Choose!
Pair: BoBoiBoy (Api/Blaze) x Yaya
Genre: Romance, Humor, & Family
Disclaimer: BoBoiBoy adalah milik Animonsta, Ni-chan hanya meminjam karakter-karakternya saja
Warning: Typo, Gaje, OOC, Garing, Abal-abal, Humor gagal, dll.
Happy Reading~!
RnR please?
Chapter 5
Turururuuu~ turururuuu~
"Umm …" Yaya yang masih meringkuk di kasurnya menolak panggilan jam wekernya untuk bangun. Tangannya berusaha meraih jam bawel itu dan menekan tombol paling besar di atasnya hingga akhirnya jam itu berhenti berdering, setelah itu Yaya kembali menarik selimutnya hingga menutupi mukanya.
Setelah akhirnya bisa terlelap kembali, sebuah suara gaduh terdengar di telinganya, tapi ia menolak untuk bangun karena tuntutan matanya yang masih lelah. Dan tanpa pernah Yaya duga sebelumnya, seseorang menyingkap selimutnya ke atas dengan cepat, membuat gadis itu membuka matanya lebar-lebar karena kaget.
Ternyata pemandangan yang menunggunya adalah seorang laki-laki yang mengenakan topi merah yang condong ke atas sehingga poninya terlihat jelas dan hoodie tanpa lengan merah menyala, yang nyengir lebar sambil melempar selimutnya ke lantai.
"Yaya! Ayo kita pergi sekarang!" serunya berapi-api, sama seperti namanya sambil menatap Yaya dengan mata yang berbinar-binar.
Yaya butuh beberapa detik untuk mencerna maksud laki-laki di depannya ini. Ia menatap tubuhnya yang hanya berbalut piyama, lalu rambut tidurnya yang acak-acakan. Ditambah lagi iler yang menjulur dari sudut bibirnya serta mata yang masih mengerjap-ngerjap berharap mendapat waktu tidur tambahan. Singkatnya keadaannya saat ini bisa digambarkan oleh satu kata … parah.
Yaya kembali menoleh pada laki-laki yang bersemangat di depannya. Setelah berkedip-kedip lagi untuk beberapa saat, ia menggenggam bantalnya dengan kasar dan langsung melemparnya ke muka laki-laki barusan.
"Ngapain kau di sini hah?!" teriak Yaya panik sambil melempar apapun yang bisa dilempar ke laki-laki itu yang mati-matian menghindari lemparan maut darinya.
"Tu-Tunggu! Aku kan cuma-!"
PLOKKK! Sebuah boneka beruang menghantam wajahnya.
"Uphh … duh, Yaya kasar banget sih."
"Siapa yang nggak kasar sama laki-laki yang masuk ke kamar seorang perempuan dan menyerang ranjang gadis itu di pagi hari?!" teriak Yaya dengan muka merah sambil memeluk gulingnya. "Dan kenapa sih kau hobi banget datang ke kamarku pagi-pagi lewat jendela, Api?!"
Laki-laki yang disebut Api itu mendelik. "Eh? Ufu, aku sudah nggak sabar mau bertemu denganmu hari ini. Dan … jangan lupa kalau aku dapat giliran kedua untuk jalan-jalan denganmu." Api nyengir lebar sambil mengacungkan jempol ke dirinya sendiri.
Haaahh … Yaya bangkit dari ranjangnya lalu berjalan pelan menuju Api, dan berhenti tepat di depannya. Setelah terdiam beberapa detik, ia langsung mengangkat kepalanya dengan cepat dan langsung meninju Api sampai terpental keluar jendela.
"Seenggaknya beri aku waktu untuk siap-siap! Beraninya kau melihat aurat seorang gadis yang belum halal untukmu! Kau pernah bayangin nggak sih, kalau misal orang-orang melihatmu ngerecokin aku di ranjang pagi-pagi gini! Bakal jadi fitnah tau nggak?! Untung keluargaku lagi nggak ada!" Yaya mencak-mencak dari jendela setelah buru-buru menyambar kerudung dan memakainya.
"Ehhh? Nggak masalah kan … bakal jadi halal dalam beberapa tahun lagi kok," ujar Api polos sambil mengusap-usap pipinya yang memerah sehabis kena jotos barusan.
"Ka-kau ini ya-!" Muka Yaya memerah. Kenapa sih, ia mesti termakan kata-kata Api yang polos di saat Api sendiri hanya menatapnya dengan pandangan bingung. "Po-pokoknya kau tunggu saja di sana! Aku bakal siap-siap! Awas kalau kau berani masuk!" Yaya menutup gorden kamarnya dengan kasar. Sedangkan Api hanya memiringkan kepalanya bingung.
Api melambai-lambaikan tangan senang sewaktu melihat Yaya melompat keluar dari jendela kamarnya. Nggak tahu kenapa, Yaya merasa lebih nyaman keluar lewat jendela kamarnya akhir-akhir ini dibanding lewat pintu, mungkin karena ia terbiasa melihat kelima cowok ngerepotin itu mengagetkannya lewat jendela terus-menerus, walau ia juga nggak tahu itu hubungannya apa.
"Jadi kita mau jalan kemana?" Yaya membuka topik pembicaraan mereka sewaktu berjalan ke halte bus. Berbeda dengan sebelumnya Taufan membawanya dengan hoverboard miliknya, Api mengajaknya untuk jalan kaki. Katanya sih sehat dan … Api bilang, 'kan bisa berdua lama-lama denganmu' yang langsung mendapat hadiah sentilan pelan di kepalanya.
