuannya. Dia tak segan-segan membentak seorang gadis hanya karena gadis itu mengajaknya berbicara. Tapi semua itu berubah saat Sasuke bertemu dengan seorang gadis di pesta ulang tahunnya.
Saat itu keluarga Uchiha mengadakan pesta ulang tahun untuk Sasuke yang ke 10. Sasuke yang memang tidak suka dengan perempuan terlihat cemberut dan kesal sepanjang pesta berlangsung. Itachi hanya terkekeh melihat tingkah adiknya itu sementara Mikoto sudah prustasi dengan kelakuan anaknya. Bagaimana tidak, Sasuke terus-terusan menatap sinis para gadis kecil yang memberikannya kado.
"Sasu.. jangan seperti itu, ayo tersenyum ini kan pesta ulang tahunmu" bujuk Mikoto pada putra bungsunya "masa semua teman-temanmu kau tatap seperti itu sih?"
"biar ibu.. aku tidak suka mereka, mereka semua berisik dan menganggu" jawab Sasuke menghiraukan bujukan ibunya dan terus-terusan cemberut.
Itachi yang berdiri di dekat sang adik hanya memandang bosan kepada ibu dan adiknya. Tiba-tiba pandangannya jatuh pada 2 orang anak kecil yang berjalan ke arah mereka. Seorang anak laki-laki seumurannya sedang menuntun seorang gadis kecil berambut indigo sebahu, kira kira usianya sama dengan Sasuke.
"maaf bibi kami baru bisa datang" ujar si anak lelaki kepada Mikoto
"ohh.. Neji tidak apa-apa mana ayahmu, apa dia tidak datang?"
"dia datang bibi, tapi sedang mengobrol dengan paman, kami ke sini untuk memberikan kado pada Sasuke" jawabnya, kemudian Mikoto melihat seorang gadis selain Neji
"Apa ini Hinata ?" tanya Mikoto "wah kau cantik sekali sayang" ujar Mikoto sambil mengelus kepala Hinata lembut
"terimaksih bibi, iya aku Hinata. Salam kenal" ucap Hinata malu-malu dengan ppi merona
"ahaha kau lucu sekali sayang, oh iya ini Sasuke dan Itachi anak-anak bibi" Mikoto memperkenalkan Itachi dan Sasuke yang berdiri di sisinya. Itachi langsung mendekati Hinata dan mengajaknya berkenalan. Awalnya Itachi tidak menyadari tingkah Sasuke namun ketika ibunya memanggil nama Sasuke beberapa kali barulah dia sadar bahwa dari tadi Sasuke terdiam dengan pipi merona melihat Hinata. Di situlah Itachi sadar bahwa Sasuke menyukai si gadis kecil berambut Indigo.
Setelah acara ulang tahun Sasuke, adiknya itu sering meminta sang ibu untuk mengajaknya berkunjung ke rumah keluarga Hyuga. Itachi tahu bahwa sang adik hanya ingin bertemu dengan si gadis indigo yang di sukainya. Mulai dari saat itu Sasuke terlihat lebih sering tersenyum dan merona apalagi di saat Iitachi menggoda adiknya itu tentang Hinata. Namun pridenya yang tinggi meskipun di usianya yang masih belia, membuatnya tidak pernah mengugkapkan rasa sukanya pada sang gadis.
Sampai di pertengahan semester satu kelas 1 junior high school, keluarga Hyuga pindah keluar kota bersama sang gadis pujaan Sasuke. Adiknya itu berubah kembali menjadi pria yang dingin dan jarang tersenyum apalagi merona. Itachi fikir mungkin itu reaksi yang wajar karena gadis yang disukainya tak bisa dia temui lagi. Lama kelamaan nanti sasuke akan terbiasa apalagi usia Sasuke waktu itu masih sangat kecil kan, dan rasa cintanya pada Hinata bisa saja hanya berupa cinta monyet..
