Choose!
Pair: BoBoiBoy (Air/Ice) x Yaya
Genre: Romance, Humor, & Family
Disclaimer: BoBoiBoy adalah milik Animonsta, Nii hanya meminjam karakter-karakternya saja
Warning: Typo, Gaje, OOC, Abal-abal, Humor gagal, dll.
Happy Reading~!
RnR please?
Chapter 6
Pagi yang cerah … dan Yaya sudah siap dengan segala peralatannya agar jantungnya aman saat bertemu Boboiboy. Sudah dua hari berturut-turut dia dikagetkan di kamarnya, tapi kali ini dia tidak akan lengah lagi. Dia bangun pagi-pagi dan mempersiapkan diri untuk jalan-jalan berikutnya lebih cepat dari biasanya agar jantungnya nggak perlu olahraga lagi di pagi hari.
Tapi … ada yang aneh … Kemarin ia dikagetkan pagi-pagi itu jam enam sampai jam tujuhan, tapi kok … ini sudah jam tujuh lewat dan nggak ada siapapun yang mengagetkannya lewat jendela? Padahal Yaya sudah lebih siap dari sebelumnya. Dengan wajan untuk menabok orang yang tiba-tiba mengagetkannya plus perangkap yang sudah dipasangnya di jendela berupa jaring untuk menangkap orang yang masuk lewat jendela itu (kok lebih kayak waspada sama maling ya? X'3). Dia pun sudah lebih rapi dari kemarin agar menghindari hal-hal yang tidak diinginkannya.
1 jam kemudian…
Yaya berdiri tegap dan tidak sekalipun luput dari konsentrasi dan fokusnya. Menanti kehadiran salah satu pecahan dari laki-laki yang sudah ia kenal semenjak duduk di kelas 4 dulu. Tapi, Yaya melupakan sesuatu yang penting …
2 jam kemudian …
…kalau …
3 jam kemudian …
…yang jalan-jalan dengannya hari ini …
4 jam kemudian …
…adalah…
5 jam kemudian …
Tok tok tok … Bunyi suara pintu diketuk dari bawah. Yaya yang dari tadi memelototi jendela memutar lehernya kaku lalu segera cabut ke lantai dasar rumahnya dan membuka pintu dengan kasar.
"Selamat pagi." Ucap seseorang bermata sayu yang menyambut Yaya tepat saat ia membuka pintu rumahnya singkat.
"Telaaaatttt! Selamat pagi konon! Ini sudah jam satu siang tahu! Tengah hari bolong! Kau pikir ini jam berapa sih, Air?!" seru Yaya.
"Eng … maaf, tadi aku ketiduran, hoaaahhmm …" Laki-laki itu menguap lebar dan menutup mulutnya dengan tangan kanannya. "Habis, jam perginya itu juga nggak ditentukan kan?"
"O-ohh … benar juga ya …" Yaya terdiam, memang dari awal tidak ada jam pasti kapan dia akan diajak jalan-jalan, kalau yang kemarin itu kan … memang Boboiboy dengan sikap nggak sabaran aja yang main serobot masuk ke jendela kamarnya. "Umm … ya sudah. Kau tunggu di ruang tamu dulu. Aku mau sholat Zuhur dulu, baru habis itu kita berangkat. Kau sudah sholat kan?"
Air mengangguk singkat.
"Berangkat~" ucap Air lemas.
"Kalau kau memang nggak ada niat jalan, lebih baik nggak usah maksa," ujar Yaya.
"Nggak … biar kelihatannya begini, sebenarnya aku cukup bersemangat lho," jawab Air lemas dengan matanya yang sayu dan berharap masih mendapat waktu untuk tambahan tidur.
'Nggak! Semangat dari mananya!' jerit Yaya dalam hati.
"Jadi, tempat yang kita akan kunjungi hari ini apa?" tanya Yaya saat Air mengajaknya menuju ke halte bus yang sama seperti kemarin, yang mengingatkannya pada kejadian Api kemarin di taman bermain. Kita nggak mungkin ke 'sana' lagi kan?
"Nggak, jangan cemas. Aku sudah dengar dari Kak Blaze kalau kemarin ke taman bermain, jadi aku nggak akan ngajak ke situ lagi kok," ujar Air tiba-tiba.
'Dia bisa tahu pikiranku?! Telepati?!' pikir Yaya syok.
"Jadi … kita kemana?"
