Choose!

Pair: BoBoiBoy x Yaya

Genre: Romance, Humor, & Family

Disclaimer: BoBoiBoy adalah milik Animonsta, Ni-chan hanya meminjam karakter-karakternya saja

Warning: Typo, Gaje, OOC, Abal-abal, Humor gagal, dll.

Cerita ini muncul di pikiran saya saat menonton BoBoiBoy Movie, apabila ada kesamaan dengan yang lain itu hanya kebetulan semata :)

Happy Reading~!

RnR please?

Chapter 3

Hari Selasa. Hari pertama liburan. Hari ini pun cerah seperti biasa. Andai saja Yaya tak teringat kejadian kemarin di sekolah, dimana para Boboiboy itu memperebutkannya. Dia jadi berasa menjadi hero di salah satu anime harem. Tapi yang lebih urgent lagi, dia belum bisa menentukan urutan siapa yang akan jalan-jalan dengannya. Bisa mati dia kalau diteror dan diperebutkan oleh kelima Boboiboy itu sekaligus. Bayangin aja satu narik kaki kanan, satu narik kaki kiri, satu narik tangan kanan, satu narik tangan kiri, dan yang terakhir narik kepala. Uhh … ngebayanginnya aja Yaya udah gemeteran.

Fuh~! Yaya segera bangkit dari kasurnya, mengusir bayang-bayang dia yang tengah diperebutkan secara tidak manusiawi oleh kelima Boboiboy itu lalu segera mandi. Karena ini hari libur, ia tak perlu terburu-buru, tapi ia jamin ia akan sibuk selama lima hari ini menangani lima orang Boboiboy yang ngerepotin itu karena sama-sama suka padanya. Sejujurnya, Yaya sendiri heran. Boboiboy yang asli belum pernah sekalipun menyatakan perasaan padanya, cuma dengan entengnya ngajak kemana-mana gitu, begitu ditanya, dia jawab 'Refreshing! Lebih asyik kalau sama Yaya', gitu. Kesannya benar-benar kayak anak polos banget, tapi Yaya tidak membeci bagian itu dari diri Boboiboy, justru ia menyukai sisi tersebut.

Setelah mandi, Yaya duduk di kursi meja belajarnya dan berpikir lagi, meski semalam ia sudah melakukan hal yang sama. Di depannya terdapat beberapa lembar kertas dan sebuah pulpen. Di tong sampah kamar Yaya pun sudah penuh dengan gumpalan kertas-kertas gagal.

"Umm …" Yaya berpikir keras. "Apa sebaiknya ajak Taufan dulu saja ya? Lagian dia yang ajak aku jalan-jalan lebih dulu kemarin … umm … tapi kalau kayak gitu apa Halilintar nggak bakal marah? Dia yang terlihat paling ingin pergi jalan-jalan denganku lebih cepat dari siapa pun, tapi semuanya juga sih. Uhh … aku jadi makin bingung …"

"YAYA!"

"Wuaahhh!" Yaya terjatuh dari kursinya. Setelah mengeluh kesakitan untuk beberapa saat, ia kembali berdiri. Di hadapannya adalah Boboiboy Api yang memasang tampang polos dan tak berdosanya. "Api! Kenapa pagi-pagi kau ke sini?"

"Hehe, aku nggak sabar mau ketemu Yaya aja. Dari jam lima aku sudah nunggu di bawah."

"Tunggu! Di bawah?"

"Iyap, tepat di bawah jendela kamarmu. Aku mau masuk kan nggak enak," ujar Api enteng. "Dan lagi aku penasaran soal keputusanmu. Dari semalam aku mantengin HP, tapi belum ada jawaban darimu. Jadi ya, aku ke sini aja. Oh ya, ngomong-ngomong Yaya sudah memutuskan bukan, mau jalan-jalan dengan siapa dulu?" Api langsung memandang gadis itu sambil memasang puppy eyes.

"Ehh … umm … ya kurasa begitulah," Yaya tersenyum ragu, padahal ia sama sekali belum memutuskan siapa yang akan pergi dengannya lebih dulu, dan lagi ia heran gimana Api duduknya kalau nungguin tepat di bawah jendela kamarnya, padahal kamar Yaya kan ada di lantai dua.

Sets! Tiba-tiba saja bayangan merah menyala sudah muncul di depan Yaya. Tak lain tak bukan dan tak salah lagi, Halilintar.

"Yaya, bagaimana hasil keputusanmu semalam?" tanyanya to the point.