"Taman bermain!" seru Api riang, sementara Yaya hanya memasang tampang 'sudah-kuduga-kau-mau-pergi-ke-situ'. "Keren lho, soalnya baru renovasi besar-besaran tahun lalu! Wahananya jadi jauh lebih bagus! Lalu kroket dan soft cream! Itu menu andalan di sana! Banyak yang review di internet, bilang rasanya enak! Aku juga pingin coba!"
"Hm, kedengarannya memang asyik sih, tapi kenapa mengajakku? Bukannya dengan saudara-saudaramu lebih asyik?" tanya Yaya heran.
"Ehhh? Dengan Air dan kakak-kakak yang lain memang asyik sih, tapi … aku ingin bersamamu! Lagian, kesempatan berdua dengan Yaya gini kan langka banget," Api tersenyum lebar. "Ah, pas banget bisnya sudah datang. Ayo!"
Dengan refleks Api menggenggam lengan Yaya dan menariknya menuju pintu bis.
"Hawawawa! Kenapa-!" Lagi-lagi muka Yaya memerah. "Padahal kan bisnya juga baru saja sampai, nggak mungkin dong langsung pergi begitu saja."
"Hehe, maaf. Refleks," Api nyengir lalu melepas tangannya. "Kita duduk di situ aja!" tukasnya sambil menunjuk bangku di barisan kedua bagian kanan. Kebetulan sekali sistem kursi bus yang mereka naiki berhadap-hadapan. Jadi dua deret kursi berhadapan dengan dua deret kursi di depannya sehingga Yaya tidak perlu duduk berdua dengan Api. Duduk berhadapan setidaknya lebih baik untuk jantungnya ketimbang duduk bersampingan.
Yaya menatap ke sekeliling bus sebelum duduk. Kebanyakan isinya adalah pasangan muda-mudi yang bercengkerama dengan akrabnya. Tentu saja karena tujuan bis ini adalah taman bermain. Meski bukan hari Minggu, entah kenapa banyak orang yang hendak ke tempat yang sama dengannya dan Api. Membuat Yaya heran, apa semua Sekolah Menengah libur serempak di minggu ini.
Api duduk di dekat jendela, tentu saja Yaya memilih untuk duduk di kursi depannya yang juga berdekatan dengan jendela.
"Uwahh … aku nggak sabar." Mata Api terlihat bersinar-sinar seperti anak kecil yang akan melaksanakan pesta ulang tahunnya di salah satu restoran cepat saji (apa hubungannya).
"Iya iya. Tapi jangan sampai mabuk ya. Jaga-jaga aku sudah siapkan kresek hitam sama tisu basah nih." Yaya menepuk-nepuk tas selempang kecil yang dibawanya.
"Uhh … aku bukan anak kecil yang bakal mabuk kok! Aku kuat! Naik kereta dari kota ke Pulau Rintis saja aku sama sekali nggak muntah!" Api merengut. "Tapi nggak masalah sih, kalau Yaya mau manjain aku."
Duh … Yaya sweatdrop. Bingung ia harus memasang ekspresi seperti apa, ujung-ujungnya ia hanya tersenyum kaku. Api yang tadi merengut langsung mendadak teringat sesuatu dan air mukanya berubah. Ia meraih selembar kertas dari kantong hoodie-nya dan membaca isinya.
Yaya awalnya ingin bertanya kertas apa itu, tapi tiba-tiba kedua manik karamelnya menangkap kedua sosok yang baru saja masuk ke dalam bis tepat sebelum pengumuman bis akan segera berangkat diumumkan. Seorang gadis berkacamata frame biru dengan rambutnya yang dikucir dua dan seorang laki-laki berambut acak-acakan bak pantat ayam#dihajarFang berwarna ungu raven. Mata Yaya mengerjap-ngerjap. Itu kan …
"Ah!"
"Oh?"
Tanpa sengaja tatapan mata mereka bertemu. Yaya dengan sang gadis berkacamata berkucir dua.
"Ying!"
"Yaya! Kau di sini juga?" seru gadis berkacamata biru yang dipanggil 'Ying' tadi.
"Ah, iya. Banyak hal yang terjadi dan sekarang aku diajak Api menuju taman bermain," Yaya menggaruk-garuk belakang kerudungnya pelan.
"Wah, sama dong! Karena bosan nggak ada kegiatan di rumah, aku mengontakmu, rencananya mau mengajak jalan-jalan, tapi aku kan ingat kalau kemarin di sekolah kau ribut-ribut dengan lima Boboiboy kalau mau jalan-jalan juga, terus kebetulan aku ketemu orang ini di jalan waktu nyari hiburan, dan karena kita sama-sama bosan, Fang mengajakku untuk pergi ke taman bermain." jelas Ying sambil menunjuk laki-laki berkacamata di sampingnya.
"Bukannya yang ngajak itu ka-" Fang bermaksud menyela tapi Ying langsung menusuk pinggang Fang dengan jari telunjuk dan tengahnya sehingga ia langsung kaget dan bungkam.
"Wah, kebetulan banget! Kita pergi aja sama-sama!" seru Api spontan dengan mata yang berbinar-binar.
"Eh?" Yaya, Ying, dan Fang heran. Biasanya anak ini paling nggak suka kalau urusan pribadinya diganggu pihak luar, tapi kali ini ia dengan frontal mengajak Ying dan Fang ikut serta dalam jadwal jalan-jalannya dengan Yaya.
Ying dan Fang langsung saling melirik satu sama lain dengan takut-takut. Diiringi dengan Yaya yang menelan ludahnya lalu memberanikan diri bertanya pada Api. "Umm … Api? Kalau boleh tahu … kenapa kau mengajak mereka juga?"