"…lihat saja nanti," ucap Air pelan, yang bikin Yaya makin greget.
'Ini anak ngomongnya pelit banget sih! Sebegitunya nggak mau gerakin bibir kah?' gerutu Yaya dalam hati yang tanpa sadar memonyong-monyongkan bibirnya, maksudnya biar Air ngerti kalau Yaya ingin mengobrol lebih banyak dengannya, sekaligus nyindir gitu.
Tapi Air malah mengartikannya sebagai maksud lain.
"Yaya kenapa? Minta cium?"
Buhhhh! Yaya kaget setengah mati. Kenapa maksud ngejeknya malah diartikan sebagai hal lain yang menjurus begitu. Yah, memang dia juga sih, yang nggak mikir, nyinyirin bibir kayak gitu kan, sama saja minta cium.
"Nggak! Nggakkk! Nggak mungkin dahhh!" seru Yaya panik sambil mengepak-ngepakkan (?) tangannya kemana-mana. "Daripada itu, itu lho! Bisnya sudah sampai! Ayo cepat kita masuk! Aku duluan yaaa! Ahahaha~!"
Yaya langsung cabut ke dalam bis itu duluan meninggalkan Air yang masih terbengong-bengong. Nafasnya tersengal-sengal. Dalam hatinya dia bersyukur masih bisa selamat. Kalau dia melakukan hal itu dengan Taufan, bisa-bisa cowok itu nggak akan membiarkan Yaya kabur begitu saja.
"Waaahh, kok cepat-cepat sih? Busnya juga baru sampai, nggak bakal langsung pergi gitu aja," celetuk Air yang baru saja memasuki bis.
"Jangan … tanya alasannya … malu-maluin …" ujar Yaya berusaha mengontrol nafasnya. "Jadi… seriusan nih, kita mau kemana?"
"Kak Taufan bilang kalau mau jalan itu jangan bilang dulu tempat jalannya sama ceweknya. Nanti nggak seru lagi, biar surprise gitu," jawab Air.
Hah? Ada sangkut-pautnya sama Taufan lagiii?! Yaya yang tadinya lemes gegara habis lari itu langsung berkobar-kobar. Kemarin cowok itu sudah bikin ulah secara tidak langsung lewat ajaran ngawurnya itu pada Api, sekarang dia ngajarin apa lagi ke Air?
Gadis berkerudung merah muda itu mau tidak mau merasa takut tentang tempat yang akan mereka kunjungi nanti. Habis, Air biar kelihatannya polos dan pemalas gitu kan, kalau marah tatapan matanya horor banget. Bisa gawat kalau dia dibawa ke tempat-tempat yang tidak diinginkannya, meski dia tahu itu nggak mungkin, tapi tetap saja gugup.
"Ya sudahlah," Yaya pun duduk di salah satu bangku bus yang baru ia sadari kalau ini bangku yang sama persis ia duduki saat jalan-jalan bersama Api kemarin.
Cuma ya … bedanya kalau Api duduk pas di depannya … tapi kalau kali ini …
"Kenapa kau duduk di sini?!" seru Yaya syok saat Air dengan santainya duduk di tepat di sebelahnya, bukan di depan seperti Api kemarin.
"Eh? Salah? Memang harusnya begini kan?" Air balik bertanya bingung.
"Nggak-nggak-nggak! Bukan gitu! Kan katanya kau itu suka duduk di samping jendela?"
"Masa?" ujar Air lagi. "Aku lebih memilih duduk di samping Yaya daripada jendela."
Glek… Yaya menelan ludah gugup. Kok rata-rata Boboiboy yang jalan-jalan dengannya dari kemarin selalu melontarkan gombalan basi model si Taufan sih? Pengen banget rasanya Yaya meneror cowok itu sekarang juga.
"Ohh? Ahahaha," Yaya hanya membalasnya dengan tertawa garing, dan seiring waktu bus pun mulai melaju dengan perlahan.
Hup! Gadis berkerudung itu melompat turun dari bus dengan mata berbinar-binar penasaran, tidak sabar mengetahui tempat apa yang akan dikunjunginya hari ini. Dan bangunan besar yang terpampang di hadapannya adalah …
"Akuarium?!"
"Ya, kebetulan aku dapat dua tiket masuk dari Kak Taufan, dia menang undian majalah kemarin." Air merogoh kantongnya dan menunjukkan dua lembar tiket berwarna biru muda dengan tulisan besar 'free ticket'.
