Happy Reading
BREATH
Disclaimer : Masasahi Kishimoto
Pair : (Naruto x Hinata) Itachi, Sakura
Warning : AU, Typo (s) dan segala kekurangan lainnya
DON'T LIKE! DON'T READ!
Chapter 8
Sesampainya di rumah sakit Naruto langsung berlari menghampiri Resepsionis dan menanyakan perihal istrinya, dia meninggalkan Iruka untuk memarkirkan mobil.
"maaf sust, pasien kecelakaan atas nama Hinata Namikaze ada di ruang berapa?" tanyanya sesampainya dia di depan dua orang suster yang sedang menjaga meja resepsionis
"baik sir, silahkan anda tunggu sebentar kami akan mengeceknya dulu di list pasien kami" jawab si suster mencoba ramah kemudian dia mencoba mencari nama Hinata di list pasien. "maaf sir, belum ada pasien yang terdaftar atas nama Hinata Namikaze" jawabnya
"bagaimana bisa? tadi saya di beri tahu oleh sepupu saya bahwa istri saya di bawa ke rumah sakit ini" Naruto mulai hilang kesabaran. Sementara si suster terlihat bingung
"maaf sir.. kalau boleh tahu, kapan tepatnya anda di beri kabar oleh sepupu anda tersebut?" tanya susuter lain mencoba membantu temannya
"sekitar 10-15 menit yang lalu" jawab Naruto. ya untunglah rumah sakit ini tidak terlalu jauh dari kantornya karena itu bisa di tempuh dengan waktu 15 menit.
'oh.. kemungkinan istri anda masih berada di ruang gawat darurat sir, biasanya untuk kasus darurat seperti kecelakaan maka akan di bawa ke UGD terlebih dahulu. Silahkan anda cek, tempatnya lurus saja dari sini lalu nanti belok kanan di lorong depan" si suster mencoba menjelaskan dengan seksama
Naruto langsung berlari ke arah lorong yang di tunjukan tanpa mengucapkan terimaksih terlebih dahulu. Tak lama, dia melihat karin yang sedang menunggu di depan ruang UGD.
"karin.." panggil Naruto sambil menghampiri sepupunya yang sedang duduk sambil memainkan ponsel.
"Naruto... kau sudah datang?" tanya Karin melihat ke arah Naruto
"bagaimana Hinata? kenapa kau bisa bersamanya? Dan dan.." Naruto bertanya dengan napas terengah-engah sehabis berlari
"hei.. kalau bertanya satu-satu dong.." protes Karin ketika mendengar Naruto mulai memborong pertanyaan untuknya "yang pertama untuk keadaan Hinata aku belum tahu, dan kenapa aku bisa bersama dia, karena Hinata kecelakaan memang bersamaku" jawab karin
"la-lu kenapa kau baik-baik saja, sementara istriku ada di UGD bodoh?" Naruto menyentak Karin
"hei jangan sebut aku bodoh, itu salah Hinata sendiri. Begini, saat itu aku kan sedang menyetir lalu ada orang yang menyebrang sembarang di depan mobilku. Karena panik, aku mengerem mendadak. Tapi ternyata dari belakang ada mobil yang menabrak mobilku. Tak terlalu kencang memang, namun posisi istrimu sedang menyenderkan kepala ke jendela mobil. Akibatnya ya..kau tahu sendiri lah" Jawab Karin menceritakan kronologis kecelakaan y ang dialaminya.
"tahu sendiri bagaimana? aku baru datang, bagaiman aku bisa tahu bodoh" Naruto mulai naik pitam. Sumpah dia ketakutan jika terjadi sesuatu pada istrinya. Tapi jika melihat Karin yang baik-baik saja setelah kecelakaan yang mereka alami, bolehkah dia merasa agak tenang. Setidaknya mungkin Hinata tidak mengalami luka yang cukup serius
"aku bilang jangan panggil aku bodoh.. Hinata kepalanya berdarah karena terbentur jendela kaca. Tidak terlalu parah sih hanya ada sedikit sobekan d pelipisnya, tapi dia sempat pingsan tadi sebelum aku membawanya ke sini. Kau boleh bertenang diri karena yang ku tahu sejauh ini tak ada pendarahan selain di kepalanya, tapi kita tetap harus bersabar menunggu hasil dokter yang sedang menanganinya" ucap Karin terlihat tenang, padahal di dalam hatinya dia juga merasakan kekhawatiran yang cukup besar mengingat sahabatnya itu sedang hamil.
Memang dia tidak melihat terjadi pendarahan pada kehamilan sahabatnya itu, apalagi benturan mobilnya tidak terlalu keras buktinya dia saja tak terluka sama sekali. Namun tetap saja dia belum yakin sebelum pemeriksaan pada sahabatnya itu selesai. Dan dia tidak boleh menunjukan kekhawatirannya di depan Naruto, lihat saja wajah sepupunya yang pucat karena ketakutan itu.
"Lalu kenapa kau bisa bersama Hinata?" Naruto mencoba menenangkan diri dengan cara menanyakan perihal lain. Walaupun tetap saja hatinya tidak tenang, apalagi mendengar kepala istrinya berdarah. Rasanya dia ingin memukul sepupunya yang membuat hinatanya sampai celaka.
