Choose!
Pair: BoBoiBoy (Halilintar) x Yaya
Genre: Romance, Humor, & Family
Disclaimer: BoBoiBoy adalah milik Animonsta, Nii hanya meminjam karakter-karakternya saja
Warning: Typo, Gaje, OOC, Abal-abal, Humor gagal, dll.
Happy Reading~!
RnR please?
Chapter 7
"Yaya! Kami butuh bantuanmu! Pokoknya besok kau harus ke sekolah pagi-pagi ya! Kita bakal kerja rodi plus-plus di sekolah seharian besok! Oke? Daaahhh!"
Belum sempat Yaya menjawab apa pun, sambungan sudah diputus. Tanpa sadar gadis itu menjatuhkan ponselnya ke atas ranjang yang empuk.
Mampus gue! Besok kan giliran gue jalan-jalan sama …, pikir Yaya takut-takut.
Yaya mondar-mandir keliling kamarnya sambil memikirkan hal yang rumit, padahal gadis itu masih mengenakan kimono handuk. Pikirannya benar-benar terbebani akibat telepon dari Ying barusan. Kalau dia mesti pergi ke sekolah besok seharian, itu artinya …
Gadis itu berpikir keras, apa yang harus ia katakan pada cowok itu begitu besok datang. Dia nggak mungkin menelantarkan urusan sekolahnya begitu saja. Terlihat jelas dari nada bicaranya yang buru-buru itu, Ying dan yang lainnya benar-benar membutuhkan bantuan, dan nggak mungkin sahabatnya itu sedang mengerjainya. Lagi pula dia kan, anggota OSIS yang memiliki tanggung-jawab atas urusan-urusan sekolah.
Tuutt… tuutt… ehem, mohon maaf sebelumnya, pembaca sekalian, suara itu bukanlah suara ledakan yang berasal dari pantat seseorang/dihajar, tapi ponsel Yaya yang bergetar menandakan pesan masuk.
Yaya, maaf tadi langsung main putus-putus aja ya, kepencet. Btw, besok itu kita disuruh Papa Zola ke sekolah, katanya bakal ada proyek besar terus kita disuruh bantu-bantu. Lagian kau kan juga anggota OSIS. Oke? Kutunggu besok di sekolah ya…
Sebuah pesan dari Ying. Ternyata memang dia nggak bercanda kan. Yaya harus tetap ke sekolah besok. Tapi masalahnya … gimana cara menjelaskan hal ini ke Halilintar? Semua juga tahu kalau di antara kelima Boboiboy itu Hali yang paling sensi, selain Api atau Blaze.
Tuutt … Satu pesan lagi masuk ke ponselnya. Yaya langsung mengecek.
Besok kujemput di rumah. Jam 8 pagi.
Pesan yang singkat, padat, jelas, dan menyakitkan. Dua kalimat mujarab itu berhasil membuat Yaya langsung gemetaran hebat, makin pusing memikirkan alasan apa yang harus ia katakan agar lolos dari tatapan maut pengendali elemen petir itu.
Tapi sekeras apa pun ia berpikir, jawaban tak kunjung datang, justru hari yang telah berganti dengan cepat. Terlihat jelas gadis itu tidak bisa tidur semalaman, tapi mau tidak mau semalam jam 11 setelah capek berpikir, ia memutuskan untuk istirahat karena memutuskan pilihan manapun, dua-duanya tetap membutuhkan energi yang cukup. Jadi tidurlah Yaya dengan perasaan tak menentu.
Pagi hari, Yaya dibangunkan oleh bunyi ponselnya yang berdering lama dan kemudian berhenti karena ia baru saja bangun. Cewek itu mengambil ponselnya yang terletak di atas meja dan menemukan 22 panggilan tak terjawab dan 10 pesan yang belum dibaca.
'Waduh!' pekik Yaya dalam hati panik, sadar kalau ia belum membuat keputusan yang pasti semalam. Ia segera mengecek pesan-pesan yang datang. Semuanya dari Ying yang mengharapkan kedatangan Yaya ke sekolah. Kayaknya proyek sekolah itu benar-benar membutuhkan bala bantuan. Jadi mau tak mau dengan berat hati keinginan Yaya lebih tergerak untuk pergi ke sekolah hari ini, bagaimanapun caranya.
Ia segera mengirim pesan ke Halilintar, minta maaf kalau hari ini acara jalan-jalan mereka dibatalkan dulu karena dia akan pergi ke sekolah untuk bantu-bantu. Dalam jeda sepersekian detik saja, Halilintar sudah membalas pesannya.
Oh, nggak apa-apa. Aku juga ikut ke sekolah bantu-bantu deh.