Duh, gawat. Kayaknya Halilintar dan Api benar-benar menantikan keputusannya nih, padahal Yaya sama sekali belum bisa memutuskan siapa yang akan pergi jalan dengannya lebih dulu. Lihat aja kantong mata mereka berdua yang lumayan tebal itu, tanda mereka nggak bisa tidur semalaman. Melihat itu Yaya jadi kasihan. Tapi mau gimana? Nggak mungkin dong dia membelah badannya jadi dua demi jalan-jalan dengan dua orang Boboiboy sekaligus? Ini pilihan berat, tapi ia tak akan membuat kemajuan selain memilih salah satu.

"Aku … akan pergi dengan …"

"EIIITTTT! Aku sudah tunggu keputusan itu!" seru seseorang yang tiba-tiba menerobos masuk kamar Yaya lewat jendela, tersenyum lebar setelah mengerem hoverboard-nya tepat di depan Yaya. Siapa lagi kalau bukan Taufan.

"Kyaaa!"

Bruk! Yaya kembali terjatuh lagi. Sudah dua kali dia dikagetkan pagi-pagi buta begini. Kalau sama Ying atau Gopal aja sih, nggak papa, tapi ini sama Boboiboy, dua kali pula, nggak baik buat jantung …

"Woi! Taufan! Ngapain kau? Barusan Yaya sudah mau bilang dia mau pergi bareng siapa! Kau malah mengacaukan semuanya!" Halilintar malah menyalahkan Taufan.

"Ehh?! Kok jadi salahku sih, Kak Hali? Lagian nggak perlu bingung dan susah, sudah pasti aku! Kan aku yang ngajak Yaya jalan-jalan paling pertama kemarin! Iya kan Yaya? Iya kan?" ujar Taufan dengan bangga, membuat kedua manik ruby milik Halilintar menyipit.

"Duhh … kenapa kalian pada ramai-ramai datang ke kamarku pagi-pagi buta gini sih? Nggak bisa nunggu lebih siang apa?" tanya Yaya sambil mengelus-elus kepalanya yang sedikit terbentur tadi, untung nggak parah.

"Nggak bisa! Yaya liat nggak kantung mataku nih? Aku nggak bisa tidur semalaman gara-gara mikirin siapa yang bakal kau ajak jalan-jalan duluan! Tapi kayaknya aku nggak perlu khawatir lagi deh, pasti aku yang kau pilih, ya kan? Ya kan?" tanya Taufan bersemangat setelah memamerkan kantung matanya yang sama tebalnya dengan Halilintar dan Api.

"Err …" Yaya makin tambah bingung.

"Woii! Apa yang kalian lakukan ramai-ramai datang ke kamar seorang perempuan pagi-pagi begini hah? Kalau mau ngomong ya baiknya di luar lah! Ganggu privasi orang tau?" Terdengar suara yang tak asing lagi di telinganya, Yaya menoleh. Sejak kapan Gempa juga ada di kamarnya?

"Kakak juga sama kok," celetuk adik paling uncit, Air, sambil menunjuk kakak tertuanya.

Eh? Lho? Lho? Yaya bingung. Sejak kapan Gempa dan Air datang ke kamarnya? Dan lagi … kenapa mereka semua ngumpul di kamarnya pagi-pagi buta gini?!

"Kasihan Yaya, pagi-pagi gini kalian sudah datang ke kamarnya! Kalian nggak sadar kalau merepotkan dia?" ujar Gempa.

"Ukh," Halilintar, Taufan, dan Api tidak bisa menyangkal apa yang dikatakan kakak mereka itu.

"Sudah deh, sudah," Yaya menenangkan. "Jangan berantem! Dan lagi Gempa, benar kata Air, kau tuh sama aja. Yah, walau sebenarnya Air sama juga sih."

"E-Ehhh?" Gempa sweatdrop. "Tapi kan, aku cuma mau melindungimu."

"Hemm … iya iya." Yaya menghela nafas. "Aku paham perasaanmu, Gempa. Begini, aku harus bilang sesuatu pada kalian."

Yaya menarik kursi yang terletak di depan meja belajarnya dan duduk di atasnya, dan menghadap kelima Boboiboy yang tengah menatapnya bingung. Ia menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya seakan sedang melepaskan semua beban, mendongakkan kepalanya ke atas kembali lalu tersenyum tipis.

"Kita batalkan saja … janji jalan-jalan kita ya?"

"Hah?" Kelima Boboiboy itu terdiam. Sedetik kemudian semuanya langsung teriak histeris. "EEEEHHHHH?!"

