Choose!
Pair: BoBoiBoy (Taufan) x Yaya
Genre: Romance, Humor, & Family
Disclaimer: BoBoiBoy adalah milik Animonsta, Ni-chan hanya meminjam karakternya saja
Warning: Typo, Gaje, OOC, Abal-abal, Humor gagal, dll.
Happy Reading~!
RnR please?
Chapter 4
Jam 10.30. Setengah jam setelah kekacauan di kamarnya terjadi, Yaya sudah siap untuk berangkat. Karena ini cuma jalan-jalan biasa, ia tidak perlu berlebihan dan memakai pakaian santai seperti biasa ia keluar saja dan tas selempang kecilnya. Sekarang ia tengah menunggu Taufan yang sedang mandi dan berganti pakaian. Kalau sudah selesai katanya ia akan segera menjemputnya.
"Yaya~! Apa aku terlambat?!"
"Hm?" Sekali berkedip, tiba-tiba Taufan sudah berada tepat di depan wajahnya. "Kyaaa!"
Jatuh lagi. Kenapa sih di anatra kelima Boboiboy yang lain selalu saja Taufan yang paling sering mengerjainya. Kalau Api sih, dibanding ngerjain, lebih tepatnya ngajakin main, tapi mainannya berbahaya semua. Nunjukin pertunjukan bola api, terus harimau yang melompati hulahup, parade sama teman ayam-ayamnya. Serius deh, Yaya sempat ingin bilang ke Api agar cowok itu lebih baik kerja di sirkus aja, tapi Yaya mengurungkan niatnya begitu mengingat sifat Api yang sensi itu.
"Ehehe, apa aku mengagetkanmu lagi?"
"Fuhh … benar-benar deh … kau yang paling unik di antara keempat Boboiboy yang lain, tapi aku tidak benci sisi itu darimu, Taufan." Yaya tersenyum tipis.
Bush! Sekejap seluruh wajah Taufan memerah sampai ke telinganya.
"Ehh? Benar aku sampai segitunya … di matamu, Yaya? Eng … hehe," Taufan nyengir lebar sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tak tertutup topi. "Ngomong-ngomong, apa kata orangtuamu atas keributan tadi?"
"Hm? Ayah dan Ibuku, serta adikku sedang pergi ke mengunjungi nenekku di luar kota, katanya lagi sakit. Aku juga ingin menengok, tapi kan harus sekolah. Tapi kalau tahu bakal dapat liburan semingguan gini harusnya lebih baik aku pergi saja ya …" pikir Yaya.
"Ehhh?! Kalau kau pergi, jalan-jalan kita kan bakal batal?!" Taufan terlihat kecewa.
Yaya tertawa kecil. "Aku bercanda kok. Ya ampun, Taufan. Kau itu gampang sekali dipengaruhi ya, walau nggak semudah Api."
"Ehh … umm … masa?" Ekspresi Taufan menjadi sedikit aneh, namun ia segera menggeleng-gelengkan kepala dan memasang tampang ceria seperti biasanya. "Jadi, kita pergi sekarang? Ayo!"
Taufan berlari ke arah jendela dan melompat keluar, membuat Yaya kaget dan otomatis menengok ke luar jendela, dimana Taufan sekarang sedang berdiri di atas hoverboard-nya sambil tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya pada Yaya. Gadis berkerudung merah muda itu tersenyum lalu naik ke atas hoverboard milik sang pengendali angin lalu Taufan segera memacunya.
Setelah lima belas menit, akhirnya mereka berdua sampai ke tempat tujuan mereka. Sejujurnya Yaya juga belum tahu karena sewaktu ia bertanya pada Taufan, ia hanya diam sambil menyeringai lebar. Tapi sekarang saat Yaya melihatnya sendiri, akhirnya ia tahu. Ini …
"Mal? Ternyata Taufan memang suka yang beginian ya."
"Hehe, tentu saja. Hari ini ada film bagus nih! Awalnya Kak Hali sih yang mau ngajak Yaya kesini, cuma karena aku yang dipilih buat jalan-jalan duluan, kuajak Yaya duluan kesini! Hehe …" kata Taufan nyengir.
"Taufan memang akrab dengan Halilintar ya," Yaya tertawa kecil. "Kemarin juga begitu. Kalian berdua yang mencariku dengan Gempa dan menemukan kami di kantin."