"Hah? Mereka kan juga mau pergi ke sana, jadi kita sekalian aja gitu. Waktu itu aku baca-baca majalah yang dibeli Kak Taufan kemarin, terus aku jadi pengen coba …"
"Coba? Coba apa?" tanya Yaya heran, berharap-harap semoga Taufan tidak menulari adiknya yang masih polos ini dengan kemampuan merayunya yang membahayakan jiwa dan raga Yaya itu/lebay.
"Double date!-itu yang tertulis di situ. Dua pasangan laki-laki dan perempuan pergi ke suatu tempat bersama-sama lalu mengukir kenangan-kenangan indah," ujar Api menjelaskan lalu ia melirik Fang dan Ying. "Nah, pas lihat PJ ini, aku langsung berpikir, ini dia saatnya! Begitu …"
"Woi, tunggu dulu! Siapa itu yang PJ, 'Pasangan baru Jadian'? Aku? Sama cewek ini? Haha, nggak mung-!"
Fang lagi-lagi langsung bungkam begitu menyadari kakinya yang berbalut sepatu kets ungu putih itu diinjak oleh sepatu yang dipakai Ying, disertai dengan tatapan mata membunuh yang berada dibalik kacamatanya tersebut.
"Eh? Fang dan Ying PJ ya? Aku baru tahu lho! Pajak jadiannya mana? Traktiran doongg!" tanya Yaya antusias.
"Ah, nggak kok! Nggak, kami nggak jadian, hahaha. Cuma dua orang laki-laki dan perempuan yang sedang bosan dan memutuskan untuk jalan-jalan," elak Ying sambil tertawa kaku lalu ia duduk di sebelah Yaya, sedangkan Fang duduk di sebelah Api sambil melipat tangannya dan bicara telepati dengan Ying.
'Kenapa kau tadi injak kakiku hah?'
'Salahmu ngomong gitu!'
'Emang aku ngomong apa? Kita memang nggak jadian kan?'
'Huh!'
Perang telepati itu disudahi dengan Ying yang memalingkan mukanya sebal dan Fang yang makin bingung dengan sikap perempuan berkacamata di depannya itu. Yaya tertawa kecil dan Api hanya diam sambil menatap luar jendela bus yang kini mulai berjalan. Tumben dia diem, padahal mulutnya sudah komat-kamit, yang bisa ceplas-ceplos kapan saja.
"Api?" tanya Yaya heran, tapi karena dia tak kunjung menjawab, Yaya menyentuh perlahan pipinya yang mulus itu dengan jari telunjuknya.
"Ahh! Kenapa?!" seru Api kaget.
"Uwaaa! Kau nggak perlu teriak-teriak sampai sebegitunya kan?" Yaya ikutan kaget dan otomatis menjauhkan tangannya dari wajah Api. "Memangnya ada apa sih? Jarang melihatmu diam. Biasanya kau yang paling heboh dibanding yang lain."
"Aku? Heboh? Hahaha, nggak juga kok," Api tertawa kecil, membuat Yaya, Ying, dan Fang merinding berjamaah. Kerasukan setan baik atau salah makan apa pengendali elemen api mereka ini? Yang biasanya ketawanya paling keras itu sekarang cuma cekikikan saja.
"Euhh … aku sependapat dengan Yaya sih, Boboiboy. Kau memang rada aneh dari biasanya kalau begini," ujar Ying, diiringi Fang yang mengangguk.
"Nggak kok, cuma perasaan kalian aja. Nggak usah dipikirkan. Ngomong-ngomong ya, kalian tahu nggak, ada merk jaket terbaru dari-."
Sembari Api bicara tentang produk-produk baru bermerk terkenal seperti kaus, sepatu, jaket, dan topi, merindingnya Yaya, Ying, dan Fang makin menjadi-jadi. Kenapa anak ini bisa jadi kayak gini? Padahal kalau dia mendeskripsikan sesuatu yang baru paling ujung-ujungnya yang dibahas motor ninja.
Lima belas menit setelah bertahan dalam diam sambil berkeringat dingin mendengar celotehan Api yang kalem dan pelan, nggak seperti biasanya yang bersemangat dan menggebu-gebu, akhirnya mereka sampai di taman hiburan, atau lebih sering disebut amusement park. Tentu saja mereka bertiga langsung berpikir pasti ada 'apa-apa' dengan pengendali elemen yang satu ini.
"Waaahh, lihat deh, ternyata cuaca dan udara hari ini indah dan segar sekali yaa," ucap Api setelah turun dari bis. Ucapannya itu lagi-lagi bikin bulu kuduk ketiga temannya berdiri. "Kalau begitu … AYO! Kita mulai double-date-nyaaa~!-ups."
"Eh?"
Api yang mendadak bersemangat itu langsung membuat ketiga temannya melebarkan mata, ditambah keheranan kenapa anak itu langsung menutup mulutnya sendiri setelah bersikap riang seperti dia biasanya. Ia menyingkirkan tangan dari mulutnya lalu kembali bersikap kalem layaknya seorang pangeran dari negeri antah berantah.
"Tolong maafkan sikapku yang tidak sopan tadi ya. Mari, kita masuk."
GAAAANGGG! Yaya, Ying, dan Fang berasa sedang ditimpah batu besar berbahan kertas koran tepat di kepala melihat perubahan drastis Api hari ini. Ternyata memang ada yang aneh…
Mereka berempat berkeliling taman hiburan itu melihat wahana-wahana yang asyik untuk dicoba. Mulai dari yang paling mainstream, roller coaster.
"Wahana ini pasti akan mengasyikkan. Ayo kita coba, teman-teman! Lho, teman-teman?" Api menyadari ketiga temannya membuat jarak yang cukup jauh darinya, disertai dengan tatapan mata nanar bingung bukan main. "Kenapa kalian begitu? Apa ada yang salah denganku?"
