Choose!
Pair: elemental!BoBoiBoy x Yaya (tapi chapter kali ini lebih fokus ke Fang x Ying)
Genre: Romance, Humor, & Family
Disclaimer: BoBoiBoy adalah milik Animonsta, Ni-chan hanya meminjam karakter-karakternya saja
Warning: Typo, Gaje, OOC, Abal-abal, Humor gagal, dll.
Happy Reading~!
RnR please?
A/N: Hanya chapter selingan yang menceritakan apa yang terjadi pada Fang dan Ying setelah meninggalkan Yaya yang berusaha mengembalikan Api ke dirinya semula yang polos bukan main. Chapter kali ini pendek banget TwT
Chapter 5.5
Fang dan Ying berjalan beriringan, tapi keduanya masih berdiam-diaman. Sesekali Ying mendengus sebal dan melirik Fang tajam, membuat cowok itu lagi-lagi mengernyit heran, sama sekali tak mengerti maksud gadis berkacamata di sebelahnya ini.
Sepuluh menit yang lalu Yaya meminta mereka berdua untuk meninggalkannya dengan Api yang sifatnya bertolak belakang dengan dirinya yang biasanya. Mereka berdua pergi ke arah yang berlawanan dengan kedua orang itu, tapi sebenarnya mereka sama sekali nggak tahu mau kemana. Dari tadi berjalan tak tentu arah.
"Jadi-"
"APA?!" seru Ying memotong ucapan Fang yang berniat membuka obrolan. Tentu saja Fang langsung terlonjak kaget mendengar auman gadis tersebut, bahkan sampai loncat dua senti dari tanah.
"Jangan suka ngagetin gitu dong! Memangnya kau mau tanggung jawab kalau jantungku ini copot hah?!" balas Fang.
"Hmph! Kalau jantungmu copot ya tinggal dipasang lagi, kau kan alien," Ying membuang muka lagi.
"Meskipun aku memang alien, tapi aku kesal kalau kau mengataiku begitu! Jangan remehkan ras alien! Lagian mana ada jantung yang sudah copot bisa dipasang lagi, memangnya kau pikir aku ini mainan!" seru Fang.
"Haaahhh?! Alien ya alien! Bertentakel dengan lendirnya yang menjijikkan!" balas Ying sengit.
"Kau itu ya … nggak bisa bedain alien sama hewan laut apa?!" protes Fang yang nggak terima dibilang gurita.
"Sembarangan! Gini-gini aku kan selalu dapat nilai A+! Huh!"
Fang tidak menjawab dan hanya sekadar mendesah lalu mereka melanjutkan berjalan entah kemana. Padahal taman bermain, tapi duo kacamata itu hanya keliling-keliling nggak jelas.
Hening lagi. Sejujurnya Ying sendiri tidak senang dengan suasana seperti ini. Ia ingin membuka topik, mengobrol dengan Fang, tapi ia takut … Takut kalau mulutnya menyakiti hati Fang lebih dari sebelum-sebelumnya. Sebenarnya itu diluar kontrol yan ia sendiri tidak dapat menahannya karena sifat Fang yang memang juga menyebalkan. Tapi…
Aku … ingin berbicara … denganmu …
...seperti seorang gadis biasa yang tidak keras kepala ...
Aku ingin mendengar suaramu …
"Apa?" Fang menyadari Ying yang terus melirik dirinya tanpa sadar akhirnya menegur. Ying yang baru sadar langsung kaget dan mukanya memerah.
"Ehhh! Eng-bu! Bukan apa-apa kok!" Ying langsung memalingkan mukanya, lagi, tapi kali ini bukan karena marah ataupun sebal, tapi malu. Mukanya memerah seluruhnya dan rasanya ia ingin menyembunyikan dirinya di bawah bantal.
"Hm? Ya sudah. Kau memang gadis yang aneh." celetuk Fang lagi.