"ini salahmu juga bodoh, Hinata ingin menemuimu di kantor. Dia sudah berkali-kali menghubungi ponselmu namun tidak aktif. Dan aku menemukannya sedang menunggu taksi di depan apartement temannya Itachi, akhirnya aku menawarkan memberi tumpangan padanya. Lagipula saat itu aku tidak sedang terburu-buru. Jadi...kemana saja kau, sampai ponselmu kau matikan. sedang berdua-duaan dengan si jalang itu heh?" tanya Karin sedikit kesal
"jaga bicaramu Karin. Ponselku rusak" jawab Naruto. Heh tentu saja dia tidak akan mengatakan bahwa ponselnya rusak akibat di banting oleh dirinya sendiri karena tidak bisa menghubungi Hinata. "kau berdo'a saja Hinataku tidak apa-apa, karena jika terjadi sesuatu yang buruk padanya aku akan buat perhitungan denganmu" ancam Naruto
"jadi kau mengancam ku. Seharusnya kau berterimaksih padaku. Mau mengantarkan istrimu yang sedang menunggu taksi. Lagian kenapa sih kau tidak belikan mobil saja untuknya. Memangnya kau semiskin itu sampai tidak sanggup membelikan mobil untuk istrimu sendiri. Bukannya kau orang kaya?" sindir Karin
"berterima kasih apanya, jika kau malah membuatnya celaka. Dan perlu kau tahu aku sudah membelikan mobil untuk Hinata, tapi di simpan di rumah utama. Bagaimanapun aku tak akan membiarkan dia menyetir sendirian, kecuali bersama supir" Narito membela dirinya sendiri
"hahh bodoh seperti biasanya, lalu apa gunanya kau membelikan dia mobil kalau ujung-ujungnya dia tidak boleh membawa mobilnya sendiri? Aku fikir hanya keluarganya saja yang protektif pada Hinata, dengan tak pernah mengijinkan dia membawa kendaraan sendiri selama kami masih SMA. ternyata kau juga sama saja, tidak percaya pada kemampuan istrimu sendiri" balas Karin ketus
"hei.. aku melakukannya karena aku takut terjadi apa-apa padanya. Ya aku tahu kalau Hinata sudah punya SIM sendiri, tapi bagaimanapun aku tidak mau sampai terjadi sesuatu padanya" Naruto menjelaskan
"lalu maksudmu dia tidak akan kenapa-napa kalau pergi bersama taksi atau angkutan umum begitu? Naruto.. Naruto aku tahu kalau kau ini bodoh tapi aku tidak menyangka kau sebodoh ini." Ledek Karin yang menimbulkan siku-siku di dahi Naruto
"hei.. aku sudah mencoba melarangnya untuk tidak bepergian dengan kendaraan umum, tapi kau tahu sendiri bagaimana wataknya. Meskipun dia lembut tapi jika dalam urusan mempertahankan prinsipnya dia sangat keras kepala. Dan aku tidak bisa melawan keinginannya. Entah sudah berapa kali aku menawarkan supir pribadi untuknya, dia selalu menolak katanya sayang karena toh dia jarang bepergian. Atau ketika aku menawarkan untuk mengantarnya jika dia meminta izinku untuk pergi ke suatu tempat, jawabannya selalu tidak usah karena aku sedang banyak pekerjaan. Aku tak bisa menolak permintaannya. Tentu saja dengan ancaman, jika terjadi sesuatu padanya, aku tidak akan pernah mengizinkannya untuk bepergian seorang diri lagi. Selama ini dia membuktikan janjinya... dan diantara setiap kesempatannya bisa pergi sendiri malah kaulah yang membuatku harus menerapkan ancamanku padanya" jelas Naruto sedikit kesal juga dengan sepupunya itu
"hmm.. tak kusangka kau bisa bersikap seperti itu. Aku jadi heran kenapa kau masih melibatkan diri dengan Sakura, jika kau sangat peduli terhadap istrimu?' Karin mulai menyinggung kejadian 3 hari yang lalu
"kejadian waktu itu hanya salah faham Karin, aku bersumpah aku tidak punya hubungan apa-apa dengan Sakura. Tidak ada dalam otakku niat untuk menyakiti Hinata. Asal kau tahu aku selalu ingin membahagiakannya dan tak ingin melihatnya menangis apalagi karena diriku. Dan kejadian waktu itu sangat memukul telak diriku." Ujarnya sedih
"jadi apakah sekarang kau sudah menyadari kalau kau mencintai Hinata?" tanya karin penasaran
"ya.. sepertinya begitu. Aku sudah tidak bisa mengelak lagi. apalagi dengan kejadian-kejadian yang aku alami beberapa hari kebelakang" Naruto mengingat bagaimana pertengkarannya dengan Hinata yang menjadikannya uring-uringan selama 3 hari ini. perbincangannya dengan Iruka di kantornya tadi. dan kabar kecelakaan yang di alami istrinya adalah titik balik dari semuanya. Dia takut..takut kalau dia tidak bisa lagi melihat Hinata. Rasanya dia bisa mati jika semua itu terjadi. "aku mencintainya Karin.. Aku mencintai Hinata" ujar Naruto tegas
"Hmm berarti inilah saatnya kau mengungkapkan perasaanmu kepada istrimu jika kau benar-benar mencintainya. Meskipun kau harus berjuang keras. Apalagi mengingat keadaannya sekarang. Kau tahu Hinata itu punya kepercayaan diri yang kurang meskipun dia mempunyai segala hal yang membuat wanita lain iri. Kemungkinan dia akan menganggapmu hanya iba padanya. Jadi kau harus berusaha meyakinkan Hinata bahwa kau benar-benar mencintainya. Dia berhak bahagia. Kalian berhak bahagia." Saran karin sambil mengusap pelan tangan Naruto..