"Ehehe, itu sebenarnya kemarin pas Kak Hali, aku, Api, sama Air pas lagi dikerubungi sama teman-teman sekelas, terus mendadak Kak Hali sadar kalau Kak Gempa sama Yaya nggak ada di kelas. Terus sudah begitu kayaknya insting cemburunya kumat. Jadi dia narik aku dari kerumuman itu dan ngajak-eh, lebih kayak merintah sih, buat nyari Kak Gempa sama Yaya. Nah, terus ketemu di kantin, aku baru teriak dikit aja, Kak Hali sudah datang dan menginterogasi Kak Gempa," cerita Taufan.
Yaya tertawa kecil. "Terkadang Halilintar bisa manis juga ya." Yaya berhenti tertawa saat bingung menatap Taufan di depannya yang memasang ekspresi suram. "Kenapa, Taufan?"
"Umm … aku nggak mau kalau kita jalan-jalan berdua ini cuma ngomongin Kak Hali aja… padahal akhirnya aku bisa jalan sama Yaya mendahului saudara-saudara yang lain. Jadi lupakan dulu semua tentang Kak Hali, oke?"
Di lain sisi…
Halilintar yang lagi pundung berat karena kalah telak di hom-pim-pah kemarin, tiba-tiba bersin keras disertai dengan gemetaran hebat. Bukan karena takut, bukan juga karena kedinginan, tapi lebih kayak … emosi gitu?
"Hatchuu~! Duh, kok mendadak rasanya aku jadi pengen marah gitu ya?" Halilintar mengusap hidungnya dengan tisu sembari menoleh ke kiri dan kanan mencari target aman untuk meluapkan semua emosinya dan pandangannya tertuju pada Api yang sedang bermain bola sendirian di halaman rumah.
"Kita jalan-jalan di mal, tapi aku belum menyiapkan rencana mau kemana sebelum nonton. Jadi kau bisa pilih sesukamu mau kemana, Yaya," ujar Taufan blak-blakan tanpa malu. "Yah, habisnya aku kan belum pasti sama keputusanmu yang bakal milih aku buat jalan-jalan yang paling pertama. Semalam aja kami semua nggak bisa tidur mikirin siapa yang bakal kau pilih dulu."
"Duh… jangan sampai segitunya dong! Lagian kalau ujung-ujungnya nentuinnya pakai hom-pim-pah juga, kenapa nggak kemarin aja di sekolah?"
"Ehehe …" Taufan cuma nyengir.
"Ah! Aku tau mau pergi kemana!" Tangan kiri Yaya menarik pelan baju di siku yang dipakai Taufan dan tangan yang satunya menunjuk sebuah toko dengan banyak poster 'best seller' di kacanya.
"Toko … buku?"
"Un!" Yaya mengangguk kuat. "Kita ke sana yuk? Ada buku yang mau kucari!"
"Kalau Yaya mau, aku nggak masalah kok. Dan lagi, kan aku yang menyuruhmu memilih tempat tadi. Jadi pilih saja tempat yang kau suka, nggak usah minta izin dariku."
"Yeayy! Yuk! Cepaatt!" Yaya melepas tangannya dari baju Taufan dan segera menuju toko yang dimaksud.
Taufan hanya mengikuti mau gadis itu, meski ia sendiri tidak terlalu suka membaca buku-buku yang biasanya diminati sang gadis. Taufan berjalan menuju rak-rak komik, sambil terkadang mengambil salah satu yang segelnya terbuka dan membolak-balik halamannya, istilah lainnya sih, numpang baca (ketahuan Authornya sering numpang baca juga nih/ekh, ketahuan). Yaya sendiri ada di rak kumpulan buku novel remaja dan terkadang melintasi rak-rak berisi buku sastra.
Setelah beberapa saat Taufan akhirnya bosan dan memutuskan untuk mencari Yaya yang nampaknya masih asyik di deretan buku novel ringan.
"Yaya, kau masih belum selesai?"
"Ah, Taufan! Lihat ini deh!" Yaya dengan mata berbinar-binar menunjukkan sebuah novel ke Taufan. "Novel baru karya salah satu penulis favoritku! Akhirnya dia menerbitkan novel baru juga setelah setahun lamanya."
"Oh, baguslah. Kau memang suka novel dengan genre romance begitu ya, Yaya. Memang cocok dengan dirimu."
"Eh? Ini bukan sekadar novel romance biasa kok," ujar Yaya. "Terkadang novel dengan tema romance saja terlalu membosankan, karena biasanya ending-nya sudah bisa ditebak, yaitu sang hero jadian atau bahagia bersama dengan sang heroine selama-lamanya. Kan klise banget. Aku lebih suka novel misteri yang diselingi adengan romance! Dengan begitu ceritanya jadi tidak begitu hambar."
"Hoo … aku baru tahu Yaya suka novel misteri."