"Kenapa, Yaya? Apa aku kurang ganteng untuk bisa jalan-jalan denganmu?! Kalau begitu aku bakal jadi lebih ganteng lagi dari diriku sekarang! Pokoknya kau nggak akan nyesal kalau milih aku lho nanti!" seru Api sambil mengguncang-guncangkan bahu Yaya kuat-kuat sampai gadis itu pusing.

Brak! Taufan langsung menyikut adiknya tersebut dengan kasar dan cukup keras, menggantikan posisinya menggucang-guncangkan bahu sang gadis.

"Benar! Lihat wajahku, Yaya! Lihat! Apa wajah setampan aku ini belum cukup?!" Taufan ikutan narsis.

"Berisik!" Halilintar menabrak Taufan dari samping hingga dia terpental sampai mendobrak dinding kamar Yaya dan terjatuh, menyisakan dinding yang retak-retak. Setelah selesai melampiaskan perasaan yang bercampur-aduk di hatinya, Halilintar langsung menatap Yaya yang merinding melihat Taufan yang kini terkulai dengan indahnya di atas Api yang tadi disikut Taufan sendiri sampai nabrak dinding pula dan terjatuh. "Nah, Yaya, bisa kau jelaskan kenapa kami harus membatalkan janji jalan-jalan itu?"

"Eh? Eng … itu …" Mata Yaya melirik ke kanan-kiri, asal tidak ke Halilintar yang kian dekat, semakin dekat dan …

BLARRR! Sebuah bola air yang lumayan besar menghantam sang pengendali elemen petir dan dalam sekejap Halilintar juga turut mendobrak dinding tepat dimana barusan Taufan terpental, dan Halilintar pun roboh tepat di atas pengendali angin tersebut. Oke, tiga tumpuk Boboiboy yang sedang tepar kini menghiasi kamar Yaya di pagi hari.

Yaya menoleh ke arah bola air itu ditembakkan. Air yang barusan terlihat cuek mendadak tampangnya jadi serem, belum lagi topinya yang lebih condong ke bawah, menjadikan kedua manik aquamarine-nya bersinar dengan sensasi yang menyeramkan dalam gelap, membuat Yaya bergidik. Pandangan matanya terasa lebih menusuk dari Halilintar tadi.

"Yaya, aku ini orangnya ingat-ingat lupa, bahkan sampai ke tahap lupa-lupa ingat, meski aku nggak tahu itu bedanya apa, tapi aku nggak akan lupa kalau kau aslinya bukan orang yang akan menolak bila diajak jalan-jalan oleh teman baikmu disaat kau senggang." Air tiba-tiba langsung mengeluarkan teorinya. "Jadi apa yang membuatmu ingin membatalkan jalan-jalan ini?"

"…"

"Yaya, aku juga ingin bertanya padamu. Kumohon jujur pada kami, kenapa kau menolak ajakan kami?" tanya Gempa.

"…bukan berarti aku menolak ajakan kalian," Yaya mulai buka mulut setelah terdiam beberapa saat setelah pertanyaan dari Gempa. "Aku hanya tidak mau kalian bertengkar karena aku. Semalam aku mendengar dari kamar kalian, kalian ribut-ribut soal siapa yang akan jalan-jalan denganku dulu, sampai kantung mata kalian tebal gitu karena nggak tidur semalaman. Itu membuatku semakin bingung di saat akan menentukan urutannya… Mungkin kalian heran kenapa aku sampai sebegitunya, padahal aku bisa saja memilih salah satu dari kalian secara acak, tapi ... aku tidak bisa, karena ada alasan yang kuat di balik itu …"

Yaya menoleh pada Gempa, Air, serta Halilintar, Taufan, dan Api yang baru sadar.

"…soalnya … aku, besar cintaku itu-!"

"Stop!" seru Gempa sembari mengangkat tangan kanannya tepat ke depan wajah Yaya. "Aku mengerti."

Yaya terperangah, air matanya terasa seperti hendak jatuh dari kelopak matanya yang indah, nafasnya mulai sesenggukan menahan haru, merasa akhirnya masalah ini selesai juga, tapi ternyata takdir tak seindah yang ia pikirkan-setidaknya untuk saat ini, setelah ia mendengar apa yang Gempa katakan berikutnya.

"Jadi intinya kau mau kami akur-akur dalam memilih anggotanya dan menentukannya dengan damai sendiri kan?"

"…eh?" Yaya cengo.

"Oh! Aku tahu! Biar adil kita hom-pim-pah saja! Begini semuanya setuju kan? Bukan begitu, Yaya?" usul Gempa.