Pintu ruangan UGD tiba-tiba terbuka menampakan seorang dokter perempuan muda. Jika di lihat dari usianya sepertinya tidak beda jauh dengan Karin ataupun Naruto. Mereka langsung menghampiri dokter tersebut.
"bagaimana senior?" tanya karin yang ternyata sudah mengenal sang dokter
"sejauh ini tidak apa-apa hanya pelipis kirinya sedikit sobek dan harus mendapatkan beberapa jahitan, tapi kita akan menunggu hasil scan pada kepalanya. Khawatir ada pendarahan di dalam" jelas dokter muda itu
"dan..dan " Karin mencoba menanyakan pertanyaan yang lain
"Oh kandungannya juga tidak apa-apa. Janinnya baik-baik saja" jawab sang dokter mengerti dengan pertanyaan tak terucap dari juniornya.
"ka-kandungan?" Naruto di buat kaget dengan pernyataan dokter tersebut "ma-maksudnya kandungannya apa dokter?" dia sedikit panik.
"ahh.. jadi anda belum mengetahui kalau istri anda sedang hamil. Maaf saya kira sudah tahu. ya tidak heran memang, kandungannya masih muda jadi wajar saja jika istri anda belum menceritakan perihal kehamilannya. Tenang saja kandungannya aman untuklk sementara. Tapi kita tetap akan memantaunya selama 24 jam kedepan jika anda takut terjadi sesuatu pada kandungan istri anda dan juga kepalanya yang terbentur. Apa itu cukup membuat anda tenang sir?" tanya si dokter ketika melihat wajah panik Naruto
"yya-ya tentu saja dokter, terimakasih. Apa boleh saya melihat keadaan istri saya dok?" tanya Naruto tak sabar.
"oh boleh tapi setelah pasien di pindahkan keruang rawat" ujar sang dokter "kalau begitu saya permisi" pamit si dokter setelah melihat anggukan dari Naruto. tak lama setelah kepergian dokter, Hinata yang di dorong oleh beberapa suster untuk di pindahkan ke ruang rawat mengikuti di belakang.
Naruto melihat miris pelipis istrinya yang di tempeli perban. Tapi untunglah tidak ada luka lain selain itu. dan kandungannya pun baik baik saja. Ya tuhan dia bersumpah sangat kaget mendengar kabar dari dokter tentang kehamilan istrinya.
"Karin bisa jelaskan kenapa kau merahasiakan kabar kehamilan istriku?" tuntut Naruto
"hei.. nadamu tidak usah seperti itu Naruto. ya dia memang hamil usianya sekitar 4 minggu. Katanya beberapa hari lalu Hinata selalu mual-mual dan kurang enak badan. Lalu dia mencoba mengeceknya dengan menggunakan testpeck, hasilnya positif. Tapi untuk meyakinkan bahwa dirinya benar-benar hamil, dia datang keklinikku untuk memastikan. Foto USG dan obatnya saja masih ada padaku, karena ya kau tahu sendiri kejadiaan waktu itu. lagi pula bukan hakku unuk memberikan kabar itu padamu" Ujar Karin mencoba membela diri.
Sementara Naruto terlihat semakin terpukul. Dia ingat Hinata memang sempat beberapa kali mengeluh pusing kepala dan bahkan sampai mual. Tapi jika ditanya kembali perihal keluhannya itu, istrinya selalu menjawab masuk angin. Naruto tidak menyangka sama sekali kalau istrinya sedang mengandung. Ya selama ini mereka memang berhubungan sehat layaknya suami istri dan tak memakai alat penghambat kehamilan, jadi wajar saja jika istrinya itu akhirnya hamil bukan?. Dia hanya merasa menjadi suami yang tidak baik karena sama sekali tidak mengetahui perihal kehamilan istrinya. Apalagi yang dia lakukan malah menyakiti sang istri.. ya tuhan.. apa yang telah aku lakukan.
"kau kenapa Naruto? apa kau tidak senang mendengar kehamilan istrimu?" tanya Karin ketika melihat raut wajah Naruto yang menyendu
"pertanyaan bodoh macam apa itu Karin? Tentu saja aku merasa senang, aku hanya sedih mengingat apa yang sudah aku lakukan pada Hinata." jawab Naruto
"syukurlah kalau kau senang, berarti bukan hanya Hinata yang menerima kabar ini dengan bahagia." Ujar Karin
Dari ujung lorong Iruka berlari-lari kecil ke arah mereka
"hei Naruto kenapa kau meninggalkan aku sendirian mencari tempat parkir?" tanya Iruka yang tiba-tiba datang menghampiri Karin dan Naruto. sementara kedua sepupu itu melirik ke arah kedatangan Iruka.