Ying tidak menjawab. Di depannya terlihat wahana besar yang berputar-putar secara perlahan namun pasti. Ia menatap wahana itu lama. Ia ingat sewaktu kecil pernah menemukan komik lama di perpustakaan mini TK-nya yang sudah kucel dan robek-robek, dan melihat sebuah gambar dimana seorang laki-laki dan perempuan saling menyatakan cinta di dalam wahana tersebut dengan mata yang berbinar-binar. Membuatnya mempunyai mimpi untuk menaiki wahan ini bersama laki-laki yang ia cintai sewaktu besar nanti. Bianglala.
"Kau … mau naik ini?"
"Mau…" jawab Ying tanpa menoleh ke arah Fang karena pandangannya tertuju pada wahana yang berputar-putar itu.
"Yah, kalau kau nggak keberatan, aku bisa menemanimu menaikinya sih," ucap Fang lagi dengan semburat merah tipis di sebelah pipinya.
"Ya! Aku mau, mari kita naiki sama-sam-GEEEHHH! Aku?! Naik sama kau?! Nggak! Nggak! Nggak!" Ying menjerit-jerit setelah sepenuhnya sadar dan merutuki kesalahannya dalam hati. Bisa-bisanya dia bersedia menaiki wahana yang ia kagumi sejak kecil dan ingin ia naiki bersama laki-laki yang ia cintai, dengan cowok ketus berambut pantat ayam ini?!/dilemparFang.
Keempat sudut siku-siku langsung muncul di kepala Fang dan ia langsung mengepalkan tangannya sebal.
"Kalau memang nggak mau, ya biasa aja dong! Bukan berarti aku mau menemanimu naik karena aku mau kali! Aku cuma nggak mau diteror sama sahabatmu itu kalau kau kenapa-napa kubiarkan sendirian!" balas Fang.
"Huh! Nggak perlu diperhatikan juga aku bakal baik-baik saja! Kau nggak perlu memperlakukanku seperti ibu yang panik kalau anaknya baru saja puber!"
"Ohhh? Begitu? Jadi kau nggak perlu aku di sampingmu lagi kan?"
"Benar sekali! Aku bisa pergi sendiri!" Ying memutar badannya lalu langsung berlari ke arah yang berlawanan.
Setelah berlari cukup lama tanpa tahu arah dan tujuan, Ying duduk di pinggiran air mancur, pusat taman bermain tersebut. Banyak juga orang yang duduk di situ selain dirinya, tapi semuanya berpasang-pasangan. Hati gadis itu terasa nelangsa melihat pemandangan yang sangat kontras dengan keadaannya sekarang ini.
Hari semakin sore, saat ia melihat jamnya sudah menunjukkan pukul 04.00. Entah kenapa semakin sore semakin dingin, bukannya hangat, sehingga Ying terpaksa meniup kedua tangannya lalu menggosok-gosokkannya satu sama lain dan menempelkannya ke pipinya. Hangat… tapi itu tidak mampu mencairkan kegundahan yang dirasakan oleh hatinya saat ini. Mungkin rasa dingin ini hanya ilusi, memikirkan keadaannya sekarang.
Pasangan muda-mudi itu berlalu-lalang sambil mengobrol dengan riangnya tanpa satu pun mempedulikan gadis itu, sambil sesekali menatap kasihan, tapi tak satu pun menegurnya. Biarlah, lagi pula ia memang tidak sedang ingin ditegur.
Gadis itu menjauhkan tangan kanannya dari pipi dan menatapnya dalam. Andai saja … ada yang menggandeng tangan itu sekarang, mungkin ia tak akan merasa seperti ini. Padahal harusnya sore ini hangat, tapi ia merasa kedinginan sendiri.
Air mata menetes dari pelupuk mata gadis itu yang tertutup kacamata. Perlahan tangan gadis itu bergetar, lalu ia langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil sesenggukan menahan tangis. Padahal ia pernah dijuluki gadis yang kuat dan cerewet, tapi semua orang lupa. Kalau … ia juga manusia … dan perempuan … yang membutuhkan bahu untuk bersandar di saat gundah dan tak nyaman.
Air mata yang menetes semakin banyak. Ying sendiri ingin menyudahi tindakannya yang memalukan ini. Menangis di air mancur pusat taman bermain? Cerita yang sangat tidak lucu, bukan?