Syukurlah, dengan begini Yaya bisa menghembuskan nafas lega. Setidaknya Halilintar tidak marah atas pembatalan acara jalan-jalannya dan justru bersedia membantunya di sekolah … atau begitulah yang ia pikirkan … tapi … (pakai 'TAPI' lho!)
Ekspektasi tidak seindah realita …
Gadis itu segera bersiap serapi mungkin mengenakan seragam sekolahnya dan segera keluar rumah.
Yaya yang awalnya bersenandung ria saat keluar rumahnya sambil menggandeng tas sekolahnya langsung mingkem sewaktu melihat Halilintar yang telah menunggu di depan rumahnya dengan aura-aura nggak enak. Sudah jelas kalau cowok itu masih tidak terima acara jalan-jalannya yang sudah ia siapkan sedemikian rupa mendadak batal karena urusan sekolah. Mau nggak mau cewek itu jadi merasa bersalah dan merinding berat. Mau ngajak bicara pun susah, sehingga dari waktu jalan dari rumahnya sampai ke sekolah mereka cuma bilang 'selamat pagi' doang.
Suasana yang nggak enak itu pun masih menghantui bahkan saat mereka berjalan dan sampai di sekolah dimana Papa Zola telah menanti kehadiran mereka.
"Ohh, akhirnya datang juga."
"Maaf terlambat, Pak Guru. Jadi apa yang harus saya perbuat?"
"Hmm, benar juga. Kau itu salah satu anggota OSIS kan? Kau tau bahwa sekolah kita akan mengadakan festival besok?" Pak Guru Papa Zola langsung meluncurkan sebuah kalimat bombastis yang membuat Yaya melongo.
"BESOK?!" Yaya kaget. "Bukannya minggu depan? Tu-tunggu! Lagian bukannya guru-guru masih rapat soal festival itu? Kok sudah langsung main bakal diadain besok sih?! Tenaga kerjanya kan kurang! Lagian panitianya juga sedikit!"
"Hei! Hei! Waktunya sudah mepet sama ujian akhir! Kalian itu sudah kelas sembilan! Sebentar lagi jadwal kalian bakal padat ditambah try out dan kelas-kelas tambahan. Belum lagi kalau kalian ada bimbel di luar sekolah. Jadi sesuai yang dibahas dengan rapat kemarin, festivalnya kita majukan besok! Tiga hari berturut-turut. Sabtu, Minggu, dan puncaknya hari Senin," jelas Papa Zola.
"Tapi kok ini mendadak banget? Harusnya minggu depan aja, pPanitianya cuma anak-anak OSIS aja kan?" tanya Yaya lagi.
"Kami tahu ini akan sulit, jadi para guru juga akan membantu panitia dalam menyelenggarakannya. Tidak hanya OSIS yang jadi panitia, tapi beberapa klub yang dengan sukarela menyumbangkan (?) anggotanya (sebagai tumbal) untuk jadi panitia festival sekolah juga," terang Papa Zola. "Ini mungkin memang sulit, tapi bersama kita pasti bisaaaaa!"
"Tapi Pak-" Halilintar yang dari tadi diam mulai membuka mulutnya.
"DIAM! Cepat sana! Kalian temui anggota panitia yang lain! Pak Guru juga lagi sibuk! Misi! Misi!" Guru itu langsung main serobot tidak menghiraukan Halilintar yang hendak bertanya tadi dan langsung pergi untuk mengurus hal lain. Tapi memang bisa dimaklumi sih, sebentar lagi mereka juga akan sibuk kebagian tugas.
Sepintas setelah itu Yaya menangkap sosok cewek berambut hitam kucir dua kebawah berkacamata yang tengah membawa setumpuk kertas yang sepertinya dokumen-dokumen penting.
"Ying!"
"Yaya! Akhirnya kau datang juga! Bantuin aku nihh! Banyak banget kerjaan numpuk!" seru Ying.
Yaya pun membantu sahabatnya itu membawa separuh dari dokumen-dokumen itu menuju ruang OSIS sambil mendengarkan penjelasan Ying tentang betapa sibuknya panitia-panitia selagi mempersiapkan festival sekolah yang maju tanpa pemberitahuan sebelumnya ini. Mereka cuma diberi waktu bersiap-siap satu hari full, sementara pamflet sudah terlanjut disebar di beberapa daerah, pasti besok sudah banyak yang datang. Halilintar cuma diam dan mengikuti kemana kedua cewek itu pergi.
Di ruang OSIS tidak ada yang bersantai, semua bergerak dengan lincahnya mengurus ini-itu dan mengontak berbagai macam sponsor dan siaran radio serta TV yang akan menayangkan dan menyiarkan berita tentang festival sekolah mereka yang akan diadakan besok.