"ahaha maaf paman, kau tahu aku khawatir pada istriku jadi tidak bisa berfikir dengan benar" Jawab Naruto tertawa canggung
"ya sudah, jadi bagaimana kabar istrimu?" tanya Iruka tidak mempermasalahkan lebih lanjut
"ahh dia baik dan sekarang sedang di pindahkan keruang rawat agar kita bisa melihatnya. Kau tahu paman.. istriku sedang hamil sekarang." Ujar Naruto dengan senyum bangga yang beberapa hari ini luput dari penglihatan Iruka
"wah kabar yang baik, apa kau senang bocah?" pertanyaan retoris sebenarnya. Karena Iruka sudah tahu jawaban bosnya itu dari raut wajahnya yang terpampang jelas di mata Iruka.
"tentu saja aku senang sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah, dirumahku akan ada Naruto kecil. Aku yakin bayinya laki-laki dan dia akan mirip denganku. Hehe" Naruto mulai menghayal melihat dirinya dalam versi yang kecil
"heh Naruto, kandungan Hinata masih satu bulan. Lagi pula percaya diri sekali kau kalau bayi yang sedang di kandungnya itu laki-laki dan akan mirip denganmu?" ujar Karin mengehentikan lamunan Naruto
"kau jangan meremehkan gen Namikaze, Karin. Putraku pasti sangat mirip denganku" ujarnya percaya diri
"hahh terserah padamu saja Naruto, aku hanya berharap anakmu kelak tidak sama bodohnya seperti ayahnya" ledek Karin
"hei sudah.. sudah jangan ribut, kita lihat saja bagaimana nanti bayi yang di kandung istrimu OK! lagipula bukannya kita mau melihat keadaan istrimu?" Iruka melerai, dia khawatir akan ada perang dunia ke tiga di rumah sakit ini.
Naruto hanya menepuk jidatnya, dia hampir melupakan Hinata saking gembiranya mendengar kehamilan istrinya itu.
"Hei Naruto tunggu, kau harus membayar biaya bengkel mobilku OK" ujar Karin, ketika melihat Naruto akan pergi
"apa? Kau yang membuatnya rusak masa aku yang harus membiayainya? Sudah untung kau tak ku tuntut karena mencelakai istriku." Protes Naruto
"kau tidak boleh seperti itu Naruto, aku celaka kan karena mengantar Hinata untuk ke kantormu. anggap saja sebagai rasa syukur atas kehamilan Hinata juga.. ya..ya.." Karin mulai mengeluarkan jurus perayunya.
"ya sudah, nanti kau kirim saja tagihannya ke kantorku. Aku melakukan ini bukan karena luluh dengan jurusmu yang menjijikan itu. aku hanya tidak mau berdebat terlalu lama denganmu. Ada hal lebih penting yang harus aku lakukan sekarang". Jawabnya sambil berlalu meninggalkan Karin dan Iruka.
"Naruto tunggu dulu, hei aku akan ke klinik sekarang jadi bila Hinata menanyakan keberadaan ku, bilang saja begitu OK." Karin mengejar Naruto kemudian beralih pada Iruka yang mengikuti mereka dari belakang " paman maukah kau mengantarku?" pintanya kepada Iruka. Sebenarnya Karin hanya ingin memberikan waktu kepada sahabat dan sepupunya untuk berdua tanpa gangguan darinya atau Iruka.
Iruka hanya mengangguk menyetujui ajakan Karin. Dia tahu maksud karin yang tak terucap itu.
.
.
.
.
Naruto memasuki suite room, tempat dimana Hinata dirawat. Ruangan seluas 50 meter persegi ini terbagi menjadi dua, ruang khusus pasien yang di lengkapi dengan 1 set tempat tidur elektrik yang sekarang sedang di tempati oleh istrinya, 1 bed set cabinet, 1 set lemari pakaian, kursi tamu, satu unit sofa bed, dan 1 unit TV LCD. Sementara untuk ruang keluarga di lengkapi dengan 1 set meja makan keluarga, 1 unit TV LCD, 1 Unit lemari es, 1 unit dispenser, 1 unit microwave, 2 buah sofa dan meja. Juga terdapat 2 kamar mandi, 1 unit wastafel, 2 buah pesawat telpon, dan kitchen set. Naruto cukup terkesan dengan kelengkapan ruangan ini.
Dia segera menghampiri sang istri yang sedang terbaring, matanya masih terpejam sepertinya belum sadar. Setelah melihat keadaan istrinya langsung dengan kedua matanya secara dekat, Naruto cukup tenang. Setidaknya tak ada luka yang parah, selain dari perban yang tertempel manis di kening istrinya itu.
Tubuh Naruto mulai merasakan efek dari shock wave yang bertubi-tubi diterimanya. Mulai dari kabar kecelakaan hingga kehamilan istrinya, belum lagi badannya yang memang sudah di porsir semenjak 3 hari yang lalu, mulai merasakan lelah. Rasanya dia ingin sekali memejamkan mata.