"Si Taufan itu … memang sering ikut campur ya. Kemarin aja, dia ngajarin Api biar jadi cowok cool dan kalem, berakhir dengan aku, Ying dan Fang yang gemeteran plus keringat dingin, merasa kalau-kalau Api lagi kerasukan setan anak baik atau apa." Yaya tertawa kecil. "Tapi biar begitu kurasa … dia sayang sekali dengan kalian … adik-adiknya."
Air menyerahkan dua tiket itu pada penjaga loket dan ia langsung merobek sebagian tiket berbahan kertas itu dan mengembalikan sisanya. Air menatap Yaya yang menaruh sobekan tiket itu di tasnya, dan keningnya berkerut sedikit.
"Kenapa kau menyimpan sampah itu?"
"Haaahh? Sampah katamu?! Enak saja! Ini kenangan berharga tau?! Bukti kalau aku pernah ke akuarium ini bersamamu!" Yaya mendadak emosi.
"Tapi kalau cuma sekadar kenang-kenangan kan … bukannya di dalam nanti ada yang jualan souvenir? Kayak gantungan kunci, mug, kartu pos, dan sebagainya," elak Air.
"Hmm, itu juga masuk hitungan kenang-kenangan sih, tapi … rasanya feel-nya kurang dapet. Soalnya kalau barang kayak gitu kan, dibeli di toko di luar akuarium juga bisa. Kalau tiket yang sudah disobek kan lain, kelihatan banget kalau aku pernah pergi ke sini. Lagian sobekannya rapi kok, soalnya ada garis-garis lubang kecilnya. Apalagi free ticket begini, jarang-jarang ada." Yaya menunjukkan tiket bekas sobekan tadi.
Air manggut-manggut mengerti.
"Nah, sekarang …" Yaya yang tadinya merengut langsung tersenyum lebar. "Mari berenang bersama ikan-ikan! Kyaaa~!"
Yaya langsung berjalan cepat dengan semangat ke arah akuarium yang menampung berbagai jenis ikan-ikan itu. Yang pertama dilihatnya adalah gerombolan ikan nemo berwarna oranye lucu yang berenang bergerombolan dengan kawan-kawannya.
"Huwaaaa~!" Mata gadis itu berbinar-binar saat berjalan dari akuarium yang satu ke yang lain. Bahkan saat di depan akuarium yang menampung berbagai jenis ikan hiu pun, ia masih bersemangat seakan lupa bahwa yang ia lihat itu adalah hiu pembunuh yang bisa mengoyaknya dengan dengan giginya yang tajam itu.
Air hanya melongo melihat Yaya dengan cekatannya mengambil foto untuk setiap akuarium yang ia kunjungi. Tentu saja bukan selfie, secara cewek itu lebih demen sama ikannya, bukan sama wajahnya sendiri yang membuat teman-teman yang kenal dengannya heran, anak ini, apa di rumahnya nggak ada cermin, nggak nyadar kalau wajahnya semanis itu kalau senyum, asal nggak senyum sambil megang pulpen dombanya itu (baca: senyum horor).
"Ne, Air! Gimana menurutmu?"
"Gimana …? Maksudnya?"
Yaya menggembungkan pipinya. "Ya, maksudnya akuarium sama ikan-ikannya yang lucu ini. Kau kan suka yang tenang-tenang. Nah, nah, itu tuh! Lihat, ikan parinya tenang banget. Mirip kau kan?" Yaya menunjuk seekor ikan pari yang berenang dengan pelan dan akhirnya mendarat di dasar dengan santainya.
"Masa aku mirip sama ikan itu?" Air mengernyit.
"Yah, aku cuma bilang mirip sih. Kalau mau dibilang benar-benar mirip, kau itu mirip paus biru. Tenang, nggak banyak omong, juga selalu bergerak dengan pelan tapi pasti. Terus kalau marah itu … seisi laut langsung heboh, bahkan takut. Fufu, mirip banget," Yaya tertawa kecil atas perbandingannya sendiri.
Air yang awalnya terdiam kini mulai menggerakkan bibirnya pelan.
"Paus … ya … sayang nggak ada paus biru di akuarium sini," ujarnya.
"Ya jelas lah. Kan nggak muat. Penuh ntar isinya cuma paus doang."
"Hm. Sama seperti kau, Yaya. Yang penuh mengisi hatiku. Sampai aku nggak mungkin memasukkan orang lain lagi ke dalamnya."