"Ng-nggak." Yaya mundur selangkah lagi.
"Kenapa? Apa aku mengatakan sesuatu yang salah dengan kalian?"
"Ukh!"
"Yaya, si Boboiboy Api ini kenapa sih? Dari tadi bikin serem aja! Mana dirinya yang biasa dan polos itu? Kok sekarang jadi dewasa dan formal gini? Nakutin." bisik Ying.
"Ya mana aku tahu. Dari pagi semenjak ketemu aku dia sudah aneh, yah, lebih tepatnya mulai aneh pas di bis terus ketemu kalian sih," balas Yaya.
"Jadi kau mau bilang itu gara-gara kita?" dengus Fang.
"Aku nggak bilang gitu kok!"
"Elehhh … bohong."
NGEK! Lagi-lagi Ying menginjak kaki Fang yang tidak berdosa itu dengan cepat dan sang empunya kaki langsung melompat-lompat kesakitan sambil menanyakan apa salahnya dengan muka bersungut-sungut. Ying hanya membalasnya dengan diam dan memalingkan muka membuat empat sudut siku-siku merah muncul di kepala cowok berambut pantat ayam itu/dihajar.
"Api, jangan salah paham dulu, oke? Sepertinya kita harus bicara sebentar," ucap Yaya berusaha menenangkan situasi. "Ying dan Fang, kalian bisa tinggalkan kami sebentar?"
Ying dan Fang mengangguk lalu pergi meninggalkan Yaya dengan Api berdua. Sekilas terdengar debatan kecil dari pasangan kacamata itu, tapi Yaya hanya membuang nafas kecil lalu duduk di sebuah kursi kayu.
"Yaya, kau mau berbicara apa denganku?" tanya Api heran.
"Oh iya, tapi sebelumnya aku mau beli minum dulu. Kau mau apa?" Yaya balik bertanya lalu bangkit perlahan dari kursi yang baru saja ia duduki.
"Kalau begitu aku mau susu cokelat!" seru Api bersemangat, bertentangan dengan sikapnya sebelumnya yang formal dan sopan. Lantas saja ia langsung menutup mulutnya kembali dengan tangan dan berdehem sok keren. "Euh … tolong kopi hitam saja."
"Eh? Ba-baiklah."
Yaya bergegas menuju mesin penjual minuman otomatis dan menekan tombol untuk susu stroberi kesukaannya dan setelah itu berniat untuk mengambilkan kopi untuk Api, tapi sesaat Yaya menoleh ke arah laki-laki itu yang sedang duduk dan terlihat tidak nyaman, atau lebih tepatnya gelisah. Yaya menghela nafas lalu tersenyum kecil melihat tingkahnya yang kekanak-kanakan itu dan menakan sebuah tombol dan mengambil minuman yang keluar.
"Nih, maaf lama ya," Yaya menyerahkan sekotak minuman pada Api.
Api menerimanya tapi alisnya berkerut begitu menyadari minuman yang diberikan oleh Yaya tidak sesuai seperti yang dipesannya. Yang ia genggam bukan sekaleng kopi hitam sesuai permintaannya, tapi sekotak susu cokelat. "Uhh ... ini ..."
"Sesuai dengan permintaanmu kok?" Yaya mengangkat alisnya dan menusukkan sedotan ke lubang di kotak susu stroberinya yang dilapisi kertas perak lalu menyeruput isinya.
"Aku kan tadi pesan kopi?"
"Oh ya?" Yaya berhenti menyedot susu kotakannya lalu memasang tampang bingung. "Yang kudengar kau memesan susu cokelat tadi."
Api mengernyit bingung. "Duh, Yaya! Kan tadi jelas-jelas dari mulutku sendiri aku bilang kopi? Memang tadi aku kelepasan bilang ingin susu cokelat tapi-"
Yaya tersenyum kecil. "Begitu? Baiklah, kalau begitu maafkan aku. Tapi sebelum aku membelikanmu minuman yang baru, sebagai gantinya jawab satu pertanyaanku ini, oke?"
Api mengangguk pelan.
"Kau … nyaman dengan hal ini?"
"Eh?"
"Dari tadi kau terlihat memaksakan diri, atau apa itu cuma perasaanku? Sebenarnya kau nggak mau memasang karakter seperti ini kan?"
"U-umm …"
"Ne, jawab aku dengan jujur," Yaya berjongkok di atas tanah tepat di depan Api yang duduk di atas kursi sambil menundukkan kepalanya.
"Aku … aku … diajari Kak Taufan."
HAIIII?! Yaya kaget setengah mati dan merasa kayak baru saja disambar petir. Tunggu, tunggu! Barusan dia nggak salah dengar kan? Api yang polos ini … diajarin (yang nggak-nggak) sama Taufan?!
"Me-memangnya Taufan mengajarkan apa padamu?" Yaya berusaha bersikap baik walaupun alis sebelah kanannya sudah berkerut-kerut, mengingat godaan basi Taufan sewaktu jalan-jalan dengannya di mal kemarin yang masih membekas di ingatannya.
"Kak Taufan bilang, 'laki-laki idaman itu harus lembut, kalem, dan keren, contohnya seperti aku', begitu katanya," ucap Api polos, tanpa menyadari Yaya yang tengah berkobar-kobar entah karena marah atau malu, lalu ia melanjutkan. "Lalu Kakak juga meminjamiku sebuah majalah."
Majalah?! Jangan bilang itu … majalah yang sering dibaca sama Oom A*mine Daiki di fandom anime sebelah? /salah fandom woi/ Keringat dingin Yaya semakin mengucur deras, sembari dalam hati merutuki si pengendali elemen angin tersebut. Kok bisa dia tega-teganya menodai kepolosan adiknya dengan hal-hal semacam itu?!