Dia memutuskan untuk ikut berbaring di samping Hinata, di atas ranjang rumah sakit yang cukup untuk di tempati dua orang itu. tangannya langsung memeluk tubuh istrinya dengan possesive, untuk melepaskan semua rindu yang di tahannya selama ini. Menciumi seluruh wajah istrinya dengan lembut, tanpa mengurangi kenyamanan sang istri yang masih terpejam. Dan terakhir sebelum dirinya ikut memejamkan mata dia mencium perut sang istri menyampaikan ucapan bahagia kepada calon buah hatinya. Tak lama setelah itu Naruto tertidur lelap dengan memeluk protective tubuh Hinata, merasakan kehangatan yang tak di dapatnya beberapa hari ini.
.
.
.
.
Hinata terbangun dengan keadaan sedikit linglung, kepalanya terasa pening dan sakit. Seingatnya tadi dia berada di mobil Karin saat tiba-tiba karin mengerem mendadak dan kepalanya terbentur jendela kaca, ketika mobil di belakang menabrak mobil yang di tempatinya. Setelah itu Hinata tak ingat apa-apa lagi. dengan hati-hati dia memegang perutnya, untuk memastikan tidak terjadi sesuatu pada calon bayi yang sedang di kandungnya.
Hinata langsung merasa was-was ketika dia merasakan tangannya terhalangi oleh tangan lain. Namun ketika melirik ke sebelah kanan dan yang terlihat adalah wajah Naruto sedang tertidur menghadap padanya, dia sedikit merasa lega. Setidaknya dia tidak tertidur di pelukan orang lain seperti dugaan sebelumnya.
Tapi tetap saja dia merasa canggung. Walau bagaimanapun mereka belum membahas masalah yang terjadi 3 hari yang lalu. Meskipun jauh di lubuk hatinya, dia enggan beranjak dari kenyamanan pelukan hangat suami yang dirindukannya ini. Namun dia harus segera bangun sebelum kenyamanan ini melenakannya, setidaknya mereka harus membahas masalah yang mereka punya. Belum lagi dia di khawatirkan dengan kondisi bayi dalam perutnya. Bagaimana nasib calon buah hatinya ini, Semoga saja tidak terjadi apa-apa.
"Naruto..." Hinata mencoba menepuk pipi suaminya dengan lembut "bangun.." ujarnya
Namun Naruto tak bergeming dari posisi tersebut.
"Naru... bangun" Hinata mencoba mengguncang tubuh suaminya lagi. tapi tetap saja Naruto tak bergeming. hanya ada satu cara..
"argh.." lirih Hinata berpura-pura kesakitan
Mendengar suara kesakitan Hinata, Naruto langsung membuka kedua matanya dan bangun.
"sayang.. apa ada yang sakit?" tanya Naruto khawatir
Sementara Hinata hanya tersenyum dan menggeleng. Dia sedikit bahagia, setidaknya suaminya ternyata masih peduli padanya.
"aku mau duduk.." rengek Hinata
Mengerti dengan keinginan istrinya Naruto langsung membantu Hinata duduk kemudian dia menaikan ranjangnya ke posisi lebih atas. Sementara drinya duduk di tepi ranjang setelah Hinata merasa nyaman dengan posisinya.
Mereka terdiam cukup lama, tak ada yang berani memulai untuk bicara. Naruto ragu dan bingung harus memulai dari mana. Banyak kata yang ingin ia ucapkan namun semua terasa sulit keluar dari mulutnya. Sementara Hinata terdiam karena ingin memberikan kesempatan pada suaminya untuk memulai pembicaraan, walaupun dia merasa tak sabar. Bagamanapun dia ingin mengetahui keadaan kandungannya. Namun sepertinya harus sedikit bersabar karena sampai 5 menit berlalu suaminya tak kunjung membuka mulutnya.
"Hinata..." Naruto mencoba bersuara "kejadian waktu itu, hanya salah faham. Aku bersumpah tidak punya hubungan apa-apa dengan Sakura. Saat itu..saat itu aku hanya di minta Sakura untuk mengantarnya periksa kandungan. Dan aku bersumpah bahwa aku bukan ayah dari bayi yang dikandungnya" ujarnya menjelaskan. Sementara Hinata hanya bisa diam dan menundukan kepalanya sambil mengepalkan tangan di pangkuannya.
"Hinata...lihat aku..jangan tundukan wajahmu lagi. aku..aku sudah cukup menderita beberapa hari ini tak melihat wajahmu dan mendengar suaramu sayang. Jadi jangan pernah sembunyikan wajah ini lagi. jika tidak aku bisa gila" lanjut Naruto sambil memegang wajah istrinya.