"- aku kira rasa cinta Sasuke padamu sudah padam dengan seiring waktu, meskipun selama masa itu aku tak pernah melihat atau mendengar adikku menjalani hubungan dengan seorang perempuan. Padahal yang ku tahu banyak gadis yang menyukainya. ku fikir mungkin dia belum menemukan seseorang yang cocok saja untuk dirinya." Itachi terdiam sebentar
" saat itu Sasuke dan kau sudah sama-sama kuliah di Universitas Konoha. Suatu malam aku memasuki kamar Sasuke tanpa sepengetahuannya untuk meminjam sesuatu padanya. Kau tahu apa yang kulihat?" Itachi bertanya pertanyaan yang retoris. Hinata hanya menggelang
"aku melihat Sasuke sedang tertidur dengan memeluk selembar foto. Karena penasaran aku coba melihat foto yang sedang di peluknya. Ketika aku berhasil mengambilnya, foto yang ku lihat adalah fotomu Hinata. Ternyata selama itu dia masih mencintaimu. Namun dia tetap saja memendam perasaannya."
Itachi sedikit membetulkan letak duduknya. " akhirnya aku mencoba mendekatimu dengan niat membuatnya cemburu. Maafkan aku Hinata, aku bukan bermaksud mempermainkanmu dengan tindakanku itu. aku hanya ingin adikku berkata jujur tentang perasaan yang di pendamnnya selama bertahun-tahun" ungkap Itachi merasa bersalah
"tidak apa-apa kak, lagian aku sudah tahu. Kakak tak pernah serius" Hinata menenangkan Itachi "maksudku kakak memang peduli padaku, tapi yang aku lihat rasa peduli yang kakak tunjukan untukku bukan seperti rasa yang di tunjukan oleh seorang kekasih untuk kekasihnya, melainkan oleh seorang kakak kepada adiknya, karena itu aku pun menyayangi kak Itachi seperi aku menyayangi Kak Neji". Lanjutnya sambil menggengam tangan itachi
"kau memang selalu pengertian Hinata. Sepertinya usaha ku mendekatimu pun tak berefek pada Sasuke. Ya pada awal-awalnya dia mulai terlihat marah padaku namun lama-kelamaan maksudku terbongkar olehnya." Ujar Itachi sambil tersenyum membayangkan raut Sasuke yang sedang kesal padanya.
"suatu hari, saat aku pulang dari kantor. Aku mendengar percakapan di kamar Sasuke. Sepertinya di sana sedang ramai, sebagian suara yang ku dengar saat itu adalah Naruto dan Kiba. Mereka memang sering datang ke rumah. Diantara obrolan mereka yang sempat terdengar olehku adalah kabar bahwa kau menyukai Naruto, dan Kiba sebagai teman paling dekatmu di sana membenarkan kabar tersebut. Merekapun sepertinya tidak tahu kalau Sasuke menyukaimu.
Tak lama setelah kabar kalau kau menyukai Naruto di dengarnya, Sasuke kemudian menerima cinta Sakura. Meskipun pada saat itu aku merasa heran, kenapa setelah bertahun-tahun Sakura menyukainya namun baru di terima oleh Sasuke saat dia tahu kalau kau menyukai Naruto. Aku berusaha menepis prasangka burukku. Mungkin saja kan Sasuke benar-benar telah melupakan cintanya padamu dan berpaling pada Sakura. Apalagi tak lama setelah itu mereka bertunangan" Itachi berdehem sebentar
"namun Hinata aku salah perkiraan lagi, sebulan setelah pertunangannya dengan Sakura. Mereka terdengar sering bertengkar dan tak lama kemudian sebulan berikutnya Sasuke memutuskan pertunangannya dengan Sakura. Aku tidak tahu ada masalah apa dengan adiku sehingga memutuskan pertunangannya. Sasuke memang tak pernah mengatakan apapun.