"Woi Ying, lama amat sih, ngambilnya!" ucap sebuah suara familiar yang terdengar menggebu-gebu. Tunggu! Kok kayaknya kenal deh sama suara itu …
"Lho Fang? Ngapain kau di sini? Kau kan bukan anggota OSIS?" tanya Yaya heran melihat cowok yang menyandang gelar 'Kapten Tim Basket' itu tengah huru-hara juga di ruang OSIS.
"Memangnya Pak Guru nggak ada bilang kalau ada beberapa sukarelawan (baca: tumbal) dari klub-klub lain yang bakal bantu jadi panitia juga?" Fang malah balik bertanya tanpa menoleh karena sibuk memilah-milah dokumen yang barusan dibawa Ying. "Oi, Ying! Ini dokumennya ada yang typo nih! Ketik ulang!"
"Kau pikir aku ini lagi santai-santai apa? Sibuk tau! Minta aja sama yang lain!" Ying membalas dengan sengit karena dia memang sudah dapat kerjaan baru lagi, disuruh membawa ke ruang OSIS lagi beberapa kardus berisi barang-barang dari ruang kesenian.
"Ying! Biar aku saja yang ngambil barang-barang di ruang seni, kau kerjakan saja yang diminta Fang," kata Yaya menawarkan bantuan.
Ying mengangguk cepat, tidak seperti dia biasanya yang harus mikir-mikir dulu. Mungkin karena waktu sudah mepet, jadi bantuan sekecil apapun akan dianggap berarti oleh para panitia.
"Oke, makasih ya Yaya. Barangnya ada di dalam kardus di lemari ruang seni. Totalnya ada lima kardus. Ukurannya gede lho, jadi paling nggak bolak-balik ke sini dua sampai tiga kali," jelas Ying.
"Nggak apa-apa. Toh, aku ke sini memang mau bantu-bantu," ucap Yaya sambil tersenyum. "Halilintar gimana?"
"Mau nggak mau aku bantu juga," jawab Halilintar sedikit sengit, membuat bulu kuduk Yaya kembali berdiri. Bener kan … cowok ini masih belum bisa terima!
"Kalau begitu Halilintar … kau itu gesit dan gerakanmu cepat kan? Bisa tolong sebarkan pamflet festival sekolah kita ke kota nggak? Kita cuma baru nyebar di daerah sekitar sini doang. Bisa nggak?" tanya salah seorang panitia yang nampaknya menjabat sebagai ketua, terlihat dari tag yang menggantung di lehernya.
"Oke … kebetulan aku bisa," jawab Halilintar singkat. Ia menerima tumpukan ratusan pamflet itu lalu segera pergi dengan cepat menggunakan kuasa gerakan kilatnya.
Sementara Yaya yang masih tetap di sekolah, ia membantu teman-teman panitianya yang sibuk akut mempersiapkan segalanya. Banyak yang berlari-lari di koridor. Tentu saja guru-guru ataupun sesame panitia tidak menegur, karena mereka tahu waktunya memang sudah mepet. Salahkan petinggi sekolah ini yang memutuskan jadwal perubahan waktu festival secara tiba-tiba!
"Wooiii! Itu proposalnya udah selesai belummm?!"
"Bentaarrr! Tinta printer-nya abis nih! Woi! Siapa aja beliin dong!"
"Aduh Pak, nggak bisa, udah mepet ini, festivalnya sudah mulai besok. Nggak perlu pakai rapat-rapat segala deh, langsung di-oke-in aja gimana? Ehhh? Kok nggak bisa sih?!"
"Ini ruangan kayak kapal pecah aja! Beresin gitu napa?! Tuh, kertas-kertasnya kenapa banyak ngegumpal di sini! Wooi, ambilin sapu dong!"
"Diaaamm! Memangnya sempat bebersih kalau keadaannya kayak gini?!"
"Gyaaa…!"
"Kyaaa…!"
Begitulah seruan-seruan seluruh anggota panitia yang lagi setress berat. Huru-hara kesana-sini mempersiapkan segalanya dengan deadline ketat. Bisa jadi mereka bakal nginap di sekolah hari ini, kalau nggak dapat bantuan lebih. Itu pikir Yaya sebelum seseorang menepuk pundaknya pelan.
"Halilintar! Maaf ya, pamfletnya sudah kamu bagikan semua?" tanya Yaya begitu melihat Halilintar yang ngos-ngosan setelah kembali dari tugasnya menyebar pamflet di kota.
"Ngghh … nggak apa-apa … tugasnya masih banyak?"
"Umm … masih sih, tuh, masih ada segunung. Bisa-bisa nggak bakal selesai hari ini nih, kalau kita nggak dapat tenaga tambahan lebih," Yaya sedikit ragu memikirkan tugas-tugas yang masih setumpuk, sekaligus kasihan karena Halilintar ikut dilibatkan, padahal cowok itu lagi potek (patah hati) karena acara jalan-jalan bagiannya terancam tidak terlaksana.