Hinata masih diam belum berani bersuara. Dia merasa bersalah setelah mendengar kata-kata suaminya karena waktu itu dia langsung pergi tanpa mendengarkan penjelasan suaminya terlebih dahulu. Namun dia akan mendengarkan apa yang ingin di sampaikan oleh Naruto dulu untuk saat ini
"Kau tahu sayang... beberapa hari ini aku seperti orang gila tanpa kehadiranmu. Dan.. dan saat aku mendengar kau kecelakaan kemudian di larikan kesini, rasanya..rasanya bukan hanya nafasku yang serasa tersendat tapi juga jantungku serasa ada yang mencabut tiba-tiba" Naruto terdiam sebentar dan memperhatikan mata Hinata yang tidak fokus, berusaha menghindari tatapannya.
"Hinata tatap mataku, jangan menghindar" pinta Naruto "Hinata...aku..aku cinta padamu. Aku mencintaimu sayang..percayalah padaku!" Naruto menatap lurus mata Hinata, untuk meyakinkan istrinya itu bahwa pernyataannya serius dan tidak main-main.
Sementara mata Hinata membulat dan mulai berkaca-kaca mendengar pernyataan cinta suaminya. Apakah ini benar? apakah dirinya tidak salah dengar? Kata-kata yang di ucapkan suaminya itu adalah kata yang selama ini ia nantikan bukan? Dia bingung. Bukan, Hinata bukan tidak percaya atas pernyataan suaminya itu, tapi bolehkah dia merasa sedikit ragu, apalagi dengan masalah yang tengah mereka hadapi sekarang ini.
"ta-tapi bagaimana dengan Sakura?" tanya Hinata lirih
"aku sudah mengatakan padamu sayang, aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Setelah dia memutuskan untuk bertunangan dengan Sasuke. Saat itulah aku sudah melupakannya. Aku tidak akan munafik padamu sayang, ya mungkin saat itu masih ada rasa cinta untuknya, tapi sekarang rasa itu sudah tidak ada. Aku masih peduli padanya tapi bukan dalam artian sebagai kekasih, tapi sebagai seorang sahabat. Kau tahu hal itu kan, seperti kepedulianmu pada sahabatmu Kiba dan Shino" Naruto terdiam sebentar untuk melihat reaksi Hinata
"Kau tahu? Sakura bagaimanapun merupakan sahabat terdekatku selain Sasuke, dia yang menemaniku saat aku kesulitan di masa-masa awal kepindahanku dari London. Jadi ketika dia ada masalah aku tidak bisa mengabaikannya kan? itu tidak adil untuknya, apalagi dia sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini. Sakura yatim piatu semenjak aku mengenalnya pertama kali. Dan dia juga tidak memiliki kerabat dekat selain aku dan Sasuke. Kau mengertikan sayang?" tanya Naruto. Hinata hanya mengangguk mengiyakan.
Bagaimanapun Hinata bukan orang kejam, jika sahabatnya sedang tertimpa masalah dia juga pasti akan melakukan hal yang sama seperti yang suaminya itu lakukan. Apalagi mendengar kenyataan bahwa sahabatnya tidak punya siapa-siapa selain dirinya.
"jadi.. apa sekarang kau memaafkanku sayang?"
"kau belum meminta maaf Naru.." jawab Hinata
"ahahaha benarkah? baiklah sebagai permintaan maaf kau boleh meminta sesuatu. Apa saja asal jangan menyuruhku pergi darimu OK" tawar Naruto dengan tatapan mata yang menggoda
"mmm.. kalau begitu, aku minta dibuatkan ramen" jawab Hinata
"jangan itu sayang..."
"kau bilang apapun, Naru. Jangan-jangan kau hanya bercanda terhadapku?" Hinata mulai berkaca-kaca lagi.
"bukan begitu, makan ramen kurang baik untuk seseorang yang sekarang sedang bergelung nyaman disini sayang..." ujar Naruto sambil mengusap perut Hinata dengan lembut
Ahh Hinata jadi lupa bahwa tadi, dia ingin mengetahui keadaan bayinya. Untung diingatkan Naruto. Jika mendengar kata-kata suaminya itu berarti bayinya baik-baik saja, dia bisa tenang sekarang. Tunggu dulu bukan kah suaminya belum tahu kalau dirinya sedang hamil. Jangan-jangan Naruto berkata mencintainya karena dia sudah tahu Hinata sedang mengandung anaknya.
"ja-jadi Naru sudah tahu kalau aku sedang hamil? Jangan-jangan kau..." pertanyaan Hinata tidak di lanjut karena jari Naruto langsung mengisyaratkannya untuk terdiam. Mungkin ini yang di maksud Karin dengan sifat kurang percaya diri istrinya itu. pasti saat ini Hinata menganggap Naruto mencintainya hanya karena iba.
"tidak Hinata, jangan berfikir macam-macam. aku sudah jatuh pada pesonamu jauh sebelum ini. Tapi aku butuh sedikit pencerahan untuk menyadarinya. Jadi jangan berfikiran kalau aku mencintaimu karena kau sedang mengandung anakku OK. dia hanyalah hadiah tuhan yang di berikanNya untuk melengkapi cintaku padamu. Menjadikan aku semakin tidak akan melepasmu apapaun yang terjadi." Ujar Naruto saat menyadari keraguan Hinata setelah ucapannya tentang kehamilan istrinya itu.