"Majalah … jangan bilang kalau …"
"Ya, persis seperti yang Yaya duga," jawab Api pelan.
"APPUAAAAA?!" jerit Yaya syok. Ia tidak mengira perkiraannya benar-benar tepat sasaran. Bulls eye. Langsung saja dalam hati ia kembali mengutuk Taufan dan sudah merancang rencana akan menyeret dan meminta penjelasan anak itu begitu dia pulang nanti, tapi kemudian ia memutuskan untuk menanyakannya sekali lagi. "Tunggu … tunggu, beneran nih?"
"Iya. Aku bawa majalahnya kok. Tunggu," Api merogoh tas selempang bahu kecilnya yang berwarna merah menyala itu dan mengeluarkan sebuah majalah lalu menyerahkannya pada Yaya. "Nih."
Yaya langsung menyambar majalah itu dari tangan Api dan memelototi judulnya. "E-ehh … ini … majalah Zun*n Boy? Majalah yang dibintangi sama K*se Ryouta dari fandom anime sebelah itu?"
Api mengangguk. "Kakak bilang aku harus mempelajari isi majalah ini, tapi sebenarnya aku sama sekali nggak paham apa yang mesti kupelajari, jadi Kakak membantuku dengan mengajarkan teknik-teknik berbicara yang sopan, sama gaya laki-laki yang keren. Terus Kakak juga membelikanku celana baru nih, aku bawa tapi aku nggak mau pakai soalnya menyolok banget." Api mengeluarkan sebuah celana jins biru yang bling-bling … persis kayak lampu diskotek! Yaya aja langsung menganga lebar begitu melihat benda itu di depan matanya. Memangnya selera fashion Taufan tuh sebenarnya kayak gimana sih?
Yaya menggeleng-gelengkan kepala lalu menghela nafas.
"Ya sudah, pokoknya habiskan dulu minumanmu itu baru kita lanjut."
"Ehh? Katanya bakal beliin kopi? Kakak bilang biasanya cowok-cowok macho itu minumnya kopi hitam yang pahit banget," ujar Api sambil menatap sekotak susu cokelat di tangannya.
"Sudahlah, bersikap saja seperti dirimu yang biasanya. Memangnya kenapa sih kau sampai mau mengikuti jejak kakakmu yang satu itu? Kenapa nggak yang lain? Misalnya Halilin-eh, kalau yang itu jangan deh, bahaya. Ah ya, harusnya kau minta saran sama Gempa aja. Tapi ngomong-ngomong, apa sih yang terlintas di pikiranmu sampai minta sarannya dari Taufan?" tanya Yaya.
"Habisnya … Kak Taufan kemarin keren banget sih … dia berhasil memecahkan kasus daging Kak Gempa yang hangus-yah, meski nggak berakhir bahagia sih, tapi aku langsung berpikir, Kak Taufan kayaknya bisa diandalkan!-begitu," Api menjelaskan.
Yaya cengo kuadrat. Tunggu, daging Gempa hangus? Itu maksudnya Gempa lagi luka bakar atau apa ya? Tapi Yaya segera menghapus bayang-bayangan yang tidak mungkin itu dari benaknya dan menghela nafas panjang.
"Haaahh … begini ya, sebenarnya kau nggak perlu memaksakan diri mengikuti saudara-saudaramu yang lain. Soalnya kalian kan punya kepribadian masing-masing. Sayang banget kalau ada dua orang dengan sifat yang sama. Lagipula kalaupun aku bilang kau yang formal itu keren, sebenarnya tidak seluruhnya dari dirimu akan merasa senang kan? Soalnya aku memujimu saat kau sedang menggunakan kepribadian orang lain. Bukankah kau lebih akan merasa senang kalau aku memujimu karena dirimu yang biasanya? Umm ... mudahnya begini ya, kau tahu istilah 'mencintai apa adanya' kan?" papar Yaya panjang lebar sambil tersenyum tipis. "Jadilah dirimu sendiri, oke?"
Mata Api membulat dan bersinar-sinar, tapi mulutnya tetap diam, hingga akhirnya sebuah kalimat meluncur dari mulutnya. "Boleh aku peluk nggak?"
"Hah? Kau ngomong apa? Tentu saja nggak boleh." tolak Yaya tegas dengan raut wajah yang sama sekali berbeda dengan sedetik sebelumnya.
"Ehhh? Kok gitu? Padahal katanya kalau dalam game Love Dating Sims, kalau situasinya begini biasanya bakal muncul event baru?" Api terlihat kecewa, dia menggembungkan pipinya kesal. Yaya harus berusaha mati-matian agar tidak menyambar Api yang menggemaskan itu dan memeluknya sekuat tenaga.
"Game itu berbeda dengan dunia nyata. Lagian kita kan bukan muhrim!" Yaya membuang muka.
"Ahhh, Yaya kenapa marah? Maafin aku deh, maaff!"
Di saat Api sedang berlutut meminta maaf, gadis berkerudung merah muda itu justru membuang nafas dan tertawa kecil.
"Ahhh … itu kaliaann!"
Ying dan Fang menghampiri Yaya dan Api yang sedang berjalan beriringan. Langit sudah gelap dan bulan sudah menampakkan dirinya. Kedua orang yang baru ditemui Ying dan Fang itu bilang kalau mereka baru saja selesai menunaikan sholat Maghrib.
"Kayaknya kalian sudah puas-puasin naik wahana di sini ya? Enaknya …" ucap Yaya iri. "Aku butuh waktu untuk mengembalikan anak ini ke kondisinya semula, jadi nggak sempat menikmati semua permainannya deh."