Halilintar menatap cewek itu diam, dalam pikirannya terlintas sebuah rencana, tapi tidak kurang dari 3 detik karena teman-teman yang lain sudah keburu meneriaki mereka untuk kembali bekerja.
"Istirahat 30 menit! Pasukan bubar!"
Dua buat kalimat yang langsung mengundang senyuman lebar dan desahan panjang dari anggota panitia yang sudah kelelahan. Nggak, kelelahan sebenarnya kata yang terlalu halus sih. Kata yang paling cocok untuk menggambarkan mereka sekarang adalah … 'hancur'. Setelah kerja lima jam non-stop dari jam 7 pagi sampai jam dua belas tepat tengah hari, akhirnya mereka dapat istirahat juga, walau cuma tiga puluh menit.
Tapi tiga puluh menit itu cukup buat apa sih?! Cuma cukup buat sholat dan makan siang, habis sudah, terus mereka disuruh balik kerja lagi. Udah kerja rodi, nggak dapat bayaran materi pula.
Yaya yang tampangnya udah kusut karena dari tadi dia kebagian kerjaan yang memakan banyak tenaga semua, huru-hara keliling sekolah mengantarkan dan mengeluarkan barang ke ruang OSIS. Cewek itu meregangkan tangannya ke atas sambil menarik napas, setelah itu menghembuskannya bersamaan dengan turunnya tangan.
"Kau nggak makan siang?"
"Huahh! Bikin kaget aja, Hali toh?" Yaya melihat cowok itu sedikit mendesis sebal karena kurang diperhatikan karena sedari tadi pikiran cewek itu hanya fokus bekerja mempersiapkan festival besok. "I-ini aku baru mau makan …"
"Mau bareng?" tawarnya yang disambut dengan anggukan mantap.
Kantin penuh dengan anak-anak anggota panitia yang sudah kayak korban pengungsian aja karena makannya kalap dan rame-rame gitu sambil masing-masing menceritakan penderitaan dan protes mereka tentang festival yang tiba-tiba dimajukan dan bikin repot.
"Penuh nih, nggak ada yang kos-," Perkataan Yaya terhenti begitu melihat sebuah meja dimana ada sepasang cowok-cewek kacamata diam-diaman yang duduk berdua. Padahal posisi meja mereka strategis dan mungkin bisa diduduki siapa saja, tapi yang cowok sudah pasang barrier yaitu tatapan matanya yang sinis dibalik kacamatanya yang mungkin kalau bicara bakal bilang 'lo berani ganggu, deket-deket, atau duduk di sini, gue hajar'. "Ahh … kalau auranya gelap begitu kayaknya nggak mungkin deh …"
"Apaan sih? Dia kan nggak bakal gigit," celetuk Halilintar lalu langsung menaruh nampannya dengan cuek di sebelah cowok kacamata tadi. "Ya, kau ke sini juga."
"Oi!" erang Fang sengit begitu melihat Halilintar menerobos barrier-nya dengan santai.
"Apaan sih? Kalau kau mau mesra-mesraan sama cewekmu, aku nggak bakalan ganggu kok," Halilintar balas mendesis.
"Si-siapa yang mau mesra-mesraan sama dia di sini, hah?!" Ying langsung memalingkan mukanya yang memerah seperti tomat yang barusan dimakannya.
"Oh, jadi kau nggak menyangkal kalau dia itu cowokmu sekarang ya?" Yaya nyengir saat duduk di sebelah cewek itu.
"Ng-nggak! Bukan gitu-!" Ying langsung panik. "Uhhh … kalian semua sama aja!" Cewek itu menyeruput susu stroberi kotakannya dengan kepala tertunduk, berusaha menyembunyikan semburat merah yang menghiasi wajahnya.
Setelah makan siang, tentu saja mereka harus balik kerja. Kali ini tugas Halilintar berlipat-lipat karena harus bolak-balik sana-sini menemui sponsor yang akan bekerjasama untuk festival besok. Yaya pun juga suma, dia masih huru-hara keliling sekolah untuk mengambilkan ini-itu, sedangkan Ying masih sibuk mengetik proposal dan dokumen, Fang tengah berpikir dengan anggota lain, stand apa saja yang akan ada di festival besok.
"Aaaahhh!" Ying yang tiba-tiba teriak langsung bikin kaget satu ruangan. "Aku lupa nomor telepon perusahaan ini berapa!"
"Kau nih, cari aja di internet, gitu aja sampai teriak-teriak segala," Fang mendecak kesal, malu karena tadi dia yang pasang tampang paling khawatir.