"Yap! Aku suka! Tapi bukan cuma novel misteri saja kok. Semua buku juga bisa kugarap!" tambah Yaya semangat. "Jadi aku sudah selesai. Apa kau masih mau lihat-lihat, Taufan?"
"Tidak, justru barusan aku sedang menunggumu."
"Ehh? Jadi aku yang lama? Maaf … kalau sudah berurusan dengan buku aku langsung jadi asyik sendiri. Ah, Gempa itu suka buku nggak ya? Aku nemu buku yang kukira dia bakal suka. Apa nggak sekalian kubeli aja?"
"Eh, Kak Gempa? Hmm … aku kurang tahu sih, tapi kalau memang kau mau beli, beli saja." Taufan berpikir singkat, lalu ia langsung mengganti topik. "Aku belum menunggu selama itu juga kok. Sudah, jangan dipikirkan. Mumpung kau sudah selesai memilih buku, bagaimana kalau kita nonton?"
"Bioskop?"
"Yap."
"Setuju! Boleh aku yang pilih filmnya? Dari dulu ada film yang ingin kutonton bersamamu, Boboiboy!" seru Yaya ceria, membuat Taufan sedikit tersenyum miris karena yang disebut Yaya barusan sebenarnya bukan dirinya, melainkankan orang lain...
Taufan tahu, kalau perasaan Yaya padanya hanya sebatas kecil saja. Yang benar-benar Yaya sukai bukanlah ia, Taufan, tapi … Boboiboy yang asli, yaitu dia yang bersatu dengan saudara-saudaranya. Bukannya ia tidak bahagia hanya mendapat sebagian kecil perasaan Yaya saja, malah ia sudah bersyukur bisa mendapatkan momen bersama Yaya hanya untuk dirinya sendiri meskipun ia tahu ini tak akan berlangsung lama, karena pasti gadis itu akan mati-matian mencari cara agar Boboiboy yang disukainya bisa kembali.
"Umm … Taufan? Apa kau tidak apa-apa? Kalau memang ada film yang mau kau tonton, aku mengalah saja. Tidak apa-apa kok," ujar Yaya yang agak tidak enak melihat Taufan yang tampak murung.
"Bu-bukan!" Taufan panik. "Nggak ada apa-apa kok. Aku terserah aja kalau Yaya yang mau pilih filmnya."
"Sungguh?"
"Tentu saja." Taufan mengangguk mantap. "Jadi kita pergi sekarang?"
"Sudah, jangan nangis lagi, nanti wajah manismu itu rusak." Taufan panik sambil menepuk-nepuk pelan punggung Yaya yang nampak masih sesenggukan setelah film yang mereka tonton selesai. "Apa film tadi sebegitu menyentuhnya bagimu?"
"Hm! Tentu saja!" angguk Yaya kuat. "Habisnya cerita itu bagus banget. Tentang pianis yang mengalami luka mental berupa tidak bisa mendengar suara piano lagi, bertemu dengan seorang violinis yang penuh dengan semangat di bulan April. Lalu, setelah akhirnya sang hero bisa bangkit kembali, heroine-nya …"
"Umm … dia pergi kan?" timpal Taufan pelan.
Film yang mereka tonton barusan, live action dari salah satu anime populer beberapa tahun yang lalu, bahkan mungkin sampai sekarang. Shigatsu wa Kimi no Uso, atau Your Lie in April. Menceritakan tentang seorang pianis, Arima Kousei yang bertemu seorang gadis di bulan April, Miyazono Kaori, seorang violinis yang terlihat selalu bersemangat, namun dibalik itu dia adalah gadis yang sakit-sakitan semenjak kecil. Setelah Kousei menjadi lebih baik, Kaori justru tidak bisa menemaninya lebih lama lagi karena penyakitnya yang kian parah, dan pada hari pemakamannya, ia menerima surat dari orangtua Kaori yang ditulisnya sebelum ia berpulang. Tertulis di surat itu bahwa ia hanya berbohong tentang ia menyukai sahabatnya, karena sejak awal yang ia sukai adalah …
"Nee … Taufan," ucap Yaya pelan. "Kalau aku bernasib sama seperti heroine dalam cerita tadi, menurutmu apa yang akan terjadi?"
"Eh? Kenapa tiba-tiba-!"
"Umm! Lupakan! Aku cuma barusan membayangkan seperti apa reaksi Halilintar kalau aku mendadak tanya hal seperti ini. Hihi, wajah kagetnya itu kadang terkesan menggemaskan sekali... Lagian ini fanfic ini kan genre-nya Romance-Humor, jadi nggak bakal ada yang mati di sini kan, tenang ajalah. Ahahaha…" ucap Yaya yang membuat Taufan sweatdrop mendengar spoiler darinya. Gadis itu tertawa kecil lalu kemudian berdiri. "Oh ya, ngomong-ngomong aku lapar nih! Cari sesuatu untuk dimakan yuk?"