Pluk!
Tiba-tiba Ying merasa kepalanya tertutup sesuatu. Saat ia mendongak, di depannya berdiri seorang laki-laki dengan rambut ungu raven dan kacamata nilanya. Masih sambil menaikkan dagunya dengan kesan sombong, laki-laki itu langsung angkat bicara.
"Keadaanmu saat ini terlihat menyedihkan kau tahu? Setidaknya pakai itu dan sembunyikan wajah pucatmu itu," ujarnya yang terdengar ketus, namun siapapun yang mendengarnya pasti tahu, kalau ia tidak bermaksud jahat.
"Aku tahu, menyedihkan bukan?" Ying mengambil sesuatu yang menutup kepalanya dan menyadari itu adalah jaket laki-laki di depannya yang sekarang duduk di sebelahnya. Ia menurunkan jaket itu ke bahunya. Samar-samar tercium bau dari jaket tersebut, yang membuatnya makin mengeratkan jaket itu dan menghirup baunya yang makin jelas. Ini aroma …
"Oi."
"Hm?" tanggap Ying tanpa menoleh pada Fang.
"Haaaaa…" Fang mengambil nafas lalu menghembuskannya pelan. Samar-samar terlihat semburat merah muda di pipinya, lalu ia menunjuk wahana bianglala yang berputar pelan tapi pasti. "Kau mau … menaikinya bersamaku … itu."
"Eh?" Ying menatap cowok itu heran lalu melirik wahana (yang ingin ia naiki bersama pangerannya) bianglala itu. Ia menundukkan kepala sedikit, berpikir sebentar, lalu sampai akhirnya bibirnya bergerak disertai sebuah anggukan kecil. "Ayo."
Di depan wahana bianglala, untungnya tidak terlalu ramai sehingga antriannya tidak panjang, dua kacamata itu pun langsung sampai di loket tanpa kendala yang begitu berarti. Seorang petugas yang menjaga loket melihat dua orang itu langsung menyindir.
"Ecieee … naik bianglala … silakan untuk PJ baru. Diskon deh, seratus persen. Sana, sana, naikk! Buruaaann! Lama-lama yaa sekalian!"
Sialan. Bukannya bisa baca situasi, malah nyuitin. Fang sudah berniat menggebuk muka petugas itu sampai babak belur, tapi Ying langsung menariknya masuk ke salah satu kotak bianglala bercat biru-ungu yang menganga di depan mereka.
Di dalam bianglala pun mereka duduk berhadap-hadapan dan masih diam satu sama lain. Fang ingin memulai pembicaraan tapi takut, kalau gadis di depannya itu langsung teriak kalau dia sedang tidak mau bicara atau diganggu, jadi Fang mengurungkan niatnya, tapi ternyata malah gadis itu duluan yang membuka topik pembicaraan mereka terlebih dulu.
"Makasih …" ucapnya lirih.
"Hah?"
"Makasih … sudah mau menemaniku hari ini …"
"Kau ngomong apa? Kita cuma baru menaiki satu wahana saja kok? Bukan yang ekstrim lagi. Jadi kurasa aku kurang pantas untuk terima kasihmu itu," ujar Fang merendah diri. Aneh, nggak seperti dia yang biasanya yang pede dan sombongnya setinggi langit.
Ying menggeleng. "Ummh, kau satu-satunya orang yang pantas kuberi terima kasih saat ini. Kau sudah menyelamatkanku yang putus asa ta-"
"A-ahhhh! Maksudmu yang di air mancur tadi? Ayolah, memangnya kau nggak mikir? Kalau orang-orang tau aku bikin cewekku nangis, aku bakal dicap sebagai cowok sampah rendahan, terutama sama si Boboiboy itu. Aku jelas nggak mau kalah dong, dia aja bisa setia, masa aku nggak." potong Fang santai dengan nada yang menyebalkan seperti biasa, membuat Ying yang tadinya sudah benar-benar terharu langsung emosi.
"Si-siapa yang cewekmu hah?!"
"Lho? Memangnya bukan ya?"