"Di internet nggak ada, udah kucoba, atau mungkin aku yang nggak lihat sih. Pikiranku udah penuh nah, kepalaku udah nyut-nyutan ... Eh, eh, siapa gitu, tolong carikan buku telepon di perpustakaan dong! Darurat nih, darurat! Orangnya bilang nggak bakal mau terima kalau lebih dari jam 3 sore!" seru Ying panik.
"Ehhh? Perhitungan banget itu orang! Ya sudah, biar aku yang cari ke perpus deh!" kata Yaya yang langsung melesat menuju perpustakaan.
Saat tengah berlari-lari di lorong, Yaya berpapasan dengan Halilintar yang baru balik dari toilet, katanya sih tadi kebelet mondar-mandir keliling kota terus tadi jam istirahat minum air mineral 3 gelas saking hausnya.
"Kenapa kau buru-buru gitu?"
"Eh?" Yaya yang tadinya berlari kencang langsung menghentikan larinya dan hanya sekedar lari di tempat. "Ying minta carikan buku telepon di perpustakaan. Udah ya? Aku duluan."
"Tunggu. Aku ikut deh," ucap Halilintar yang dibalas Yaya dengan anggukan singkat.
Setelah naik tangga sekali lagi, sampailah mereka di depan sebuah pintu besar dengan penanda 'Perpustakaan/Library' yang tertempel tepat di samping pintu tersebut. Dengan hati-hati Yaya membuka pintu, untung saja tidak dikunci. Setelah sukses masuk, ia tidak menyia-nyiakan waktu dan langsung mencari.
"Umm … buku telepon, buku telepon …" Yaya tengah menelusuri rak-rak buku yang menjulang tinggi di perpustakaan, memuat buku yang tak terhitung banyaknya. Dan karena hari ini hari libur, otomatis tidak ada guru penjaga perpustakaan atau pustakawan yang membantu mencarikan, alhasil, cewek itu terpaksa menjelajahi perpustakaan luas dan mencari satu dari banyak buku yang tersusun rapi. Persis kayak mencari paku di tumpukan jerami.
Halilintar dari tadi diam, sebetulnya dia juga ikut mencari, tapi cowok itu nggak begitu mengerti cara mencari buku karena memang nggak sering ke perpustakaan. Tuh, masa mau cari buku telepon dia malah ke rak buku pelajaran.
"Ah! Ketemu!" Muka Yaya mendadak cerah sewaktu menemukan buku yang dimaksud. "Halilintar! Aku sudah nemu nih, yuk kita balik!" serunya, tapi ia tidak mendapat respon dari pengendali elemen petir itu.
Yaya yang bingung pun segera mengikuti jejak Halilintar tadi yang menuju ke rak buku-buku pelajaran.
"Haloo, Hali? Kita harus segera balik lho, kalau nggak-" Ucapan Yaya terhenti melihat Halilintar tengah fokus membaca sebuah buku tebal, tebalnya melebihi kamus Bahasa Inggris. "Eh? Kau baca buku apa tuh?"
"Ini … Kak Gempa pernah bilang kalau mau cari buku ini, apa aku sekalian pinjam aja ya? Tapi kan lagi nggak ada pustakawannya," Halilintar menoleh ke arah meja yang biasanya diduduki guru penjaga perpustakaan.
"Nggak apa-apa kok, tinggal catat aja di buku peminjaman. Tapi ngomong-ngomong, buku apa tuh? Tebal banget, aku nggak nyangka Gempa doyan baca buku tebel-tebel gini," Yaya menerima buku itu saat Halilintar menyodorkannya.
Buku hard cover berwarna cokelat tua, agak kusam namun masih bisa dibilang lumayan. Judulnya dicetak dengan warna keemasan, 'Ramuan-ramuan Kimia'. Dengan perlahan Yaya membalik satu demi satu halaman di buku itu hingga akhirnya terbukalah sebuah halaman yang langsung membuat mata cewek itu membulat. Alis dan bibirnya pun terangkat sedikit, menandakan bahwa ia baru saja mendapat ide brilian.
"Ini! Ini dia!"
"Kenapa? Kenapa?" Halilintar ikutan penasaran melihat reaksi yang tidak bisa terlihat pada wajah cewek itu, tapi dengan cepat Yaya langsung membalik badannya, menatap Halilintar sungguh-sungguh lalu menggenggam tangan kiri cowok itu dengan kedua tangannya disertai mata berbinar-binar.
"Aku … pasti akan membuat kalian bersatu kembali! Sampai saat itu tiba, aku … aku!"
Kedua manik ruby milik Halilintar membulat. Ini … serius nih?
"Eh?" Yaya menyadari perubahan di wajah Halilintar, cowok itu menurunkan topinya sedikit lebih ke bawah, berusaha menyembunyikan semburat merah yang mulai menghiasi wajahnya. "Ah!" Wajah Yaya juga ikut memerah, menyadari tindakannya barusan.