"Eh? Ehhhh?!" Yaya yang tadinya kurang connect, sedetik kemudian mukanya memerah. Cowok kuudere kayak Air itu … terkadang bisa gombal juga! Ya ampun … diajarin siapa lagi nih? "Tunggu! Tunggu! Jangan bilang itu kalimat gombalan yang kau comot dari majalahnya si Taufan?!"
Yaya mulai curiga. Habis dari kemarin, yang jalan-jalan dengannya rada nggak oke semua. Mulai dari Taufan yang galau lah, Api yang dewasa lah, sekarang? Air yang awalnya kuudere dan pemalas abis jadi bisa gombal gini?
Srat! Yaya mencabut ponsel dari tasnya lalu menelepon sebuah nomor sampai sang penerima telepon itu mengangkatnya dan langsung menyambutnya dengan suara riang.
"Yoo~~ Yaya, kenapa nih, nelpon-nelpon? Bukannya lagi jalan-jalan sama Air? Jangan-jangan kau lagi kangen sama aku ya? Duhh, tenang aja. Aku selalu di sini untukmu kok. Silakan datang kapan saja … pasti kulayani."
Orang yang ditelpon itu-yang tidak lain, tidak bukan, dan tidak salah lagi, adalah Taufan, di seberang sana menjawab telepon dengan cengiran lebar.
"BUKAN ITUUU!" Yaya ngamuk. "Kau tuh, kemarin sudah ngajarin Api-eh, Blaze yang nggak-nggak, sekarang kau ngajarin apa lagi ke Air? Kok dia bisa jadi gombal gini?"
"Haaahh?" Taufan bingung. "Aku nggak ngajarin dia apa-apa kok, cuma ngasih dia tiket gratis ke akuarium soalnya aku menang undian majalah. Aku mau ajak Kak Hali pergi bareng, eh, dia nggak mau. Ya sudah, kukasih ke Air aja. Terus juga, kemarin aku juga nggak ngajarin segitunya ke Blaze. Cuma ngasih dia majalah dan saran seperlunya, sisanya dia improvisasi sendiri. Mungkin Air juga gitu?"
"Eh? Jadi kau beneran nggak ngajarin apa-apa nih? Awas aja kalau aku sampai tahu kalau kau bohong …" Nada suara Yaya mulai mengancam.
"Nggak kok, beneran!" Taufan panik. "Aku nggak ngajarin dia apa-apa! Suer!"
"Hmm… ya sudah, aku percaya padamu deh. Kalau begitu aku tutup ya …"
"Eh? Ehhh?! Kok sudah main tutup-tutup aja sih, Ya? Tanyain aku lagi apa gitu, kabarku gimana gitu? Masa kau nelpon cuma nuduh kalau aku itu ngajarin Air yang aneh-aneh?"
"Huft… oke. Jadi sekarang kau lagi apa nih?" tanya Yaya setengah hati.
"Lagi teleponan sama bidadari tercinta, hehe…"
Pik! Langsung saja Yaya menekan tombol untuk memutuskan sambungan. Mukanya memerah. Dasar si Taufan, baru aja dipercaya sedikit, udah langsung main gombal lagi. Yaya bisa membayangkan kalau Taufan sedang cekikikan sendiri setelah Yaya mematikan sambungan telepon tadi.
"Ehh… Air, maaf ya, aku juga menuduhmu yang tidak-tidak." Yaya jadi merasa tidak enak.
"Aku nggak apa-apa kok," jawab Air pelan. "Nggak usah dipikirkan…"
Bruk! Air langsung menghantamkan kepalanya ke dinding dengan keras sampai dinding itu sendiri retak-retak.
'Nggak! Kau sama sekali nggak kelihatan 'baik-baik saja'! Gimana bisa aku nggak pikirin?!' Yaya kaget sendiri melihat tindakan ekstrem Air barusan.
"Duhh, beneran kok, ini cuma kesalahpahaman kecil aja, nggak usah kau pikirkan sampai segitunya," Yaya menghela nafas melihat Air yang masih murung saat mereka keluar akuarium dan memutuskan untuk istirahat sebentar di sebuah bangku taman. "Dahimu masih lebam gitu gara-gara kau hantamkan ke tembok tadi tuh. Umm… di sini ada es nggak ya? Paling nggak buat ngompres lukamu itu … bahaya kalau sampai berbekas …"
Yaya tolah-toleh ke kanan dan kiri, berharap ada sesuatu yang dingin-dingin seperti es yang bisa dipakai untuk kompres, sampai Air menarik lengannya pelan.