"Yaya, jangan bilang aku 'anak' dong! Bilangnya 'lelaki' gitu," sahut Api. "Oh ya, hari ini kulihat di brosurnya bakal ada pertunjukan sulap lho. Mau nonton nggak?" tawarnya yang langsung disambut dengan anggukan mantap dari ketiga temannya.
"Tapi ini sudah jam tujuh lewat lima belas kan? Memangnya acaranya mulai jam berapa? Aku nggak bisa pulang terlalu malam," ujar Yaya.
"Di sini ditulisnya sih jam tujuh pas. Tapi kok belum mulai ya? Sudah telat lima belas menit ini, umm …" Api terlihat memikirkan sesuatu, tapi kemudian bahunya serasa ditepuk dari belakang.
"Maaf, Anda Boboiboy bukan?" ucap seorang laki-laki jangkung yang memakai seragam petugas. Topi seragamnya ditekukkan ke bawah, seakan-akan ia berusaha melindungi wajahnya agar tak terlihat.
"Umm … iya. Ada apa ya?"
"Sebenarnya pesulap kami sedang dilanda kemacetan di tengah jalan. Kami tidak punya penggantinya. Jadi bisakah Anda tampil sementara di panggung menggantikan dia? Lima belas menit juga cukup," pinta laki-laki itu yang langsung Api iyakan. "Tapi tolong jangan sampai taman bermain ini terbakar ya? Seingat saya Anda kurang bisa mengendalikan kuasa Anda. Tapi kalau berubah menjadi tahap kedua Anda lebih bisa mengontrolnya kan?"
Mata Yaya menyipit. Ia menatap orang itu tajam, merasa ada yang mencurigakan darinya.
"Iya, bisa! Bisa!" ujar Api semangat. "Tenang saja, Yaya. Nggak usah menatapku horor begitu, aku nggak akan bikin kebakaran lagi kok. Kalau jadi Blaze, aku lebih bisa mengontrol kuasaku. Pokoknya santai aja ya!"
Api tanpa menunggu lagi langsung berlari ke panggung. Setelah diberi isyarat oleh petugas tadi, ia segera berubah dan langsung mempersembahkan pertunjukan apinya yang berkobar-kobar memenuhi panggung, tapi untungnya sampai akhir pertunjukan pun tidak ada satupun barang yang terbakar, paling-paling Blaze hanya meninggalkan panggung beserta propertinya yang terlihat sedikit hitam terkena api, tapi itu bukan masalah besar.
Api –ralat- Blaze, Yaya, Ying, dan Fang langsung menaiki bus yang selanjutnya setalah acara itu untuk pulang. Seperti sebelumnya mereka duduk berempat. Mereka tidak saling berbicara karena memang sudah lelah ditambah suasan hening yang mendukung, sehingga satu per satu dari mereka pun terlelap. Blaze juga yang sudah mengerjap-ngerjap hendak tidur tiba-tiba sesuatu terlintas di pikirannya. Suatu hal penting yang terlupakan olehnya.
"AAAAHHHH!" teriak Blaze keras yang langsung membangunkan ketiga temannya –ralat- seluruh penumpang bus yang kaget setengah mati mendengar jeritannya mengira ada hal berbahaya seperti kebakaran atau apa.
"Kenapa? Kenapa?!" tanya Fang sambil memperbaiki letak kacamatanya.
"Ada penjahat ya?!" tebak Ying yang juga baru bangun.
Yaya mengernyit. Sudah ia duga ada yang aneh, ternyata bukan hanya dia saja yang menyadarinya. Dari tadi dalam benaknya ia selalu bertanya-tanya tentang petugas di taman bermain tadi, lebih tepatnya ia merasa curiga. Samar-samar Yaya merasakan aura aneh yang mengelilingi orang itu. "Jangan-jangan yang kau maksud itu …"
Blaze mengangguk. "KITA BELUM FOTOOOO!"
Anti-klimaks. Ternyata Api atau Blaze, memang sudah takdir polos begini.
Blaze bersenandung bahagia saat mencapai rumahnya. Sepanjang jalan ia terus melihat hasil foto selfie-nya dengan ketiga temannya di bis tadi. Yah, walaupun kondisinya saat berfoto itu nggak bisa dibilang baik sih, soalnya dia baru saja dicubit keras-keras dengan Yaya karena mengganggu orang-orang. Di foto itu terlihat Ying, Fang, Yaya, dan Blaze tentunya dengan pipi kirinya yang merah tersenyum lebar, minus Fang tertunya karena ia hanya memasang tampang cool. Ngomong-ngomong pipi Blaze merah bukan karena blushing tapi memar gegara dicubit. Blaze nyengir lebar lalu memutar gagang pintu rumahnya dan masuk.
"Aku pulaaanggg-GYAAA! Ada apaan nihh?!" teriak Blaze kaget melihat saudara-saudaranya masing-masing membawa senjata tajam yang menanti tepat di depan pintu. Ada yang bawa sabit bertali lah, kapak lah, pisau dapur lah, bahkan ada yang bawa cangkul/gakjelas. Semuanya satu paket dengan aura-aura membunuh. "Tunggu, tunggu, kalian lagi mau ngapain nih? Kalau mau manen ubi jangan malam-malam."
"Jawab…"
"Hah? Jawab? Jawab apa?" tanya Blaze bingung sekaligus takut. Seingatnya tadi nggak ada salah satu dari mereka berempat yang bertanya padanya.
"Kau … kenapa baru pulang jam segini?" tanya Halilintar tajam mewakili yang lain sambil memutar-mutar sabitnya dan perlahan mendekat ke arah Blaze.