"Se-sebaiknya kita cepat balik, pasti yang lain sudah nya-"
BRAAAAKKKK! Pintu perpustakaan dibanting dengan keras dan menimbulkan bunyi yang bisa membuat telingamu nggak berfungsi dalam sekejap atau dengan kata lain, budeg. Sosok yang menanti di balik pintu itu adalah … si pengendali elemen angin.
"Kak Haliii! Kami datang sesuai permintaan Kakaaakk! Terus kata yang lain Kakak lagi di perpus, jadi aku ke sini secepatnya! Oh iya Kak, ngomong-ngomong tau Yaya ada dimana … ng-nggak?" ucapan Taufan terhenti begitu melihat pemandangan di depannya.
Yaya yang tengah menggenggam tangan kiri Halilintar, membuat cowok itu langsung gelagapan, bingung akan menjelaskan seperti apa ke adik semata-wayangnya.
"Maaf, saya salah ruangan." kata Taufan pelan lalu langsung menutup pintu perpustakaan sepelan … mungkin, tapi sedetik setelah pintu itu tertutup rapat, dia langsung membanting pintu itu lagi. "Nggaaakk! Aku nggak salah! Kak Haliii! Kakak curang main ngedulu-duluin aja!"
Taufan merengut, sambil menggembungkan sebelah pipinya yang membuatnya tambah imut.
"Ng-nggak! Ini, aku bisa jelaskan!" seru Yaya yang refleks langsung melepas kedua tangannya dari tangan Halilintar.
Setelah menjelaskan panjang-kali-lebar-sama-dengan-luas dan sisi-tambah-sisi-sama-dengan-keliling (apa hubungannya) …
"Ohh, jadi ini bukan Kak Hali yang lagi main curang ya," Taufan berusaha mencerna penjelasan Yaya barusan. "Tapi buku apa yang bisa membuatmu bereaksi seperti itu? Sampai genggam-genggam tangan Kak Hali segala? Harusnya aku aja!"
Selamat, Taufan. Ucapan barusan membuatmu dihadiahi cubitan gemes dari Halilintar.
"Ahh … yah, ada alasan untuk itu," Yaya tersenyum kaku. "Tapi ngomong-ngomong, kenapa kau di sini? Kukira kalau jam segini kau pasti lagi main game sama Blaze."
"Eh? Kak Hali nggak ada bilang?" Taufan malah balik bertanya bingung. "Dia nyuruh kami datang untuk bantu-bantu, katanya festival sekolah dimajukan besok, terus panitia kekurangan tenaga tambahan, jadi dia minta kami berempat untuk membantu juga."
"Ohh …" Yaya manggut-manggut lalu menoleh ke arah Halilintar dan tersenyum membuat Halilintar langsung salah tingkah.
Taufan yang melihat itu langsung menggembungkan pipinya cemburu. "Jadi … alasan apa sih yang kau maksud tadi?"
"Eh? Oh, ini lho!" Yaya menunjukkan buku berisi kumpulan tentang ramuan-ramuan kimia dan efek sampingnya. "Tadi aku nemu halaman berisi ramuan yang mungkin digunakan Adu Du untuk menembakmu tempo hari dan … cara mengatasinya. Umm … mana yaa."
Yaya sibuk membolak-balikkan halaman buku tebal tersebut dan akhirnya sampai pada halaman yang dimaksud.
"Ini di-!"
"WOOOIII! Apa yang kalian lakukan?!" Pintu perpustakaan kembali dibanting dengan kuat sehingga menimbulkan benturan keras yang memekakkan telinga. "Ini lagi sibuk-sibuknya kalian masih sempat-sempatnya santai di sini! Buruan balik kerja! Ketua sudah marah-marah nyari kalian tuh,sampai tepar terus dilarikan ke rumah sakit!"
"Haaaaahhh?"
"Makanya buruan cepattt!"
"MAAFF!"
Mereka bertiga langsung cabut ke ruang OSIS.
"Baiklah, dengan ini … semua selesai!" ucap Gempa selaku ketua panitia pengganti, karena ketua sebelumnya pingsan dan langsung dilarikan ke rumah sakit…
"HOREEEEE!" Semua langsung bersorak-sorai, karena pekerjaan mereka akhirnya membuahkan hasil, meski belum terlihat sepenuhnya, tapi paling tidak, persiapan festival sekolah mereka besok telah siap seluruhnya.
"Sekarang kalian semua boleh pulang, terima kasih atas kerja samanya seharian ini, jangan lupa datang pagi-pagi besok, jam enam tepat ya!" pesan Gempa saat anggota-anggota yang lainnya tengah berkemas-kemas untuk pulang.