"E-Ehhhh?" Yaya kaget, tapi ia langsung segera mengalihkan pandangannya dari Gempa. "Err, gitu? Ya, silakan lakukan saja sesuka kalian." Suara Yaya terdengar pelan dan parau. Mungkin karena ia kecewa karena tak ada satupun dari kelima sosok orang yang ia sukai tersebut yang mengerti maksud di balik perkataannya barusan. Ternyata meski berpecah pun, Boboiboy tetaplah Boboiboy yang polos. Ya. Kelima-limanya.

Yaya lagi-lagi hanya menghela nafas panjang sambil tersenyum melihat seberapa antusiasmenya mereka berlima hom-pim-pah sampai ada salah satu yang menang dan yang lainnya langsung frustrasi. Terkadang ia pun heran, kenapa ia bisa jatuh cinta pada laki-laki seperti ini? Nah, alasan itu tidak penting sekarang.

Kedua manik karamelnya memandang langit biru yang dihiasi awan-awan, terlarut sendiri dalam ketenangannya, meski kelima Boboiboy itu masih asyik ber-hom-pim-pah belakangnya. Tapi tiba-tiba saja setelah itu, sesuatu terasa melintas di dadanya. Sesuatu. Entah kenapa Yaya seperti mendapat firasat buruk..

"YAYA!"

"Aaaaa!" Di saat lagi merenung begini, Taufan justru mengagetkannya lagi untuk yang kedua kalinya. "Kau ini! Longgar jantung aku!"

"Hihi, maaf." Taufan nyengir lebar. "Yaya, tadi aku menang hom-pim-pah-nya. Jadi … sudah diputuskan! Memang kau dan aku ditakdirkan untuk jalan-jalan bersama untuk urutan yang paling pertama!"

"Aaahh! Kenapa aku bisa kalah dari Kak Taufaaann! Aku harus banyak-banyak berlatih lagi! Air, ajarin Kak Api hom-pim-pah dong." Api yang frustasi malah melampiaskannya pada adik satu-satunya yang cuma diam.

Air cuma diam tak menanggapi omongan kakak keempatnya itu, nampak masih kecewa dengan hasil hom-pim-pah barusan. Dari mulutnya samar-samar terdengar tipis kalimat-kalimat seperti 'kenapa aku nggak menang', atau 'padahal tiap main bareng Kak Api selalu menang telak'.

"Cih, nasib aja tuh." dengus Halilintar yang sepertinya masih kurang terima atas kekalahannya.

"Yah, sudahlah. Yang penting hari ini biarkan Yaya bersenang-senang dengan Taufan dulu. Jangan bikin Yaya nangis ya!" ujar Gempa.

"Hehe, aku nggak mungkinlah bikin Putri yang satu ini nangis," timpal Taufan. "Nah, Yaya, ayo sekarang kita pergi!"

Yaya mendelik. "Sekarang?! Ya nggak mungkinlah! Nggak mungkin!" Yaya melambai-lambaikan tangan kanannya dengan kaku, membuat Taufan dan yang lain langsung syok dan ambruk.

"Kenapa?! Bukannya kita sudah dengan damai membuat perjanjiannya tadi?!" Taufan langsung terlihat madesu banget, berasa kayak dia baru aja ditolak mentah-mentah oleh cinta pertamanya.

"Aku nggak bilang aku nggak mau pergi bareng kau, Boboiboy. Aku bilang nggak bisa pergi sekarang. Coba … kau lihat itu." Yaya menunjuk dinding kamarnya yang retak-retak dan hancur. "Nggak mungkin aku pergi dengan meninggalkan masalah sebesar ini kan?"

"Eh? Hehehe …" Taufan nyengir. "Kalau gitu, kita pergi besok deh! Liburan kan aslinya enam hari kalau ditambah sama hari Minggu!"

"Ma-ka-nyaa~ bukan berarti aku nggak bisa pergi hari ini," Yaya mengulang ucapannya. "Taufan, kalau kau mau, aku bisa jalan-jalan denganmu hari ini juga, asal … kalian semua, perbaiki kerusakan yang kalian buat ini!" Yaya menunjuk dinding kamarnya yang retak tadi dan seprai pink motif bunganya yang basah kuyup sampai merembes ke ranjang-ranjangnya karena terkena letupan bola air yang menghantam Halilintar barusan

Kelima Boboiboy nyengir lebar lalu langsung membantu Yaya memperbaiki dan membersihkan kamarnya. Dengan kuasa mereka, hal seperti itu mengerjakannya tentu tidak sampai setengah jam, mereka sudah selesai.

"Fuhh … dengan begini beres! Yaya, tepati janjimu ya!" ujar Taufan.

"Pasti!" angguk Yaya. "Tapi, Taufan, lebih baik kau mandi dan cuci muka dulu deh. Kantung matamu masih tebal gitu. Ah, dan itu juga berlaku untuk kalian semua!"