"Aku … bisa jadi es …" ucapnya pelan.
"Hah?" Suara Air yang kecil membuat Yaya tidak bisa mendengarnya begitu jelas, dan mata Yaya menangkap kios kecil yang menjual kakigori atau es serut, di antara kios-kios kecil lainnya di taman. "Ah, itu ada stand kakigori tuh! Aku beli es polosnya aja deh."
"Ehh? Tapi kakigori itu kan namanya bukan kakigori kalau nggak ditambah sirop!" Air mendadak protes.
"Eh? Yah, tapi ini kan buat kening-"
"Keningku nggak apa-apa! Pokoknya kita harus coba kakigori itu!" Air langsung bersemangat. Ini anak, kalau sudah ada kaitannya sama makanan, baru deh terasa kehadirannya, padahal dari tadi ngomongnya pelit banget.
Air langsung melesat ke kios es serut tersebut dan beberapa saat setelah ia sampai dan mendengar penjelasan sang penjual, mukanya langsung murung lagi.
"Air? Kau kenapa?" tanya Yaya yang segera menyusul dan disambut dengan muka madesunya Air.
"Abangnya bilang, esnya meleleh semua pas diantar, hari ini panas banget sih," Mata Air langsung berkaca-kaca.
"Yaahh … begitu ya. Ya sudah yuk, cari yang lain aja, cuaca panas gini, mana ada sih, es yang bisa tahan lama. Lagian mana ada es yang langsung jadi, mesti didinginin dulu di freezer kan. Manusia super aja yang bisa bikin es langsu-" Yaya langsung terdiam, menyadari sesuatu. Tunggu dulu, rasanya ia tahu kalau ada orang yang bisa memunculkan es dalam sekejap mata di dekatnya. Itu kan … "Ng ... Ice! Yap, Ice!"
"Hah?"
"Tadi kau bilang juga padaku kan, kau bisa jadi es? Kenapa malah kau yang lupa lagi habis itu sih?"
"Eh? Es? Ice? Hmmm … ohh… maksudnya … itu?"
Yaya mengangguk mantap.
"Ohh … yang itu mah gampang," ujar Air sambil tersenyum pede pede lalu ia langsung berlari menuju ke pusat taman dengan cepat dan berusaha fokus mengumpulkan konsentrasinya pada suatu titik di dalam tubuhnya. "Ukhh … hiaaaahhh!" Cowok itu menyemburkan semua energi yang telah dikumpulkannya melalui pancaran cahaya, yang membuat Yaya menutup matanya saking silaunya, tapi setelah cahaya itu menghilang, sosok 'Air yang lain' telah menyambutnya.
Jumper hoodie-nya yang menutupi sebagian topinya yang kini berwarna biru tua bak samudra, hoodie-nya yang semula berwarna biru muda dengan ristleting yang ter-zip sampai atas kini berwarna abu-abu dengan kilat-kilat biru metalik di beberapa bagian. Simbol elemen esnya terlihat mengkilat di topi dan ristleting-nya.
"Wah, lama nggak jumpa, Ice," sapa Yaya. "Meski aku tau kau orang yang sama dengan Air."
"Lama nggak jumpa juga, Yaya. Sekarang ayo kita jajan es serut itu!" seru Ice bersemangat lalu menarik tangan Yaya kembali menuju kios es seruttadi.
Singkat cerita, dengan menggunakan kuasanya, membuat es bukan apa-apa bagi Ice. Ia tinggal mengumpulkan sedikit energi dan muncullah sebalok es besar dari tangannya yang kemudian digunakan untuk membuat es serut itu dengan cara yang tentu saja balok es itu diserut terlebih dulu lalu dicampur sirop. Karena telah menolongnya, pemilik kios itu dengan senang hati memberikan Ice dan Yaya porsi besar.
"Iya, besar sih besar, tapi aku nggak sanggup makan kakigori yang segunung ini," Yaya menatap mangkuk berisi es serut yang telah dilumuri sirop stroberi campur susu di depannya. Porsinya bisa dibilang sangat banyak sampai menggunung melebihi mangkuk yang mewadahi es serut itu. Sementara Ice dengan cueknya makan kakigori bagiannya yang tidak terasa sudah tersisa separuh.