Hap! Siapa sangka mulut sekecil itu bisa langsung meraup banyak dari sebuah crepe yang baru saja ia beli. Begitu pikir Taufan. Tapi Yaya hanya mengunyah crepe-nya dengan tenang walaupun ia baru saja menghabiskan segigit besar. Juga meski ia membeli sebuah crepe ice cream, mulutnya tetap bersih tanpa setitik pun krim putih dari crepe yang dimakannya.
"Hng? Kenapa?" tanya Yaya bingung menyadari Taufan menatapnya kagum.
"Nggak! Aku cuma berpikir, Yaya itu gadis yang hebat ya."
Yaya menelan crepe yang telah halus setelah dikunyahnya.
Gadis itu tersenyum miris ke arah Taufan. "Aku … bukan gadis yang hebat, kau tahu?" ujarnya pelan. "Aku cuma gadis lemah yang menggunakan senyuman untuk menyamarkan semua kelemahan dan kekuranganku. Aku rasa … terlalu larut dalam kekuranganmu, itu dapat menghancurkan dirimu sendiri. Tapi, aku tidak ingin lari dari semua itu, karena bagaimanapun, itu kekuranganku. Aku harus menerimanya, atau begitulah yang kupikirkan. Ehehe ..."
Taufan termenung sejenak mencerna ucapan Yaya.
"Hm. Aku tidak salah. Kau memang gadis yang hebat," ucap Taufan lagi, seperti tidak mendengar perkataan Yaya barusan. "Kau kuat, bisa menerima dirimu sendiri, sedangkan aku merasa kurang … memang aku selalu riang, tapi sebenarnya dalam lubuk hatiku, aku merasa bahwa diantara saudara-saudaraku, aku yang paling lemah. Hahaha, lucu sekali bukan?"
Yaya ingin membantah, tapi ia memutuskan untuk mendengarkan penuturan pengendali elemen angin itu.
"Mereka semua lebih hebat dariku, aku mengakui hal itu. Kak Gempa yang dewasa, lalu Kak Hali yang tegas. Api yang ceria dan polos, serta Air yang rileks. Mereka punya kelebihan masing-masing, sedangkan aku …"
Puk! Sebuah telapak tangan yang hangat menepuk pelan pipi Taufan. Ia menoleh ke arah pemilik tangan tersebut dan kedua manik sapphire-nya membulat melihat gadis yang menatapnya dalam-dalam.
"Kau … bukan orang seperti itu, Taufan. Seperti katamu, semua memiliki kelebihan masing-masing, tapi itu juga sebanding dengan semua yang sama-sama memiliki kekurangannya sendiri. Kau pikir semua saudaramu sempurna? Tentu saja tidak. Kau juga tahu kan, Gempa itu kadang plin-plan, lalu Halilintar yang curigaan sekaligus gampang marah, Api yang serampangan sampai membakar sesuatu secara tidak sengaja, dan Air yang pemalas," tutur Yaya. "Aku tahu, kau juga memiliki kekurangan, tapi harusnya kau berusaha menerima dan mengatasinya, bukan lari dari kenyataan."
Kedua manik itu kembali mengerjap, tidak percaya apa yang barusan didengarnya dari gadis di depannya yang menunjukkan raut wajah yang sungguh-sungguh, sayang sekali raut itu terpatahkan oleh es krim dengan jumlah yang lumayan banyak, kira-kira sesendok, yang jatuh ke rok bagian sampingnya.
"Uwaaaa! Jatuhh! Es krimnya jatuhh!" Ekspresi sempurnanya barusan langsung terpatahkan dengan wajah seorang anak-anak yang meratapi balon yang terlepas dari tangannya dan terbang bebas ke angkasa.
"Waduh, maaf," Taufan panik dan merogoh sakunya, mengeluarkan sapu tangan. "Maaf ya, gara-gara aku rokmu jadi kotor begitu."
"Uhh … bukan masalah roknya." Mata Yaya terlihat berkaca-kaca. "Tapi … es krimnya kan jadi sayang … nggak bisa dimakan …"
"Ah … itu toh." Taufan menggeleng-gelengkan kepalanya lalu menyunggingkan senyum iseng seperti biasanya. "Enggak sayang kok. Mau aku yang makan?" Lidah cowok iseng itu sudah mulai mengintip dari balik lipatan bibirnya.