Yaya sendiri juga sedang merapikan meja yang sedari tadi dipakainya untuk menulis rancangan-rancangan acara untuk besok yang penuh dengan gumpalan kertas gagal. Setelah membersihkannya dengan cepat, Halilintar menepuk pundaknya singkat.
"Aku masih penasaran soal buku tadi, kau mau ikut denganku ke perpustakaan lagi?" tanya Halilintar pelan, saking pelannya mungkin hanya bisa terdengar olehnya dan objek bicaranya.
Yaya mengangguk singkat. "Oke, aku ikut."
Koridor sekolah terlihat menyeramkan di malam hari. Memang sih, ada lampu, tapi cahaya remang-remang begitu kan nggak akan cukup. Tanpa sadar kedua orang itu mempercepat langkahnya menuju perpustakaan yang juga sepi karena para panitia sudah pulang barusan. Dengan perlahan Yaya membuka pintu dan mengambil semula buku tebal yang tadi ia letakkan di meja pustakawan.
"Ini dia!" Yaya langsung membuka halaman yang sudah ia tandai sebelumnya tadi. Halilintar ikut melihat isi buku itu. "Cairan yang digunakan untuk pistol itu, bisa diatasi dengan cara meracik ramuan dengan bahan dasar cairan biru dari planet XXX, tapi hal itu sangat beresiko tinggi, namun bila tidak segera ditangani, korban akan terkena efek cairan itu ... selamanya."
"Haaaahh?"
"Buku apaan nih! Kok sempat-sempatnya cerita fiksi nyelip di buku Kimia!" Yaya langsung melempar buku itu dengan kencang ke lantai, tapi sungguh beruntung nasibnya, buku tebal itu mantul di lantai dan langsung menerjang dagunya, seketika keseimbangan kakinya langsung berantakan karena serangan tiba-tiba itu. "Ugh!"
"Yaya! Kau nggak apa-apa?" tanya Halilintar panik yang langsung menangkap bahu gadis yang hendak ambruk di depannya itu sehingga dia bisa mendarat di lantai dengan selamat.
"Eh, hehe, maaf, aku jadi kena karma gara-gara menghina sebuah buku," Yaya menepuk samping kepalanya dengan kepalan tangannya pelan dan menjulurkan sedikit lidahnya, berusaha membuat pose seimut mungkin, tapi apa daya, tepat setelah itu kepalanya langsung terasa berat dan pandangannya terasa berkunang-kunang.
Grep! Halilintar langsung menyambar kepala gadis itu yang tadinya akan ambruk ke lantai, dan memposisikannya agar bersandar pada bahunya.
"EEEEHHHHH!" Muka Yaya langsung berubah jadi kayak warna kepiting rebus. "Ha-Ha-Ha-Ha-Halii? Kau ngapaiiin?!"
Cewek itu berusaha berontak, tapi pertahanan di tangan Halilintar tak sedikitpun menunjukkan adanya tanda-tanda akan melemah, jadi Yaya terpaksa bertahan dalam posisi itu untuk sementara. Dari awal ia bukan tidak suka sih, karena kepalanya memang sudah sangat lelah hasil kerja rodi seharian ini, jadi beristirahat sebentar di pundak cowok ini bukan hal yang buruk.
"…hei, aku mau tanya … sesuatu denganmu, boleh?"
"Hm?"
"Kenapa … kalian berlima begitu baik sama aku? Padahal aku kan … sama sekali nggak pernah melakukan hal yang berguna untuk kal-"
"Itu nggak benar." potong Halilintar secara sepihak. "Kau sudah banyak membantu kami, mungkin kau nggak sadar, tapi kalimat-kalimat yang terucap dari mulutmu, selalu menyalakan api semangat yang ada dalam diri kami, lalu senyummu ... mampu membuat kami yang tadinya kelelahan menjadi bertenaga kembali …"
"Eh? Tunggu! Tunggu! Itu artinya aku ini cuma sekadar baterai dong?!" protes Yaya tiba-tiba, membuat Halilintar yang tadinya sudah serius langsung menghentikan perkataan tulus dari hatinya.
Pengendali elemen petir itu terlihat sedikit menggembungkan pipinya lalu membuang napas, dilanjutkan dengan tawa kecil.
"Uph, ah-ahaha, ternyata benar, kau memang yang terbaik …"
"Mmmhh …" Yaya yang merasa ditertawakan langsung merengut kesal, tapi semenit kemudian posisi bibirnya langsung berubah menjadi senyuman tulus. "Akhirnya ketawa juga … ehehe, habis dari tadi pagi mukamu rasanya mendung banget, terus tatapan matamu nanar kayak ibu-ibu yang melototin jemurannya terus ngangkat biar nggak kena hujan …"
"A-aku nggak kayak ibu-ibu! Aku ini cowok tulen lho!"