"Bawa aja pulang." usul Ice saat mengelap sudut bibirnya yang terkena es dengan kandungan sirop yang membuat lengket.
"Tapi kalau dibawa pulang apa nggak meleleh? Kan sayang. Lagian makan es banyak-banyak juga nggak baik, gigiku kan sensitif, gampang ngilu." Yaya kembali menatap kakigori yang menggunung di hadapannya tersebut. Porsi segitu bisa untuk porsi lima orang atau mungkin lebih.
Tiba-tiba saja di pikirannya terlintas sebuah ide brilian.
"Ice, kau mau dengar permintaanku?"
"Hm?"
"Assalamu 'alaikum, aku pulang Kak." Ice membuka pintu rumahnya dengan tenang. Iyalah, ini kan masih jam setengah lima sore, masih aman. Kakak-kakaknya nggak mungkin ngamuk-ngamuk kayak kemarin gara-gara Blaze yang pulang telat. Memang kalau pulang on time itu lebih baik.
"Wa 'alaikumsalam, kau sudah pulang eh … Ice?" Gempa yang buru-buru ke ruang tamu untuk menyambut sedikit terkejut dengan penampilan adiknya yang paling uncit tersebut yang kini berubah penampilannya.
"Yah, karena ada kejadian, aku berubah jadi gini," ucap Ice seakan bisa membaca pikiran kakak tertuanya itu.
"Oh, ya sudah masuk-masuk." Gempa manggut-manggut lalu menyuruh adiknya masuk. "Tapi ngomong-ngomong … kenapa kau bawa pulang es serut segede-gede gaban gitu? Mau kau makan sendiri tuh?" tanya Gempa sambil menunjuk es serut yang dibawa Ice.
"Maunya sih gitu," jawab Ice singkat lalu langsung membawa es serut segunung itu menuju ruang makan. Karena penasaran, Gempa mengikuti adiknya itu yang kini mengambil lima buah mangkuk kecil dari rak piring. Menyadari Gempa memerhatikannya, Ice langsung berucap. "Kak, Kakak jangan cuma lihatin aja, bantuin sini dong."
"Oh, oke."
Gempa yang tidak tahu-menahu segera membantu adiknya itu menaruh jatah es masing-masing sama rata ke lima buah mangkuk kecil tadi. Setelah setelah Ice menghela nafas puas.
"Kak, ayo kita panggil Kak Blaze, Halilintar, sama Taufan. Nanti esnya keburu meleleh," ujar Air.
"Hah?" Gempa baru ngeh, tapi kemudian ia mengangguk-angguk mengerti. "Oke."
Setelah memanggil Halilintar, Taufan, dan Blaze, mereka berlima duduk di masing-masing kursi di meja makan, berhadapan dengan kakigori tersebut dengan pandangan heran yang kini beralih ke Ice.
Ice balas menoleh ke arah kakak-kakaknya dan menjelaskan semuanya secara singkat, padat, jelas, dan mudah dipahami (wah, nilai bahasanya bagus nih si Ice/woi).
"…jadi gitu. Aku kan bantu-bantu abang-abang penjualnya, terus dapat bonus porsi besar. Nah, Yaya bilang dia nggak bakal bisa makan habis es sebanyak itu, jadi dia suruh aku bagi-bagi dan makan bareng sama kakak-kakak yang lain," jelas Ice, kemudian ia terdiam menunggu respon dari kakak-kakaknya.
Setelah terdiam beberapa saat, Taufan yang paling pertama memberi respon dengan tawanya. "Upphh … hahaha, kirain apa. Ternyata ngajakin makan toh?"
"Ice, kalau mau ngajak makan to the point aja dong. Jangan cuma diem. Pakai panggilan sayang gitu, 'Kak Blaze~ makan bareng dedek Ice yoook~', gitu," tawa Blaze yang bibirnya lansung mingkem begitu Ice menatapnya horor.
"Sebenarnya kalau es serut rasa stroberi sih aku agak …" ucap Halilintar tercekat. "Tapi kalau ini pemberian dari adikku, apa boleh buat."
"Kak Hali, kalau gitu lain kali aku bikinkan makan juga, Kakak makan ya," Taufan mengalihkan pembicaraan, yang langsung ngincer Halilintar lagi.
"Khusus kau, nggak akan kusentuh sesuap pun."