"Silakan …" balas Yaya sambil tersenyum penuh arti. "Kalau kau mau bibir indahmu itu kena cium bogemku setelah melakukan hal seperti itu di tempat umum."
Benar kan. Yaya sudah mengacungkan genggaman tangannya lengkap dengan urat-uratnya yang tidak cocok dipadukan dengan wajah manisnya itu.
"Aku mengerti, nggak akan kok, nggak akan, setidaknya sampai ijab kita kabul nanti, fufu." Taufan masih sempat-sempatnya godain, membuat muka gadis itu memerah.
"Ka-kau ngomong apa sih! I-itu kan …!"
Taufan menghela nafas lalu tersenyum tipis. "Iya, aku tahu. Kalau denganku, itu nggak mungkin kan?" ujarnya, tapi berbeda dengan sebelumnya, kali ini ia hanya tertawa lega. "Untukku hanya sendiri, itu nggak mungkin. Tapi, kalau aku bersama dengan yang lainnya, itu pasti akan terjadi suatu saat nanti."
Blush!
"Ngo-ngomong apa sih, dari tadi! Itu, itu-!" Muka Yaya merah padam. "Itu kan sama aja!"
"Nggak dong. Aku kan cuma sekadar pecahan dari wujud orang yang kau suka. Tapi meskipun begitu aku nggak akan kalah dari yang lainnya dalam waktu kita berpecah seperti ini. Jadi, kau siap-siap saja ya, Yaya." Taufan mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya bersamaan sambil nyengir lebar.
"Uu-uuu," Yaya yang masih belum bisa merendam rasa malunya akhirnya bisa menengadah menatap wajah Taufan yang lugu itu.
"Oh iya, barusan crepe-mu jatuh kan? Apa perlu kubelikan yang baru?"
"Nggak, nggak usah. Soalnya …" Yaya segera berdiri setelah merapikan roknya yang baru saja dilap dengan sapu tangan. "Melihat mukamu saja aku sudah kenyang kok."
Dueerr!
"Ukh, ternyata aku memang nggak tahan dengan senyumanmu itu. Curang ah," gerutu Taufan sambil memalingkan mukanya yang merah padam. Yaya hanya tertawa kecil, tapi kemudian ia merasakan sesuatu.
Pandangan … yang menusuk.
Segera saja Yaya menoleh ke arah belakang, dimana ia merasakan hawa dari pandangan itu. Tapi yang dilihatnya adalah orang-orang yang berlalu-lalang. Hal yang normal, mengingat tempat yang sedang diinjaknya saat ini adalah mal. Yaya pun merasa tidak perlu pusing-pusing memikirkannya dan menerima ajakan Taufan untuk pulang setelah melihat jamnya yang menunjukkan pukul empat lewat tiga puluh menit. Tentu saja Yaya menerima ajakan itu dengan senang hati, karena ia memang sudah sedikit lelah.
"Ketemu lagi besok yaa~!" ujar Taufan riang setelah menurunkan Yaya di depan rumahnya.
"Ehh? Bukannya besok giliran yang lain ya?"
"Oh, iya ya. Giliranku sudah selesai hari ini. Uhhh, tau gini aku lebih memilih urutan terakhir, kan biasanya lebih lama dan romantis," Taufan menyesali kemenangannya.
"Itu nggak benar kok. Aku bersyukur jalan-jalan denganmu terlebih dulu, Taufan."
"Eh? Benar? Kalau begitu kapan pun saja kalau kau merasa bosan, panggil saja aku! Aku akan selalu ada untukmu!" ujar Taufan diiringi cengiran lebar khasnya. "Kalau begitu aku pulang dulu. Daaahhh~!"
Yaya masuk ke rumahnya setelah melambaikan tangan singkat ke arah Taufan.
"Uwaaahhh…"
Taufan terperangah melihat halaman rumahnya yang kini berwarna hitam legam dihiasi dengan kepingan-kepingan berwarna merah menyala yang memercikkan energi listrik. Langsung saja ia bisa menebak siapa saja pelaku dari kejadian ini. Kakak yang tertua, Gempa dan adik yang teruncit, Air pun terlihat sedang tekun membersihkan halaman.
"Wah, kayak baru ada bencana alam aja. Memangnya kenapa nih?" Taufan menghampiri Gempa dan Air.
"Lihat saja Kakak sudah tahu kan," ucap Air cuek.
"Terus, mereka berdua mana?"