"Bukaaaannn! Padahal aku sudah terharu dengan sikapmu yang perhatian itu, tapi kau malah …"
Krittt… Bianglala itu perlahan-lahan semakin pelan, pelan, pelan, dan … berhenti. 'Beruntungnya' lagi (pakai tanda kutip lho), kotak bianglala yang ditumpangi Fang dan Ying berhenti tepat di bagian paling atas.
"Eh?"
"Ah?" Ying yang tadinya sudah mau ngamuk langsung toleh kiri dan kanan, memastikan sikon di sekitarnya. Setelah yakin betul apa yang menimpanya sekarang, yaitu bianglalanya mendadak terhenti dan ia berada di ketinggian berpuluh-puluh kaki dari tanah, Ying langsung menjerit dan tanpa sadar, memeluk erat apapun yang ada di dekatnya. "GYAAAAAAA!"
Tubuh mungil gadis itu bergetar hebat. Iyalah, siapa yang nggak takut kalau bianglala yang kalian tumpangi mendadak berhenti karena kesalahan teknis? Di bagian paling atas lagi.
Fang yang awalnya kaget karena mendadak dipeluk (baca: dipeteng) kuat-kuat oleh Ying akhirnya malah mendesah pelan dan balas melingkarkan tangan kirinya di leher gadis itu dan tangan kanannya menepuk-nepuk kepalanya pelan.
Kriieettt… Perlahan tapi pasti, bianglala itu mulai berputar kembali. Ying yang dari tadi tanpa sadar mendekap sambil gemetaran, tidak sadar karena ketakutan, mulai membuka matanya.
"Wuaaahhh! Kau … ap-!" seru Ying dengan muka merah bak tomat sambil melepaskan dirinya dari cowok itu.
"Sshhtt. Diam." potong Fang yang bukannya melepas Ying yang mulai ribut, malah menarik dan mempererat dekapannya.
Ying yang masih tidak percaya apa yang Fang lakukan padanya, ditambah jantungnya yang berdegup-degup kencang, sentuhan cowok itu yang membuatnya serasa meleleh, dan mukanya yang merah seperti kepiting rebus, tapi … semua itu malah justru membuatnya nyaman. Ia menarik pelan kaus abu-abu dan menyandarkan kepalanya pada dada cowok itu.
Aaahh… andai aku bisa … menghentikan waktu yang sekarang ini …
...walau cuma sebentar ...
eh?
"TUNGGU! HARUSNYA AKU EMANG BISA KAAANNN! ARRGGGHHH!" Ying ngamuk-ngamuk pada dirinya sendiri yang nggak ingat tentang kuasa manipulasi waktunya setelah mereka berdua keluar dari wahana itu. Cowok berambut ungu raven itu hanya bengong-bengong melihat Ying menjeduk-jedukkan kepalanya ke dinding, seperti sedang bertarung dengan dirinya sendiri.
Ia izin ke toilet setelah itu, tapi kayaknya Ying nggak dengar soalnya masih asyik menjedot-jedotkan kepalanya dengan nafsu yang kayaknya nggak bakal berhenti walau kepalanya sudah berdarah-darah, jadi Fang anggap jawabannya oke dan langsung menuju sudut taman bermain yang sepi.
Cowok itu menekan sebuah tombol di jam kuasanya yang langsung memancarkan hologram tembus pandang berwarna tosca, dan setelah load, tampaklah wajah seorang pria yang umurnya berkisar 15-18 tahun. Tentu saja Fang mengenal orang itu.
"Maaf Kak, aku belum bisa menemukan petunjuk lebih lanjut mengenai tidak bisa bersatunya mereka."
"Hmm … memang situasi yang rumit ya … padahal aku sudah menemukan penawarnya, tapi pasti orang yang bersangkutan tidak akan tinggal diam kalau aku langsung memberikannya. Yang pasti, aku yakin Adu Du dan Probe hanya kaki-tangan, mereka bukan pelaku yang sesungguhnya. Sepertinya mereka terpaksa melakukan hal itu untuk suatu alasan."
"Kenapa … Kakak bisa seyakin itu?"