"Ah, Kak Hali masiihh … aja tsundere!" Taufan merengut kesal.
"Sudah, sudah. Sebelum esnya meleleh, kita habiskan dulu ini baru kalian berantem," ucap Gempa. "Yuk."
Ajakan Gempa mendapat sambutan baik dari adik-adiknya. Duh, kau cocok banget sih, jadi Kakak yang baik, Gempaa/plak. Kelima Boboiboy itu saling berpandangan satu sama lain lalu membaca doa makan dan mengucapkan 'Selamat makan' dengan sekali tarikan nafas. Dan dalam satu menit, ludes semua kakigori yang dibawa Ice pulang.
~To Be Continued~
Yeeyy! Chapter 6 selesaiii~ X3 Kalau kemarin Api berubah jadi Blaze, sekarang disamain, Air berubah juga jadi Ice, nggak mau kalah dong, iya kan, Air?/plak Ni-chan habis upacara 17 Agustusan di sekolah yang sangat menggembirakan karena nggak ada amanatnya, pulang-pulang langsung sambung ngetik fanfic ini, ditambah ngedit dulu sebentar (sebentar dari Hongkong, dua hari gitu), jadilah chapter 6 ini XD
Ngg … tinggal dua orang lagi nih. Gempa sama Halilintar. Pilih mana dulu yang duluan ya … cap-cip-cup kembang kuncup, pilih mana yang mau di cup! Oke fix! Hali aja!/woi
Silakan tunggu chapter berikutnya yang udah Ni-chan kasih spoiler duluan (yah, ngggak seru lagi deh :'3), kalau yang main adalah Halii~ X3 Oke, sampai di sini dulu. Jangan lupa tinggalkan Ni-chan semangat yang bernama 'review' agar fanfic ini lebih cepat apdetnya. Yupp, see you next chapter~! XD
Balasan review yang nggak login:
Ililara: Waduhh, masa Fang dibandingin sama ayam sih (Fang: ga level gue mah/plak). Oh, iyalah Kaizo-onii-chan tahu, apa sih yang nggak dia tahu soal adiknya tersayang itu? X3 Sudah lanjut, selamat membaca XD
Guest: Sudah lanjut, selamat membaca X3
Diana62: Mereka memang lucu X3 Sudah apdet, selamat membaca XD
Aline: Wah, iya nihh... lama nggak lihat, kemana aja sih? Padahal Ni-chan juga sangat menantikan review darimu hueee/lebay X'3 Kalau ngomentarin tiap kelakuan mereka sih, selalu Ni-chan lakukan ohoho~/dihajar. Duo Tsundere? Nice naming! Ni-chan juga ngejulukin mereka begitu XD Siap, Ni-chan akan terus berjuang, terima kasih sudah mau menunggu X3
BBB Lover's: Iya, mereka memang unyuu, tapi BoboYa juga nggak kalah kok X'3 Siapp, makasih untuk semangatnya ya XD
…pssstt … memang sih chapter depan Hali yang bakal main, tapi … Hali, sebuah cobaan besar sudah menuggumu … apakah itu? X3
-Chapter 6 Epilog-
Yaya yang baru selesai mandi dan mengeringkan rambutnya dengan handuk lembut mendengar ponselnya berbunyi dan segera mengangkatnya.
"Ya, halo-"
"Yaya! Kami butuh bantuanmu! Pokoknya besok kau harus ke sekolah pagi-pagi ya! Kita bakal kerja rodi plus-plus di sekolah seharian besok! Oke? Daaahhh!"
Belum sempat Yaya menjawab apa pun, sambungan sudah diputus. Tanpa sadar gadis itu menjatuhkan ponselnya ke atas ranjang yang empuk.
Mampus gue! Besok kan giliran gue jalan-jalan sama …, pikir Yaya takut-takut.
Sementara itu di tempat lain, Halilintar langsung bersin keras. Nggak tanggung-tanggung, kuahnya muncrat sampai mengenai adik kesayangannya.
"Kak Hali jorookkk! Apaan sih? Kalau memang flu, harusnya tadi jangan makan es!" Taufan menjerit-jerit jijik karena kuah yang berasal dari hidung dan mulut Halilintar itu menempel sedikit di bajunya yang sekarang sedang susah payah dihilangkannya dengan tisu.
'Kok perasaanku jadi nggak tenang ya?' pikir Halilintar curiga.
~Chapter 6 Epilog END~