"Aku suruh mereka belanja bareng tadi, setelah mereka main bola pakai kuasa sampai bikin hancur halaman rumah kayak gini. Mood mereka berdua lagi nggak baik banget tadi. Karena aku pernah dengar kalau makan-makan banyak bersama bisa cepat akrab lagi, ditambah tadi siang di televisi ngelihat supermarket lagi promo daging murah, jadi aku suruh mereka berdua belanja kesana," jelas Gempa.
"Daging! Berarti malam ini kita pesta yakiniku dong? Horeee!"
"Kakak ... jangan terlalu berharap," celetuk Air.
"Eh? Maksudmu?"
"Tadi Atok baru saja pergi ke suatu acara. Pulangnya besok siang."
Taufan bingung. "Jadi?"
Air tidak menjawab dan langsung memalingkan muka, kembali meneruskan tugasnya membersihkan halaman rumah. Taufan menggembungkan pipinya kesal lalu masuk ke rumah.
Di kamarnya-ralat, kamarnya beserta keempat saudaranya yang lain, kebetulan sepi karena empat lainnya masih diluar dengan urusan mereka masing-masing, Taufan melempar tasnya dan menghempaskan badannya di kasur. Ia mengangkat tangan kanannya ke atas dan menatap jam kuasa birunya itu. Silau, karena cahaya matahari dari jendela yang masuk dan menyelip di sela-sela jarinya membuatnya harus menutup mata kirinya. Bersamaan dengan langit yang berwarna oranye pekat, Taufan merenung, apa yang akan terjadi kalau ia kembali bersatu dengan saudara-saudaranya. Selama ini memang ia tidak pernah mempermasalahkan hal itu tapi, hatinya tidak tenang. Seperti akan ada sesuatu yang terjadi bila mereka bersatu kembali nantinya.
Dengan sebuah helaan nafas, Taufan kembali bangkit dari ranjangnya menyudahi renungannya. Ia mengambil handuk dan pakaian ganti lalu keluar dari kamarnya, meninggalkan selembar foto yang mencuat dari dalam tasnya dan terbawa oleh angin sore. Sebuah foto berarti yang menampakkan seorang gadis manis berkerudung merah muda yang tersenyum agak kaku dan seorang laki-laki bertopi menyamping yang memasang pose konyol. Dengan lembut angin itu mendaratkannya pelan di sebuah meja belajar.
~To Be Continued~
Semuanyaaa~! Ni-chan sudah pulang! Kalian kangen kan? Kangen kan? (kayak ada yang kangen sama lo aja :'v) Gimana chapter kali ini? :3 Maaf kalau kurang memuaskan ya. Soalnya ide lagi seret, nih :'3 Nulis author note aja nggak ada ide :'D Kira-kira siapa lagi yang bakal kena giliran di chapter berikutnya yaa? Ada yang bisa nebak? X3 Jumpa lagi chapter depan dan ditunggu review-nya ya. Jaa~ XD
Balasan review: (Maaf karena Ni-chan ternyata gak kuat juga kalau harus balas review yang login juga satu-satu. Jadi tumpuk aja semuanya di sini nggak apa kan? Kan?/maksa)
Ililara: Ahaha, maaf ya, sudah bikin Ililara-san bingung. Ni-chan juga minta maaf ya, kalau ada salah :3 Sudah lanjut, selamat membaca XD
ahsilAfrei: Yup, mereka anak-anak polos sih, makanya gitu deh/plak Ini Ni-chan sudah pulang kok :3
IntonPutri Ice Diamond: Iya dong, gitu-gitu Gempa kan tetap bagian dari Boboiboy origin yang polos dan gak pekaan/dihajar Sudah lanjut, selamat membaca X3
Fanlady: Yaaayy! Menang! Yaayy! Sama-sama. Fan-nee senang, Ni-chan juga senang X3 Iyaa, enak banget yaa, di harem-in gitu, sama lima cowok ganteng pula, sudah pasti bahagia lah :'3 Oh, ortu Yaya sedang bergi berkelana, jadi nggak tau ada lima bocah unyu seenaknya masuk kamar anaknya XD Ni-chan sudah berhasil pulang dengan selamat, Fan-nee, maap ya nggak bisa nepatin janji buat apdet pas begitu pulang, molor 3-4 harian gini TvT Sudah lanjut Nee, selamat menikmati XD
Nisa Arliyani: Makasih doanya yaa, Nisa-san (berasa kayak manggil diri sendiri), ini Ni-chan sudah pulang :3 Ni-chan juga minta maap ya dan ini sudah lanjut, selamat menikmati XD