"Ehh … tunggu! Tunggu! Memangnya ini jam berapa?" Blaze panik dan mencari-cari jam dinding. Ketemu, dan waktu di situ menunjukkan pukul 09.30. "Waduh… aku kemalaman."
"Bukannya kita sudah bikin perjanjian tertulis kalau jalan-jalannya itu maksimal sampai jam tujuh malam?" ucap Gempa dengan nada horor sambil menunjukkan selembar kertas yang rapi sampai dilaminating segala dengan judul yang ditulis dengan font besar berbunyi 'Peraturan Jalan-Jalan'.
Blaze menelan ludah takut-takut. Ia berusaha mencari-cari alasan agar bisa selamat dalam situasi ini dan sebuah ide brilian muncul di kepalanya. "Ha-habis aku mau ngikutin sarannya Kak Taufan!"
"Hah? Saranku?" balas Taufan heran, langsung saja semua mata melotot ke arah Taufan yang langsung panik dan membalas balik. "Tunggu! Tunggu! Maksudmu itu apa hah? Jangan cari alasan!"
"Kak Taufan ada ngasih aku majalah kan? Ada rubrik tentang tips 'Kencan Pertama' di situ, terus Kakak suruh baca. Nah, di paragraf terakhir kan ada tulisan gini, umm … kalau nggak salah, 'usahakan kau menghabiskan malam dengannya selama mungkin biar kedua pihak sama-sama puas', begitu," ujar Blaze polos.
Semuanya langsung diem. Blaze hanya memandang keempat saudaranya bingung. Plis, deh, masa dia nggak ngerti maksud yang mendalam di kalimat itu?!
"Hooo~ kau … sudah berani macam-macam pada Yaya ya?"
"Berani-beraninya kau mendahului kami..."
"Padahal kau itu cuma Kak Blaze."
"Lho? Lho? Kok?" Blaze tambah bingung.
Srat! Sebuah pisau dapur yang tajam langsung berada tepat di depan hidung Blaze, dan orang yang mengarahkannya tentu saja Air. Pandangan mata horornya semakin menjadi-jadi dibanding kemarin.
"Kak … bersiaplah …" ucap Air pelan.
"Hah? Bersiap? Buat apa?"
"Semuanya! Seraaanggg~!" komando Gempa yang langsung disusul dengan adik-adiknya yang melesat mengejar Blaze yang lari pontang-panting keliling rumah dengan tanya tanya besar.
"Wuaaahhh … kok alasan yang harusnya bikin aku selamat malah jadi boomerang sihh?! Gyaaaa! Tolooonggg!" teriak Blaze berusaha melarikan diri dari keempat saudaranya yang lagi ngamuk itu.
Tanpa kelima bersaudara itu sadari, Yaya yang kebetulan memutuskan untuk merasakan angin malam sejenak sebelum tidur melihat pemandangan absurd itu dari jendelanya dan hanya tertawa.
"Uphh … haha, menarik juga. Kalian memang nggak beda jauh dari 'dia' ya."
Setelah mengamati kelima orang yang sedang main kejar-kejaran di tengah malam itu selama beberapa saat, Yaya kembali menutup jendela dan gordennya. Dalam benaknya terlintas lagi bayang-bayang petugas di taman bermain tadi yang sama sekali tidak pernah menampakkan wajahnya.
Pasti …
…ada sesuatu yang ia sembunyikan di balik topinya itu…
~To Be Continued~
Yaaaayy! Akhirnya apdet jugaaa~ maaf ya nggak bisa kilat, habis kemarin Ni-chan juga ada acara TwT Dan untuk chapter selanjutnya mungkin akan memakan waktu lebih lama dari biasanya, karena sebentar lagi Ni-chan juga bakal masuk sekolah :'3 Tapi doain aja semoga apdetnya bisa berjalan seperti biasanya ya, nggak ngaret berbulan-bulan/jangansampai
Kur*bas nyelip juga lagi disini, habis lagi nggak ada ide :'3 Terus, rasanya kemarin lebih banyak yang fokus ke epilognya daripada chapter utamanya ya? Dan … benar tebakan kalian semua! Tentu saja pelakunya adalah ... Haliiii~! (jelas banget) X3 Oke deh, part untuk Api/Blaze x Yaya sudah selesai, duhh, akhirnya Api jadi Blaze juga, jadi siapa berikutnya yaaa? Nantikan di chapter berikutnya X3 Jangan lupa review please? XD
Balasan review:
Fanlady: Iya, Shigatsu tayangnya September kan? Lagi nggak ada ide, jadinya pakai itu aja, padahal belum ada, niatnya sih pengin nyempilin live action-nya Isshukan Friends juga, tapi nggak dah, nanti jadi makin panjang dan apdetnya lebih lama/oi X3 Yaayyy, tebakan Fan-nee benar sekalii, jawabannya adalah Api/Blaze! Selamat yaaa~! XD
ENDRI MASTER OF DARK DRAGON: Iya, epilognya memang panjang, maap X'3 Hali ya… umm … gimana ya? Pokoknya liat saja nanti deh :3
Aline: Yup, sama. Dipendam sendiri dan bikin orang syok lebih asyik/woi X3 Makasii untuk dukungannya, Ni-chan sudah apdet nih, selamat menikmati XD
Vanilla Blue12: Iya, itu Hali yang ngabisin XD Sudah lanjut, selamat membaca X3
IntonPutri Ice Diamond: Iya, emang gentong dia/dilempar Humor Ni-chan juga biasa aja kok, malah kadang garing TwT