Malam sebelum kecelakaan naas itu terjadi dia menelponku, waktu itu kira-kira sudah pukul 2 pagi dan bicaranyapun melantur, dia mengatakan kalau dia sangat mencintaimu Hinata. Tapi dia sudah kalah karena pada akhirnya kau malah menikah dengan Naruto. Aku tidak tahu dia mendapatkan kabar itu dari siapa. Karena selama ini kami berusaha mencarimu namun tak pernah menemukan jejak, keluargamu pun menutupi kabar tentangmu dengan rapat. Sasuke mengatakan bahwa dia menyesal tidak mengungkapkan perasaannya selama bertahun-tahun padamu.
Setelah itu aku tak mendengar apa-apa lagi darinya. Dia menonaktifkan ponselnya. Dan pagi-pagi aku sudah mendengar kabar bahwa adiku kecelakaan di jalan bebas hambatan Konoha karena menabrak pembatas jalan" Itachi terdiam berusaha menenangkan diri, bagaimanapun kabar kematian sasuke menyebabkan luka yang cukup dalam di hati Itachi.
"aku... aku tidak tahu harus berkata apa kak Itachi" ucap Hinata lirih merasa bersimpati. "aku minta maaf, karena...karena aku Sasuke.." rasanya Hinata tidak mempercayai apa yang Itachi ungkapkan, apakah benar jika sasuke menyukainya sampai sebegitu besar. hell dia sama sekali tidak pernah tahu kalau Sasuke selama ini menyukainya. Apalagi bagi Hinata Sasuke itu cukup menyeramkan, makanya kenapa dia lebih dekat dengan Itachi yang lebih hangat dan ramah.
"tidak Hinata, aku membahas tentang Sauke bukan untuk menyalahkanmu. Kau tahu kan bahwa aku peduli dan menyayangimu seperti aku menyayangi adikku sendiri. Maka dari itu aku tak suka jika melihatmu bersedih. Aku tak mau gagal lagi menjaga orang yang aku sayangi Hinata, cukup Sasuke saja yang menjadi pengalamanku OK. Aku mau kau segera menyelesaikan masalahmu dengan si Namikaze. Katakan apa yang perlu kau katakan, jangan sampai kau menyesalinya saat semua sudah terlambat Hina" nasihat Itachi
"hmm..terima kasih kak, aku juga punya permintaan pada kakak. Sebaiknya kakak juga cepat ungkapkan perasaan kakak pada kak Konan. Mungkin kakak bisa mengelabui yang lain, tapi tidak denganku. Dan aku rasa Kak Konan juga menyuakimu, dia wanita yang baik untukmu kak." Ucap Hinata sedikit tersenyum.
"hei kenapa kau malah membahasku, aku sedang menasehatimu adik kecil. Jadi jangan alihkan pembicaraan " ujar Itachi mencoba menyembunyikan rona merah di pipinya yang sebenarnya gagal
"ahahaha..aku baru tahu kalau kak Itachi bisa merona juga." Hinata terkikik melihat raut wajah Itachi
"hei kalian.. ada apa ini? kenapa tertawa gak ajak-ajak.." Konan masuk ke kamar Hinata dengan pakaian yang sudah rapi.
"tidak apa-apa kak. itu kak Itachi mmm..." mulut Hinata di bekap oleh tangan Itachi agar tidak bisa melanjutkan ucapannya.
"tidak ada apa-apa Konan, kau sudah siap?" tanya Itachi masih membekap mulut Hinata. Sementara Konan hanya mengangguk "baiklah ayo kita berangkat" ajaknya
"hhah..hhah..hhah..kak Itachi kejam.." Hinata megap-megap kehabisan nafas setelah Itachi melepaskan tangannya dari mulut Hinata
"sudah Konan ayo berangkat" Itachi menarik Konan, sebelum Hinata berbicara macam-macam pada gadis berambut biru sebahu itu.