Rampanging Snow: Hmm … kasih tau nggak yaa/plak Mendekati tuh, prediksinya. Ada yang bener ada juga yang agak tergeser dikit, tapi kira-kira begitulah/gakjelas X'3
Kagayaku Mangetsu-Chan: Ciee, yang lagi direbutiiin/ikutan. Bagus deh, kalau Yaku-san senang :3 Mau fav? Silakan, malah makasih banget ya X3
ayunf3: Halah, biar gitu kan dianya bahagia/bilangajaloiri :'3 Yup, mereka memang polosnya nggak ketolongan. Makasih, Ni-chan juga sudah pulang nih XD Ni-chan juga minta maap kalau ada salah ya :D
Meltavi: Iya, kasihan banget. Tapi gak papalah, ujung-ujungnya dibersihin juga :3 Ni-chan malah ngebayangin kalau Air marah itu mirip-mirip Kuroko kalau lagi marah juga, serem-serem ganteng gitu/woi Makasih doanya, ini Ni-chan juga sudah berhasil pulang dengan selamat XD
tasha: Siap! Mohon dukungannya ya :3
Baekday: Tenang, Taufan nggak akan berani apa-apain Yaya kok, takutnya nanti dimutilasi sama kakaknya tersayang (baca: Hali). Hm, hm, memang begitu. Siapa ya, yang kira-kira bisa ninggalin kesan yang bakal terkenang seumur hidup itu? X3 Sudah lanjut, selamat membaca XD
Zahra-chan610: Ukhh, tiba-tiba aja Ni-chan merasa kayak lagi ditusuk pedang halilintar. Tenang saja, tanpa disuruh pun akan Ni-chan lakukan :)
Airyn yyin: Yuup, tentu saja XD
Syarif: Sudah lanjut, selamat membaca X3
encik melayu: Maafkan Ni-chan juga ya dan selamat lebaran/sudahlewatwoi X'D
Hikaru Q.A: Capek sih capek, tapi dianya kan bahagia/iri :'3 Hmm? Ni-chan orang Jawa kok. Papa orang Jawa, tapi Mama orang Berau yang sering pakai bahasa Banjar, jadi mungkin nurun kali ya meski Ni-chan memang lebih cenderung ke Jawa sih X3
Sonata Meirin: Eehh? Iya kah? Duhh, maaf ya. Tapi nggak apa, cari inspirasi lagi dan semangat bikin fic lain yang lebih bagus aja XD Siapp! Mohon dukungannya juga ya X3
Luna Nightingale: Eeeh? Menarik beneran? Makasih ya :3 Siip, ini sudah lanjut, selamat membaca X3
Stevany assyifa: Tenang, mereka bakal dapat bagian kok di chapter selanjutnya, tapi Fang sama Ying doang/spoilerwoi Makasih semangatnya, Ni-chan akan terus berjuang! Yaaay, fight!
Fitzal21: Sudah lanjut, selamat membaca X3
-Chapter 4 Epilog-
"Aaaaa …"
"Kok jadi gini sih? Katanya makan banyak sama-sama?!" protes Taufan begitu menyadari apa yang ada di meja makan.
"Lho? Makan banyak sama-sama beneran kan?" tanya Gempa bingung.
"Nggak! Bukan itu!"
"Benar kata Kak Taufan! Mana daging sapi diskonan yang kubeli dengan Kak Halilintar tadi? Kok makan malamnya jadi mi instan gini sih?!" Api ikutan protes sambil nunjuk-nunjuk meja makan yang harusnya penuh dengan piring berisi daging panggang, tapi nyatanya hanya lima mangkok mi instan.
"Yah, sebenarnya tadi aku sudah coba untuk memasak dagingnya sih, tapi malah jadi gosong gini. Aku nggak tahu lho, padahal aku tinggalkan dengan api kecil waktu aku pergi ke toilet. Begitu aku kembali sudah begini," Gempa menunjukkan piring berisi daging berwarna hitam legam yang lebih menyerupai arang ketimbang makanan.
"Lho, kok bisa gitu?"
Taufan berpikir. Aneh juga. Padahal Gempa hanya pergi ke toilet. Dia juga sudah hati-hati dengan mengecilkan api di kompor. Tapi begitu kembali sudah gosong? Nggak, ini bukan sekadar kecelakaan biasa, tapi ada seseorang yang berulah di balik kejadian ini.
"Kita harus temukan pelakunya!" seru Taufan setelah memaparkan teori ngawurnya itu kepada keempat saudaranya yang lain.
"Hah? Temukan pelaku ya … tapi apa mungkin?" tanya Api heran. "Lagian yang ada di rumah ini cuma kita berlima lho. Atok kan sedang pergi. Nggak mungkin ada orang luar yang repot-repot menerobos masuk rumah orang tanpa izin hanya untuk menggosongkan daging yang sedang dipanggang."