"Aku tahu kok." Yaya tersenyum tipis. "Kalau kau bukan cowok, nggak mungkin bisa membuat hatiku berdebar gini kan?"
"Eh … i-itu …" Muka Halilintar memerah. "Ka-kau ..."
BRAAAAKKK!
"Kak Hali mana sih?! Kita semua udah mau pulang malah ngilang! Kaaakk! Kita pulang yo-!" ucap Taufan terhenti begitu melihat pemandangan yang menanti di hadapannya. Spontan mukanya langsung kaku. "Kaaakkk! Lagi-lagi kau main curanggg! Minggir, minggir! Yaya sini sama aku aja!"
"Heh, giliranmu kan udah kemarin, shuh! Shuh!"
Yaya tidak dapat menahan tawanya melihat pertengkaran sepele dari kedua saudara yang sebenarnya satu tubuh itu. Setelah puas tertawa ia mengalihkan pandangannya ke arah jendela perpustakaan yang menampakkan sinar bulan yang bersinar terang di malam hari dikelilingi bintang-bintang yang berkerlap-kerlip. Entah kenapa sinarnya terasa menusuk ke dalam hatinya, mengingatkannya akan fakta bahwa ia tengah merindukan seseorang yang sebenarnya jelas-jelas ada di hadapannya.
Dengan miris ia bergumam kecil, 'Aku memang ingin segera bertemu denganmu lagi, tapi kurasa … keadaan seperti ini juga tidak begitu buruk …'
'Semoga besok akan jadi hari yang cerah …'
~To Be Continued~
Yeeayy! Chapter yang panjang kali ini akhirnya selesai juga. Horeee~ ngebut ngetik selama 3 hari (siapa suruh nunda-nunda :'3), udah gitu apdetnya masih ngaret 1 hari dari jadwal biasa, tapi sebagai penebusannya, Nii buat chapter ini sedikit lebih panjang dari biasanya. Dan … benar! Chapter selanjutnya sekolah mereka akan mengadakan festival (dadakan banget sih, kasian tuh, panitianya! X'3)! Satu lagi … kalian pasti tau dong, giliran siapa berikutnya (iyalah, tinggal satu gitu), jadi Nii nggak perlu bilang lagi deh X'3 Oke, sampai ketemu di chapter berikutnya ya, jangan lupa kirimkan review sebagai penambah semangat XD Byee~ :3
Balasan review yang nggak login:
Ililara: Nii anak SMA, baru aja naik ke kelas dua, jadi udah agak sibuk nih (sekaligus masa paling nakal-nakalnya hehe/plak) TwT Nggak apa-apa kok, kalau ada yang mau kamu tanyakan, tanya aja. Nii nggak akan gigit kamu kok :'3
BBB Lover's: Siap, sudah lanjut, selamat membaca XD
Baekday: Uhuhu, jaringan emang sering gitu, nggak apa-apa, maklum aja, yang penting kan kamu masih sempatkan review, makasih banyak ya XD Ehh? Jadi cerita Nii ini memang mudah ditebak ya? Uhh, jadi merasa gagal bikin para readers kepo TwT Baikk, Nii akan berjuang apdet cepat, tapi nggak janji. Terima kasih untuk semangatnya :3
Guest: Hmm, bebersih sekolah kurang tepat, lebih kayak diperbudak sudah/plak Oh? Tentu masih sempat dong, mesra-mesraan meski dalam situasi kayak gitu/woi Siap, terima kasih untuk semangatnya dan selamat membaca X3
siti wulandari: Siip, sudah lanjut. Nasib si Hali lagi apes (atau mungkin lagi bagus?), silakan pastikan sendiri ya. Nii juga nggak tau itu pantasnya disebut apa X'D
Terima kasih untuk review dari readers sekalian, maafkan Nii yang pasang jadwal apdet lamanya minta ampun, habis ... banyak pe-er sih/alasan TwT Po-pokoknya, sekali lagi, terima kasih banyak *bungkuk* Ditunggu review kalian yang berikutnya XD
Chapter 7 Epilogue
"Jadi mereka akan mengadakan festival besok? Hmh, menarik."
"Apa Tuan akan datang?"
"Bagaimana ya ... sebenarnya aku juga ingin bersenang-senang di 'festival' mereka itu, tapi kali ini biar para teman-teman kecilku saja yang menikmatinya, khukhu ..."
"Tiga … dua … satu!"
Prek! Prek! Terdengar beberapa ledakan kecil dari lantai dua yang langsung menimbulkan hujan confetti warna-warni metalik dengan bentuk hati dan bintang.
"Baiklah ... akhirnya tiba juga saatnya ..."
"FESTIVAL SEKOLAH DIBUKA!"
~Chapter 7 Epilogue end~