"Oya Hinata mungkin kami akan pulang cukup larut hari ini. Aku sudah menyediakan makanan di dapur, nanti kau tinggal memasukannya ke dalam open saja untuk di hangatkan OK. kalau ada apa-apa langsung hubungi kami ya. Kau masih ingatkan password pintu apartementkku? Takut nanti kau mau keluar, karena bosan sendirian disini" Konan berbicara kepada Hinata sebelum pergi
"aku masih ingat kak. Dan terimakasih atas perhatiannya. Kalian berdua hati-hati" pesannya sebelum kedua orang itu menghilang di balik pintu.
Hah sendiri lagi...mungkin sebaiknya aku menghubungi Naruto, tak ada salahnya aku mencoba menyelesaikan masalah ini. Lebih cepat lebih baik kan?
Hinata segera mengambil ponsel dan mengaktifkannya. Beberapa hari ini memang sengaja ponsel itu Hinata matikan karena tidak mau menerima panggilan dari siapapun. Seketika pesan notifikasi berdatangan bertubi-tubi ke ponselnya.
154 panggilan from my hubby dan 20 panggilan dari Karin Uzumaki. Hah untung saja ibu sedang ada di rusia jika tidak bisa gawat.
Entah kebetulan atau memang nasib baik sedang di pihaknya saat itu. Setelah selesai pemeriksaan kandungannya di Klinik Karin, Khusina mengirimkan e-mail bahwa dirinya akan menyusul sang ayah mertua Minato Namikaze ke Rusia.
Sebaiknya aku hubungi Naruto dulu saja.
Hinata menelpon nomor suaminya namun yang diterimanya hanya jawaban dari operator.
Kenapa nomor Naruto tidak aktif? apa dia sedang bersama Sakura?. Apa aku sudah terlambat?. Mungkin dia memang sedang berbahagia bersama Sakura, sehingga nomornya tidak aktif...
fikirannya sudah melayang kemana-mana. bagaimana kalau seandainya yang di fikirkannya itu benar ?
jangan berprasangka buruk HInata, think smart! think smart! mungkin saja Naruto sedang rapat kan?. Lebih baik aku sekarang ke kantornya saja. Iya ke kantor Naruto, lagian ini masih jam 9 pagi kemungkinan Naruto masih ada di Kantor. Dan kalaupun di kantor tidak ada aku bisa pulang ke rumah dan menunggunya disana.
Hinata segera bangkit kemudian bersiap-siap menuju Kantor suaminya. Dia akan menunggu taksi di depan gedung apartement Konan saja. karena kalaupun memanggil taksi dia tidak tahu alamat apartemen Konan ini.
.
.
.
.
Karin baru saja keluar dari gedung apartemen yang di tempatinya, rencananya hari ini dia akan pergi ke kliniknya. Jadwalnya di Rumah Sakit sedang libur. Dia sebenarnya masih kepikiran dengan kejadian 3 hari yang lalu di Kliniknya. Beberapa hari ini Naruto juga mencoba menghubunginya untuk menanyakan keberadaan Hinata. Sepupunya itu terlihat sangat panik, meskipun Karin tidak tahu pasti perasaan Naruto sebenarnya, tapi jika di lihat dari kepanikannya saat menelpon Karin karena tak menemukan Hinata berada di rumah setelah pertengkaran mereka, sepertinya Naruto sangat menyayangi Hinata. Belum lagi akhir-akhir ini sepupunya itu tak henti-henti menghubunginya, menanyakan apakah Hinata memberi kabar padanya tentang keberadaan sang istri.
Meskipun Karin kesal dengan si bodoh itu, bagaimanapun Naruto adalah sepupunya. Jadi dia hanya mengatakan kalau Hinata mungkin saja sedang menenangkan diri, nanti jika dirinya sudah tenang, Hinata pasti akan datang menemui Naruto. Padahal Karin sendiri sangat khawatir dengan keadaan sahabatnya itu, bagaimana tidak. Hinata tidak bisa di hubungi selama 3 hari ini apalagi mengingat sahabatnya itu sedang hamil muda. Oh ngomong-ngomong tentang hamil, Karin belum memberi tahu Naruto kabar itu. dia merasa itu bukan haknya, karena seharusnya Hinatalah yang memberikan kabar bahagia itu pada sepupunya. Hahh di mana kau Hinata?..