"Nah! Itu dia! Justru karena yang ada di rumah ini hanya kita berlima, berarti pelakunya adalah salah satu di antara kita!" seru Taufan lagi.
"Haaah? Memangnya benar begitu? Sudah deh, jangan main-main. Makan aja apa yang ada," dengus Halilintar yang tidak mau terlibat dalam permainan aneh adiknya tersayang itu dan duduk di salah satu kursi meja makan dan mulai memakan mi bagiannya.
Taufan tidak menghiraukan Halilintar yang mulai makan tanpa menunggu saudaranya yang lain dan memutuskan untuk mencari bukti. Entah kenapa dia jadi minat sama detektif-detektifan begini. Sebelas dua belas sama Gopal sewaktu sok-sokan mencari tahu siapa pelaku dari kebakaran-kebakaran yang terjadi di Pulau Rintis dulu yang berakhir dengan munculnya Boboiboy Api yang polos dan kanakan.
"Kalau begitu saya tanya pada Kakak Gempa, apa yang sedang Kakak lakukan sewaktu kasus ini terjadi?"
"Kyaaaa! Kak Taufan keren! Aku mau ikutan dong!" Api malah bersemangat kayak anak kecil.
"Memangnya ini bisa dibilang kasus ya?" ucap Air ragu.
"Aku kan sudah bilang, aku ke toilet." Gempa menjawab pertanyaan Taufan.
"Lebih tepatnya, apa yang Kakak lakukan di toilet?" tanya Taufan meminta penjelasan yang lebih rinci.
"Kau nggak perlu menanyakannya sampai sejelas itu kan? Dan jangan bahas hal-hal semacam itu di ruang makan! Orang lagi makan dia ngomongin toilet," ujar Halilintar, yang otomatis aktifitas makannya mendadak terhenti karena membayangkan hal-hal yang tidak seharusnya dibayangkan pada saat makan.
"Hah? Apa yang kulakukan … tentu saja buang air besar. Memangnya kenapa?" tanya Gempa polos.
Hening... Tapi beberapa detik kemudian ...
"HAAAAHHH?!"
Gempa menatap keempat adik-adiknya bingung. Taufan dan Api yang syok, lalu Air yang tatapannya jadi horor, sekaligus Halilintar yang memucat di saat hendak memasukkan sesuap makanan ke mulutnya.
"Kenapa? Ada yang salah?"
"Kak … satu … soal lagi," ucap Taufan lirih. "Berapa lama Kakak boker di kamar mandi?"
"WOI! Jangan ngomong 'boker' waktu orang lagi makan!" teriak Halilintar kesal karena dari tadi saudara-saudaranya yang sangat ia sayangi ini/woi ngomongin soal toilet mulu.
"Berapa lama katamu … hmm … yah, aku lagi mules habis makan biskuit Yaya berikan padaku sewaktu bersih-bersih halaman sore tadi sih. Dia bilang pakai resep yang berbeda, jadi kupikir rasa biskuitnya juga pasti lebih aman dari sebelumnya. Iseng, aku coba makan dan ternyata malah mules deh. Mungkin sekitar satu jam?" Gempa mengira-ngira.
"KALAU SELAMA ITU MENDING MATIIN AJA KOMPORNYA! KAKAK GIMANA SIH?!" seru Taufan.
"Ehehe, maaf deh, maaf. Tapi aku kan sudah menebus kesalahanku dengan membuatkan kalian mi. Lebih baik daripada tidak makan malam sama sekali kan?" Gempa nyengir sambil menggaruk pipinya pelan.
"Huft, ya sudahlah. Yang sudah lalu mana bisa diubah. Aku juga sudah lapar, mi instan pun pasti kuraup dengan senang hati," desah Taufan lalu duduk di salah satu kursi meja makan, tapi yang menyambutnya adalah … piring kosong. "Kok gini siihh? Kosong? Cobaan apa lagi ini Kaaakk?"
"Bukan cuma Kak Taufan doang …" Api ikutan mewek sambil menunjukkan piringnya yang sama bersihnya.
Air dan Gempa juga melakukan hal yang sama, menunjukkan piring bersih mereka lalu ikut mewek, sementara Halilintar hanya diam sambil menutup mulutnya dengan sapu tangan. Padahal perut sudah lapar-laparnya, siapa sih, yang tega menyapu bersih makan malam mereka berempat?
…yah, kalau dilihat dari reaksi-reaksi mereka berlima, kau tahu siapa pelakunya bukan? :3
~Chapter 4 Epilog END~