EruCute03: Muless? Jangan bilang kalau Eru-san makan biskuitnya Yaya juga? X'D
adhadevakirana: Sayangnya dia bukan Halilintar, tapi yang ngabisin mi itu emang bener Halilintar. Laju-laju ya, larinya, biar nggak ketangkep. Fight! X3
ahsilAfrei: Iya, Ni-chan nggak jago bikin romance, jadi tahan aja ya TwT Makasii untuk semangatnya XD
angelsamawa: Tahan aja ya, Ni-chan emang kurang jago bikin romance, baca novel romance aja jarang TwT Yupp, ketemu lagi chapter depan yaa :D
Baekday: Tenang aja, itu emang live action-nya belum ada kok, Ni-chan cuma pakai referensi berdasarkan animenya, kan nggak beda-beda amat :3 Ni-chan orang Jawa kok. Ehh? Memangnya Banjar itu ada berapa ras? Hmm … Mama Ni-chan masuk ras Banjar-Berau kali ya?/ngasal X3
tasha: Makasii ya.. Yup, mereka memang manis kayak gulali X3
Rampanging Snow: Iya, dia emang lagi laper kali XD
BoBoiBoy Yaya: Hahaha, tenang aja, insha Allah nggak discon kok, paling cuma ngaret/plak XD
Shidiq743: Dia gak serakah, cuma lapar/samaaja :v
Aozora Yuki: Hehe, makasii ya untuk semuanya, Ni-chan jadi malu sendiri/plak X3
ayunf3: Iya, mereka memang nggak tahu malu/dibantai Iya doongg… TaYa kan maniiiss/emangpermen X3
Zahra-chan610: Umm … Gempa terakhir yaa? Hmm … pokoknya liat aja nanti deh. Ni-chan nggak bisa janji X'3 Tapi kalau humor pasti ada kok :3 Soalnya kalau dikasih tau nanti nggak seru lagi dong? :3 (suka bikin orang kepo, padahal nggak suka dikepoin)/plak
Hime501: Makasii, ini sudah lanjut X3
Name urang: Maaf ya, nggak bisa next kilat, tapi ini sudah apdet kok X3
Love UchiHaruno: Nggak pa-pa kok, bawa santai aja :3 Hehe, rasanya nggak sebagus itu, tapi makasih ya X3 Ni-chan sih mau aja ngasih Air, tapi Airnya mau atau nggak? Tanya gih, Ni-chan nggak mau diterorin sama mata horornya itu X'3
Airyn yyin: Yuupp, benar sekali. Pelakunya Hali X3
Meltavi: Dia kan lagi mules, jangan disalahin dong, salahkan aja biskuit Yayanya/dibogem X3 Gapapa kok, yang nggak boleh itu kalau nggak review/plak Sehat selalu yaa XD
BBB Lover's: Ini sudah lanjut, selamat menikmati X3
Fitzal21: Sudah lanjut, selamat membaca XD
lisarofita: Nggak pa-pa, santai aja, yang penting kan sekarang kamu nge-review, Ni-chan seneng banget, makasii ya ^w^
Fushigi Yamiharu Qiya: Oyaa, tanggal 22 kamu pulang kan? Jangan lupa oleh-oleh ya, gak dari distro juga gapapa, yang penting kamu masih ingat dan sudi bawain oleh-oleh buat orang kayak gini TwT makasii banyak yaa :3 Kamu mau baca kapanpun juga terserah deh, yang penting baca habis itu review, oke?/plak X'3
Sonata Meirin: Hehe, makasih X3 Mereka SMP kok, kelas 9. Umm … Ni-chan bukan orang Banjar, tapi Jawa. Banjarnya dari Mama, Jawanya dari Bapak. Jadi Ni-chan lebih kuat ke Jawa X3
Ililara: Nggak pa-pa, ini sudah lanjut, selamat membaca XD
Terima kasih untuk review kalian semuaa~ Jumpa lagi chapter depan yaa XD
~Chapter 5 Epilog~
Warning: GAJE
"Kaaakkk! Tunggu sebentar! Memang ada yang salah dengan perkataanku tadi?!" tanya Blaze yang sudah mulai kelelahan dan pusing berlari-lari keliling rumah.
"Haaahh? Jangan pura-pura nggak mengerti! Kau itu yaaa!"
"Uwaaa! Aku seriusan Kaaakkk!" Blaze yang sudah kecapekan dan langkahnya sudah mulai sempoyongan akhirnya berhenti juga karena sudah tidak kuat.
"Fuhh… baiklah. Turunkan senjata," Gempa memberi perintah lalu berjalan ke depan adik ketiganya itu. "Jujur, kau sama sekali nggak 'itu-ituin' Yaya kan?"
"Hah? 'Itu-ituin' itu apa maksudnya?"
"Jangan pura-pura nggak tahu! Jawab yang jujur!" gertak Halilintar yang sudah mengacungkan sabitnya lagi.
"Ehh … ehhh… aku nggak tahuu! Beneraaann!"
"Sudah kubilang turunkan senjatamu dulu, Halilintar," ucap Gempa lagi. "Kau … beneran nggak tahu? Kau tadi nggak 'ML'-an sama Yaya kan?"
"ML tuh apa lagi? Makan Lemper ya? Lebaran bukannya masih lama?" Blaze balik bertanya polos yang bikin keempat saudaranya tepok jidat sekaligus menghela nafas lega berjamaah.
"Yah, dengan begini masalah sudah selesai. Ayo kita balik."
"Eeehhh? Tunggu! Sebenarnya kalian tadi ngejar-ngejar aku buat apa sih? Heeeiii! Aku sama Yaya tadi nggak 'Makan Lemper' kok!" seru Blaze yang langsung menyusul keempat saudaranya masuk rumah dengan tanya tanya yang lebih besar dari sebelumnya.
Oke, dengan begini bisa dibuktikan bahwa … Blaze itu polosnya nggak ketolongan … XD
~Chapter 5 Epilog END~