Pandangan Karin tiba-tiba tertuju pada seorang wanita di pinggir jalan di depan Apartement Tokyo Central. Bukankah itu Hinata? Untuk memastikan dugaannya, Karin menghentikan mobilnya tak jauh dari posisi wanita itu, kemudian turun menghampiri sang wanita. Dan saat dirinya sudah dekat, benar saja wanita yang di sangkanya tadi adalah Hinata, sahabatnya.
"Hinata!" Karin memanggil Hinata sambil memegang bahu Hinata
Hinata segera menoleh mendapati namanya di panggil dan bahunya di sentuh seseorang "Karin.."
"ya tuhan Hinata, kau selama ini kemana saja, apa kau tidak tahu aku dan Naruto khawatir sekali padamu, apalagi ponselmu tidak aktif?" tanya Karin sedikit membentak dan kemudian memeluk sahabat yang sudah dia khawatirkan selama 3 hari ini.
"ah..itu.." jawab Hinata agak ragu saat melihat wajah Karin. sebenarnya dia sedikit merasa berdosa karena membuat temannya menghawatirkan dirinya. apalagi dia memang sengaja mematikan ponselnya selama 3 hari ini, seharusnya dia memang bersikap lebih dewasa dengan cara tidak lari dari masalah.
"ya sudah di jawab nanti saja, sekarang kau mau kemana?" tanya Karin tanpa menunggu jawaban Hinata. sedikit tidak tega sih membentak sahabatnya itu, ya tapi mau gimana lagi? dia kan memang khawatir selama ini.
"sebenarnya aku mau ke kantor Naruto Karin, tadi aku menghubungi ponselnya, namun tidak aktif" jawab Hinata setelah pelukan mereka terlepas
"Bagaimana kalau aku mengantarmu? Lagi pula aku sedang tidak terburu-buru"
"mmm..apa tidak merepotkanmu?" tanyanya ragu
"hei...tentu tidak, kau ini bicara apa. Ayo naik ke mobilku" paksa Karin sambil menarik tangan Hinata.
Hinata dan Karin berjalan dan memasuki mobil Karin yang terparkir tidak jauh dari mereka
"jadi selama ini kau tinggal di mana Hinata?" Karin memulai pembicaraan setelah melajukan mobil
"aku tinggal di apartemen kak Konan temannya kak Itachi" Hinata menjawab. dan setelah itu tidak ada percakapn lagi
"mmm.. Hinata masalah waktu itu, aku..aku minta maaf. Sungguh aku tidak tahu kalau..kalau kau ternyata istri dari si bodoh itu, kalau saja aku tahu, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini" tiba-tiba karin memecahkan kesunyian antara mereka, dengan mata tetap memandang jalanan di depannya. Sebenarnya ingin membicarakan hal ini dari tadi namun dia menunggu waktu yang tepat.
"tidak apa-apa Karin, aku tidak menyalahkanmu. Lagian itu bukan karenamu juga" jawab Hinata sambil menyenderkan kepalanya ke jendela kaca mobil.
"kau tahu Na.." belum sempat ucapan Karin berlanjut, dia melihat ada seorang anak kecil menyebrang sembarangan di depan mobilnya yang sedang melaju, dengan reflek Karin segera mengerem mobilnya secara tiba-tiba
"ckiiiitttt" "brakkk" namun naas tabrakan tak dapat terhindar.
.
.
.
.
"- begitu paman" Naruto menghentikan sesi curhatnya
"mmm. Jika mendengar dari ceritamu, sebenarnya kau sudah tertarik dengan istrimu itu jauh sebelum kau menikah dengannya Naruto" ujar Itachi setelah mendengarkan atasannya yang sudah dianggap sebagai keponakannya itu.