"Okeee!" Kelima Boboiboy itu langsung keluar lewat jendela satu per satu sambil melambaikan tangan ke arah Yaya dan langsung menuju rumah mereka. Lima menit kemudian Yaya mendengar suara berisik dan teriakan dari rumah sebelah. Tentu saja, teriakan Halilintar yang sedang menggedor-gedor pintu kamar mandi dimana Taufan sedang sampoan sambil bersenandung ria di dalamnya…

~To Be Continued~

Rasanya chapter ini pendek banget ... Nentuin siapa yang bakal hang out duluan aja sampai makan satu chapter… Lemot banget ya? Iya, Ni-chan tahu jalan cerita ini memang lambat, tapi mau gimana lagi, plotnya emang kayak gini, maaf ya T_T Terus, kemarin banyak banget yang pengen Gempa/Halilintar yang duluan ya? Duh, maaf ya Gempa, Halilintar, sama readers semuanya, ini udah sesuai plot, tahan aja ya/plak Makasih yang udah kasih Ni-chan ide kemarin ya :3

Ah, terus, Ni-chan berniat hiatus sebentar, karena sebentar lagi mau pulkam (baca: besok), dan di sana kan nggak bisa internetan lewat laptop, jadi … mohon maaf, untuk sementara nggak bisa apdet dulu … jumpa lagi ya.. :D

Mohon maaf lahir dan batin, maafin Ni-chan kalau ada salah (apapun itu) ya, selama menulis di FFn ini, secara manusia Ni-chan kan banyak kekurangan /sangat/ :')

Jaa, Minna~! Ketemu lagi habis lebaran ya, bye-bye! Selamat berlibur :3


Balasan review yang nggak login:

encik melayu:

Ni-chan salut, review kamu dalam satu chapter banyak banget X0. Jadi harus jawab yang mana dulu nih? Ni-chan jawab satu per satu ya :) Pertama, Ni-chan mohon maaf tidak bisa memenuhi request-request darimu, soalnya dari awal Ni-chan sudah punya rencana untuk urutannya sendiri, tapi ada beberapa tempat yang Ni-chan pilih dari usulanmu kok, makasih ya :D Api dan Air kenapa masih tahap 1? Ehh ... umm, itu ada alasannya sih, tapi kalau Ni-chan kasih tau sekarang nanti jadi spoiler dong? Nggak bisaa~ X'3 Terus, kenapa Ni-chan nggak nambahin Thorn sama Solar soalnya ... nanti ceritanya jadi lebih panjang lagi dari sebelumnya, terus kasihan kan Yaya kalau mesti menangani 7 cowok (keren) sekaligus :'3 Ni-chan juga minta maaf ya, kalau ada salah. Selamat berpuasa juga ^^ /udah mau lebaran woi/ Oh iya, sekalian selamat hari raya idul fitri, mohon maaf lahir dan batin :D

mimisya:

Ni-chan juga suka Gempa kok, walau dia nggak bisa mengalahkan pesona Halilintar sama Blaze di hati Ni-chan sih/plak Maaf ya, request-nya belum bisa dipenuhi, soalnya urutan jalan-jalannya Ni-chan acak. Tenang, Gempa pasti kebagian kok. Sabar aja ya :3

Maqda22:

Iya nih, mandi lama banget. Kasihan kakakmu si Hali mesti nunggu lama X'D Sudah lanjut, selamat membaca :3

Aline:

Tenang aja, Yaya penyabar kok, meski galak kalau di sekolah/cklik(bunyi pulpen domba Yaya /ampun, Yaya!/ Makasih untuk semangatnya, Aline-san! Ni-chan akan terus berjuang! :3

sofy:

Sayang sekali, saudara-saudara. Yang benar adalah Taufan! Sudah lanjut, selamat membaca :3

Guest:

Sudah lanjut, selamat membaca :3

Baekday:

Iya, Yaya-nya reverse harem gitu :3

Hanna Yoora:

Hanna-san suka HaliYaya sama AirYaya ya? Ni-chan sih semuanya, hehe :3 Telat review itu gapapa, yang nggak boleh itu kalau nggak review/plak (bercanda). Makasih untuk semangatnya dan salam manis balik buat Hanna-san X3

Ililara:

Duh, maaf ya. Sayang sekali urutannya sudah Ni-chan tentukan, plus diacak :'3 Tempatnya juga sudah dapat kok, tinggal apdetnya aja, tolong sabar ya :'D

Makasih buat yang sudah reviewsehat selalu ya! XD