Hah entahlah mengapa hari ini dia seolah-olah menjadi pujangga. Berusaha mengeluarkan kata-kata manis seperti tokoh pria dalam novel-novel romantis, salah satu jenis novel favorit istrinya itu. Atau bisa jadi ini akibat ulah istrinya yang selalu memintanya membacakan kisah romantis jika dia sedang senggang. Jadi Naruto tertular oleh karakter tokoh di dalam cerita di novel-novel romantis istrinya tersebut.
Namun kata-katanya tak sia-sia, lihat saja wajah Hinata sekarang sudah bersemu merah setelah mendengar ucapannya. Dan itu membuat dirinya menjadi senang. Tak apalah dia rela menjadi pujangga bahkan pengemis cinta untuk melihat wajah istrinya seperti ini.
"kau percaya padaku kan sayang?" Naruto bertanya sambil mengusap lembut wajah istrinya
Hinata hanya mengangguk dan menggenggam tangan suaminya itu. Naruto mendekatkan wajahnya pada wajah Hinata.
"aku tidak ingin melihat lagi ada air mata kesedihan yang keluar dari mata indah ini" ujarnya sambil mencium satu persatu mata istrinya itu
"aku hanya ingin selalu melihat pipi ini merona karena bahagia" lanjutnya sambil mencium kedua belah pipi Hinata
"dan aku hanya ingin selalu melihat senyum dan mendengar kata-kata indah penuh cinta yang keluar dari bibir ini" akhirnya mencium bibir mungil wanita pujaannya. Naruto memperdalam ciumannya seolah itu adalah udara yang di butuhkan untuk pernafasannya .Hinata membalas ciuman suaminya itu dengan keantusiasan yang sama. Mereka berciuman lama untuk menyalurkan seluruh kerinduan masing-masing tak peduli dengan dunia lain yang mungkin memperhatikan mereka.
.
.
.
.
"jadi sekarang kalian sudah baikan?" tanya Karin yang duduk di sofa tamu dekat dengan ranjang Hinata di ruang rawatnya. Setelah pulang kerja Karin menyempatkan diri dulu menjenguk Hinata. dan ketika dia hendak masuk, pandangan yang membuat iri hatilah yang menyambutnya.
Bagaimana tidak, dia melihat Hinata sedang duduk diantara dua kaki Naruto, kepalanya bersandar di dada pria itu. Bukan itu saja tangan Naruto memeluk protektif perut datar istrinya dan dagunya mengecupi kepala indigo Hinata. Hadeh tidak tahu apa Karin itu jomblo dan melihat pemandangan seperti itu membuat jiwa kesepiannya berteriak.
Tak tahan dengan kegiatan lovey dovey di depannya itu, dia berdehem dengan cukup keras agar mereka mengakhiri kegiatan yang membuat mereka lupa akan dunia luar itu. Dan akibatnya dia mendapatkan deathglare gratis dari sepupu mesumnya itu sementara Hinata hanya menunduk malu menutupi rona merah di pipinya.
Syukurlah, sekarang Naruto, sepupu mesumnya sedang keluar untuk membeli makanan dan mengambil baju ganti untuk Hinata. jadi dia bisa mengintrogasi sahabatnya ini.
"mhm..." hinata brgumam dan mengangguk mengiyakan pertanyaan Karin.
"jadi Naruto hanya menolong Sakura menutupi kehamilannya? Menurutku Hina.., di sini ada beberapa keganjilan" Karin berujar membuat Hinata penasaran
"keganjilan apa maksudmu Karin?" tanya Hinata
"kalau di perhatikan dari usia kehamilan Sakura dan perpisahan antara dia dan Sasuke rasanya ada yang aneh"
"aneh bagaimana Karin?" wanita berambut indigo itu semakin penasaran dengan sahabatnya
"begini Hina, saat aku memeriksa kandungan Sakura, usia janinnya saat itu 8 minggu. Kau tahu, masa bertahan sperma laki-laki sebelum membuahi sel telur wanita setelah melakukan hubungan intim?" tanya Karin yang makin membuat Hinata mengerutkan keningnya
"aduh Karin, kau jangan membuat aku semakin pusing" protes Hinata
"baiklah, begini.. ketika lelaki dan wanita berhubungan intim, Saat mencapai orgasme, seorang pria akan mengeluarkan cairan sperma ke dalam alat reproduksi wanita. Cairan ini melesat ke dalam rahim mencari jalan untuk bertemu dengan sel telur.
Kontraksi lembut pada rahim membantu sperma hidup dalam saluran reproduksi mencapai sel telur. Sperma-sperma akan melakukan perjalanan sepanjang kurang lebih 18 cm dari leher rahim ke tuba falopi di mana sel telur biasanya berada. Sperma pertama yang bertemu dengan sel telur akan berusaha menembus cangkang sel agar terjadi pembuahan.
Umumnya sperma-sperma ini dapat berenang dengan kecepatan 2,5 cm tiap 15 menit. Beberapa sperma dapat menghabiskan waktu setengah hari untuk mencapai tujuan. Sementara sperma tercepat biasanya mencapai sel telur dalam waktu 45 menit.
Pembuahan harus terjadi dalam waktu 24 jam setelah sel telur dihasilkan. Setelah salah satu sperma berhasil menembus sel telur, sel tersebut berubah bentuk sehingga sperma lain tidak bisa menembus masuk. Saat itulah janin terbentuk.