"apa maksud Paman? Waktu itu aku masih mencintai sakura mana mungkin tertarik dengan wanita lain" tanya naruto tidak percaya dengan pernyataan pamannya. hey dia bukan cowok play boy yang tertarik pada perempuan lain, sementara dia masih memiliki rasa cinta pada si gadis pujaan kan?
"hei jika bukan tertarik kenapa kau begitu tahu bahwa istrimu dekat dengan siapa saja, tempat biasanya dia berada, lelaki yang mendekatinya, bahkan kau bisa tahu siapa saja yang menjemput dan mengantarkan istrimu itu saat kuliah" jawab Iruka
"ya mungkin belum bisa di sebut cinta saat itu, tapi ketertarikanmu sebenarnya sudah ada meskipun kau tidak mau mengakuinya karena kau menganggap bahwa hatimu masih terpatri pada satu wanita saat itu. Namun setelah kau semakin dekat dengan istrimu saat wantia pujaannmu bertunangan dengan orang lain akhirnya ketertarikan itu menjadi cinta Naruto.. jangan mengelak lagi, kau tahu aku lebih tua darimu jadi aku sudah lebih berpengalaman. lagipula bukankah obat untuk sakit hati karena cinta adalah memiliki cinta yang lain". Lanjut Iruka ketika menemukan Naruto berniat memprotes lagi.
"tapi aku..hei paman ucapanmuu seperti menyebutkan bahwa aku memanfaatkan istriku. aku menikahinya bukan hanya karena aku sakit hati dengan Sakura paman. tapi juga aku merasa nyaman dekat dengan istriku dan saat aku tak bisa melihatnya rasanya di sini sesak sekali, kau tahu seperti ada yang menghalangi paru-paruku untuk bernafas" ujar Naruto sambil memegang dadanya
"nah itu dia bodoh, kalau kau tidak jatuh hati padanya, mana mungkin kau merasa nyaman dengannya. Apalagi dengan pendekatan yang sangat sebentar. dan perasaan yang kau rasakan itu mana mungkin juga ada kalau kau tidak cinta padanya. Kau perlu tahu Naruto, pandanganmu saat berbicara dengan istrimu meskipun hanya melalu telpon mengingatkanku akan pandangan Minato sama jika dia berbicara dengan Kushina sama. pandangan yang penuh dengan cinta" Iruka mengatakan sambil matanya menerawang dan sedikit menggoda ke arah Naruto
"jadi..jadi.."
"tok..tok..tok" suara pintu di ketuk membuat Naruto menghentikan ucapannya
"masuk" ujarnya
"maaf sir saya mengganggu" ternyarta sekretaris Naruto
"ah.. ada apa Akina?" dan ya kau memang mengganggu
"tadi..tadi ada telpon dari miss Karin, tadi beliau bilang dia tidak bisa menghubungi ponsel anda" jawab Akina dengan sedikit terbata karena melihat aura dari sang atasan
"lalu..?" tanya Naruto tak sabar, sebenarnya dia agak terganggu dengan kedatangan sekertarisnya itu, dia kan sedang curhat dengan Iruka.
"dan kata Miss Karin, saya harus memberitahukan bahwa Istri anda mendapatkan kecelakaan dan sekarang di bawa ke rumah sakit.."
"a-apa! Ke rumah sakit mana istriku di bawa hah?" Naruto langsung beucap kaget tanpa sadar suaranya seperti membentak Akina si sekretaris malang
"Rumah sakit central tokyo sir!" jawab Akina reflek berteriak mendengar bentakan dari atasannya
Tanpa berfikir panjang Naruto segera berlari menuju tempat parkir
"tunggu Naruto..biar aku yang mengantarmu" ucap Iruka sambil menyusul Naruto berlari menuju tempat parkir. Dia agak kahawatir jangan-jangan bukannya sampai kerumah sakit untuk mengetahui keadaan istrinya, malah Naruto sendiri yang celaka karena kepanikannya itu.