"Kenapa … entahlah. Cuma perasaanku saja, sekarang aku juga sedang mengumpulkan data tentang cairan misterius yang mereka tembakkan dan menghasilkan efek tersebut... Daripada itu, yang lebih penting …" Wajah pria dalam hologram itu yang tadinya berpesona mysteryous cool, mendadak seperti menahan tawa. "Adikku ternyata sudah gede ya, sudah berani meluk-meluk cew-"
Pik! Fang langsung memutuskan sambungan sebelum percakapannya jadi lebih absurd dan makan durasi lagi, terlebih lagi dia nggak mau … kalau wajah merah padamnya ini terlihat oleh kakaknya itu. Habis digodain abis-abisan nanti dia. Fang pun langsung balik ke tempat Ying, yang sepertinya gadis itu sudah bisa mengontrol emosinya, tapi terlihat kalau dahinya sedikit lebam karena ciuman romantis antara dahinya dengan tembok.
"Heeeiii! Kaliaaann!" seru sebuah suara polos dan familier di telinga Fang dan Ying.
Begitu menoleh, itu adalah Boboiboy Api dan Yaya …
…soal kelanjutannya, kalian sudah tahu kan?
~To Be Continued~
Yahooo~~ Ni-chan is back~! Huft, setelah memulai kehidupan sekolah yang baru (naik kelas), pelajaran hitung-hitungan semakin menghantui, tugas yang kian membanyak, dan les yang mulai berjalan lagi, jadi apdetnya molor, udah gitu chapter ini pendek banget lagi TvT Maaf yaa~
Kali ini … Chapter 5.5. Nggak ada alasan khusus sih, bikin chapter ini, selain memperjelas kalau Kak Kaizo itu … di sini bukan main peran antagonisnya, tapi yang jadi malah fokus ke FangxYing gini, tapi nggak pa-pa deh, mereka manis dan bikin greget juga kan? Ufu X3
Chapter berikutnya sudah balik sesi elemental! Boboiboy x Yaya lagi kok, silakan tebak siapa yang dapat giliran selanjutnya. Semoga bisa apdet cepat. Amiiinn XD Jangan lupa tinggalkan semangat (review) untuk Ni-chan yaa XD Jaa~
Balasan review anonim:
Ililara: Hahaha, kebetulan perhatiin (baca: melototin) aja, terus kayaknya ngerasa ... rambut Fang itu rasanya mirip sesuatu ... dan jengjeng! Muncullah istilah pantat ayam itu/dihajarFang XD (maaf ya Fang TvT)
Guest: Hayooo~ siapa yaaa XD
Guest: ML itu ... sebenarnya singkatan dari istilah berbahasa Inggris sih, artinya ... TIDAAAKK! Ni-chan nggak bisa bilang! Nanti fanfic ini rate-nya berubah dari T jadi M dong? Nggak bisaaaa, Ni-chan belum sejauh itu, dan kalau bisa jangan pernah deh TvT Cari tahu saja artinya sendiri ya? Ni-chan nggak bisa menjelaskannya disini ^w^''
Hime501: Hehe, makasih ya, Ni-chan juga akan terus berjuang menamatkan fanfic ini X3 Tapi ... ONI? Apa Ni-chan ... mirip sama iblis ya? TvT Uwaa... bercanda, habis Oni itu dalam Bahasa Jepang artinya kan 'iblis' TwT
Baekday: Siap! Arahan diterima! ^w^ Kyaaa~! Api/Blaze emang unyuu banget dahh X3
Name urang: Hiks, terima kasih, sudah mau setia ... nungguin fanfic Ni-chan yang absurd ini (mau nangis tapi apa daya, waktu nggak ada, gegara dapat pe-er MTK segunung (3 soal dibilang segunung) huweee TvT). Makasih banyak yaa X'D
BBB Lover's: Sama-sama, makasih untuk semangatnya, Ni-chan akan terus berjuang XD
Luna Nightingale: Yup, Api memang unyu X3 Sudah apdet, selamat menikmati XD Keep imagine and love u too X3
Fitzal21: Hmm... liat aja nanti ya XD