Namun jika sperma tidak juga menemukan sel telur untuk dibuahi, mereka dapat tetap bertahan dalam tuba falopi hingga 7 hari setelah hubungan seksual. Jika dalam 7 hari tersebut wanita mengalami ovulasi, maka pasangan tersebut akan mendapatkan keturunan." Jelas Karin panjang lebar
Hinata hanya mengernyit mendengar penjelasan sahabatnya itu. dia sudah tahu proses pembuahan pada sel telur. Yang dia herankan adalah hubungannya dengan Sasuke dan Sakura itu apa?
"Hinata.. maksudku bukankah tidak wajar jika Sakura hamil dan mengaku pada Naruto bahwa bayi yang di kandungnya adalah anak Sasuke? sementara mereka sudah berpisah sebelum kehamilan itu terjadi.. aduh bagaimana menjelaskannya ya... aku jadi bingung sendiri" lanjut karin melihat Hinata yang kebingungan
"begini saja, aku tadi sudah menjelaskan bahwa masa bertahan sperma pada rahim wanita sebelum terjadi pembuahan adalah seminggu. Dan jika lebih dari itu maka sel itu akan mati. Secara otomatis tidak ada pembuahan atau dengan arti lain tidak ada kehamilan.
Jika di hitung dari usia kandungan Sakura berarti dia setidaknya harus mengalami pembuahan 8 minggu yang lalu. Sementara menurut keeranganmu dari cerita Naruto bahwa Sakura berpisah dengan Sasuke 2 bulan setelah mereka bertunangan, tepatnya tanggal 2 Maret. Yang artinya itu sekitar 9 minggu yang lalu. Kecuali mereka berhubungan seksual sebelum atau setelah Sasuke memutuskan pertunangannya pada hari itu. Dan menurutku tidak mungkin. Apa lagi menurutmu Itachi bercerita bahwa mereka sudah tidak akur sebulan sebelumnya" jelas Karin lagi
"ma-maksudmu Sakura berbohong mengaku dirinya hamil?" Hinata bertanya bingung setelah mendapatkan penjelasan Karin
"kehamilannya benar Hinata, aku sendiri yang memeriksa waktu itu. yang aku maksud, kemungkinan dia berbohong tentang ayah bayi dalam kandungannya"
"jadi Sasuke bukan ayah dari janin yang di kandung Sakura?" Tanya Hinata semakin bingung dan Karin hanya mengangkat bahu.
"berarti dia mengandung anak Naruto maksudmu?. Ja-Jadi kemungkinan Naruto berbohong padaku" lanjut Hinata lirih dengan mata yang mulai berkaca-kaca dan nafas yang tidak teratur
"ya ampun Hina tenangkan dirimu...aku tidak mengatakan bahwa Sakura mengandung anak Naruto. Ini baru praduga ku, kemungkinan ayah janin yang di kandung Sakura bukanlah Sasuke. Mengingat penjelasan ku tadi dan juga sikap yang di ambil Sakura saat ini. Untuk apa coba dia menyembunyikan kehamilannya jika itu anak dari Sasuke, bukankah dia mencintai pria itu?. dan lagi kenapa wanita itu malah meminta pertolongan pada Naruto bukannya keluarga Uchiha, yang lebih berhak?. Aku curiga wanita itu punya maksud tertentu dengan melibatkan Naruto. Kau ingat tidak ucapannya waktu itu di klinikku. Dia seperti sengaja membuat kita menduga bahwa dia sedang mengandung anak Naruto, sampai bilang akan segera menikah segala, apa maksudnya coba?" jelas Karin
Hinata hanya terdiam mendengarkan praduga Karin, fikirannya kemana-mana tapi tetap berpusat pada kemungkinan Naruto berbohong padanya
"hei Hina.. apa kau percaya pada suamimu?" tanya Karin akhirnya ketika melihat raut wajah Hinata yang bingung dan seperti ingin menangis itu "Naruto sangat mencintaimu, kau harus yakini itu jadi tidak mungkin dia berkhianat OK. Yakinkan dalam hatimu bahwa Naruto berkata jujur, dia bukan ayah dari bayi yang di kandung Sakura. Yang harus kita pertanyakan adalah, punya motif apa wanita itu pada Naruto? jadi kau harus berhati-hati padanya. Kau mengerti?" Karin menekankan pada Hinata sambil memegang bahu wanita itu. sementara Hinata hanya mengangguk lemah.
"sekarang hilangkan wajah akan menangismu itu, sebelum suamimu datang. Bisa-bisa aku yang akan di teror olehnya melihat wajahmu seperti ini"lanjut Karin lagi.
Hinata berusaha menghilangkan fikiran negatifnya terhadap Naruto
Karin benar Naruto tidak mungkin berbohong. Suaminya itu tidak mungkin tidak mengakui darah dagingnya sendiri, dia bukan pria seperti itu . Jadi ada apa sebenarnya ini? Sakura punya motif apa terhadap suaminya? Dan rahasia apa yang di sembunyikan oleh wanita itu?...
